Anda di halaman 1dari 32

STRATEGI PENGELOLAAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Pembelajaran Semester 3, Dosen Pengampu Drs. Agus Effendi, M.Pd

Disusun oleh: Fandra Eka Nur S.P. Hari Kapri Teguh F Ihsan Fahrizal Joko Sadiyanto Khoirul Anwar Kusnan Hidayat Marianus Deby P Muhamad Hasan S Muhammad Ari Agung W Muhammad Irvan K2511021 K2511022 K2511023 K2511024 K2511025 K2511026 K2511027 K2511028 K2511029 K2511030

PENDIDIKAN TEKNIK MESIN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sekolah mempunyai peran sebagai lembaga pendidikan yang mengembangkan potensi-potensi siswa yang manusiawi, agar mampu menjalani tugas-tugas dalam kehidupan, baik secara individual maupun sosial. Sekolah sebagai suatu organisasi kerja yang terdiri dari beberapa kelas. Setiap kelas mempunyai perjenjangan sendiri. Sebagai calon penerus bangsa, siswa dalam dunia pendidikan lebih ditekankan pada upaya membangkitkan semangat belajar yang tinggi. Kemauan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi kepentingan masyarakat dan bangsa perlu lebih ditanamkan lagi kepada mereka. Hal ini merupakan salah satu tantangan guru di dunia pendidikan. Para guru diharapkan dan harus mampu menciptakan pembelajaran dengan efektif, menyenangkan, tercipta suasana dan iklim pembelajaran yang kondusif, terdapat interaksi balajar-mengajar yang bagus, sehingga keberhasilan belajar dan prestasi dapat dicapai dengan baik sesuai tujuan pembelajaran. Dalam kehidupan sekolah sering dijumpai guru-guru yang dapat dikatakan kurang berhasil dalam mengajar. Indikator belum berhasilnya guru adalah prestasi belajar yang rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan. Kegagalan guru ini mungkin bukan hanya kurang

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

menguasai materi bidang studinya, tetapi karena mereka tidak tahu atau belum mampu mengelola kelas. Dalam hal ini, pendidik bertanggung jawab memenuhi kebutuhan peserta didik, baik spiritual, intelektual, moral estetika maupun kebutuhan fisik peserta didik. Pembaharuan pendidikan yang mulai digalakkan beberapa puluh tahun yang lalu menyebabkan timbulnya usaha-usaha pemikiran diberbagai bidang pendidikan, seperti pembaharuan kurikulum, pembaharuan metode mengajar, pembaharuan administrasi pendidikan, pembaharuan media pendidikan, pembaharuan sistem supervisi dan sebagainya. Adanya pembaharuan ini telah menimbulkan perubahan bahan ukuran baik-buruk perihal kegiatan guru, kegiatan siswa, suasana kelas dan sebagainya.
Pembaharuan dunia pendidikan saat ini memberikan pengaruh besar terhadap persiapan dan cara mengajar seorang guru serta mempengaruhi persiapan dan kondisi belajar siswa di kelas, Metode mengajar yang berbeda memberikan pengaruh terhadap suasana belajar di dalam kelas. Keberhasilan pengajaran dalam arti tercapainya tujuan-tujuan pengajaran sangat tergantung pada kemampuan mengatur kelas yang dapat menciptakan situasi yang memungkinkan anak didik dapat belajar, sehingga merupakan titik awal keberhasilan pengajaran. Siswa dapat belajar dengan baik dalam suasana yang wajar, tanpa tekanan dalam kondisi yang merangsang untuk belajar. Untuk menciptakan suasana yang dapat menumbuhkan gairah belajar, meningkatkan prestasi belajar siswa, dan lebih memungkinkan guru memberikan bimbingan dan bantuan terhadap siswa dalam belajar, maka diperlukan

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

pengorganisasian kelas yang memadai dan pemilihan strategi pengelolaan pembelajaran agama.

B. Identifikasi Masalah Pengelolaan Pembelajaran merupakan proses untuk mencapai tujuan pembelajaran. Untuk mencapai tujuan pembelajaran diperlukan proses panjang yang dimulai dengan perencanaan, pengorganisasian dan penilaian. Perencanaan meliputi kegiatan menetapkan apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapai, waktu dan anggota yang diperlukan. Sedang pengorganisasian merupakan pembagian tugas kepada personel yang terlibat dalam usaha mencapai tujuan pembelajaran, pengkoordinasian, pengarahan dan pemantauan. Evaluasi sebagai proses dilaksanakan untuk mengetahui ketercapaian tujuan yang telah dicanangkan, faktor pendukung dan penghambatnya. Untuk mencapai tujuan pembelajaran banyak ragam Strategi Pengelolaan Pembelajaran yang dapat digunakan. Guru pendidikan agama
harus mampu memilih strategi yang tepat untuk pembelajaran dan mampu mengelola kelas dalam proses pembelajaran di sekolah, sehingga prestasi yang dihasilkan memungkinkan dapat membantu siswa dalam mencapai suatu kemudahan, kecepatan mencapai kebiasaan, dan kesenangan murid dalam mempelajari agama untuk dijadikan pedoman dan petunjuk hidup dalam kehidupan siswa.

Waktu belajar pendidikan agama disekolahan sangat terbatas. Dengan waktu sangat minim dan komponen materi pelajaran Pendidikan Agama yang bermacam-macam tujuan dan fungsinya.

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

Namun dalam proses belajar mengajar di kelas sering ditemui sikap atau tingkah laku siswa yang dapat mengganggu selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Hal ini dikhawatirkan dapat mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran, prestasi belajar siswa dan perilaku siswa.

