Anda di halaman 1dari 45

FISIOLOGI SISTEM URINARIA

Mempertahankan keseimbangan H2O dalam _ tubuh. Mengatur jumlah dan konsentrasi ion Na+, Cl , HCO3 , Mg2+, SO42-, PO43dan H+. Pengaturan tekanan darah arteri (jangka panjang dan pendek). Membantu memelihara keseimbangan asam basa tubuh. Memelihara osmolaritas (konsentrasi zat terlarut) berbagai cairan tubuh. Mengekskresikan produk sisa metabolisme tubuh seperti urea (hasil metabolisme asam amino), kreatinin (dari kreatinin otot), asam urat (hasil metabolisme asam nukleat), bilirubin (produk akhir pemecahan Hb), dan metabolit berbagai hormon. Mengekskresikan senyawa asing seperti obat, pestisida dan zat additif pada makanan. Mensekresikan eritropoietin dengan stimulus utamanya adalah hipoksia. Mensekresikan renin Menghidroksilasi 1,25-dihydroxyvitamin D3 (calcitriol), calcitriol berfungsi dalam deposisi kalsium di tulang dan reabsorbsi kalsium di saluran cerna.

Fungsi Ginjal

Proses Pembentukan Urin


Secara umum proses pembentukan urin terbagi menjadi 3 proses: Filtrasi glomerulus Reabsorbsi di tubulus Sekresi di tubulus

Filtrasi Glomerulus
Filtrasi glomerulus adalah penyaringan plasma bebas protein menembus kapiler glomerulus ke dalam Kapsula Bowman. Volume filtrasi: 180 L/hari Volume plasma dewasa: 2,75 L Jumlah filtrasi: 65x/hari Molekul yang tidak dapat lewat saat filtrasi adalah protein dan sel darah.

Cairan yang difiltrasi melewati 3 lapisan:


Endothel kapiler glomerulus, yang memiliki fenestra yang membuatnya 100x lebih permebel terhadap air. Membran basal, yang terdiri atas glikoprotein dan kolagen. Kolagen sebagai kekuatan struktural dan glikoprotein yang bemuatan negatif dapat mencegah lewatnya protein. Sel podosit, terdapat pedikel yang mengelilingi kapiler glomerulus dan membentuk celah filtrasi (filtration slit).

Tiga gaya fisik yang terlibat dalam filtrasi glomerulus:


1. Tekanan darah kapiler glomerulus (55 mmHg) Adalah tekanan yang ditimbulkan oleh darah yang terdapat di dalam kapiler glomerulus. Nilainya dipengaruhi oleh tekanan darah arteri serta resistensi arteriol afferen dan efferen. diameter a. afferen lebih besar daripada a. efferen menyebabkan terbendungnya darah sehingga tekanan di glomerulus meningkat dan mendorong cairan keluar. 2. Tekanan osmotik koloid plasma (30 mmHg) Adalah tekanan yang disebabkan distribusi protein yang tidak merata. Protein plasma tidak dapat melewati membran glomerulus sehingga menumpuk di kapiler menyebabkan air cenderung tertarik dari arah K. Bowman ke glomerulus. 3. Tekanan hidrostatik K. Bowman (15 mmHg) Adalah tekanan yang disebabkan cairan dalam kapsula Bowman yang mendorong air dari K Bowman ke glomerulus.

Tekanan Filtrasi Netto


Tekanan filtrasi netto adalah tekanan yang mendorong filtrasi cairan dari kapiler glomerulus ke kapsula Bowman. Tekanan Filtrasi Netto= Tek. darah kapiler glomerulus tekanan osmotik koloid plasma tekanan hidrostatik kapsula bowman = 55 - 30 - 15 = 10 mmHg

GFR (Glomerular Filtration Rate) Laju filtrasi glomerulus adalah jumlah darah yang dapat difiltrasi dalam 1 menit.

GFR = Kf x tekanan filtrasi netto


Kf adalah koefisien filtrasi (bergantung pada luas permukaan glomerulus dan tingkat permebilitas glomerulus.

Nilai normal GFR Pria: 125 ml/menit Wanita: 115 ml/menit

Fraksi filtrasi Fraksi filtrasi adalah fraksi dari plasma yang mengalami filtrasi Fraksi filtrasi = GFR/RPF (renal plasma flow) Nilai normalnya 0,2.

Aliran darah ginjal (Renal Blood flow) Aliran darah ke ginjal kira-kira 20-25% dari curah jantung.

