Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENGERTIAN UMUM Yang dimaksud dengan Rencana dan Anggaran adalah merencanakan suatu bangunan dalam bentuk

dan faedah dalam penggunaannya, beserta besar biaya yang dibutuhkan dan susunan-susunan pelaksanaan dalam bidang administrasi maupun pelaksanaan kerja dalam bidang teknik. Dalam pelaksanaan ini terdapat beberapa nama-nama pejabat yang memegang peranan penting yang berhubungan dengan pelaksanaan pembuatan-pembuatan bangunan tadi, pejabat-pejabat itu adalah : Principal atau orang yang memberi pekerjaan (Bouwheer). Seseorang atau jawatan ingin membuat bangunan, maka orang tersebut menyampaikan keinginannya kepada ahli bangunan dan menyerahkan agar dapat direncanakan bangunan yang diingini itu beserta besar biaya yang diperlukan. Penasehat atau Adviser, sebagaimana telah tersebut diatas ahli-ahli bangunan yang menerima pekerjaan dari principal pada umumnya tenaga-tenaga teknik yang dipimpin oleh insinyur atau arsitek. Dalam hal ini disebut penasehat atau perencana. Direksi atau pengawas/pengurus, dalam melaksanakan pekerjaan, pemborong perlu diawasi pekerjaannya. Ini dilakukan oleh seorang ahli atau yang disebut direksi/ pengawas. Pemborong atau annemer, yaitu orang yang melaksanakan berdirinya bangunan, dimana kerjanya mendapat keuntungan. Pelaksana atau uitvoeder, yaitu seorang teknisi yang bertanggung jawab atas pelaksanaan atau terlaksananya pekerjaan.

INDRA MUTIARA / D 111 99 147

BAB II PERENCANAAN Apa dan bagaimanakah yang dinamakan Perencanaan itu ? Untuk memahaminya pelajarilah hal-hal yang dianggap penting berikut. Apabila seorang engineer mendapat pekerjaan untuk merencanakan suatu bangunan, ia segera melakukan tindakantindakan sebagai berikut : 1. Mengetahui tujuan bangunan itu. 2. Melihat letak pekarangan ( tempat ) bangunan itu. 3. Mengetahui bersangkutan. 4. Melihat keadaan tanah. 5. Syarat-syarat arsitektur yang dikehendaki. 6. Besar dan perlengkapan bangunan. 7. Uang yang tersedia. 8. Situasi terhadap keadaan disekitarnya. Jika hal-hal tersebut diatas telah dapat diketahui, maka dimulai dengan Rencana Persiapan sementara, terdiri dari beberapa gambar-gambar denah tampang muka dan penampang-penampang yang perlu, dan gambar Perspektif jika dianggap perlu. Rencana biaya ditaksir dengan perhitungan kasar, dan apabila hal itu telah dapat persesuaian dan kata sepakat dengan principal, maka dimulailah dengan gambargambar bestek (rencana kerja) ialah uraian yang sejelas-jelasnya tentang pelaksanaan bangunan, yaitu terdiri dari : 1. Keterangan tentang bangunan. 2. Keterangan tentang melaksanaan bagian bangunan tersebut. 3. Keterangan mengenai tata usaha (administratif). Dengan adanya bestek dan gambar-gambar bestek, maka pemborong dapat membayangkan bentuk dan macam bangunan yang diingini oleh principal dan bagaimana melaksanakannya. Jika semua persiapan-persiapan untuk dapat melaksanakan pembuatan bangunan telah selesai, maka principal atau diwakili oleh Direksi menawarkan pekerjaan tersebut kepada pemborong dengan cara pelelangan atau tender. Pelelangan ini akan memberi syarat-syarat bangunan dan instansi pemerintah yang