C. Permasalahan
Berdasarkan uraian diatas, dapat dirumuskan pokok permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini sebagai berikut: 1. Apa masalah-masalah pengelolaan yang dihadapi guru Pendidikan Agama? 2. Bagaimana pelaksanaan strategi pengelolaan dalam pembelajaran Pendidikan Agama? 3. Apa faktor-faktor yang menghambat dan mendukung strategi pengelolaan dalam pembelajaran Pendidikan Agama?

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

BAB II KAJIAN TEORI

Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama


1. Pengertian Strategi Secara bahasa, strategi bisa diartikan sebagai siasat, kiat,trik, atau cara. Sedang secara umum strategi ialah suatu garis besar haluan dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sedangkan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal adalah dinamakan dengan metode. Strategi menunjuk pada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi. Strategi juga dapat diartikan istilah, teknik dan taktik mengajar. Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode. Taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu. Sedangkan mengenai bagaimana menjalankan strategi, dapat ditetapkan berbagai metode

pembelajaran. Dalam upaya menjalankan metode pembelajaran guru dapat.


Mengacu pada konteks belajar mengajar bahwa strategi dalam penelitian ini adalah tehnik atau siasat yang digunakan guru dan diperagakan oleh guru dan siswa dalam berbagai peristiwa pembelajaran untuk mewujudkan tujuan pembelajaran agar lebih efektif dan efisien.

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

2. Pengertian Pengelolaan
Dalam kamus umum bahasa Indonesia disebutkan bahwa pengelolaan adalah penyelenggaraan atau pengurusan agar sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien. Dengan demikian pengelolaan dapat diartikan bahwa kemampuan atau keterampilan seseorang dalam melakukan tindakan-tindakan melalui proses kegiatan-kegiatan orang lain dalam rangka meraih suatu pencapaianUntuk memahami tentang pengelolaan kelas secara mendalam maka akan dikemukakan beberapa pendapat dari para ahli diantaranya: a. Hadari Nawawi Kegiatan manajemen atau pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah, sehingga waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk melakukan kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid. b. Syaiful Bahri Djamarah Pengelolaan adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mangajar. c. Burhanuddin Pengelolaan kelas merupakan proses upaya yang dilakukan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi yang kondusif dan optimal bagi terselenggaranya kegiatan pembelajaran secara efektif dan efisien. Dari beberapa pengertian strategi dan pengelolalaan kelas, maka strategi pengelolaan kelas dapat

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

didefinisikan "pola siasat, tehnik, atau langkah-langkah yang digunakan guru dalam menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas tetap kondusif, agar siswa dapat belajar optimal, aktif, dan menyenangkan dengan efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Kategori Kawasan Pengelolaan Definisi AECT tahun 1977 pembagian fungsi pengelolaan menjadi (1) pengelolaan organisasi, (2) Pengelolaan personil. Dengan semakin rumitnya praktek pengelolaan maka Pengelolaan dibagi menjadi empat kategori dalam kawasan pengelolaan : pengelolaan proyek, pengelolaan sumber, pengelolaan sistem penyampaian dan pengelolaan informasi. Kawasan Pengelolaan Pengelolaan Proyek Pengelolaan Sumber Pengelolaan sistem penyampaian Pengelolaan sistem informasi Gambar 1. Kawasan Pengelolaan a. Pengelolaan proyek Pengelolaan proyek meliputi perencanaan, monitoring, dan pengendalian proyek desain dan pengembangan. Tanggung jawab pengelola proyek : perencanaan, penjadwalan, dan pengendalian fungsi desain pembelajaran atau jenis-jenis proyek yang lain\ b. Pengelolaan Sumber Pengelolaan sumber mencakup perencanaan, pemantauan, dan pengendalian sistem pendukung dan pelayanan sumber. Pengelolaan

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

sumber sangat penting karena mengatur pengendalian akses. Pengertian sumber dapat mencakup personil, keuangan, bahan baku, waktu, fasilitas, dan sumber pembelajaran. Efektifitas biaya dan justifikasi belajar yang efektif merupakan dua karakteristik penting dari pengelolaan sumber. c. Pengelolaan sistem penyampaian Pengelolaan sistem penyampaian memberikan perhatian pada permasalahan produk seperti persyaratan perangkat keras/lunak dan dukungan teknis terhadap pengguna maupun operator, serta

permasalahan proses seperti pedoman bagi desainer dan instruktur. Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada kesesuaian

karakteristik teknologi dengan tujuan pembelajaran. Keputusan tentang penngelolaan sistem penyampaian ini sering tergantung pada sistem pengelolaan sumber. d. Pengelolaan informasi Pengelolaan informasi meliputi perencanaan, pemantauan, dan pengendalian cara penyimpanan, pengiriman/pemindahan atau

pemprosesan informasi dalam rangka tersedianya sumber untuk kegiatan belajar. Pengelolaan sistem penyimpanan informasi untuk tujuan pembelajaran tetap akan merupakan komponen penting dari bidang Teknologi Pembelajaran.