Faktor-faktor yang mempengaruhi GFR


a. Tekanan osmotik koloid plasma Cenderung konstan dan tidak dibawah kontrol. Dalam keadaan patologis dapat pengaruhi GFR. Contoh: Hipoalbuminemia - tek osmotik menurun - tek netto meningkat - GFR meningkat. Luka bakar - penurunan plasma protein melalui luka - tek osmotik menurun - tek netto meningkat - GFR meningkat. Dehidrasi karena diare - tek osmotikmeningkat - GFR menurun. b.Tekanan hidrostatik kapsula Bowman Cenderung konstan dan tidak di bawah kontrol. Keadaan patologis dapat pengaruhi GFR Contoh: Batu ginjal atau BPH - obstruksi - tekanan hidrostatik K. bowman meningkat - GFR menurun.

c. Tekanan darah kapiler glomerulus Dipengaruhi TD arteri sistemik serta resistensi arteriol afferen dan effern. TD meningkat - GFR meningkat Resistensi a. afferen menurun - GFR meningkat dan sebaliknya Resistensi a. efferen meningkat - GFR meningkat sedikit awalnya lalu menurun krn sedikitnya aliran darah dan penumpukan protein plasma. d. Luas permukaan kapiler glomerulus Dapat dimodifikasi oleh aktifitas kontraktil dalam membran. Sel mesangium menyatukan berkas kapiler glomerulus. Oleh pengaruh simpatis dan hormon serta zan kimiawi lokal mengaktifkan komponen kontraktil sehingga terjadi penulunan luas pemukaan glomerulus dan GFR pun menurun. e. Permeabilitas kapiler glomerulus Dipengaruhi aktifitas podosit. Podosit kontraksi tonjolan kaki menggepeng sehingga celah filtrasi menyempit dan GFR menurun. Podosit relaksasi tonjolan kaki menyempit sehingga celah filtrasi melebar dan GFR meningkat.

NE, E, dan endothelin menyebabkan vasokonstriksi a. afferen dan efferen sehingga aliran darah menurun dan GFR pun menurun. Endothelin dapat dikeluarkan oleh sel endothel yang rusak. Angiotensin II dikeluarkan pada keadaan kekurangan air dan natrium. Angiotensin II menyebabkan vasokokstrikesi arteriol efferen sehinggan mencegah penurunan GFR. Endothelial-derived NO dapat dikeluarkan oleh endothel seluruh tubuh yang dapat menurunkan resistensi vaskular ginjal (a. afferen) sehingga GFR meningkat Prostaglandin dan bradikinin sebagai vasodilator a. afferen sehingga dapat meningkatkan GFR. Pemakaian prostaglandin dapat menurunkan GFR.

Mekanisme regulasi filtrasi glomerulus


a. Autoregulasi Mencegah perubahan spontan GFR Dalam batas tertentu ginjal dapat mempertahankan aliran darah kapiler glomerulus yang konstan walaupun terjadi perubahan TD arteri. Rentang TD untuk autoregulasi: 80-180 mmHg Mekanisme yang berperan: Mekanisme miogenik, yang merupakam sifat umum otot polos vaskuler.
TD meningkat TD arteri TD menurun Aliran darah menurun tidak teregang vasodilatasi Aliran darah meningkat teregang vasokonstriksi

Mekanisme umpan balik tubulo-glomerulus Melibatkan aparat juxtaglomerulus Peningkatan TD

Zat kimia vasoaktif (endothelin)


Vasokonstriksi Penurunan aliran darah di glomerulus Penurunan tek glomerulus

Peningkatan tek kapiler glomerulus


Peningkatan GFR Peningkatan laju aliran di tubulus Stimulasi sel makula densa

GFR normal

b. Kontrol simpatis ekstrinsik GFR


Pendarahan Peningkatan HR dan Vasokonstriksi a. afferen vasokonstriksi Penurunan tek glomerulus Peningkatan TD arteri Penurunan TD arteri Dideteksi baroreseptor di arkus aorta Penyesuaian TD jangka pendek dan sinus karotikus Penurunan potensial aksi di neuron afferen Pusat kardiovaskular pada medulla oblongata Penurunan GFR

Penurunan volume plasma

Penurunan volume urin Peningkatan konservasi cairan dan garam

Peningkatan TD arteri
Penyesuaian jangka panjang

Peningkatan aktivitas simpatis

Reabsorbsi Tubulus
Proses pengembalian bahan-bahan esensial dari lumen tubulus ke darah.

Zat-zat yang direabsorbsi dapat melewati 2 jalur: Transcellular pathway: zat direabsorbsi melalui sel epithel tubulus Paracellular pathway: zat direabsorbsi di sel dan di ruang intercellular.