INDRA MUTIARA / D 111 99 147

kesempatan kepada pemborong mengadakan penawaran biaya itu secara tertulis. Dan belum tentu tawaran yang rendah yang harus diterima. Untuk melakukan pelelangan garis besarnya ada 2 (dua) cara ,yaitu : 1. Pelelangan Umum. 2. Pelelangan Undangan / dibawah tangan. Pemborong yang ditunjuk pada hakekatnya tidak termasuk lelangan, karena halhal yang berlaku, misalnya bangunan yang harganya sejuta, direksi dapat menunjuk sebuah atau seorang pemborong yang dianggap cakap tanpa tender. Yang memberi pekerjaan perlu mengetahui, bagaimana dan dari bahan apa bangunan itu akan dibuat, maka direksi terlebih dahulu membuat gambar rencana dari bangunan yang akan dibuat itu lengkap dengan detail-detailnya dan penjelasanpenjelasan teknik yang diperlukan, kemudian diajukan kepada yang memberi pekerjaan untuk diketahui dan untuk mendapatkan persetujuannya. Pemborong yang bersangkutan dengan pelaksana pekerjaan bangunan itu, membuatnya harus sesuai dengan gambar-gambar rencana tadi dan penjelasan teknik yang berhubungan dengan bangunan yang dibuatnya itu. Terkecuali perincian teknik, masih diperlukan syarat-syarat lain, yang langsung berhubungan dengan pekerjaan itu, umpamanya : kecakapan yang memberi pekerjaan dan atau Direksi pada pelaksanaannya, masa penyerahan, asuransi-asuransi, upah pekerja dan lain-lain. Rencana dan syarat-syarat yang dimaksud adalah : 1. Cara pelaksanaannya. Bila terjadi perubahan-perubahan dalam rencana sebelum dan selama pelaksanaan pekerjaan, begitu pula tambahan-tambahannya. 2. Perjanjian-perjanjian dengan pemilik tanah dimana bangunan itu akan didirikan. 3. Waktu penyerahan gambar-gambar penjelasan dan konstruksinya, penyerahan bahan-bahan dan ketentuan harganya. Waktu bekerja bagi para pegawai dan pekerjanya. 4. Pimpinan pekerjaan itu siapa. Kemudian yang dianggap berstatus direksi siapa saja.

INDRA MUTIARA / D 111 99 147

5. Tanggung jawab pemborong atas pekerjaan para pekerjanya. Begitu pula tanggung jawab pemborong atas pelaksanaannya, penyerahan pekerjaan itu dalam keadaan baik. 6. Waktu masa pembayaran. Termasuk upah para pegawai dan pekerjanya. Dan cara penyerahan pekerjaan kepada pemborong bawahannya 7. Kalau yang pemborong itu meninggal atau sengaja meninggalkan (lari) sebelum pekerjaan itu selesai. 8. Persediaan/sewa alat pembantu atau penggantinya. Begitupula Bila pemborong mewakilkan/menyewakan pekerjaannya kepada orang lain. 9. Keadaan tanah pekerjaan yang mungkin mengakibatkan kerugian kepada pelaksanaannya. 10. Perlu tidaknya disediakan ruang istirahat bagi buruhnya dan persediaan obatobatan begitu pula isi perabotannya, jika mungkin disediakan bedeng-bedeng (barak) tempat kediaman buruhnya. Termasuk keamanan para pekerjanya. 11. Ketentuan-ketentuan peraturan yang berhubungan dengan para pekerja dan kepentingannya, antara lain : beberapa larangan pedagang-pedagang yang jualan ke tempat pekerjaan. Dan ketentuan berapa persen banyaknya penduduk dari daerah dimana bangunan akan didirikan. 12. Jaminan perhubungan lalu-lintas dan pengaliran air yang diperlukan dan akibatnya. 13. Pemeriksaan bahan-bahan bangunan, siapa yang harus membayar semua ongkos-ongkos untuk segala sesuatu yang diperlukan untuk pemeriksaan itu. 14. Kalau dalam pelaksanaan itu terpaksa ada pekerjaan yang menyimpang dari rencana, kelebihan pekerjaan (additional work) dan mungkin kekurangan (diminutional work) siapa yang diharuskan menanggung perongkosannya atau bila mungkin keuntungan daripada itu. Termasuk Bila ada yang perlu dibongkar, bongkaran-bongkaran itu menjadi milik siapa. Begitupula setelah selesai bangunan itu semua barang-barang yang bergerak dan sisa bahan-bahan itu mungkin menjadi milik siapa. 15. Karena sesuatu hal hingga terjadi sesuatu dalam pekerjaan itu, mungkin menyebabkan para pekerja tidak bekerja, misalnya disebabkan karena iklim/ cuaca, hujan turun berhari-hari dan sebagainya. Mungkin karena pekerja-

