Anda di halaman 1dari 16

Load and Resistance Factor Design dalam Perencanaan Stuktur Baja

Samsuardi Batubara
Staff Pengajar Jurusan Sipil Fakultas Teknik Unika Santo Thomas Sumatera Utara
Abstrak
Dua metode yang sering digunakan dalam perencanaan struktur baja yakni perencanaan
berdasarkan tegangan kerja/ working stress design ( Allowable Stress Design/ASD) dan
perencanaan kondisi batas/ limit states design ( Load and Resistance Factor Design/
LRFD). Berbeda dengan konsep tegangan kerja/ ijin dengan faktor keamanan tunggal
dalam perencanaan struktur baja, Load Resistance Faktor Design mengenal berbagai
faktor keamanan untuk mengakomodasi berbagai kemungkinan kelebihan beban dan
kemungkinan kegagalan elemen struktur yang direncanakan pada berbagai kondisi batas.
Kondisi batas yang dimaksudkan adalah leleh, fraktur, tekuk lokal penampang, tekuk
global komponen struktur dan kondisi batas lainnya. Hal ini memberikan gambaran
perencanaan lebih rasional dan memeberikan keleluasaan kepada perencana untuk
menentukan desain berdasarkan kondisi batas yang dipilihnya.
Pendahuluan
Metode tegangan kerja/ASD telah
digunakan kurang lebih 100 tahun, dan
selama 20 tahun terakhir prinsip
perencanaan struktur baja telah beralih
ke konsep LRFD yang lebih rasional
berdasarkan konsep probabilitas.
Perencanaan struktur baja yang
dilakukan di Indonesia mengacu kepada
Peraturan Perencanaan Bangunan Baja
Indonesia ( PPBBI, 1984). Perencanaan
tersebut menganut konsep tegangan
ijin/ASD, dimana dalam perencanaan
tegangan yang terjadi pada elemen
struktur yang diakibatkan oleh beban
kerja direncanakan tidak melebihi
tegangan ijin.
Konsep LRFD Dalam Desain Struktur
Baja
Perencanaan struktur baja dalam konsep
LRFD adalah mengacu kepada kondisi
batas kemampuan dalam memenuhi
fungsi-fungsinya. Kadaan batas dibagi
dua yakni tahanan dan kemampuan
layan. Keadaan batas tahanan
(keamanan) adalah perilaku struktur saat
mencapai plastis, tekuk , leleh, fracture
dan gelincir. Keadaan batas kemampuan
layan berkaitan dengan kenyamanan
pengguna bangunan yakni lendutan,
getaran, perpindahan dan retak-retak
yang mungkin terjadi. Keadaan batas
tersebut dapat tercapai dengan
memperhitungkan kelebihan beban atau
pengurangan kekuatan struktur yang
terjadi pada masa layan dibandingkan
dengan beban nominal dan kuat nominal.
Kelebihan beban dapat diakibatkan oleh
kemungkinan perubahan fungsi
bangunan yang mengakibatkan
berubahnya nilai beban-beban yang
dipikul struktur, sedangkan pengurangan
kekuatan struktur dapat disebabkan oleh
kemungkinan ketidak sempurnaan bahan
dan penyederhanaan perhitungan
kekuatan dibandingkan dengan kondisi
bahan dan perhitungan teoritis yang
digunakan.
Konsep probabilitas dalam mengkaji
keamanan struktur adalah metode
keandalan mean value first order
secound - moment dimana pengaruh
beban ( Q) dan tahanan ( R ) dianggap
sebagai variable acak yang saling tak
bergantung dengan frekuensi distribusi
tipikal sebagai berikut:
1
Gambar 1. Fungsi Kerapatan Probabilitas
Tahanan dan Beban
Agar lebih sederhana maka diturunkan
variable R/Q atau ln ( R/Q) dengan ln
(R/Q) < 0 menunjukkan kegagalan
Seperti yang ditunjukkan pada gambar
berikut:
Gambar 2. Indeks Keandalan untuk R dan
Q Lognormal
Besaran ln(R/Q) menjadi defenisi
kegagalan. Variabel disebut indeks
keandalan ( reliability indeks) dan
bermanfaat untuk hal-hal sebagai berikut:
Menunjukkan konsistensi
perencanaan berbagai jenis
komponen struktur.
Dapat digunakan untuk menemukan
metode baru dalam perencanaan
komponen struktur.
Dapat digunakan sebagai indikator
dalam mengkalibrasi tingkat faktor
keamanan komponen struktur.
Konsep perencanaan LRFD mengadopsi indeks
keandalan ke dalam persamaan yang lebih
umum dikenal sebagai :

i i n
Q R
(1)
Dimana :

: faktor keamanan untuk sisi kekuatan


atau faktor reduksi kekuatan
Rn : kuat nominal komponen struktur,
diambil nilai terkecil dari beberapa
kemungkinan kegagalan ( kondisi batas)
yang mungkin terjadi.
i