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

3. Pengertian pembelajaran Pendidikan Agama Pembelajaran berasal dari kata ajar yang artinya petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui/diturut. Selanjutnya kata ajar mendapat awalan ber menjadi kata kerja belajar yang berarti berusaha memperoleh
kepandaian suatu ilmu pengetahuan atau keterampilan. Kata pembelajaran berasal dari kata belajar yang mendapat awalan pe dan akhiran an, yang mempunyai arti proses. Kata pembelajaran diinterpretasikan sebagai aktivitas guru yang

merencanakan atau merancang kegiatan belajar dan siswa yang melakukan aktivitas belajar. Istilah pembelajaran diterjemahkan instruction yang menurut Roniszowsky merujuk pada proses pengajaran yang berpusat pada tujuan atau goal directed teaching process yang dapat direncanakan sebelumnya. Sifat proses tersebut adalah perubahan perilaku dalam konteks pengalaman yang sebagian besar sengaja dirancang. Menurut Muahaimin pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar dimana seseorang bereaksi terhadap kondisi tertentu. Dengan demikian, dapat dikemukakan bahwa pembelajaran adalah upaya membelajarkan siswa melalui memilih, menetapkan dan mengembangkan metode pembelajaran yang optimal untuk mencapai hasil yang diinginkan berdasarkan kondisi pembelajaran yang ada. Bila dikaitkan dengan pengertian pembelajaran pendidikan agama, maka diperoleh pengertian bahwa Pembelajaran Pendidikan Agama adalah upaya membuat peserta didik dapat belajar, butuh belajar, terdorong belajar, mau belajar, dan tertarik untuk terus menerus mempelajari agama, baik untuk kepentingan

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

mengetahui bagaimana cara beragama yang benar, maupun belajar Agama sebagai pengetahuan. Dari pengertian ini dapat dicermati, pembelajaran Pendidikan Agama telah memberikan dorongan kepada peserta didik dengan mengajak mereka untuk tertarik dan terus menerus mempelajari ajaran agama, sehingga dapat mengaplikasikan dalam kehidupannya sehari-hari. Pembelajaran Pendidikan Agama di sekolah dilaksanakan bukan hanya untuk penguasaan materi pada aspek kognitif saja, tetapi juga penguasaannya pada aspek afektif dan psikomotorik.

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

10

BAB III PEMBAHASAN 1. Masalah-masalah Pengelolaan Kelas yang dihadapi Guru Pendidikan Agama Dalam kegiatan pembelajaran di kelas sering biasa timbul gangguan tingkah laku yang tidak diinginkan dari siswa. Untuk mengatasi gangguan yang sering timbul ini guru dapat melakukan tindakan kuratif pada masalah pengelolaan kelas yang individual adalah: a. Tingkah laku menarik perhatian Bersikap masa bodoh, terhadap pelanggaran siswa yang menunjukkan tingkah laku menarik perhatian, kemudian memberikan respon positif terhadap tingkah laku siswa yang positif. b. Tingkah laku mencari kekuasaan Memberikan tugas yang bersifat memimpin, memberikan tugas yang memerlukan keberanian, dan memberikan tugas yang menuntut kekuatan fisik, bagi siswa yang menunjukkan tingkah laku dapat menguasai orang lain seperti mendebat, marah, dan selalu lupa pada peraturan kelas yang disepakati sebelumnya. c. Tingkah laku membalas dendam Tidak memberikan respon, ekspresi wajah yang wajar terhadap siswa yang menunjukkan tingkah laku membalas dendam. Misalnya siswa mengancam, menendang, dan biasanya berperilaku merasa lebih kuat.

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

11

d. Peragaan ketidakmampuan. Bagi siswa yang menunjukkan ketidakmampuan, biasanya bersikap sangat apatis (masa bodoh) terhadap pekerjaan apapun, maka guru tidak menyalahkan siswa secara langsung, guru menunjukkan segi keberhasilan siswa. Masalah individual dalam pengelolaan kelas cenderung tidak menjadi sesuatu yang berkepanjangan. Tetapi masalah kelompok seringkali menjadi masalah serius. Untuk mengatasi masalah pengelolaan kelas yang bersifat kelompok dapat dilakukan tindakan sebagai berikut: a. Kelas kurang kohesif. Kurangnya kesatuan kelas dapat diatasi dengan meningkatkan keakraban dan kerjasama. Mengusahakan kesatuan kelas dapat dengan membuat kelompok menjadi menarik bagi semua anggota dan memperbaiki iklim kelas. Langkah pertama adalah menganalisis situasi dan struktur kelas, kemudian menentukan kebutuhan-kebutuhan mereka, selanjutnya kebutuhan itu dicoba diusahakan agar relatif terpenuhi. b. Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya. Masalah ini dapat diatasi dengan membangun kerjasama dan persahabatan, Dengan berinteraksi dan komunikasi, siswa akan dapat gambaran realistik tentang situasi kelompok kelas, mengembangkan pengertian untuk mengurangi konflik antar individu, dan belajar mengendalikan diri untuk menciptakan situasi belajar yang baik. c. Membesarkan hati anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok, misalnya pemberian semangat kepada badut kelas. Masalah ini

merupakantindakan yang mengganggu kondisi kelas. Guru harus segera

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

12

menghentikannya secara tepat dan segera. Pesan-pesan non-verbal atau body/language baik berupa isyarat tangan, bahu, kepala, alis dan sebagainya dapat membantu guru dalam pengelolaan kelas. d. Kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru. Misalnya gangguan jadwal, atau guru kelas terpaksa diganti sementara oleh guru lain, dan sebagainya. Keadaan ini disebabkan menurunnya motivasi dan kegairahan belajar siswa, maka guru perlu membangkitkan semangat siswa untuk belajar.
e. Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah

digarap. Masalah ini mungkin disebabkan belum adanya tata tertib kelas sebelumnya. Guru melakukan kontrol sosial melalui pendekatan. Dengan siswa merasa dekat dengan guru akan memperkecil kesempatan mereka untuk berbuat nakal dan melanggar tata tertib sekolah. f. Semangat kerja rendah. Misalnya aksi protes kepada guru karena menganggap tugas yang diberikan kurang adil. Masalah ini diatasi dengan siasat yang tertib, melalui sikap demokratis guru, akan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk ikut terlibat dalam menegakkan disiplin sekolah, ikut bertanggung jawab dan ikut mempertahankan aturan yang telah ditetapkan bersama. 2. Pelaksanaan Strategi Pengelolaan Kelas pada Pembelajaran Pendidikan Agama Guru mempunyai tanggung jawab selama proses pembelajaran berlangsung. Mulai dari linkungan fisik hingga pada suasana belajar di kelas. Kelas yang