Sodium dapat melewati kedua jalur, tetapi lebih banyak melalui transcellular pathway. Air, terutama di T. proksimal direabsorbsi melalui paracellular pathway beserta zat-zat yang terlaryt di air (kalium, magnesium, kalsium)

Trasportasi transepithel melewati: Membran luminal sel tubulus Sitosol sel tubulus Membran basolateral sel tubulus Cairan interstitial Dinding kapiler peritubulus 2 jenis mekanisme transport: Transport pasif (tidak membutuhkan ATP) yaitu secara difusi dan osmosis Transportasi aktif (membutuhkan ATP) Transport aktif primer (membutuhkan ATP secara langsung) Transport aktir sekunder (membutuhkan ATP secara tidak langsung) seperti glukosa, asam amino. Membutuhkan kotransport khusus yang memindahkan Na dan molekul tsb

Reabsorpsi Natrium (99,5%) 80% energi total ginjal untuk rebasorpsi Na. T. proksimal (67%) Konstan dan berperan dalam reabsorpsi glukosa, asam amino, air, klorida dan urea. L. Henle (25%) Bersama dengan reabsorpsi klorida menghasilkan urin dengan konsentrasi dan volume berbeda. T. Distal Bersifat variabel dan di bawah kontrol hormon Berkaitan dengan sekresi ion hidrogen dan kalium. Mekanisme: Pembawa Na-K ATPase basolateral mengeluarkan Na dari sel tubulus ke cairan interstitial. Sehingga konsentrasi Na dalam sel menurun dan konsentrasi Na di lumen lebih tinggi sehingga Na berdifusi dari lumen ke sel, lalu berulang kembali.

Reabsorpsi Na di t. distal Dipengaruhi oleh hormon (aldosteron dan ANP)


Penurunan NaCl/ penurunan vol CES/ penurunan TD arteri Penurunan aliran darah arteriol afferen

Aparat JG sekresikan renin dalam darah, Renin mengubah angitensinogen menjadi angiotensinogen I
Di paru, ACE mengubah AT I menjadi AT II AT II rangsang kel adrenal sekresikan aldosteron Aldosteron rangsang pembentukan aldosteron-induced protein di t. distal Protein tersebut membentuk sal. Na di sel tubulus dan menginduksi sintesis pembawa Na-K ATP ase Peningkatan reabsorpsi Na.

AT II

Rangsang sekresi vasopresin Meningkatkan reabsorbsi di t. distal

Rasa haus

Vasokonstriksi arteriol

Meningkatkan volume plasma

Peningkatan TD arteri

Sedangkan apabila terjadi peningkatan TD, atrium keluarkan ANP dan menurunkan TD dengan cara menghambat reabsorpsi Na di bag distal, hambat sekresi renin, hambat sekresi aldosteron, dan dilatasi arteriol afferan. Sehingga sekresi Na meningkat dan volume CES menurun sehingga TD kembali normal.

Maksimum Tubulus (Tm) Adalah jumlah maksimum suatu bahan yang dapat diangkut secara aktif oleh sel tubulus dalam rentang waktu tertentu. Setiap bahan yang difiltrasi melebihi Tm tidak akan direabsorpsi dan akan keluar melalui urin. Reabsorpsi Glukosa Konsentrasi glukosa normal dlm plasma= 100 mg/100mL GFR 125 ml/mnt berarti beban filtrasi glu= 125 gr/mnt Tm glukosa= 375 mg/mnt Renal treshold adalah konsentrasi plasma pd saat Tm tercapai dan bhn tersebut mulai muncul di urin. Renal treshold glukosa= 300 mg/100mL

Reabsorpsi Klorida Cl direabsorpsi secara pasif mengikuti penurunan gradien listrik yang disebabkan oleh Na yang bermuatan positif. Tidak dikontrol langsung oleh ginjal. Reabsorpsi Fosfat Ambang ginjal untuk ion anorganik setara dengan konsentrasinya dalam plasma yang normal.

Reabsorpsi air Di T. proksimal 65%, di l. Henle 15%, di t. distal 20% Mekanisme reabsorpsi air di tub. proksimal: Pompa Na basolateral yang mengeluarkan Na ke interstitial kadar Na tinggi di interstitial perbedaan gradien menarik air air tereabsorpsi ke interstitial lalu ke kapiler peritubulus. Filtrasi glomerulus tidak melewatkan protein plasma peningkatan protein plasma di kapiler peritubulus peningkatan tek osmotik koloid kapiler peritubulus air di rebasorbsi. Reabsorpsi urea Air banyak direabsorpsi di tub proksimal saat sisa air di lumen sangat sedikit (44 mL) urea lebih tinggi konsentrasinya di lumen daripada di kapiler dan ukurannya yang kecil urea di reabsorpsi (50%)

Sekresi Tubulus
Mekanisme tambahan yang meningkatkan eliminasi zat tersebut dari tubuh. Melibatkan transportasi transepithel. Dapat berupa transport aktif atau pasif. Bahan penting yang disekresikan : H+, dan K+.