: faktor keamanan untuk sisi beban atau


faktor pengali beban ( overload factors).
Q
i
: berbagai jenis beban yang direncanakan
untuk dipikul komponen struktur.
n
R
: representasi tahanan atau kekuatan
rencana suatu komponen struktur.
i i
Q
: beban terfaktor yang harus dipikul
oleh komponen struktur.
Faktor Reduksi Kekuatan
Faktor reduksi kekuatan

diadakan untuk
memeprhitungkan kemungkinan
ketidaksempurnaan dan penyimpangan kekuatan
bahan serta perbedaan kekuatan dibandingkan
dengan perhitungan kekuatan secara teoritis
yang digunakan. Nilai

diambil lebih kecil


dari satu, sehingga kekuatan rencana sebuah
komponen struktur
n
R
akan lebih kecil dara
pada kekuatan nominalnya, R
n.
Besar nilai


bervariasi menurut jenis komponen struktur dan
kondisi batas yang diperhitungkan.
2
Faktor reduksi kekuatan komponen struktur
berdasarkan metode LRFD
Kuat Rencana Faktor
Reduksi (

)
Komponen struktur memikul
gaya tarik
Keadaan batas leleh
Keadaan batas fracture
0.90
0.75
Komponen struktur memikul
gaya tekan
0.85
Komponen struktur memikul
lentur, geser
0.90
Sambungan las
Las tumpul penuh
Las sudut, las pengisi dan las
tumpul sebagian
0.90
0.75
Faktor dan Kombinasi Beban
Faktor baban
i

dimaksudkan untuk
memparhitungkan kemungkinan
meningkatnya beban dari nilai beban
minimum yang disyaratkan. Nilai
i


umumnya lebih besar dari 1.0 sehingga
beban rencana yang kan dipikul oleh struktur
ditingkatkan menjadi
i i
Q
. Nilai faktor
beban yang digunakan tergantung pada
kombinasi beban yang diperhitungkan.
Adapun factor dan kombinasi beban tersebut
adalah sebagai berikut:
a. 1.4 D
b. 1.2 D + 1.6 L + 0.5 ( La atau H)
c. 1.2 D + 1.6 (La atau H) + (
L
L atau
0.8 W)
d. 1.2 D + 1.3 W +
L
L (La atau H)
e. 1.2 D t 1.0 E +
L
L
f. 0.9 D t ( 1.3 W atau 1.0 E)
Dimana :
D : beban mati yang diakibatkan oleh berat
struktur permanen, termasuk dinding,
lantai, plafon, partisi tetap, tangga dan
peralatan tetap lainnya.
L : beban hidup yang diakibatkan oleh
pengguna gedung termasuk kejut.
La : beban hidup di atap yang ditimbulkan oleh
pekerja, perawatan oleh pekerja dan
material.
H : beban hujan, tidak termasuk yang
diakibatkan oleh genangan air.
E : beban gempa yang ditentukan sesuai
peraturan gempa
L
= 0.5 apabila L < 5 kPa
dan
L
= 1 apabila L 5 kPa. Factor beban
L = 1 untuk garasi parkir gedung pertemuan
umum dan semua daerah yang memikul
beban hidup lebih besar dari 5 kPa.
Komponen Struktur Yang Memikul Gaya
Tarik
Pada struktur baja batang tarik banyak
ditemukan, batang ini dapat berupa profil
tunggal maupun profil ganda atau tersusun.
Batang tarik dapat berupa baja bulat, pelat, siku
tunggal, siku ganda, kanal tunggal, kanal ganda
dll.
Untuk komponen struktur baja memikul gaya
tarik/ batang tarik harus di desain sedemikian
rupa sehingga harus memenuhi rumus sebagai
berikut:
n t u
N N
(2)
dimana :
N
u
: kuat tarik perlu yakni nilai gaya tarik akibat
beban terfaktor dengan nilai terbesar yang
diambil dari kombinasi pembebanan.
Nn : kuat tarik nominal, yakni kuat tarik pada
kondisi batas yang di perhitungkan.
t

: faktor reduksi untuk komponen struktur


yang memikul gaya tarik, 0.90 untuk kondisi
batas leleh dan 0.75 untuk kondisi batas fraktur.
Tahanan tarik nominal komponen struktur tarik
ditentukan oleh beberapa faktor yakni :
1. Leleh penampang (yielding) pada seluruh
penampang bruto
2. Fracture pada penampang efektif
3. Geser pada sambungan
Kondisi leleh penampang
3
Untuk kondisi leleh penampang tahanan
nominal adalah :
g y n
A f N
(3)
Kondisi Fracture
Untuk kondidi fracture dimana sambungan
adalah menggunakan sambungan baut tahan
nominalnya adalah :
e u n
A f N .
(4)
Dimana :
f
y
: kuat leleh material, MPa
A
g
: luas penampang bruto, mm
2
fu : tegangan tarik putus, MPa
A
e
: luas penampang effektif, mm
2
Penampang Effektif
Luas penampang efektif komponen struktur
yang memikul gaya tarik akan ditentukan
rumus sebagai berikut:
U A A
n e