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

13

diorganisasi dengan baik dan dikelola secara efektif dan efisien merupakan fondasi bagi terselenggaranya suatu program instruksional yang baik dan terciptanya suatu iklim saling merespek dan memperdulikan antara siswa dan guru. Dengan adanya pengelolaan kelas, pembelajaran Pendidikan Agama sebagai suatu proses memiliki strategi dalam meningkatkan prestasi siswa. Yaitu: a. Pengelolaan lingkungan kelas Iklim kelas yang kondusif merupakan pertimbangan utama dan memberikan daya tarik tersendiri bagi proses pembelajaran. Iklim belajar kondusif harus ditunjang oleh beberapa fasilitas yang menyenangkan demi kelancaran proses pembelajaran pendidikan agama Islam. Seperti sarana, penataan ruang kelas, laboratorium untuk praktik, pengaturan lingkungan belajar, penampilan dan sikap guru, hubungan yang harmonis antar peserta didik sendiri, serta penataan organisasi dan bahan pembelajaran secara tepat sesuai dengan kemampuan peserta didik. Iklim kelas yang positif juga dapat di ciptakan dengan pembinaan disiplin yang lebih didasarkan pada responsibilitas ketimbang punishment (hukuman), sehingga siswa dapat mandiri. Kerelasian-kerelasian antara guru dan murid yang efektif diwarnai oleh perilaku-perilaku guru spesifik, yang dilakukan dengan cara: 1) Membangkitkan peraturan, prosedur-prosedur, dan konsekuensi yang jelas bagi perilaku murid 2) Merumuskan tujuan-tujuan pembelajaran yang jelas, misalkan

mengkomunikasikan tujuan pembelajaran pada permulaan unit pengajaran.

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

14

3) Memperlihatkan perilaku asertif (tegas) dalam hal penggunaan nada suara yang tepat berbicara secara jelas dan tidak terlalu melengking, penggunaan bahasa tubuh guru yang tegap dengan menjaga jarak terhadap anak yang onar, guru dengan tegas menunggu respon atau ungkapan murid. 4) Menciptakan kerjasama antara guru dan murid dengan memberikan tujuantujuan pembelajaran yang fleksibel kepada siswa 5) Menarik minat peribadi dalam diri murid dengan cara berbicara secara informal dengan murid
6) Mempergunakan interaksi-interaksi kelas dengan murid secara positif dan

merata, dengan cara berkontak mata dengan murid dengan memandang keseluruh kelas. b. Penerapan Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Untuk menciptakan iklim pembelajaran yang menyenangkan dan siswa antusias dalam mengikuti pelajaran, seorang guru harus mampu menerapkan komponen strategi pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai Dalam meningkatkan prestasi/hasil belajar dalam bentuk dampak Instruksional dan untuk mengarahkan dampak pengiring terhadap hal-hal yang positif, guru harus mampu menciptakan pembelajaran yang efektif dan menerapkan strategi pembelajaran. Upaya peningkatan kualitas pengajaran Pendidikan Agama dapat ditempuh dengan strategi-strategi berikut ini: a.) Strategi seluruh kelas yang meliputi: 1) Ceramah adalah memberikan pengetahuan secara verbal dengan cara guru mempresentasikan sejumlah informasi luas secara efisien, yang berfungsi untuk memberikan pengetahuan dasar yang dibutuhkan untuk aktivitas-

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

15

aktivitas mendatang, mempresen suatu pengetahuan penting bagi mrid untuk dipelajari 2) Diskusi, memfokuskan pada interaksi, yang mana murid sebagai partisipan dipersilahkan mengekspresikan pengetahuan dan pemahaman serta opini tentang suatu topik. 3) Debat adalah strategi yang menghendaki berpikir lebih tingkat tinggi, yang mana murid mempelajari informasi tentang suatu isyu atau ide dengan mengambil posisi pro atau kontra. Sehingga siswa harus belajar mendengarkan, memanipulasi pengetahuan untuk menarik baik kebutuhan-kebutuhan faktual maupun emosional pada audience-nya. 4) Demonstrasi guru merupakan strategi guru menempatkan perannya untuk memberikan pengetahuan atau keterampilan dengan mendemonstrasikan suatu metode. Strategi ini dipilih karena keterbatasan waktu dan kelangkaan bahan yang diperlukan. 5) Memberikan pengarahan-pengarahan adalah memberikan informasi yang efisien tentang apa, mengapa, bagaimana, dimana, kapan tugas dan aktivitas kelas. b.) Strategi-strategi kelompok kecil yang meliputi: 1) Pembelajaran kooperatif adalah formasi kelompok yang menshare suatu pembelajaran yang sama, bekerja independen untuk mencapai suatu penguasaan, dan memastikan bahwa semua anggota kelompok dapat meraih tujuan kelompok secara sukses 2) Pembelajararan kolaboratif adalah pembelajaran yang menghendaki muridmurid bekerja bersama tetapi hasilnya lebih terbuka pada umumnya.

