Anda di halaman 1dari 17

TAKEHOME EKSPLORASI BATUBARA Hiskia Ulinuha Annisa (H1F010013)

Kondisi Geologi Regional Daerah Salem (Fisiografi Regional, Stratigrafi Regional dan Struktur Regional )
a. Fisiografi Regional

Gambar 1 Peta fisiografi Jawa Tengah (Van Bemmelen, 1949).

Secara fisiografis Van Bemmelen (1949) membagi Jawa Tengah dengan enam satuan (Gambar. 2.1), yaitu Satuan Gunungapi Kuarter, Dataran Aluvial Pantai Utara Jawa, Antiklinorium Bogor-Serayu Utara-Kendeng, Depresi Jawa Tengah, Pegunungan Serayu Selatan, Pegunungan Selatan. Berdasarkan pembagian fisiografi diatas, daerah penelitian termasuk ke dalam Zona Antiklinorium Bogor-Serayu Utara-Kendeng (Menurut Van Bemmelen, 1949) yang mana daerah ini didominasi oleh bentukan morfologi perbukitan.

b. Stratigrafi Regional Menurut Van Bemmelen (1949), serta Kastowo dan Suwarno (1996) menyatakan bahwa batuan tertua yang terdapat di daerah ini adalah batuan yang berumur Eosen (Formasi Jampang) yang tersusun atas konlomerat polimik serta batupasir. Terdapat juga serpih-batulempung yang kaya akan globigerina, napal, batupasir tufaan dan batugamping foraminifera. Diatas satuan ini diendapkan secara tidak selaras Formasi Pemali yang berumur Miosen Awal. Formasi Pemali merupakan formasi tertua yang tersingkap di bagian barat North Serayu Range. Diatas Formasi Pemali secara berurutan diendapkan Formasi

TAKEHOME EKSPLORASI BATUBARA Hiskia Ulinuha Annisa (H1F010013)

Rambatan, Formasi Lawak, Formasi Halang dan Formasi Kumbang. Hubungan formasiformasi tersebut selaras, terkecuali Formasi Halang dan Formasi Kumbang bersifat menjemari. Formasi-formasi tersebut diendapkan melalui mekanisme turbiditik pada kipas bawah laut (submarine fan). Diatas Formasi Kumbang diendapkan secara selaras Formasi Tapak dan Formasi Kalibiuk, yang diperkirakan diendapkan pada laut dangkal pada kala Pliosen Awal Tengah. Formasi Kaliglagah diendapkan secara selaras diatas Formasi Kalibiuk pada lingkungan transisi sampai darat pada kala Pliosen Akhir. Diatas Formasi Kaliglagah diendapkan Formasi Mengger dan Formasi Gintung pada lingkungan darat, Formasi Mengger merupakan produk dari Old Slamet Volcanic yang berumur Pliosen Awal, sedangkan Formasi Gintung berumur Pliosen Tengah. Selaras diatas Formasi Gintung diendapkan Formasi Linggopodo pada lingkungan darat pada kala Pliosen Akhir. Formasi ini merupakan produk volkanik Gunung Slamet Muda dengan Endapan Aluvial pada lingkungan darat saat kala Holosen. Formasi Jampang Formasi Jampang terdiri dari breksi dengan fragmen-fragmen andesit hornblende dan hipersten didalam masa dasar pasir tufaan. Tidak terpilah, di beberapa tempat terdapat bongkah-bongkah lava berserakan. Di beberapa tempat terdapat pola sisipan batupasir tufaan berbutir kasar. Dasarnya tidak tersingkap. Formasi Pemali Lokasi Tipe Formasi Pemali terletak di Sungai Cibabakan, dekat Kali Pemali di daerah Bumiayu. Van Bemmelen (1949) mengkorelasikan formasi ini dengan Formasi Merawu di Daerah Karangkobar. Formasi Pemali tersusun atas napal-globigerina berwarna biru keabu-abuan dan hijau keabu-abuan. Kadang terdapat sisipan batugamping pasiran berwarna abu-abu kebiruan, batupasir tufaan dan lensa-lensa batupasir kasar. Perlapisan umumnya kurang baik. Kandungan foraminifera menunjukkan umur Miosen Tengah (menurut Marshak,1957), sedangkan menurut Kastowo dan Sunaryo (1996) menyebutnya umur dari formasi ini adalah Miosen Awal. Tebal formasi ini mencapai 900 meter. Formasi Rambatan