(5)
9 . 0 1
L
x
U
(6)
dimana
An : luas penampang netto, mm
2
U : koefisien reduksi
x : eksentrisitas sambungan, jarak
tegak lurus arah gaya tarik , antara
titik berat
penampang komponen yang
disambung dengan bidang
sambungan, mm.
L : panjang sambungan dalam arah
gaya tarik , yakni jarak antara dua
baut yang
terjauh pada suatu sambungan atau
panjang las dalam arah gaya tarik,
mm.
Geser Blok
Kombinasi keruntuhan yang diakibatkan
oleh kombinsi geser dan tarik dinamakan
geser blok. Keruntuhan ini sering terjadi
pada sambungan dengan baut terhadap pelat
badan yang tipis pada komponen struktur
yang memikul gaya tarik. Keruntuhan ini
bisanya dijumpai pada sambungan pendek
yang menggunakan dua baut atau kurang pada
garis searah dengan gaya yang bekerja.
Gambar 3. Keruntuhan Geser Blok
Pengujian menunjukkan bahwa keruntuhan
geser blok merupakan penjumlahan tarik leleh
atau tarik fraktur pada suatu irisan dengan geser
fraktur atau geser leleh pada irisan lainnya yang
salaing tegak lurus.
Tahanan tarik blok geser ditentukan oleh dua
persamaan sebagai berikut:
Geser Leleh Tarik Fraktur
nt u gv y n
A f A f T + 6 . 0
(7)
Geser Fraktur Tarik Leleh
gt y nv u
A f A f Tn + 6 . 0
(8)
Dimana :
A
gv
: luas bruto akibat geser
A
gt
: luas bruto akibat tarik
A
nv
: luas netto akibat geser
A
nt
: luas netto akibat tarik
f
u
: kuat tarik
f
y
: kuat leleh
Komponen Struktur Yang Memikul Gaya
Tekan
Komponen struktur baja yang memikul gaya
tekan harus direncanakan sedemikian rupa
sehingga memenuhi rumus sebagai berikut:

n c u
N N
(9)
Dimana :
Nu : kuat perlu tekan, yaitu gaya tekan
akibat beban terfaktor, diambil dari
nilai terbesar dari kombinasi
pembebanan.
Nn : kuat tekan nominal, yaitu nilai gaya
tekan terkecil dengan memperhitungkan
4
T
berbagai kondisi batas batang tekan
sebagai fungsi kondisi tekuk.
c

: factor reduksi untuk komponen


struktur yang memikul gaya tekan,
0.85.
Kondisi batas yang harus diperhitungkan
dalam perencanaan komponen struktur yang
memikul gaya tekan.
Kelelehan penampang ( yielding)
Tekuk lokal ( local buckling)
Tekuk lentur( flexural buckling)
Tekuk torsi ( torsional buckling)
Tekuk local adalah peristiwa menekuknya
elemen pelat penampang ( sayap atau badan)
akibat rasio tebal yang terlalu besar. Tekuk
local mungkin terjadi sebelum batang/kolom
menekuk lentur. Untuk itu di syaratkan nilai
maksimum bagi rasio lebar tebal pelat
penampang batang yang memikul gaya
tekan.
Tekuk lentur adalah peristiwa menekuknya
batang tekan pada arah sumbu lemah secara
tiba-tiba ketika terjadi ketidakstabilan.
Kondisi ini sangat umum terjadi pada
elemen batang tekan.
Kuat tekan nominal Nn struktur yang
memikul gaya tarik adalah dengan rumus
sebagai berikut:

y
g cr g n
f
A f A N .
(11)
Dengan besarnya

yang ditentukan oleh


c

sebagai berikut:
untuk
c

< 0.25 maka

= 1
untuk 0.25 <
c

< 1.2 maka


c

67 . 0 6 . 1
43 . 1

untuk
c

> 1.2 maka


2
25 . 1
c

Tekuk torsi adalah peristiwa tekuk yang
terjadi pada sumbu batang yang
menyebabkan penampang tekan
terputar/terpuntir. Tekuk torsi umumnya
terjadi pada konfigurasi elemen batang tertentu,
seperti profil siku ganda dan profil T.
Kuat tekan nominal pada kondisi batas tekuk
torsi dirumuskan sebagai berikut:
clt g nlt
f A N
(12)
Dimana
1
1
]
1

,
_

2
) (
4
1 1
2
crz cry
crz cry crz cry
t cl
f f
H f f
H
f f
f
Dan besaran-besaran Ag,
c

, f
y
, f
clt
, f
cry
, f
crz
dan H adalah parameter parameter penampang
Komponen Struktur Yang Memikul Lentur
Komponen struktur baja yang memikul lentur
harus direncanakan sedemikian rupa sehingga
memenuhi rumus sebagai berikut:
n f u
M M
(13)
Dimana :
f

: faktor reduksi kekuatan untuk


komponen struktur memikul lentur
= 0.90.
Mn : kuat lentur nominal terkecil dari
berbagai kondisi batas yang
diperhitungkan.
Mu : kuat lentur perlu yakni nilai momen
lentur akibat beban terfaktor yang
diambil diantara berbagai kombinasi
yang mungkin terjadi.
Dalam perhitungan momen tahan nominal
dibedakan antara penampang kompak, tak
kompak dan langsing. Batasan penampang
kompak, tak kompak dan langsing adalah :
1. Penampang kompak : p
<
2. Panampang tak kompak :
r p
< <
3. langsing :
r
>
5
Gambar 4. Tahanan Momen Nominal
Kompak, Tak Kompak Dan Langsing
Penampang Kompak
Tahanan momen nominal untuk balok
terkekang lateral dengan penampang
kompak adalah :
y p n
f Z M M .
(14)
Dimana :
M
p
: tahanan momen plastis
Z : modulus penampang plastis
f
y
: kuat leleh
Penampang Tak Kompak
Tahanan momen nominal tak kompak pada
saat
r