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

16

Responsibilitas individual bagi pembelajaran ini lebih besar ketimbang dalam situasi kooperatif.
3.

Faktor-faktor yang Mendukung dan Menghambat Strategi Pengelolaan pada Pembelajaran Pendidikan Agama

Dalam pelaksanaan pengelolaan kelas akan ditemui berbagai factor yang mendukung dan menghambat dalam proses pembelajaran. a. Faktor pendukung strategi pengelolaan kelas Salah satu aspek penting keberhasilan yang dilaksanakan oleh guru adalah kondisi pembelajaran yang efektif, yaitu kondisi yang benar-benar kondusif, benar-benar sesuai dan mendukung kelancaran serta kelangsungan proses pembelajaran. Faktor-faktor yang mempunyai peran penting dalam penciptaan kondisi pembelajaran adalah: 1.) lingkungan belajar Lingkungan belajar adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses pembelajaran dilaksanakan. Lingkungan ini mencakup tiga hal utama: a) Lingkungan fisik Lingkungan fisik mampu memberi peluang gerak dan segala aspek yang berhubungan dengan upaya penyegaran pikiran bagi siswa setelah mengikuti proses pembelajaran yang sangat membosankan. Lingkungan fisik ini meliputi sarana-prasarana yang cukup dan memadai untuk proses pembelajaran secara tuntas dipastikan dapat membawa siswa pada kondisi pembelajaran yang kondusif. b) Lingkungan social

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

17

Lingkungan sosial berhubungan dengan pola interaksi antar personil yang ada dilingkungan sekolah secara umum. Lingkungan sosial yang kondusif dalam hal ini, misalnya adanya keakraban yang proporsional antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran c) Lingkungan budaya Lingkungan budaya merupakan suatu kondisi pola kehidupan yang sesuai dengan pola kehidupan pada warganya, yakni siswa. Mereka adalah pribadi yang masih labil dan masih membutuhkan proses adaptasi untuk setiap lingkungan dimana ia berada. Untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif, maka yang terutama harus dilakukan adalah menyamakan persepsi dan pola pikir tentang pola pergaulan. 2.) Kurikulum yang cocok Kurikulum merupakan batasan yang harus diberikan kepada siswa pada proses pembelajaran yang dilakukan guru dikelasnya. Seorang guru agar dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif diharapkan mampu menerjemahkan kurikulum dan menyesuaikan dengan tingkat kebutuhan yang berhubungan dengan kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Kondisi proses pembelajaran dapat kondusif jika isi dari kurikulum yang diterapkan dapat mengakomodasi segala yang diharapkan oleh siswa dan guru, siswa dan guru dapat mengikuti langkah-langkah penerapannya tanpa perasaan tertekan atau terpaksa. 3.) Visi dan misi yang jelas Pembelajaran yang kondusif mengisyaratkan adanya visi dan misi yang jelas dan terukur serta dapat dicapai sesuai kemampuan yang ada. Visi dan misi

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

18

proses pembelajaran tidak lain adalah visi dan misi pendidikan secara umum, yaitu peningkatan kualitas dengan mengupayakan proses yang mampu membawa siswa pada penguasaan materi, baik pengetahuan, sikap, maupun psikomotor yang dapat dipakai sebagai bekal hidup
b. Faktor Penghambat strategi pengelolaan kelas

Dalam interaksi belajar mengajar ditemukan bahwa proses belajar yang dilakukan oleh siswa merupakan kunci keberhasilan belajar. Proses belajar merupakan kegiatan yang dialami dan dihayati oleh siswa sendiri dan merupakan kegiatan mental dalam mengolah bahan belajar atau pengalaman yang lain. Masalah-masalah intern yang dialami oleh siswa dan berpengaruh pada proses belajar adalah: 1.) Sikap terhadap belajar Sikap merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu yang membawa diri sesuai dengan penilaian. Adanya penilaian mengakibatkan terjadinya sikap menerima, menolak, atau belajar tersebut. Hal ini berpengaruh pada perkembangan kepribadian. 2.) Motivasi belajar Motivasi merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar. Motivasi belajar pada diri siswa perlu diperkuat terus menerus. Agar siswa memiliki motivasi belajar yang kuat pada tempatnya diciptakan suasana belajar yang menggembirakan. Motivasi siswa mengikuti proses pembelajaran merupakan faktor keberhasilan belajarnya. Jika siswa tidak semangat untuk mengikuti pelajaran, hal ini, juga menjadi masalah yang harus ditangani.

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

19

3.) Konsentrasi belajar Merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran, yang tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya.99 Materi pelajaran yang dibahas dikelas diperoleh dengan baik, apabila siswa mampu merekam materi itu untuk disimpan di otak. Siswa memikirkan sesuatu selain bahasan materi di kelas itu, dapat mengganggu konsentarasi belajarnya. 4.) Mengolah bahan belajar Mengolah bahan belajar merupakan kemampuan siswa menerima isi dan cara memproleh ajaran sehingga menjadi bermakna bagi siswa. Kemampuan ini, bila siswa mengolah bahan menjadi makin baik dan berpeluang aktif belajar.100 Jadi mengolah bahan ajar dan

pemerolehannya ini membutuhkan konsentrasi belajar. 5.) Menyimpan perolehan hasil belajar Menyimpan perolehan hasil belajar merupakan kemampuan menyimpan isi pesan dan cara perolehan pesan. Kemampuan menyimpan pesan tersebut dapat berlangsung dalam waktu pendek (cepat dilupakan) dan waktu yang lama (hasil belajar mudah/tetap dimiliki siswa).101 Siswa mampu menyimpan hasil materi yang dipelajari, sehingga dia tidak mudah melupakan pelajaran yang dipelajari. Jika siswa mudah lupa hasil belajarnya, hal ini merupakan masalah dalam mangaplikasikan hasil belajarnya dikemudian hari 6.) Menggali hasil belajar yang tersimpan