INDRA MUTIARA / D 111 99 147

pekerjanya bersama-sama mogok sehingga diadakan penutupan pekerjaan sementara. Dengan adanya kejadian-kejadian ini maka perlu memperpanjang masa bekerja / penagguhan penyerahan. Sampai berapa lama pekerjaan itu berhenti yang dipakai sebagai ketentuannya untuk menangguhkan penyerahannya nanti, perlu diketahui disengaja atau tidaknya pemogokan ini. atau jika dalam pelaksanaan terjadi kerusakan karena banjir, ledakan-ledakan karena gunung berapi, kebakaran, dan sebagainya siapa yang menanggung resikonya, baik yang terjadi selama pekerjaan itu dilaksanakan maupun selama masa pemeliharaannya (dari hari mulai dibuatnya bangunan itu sampai masa penyerahannya). Jika terpaksa tertunda pelaksanaannya dan mungkun terhenti untuk sementara atau selamanya. 16. Penyelesainnya jika ada perselisihan paham / pendapat, siapa yang memisah dan mendamaikannya. Bila dapat siapa pula yang diterima sebagai penasehatnya, jika tidak mencapai persetujuan perlukah dengan minta diselesaikan oleh hakim pengadilan dan lainnya. 17. Perlukah memperpanjang masa penyerahan itu pemborong berpendapat bahwa pekerjaan itu telah selesai yang kemudian disaksikan / diperiksa oleh Direksi ternyata belum selesai. Sedang pemeriksaan ini jatuh tepat pada waktunya pekerjaan itu harus sudah diselesaikan. 18. Kalau pemborong melanggar beberapa peraturan / perjanjian yang telah mereka buat bersama dan menurut nasehat perintah Direksi dan lain-lain. Atas pelanggaran ini mungkin akan mempengaruhi pembayaran karena setidaktidaknya tentu mengurangi bahan-bahan. Dengan kejadian ini pemborong diwajibkan kelak dikurangi / dipas pembayarannya. Pembayaran ini dapat pula dipotong, bila pemborong melanggar masa selesainya pekerjaan yang ia buat karena tidak menepati waktu yang telah ditentukan dalam rencana pekerjaan. Berapa banyaknya potongan-potongan ini perlu ditentukan, dan perjanjianperjanjian lainnya. Pembayaran suatu pekerjaan bangunan yang bentuknya telah selesai sebagian sebagaimana telah ditentukan pula pada rencana pekerjaan, dapat dibayar berangsurangsur. Tiap angsuran dan masa pembayaran pun perlu ditentukan. Pemborong adakalnya dapat menyelesaikan pekerjaan sebelum waktunya, dalam hal ini pemborong

INDRA MUTIARA / D 111 99 147

dapat menerima premi. Premi ini dapat juga ditentukan bersama sebelum pekerjaan itu diserahkan. Bukti yang dapat kita lihat disini adalah betapa padatnya segala sesuatu peraturan dan ketentuan-ketentuan yang pasti dapat terjadi pada pemborong selama pelaksanaan dan sesudah pekerjaan bangunan itu selesai. Peraturan itu tidak mudah dilanggar dan adil untuk kedua belah pihak, untuk yang memberi maupun yang menerima pekerjaan bangunan itu. Karena rencana dan syarat-syarat itu bagi pemborong bukan suatu rencana biaya yang telah tersusun, tetapi ini memuat uraianuraian tentang pekerjaan dan sifatnya, merupakan suatu kontrak selama ia melaksanakannya. Maka rencana ini harus dibuat dengan betul dan jelas. Kalimatkalimat yang dapat diartikan lain atau bertentangan dengan kalimat lain tidak boleh terdapat didalamnya. Karena itu pakailah kalimat yang singkat dan jelas artinya.

INDRA MUTIARA / D 111 99 147

BAB III PEMBORONGAN ATAU PELELANGAN Pemborongan/pelelangan dibedakan atas Pemborongan Umum yaitu

pemberitahuan menurut peraturan dilakukan paling sedikit 14 hari sebelumnya, lewat surat kabar atau media lainnya, menurut yang dikehendaki oleh yang memberi perintah. Dan Pemborongan Dibawah Tangan yaitu dengan cara Direksi atas nama yang memberi perintah, mengundang beberapa pemborong saja untuk mengajukan permintaan/menawar untuk mendaftarkan suatu pekerjaan bangunan yang akan dilaksanakan. Bila beberapa pemborong-pemborong yang menurut pendapat direksi adalah cakap untuk melaksanakan pekerjaan bangunan itu. Dalam suatu peraturan pemborong, melakukan pemborongan dilakukan dengan cara mendaftarkan. Supaya setiap pendaftar mendaftarkan dengan cara yang sama, maka untuk itu perlu disediakan formulir. Surat pendaftaran ini disusun, diisi dan lain-lain menurut syarat-syarat tertentu yang dinyatakan berlaku dalam peraruran-peraturan. Surat pendaftaran ini harus disampaikan sebelum waktu dan tempat yang telah ditentukan.