S fr fy M M
r n
). (
.......(15)
Dimana:
f
y
: kuat leleh
f
r
: tegangan sisa
S : modulus penampang
Untuk penampang balok dengan r p
< <

maka tahanan lentur nominal ditentukan
dengan cara interpolasi linier sebagai berikut
:
r
p r
p
p
p r
r
n
M M M



......(16)
Dimana:
: kelangsingan penampang balok, flens
dan web = f
t b 2 /
p r
,
: lihat peraturan baja Indonesia
Untuk balok hibrida di mana yw yf
f f >
maka
perhitungan Mr didasarkan pada nilai terkecil
antara (f
yf
-f
r
) dengan f
yw.
Komponen Struktur Memikul Kombinasi Gaya
Aksial dan Lentur
Komponen struktur yang memikul kombinasi
gaya aksial dan lentur harus direncanakan
dengan rumus sebagai berikut:
Untuk
2 . 0
/

n
c
t
u
N
N

maka
0 . 1 ) (
9
8
/
+ +
ny f
uy
nx f
ux
n c t
u
M
M
M
M
N
N

.(17)
Untuk
2 . 0
/
<
n
c
t
u
N
N

maka
0 . 1 ) (
/
+ +
ny f
uy
nx f
ux
n c t
u
M
M
M
M
N
N

..... 18)
Nilai parameter persamaan interaksi tersebut
mengacu pada harga kuat perlu, kuat nominal
dan faktor reduksi kekuatan untuk masing-
masing gaya dalam M dan N.
6
M
r
M
p
M
n
kompak
Tak kompak
langsing
p

M
r
r

M
r
t b /
M
r
Analisis
A. Perencanaan Batang Tarik Dan
Batang Tekan
P
D
= 25 kN
P
L
= 35 kN
1. Perhitungan gaya batang (analisa dengan
ritter)
Daftar gaya batang pada Buhul C
a. Gaya Batang Akibat Beban Mati
Batang
Gaya Batang
Tarik
( kN)
Tekan
( kN)
S
2
S
3
S
7
S
8
S
9
28,125
28,125
15,625
15,625
b. Gaya Batang Akibat Beban Hidup
Batang
Gaya Batang
Tarik
( kN)
Tekan
( kN)
S
2
S
3
S
7
S
8
S
9
39,375
39,375
21,875
21,875
2. Perencanaan Batang Tarik
f
y
= 240 Mpa
f
u
= 370 Mpa
Methode LRFD
R
u
R
n
= 0,9
R
u
= 1,2 P
D
+ 1,6 P
L
= 1,2 x 28,125 + 1,6 x
39,375 = 96,75 kN
l
k
= 300 cm
a. Lentur
R
u
R
n
R
u
= 96,75 kN
b. Kelangsingan
240
min
L
i
cm i 25 , 1
240
300
min

c. Menghitung A
g
minimum yang dibutuhkan
dari batas leleh
24 9 , 0
75 , 96
min
x f
Ru
f
Nu
A
y y
g


4,48 cm
2
untuk 2 profil
2,39 cm
2
untuk 1 profil
d. Menghitung A
e
minimum yang dibutuhkan
dari kondisi batas fracture
37 75 , 0
75 , 96
min
x f
Ru
f
Nu
A
u u
e


3,486 cm
2
untuk 2 profil
1,745 cm
2
untuk 1 profil
e. Rencanakan Profil
L 45.45.5
A
g
= 4,31 cm
2
i
x
= 1,35 cm
i
y
= 1,35 cm
i
n
= 0,87 cm
e = 1,28 cm
f. Menghitung Ae dari Profil Rencana
Alat sambung yang dipakai adalah Baut
Rencana
baut
= 12 mm
Ru Rn
Rn
Ru
n
baut

Ab f Tn Td
u f f
. . 75 , 0 . .
7

P

P
C

P
3.00
m

3.00
m

3.00
m
4.0m
m
1 2 3
4
5
6
7
8 9
10
11
12
13

3.0m 3.0m

3.0m

3.0m
P P P
= 0,75 x 0,75 x 41 x 1,1304
= 26,07 kN
Baut Bj 41 ; f
y
= 250 Mpa
; f
u
= 410 Mpa
74 , 3
07 , 26
75 , 97

baut
n

Direncanakan jumlah baut 4 buah
u = 3 d
s = 2 d

Ae = A
n
. U

n
A x
L
x
1
]
1

1

A
n
= A
g
n . d . t
= 4,31 1 . 1,2 . 0,5
= 3,71 cm
2
Maka
71 , 3
8 , 10
28 , 1
1 x A
e