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

20

Menggali hasil belajar yan tersimpan merupakan proses mengaktifkan pesan yang telah terterima. Dalam hal baru, siswa akan memperkuat pesan dengan cara mempelajari kembali, atau mengaitkan dengan bahan lama. Dalam hal pesan lama, siswa akan membangkitkan pesan dan pengalaman lama untuk suatu unjuk hasil belajar. Penggalian hasil yang tersimpan ada hubungannya dengan baik atau buruknya penerimaan, pengolahan, dan penyimpanan pesan. 7.) Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil balajar Kemampuan berprestasi merupakan suatu puncak proses belajar. Pada tahap ini siswa membuktikan keberhasilan belajar. Siswa menunjukkan bahwa ia telah mempu memecahkan tugas-tugas belajar atau mentransfer hasil belajar. Kemampuan berprestasi berpengaruh oleh proses

penerimaan, pengaktifan, pra-pengolahan, pengolahan, penyimpanan, pembangkitan pesan dan pengalaman. Bila proses-proses tersebut tidak baik, maka siswa dapat berprestasi kurang atau dapat juga gagal berprestasi. 8.) Rasa percaya diri siswa Rasa percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya pengakuan dari lingkungan. Dalam proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian perwujudan diri yang diakui oleh guru dan rekan sejawat siswa. Makin sering berhasil menyelesaikan tugas, maka semakin memperoleh pengakuan umum, dan selanjutnya rasa percaya diri semakin kuat. Begitu juga sebaliknya.

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

21

9.) Kebiasaan belajar Dalam kegiatan sehari-hari ditemukan adanya kebiasaan belajar yang kurang baik. Misalnya balajar pada akhir semester, belajar tidak teratur, menyia-nyiakan kesempatan belajar, bergaya minta belas kasihan tanpa belajar. Untuk sebagian kebiasaan belajar tersebut disebabkan oleh ketidakmengertian siswa pada arti belajar bagi diri sendiri. Hal ini dapat diperbaiki dengan pembinaan disiplin membelajarkan diri. Masalah belajar yang dialami dari diri siswa dapat mempengaruhi proses pembelajaran di kelas dan juga akan menghambat dalam penciptaan kondisi pembelajaran yang kondusif dikelas. Apabila proses pembelajaran terganggu, maka keberhasilan belajar dikhawatirkan juga terhambat. Ditinjau dari segi siswa, faktor ekstern yang berpengaruh pada aktivitas belajar adalah: 1) Peran guru sebagai pembina aktifitas belajar Guru sebagai pendidik, ia memusatkan perhatian pada kepribadian siswa, khususnya berkenaan dengan kebangkitan belajar yang merupakan wujud emansipasi diri siswa. Sebagai guru pengajar, ia bertugas mengelola kegiatan belajar siswa di sekolah. Dalam menciptakan dan

mempertahankan kondusi kelas agar tetap kondusif, guru sebagai Pembina aktifitas belajar juga menjadi penghambat dalam pelaksanaan pengelolaan kelas itu sendiri. Diantaranya : a) Tipe kepemimpinan guru Tipe mengajar yang terlalu otoriter, kurang demokratis, sehingga menumbuhkan sikap pasif atau agresif peserta didik

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

22

b) Format belajar yang monoton Format belajar mengajar monoton akan menimbulkan kebosanan belajar. Hendaknya perlu dikembangkan format belajar bervariasi c) Kepribadian guru Bersikap hangat, obyaektif, adil, dan fleksibel merupakan sikap yang harus dimiliki oleh guru untuk menciptakan suasana emosional yang menyenangkan dalam proses belajar-mengajar. Sikap yang bertentangan dengan kepibadian seperti pilih kasih akan menimbulkan masalah dalam pengelolaan kelas. d) Pengetahuan guru yang terbatas dan lain-lain. Keterbatasan pengetahuan guru tentang masalah dan pendekatan pengelolaan kelas, baik yang bersifat teoritis maupun pengalaman praktis. e) Pemahaman guru tentang peserta didik Keterbatasan kesempatan guru untuk memahami tingkah laku masing-masing siswa dan latar belakangnya dapat disebabkan karena kurangnya usaha guru untuk memahami peserta didik dan latar belakangnya, atau mungkin karena beban mengajar guru yang padat. 2) Prasarana dan sarana pembelajaran Lengkapnya prasarana dan sarana merupakan kondisi pembelajaran yang baik. Guru dan siswa dituntut dalam menggunakannya, baik dalam pemanfaatannya maupun pemeliharaannya. 3) Kebijakan penilaian

