Anda di halaman 1dari 5

FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111 Telp : 031 594 7254,

Fax : 031 596 4182 Email : kapal@its.ac.id

METALURGI PENGELASAN
Pada metalurgi pengelasan akan dipelajari tentang proses pengelasan, apa saja yang terlibat dalam proses tsb, dan hasil / produk yg dihasilkan dari proses itu. Proses Pengelasan terbagi dalam 3 tahap: 1. Proses Pelelehan Pada tahap ini, ada 3 elemen utama yang mempengaruhi proses pelelehan, yakni: Heat Input HI = E I / v Dimana, E : voltage busur I : amperage : factor eff. V : kecepatan pengelasan. Polarisasi DCSP Direct Current Straight Polarity DCRP Direct Current Reverse Polarity AC Alternating Current Metal Transfer Spray Arc heat input tinggi, penetrasi max, deposition rate tinggi, pengelasan cepat, aplikasi mudah, slag sedikit. Globular arus rendah, diameter besar. Short Circuit untuk pelat tipis, root pass, segala posisi. Pulsed Arc distorsi kecil, diameter besar, segala posisi. 2. Proses Metalurgi Pada tahap ini, terjadi 3 proses lagi, yakni: Proses pencampuran Penggabungan unsur2 dalam electrode pada weld metal (Al, Mn, Si, Mg, dll) Oksidasi Deoksidasi Proses pelepasan unsure Fe dengan O2 yg menghasilkan slag. 3. Proses Kristalisasi Pada tahap ini, mirip dengan proses pengecoran. Dimulai dari pembentukan kristal, kemudian pemadatan dendrite yang menghasilkan butiran-butiran padat dan akhirnya muncul grain boundary. Mikrostruktur pada proses kristalisasi: Body Centered Cubic (BCC) : 30 C - 910 C Face Centered Cubic (FCC) : 910 C - 1388 C Hexagonal Closed Packed Fase-fase struktur Kristal diantaranya: Austenite terjadi pada baja karbon (2% karbon) bersuhu tinggi yg berwujud FCC Ferrite berwujud BCC dan mengandung sangat sedikit karbon
Cornelius Tony Suteja (4110100053)
RESUME TEKNOLOGI LAS | 1

FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111 Telp : 031 594 7254, Fax : 031 596 4182 Email : kapal@its.ac.id

Cementite sangat keras dan mengandung 6,7% karbon. Bila dicampur dg ferrite, kekerasan bisa berkurang Pearlite campuran ferrite + cementite; mengandung 0,8% karbon Martensite terjadi bila baja mengalami pendinginan cepat, struktur mengalami distorsi berwujud jarum2 halus. Kekerasan martensite tergantung pada kandungan karbon. Struktur Kristal pada daerah HAZ: Pada suhu 1500 C - 1100 C austenite, butiran kristal besar, sikat mekanik rendah Suhu 1100 C A3 kristal kecil memanjang austenite ferrite, sifat mekanik lebih tinggi A3 A1 austenit & ferrite, sifat mekanik lebih rendah A1 - 500 C mulai muncil pearlite ferrite & martensite pada kristal, terjadi strain hardening pada permukaan. Proses pengelasan banyak melibatkan beberapa factor, diantaranya: 1. Base Metal 2. Elektrode, Filler, dan Flux 3. Shielding Gas 4. Lingkungan sekitar (termasuk kotoran, minyak, atau gas lainnya) Hasil daripada proses pengelasan berupa: 1. Weld Metal Campuran base metal, filler, dan flux setelah meleleh dan menjadi padat. 2. Base Metal Saat pengelasan, base metal mengalami strain hardening dibawah 500 C. 3. Heat Affected Zone Bagian dari base metal yang tidak ikut meleleh, namun mengalami pemanasan hingga 730 C membentuk kristal2 besar. 4. Slag Hasil yang tampak pada permukaan weld metal sebagai upaya untuk melindungi lelehan las dari lingkungan yang kurang baik. Perlakuan panas (heat treatment) pada pengelasan: 1. Pre Heating: Memperlambat cooling rate Mengurangi distorsi dan penyusutan Mengurangi bahaya cracking Membantu hydrogen lebih cepat keluar yang menyebabkan embrittle HAZ dan weld metal lebih ductile Dipengaruhi oleh komposisi kimia, ketebalan material, struktur kekakuan, heat input. 2. Interpass Temperature: Heat input sama sebesar pre heating Menjaga temperature puncak Cooling rate lebih teratur dan bertahap. 3. Post Weld Heat Treatment (1jam/inch atau min 30 menit): Mengurangi tegangan sisa Selama PWHT, martensite diubah menjadi ferrite dan karbida yang mampu mengurangi hardness & strength, serta menambah ductility & toughness.
RESUME TEKNOLOGI LAS | 2

Cornelius Tony Suteja (4110100053)

FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111 Telp : 031 594 7254, Fax : 031 596 4182 Email : kapal@its.ac.id

Efek pre heating pada kekerasan HAZ: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pre heating memperlambat cooling rate Meningkatkan ductility HAZ menjadi lebih lebar, namun tanpa martensite Austenite menjadi bainite & ferrite pearlite Hardness lebih rendah Cocok untuk baja karbon dan beberapa baja high tensile.