,
_


= 3,27 cm
2
g. Menghitung Nn penampang rencana
N
n
leleh
Nn = 0,9 x f
y
x A
g

= 0,9 x 24 x 2 x 4,31
= 186,192 kN
N
n
aktual
Nn = 0,75 x f
u
x A
e
= 0,75 x 37 x 2 x 3,27
= 181,485 kN
Kondisi yang menentukan adalah Nn
actual
Nn = 181,485 kN Ru
181,485 96,75
Resume
Methode LRFD
: Dimensi 2L 45.45.5
Ru Rn
96,75 181,485
3. Perencanaan Batang Tekan
Methode LRFD
P
D
= 15,625 kN
P
L
= 21,875 kN
P
U
= 1,2 P
D
+ 1,6 P
L

= 1,2 x 15,625 + 1,6 x 21,875
= 53,75 kN
3.1. Menghitung Nn yang dibutuhkan
kN
Nu
Nn 22 , 63
85 , 0
75 , 53

3.2. Menghitung i
min
yang dibutuhkan
200
/
min
lk
i i
y x

cm 5 , 2
200
500

3.3. Rencana profil
2L 90.90.11
A
g
= 18,70 cm
2
i
x
= i
y
= 2,72 cm
e = 2,62 cm
i
n
= 1,75 cm
I
x
= I
y
= 138 cm
4
3.4. Perbandingan lebar/tebal web dan flange
Kelangsingan pelat penyambung
91 , 12
24
200 200
182 , 8
11
90


y
n
f
f
t
b

n
<
..............................Ok
3.5. Menghitung kapasitas tekan penampang
terhadap kondisi tekan lentur
g
x
y
x cr g x
A x
w
f
f x A Nn

g
y
y
y cr g y
A x
w
f
f x A Nn
- estimasi jarak dan jumlah koppel minimum
8
s
u
u
u
cm L x
L
i
l x k
x
i
kL
x
x
3 , 241
72 , 2
500
75 , 0
75 , 1
75 , 0
1
1
min
1


Ambil 6 daerah
62 , 47
75 , 1 6
500
min

x i
kl
x
L

a. kelangsingan arah sumbu x x


82 , 103
72 , 2
500

x
x
x
i
kl

Check kestabilan batang


2 , 1 86 , 3
62 , 47
82 , 183

L
x

b. kelangsingan arah sumbu bebas


bahan y y
Iy
T
= 2 [ Iy
O
+ A
g
( e
x
+ t )
2
]
= 2 x [ 138 + 18,70 x ( 2,62 +
x 1,1 )
2
]
= 651,828
175 , 4
70 , 18 2
828 , 651

x Ag
Iy
i
T
T
y

76 , 119
175 , 4
500

y

Check kestabilan batang


2 , 1 52 , 2
63 , 47
76 , 119

L
y

Diperoleh

y x

tekuk
arah x
977 , 1
10 2
24
14 , 3
82 , 183
5


x
x
E
f
x cr
y
x
x

2 , 1
x
cr
886 , 4 977 , 1 25 , 1 25 , 1
2
2
x cr x w
x x

N = x A
g
x f
cr
= 0,85 x 2 x 18,70 x 24 / 4,886
= 156,152 kN
3.6. Menghitung kapasitas tekan
penampang pada kondisi Tekuk Lentur-Torsi
Nn
x
= A
g
x fcr
x

=
( )
( )

'

+
+

+
2
4
1 1
2
z y
z y z y
g
fcr fcr
N x fcr fcr x
x
N
fcr fcr
x A
kN
x E
G
r
J x G
fcr
o
z
31 , 7692
) 3 , 0 1 ( 2
10 2
) 1 ( 2
4
2

J = 2 b. t
3

= 2 [ x 9 x 1,1
3
+ ( 9 (1,1/2 )) x 1,1
3
]
= 15,484
y
o
= e
y

2
= 2,62 0,55 = 2,07
0
o


2 2 2
o o o
y
Ag
Iy Ix
r + +
+


673 , 11 07 , 2 0
70 , 18 2
138 138
2
+ +
+

x
82 , 272
673 , 11 70 , 18 2
484 , 15 31 , 7692
2

x x
x
r x Ag
J x G
fcr
o
z
( ) ( )
6329 , 0
673 , 11
17 , 2 0
1 1
2
2
2 2

1
]
1

+

1
1
]
1

+

o
o o
r
y
N

911 , 4
886 , 4
24

w
f
fcr
y
y
=
( )
1
1
]
1

+

+
2
) 82 , 272 911 , 4 (
4 639 , 0 82 , 272 911 , 4
1 1
6329 , 0 2
82 , 272 911 , 4 x x x
x
x
= 4,925
N
t
= 0,85 x A
g
x f
lt
= 0,85 x 2 x 18,70 x 4,925
= 156,56575
Maka ; N = 156,152 kN (Tekan Lentur)
N = 156,56575 kN (Tekan Torsi)
N
U
= 53,75 kN
N
U
Nn
B. Perencanaan Gelagar
q
D
= 2,2 T/m = 22 kN/m
9