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

23

Pada tujuan instruksional khusus mata pelajaran di kelas adalah peran guru yang secara profesional yang bersifat otonom. Pada tujuan instruksional tahap akhir, yang terkait dengan kenaikan kelas, muncul urusan kebijakan sekolah. Kebijakan penilaian sekolah tersebut merupakan kebijakan guru sebagai pengelola proses belajar. Pada tujuan instruksional umum tingkat sekolah berlaku evaluasi tahap akhir yang muncul dari kebijakan penilaian tingkat nasional. Jadi peran guru menilai hasil belajar berorientasi pada ukuran-ukuran pada tingkat yang lebih tinggi, yaitu tingkat sekolah, wilayah, dan tingkat nasional. Keputusan hasil belajar merupakan puncak harapan siswa. Secara kejiwaan, siswa terpengaruh atau tercekam tentang hasil belajarnya. Oleh karena itu, sekolah dan guru diminta berlaku arif dan bijak dalam menyampaikan keputusan hasil belajar siswa. 4) Kurikulum sekolah Perubahan kurikulum sekolah, mengakibatkan guru perlu mengadakan perubahan pembelajaran. Guru harus menghindarkan diri dari kebiasaan pembelajaran yang lama. Akibatnya guru harus mempelajari strategi, metode, teknik, dan pendekatan mengajar yang baru, sehingga kebiasaan belajar siswa juga akan mengalami perubahan. 5) Lingkungan sosial siswa di sekolah Pengaruh lingkungan sosial siswa dapat berupa: a) Pengaruh kejiwaan dalam menerima atau menolak siswa, yang akan berakibat memperkuat atau memperlemah konsentrasi belajar b) Lingkungan sosial mewujud dalam suasana akrab, gembira, rukun, dan damai; sebaliknya mewujud dalam suasana perselisihan

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

24

bersaing,

salah

menyalahkan.

Suasana

kejiwaan

tersebut

berpengaruh pada semangat dan proses belajar. c) Lingkungan sosial siswa di sekolah dan kelas dapat berpengaruh pada semangat belajar kelas.dan setiap guru akan disikapi secara tertentu oleh lingkungan sosial siswa. Sikap positif atau negative terhadap guru akan berpengaruh pada kewibawaan guru d) Lingkungan keluarga Tingkah laku peserta didik di kelas merupakan pencerminan keadaan keluarganya. Sikap otoriter orang tua akan tercermin dalam tingkah laku peserta didik yang agrasif dan apatis. Tingkah laku peserta didik dikelas mencerminkan tingkah laku dan kebiasaan yang kurang terkontrol dirumah. Di dalam kelas sering ditemukan peserta didik pengganggu dan pembuat ribut. Mereka itu biasanya dari keluarga yang tidak utuh atau broken home. Kebiasaan kurang baik di lingkungan keluarga seperti tata tertib tidak patuh pada disiplin, kebebasan yang berlebihan atau terlampau dikekang akan merupakan latar belakang yang menyebabkan peserta didik melanggar disiplin di dalam kelas.

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

25

BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN 1. Konsep pengelolaan merupakan bagian integral dalam bidang teknologi pembelajaran 2. Keterampilan yang harus dimiliki dalam teknologi pembelajaran meliputi pengorganisasian program, supervisi personil, perencanaan,

pengadministrasian dana dan fasilitas, serta pelaksanaan perubahan. 3. Strategi pengelolaan kelas dapat didefinisikan "pola siasat, tehnik, atau
langkah-langkah yang digunakan guru dalam menciptakan dan

mempertahankan kondisi kelas tetap kondusif, agar siswa dapat belajar optimal, aktif, dan menyenangkan dengan efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran.

4. Empat kategori dalam kawasan pengelolaan : pengelolaan proyek, pengelolaan sumber, pengelolaan sistem penyampaian dan pengelolaan informasi.
5. Pembelajaran Pendidikan Agama adalah upaya membuat peserta didik dapat belajar, butuh belajar, terdorong belajar, mau belajar, dan tertarik untuk terus menerus mempelajari agama, baik untuk kepentingan mengetahui bagaimana cara beragama yang benar, maupun belajar Agama sebagai pengetahuan.

6. Untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan siswa antusias dalam mengikuti pelajaran, guru harus mampu menerapkan komponen strategi pembelajaran.

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

26

7. Untuk menciptakan pembelajaran efektif dan menerapkan strategi

pembelajaran

sesuai

komponen-komponennya,

yaitu:

Kegiatan

pembelajaran pendahuluan, Penyampaian informasi, Partisipasi peserta didik, Pendekatan metode pembelajaran

B. IMPLIKASI Pemilihan strategi pembelajaran perlu memperhatikan efisinsi dan efektivitas dalam mencapai tujuan pembelajaran, sehingga peserta didik dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran secara optimal. Sedangkan perancangan pengajaran yang dinamis membutuhkan beberapa modalitas yang

dikembangkan sebagai resep pengelolaan kelas. diantaranya: 1) Konsep Dari dunia kita mereka ke dunia kita Konsep ini merupakan suatu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru untuk menjembatani jurang antara dunia kita dan dunia mereka (siswa dan guru) yang akan memudahkan guru membangun jalinan, menyelesaikan bahan pelajaran lebih cepat, membuat hasil belajar lebih melekat, dan memastikan terjadinya pengalihan pengetahuan. Dengan membuat rencana pengajaran yang dapat menyeberang dan masuk ke dunia anak dengan cara mengerti minat, hasrat dan pikirannya, maka siswa akan memberi izin guru dan diterima untuk menuntun dan memimpinnya, sehingga guru dapat membawa siswa sepenuhnya ke dalam proses pembelajaran. 2) Mencermati modalitas Visual, Auditorial, Kinestetik (V-A-K) Proses pengajaran yang dilakukan guru harus mampu menyesuaikan pengajaran dengan modalitas-modalitas tersebut. Semua orang cenderung