TAKEHOME EKSPLORASI BATUBARA Hiskia Ulinuha Annisa (H1F010013)

Nama Formasi Rambatan ini pertama kali ditemukan oleh Sumarso 1974, op.cit. Kartanegara et al., 1978, Van Bemmelen menyebutnya Rambatan Belt, sedangkan Ter Haar 1934, op.cit., Marks, 1957 menamakan satuan ini sebagai Rambatan Serie. Lokasi tipe satuan ini berada di Kali Rambatan dekat Cikeusal. Formasi Rambatan bagian bawah tersusun atas batupasir gampingan dan konglomerat berselang-seling dengan lapisan tipis napal dan serpih. Sedangkan bagian atas tersusun atas batupasir gampingan berwarna abu-abu muda sampai biru keabuabuan. (menurut Kastowo dan Suwarna, 1996). Mengenai umur dari formasi ini masih terdapat perbedaan antara para peneliti terdahulu. Kandungan Foraminifera besar menunjukan umur Miosen Tengah, sedangkan foraminifera plankton menunjukkan umur Miosen Akhir-Pliosen Awal. Tebal dari Formasi Rambatan ini berbeda disetiap tempat dari 400-900 m. Formasi Lawak Lokasi tipe dari formasi ini berada di Kali Lawak, dekat Bumiayu. Formasi Lawak tersusun atas napal kehijauan dengan beberapa sisipan batugamping foraminifera dan batupasir gampingan. Bagian atas dari formasi ini tersusun atas napal globigerina dengan beberapa sisipan batupasir. Kandungan foraminifera menunjukkan bahwa umur dari formasi ini Miosen Tengah. Tebal diperkirakan mencapai 150 m (menurut Marks, 1957). Formasi Halang Nama Formasi pertama kali ditemukan oleh Sumarso (1974, op.cit. Kartanegara et al., 1978, sedangkan Ter Haar 1934, op.cit., Marks, 1957 menyebutnya Halang Serie. Lokasi tipe dari formasi ini terletak di Sungai Cikabuyutan yang melewati Geger Halang Malahayu. Formasi Halang merupakan jenis endapan sedimen turbiditik pada zona Bathyal atas (menurut Kastowo dan Suwarna, 1996). Struktur sedimen yang terlihat jelas, antara lain berupa perlapisan bersusun, convolute lamination, flute cat, dan sebagainya. Litologinya tersusun atas batupasir tufaan, konglomerat, napal dan batulempung yang berselang-seling dan beerlapis baik. Batupasir pada umumnya bersifat wacke dengan fragmen batuan andesitic. Dibagian bawah dari satuan terdapat breksi dengan susunan fragmen andesit. Di beberapa tempat dibagian atas formasi terdapat batugamping terumbu (menurut Marks, 1957).

TAKEHOME EKSPLORASI BATUBARA Hiskia Ulinuha Annisa (H1F010013)

Di Bantarkawung, kandungan foraminifera menujukan umur Miosen Atas, sedangkan di dekat Majenang, foraminifera menunjukkan umur Miosen Tengah (menurut Maks,1957). Ketebalan formasi ini beragam dari 390-2600 m. Formasi Kumbang Lokasi tipe dari formasi ini terletak pada hulu Sungai Babakan di dekat Gunung Kumbang. Formasi ini merupakan hasil endapan yang khas dari produk gunungapi Pliosen (menurut Marks, 1957). Tetapi menurut Van Bemmelen (1949) menyebuttnya Miosen Akhir, sedangkan menurut Kastowo dan Suwarna (1996) menyatakan bahwa umur dari formasi ini Miosen Tengah-Pliosen Awal. Formasi Kumbang tersusun atas breksi gunungapi yang bersifat andesitis, massif dan berlapis buruk dengan fragmen yang umumnya menyudut. Terdapat juga aliran lava dan retas andesit, tufa, tufa pasiran dan batupasir tufaan yang berlapis, konglomerat dan sisipan tipis magnetit. Sebagian breksi mengalami propilitisasi. Ketebalan maksimum dari formasi ini adalah 750 -2000 m dan menipis kearah timur. Menurut Darman (1991) bahwa formasi ini di endapkan di bagian atas dari kipas bawah laut (upper fan) dengan mekanisme turbiditik. Formasi Tapak Lokasi tipe dari formasi ini terletak di Gunung Tapak, 12 km NNE dari Bantarkawung. Formasi Tapak tersusun oleh batulempung gampingan secara dominan, kadang-kadang napal tidak berlapis, atau batugamping dengan sisipan batupasir. Sering dijumpai pecahan-pecahan cangkang moluska yang merupakan ciri khas dari formasi ini (menurut Kartanegara, 1987). Satuan ini juga tersusun oleh batupasir kasar kehijauan pada bagian bawah yang berangsur-angsur berubah menjadi batupasir lebih menghalus kehijauan kea rah atas dengan sisipan berupa napal berwarna kelabu sampai kekuningan (menurut Kastowo dan Suwarna, 1996). Setempat dijumpai batugamping terumbu (menurut Marks, 1957). Formasi Kalibiuk Formasi Kalibiuk tersusun atas batulempung dan napal kebiruan dengan kandungan fosil. Pada bagian tengah ditemukan sisipan lensa-lensa batupasir kehijauan dengan kandungan moluska yang melimpah. Kelompok moluska tersebut