L = 7,5 m
q
q
L
= 3,2 T/m = 32 kN/m
Mutu Baja = BJ 37 f
y
= 240 MPa = 24 kN/m
2
F
u
= 370MPa = 37 kN/m
2
E = 200.000 MPa = 20.000 kN/m
2
1. Desain Balok Lentur Dengan Methode
LRFD
1.1. Analisa struktur
Mu = 1,2 M
D
+ 1,6 M
L
q
u
= 1,2 q
D
+ 1,6 q
L
= 1,2 x 22 + 1,6 x 32
= 77,6 kN/m
Mu = 1/8 q
u
L
2
` = 1/8 x 77,6 x 7,5
2
= 545,625 kN m
Vu = q
u
L
= x 77,6 x 7,5
= 291 kN
1.2. Rencanakan dimensi penampang kuat
lentur tanpa pengaruh tekuk
Sebagai asumsi Balok Pendek
Mn = 0,9 . z
x
. f
y .
Mu
24 9 , 0
100 625 , 545
9 , 0 x
x
f x
Mu
z
y
x

2526,018519
12 , 1
x
x
z
S
=
12 , 1
018519 , 2526
= 2255,374 cm
3
Direncanakan I WF 500.300.11.15
Ix = 71000 cm
4
Iy = 8110 cm
4
i
x
= 20,8 cm
i
y
= 7,04 cm
s
x
= 2500 cm
3
s
y
= 451 cm
3
q = 114 kg/m
H = 482 mm
B = 300 mm
r = 28 mm
1.3. Check kelangsingan
1. Pelat sayap (flange)

97 , 10
240
170
10
15 2
300
2

x t x
b
f
f
.
.Ok!!! Pelat sayap kompak
2. Pelat badan ( web)
11
) 28 15 ( 2 482 +

w
t
h
=36,36
4 , 108
240
1680

....Ok!!!
Pelat badan kompak
3. L
TB
; Ok!!!, Asumsi ditahan sempurna,
balok pendek
L
b
< L
p
L
p
= 1,76 r
y

y
f
E
=
24
20000
04 , 7 76 , 1 x x
= 357,68
Ambil : L
b
= 250 cm 3 bentang
sama panjang
1.4. Check kekakuan terhadap lentur dan geser
Check kelangsingan geser k
n
5,0
y
n
w
f
E x k
x
t
h
1 , 1 36 , 36

00 , 71
24
000 . 20 5
1 , 1
x
x .....Pel
at badan kompak terhadap tekuk
Vn = 0,9 x 0,6 x A
w
x f
y
= 0,9 x 0,6 x [ 48,2 2 ( 1,5 + 2,6 ) x
1,1 ] x 24
= 570,24 Vu
10
= 570,24 291 kN
a. Methode distribusi
M
f
= A
f
x d
f
x f
y

= 30 x 1,5 x ( 48,2 1,5 ) x 24
= 50436 kN cm
= 504,36 kN m Mu ..Tidak
Ok!
b. Methode interaksi

525 , 1 625 , 0 +
Vn
Vu
x
Mn
Mu

525 , 1
24 , 570
291 625 , 0
24 374 , 2255 ) 12 , 1 ( 9 , 0
100 625 , 545
+
x
x x x
x
1,00 + 0,318 < 1,525
1,318<1,525 ....Ok!
1.5. Check defleksi akibat beban tetap
Ix E
L x q q x
l d
384
) ( 5
4
+

=
100
1
000 . 71 000 . 20 384
750 ) 32 14 , 1 22 ( 5
4
x
x x
x x + +
= 1,599 cm
240
750
240

L

= 1,599 cm 3,125 cm
1.6. Apabila balok dipasang tanpa penopang
lateral l
b
= 750 cm
a. Sebagai balok pendek ( runtuh leleh )
l
p
l
b

24
000 . 20
76 , 1 750 x r x
y

r
y
14,761 .. Dari l
y
= r
y
14,761
Dimensi badan dalam table tidak ada
yang memenuhi.
Balok langsing ( Runtuh pada tekuk
ekstrim)
2
2
1
b
w
b
b
l x J x G
e x E x
x xIy E x
l
x e
Mcr Mn
+

Mn Mu
Rencanakan 450.300.11.18
H = 440 mm
B = 300 mm
r = 24 mm
Ag = 157,4 cm
2
` Ix = 56.100 cm
4
Iy = 8.110 cm
4
i
x
= 18,9 cm
i
y
= 7,18 cm
z
x
= 2550 cm
3
z
y
= 541 cm
3
J = 1/3 x [ 2 x 30 x 1,8
3
+ ( 44 2 x 1,8 ) x
1,1
3
]
= 134,564 cm
4
e
w
=
4
2 2
1 , 3610653
4
) 8 , 1 44 (
110 . 8
4
cm x
h x Iy


2
2
1
] [ 1 1
r y
r y
y
f f x
f x f
r x
Lr + +

2
4 , 157 31 , 7692 564 , 134 000 . 20
2550
14 , 3
2
1
x x x
x
A x J x G x E
x
Sx