Karbon ekivalen kaitannya terhadap kebutuhan pre heating dipengaruhi oleh jumlah unsure yang terkandung, dengan formulasi: Karbon ekivalen = %C + %Mn/6 + %Ni/15 + %Cr/5 + %Cu/13 + %Mo/4 Karbon Ekivalen Sampai dg 0,45% 0,45% - 0,6% Di atas 0,6% Suh Pre Heating Optional 200 F - 400 F 400 F - 700 F

Cornelius Tony Suteja (4110100053)

RESUME TEKNOLOGI LAS | 3

FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111 Telp : 031 594 7254, Fax : 031 596 4182 Email : kapal@its.ac.id

CACAT PADA PENGELASAN


Cacat pada pengelasan cukup banyak, yang terbagi menjadi dua: Cacat Metalurgi dan Cacat Dimensional. Cacat metalurgi termasuk pada proses pelelehan yang berupa incomplete fusion dan incomplete penetration, proses pencampuran yang berupa slag inclusion dan porosity, dan proses kristalisasi yang berupa cold & hot crack. Sementara cacat dimensional berupa penyusutan dan distorsi. Berikut macam cacat pengelasan secara umum: 1. Crack 2. Incomplete Fusion 3. Incomplete Penetration 4. Slag Inclusion 5. Porosity 6. Undercut 7. Underfill 8. Overlap 9. Covexity 10. Weld Reinforcement 11. Arc Strike 12. Tungsten Inclusion 13. Spatter 14. Delamination 15. Lamelar Tear 16. Seams/lap 17. Dimensional Defect Khusus pada kasus cacat crack, incomplete fusion, dan lamelar tear, bila terjadi maka hasil pengelasan akan langsung di-reject. Crack pada pengelasan ada banyak macamnya, termasuk hot & cold crack serta crater crack yang termasuk crack paling berbahaya dalam pengelasan. Crater crack terjadi akibat kesalahan memanipulasi electrode saat akhir pengelasan, sehingga para welder harus berhati-hati terutama saat pengelasan akan mencapai akhir. Hot crack dipengaruhi oleh kondisi pengelasan, komposisi kimia, dan penyusutan beban pada titik las. Sementara cold crack dipengaruhi oleh komposisi kimia, heat input, hydrogen diffusible, peregangan pada joint, dan adanya tegangan sisa. Beberapa usaha untuk mencegah crack terutama pada daerah HAZ: 1. Menggunakan electrode yg rendah hydrogen 2. Filler metal dikeringkan sebelum digunakan 3. Pembersihan pada tepi las2an 4. Kondisi cuaca yg bagus 5. Pre heating dan PWHT Lamelar tearing terjadi pada pengelasan fillet material yg tebal dg diawali delaminasi dan adanya tegangan sisa yg tinggi. Sementara incomplete fusion disebabkan oleh heat input yg rendah, kec
Cornelius Tony Suteja (4110100053)
RESUME TEKNOLOGI LAS | 4

FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111 Telp : 031 594 7254, Fax : 031 596 4182 Email : kapal@its.ac.id

pengelasan yg terlalu tinggi, amperage yg terlalu rendah, dan kesalahan posisi electrode. Lain lagi dengan incomplete penetration yg disebabkan oleh diameter electrode yg terlalu besar dan kesalahan penggunaan pada electrode yg seharusny untuk deep penetration. Pada pengelasan sering kita jumpai slag yg terkadang terperangkap dalam las2an. Kasus demikian disebut slag inclusion, yang disebabkan oleh kesalahan parameter pengelasan, slag yg muncul terlalu tebal, proses oksidasi & deoksidasi yg kurang sempurna, dan kurangnya persiapan pengelasan. Sementara kasus yg umum kita jumpai lainnya adalah porosity, undercut, underfill, dan overlap yg kesemuanya termasuk cacat pada pengelasan. Porosity adalah kondisi dimana gas terjebak secara acak dalam pengelasan yg disebabkan base metal kotor. Undercut terjadi apabila amperage / heat input terlalu tinggi dan teknik pengelasan yg kurang tepat. Undercut merupakan salah satu penyebab awal terjadinya crack dan toleransi untuk undercut yg diijinkan adalah max 0,5mm. Sementara overlap merupakan tonjolan weld metal diluar weld toe yg diakibatkan oleh kesalahan posisi electrode dan adanya burn torch karena heat input terlalu tinggi.

Cornelius Tony Suteja (4110100053)

RESUME TEKNOLOGI LAS | 5