mengindikasikan tidal zone facies yang berumur Pliosen. Menurut Marks (1957)

TAKEHOME EKSPLORASI BATUBARA Hiskia Ulinuha Annisa (H1F010013)

menjelaskan bahwa umur dari formasi ini adalah bagian bawah Pliosen Atas, atau bagian atas Pliosen Bawah. Formasi ini memiliki ketebalan 2500m (Kastowo dan Suwarna, 1996). Formasi Kalibiuk dapat dikoreasikan dengan Formasi Cijulang dibagian barat atau dengan Bodas Series di bagian timur (menurut Marks, 1957). Formasi Kaliglagah Formasi Kaliglagah tersusun atas batupasir kasar dengan sisipan konglomerat, batulempung dan napal. Setempat ditemukan lapisan lignit dengan ketebalan 0,6 1,0 m. batupasir pada umumnya menunjukan struktur sedimen berupa silang siur dengan mengandung beberapa lapisan tipis batubara muda (lignit). Pada formasi ini ditemukan fosil mamalia dan moluska air tawar yang mengindikasikan bahwa umur dari formasi ini adalah Pliosen Akhir. Pada bagian bawah tersusun atas batulempung hitam, napal kehijauan dan batupasir bersusun andesit dan konglomerat. Pada umumnya batupasir menunjukkan struktur sedimen berupa silang siur dengan beberapa lapisan batubara muda (lignit). Tebal diperkirakan mencapai 350 meter (menurut Kastowo dan Suwarna, 1996). Formasi Mengger Lokasi tipe satuan ini berada di Gunung Mengger, 10 km arah NNW dari Bumiayu, singkapan terbaik terdapat di Desa Cisaat. Formasi Mengger tersusun atas tufa abu-abu muda dan batupasir tufaan dengan sisipan konglomerat dan lapisan tipis magnetit. Pada formasi ini juga ditemukan fosil mamalia yang termasuk kategori Upper Vertebrate Zone yang menunjukan umur Pliestosen Awal. Ketebalan dari formasi ini diperkirakan mencapai 150m (menurut Marks, 1957). Formasi Gintung Formasi Gintung tersusun atas perselingan konglomerat bersusun andesit dan batupasir kelabu kehijauan, batulempung pasiran dan batulempung. Formasi ini juga dicirikan dengan hadirnya konkresi batupasir karbonatan dan napal. Pada bagian atas dijumpai perselingan tufa. Sepanjang Kaligintung, tebal dari formasi ini mencapai 800 meter. Formasi ini berada di atas Upper Vertebrate Zone (Formasi Mengger), sehingga diperkirakan bahwa umur dari satuan ini Plistosen Awal-Akhir (menurut Marks, 1957). Formasi Linggopodo

TAKEHOME EKSPLORASI BATUBARA Hiskia Ulinuha Annisa (H1F010013)

Formasi Linggopodo ini merupakan produk gunungapi, tersusun atas breksi tufa dan lahar yang berasal dari Gunung Slamet Tua dan Gunung Copet (menurut Van Bemmelen, 1949). Formasi ini menindih secara tidak selaras formasi yang berada dibawahnya, serta ditutupi oleh produk Gunung Slamet Muda. Komposisi dari formasi ini secara umum dapat disetarakan dengan Formasi Kumbang. Oleh karena itu, diperkirakan keduanya berasal dari produk gunungapi yang sama atau setipe dengan waktu yang berbeda. Lokasi tipe dari satuan ini berada di Gunung Linggopodo.

c.