INDRA MUTIARA / D 111 99 147

BAB IV MENYUSUN ANGGARAN BIAYA Pada dasarnya anggaran biaya merupakan bagian terpenting dalam

menyelenggarakan pembuatan bangunan itu. Membuat anggaran biaya berarti menaksir atau mengirangira harga dari suatu barang, banguanan atau benda yang akan dibuat dengan teliti dan secermat mungkin. Untuk itu perlu dilakukan suatu analisa yaitu perumusan guna menetapkan harga dan upah masing-masing dalam bentuk satuan. Dalam penyusunan biaya, diperlukan sekali gambar-gambar dan daftar-daftar sebagai berikut : 1. Bestek (rencana pekerjaan) dan gambar-gambar bestek. 2. Daftar upah. 3. Daftar harga bahan 4. Daftar analisa (buku analisa) 5. Daftar banyaknya tiap pekerjaan. 6. Daftar susunan rencana biaya. Daftar-daftar yang tersebut diatas dapat saling memberikan gambaran dan petunjuk-petunjuk hingga akhirnya dapat merupakan jumlah anggaran biaya. Anggaran biaya ini dapat dilakukan dalam 2 cara : Anggaran biaya sangat teliti. Anggaran biaya sementara atau taksiran kasar. Sebuah buku standar yaitu buku Analisa ada empat faktor yang dibutuhkan. Keeempat faktor itu adalah : 1. 2. 3. 4. Harga bahan-bahan setempat. Harga upah pekerja/tukang setempat. Keamanan ditempat pekerjaan. Transport material ke tempat pekerjaan.

INDRA MUTIARA / D 111 99 147

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam skema berikut :

Daftar upah Daftar analisa Daftar Harga bahan Jumlah tiap Jenis Pekerjaan Biaya tak terduga, Ongkos rencana, Pajak Didalam daftar anggaran itu disusun banyaknya tiap-tiap bagian dari pekerjaan itu sebagaimana disebutkan dalam bestek, berturut-turut mengenai penjelasan tentang bagian-bagian itu. Bila mana jumlah satuan didapat (misalnya isi m3 dan luas dalam m2), kemudian jumlah ini dikalikan dengan harga satuan tiap-tiap macam dari pekerjaan itu. Selanjutnya jumlah semua bagian-bagian itu adalah anggaran biaya bangunan itu. Anggaran biaya sementara biasa juga sebagai rencana anggaran biaya taksiran kasar. Hanya orang yang telah banyak pengalamannya dalam hal ini yang akan dapat membuat harga taksiran secara kasar dari pekerjaan bangunan itu. Orang yang berpengalaman itu akan menaksir harga atau biaya bangunan yang akan dibuat dan apabila dihitung anggaran biaya yang teliti, maka hanya terdapat sedikit selisihnya dengan biaya yang telah ditaksir orang berpengalaman. Anggaran Anggaran Biaya Teliti

INDRA MUTIARA / D 111 99 147

PERATURAN DAN SYARAT-SYARAT BAB I : PENJELASAN DARI PEKERJAAN Pasal 1 : Pekerjaan Umum A. Pekerjaan yang dilaksanakan meliputi : Pekerjaan persiapan berupa penyediaan papan proyek, direksi keet, dokumentasi awal lokasi proyek, selanjutnya. Pembersihan lapangan / area dari semak belukar dan benda-benda lainnya. Menggali dan menimbun tanah asli. Mengerjakan Abutmen dengan pasangan batu kali. Mengerjakan balok diafragma dan balok gelagar. Membuat Lantai (lantai roda dan lantai jembatan). Membuat Railing dari kayu. Membuat talud. Tembok Pengaman dari pasangan batu kali. Pembersihan area pasca proyek. B. Pekerjaan dilaksanakan menurut : Aturan-aturan dan syarat-syarat dan uraian tersebut dalam peraturan lain. Gambar-gambar lampiran dan gambar penjelasan yang telah disahkan pengurus Aturan-aturan, uraian-uraian, penjelasan-penjelasan tersebut yang mungkin akan ditetapkan kemudian. Segala petunjuk dari pengurus Pekerjaan harus diserahkan oleh pemborong dalam keadaan selesai sehingga pengurus merasa puas.

