Anda di halaman 1dari 40

Laporan Kasus

Close Fracture Intertrochantis Femur Dextra


Pembimbing : dr. Satriyo Aji.Sp.OT Disusun Oleh: Bisukma Yudha P, S.Ked. 208.121.0025

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU BEDAH RSUD KANJURUHAN KEPANJEN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM MALANG 2013

Laporan Kasus

Close Fracture Intertrochantis Femur Dextra


Pembimbing : dr. Satriyo Aji.Sp.OT Disusun Oleh: Bisukma Yudha P, S.Ked. 208.121.0025

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU BEDAH RSUD KANJURUHAN KEPANJEN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM MALANG 2013

Status Penderita
Nama : Ny. N Umur : 80 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : Ibu rumah tangga Pendidikan : SD Agama : Islam Alamat : Pagak Status perkawinan : Menikah Suku : Jawa Tanggal MRS : 8 Mei 2013 Tanggal Periksa : 8 Mei 2013 No. Registrasi : 320471

Anamnesis
Keluhan Utama : Pangkal paha kanan terasa nyeri Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke poliklinik orthopedi pukul 09.00 WIB diantar oleh keluarganya dengan keluhan pangkal paha kanan terasa nyeri. 2 minggu sebelum masuk rumah sakit pasien mengaku jatuh di

Pasien mengatakan bahwa saat itu kepalanya pusing dan tiba-tiba saja terjatuh. Sejak setelah terjatuh pangkal paha kanan pasien menjadi nyeri jika di gerakkan. Sebelum terjatuh pasien bisa berjalan, dan dapat menggerakkan kedua kakinya dengan baik. Saat ini pasien tidak mengeluh sakit kepala, sesak, mual, muntah, batuk dan juga tidak demam. BAK dan BAB normal. Setelah terjatuh pasien mengaku dibawa berobat di

Riwayat Penyakit Dahulu : Sebelumnya pasien belum pernah sakit seperti ini dan tidak ada riwayat hipertensi, diabetes melitus maupun sakit yang lain. Riwayat Pegobatan : Sebelumnya pasien belum pernah berobat hanya ke sangkal putung dan tidak diberi obat.

Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada keluarga pasien yang sakit seperti ini, dan menyangkal mempunyai penyakit hipertensi, DM, atau penyakit yang lain. Riwayat Kebiasaan : Pasien hanya melakukan aktivitas ringan di rumahnya, seperti berjalan dan menonton TV.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Compos mentis, tampak lemas (GCS: 456) Tanda Vital Tensi : 140/90 mmHg Nadi : 120x/menit Pernafasan : 22x/menit Suhu : 36,6C

Status Lokalis (Regio Femur)


Look : Tidak terdapat luka, warna kulit normal, oedem (-), deformitas (+), penonjolan abnormal (-), angulasi (-), tidak tampak sianosis pada bagian distal lesi. Feel : Suhu rabaan hangat sama dengan bagian tubuh lainnya, nyeri tekan setempat (+), krepitasi (-), gibbus (-), massa (-), sensibilitas (-), panjang tungkai kanan 62 cm, panjang tungkai kiri 64 cm, LLD 2 cm.

Pemeriksaan Motorik
GerakanBebas :
Bebas Bebas

Kekuatan otot : 5
2

5 5

Tonus otot: Normotonus pada kedua ekstremitas atas dan hipotonus pada ekstremitas kanan bawah.
Massa otot:

Refleks
Fisi olog is :
Refleks Biseps +/+ Refleks Triseps +/+ Refleks Patella : :

Refleks Patolo :

Hoffman : -/Tromner : -/Babinzki : -/Chaddock : -/ Oppenheim : -/ Gordon : -/Gonda : -/Schaefer : -/

:-

Resume
Pasien datang ke poliklinik orthopedi dengan keluhan pangkal paha kanan terasa nyeri. 2 minggu sebelum masuk rumah sakit pasien mengaku jatuh di lantai kamarnya saat hendak bangun dari tempat tidurnya. Pasien mengatakan bahwa saat itu kepalanya pusing dan tiba-tiba saja terjatuh. Sejak setelah terjatuh pangkal paha kanan pasien menjadi nyeri jika di gerakkan. Sebelum terjatuh pasien bisa berjalan dan menggerakkan kedua

Dari pemeriksaan fisik didapatkan hasil keadaan umum tampak lemah, kesadaran CM, GCS 456, TD 140/90 mmHg, N 120x/menit, RR 22x/menit, suhu 36,6 C. Pemeriksaan motorik: kekuatan motorik ekstremitas inferior dextra menurun. Status lokalis regio femur didapatkan deformitas (+), nyeri tekan femur dextra (+), LLD 2 cm.

Diagnosis Banding
Fraktur leher femur Fraktur subtrokanter Fraktur diafisis Fraktur acetabulum

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium: Hemoglobin Hematokrit Hitung Eritrosit juta/cmm Hitung Leukosit sel/cmm () Hitung Trombosit () Masa Perdarahan Masa Pembekuan GDS SGOT SGPT 12,0 g/dl 35,9 %

3,83
12.400

113.000 sel/cmm
100 menit 800 menit 119 mg/dl 30 U/L 14 U/L

Planning Diagnosis
Foto Rontgen Thorax AP Foto Rontgen Os. Femur dextra AP Lateral Foto Rontgen Pelvis AP

Working Diagnosis
Close Fracture Intertrochantis Femur Dextra

Planning Therapy
Non Operatif Non-medikamentosa: - MRS (bedrest) - In line mobilization - Log roll tiap 2 jam - Observasi vital sign, fungsi motorik dan fungsi sensorik Medikamentosa: - Maintenance cairan - Analgesik - Antibiotik Operatif Rencana Pemasangan Plate Screw

Prognosa
Dubia ad bonam (cendrung baik). Apabila tidak ada penyakit yang memperberat, tidak ada trauma lagi, penangan yang cepat dan tepat seperti pelaksanaan operasi yang lancar dan berhasil.