Struktur Geologi Regional Proses tektonik yang terjadi di Pulau Jawa sangat dipengaruhi oleh subduksi

lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Mikro Sunda. Berdasarkan berbagai macam data (data foto udara, penelitian lapangan, citra satelit, data magnetik, data gaya berat, data seismik, dan data pemboran migas) dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya di pulau Jawa ada 3 (tiga) arah kelurusan struktur dominan yaitu arah Meratus, arah Sunda, dan arah Jawa. Arah yang pertama adalah arah timurlaut-baratdaya (NE-SW) yang disebut dengan arah Meratus. Pola struktur dengan arah Meratus ini merupakan pola dominan yang berkembang di Pulau Jawa (menurut Pulunggono dan Martodjojo, 1994) terbentuk pada 80 sampai 53 juta tahun yang lalu (Kapur Akhir-Eosen Awal). Arah yang kedua adalah pola struktur yang dijabarkan oleh sesar-sesar yang berarah utara-selatan. Arah ini diwakili oleh sesar-sesar yang membatasi Cekungan Asri, Cekungan Sunda, dan Cekungan Arjuna. Pola ini disebut dengan Pola Sunda. Pola Sunda berarah utara-selatan (N-S) terbentuk 53 sampai 32 juta tahun yang lalu (Eosen Awal-Oligosen Awal). Arah yang ketiga adalah arah barat-timur yang umumnya dominan berada di dataran Pulau Jawa dan dinamakan dengan Pola Jawa. Pola Jawa berarah barat-timur (E-W) terbentuk sejak 32 juta tahun yang lalu dan diwakili oleh sesar-sesar naik seperti Baribis dan sesar-sesar di dalam Zona Bogor (menurut Van Bemmelen, 1949 op.cit. Pulunggono dan Martodjojo, 1994). Sujanto (1975) membuat peta pola struktur Jawa Tengah berdasarkan interpretasi Foto ERTS-1 menyatakan bahwa pola umum struktur sesar di Jawa Tengah

TAKEHOME EKSPLORASI BATUBARA Hiskia Ulinuha Annisa (H1F010013)

adalah barat laut-tenggara dan timur laut-barat daya dan beberapa pola struktur sesar mempunyai arah barat-timur.

Gambar 2 Pola struktur geologi Pulau Jawa (Pulunggono dan Martodjojo, 1994.

Untuk struktur geologi regional yang dijumpai pada daerah lembar majenang sendiri berupa sesar, lipatan, kelurusan dan kekar, yang melibatkan batuan yang berumur Oligo-Miosen sampai Holosen. Sesar yang dijumpai umumnya berarah jurus Baratlaut Tenggara sampai Timurlaut Baratdaya. Jenis sesar berupa sesar naik, sesar normal, dan sesar geser menganan serta mengiri, yang melibatkan batuan yang berumur Oligo Miosen sampai Plistosen. Sesar naik secara umum membentuk busur yang memperlihatkan variasi kemiringan bidang sesar kearah selatan sampai barat, sedangkan sesar normal terdapat secara setempat. Pola lipatan yang terdapat pada lembar ini berarah Baratlaut Tenggara. Kelurusan yang sebagian diduga sesar mempunyai pola penyebaran seperti pola sesar, dan umumnya berarah jurus Barat Baratlaut Timur Tenggara, dengan beberapa Timurlaut Baratdaya, yang di beberapa tempat saling memotong. Kekar umumnya dijumpai dan berkembang baik pada batuan berumur Tersier dan Plistosen. Tektonik pada daerah ini paling tidak ada dua perioda, yang menghasilkan struktur berbeda. Yang pertama, terjadi pada Kala Miosen Tengah dan menghasilkan pengangkatan yang diikuti oleh penerobosan andesit dan basalt. Formasi Jampang, Pemali, Rambatan, Lawak, dan Batugamping Kalipucang terlipat dan tersesarkan, terutama membentuk sesar normal yang berarah Barat laut-Tenggara dan TimurlautBaratdaya. Periode kedua, yang berlangsung pada Kala Plio-Plistosen menghasilkan sesar geser-jurus dan sesar naik berarah dari Baratlaut-Tenggara sampai TimurlautBaratdaya. Menurut Simandjuntak (1979) menjelaskan bahwa pada periode tektonika

TAKEHOME EKSPLORASI BATUBARA Hiskia Ulinuha Annisa (H1F010013)

Plio Plistosen sesar yang terbentuk umumnya berupa sesar bongkah. Data geofisika menunjukkan atau memperlihatkan bahwa kegiatan tektonika yang terakhir ini menggiatkan kembali sebagian sesar normal (menurut Wiriosudarmo, 1979).