Pasal 2 : Timbang Daya Peil Timbang daya (peil) akan ditetapkan pengurus. Adapun galian tanah yang menyimpang dari gambar rencana akan diperhitungkan sebagai additional work.

INDRA MUTIARA / D 111 99 147

BAB II : PERATURAN TEKNIK Pasal 3 : Pekerjaan Tanah Pekerjaan tanah terdiri dari : Penggalian dan penimbunan tanah asli. Penggalian tanah untuk pembuatan abutmen. Galian dan timbunan tanah asli volumenya diusahakan saling menutupi. Tanah dimana proyek dibangun harus dibersihkan dari tumbuhan-tumbuhan dan akar-akarnya. Kotoran dan lainnya sehingga mencapai tanah asli. Tanah digali untuk pembuatan jembatan. Pasal 4 : Pekerjaan Pasangan Batu Kali Pekerjaan pasangan batu kali ini dikerjakan pada pembuatan abutmen 1 : 4. dengan tinggi abutmen 250 cm, lebar abutmen 200 cm. Dan pada pekerjaan Talud dimana tebal plesteran yang digunakan 30 cm. Pasal 5 : Pekerjaan Balok Gelagar dan Balok Diafragma Pekerjaan ini menggunakan bahan beton bertulang 1 : 2 : 4. dimana dimensi Balok Gelagar 35/50, dan dimensi Balok Diafragma 20/30. Dalam pengerjaannya menggunakan tulangan, dengan tulangan utama 16 dan tulangan sengkang 10 200. Tulangan atas Balok Gelagar sebanyak 4 buah, tulangan bawah Balok Gelagar sebanyak 5 buah. Kemudian tulangan atas Balok Diafragma sebanyak 4 buah dan tulangan bawah Balok Diafragma sebanyak 4 buah. Pasal 6 : Pekerjaan Balok Lantai dan lantai Lantai Untuk Balok Lantai menggunakan bahan kelas I, dimensi 10/15, sementara untuk pekerjaan Lantai lantai bahan kelas I dimensi 4/20. Pasal 7 : Pekerjaan Railing dan Tembok Pengaman Untuk pekerjaan Railing menggunakan kayu dengan dimensi 4/6, tiang Railing menggunakan kayu dengan dimensi 5/7, dan untuk Tembok Pengaman menggunakan pasangan batu kali.

INDRA MUTIARA / D 111 99 147

Pasal 8 : Pembersihan Lapangan Setelah Pekerjaan Pembersihan dilakukan setelah semua pekerjaan selesai dengan membuang semua sisa-sisa tanah dan kotoran yang tersisa.

BAGIAN III : PERATURAN UMUM Pasal 9 : Pengurus Yang bertindak sebagai pengurus adalah kepala Dinas Pekerjaan Umum Bidang Pengairan atau seorang Pegawai yang ditunjuk. Pasal 10 : Kewajiban Umum Pemborong Selama waktu penyelenggaraan pemborong harus menempatkan seseorang atau lebih sebagai pelaksana tetap yang cakap dan beerwibawa dan bertanggung jawab atas jalannya pekerjaan. Pengurus berhak menolak penetapan seorang uitvoeder tesebut berdasarkan pendidikan dan kecakapan dalam hal ini pemborong harus menempatkan orang lain berdasarkan persetujuan pengurus. Pemborong harus menyediakan buku harian, dimana direksi/pengurus dapat menulis perintah dan lainnya yang sesuai dengan pasal 13 dari A.V. 1941 Pemborong harus melaporkan kepada pengurus tentang banyaknya tukang atau pegawai lainnya yang bekerja. Pemborong harus mengisi buku hadir tiap kali ia datang di pekerjaan. Pemborong harus menyediakan peti obat-obatan ontuk pertolongan pertama, jika ada kecelakaan yang diakibatkan oleh kelalaian pemborong dalam mengambil persiapan-persiapan yang perlu. Pemborong yang mendapat pekerjaan diwajibkan menyediakan kebutuhan direksi/pengurus. Pasal 11 : Bahan-Bahan Yang Digunakan Di Pekerjaan Selain dari hal-hal bahwa harus memenuhi syarat-syarat tertentu yang disebutkan dalam peraturan ini, yang harus mendapat persetujuan dari pengurus. Bahan yang ditolak harus dikeluarkan dari tempat pekerjaan dengan batas waktu 7 x 24 jam sesudah diperintahkan.