PEMBAHASAN

Anatomi

Bagian collum Menghubungkan kepala pada batang femur, berjalan ke bawah, belakang, lateral dan membentuk sudut lebih kurang 125 derajat (pada wanita sedikit lebih kecil) dengan sumbu panjang batang femur. Trochanter major dan minor Merupakan tonjolan besar pada batas leher dan batang. Yang menghubungkan dua trochanter ini adalah linea intertrochanterica di

Bagian batang femur Umumnya cembungan ke depan, licin dan bulat pada permukaan anteriornya, namun pada bagian posteriornya terdapat rabung, linea aspera. Tepian linea aspera melebar ke atas dan ke bawah.Tepian medial berlanjut ke bawah sebagai crista supracondylaris medialis menuju tuberculum adductorum pada condylus medialis.Tepian lateral menyatu ke bawah dengan crista supracondylaris lateralis. Pada permukaan posterior batang femur, di bawah trochanter major terdapat tuberositas glutealis, yang ke

Ujung bawah femur memiliki condylus medialis dan lateralis, yang di bagian posterior dipisahkan oleh incisura intercondylaris. Permukaan anterior condylus dihubungkan oleh permukaan sendi untuk patella. Di atas condylus terdapat epicondylus lateralis dan medialis. Tuberculum adductorium berhubungan langsung dengan

Definisi
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisi, baik bersifat total maupun parsial. Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas tulang femur yang bisa terjadi akibat trauma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian). Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan pendertia jatuh dalam syok. Fraktur daerah intertrokanter adalah

Etiologi/Predisposisi
Penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga, yaitu 1.Cedera Traumatik Akibat trauma tiba-tiba 2.Fraktur Patologik Terjadi karena kelemahan tulang akibat adanya kelainan patologi pada tulang. 3.Fraktur Stress Akibat trauma yang terus menerus

Pembagian Fraktur Secara Umum


Secara klinis klasifikasi fraktur dibagi menjadi 3 yaitu fraktur tertutup, fraktur terbuka dan fraktur dengan komplikasi. Fraktur tertutup (closed fracture) Tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan lingkungan luar. Fraktur terbuka (open fracture) Mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak. Fraktur dengan komplikasi Fraktur yang disertai komplikasi seperti

Fraktur Tertutup

Fraktur Terbuka

Fraktur dengan Komplikasi

Jenis-jenis Fraktur Berdasarkan Konfigurasi

Fraktur Berdasarkan Hubungan Antar Fragmen

Fraktur Femur
Lokalisasi fraktur femur 1. Fraktur leher. 2. Fraktur trokanterik. 3. Fraktur subtrokanterik. 4.Fraktur diafisis. 5. Fraktur suprakondiler. 6. Fraktur kondiler.

Fraktur Intertrochanter
Fraktur intertrokanter menurut definisi adalah semua fraktur yang terjadi antara trokanter mayor dan minor. Fraktur ini bersifat ekstrakapsular dan bersifat komunitif terutama pada korteks bagian posteromedial. Seperti halnya fraktur leher femur, fraktur intertrokanter sering

Tipe 1 Tipe 4

Tipe 2

Tipe 3

Tipe I; Fraktur melewati trokanter mayor dan minor tanpa pergeseran Tipe II; Fraktur melewati trokanter mayor disertai pergeseran trokanter minor Tipe III; Fraktur disertai dengan fraktur komunitif

Fraktur Intertrochanter
Gambaran klinik fraktur intertrokanter biasanya pada pasien tua dan tak sehat. Setelah jatuh pasien tidak dapat berdiri.

Pada pemeriksaan didapatkan pemendekkan anggota gerak bawah dan berotasi keluar dibandingkan pada fraktur servikal (karena fraktur bersifat

Fraktur Intertrochanter
Fraktur tanpa pergeseran yang stabil pada foto polos hanya dapat terlihat sebagai retakan tipis di sepanjang garis intertrokanter.

Fraktur intertrokanter femoris kiri + Fraktur femur kiri 1/3 tengah

Penatalaksanaan Fraktur Intertrochanter


Fraktur trokanterik, sebaiknya dilakukan pemasangan fiksasi interna dengan tujuan: 1. Untuk memperoleh fiksasi yang kuat 2. Untuk memberikan mobilisasi yang cepat pada orang tua.

Fraktur trokanterik dan setelah pemasangan plate + screw

Komplikasi
1. Komplikasi yang bersifat umum; trombosis vena, emboli paru, pneumonia, dekubitus 2. Nekrosis avaskuler kaput femur 3. Non-union 4. Osteoartritis 5. Anggota gerak memendek 6. Mal-union 7. Mal-rotasi berupa rotasi eksterna 8. Koksavara.

Prognosis
Tidak seperti jaringan lainnya, tulang yang mengalami fraktur dapat sembuh tanpa jaringan parut. Faktor mekanis yang penting seperti imobilisasi fragmen tulang secara fisik sangat penting dalam penyembuhan, selain faktor biologis yang juga merupakan suatu faktor yang sangat esensial dalam penyembuhan fraktur.

TERIMAKASIH