TAKEHOME EKSPLORASI BATUBARA Hiskia Ulinuha Annisa (H1F010013)

Kondisi Geologi Lokal Daerah Salem yang mencangkup Geomorfologi, Stratigrafi dan Struktur Daerah Salem.
a. Geomorfologi daerah Salem Secara fisiografis daerah Salem terletak pada zona fisiografi Antiklinuorium Bogor-Serayu Utara-kendeng (Van Bemmelen, 1949) morfologi pada zona ini pada umumnya berupa suatu perbukitan. Berdasarkan analisis peta topografi dan foto udara daerah penelitian menunjukkan bahwa bentang alam daerah penelitian secara umum memiliki perbedaan tinggi dan relief yang tercermin dalam kerapatan dan bentuk penyebaran kontur pada peta topografi dan pembuktiannya ketika observasi lapangan, daerah penelitian secara umum merupakan suatu perbukitan lipatan dengan pola utama sinklin dimana terdapat beberapa perbukitan yang memanjang dengan arah relative barat-timur dengan beberapa lembah diantaranya. Ketinggian perbukitan tersebut berkisar antara 370 mdpl-720mdpl. Titik tertinggi daerah Salem terletak di Barat Laut yaitu daerah Gunung Ciamnglid, sedangkan titik terendah berada pada bagian Timur daerah Salem yaitu utara desa Ganggawang dengan ketinggian 282 mdpl. Secara umum daerah Salem berupa cekungan seperti magkuk dengan beberapa lipatan di tengahnya. Morfologi ini tersusun oleh batuan beku dan batuan sedimen dengan arah jurus relative BaratTimur dengan arah kemiringan yang bervariasi ke Utara dan ke Selatan karana pengaruh dari aktivitas structural. Daerah Salem tersusun atas punggungan dan lembah dengan perbedaan elevasi diantaranya. Hal tersebut menginterpertasikan keterdapatan gejala dari aktivitas struktur geologi dan perbedaan tingkat ketahanan terhadapa erosi pada material penyusunnya. Sungai-sungai pada daerah Salem secara umum berpola pararel yang terletak di bagian Utara dan sungai dengan pola sub dendritik yang terletak di bagian tengah dan selatan daerah Salem. Menurut genetiknya, sungai konsekuen adalah sungai yang alirannya searah dengan kemiringan batuan. Sungai dengan tipe genetik ini tersebar di anak sungai Cibinong, sungai Cigunung dan Sungai Citatah. Sedangkan sungai subsekuen adalah sungai yang arah alirannya sejajar dengan jurus batuan,

TAKEHOME EKSPLORASI BATUBARA Hiskia Ulinuha Annisa (H1F010013)

pada daerah Salem tersebar pada sungai Citatah, sungai Cibinong, sungai Cigarugak dan sungai Cigunung. Untuk sungai obsekuen adalah sungai yang arah alirannya berlawan dengan kemiringan lapisan batuan yang tersebar pada sungai Cigunung dan anak sungai Cigunung. Secara geomorfologi indikasi adanya lipatan-lipatan di daerah penelitian dapat diidentifikasikan dengan adanya sungai-sungai dengan pola pararel, hal tersebut dibuktikan dengan pola struktur umum daerah Salem yang bersisitem lipatan besar dengan lipatan-lipatan yang berdimensi kecil didalamnya. Secara umum sebagian bagian tengah dan selatan daerah Salem digambarkan dengan sungai berpola sub dendritik namun pada bagian-bagian tertentu terdapat sungai berkelok yang diinterpretasikan merupakan jejak-jejak dari kekar-kekar yang ada di daerah Salem. Sung ai Cigunung merupakan sungai utama pada daerah Salem, dimana seluruh sungai-sungai kecil pada daerah Salem bermuara sungai ini, muara besar sungai ini terletak di bagian timur daerah Salem. Satuan geomorfologi yang terdapat di daerah Salem di bagi menjadi 3 satuan yaitu : Satuan Perbukitan Lipatan Pabuaran Satuan ini dicirikan dengan adanya perbukitan yang memanjang berarah Barat Timur dengan ketinggian 418 517 mdpl dan dalam klasifikasi kelerengan menurut Van Zuidam (1985) masuk kedalam kelas lereng bergelombang berbukit sampai berbukit pegunungan. Satuan ini ditandai dengan interpretasi kemiringan lapisan yang relatif berlawanan, sehingga membuat bentukan terlipat. Pola kontur topografi pada satuan ini menunjukkan pola kontur rapat - kontur landai. Daerah dengan pola kontur topografi rapat ditandai dengan bentukan morfologi dataran tinggi atau berbukit bukit, seperti pada daerah Pabuaran dan Tembongraja. Lembah sungai pada satuan ini berbentuk U. Lembah sungai yang berbentuk U menunjukan tahapan geomorfik dewasa, seperti Sungai Citatah. Adapun litologi penyusun satuan ini berupa batupasir dan breksi. Keberadaan litologi batupasir dan breksi menunjukkan sifat yang lebih resisten terhadap erosi, sehingga tampak seperti morfologi berbukit-bukit. Satuan Pegunungan Sinklin Wanoja