INDRA MUTIARA / D 111 99 147

Jika ternyata pemborong mengabaikan uraian diatas, maka pengurus akan mengeluarkan bahan tersebut dari tempat pekerjaan atas biaya pemborong Pasal 12 : Pekerjaan Gambar dan Peraturan Jika terdapat perbedaan gambar dan bunyi peraturan dan syarat-syarat maka peraturan dan syarat-syarat yang mengikat. Pasal 13 : Kemajuan Pekerjaan Pemborong harus membuat rencana pekerjaan (work plan) rangkap sesuai dengan pasal 10 dari A.V. 1941. Jika dalam penyelenggaraannya, maka pengurus berhak mengambil tindakantindakan sesuai dengan bunyi pasal 45, 62, dan 63 dari A.V. 1941. Pasal 14 : Waktu Penyelenggaraan Pekerjaan Pekerjaan harus dimulai paling lambat 10 hari sesudah penunjukan pemenang tender. Pemborong harus menyelesaikan pekerjaan dalam waktu 41 hari almanak, terkecuali ada hal diluar tanggung jawab pemborong yang menyebabkan kelambatan. Pasal 15. Jangka Waktu Pemeliharaan Jangka waktu pemeliharaan dimulai pada hari penyerahan pekerjaan pertama dan berakhir dua bulan sesudahnya, dalam waktu pemborong masih bertanggung jawab sepenuhnya atas segala kerusakan/kekurangan akibat kurang baiknya bahan yang digunakan. Sesudah habis jangka waktu pemeliharaan ini, pemborong harus menyerahkan pekerjaan ini untuk kedua kalinya sebagai tanda selesainya kontrak.

BAGIAN IV : PERATURAN ADMINISTRATIF Pasal 16 : Macam Lelangan Lelangan akan diadakan secara tertulis (undangan tertulis) pada undangan menerima gambar dan peraturan dan syarat-syarat dengan percuma dengan catatan bahwa pada

INDRA MUTIARA / D 111 99 147

waktu lelangan gambar dan peraturan dan syarat-syarat ini harus diserahkan lagi kepada direksi.

Pasal 17 : Penunjukan Penunjukan diadakan pada hari jam , di tempat .. Atas permintaan para undangan dapat ditunjukkan tempat pada hari penunjukan. Pembicaraan dalam penunjukan dan dimasukkan oleh direksi dalam daftar penunjukkan yang telah disetujui oleh salah seorang undangan yang mewakili pemborong. Biaya jaminan sebesar Rp ., untuk keperluan hidangan waktu penunjukkan, harus dipikul oleh pemborong yang akan menyelenggarakan pekerjaan kelak. Apabila ternyata lelangan ini gagal, maka biaya tersebut dipikul bersama oleh para pemborong yang turut ke dalam pelelangan ini. Pasal 18 : Lelangan Pemborongan Surat penawaran dari para undangan harus dimasukkan pada hari .tanggal ., jam . Di tempat .. Surat pengawasan beserta harga daftar satuan rangkap 2 (dua) menurut contoh yang diberikan, aslinya harus dibuat diatas kertas bermaterai Rp 6000,-. Masing-masing disertai oleh daftar harga satuan yang telah disertai harga-harganya sekalian dan dimasukkan dalam sampul yang telah disediakan oleh pengurus. Sampul yang berisi surat-surat dilaksanakan dan tidak boleh diberi monogram dalam bentuk apapun. Pembukaan surat penawaran dilakukan oleh pengurus dan disaksikan oleh para undangan pada waktu dan tempat tersebut dalam sub a pada pasal ini Surat-surat penawaran harus ditanda tangani sendiri oleh pemborong atau direktur pemborong. Jika dalam hal ini direktur berhalangan untuk menandatangani, maka boleh diwakili oleh yang lain dengan memberi surat kuasa diatas kertas bermaterai Rp 6000,- kepadanya dengan syarat bahwa dengan menerima kuasa harus melampirkan surat kuasa itu.