= 1571,75
2
2
2
564 , 134 31 , 7692
2550
110 . 8
1 , 653 . 610 . 3 4
4

,
_

,
_

x
x
x
J x G
Sx
x
Ix
e x
w

= 0,010808
2
) 7 24 ( 010808 , 0 1 1
) 7 24 (
18 , 7 75 , 1571
+ +

x x
x
Lr
= 1155,65 cm
18 , 7 76 , 1
24
000 . 20
76 , 1 x x
f
E
x r x Lp
y
y

= 364,793
Maka : Lp Lb Lr
364,793 750 1155,65
Mr = Sx [f
y
f
r
]
11
= 2550 x ( 24 7 ) = 43350
kN cm
= 433,50 kNm
Mp = 1,12 Sx f
y
= 1,12 x 2550 x 24 = 68544 kN cm
= 685,44 kNm
Mn = 1,136 [ 685,44 ( 685,44 433,50
) x

,
_

65 , 3 55 , 11
65 , 3 5 , 7
]
= 639,18 kNm
Mn = 0,9 x 639,18
Mn = 575,26 Mu
b. Sebagai balok bentang menengah
( runtuh pada tekuk inelastis )
( )
P
P r
P b
n P P b
M
L L
L L
x M M M x e Mn
1
]
1

,
_


c b a
b
M M M M x
M x
e
3 4 3 5 , 2
5 , 12
max
max
+ + +

M
max
= 545,625 + 1/8 q
bs
x L
2
= 545,625 + 1/8 x 1,14 x 7,5
2
= 553,640625 kNm
M
max
= M
B

M
A
= M
C
= ( 291 + x 1,14 x 7,5 )
x 7,5/4 ( x 77,6 + x 1,14 ) x (7,5/4)
2
= 415,23 kN
136 , 1
23 , 415 6 640625 , 553 5 , 6
640625 , 553 5 , 12

x x
x
e
b
Rencanakan
600 x 200 x 11 x 17
A
g
= 134,4 cm
2
Ix = 77606 cm
4
Iy = 2280 cm
4
i
x
= 24 cm
i
y
= 4,12 cm
z
x
= 2590 cm
3
z
y
= 228 cm
3
q = 106 kg/m
r = 22 mm
J = 1/3 x [ 2 x 20 x 1,7
3
+ ( 60 2 x 1,7 ) x 1,1
3
]
= 90,6182 cm
4
( )
2
2 2
3 , 1937367
4
7 , 1 60
2280
4
cm x
h
x Iy e
w


( )
2
2
1
1 1
r y
r y
y
f f x x
f x f
r x
Ln + +

2
4 , 134 3 , 7692 6182 , 90 20000
2590
14 , 3
2
1
x x x
x
A x J x G x E
x
Sx

= 1173,45
2
2
2
6182 , 90 3 , 7692
2590
2280
3 , 1937367 4
4
1
]
1

'

x
x
x
J x G
Sx
x
Iy
e x
w

= 0,04692
( )
2
7 24 04692 , 0 1 1
7 24
12 , 4 45 , 1173
+ +

x x
x
Ln
= 624,086
Ln < Lb . Runtuh Elastis
2
2
1
Lb x J x G
e x E x
x Iy x E x
Lb
x e
Mcr Mn
w b

+
2
2
750 6182 , 90 3 , 7692
3 , 1937367 000 . 20 14 , 3
1
6182 , 90 3 , 7692 2280 000 . 20
750
14 , 3 136 , 1
x x
x x
x
x x x x
x
+

= 87885 kN cm
12
= 878,85 kN m
Mn = 0,9 x 878,85
Mn = 790,96 kN m Mu
C. Komponen Struktur Memikul Gaya
Kombinasi
1. Methode LRFD
Ru Rn
Kasus 1.


Kasus 2.
Adanya momen lentur tambahan akibat
gaya tekan ( P-delta effect ) berupa :
- ; eksentrisitas pada kolom tidak
bergoyang akibat beban grafitasi
- ; eksentrisitas pada kolom yang
bergoyang akibat beban lateral
Mu =
b
x Mn +
s
x Mlt
Di mana :

b
=
1
1

,
_

b
m
Ncr
Nu
e

s
=
1
1
1

1
]
1

L
Aoh
x
H
Nu
atau

s
=
s
Ncr
Nu

1
1
Contoh Soal
f
y
= 240 MPa
E = 2 x 10
5
MPa
V = 0,9
P
D
= 300 kN
P
L
= 500 kN
M
D
= 100 kN
M
L
= 150 kN
P
U
= 1,2 x P
D
+ 1,6 x P
L
= 1,2 x 300 + 1,6 x 500
= 1160 kN
M
U
= 1,2 x M
D
+ 1,6 x M
L
= 1,2 x 100 + 1,6 x 150
= 360 kN m
Rencanakan : 350.350.14.22
F = 202 cm
2
r = 20 mm
Ix = 47900 cm
4
Iy = 16000 cm
4
i
x
= 8,93 cm
i
y
= 8,93 cm
w
x
= 2670 cm
3
w
y
= 909 cm
3
Check Kestabilan
1. Pelat sayap
ok
x t x
b
f
f
... 97 , 10
240
170
95 , 7
22 2
350
2