10

TAKEHOME EKSPLORASI BATUBARA Hiskia Ulinuha Annisa (H1F010013)

Satuan ini dicirikan dengan pegunungan yang memanjang dengan arah Barat Timur pada bagian Utara dan berarah Utara Selatan pada bagian Barat penelitian dengan ketinggian 421 735 mdpl dan dalam klasifikasi kelerengan menurut Van Zuidam (1985) masuk ke dalam kelas lereng berombak bergelombang sampai berbukit pegunungan. Satuan ini ditandai dengan interpretasi kemiringan lapisan yang relatif searah dengan kelerengan bukit. Pola kontur topografi pada satuan ini menunjukan pola kontur rapat. Daerah dengan pola kontur topografi rapat ditandai dengan bentukan morfologi dataran tinggi atau berbukit bukit, seperti pada daerah Indrajaya, Gunung Tajem, Gunung Jaya, Banjaran, Tembongraja, dan Wanoja. Lembah sungai pada satuan ini berbentuk V dan U. Lembah sungai yang berbentuk V menunjukan tahapan geomorfik muda, seperti Sungai Cilingga, Sungai Cilalaki, Sungai Cipodol, Sungai Cilayu, dan Sungai Ciwindu. Lembah sungai yang berbentuk U menunjukkan tahapan geomorfik dewasa, seperti Sungai Citimbang, Sungai Cigede dan Sungai Cigunung. Litologi penyusun satuan ini berupa breksi, batupasir, dan batulempung. Adanya litologi breksi menunjukan sifat yang lebih resisten terhadap erosi, sehingga tampak seperti morfologi berbukit bukit. Bentukan morfologi yang bersifat agak landai umumnya disusun oleh litologi batupasir dan batulempung yang bersifat kurang resisten terhadap erosi. Satuan Endapan Aluvial Ganggawang Satuan ini terdiri dari lumpur dan batuan yang berasal dari rombakan batuan yang telah ada sebelumnya (baik berasal dari batuan sedimen atau batuan beku yang berukuran lempung hingga bongkah). Satuan ini memiliki ketinggian antara 282 288 mdpl. Penamaan satuan ini sendiri didasarkan karena satuan ini terletak pada sebagian besar desa Ganggawang. Adanya satuan endapan aluvial ini dapat dijadikan suatu indikasi adanya erosi , gaya eksogen bumi secara umum.

b. Stratigrafi daerah Salem Satuan batuan daerah Salem dan sekitarnya terbagi menjadi tujuh satuan batuan yang diklasifikasikan berdasarkan ciri batuan yang terdeskripsi rinci dan berdasarkan data sayatan petrografi yang telah dilakukan sebelumnya. Satuan ini sendiri dari yang

11

TAKEHOME EKSPLORASI BATUBARA Hiskia Ulinuha Annisa (H1F010013)

paling tua ke yang muda, terbagi menjadi satuan breksi I, satuan batupasir I, satuan batulempung, satuan batupasir II, satuan Breksi II, satuan intrusi sill, dan satuan endapan aluvial. Secara umum, batuan pada lokasi penelitian ini termasuk ke dalam lima formasi geologi, yakni Formasi Kumbang, Formasi Tapak, Formasi Kalibiuk, Formasi Kaliglagah, dan Formasi Linggopodo.

c. Struktur Geologi daerah Salem Struktur yang dapat dijumpai di daerah ini sendiri meliputi struktur sesar dan struktur lipatan. Struktur sesar pada daerah ini terdiri atas sesar sesar geser yang berarah relatif Barat Laut Tenggara dan Timur Laut Barat Daya.