INDRA MUTIARA / D 111 99 147

Barang siapa yang telah memasukkan surat penawaran yang sah, maka ia tidak boleh menolak jika pemborong dalam hal ini diserahkan kepadanya, dengan dasar harga borongan yang tercantum dalam surat penawarannya Pemborong/ penawar harus memiliki dengan pasti tempat kediaman pada panitera pengadilan negeri. Pasal 19 : Pemberian Pekerjaan Pengurus berhak memberikan atau tidak memberikan pekerjaan dengan tidak mengemukakan alasan dan / atau memberikannya kepada penawar yang tawarannya dianggap pantas. Pemberitaan tentang pemberian pekerjaan dilaksanakan secara tertulis oleh direksi dalam waktu 2 (dua) minggu sesudah lelang. Sesudah dilakukan pemberian pekerjaan oleh pengurus, maka akan ditandatangani surat perjanjian pemborongan. Pasal 20 : Resiko Pemborongan Semua naik turunnya harga bahan-bahan dan upah kerja yang bukan diakibatkan peraturan pemerintah menjadi tanggung jawab pemborong. Semua biaya administrasi dan materi sebelum dan sesudahnya pelaksanaan perjanjian pemborong menjadi tanggng jawab pemborong. Pasal 21 : Denda Jika pemborong tidak memenuhi syarat-syarat menurut pasal 12 dari peraturan ini, pemborong dikenakan denda sebesar Rp 1000,- (seribu rupiah) tiap harinya kelambatan dengan max 5 % dari jumlah harga borongan. Selanjutnya harus diperhatikan dan diindahkan II dari peraturan ini. Pasal 22 : Peselisihan Perselisihan yang melulu bersifat teknis dibereskan oleh komisi arbitrage yang tercantum dalam pasal 65 A.V. 1941 ayat 3, sedangkan perselisihan lainnya diajukan kepada hakim yang berhak. Jika kejadian dimana pemborong tidak memenuhi kewajibannya dan telah diberikan peringatan sebanyak 3x (dengan antara 7 hari), maka sesudah tujuh hari terhitung dari surat pernyataan yang ketiga, pihak pengurus mempunyai hak penuh untuk

INDRA MUTIARA / D 111 99 147

memutuskan begitu saja perjanjian pekerjaan (kontrak), dengan tidak melalui proses pengadilan negeri, sedangkan kemungkinan kerugian akibat kelalaian, kesalahan pemborong, menjadi tanggung jawab pemborong dan pengurus berhak menuntut kerugian-kerugian sebagai akibat kelalaian yang dimaksud.

Pasal 23 : Aturan Pembayaran Pembayaran akan dibayar dalam 4 (empat) angsuran Angsuran I : 30 % dari harga borongan setelah pekerjaan galian langsung dikerjakan. Angsuran II : 30 % dari harga borongan dibayar setelah pekerjaan pembuatan talud dikerjakan. Angsuran III : 30 % dari harga borongan, dibayar setelah pekerjaan pembuatan talud sesudah selesai. Angsuran IV : 10 % dari harga borongan setelah semua pekerjaan selesai. Tanda terima pembayaran harus ditandatangani oleh pemborong sendiri. Dalam berhalangan, maka tiap kali berhalangan, ia harus memberi kuasa kepada orang lain diatas kertas bermaterai, surat kuasa ini harus dilampirkan pada surat tanda penerimaan. Pasal 24 : Syarat-Syarat Penawaran Harga penawaran yang kurang dari 50 % dari harga ditetapkan oleh pengurus tidak akan dibicarakan / dipertimbangkan. Makassar, 1 Juni 2003 Mengetahui/Menyetujui Kepala Dinas Pekejaan Umum Bina Marga Kotamadya Makassar

( ) NIP ;

INDRA MUTIARA / D 111 99 147

Daftar Bahan, Alat, dan Upah

No 1 1.1 1.2 1.3 1.4 2 2.1 3 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6

Uraian Bahan : Batu kaliUtuh Batu pecah 7-10 cm Batu pecah 5-7 cm Pasir Timbunan Pasangan Kerikil Semen Portlad cement (Tonasa 50 kg) Alat : Excavator kap. 80-100 HP kapasitas 0,9 m3 Upah : Pekerja Tukang batu Kepala tukang batu Mandor Operator alat berat Pembantu operator alat

Satuan m3 m3 m3 m3 m3 m3 zak jam

Harga satuan (Rp) 45.000,65.000,70.000,30.000,40.000,60.000,20.500,125.000,-

org/hari org/hari org/hari org/hari org/hari org/hari

10.000,17.500,20.000,20.000,20.000,17.500,-

INDRA MUTIARA / D 111 99 147