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

27

pada salah satu modalitas belajar yang berperan sebagai saringan untuk pembelajaran, pemrosesan dan komunikasi. Penelitian menunjukkan bahwa
semakin banyak modalitas yang guru libatkan secara bersamaan, maka belajar akan semakin hidup, berarti, dan melekat.44

a) Visual Modalitas ini mengakses citra visual yang diciptakan maupun diingatkan. Warna, hubungan ruang, potret mental, dan gambar akan menonjol. Seseorang yang sangat visual membutuhkan gambaran dan tujuan menyeluruh, menangkap detail mengingat apa yang dilihat b) Auditorial Modalitas ini mengakses segala jenis bunyi dan kata yang diciptakan dan diingatkan. Musik, nada, , dialog internal dan suara akan menonjol. Seseorang yang auditorial belajarnya dengan mendengarkan, bersuara saat membaca, berdialog secara internal/eksternal. c) Kinestetik Modalitas ini mengakses segala jenis gerak dan emosi yang diciptakan maupun diingat. Gerakan, koordinasi, irama, tanggapan emosional, dan kenyamanan fisik menonjol disini. Seseorang yang sangat kinestetik menyentuh orang dan berdiri berdekatan, banyak bergerak, tipe belajar dengan melakukan, menunjuk tulisan saat membaca, menanggapi secara fisik, mengingat sambil berjalan dan melihat. 3) Model kesuksesan dari sudut pandang perancang Guru harus selalu mengolah secara cermat rencana pengajaran untuk mempersiapkan siswa belajar dengan penuh kehangatan dan antusias. Buat

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

28

segalanya bertujuan dengan cara membuat strategi TANDUR; Tumbuhkan (sertakan, pikat siswa pada manfaat tujuan bagi dirinya), Alami (berikan pengalaman belajar), Namai (berikan data yang tepat saat minat memuncak), Demonstrasikan (beri kesempatan siswa untuk membuat pengajaran sebagai pengalaman pribadi), Ulangi (rekatkan gambaran keseluruhan), dan Rayakan (rayakan kemenangan siswa).45 Guru dalam proses pembelajaran harus mampu memikat siswa untuk belajar, menumbuhkan rasa ingin tahu, mengerti identitas dan definisi suatu pengalaman, kemudian pengalaman itu dikaitkan dengan pengalaman baru, hingga siswa menghayati menjadi pengalaman pribadi. Segala apa yang baru diketahui perlu diulang hingga merekat. Guru perlu memberikan penghargaan dari usaha dan ketekunannya dalam belajar. 4) Pertemukan kecerdasan berganda Prestasi belajar merupakan harmoni dari berbagai kecerdasan, bukan satu kecerdasan. Seorang guru diharapkan dapat memanfaatkan kecerdasan secara optimal. Dengan memasukkan kecerdasan berganda ke dalam isi dan perancangan pengajaran, maka akan membantu siswa secara otomatis
mendapatkan lebih banyak makna dan rangsangan otak dalam proses balajar, sekaligus memberi lebih banyak variasi dan kesenangan, serta

mengembangkan dan memperkuat kecerdasan siswa. 5) Penggunaan metafora, perumpamaan dan sugesti Metafora dapat menghidupkan konsep yang terlupakan dan memunculkannya ke otak secara mudah dan cepat melalui asosiasi. Perumpamaan memberi bayangan yang mudah diingat. Menurut ilmuwan saraf bahwa 90% masukan

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

29

indra untuk otak berasal dari sumber visual dan ia memiliki tanggapan cepat terhadap simbol, gambar yang sederhana dan kuat. Sedangkan

sugesti/persepsi dalam pembelajaran bisa terjadi karena niat, penggunaan lingkungan sekeliling, bahasa positif dan non verbal. Dalam menampilkan lingkungan dan suasana belajar yang mendukung, guru harus memiliki niat yang kuat atau kepercayaan akan kemampuan dan motivasi siswa, memahami kaitan antara pandangan (lingkungan sekeliling) dengan otak, serta mampu berkomunikasi secara selaras antara bahasa vokal, bahasa tubuh, dan pikiran otak, sehingga pesan yang disampaikan mudah direkam dan diterima siswa. Rumusan fungsi dan tujuan Pendidikan Agama ini yang dilalui dan dialami oleh siswa disekolah dimulai dengan 3 tahapan, yaitu: a. Kognisi yaitu pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap ajaran dan nilainilai yang terkandung dalam ajaran agama, b. Afeksi yaitu terjadinya proses internalisasi ajaran dan nilai agama ke dalam diri siswa, dalam arti menghayati dan meyakininya. c. Psikomotorik yaitu tahapan afeksi yang tumbuh dalam diri siswa sebagai motivasi dan tergerak untuk mengamalkannya dan menaati ajaran agama islam yang telah diinternalisasikan dalam dirinya. Penghayatan dan keyakinan siswa menjadi kokoh jika dilandasi pengetahuan dan pemahaman terhadap ajaran dan nilai agama, tumbuh motivasi dalam diri siswa dan tergerak untuk mengamalkannya, sehingga akan terbentuk manusia beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia.

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

30

DAFTAR PUSTAKA

http://tpmuntirta.blogspot.com/2011/11/makalah-kawasan-pengelolaan.html

Pidarta, Made. 1970. Pengelolaan Kelas. Surabaya: Usaha Nasional.

Uno, Hamzah B. 2007. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengaja yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.
Tafsir, Ahmad. Strategi Pendidikan Agama Islam di Sekolah. http://www.ditpais.info. Efendi, Agus. 2012. Handout Mata Kuliah Teknologi Pembelajaran. Surakarta : Print out

PTM11 | Strategi Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama

31