12

TAKEHOME EKSPLORASI BATUBARA Hiskia Ulinuha Annisa (H1F010013)

Kajian Batubara di daerah Salem yang mencangkup kuantitas, penyebaran dan kualitasnya.
Cekungan Bentarsari merupakan kawasan yang terdapat di Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes Propinsi Jawa Tengah yang terletak pada posisi 070500LS 072000LS dan 1084500BT 1090000BT. Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral melalui penelitiannya menyebutkan bahwa jumlah bitumen padat yang prospek batubara di Cekungan Bentarsari sebanyak 24,38 juta ton. Penelitian yang telah dilakukan tersebut belum memberikan informasi mengenai lapisan dan kedalaman kandungan bitumen padat sehingga penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk memberikan informasi yang lebih lengkap dan akurat. Bitumen padat merupakan batuan sedimen yang mengandung material organik yang pada umumnya berasosiasi dengan batubara. Hal ini berkaitan dengan proses pengendapan batuan tersebut. Berdasarkan hal itu, penyebaran bitumen padat di Indonesia dapat diasumsikan sama dengan penyebaran formasi batuan pembawa batubara. Perbedaan densitas lapisan-lapisan batuan bawah permukaan dapat berakibat terjadinya perbedaan densitas batuan di sekitarnya, sehingga menghasilkan variasi medan gravitasi yang terukur di permukaan bumi. Perbedaan medan gravitasi di antara satu titik terhadap titik lainnya di permukaan bumi disebut sebagai anomali medan gravitasi.

Gambar 3. Cekungan Bntarsari

13

TAKEHOME EKSPLORASI BATUBARA Hiskia Ulinuha Annisa (H1F010013)

Cekungan Bentarsari berada pada koordinat 7,06 7,17 LS dan 108,72 108,90 BT dengan arah memanjang relatif dari Barat Laut ke Tenggara, serta panjang dan lebar cekungan masing-masing 19 km dan 15km. Cekungan Bentarsari berupa lapisan-lapisan batuan dengan berbagai variasi ketebalan, kedalaman dan kontras densitas.. Secara keseluruhan kedalaman bagian atas lapisan batuan berkisar antara 300 2900 m. Cekungan Bentarsari diperoleh lima buah lapisan batuan. Lapisan batuan dengan nilai densitas 2,82g/cm3 diperkirakan sebagai breksi yang berperan sebagai batuan dasar (basement) yang diperkirakan berasal dari formasi Kumbang. Di atas breksi terdapat andesit dengan densitas 2,67g/cm3 yang juga diduga berasal dari formasi Kumbang. Nilaidensitas batuan andesit sama dengan densitas rata-rata batuan kerak bumi, sehingga nilai kontras densitasnya sama dengan nol. Di atas andesit diendapkan batuan sedimen berupa batupasir dengan nilai densitas 2,32g/cm3 dari formasi Tapak. Selanjutnya batulempung dari formasi Kalibiuk diendapkan di atas formasi Tapak dengan densitas 2,25g/cm3. Sedangkan batuan paling atas di kawasan Cekungan Bentarsari adalah batulempung pasiran dengan nilai densitas 2,17g/cm3. Berdasarkan informasi geologi batuan tersebut berasal dari formasi Kaliglagah sebagai batuan pembawa bitumen padat, yang diperkirakan mengandung batubara, sebagaimana pernah diungkapkan oleh Van Bemmelen.

Gambar 4. Batubara didaerah Salem

14

TAKEHOME EKSPLORASI BATUBARA Hiskia Ulinuha Annisa (H1F010013)

Berdasarkan catatan Van Bemmelen (1949) mengenai keberadaan batubara di daerah Brebes, Jawa Tengah, diketahui bahwa pada daerah tersebut diketemukan tiga seams batubara yang terletak pada cekungan Bantarsari. Ketebalan seams dari batubara ini sendiri bervariasi antara 1, 55 meter hingga 2 meter. Batubara ini diketemukan diantara batupasir dan mudstones. Batubara ini sendiri sudah termasuk ke dalam kelas lignit. Komposisi dari batubara yang ditemukan oleh Van Bemmelen ini terdiri atas H2O 31,8% - 40,7%; ash 14,3%; cal. value 2475 3015; tar 0,44% - 0,60%. Pelamparan dari seams ini melingkupi daerah seluas kira-kira 1.5km dengan kemiringan 14 45. Ketiga seam ini sendiri dianggap tidak ekonomis (lihat: Van Bemmelen R.W, 1949, The Geology of Indonesia, Vol. II: Economic Geology, Government Printing Office, Hague, halaman 63-65).