Sekresi Kalium Kalium direabsorpsi di tub proksimal (konstan dan tidak diatur) serta disekresi di tub distal dan pengumpul (bervariasi dan di bawah kontrol). Sebagian besar kalium urin adalah hasik sekresi bukan filtrasi. Mekanisme sekresi kalium di tub distal dan kolektivus: Pompa Na-K basolateral mengeluarkan Na dari sel tubulus ke interstitial K dari interstitial masuk ke dalam sel tubulus konsentrasi K di sel lebih besar K berdifusi dari sel ke lumen tubulus

Hal yang memperngaruhi sekresi kalium: Aldosteron. Peningkatan kalium secara langsung merangsang sekresi aldosteron di korteks adrenal. Aldosteron dapat dirangsang oleh dua hal berbeda seperti penurunan kadar Na dan peningkatan kadar kalium. Pada keadaan asam, jumlah H+ berlebih, maka K+ dapat diganti oleh H+

Klirens plasma adalah volume plasma yang dibersihkan seluruhnya dari bahan bersangkutan per menit. Klirens tidak mengacu kepada jumlah bahan tetapi volume plasma. Klirens plasma mencerminkan efektivitas ginjal berbagai bahan dari lingk cairan internal.

Klirens plasma

Inulin, zat yang difiltrasi tetapi tidak direabsorpsi. Sehingga klirens inulin = GFR. Zat lain yang bisa digunakan untuk menghitung GFR adalah kreatinin, walaupun kreatinin tidak sempurna karena sedikit disekresi. PAH (Para-aminohippuric acid), zat yang difiltrasi dan disekresi seluruhnya tanpa direabsorpsi. Klirens PAH = Renal Plasma Flow Fraksi filtrasi Fraksi filtrasi adalah fraksi dari plasma yang mengalami filtrasi Fraksi filtrasi = GFR/RPF (renal plasma flow) Nilai normalnya 0,2.

Countercurrent Multiplier
Recaptures NaCl and returns it to renal medulla Descending limb
reabsorbs water but not salt concentrates tubular fluid

Ascending limb
reabsorbs Na+, K+, and Cl maintains high osmolarity of renal medulla impermeable to water tubular fluid becomes hypotonic

Recycling of urea: collecting duct-medulla

urea accounts for 40% of high osmolarity of medulla

Countercurrent Multiplier of Nephron Loop Diagram

Countercurrent Exchange System


Formed by vasa recta
provide blood supply to medulla do not remove NaCl from medulla

Descending capillaries
water diffuses out of blood NaCl diffuses into blood

Ascending capillaries
water diffuses into blood NaCl diffuses out of blood

Maintenance of Osmolarity in Renal Medulla

Formation of Dilute Urine


Filtrate is diluted in the ascending loop of Henle Dilute urine is created by allowing this filtrate to continue into the renal pelvis This will happen as long as antidiuretic hormone (ADH) is not being secreted

Formation of Dilute Urine


Collecting ducts remain impermeable to water; no further water reabsorption occurs Sodium and selected ions can be removed by active and passive mechanisms Urine osmolality can be as low as 50 mOsm (one-sixth that of plasma)

Formation of Concentrated Urine


Antidiuretic hormone (ADH) inhibits diuresis This equalizes the osmolality of the filtrate and the interstitial fluid In the presence of ADH, 99% of the water in filtrate is reabsorbed

Formation of Concentrated Urine


ADH-dependent water reabsorption is called facultative water reabsorption ADH is the signal to produce concentrated urine The kidneys ability to respond depends upon the high medullary osmotic gradient

Formation of Dilute and Concentrated Urine

Figure 25.15a, b

Voiding Urine - Micturition


Micturition reflex
1) 200 ml urine in bladder, stretch receptors send signal to spinal cord (S2, S3) 2) parasympathetic reflex arc from spinal cord, stimulates contraction of detrusor muscle 3) relaxation of internal urethral sphincter 4) this reflex predominates in infants

Infant Micturition Reflex Diagram

Voluntary Control of Micturition


5) micturition center in pons receives stretch signals and integrates cortical input (voluntary control) 6) sends signal for stimulation of detrussor and relaxes internal urethral sphincter 7) to delay urination impulses sent through pudendal nerve to external urethral sphincter keep it contracted until you wish to urinate 8) valsalva maneuver
aids in expulsion of urine by pressure on bladder can also activate micturition reflex voluntarily

Adult Micturition Reflex Diagram