2. Pelat badan
ok
x
t
h
w
.... 4 , 108
240
1680
857 , 21
14
) 22 2 ( 350

3. L
TB

13
P
P
8 m
L
b
< L
P
L
Py
=
y
y
f
E
x r x 76 , 1

cm
x x
79 , 453
24
20000
93 , 8 76 , 1

L
Px
=
y
x
f
E
x r x 76 , 1
cm x x 4 , 773
24
20000
3 , 15 76 , 1
J = 1/3 x [ ( 2 x 35 x 2,2
3
)
+ ( 35 ( ( 2 x 2,2 ) x 1,4
3
) ) ]
= 276,44 cm
e
w
=
( )
cm
h
Ix e
w
4303360
4
2 , 2 35
16000
4
2 2


( )
2
2
1
1 1
r y
r y
y
r
f f
f f
r
L + +

2
44 , 276 23 , 7692 202 20000
2670
14 , 3
2
1




A J G E
Sx

= 2437,365
( )
( )

'

44 , 276 23 , 7692
2670
16000
4303360 4
4
2
2
2
J G
Sx
Ix
e
w

= 1,6963 x 10
-3
( )
2 3
7 24 10 6963 , 1 1 1
7 24
93 . 8 365 , 2437
+ +

Lr
= 1907,97 cm
L
P
= 453,79
Maka : L
P
< L
b
< L
r
Mr = Sx x [ f
y
f
r
]
= 2670 x [ 24 7 ]
= 45390 kN cm
= 453,90 kN m
M
P
= 1,12 x Sx x f
y
= 1,12 x 2670 x 24
= 71769,6 kN cm
= 717,696 kN m
( )
( )
1
]
1


P r
P b
r P P b n
L L
L L
M M M e M
Mc Mb Ma M
M
e
b
+ + +

4 3 max 5 , 2
max 12
16 , 45 3 83 , 89 4 92 , 224 3 360 5 , 2
360 12
+ + +

= 2,087
( ) [ ]
( )
( ) 79 , 453 97 , 1907
79 , 453 800
9 , 453 69 , 717 69 , 717 087 , 2


n
M
= 1366,67 kNm
Maka : Pn = As x f
cr

w
f
As f
y
cr
E
f
r
l
y
y
k

20000
24
93 , 8 14 , 3
800

= 0,9

433 , 1
67 , 0 6 , 1
43 , 1

w

748 , 16
433 , 1
24

w
f
f
y
cr
Pn = As x f
cr
= 202 x 16,748
= 3383,11 kN
1
9
8

1
]
1


Mn
M
Pn
P
b
U
e
U
M
U
= Mn
t
x Bi
1
2
1
4 , 0 6 , 0
1
M
M
e
P
P
e
Bi
m
e
U
m

14
360
180
2 m
2 m
2 m
2 m
= 4 , 0
360
180
4 , 0 6 , 0
P
e1
=
2
2
2
2
93 , 8
800
202 20000 14 , 3

,
_

,
_

y
el
r
L
As E
P

= 4963,22 kN
Bi =

,
_

22 , 4963
1160
1
4 , 0
= 0,5220 < 1
Maka : Mn
t
x Bi = Mu
y
Mu
y
= Mn
t
x Bi
= 360 x 1
= 360 kNm
Maka :
1
9
8
+

Mn
Mu
Pn
Pu
t
1
696 , 717
360
9
8
11 , 3383
1160
+
0,342 + 0,445 1
0,787 Ok!!!!!
Kesimpulan
Dari hasil analisa methode LRFD untuk
axial tarik, axial tekan, lentur dan kombinasi
axial lentur dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut :
1. Adanya faktor beban dan factor reduksi
kapasitas pada methoda LRFD
mengakibatkan methoda LRFD lebih
realistis karena beban yang bekerja pada
komponen struktur tidak diperlakukan sama.
Demikian halnya dengan prilaku komponen
struktur, prilaku akibat pembebanan yang
berbeda (tarik, tekan dan lentur) akan
memberikan prilaku struktur yang berbeda.
2. LRFD lebih berani untuk memakai profil
yang lebih efisien / ekonomis namun aman.
DAFTAR PUSTAKA
1) Englekirk, Robert E., Steel Structures :
Controlling Behavior Through Design,
John Wiley & Sons, Singapore 1994.
2) McVormac, Jack., Structural Steel
Design, 2
nd
Ed., Harpercollins, New
York, 1995.
3) Salmon, Charles G., Steel Structure :
Design and Behavior, 4 th Ed., Harper
Collins, New York, 1996.
4) Tata Cara perencanaan Struktur Baja
Untuk Bangunan Gedung : Metode
LRFD, Jurusan teknik Sipil ITB
2002.Sugiarto 0811632397 citra garden.
BIODATA PENULIS
SAMSUARDI BATUBARA, lahir di Hutaraja,
Tapanuli Utara 18 Mei 1971. Menyelesaikan
pendidikan S-1 pada Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Katolik Santo
Thomas SU pada tahun 1996. Sejak 1
September 1998 sebagai dosen tetap pada
Fakultas Teknik Unika Santo Thomas SU
Medan. Menyelesaikan Pendidikan S-2 pada
Program Study Rekayasa Struktur Institut
Teknologi bandung pada tahun 2003.
15

16