15

TAKEHOME EKSPLORASI BATUBARA Hiskia Ulinuha Annisa (H1F010013)

Kajian Kelayakan Usaha dari Potensi Batubara di daerah Salem


Penilaian kelayakan suatu usaha tambang merupakan usaha untuk menjamin agar pengeluaran modal yang ketersediaannya bersifat terbatas, betul-betul mencapai tujuannya seperti yang diharapkan, ditinjau dari segi manfaat ekonomi, finansial maupun sosial. Kajian kelayakan yang dapat dilakukan adalah penilaian kelayakan usaha tambang baik berupa investasi baru maupun pengembangan usaha tambang. Studi kelayakan memuat keterangan dan data kuantitatif mengenai usaha tambang tersebut. Di sini dapat dilihat apakah penambangan bisa dilaksanakan menurut perbandingan biaya dan hasil yang layak untuk cara kerja dan jangka waktu tertentu. Studi kelayakan ini harus dilakukan karena investasi di sektor pertambangan memiliki resiko yang cukup besar akibat dari ketidak pastian keberadaan sumber daya mineral. Sehingga diharapkan, dengan adanya studi kelayakan, maka dapat menekan resiko kegagalan yang mungkin akan dialami. Keterdapatan potensi batubara di Cekungan Bentarsari , Salem kabupaten Brebes Jawa Tengah telah menimbulkan banyak pertanyaan terkait prospek atau tidaknya batubara tersebut sehingga perlu dilakukan Kajian Kelayakan Usaha Potensi Batubara di daerah ini. Kajian fisik ini umumnya dilakukan di desa desa yang termasuk ke dalam Cekungan Bentarsari Salem. Parameter yang akan digunakan untuk mengkaji komponen fisik adalah kondisi dan aktivitas pertambangan, hidrologi, erosi, perubahan bentang alam, kondisi infrastruktur, gerakan tanah, tata guna lahan dan upaya reklamasi. Aspek komponen fisik yang akan dikaji meliputi: 1. Hidrologi Aspek hidrologi yang akan diteliti adalah pengaruh penambangan terhadap air permukaan maupun bawah permukaan. Aspek hidrologi ini akan dipengaruhi oleh tingkat kerusakan fisik lingkungan, banyaknya lokasi penambangan dan upaya reklamasi. 2. Erosi

16

TAKEHOME EKSPLORASI BATUBARA Hiskia Ulinuha Annisa (H1F010013)

Besarnya pengaruh erosi di daerah penambangan menjadi salah satu pertimbangan dalam penilaian kelayakan penambangan. Aspek erosi ini akan dipengaruhi oleh tingkat kerusakan fisik lingku-gan, banyaknya lokasi penambangan dan upaya reklamasi. 3. Perubahan Bentang Alam Penambangan bahan galian golongan C yang sering terjadi menyebabkan terjadinya perubahan bentang alam. Hal ini menjadi salah satu aspek penting dalam penilaian kelayakan pertamba-gan. Aspek ini akan dipengaruhi oleh tingkat kerusakan fisik lingkungan, banyaknya lokasi penambangan dan upaya reklamasi. 4. Kondisi Infrastruktur Aspek infrastruktur difokuskan pada penggunaan infrastruktur dalam kegiatan penambangan, seperti jalan desa, fasilitas umum lainnya. Apakah dengan adanya penambangan penyebab-an kerusakan pada infrastruktur disekitarnya. Kondisi infrastruktur akan dipengaruhi banyak-ya lokasi penambangan, Jarak penambangan degan pemukiman dan fasilitas umum serta fasilitas sosial dan Pemanfatan fasilitas umum oleh penambang. 5. Gerakan Tanah Aspek ini mengkaji tentang gerakan tanah yang terjadi dan potensinya yang berada disekitar lokasi penambangan. Aspek ini akan dipengaruhi oleh tingkat kerusakan fisik lingkungan. 6. Tata Guna Lahan Aspek tata guna lahan merupakan penilaian se-eapa besar dampak kerusakan atau perubahan tata guna lahan setelah dilakukan kegiatan pe-nambagan. Aspek ini akan dipengaruhi oleh ting-kat kerusakan fisik lingkungan, banyaknya lokasi penambangan dan upaya reklamasi. 8. Upaya Reklamasi Dari penambangan baik yang masih berlangsung maupun setelah ditambang, dilakukan upaya yang mengarah ke reklamasi atau belum.

17