Anda di halaman 1dari 8

FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111 Telp : 031 594 7254,

Fax : 031 596 4182 Email : kapal@its.ac.id

BAB V PENGUJIAN MAGNETIC (MAGNETIC TEST)

5.1. Gambaran Umum Magnetic particle merupakan salah satu metode pengujian tidak merusak (nondestructive test) untuk mendeteksi discontinuity permukaan (surface) dan bawah permukaan (subsurface) pada komponen logam ferromagnetik (dapat ditarik kuat oleh magnet). Teknik ini dilakukan dengan cara magnetisasi permukaan komponen yang telah disemprot partikel-partikel magnet. Magnetisasi dapat dilakukan dengan magnet permanen atau dengan elektromagnet. Jika terdapat retakan pada permukaan komponen, maka akan terjadi kebocoran medan magnet, sehingga garis-garis gaya magnet akan meninggalkan komponen dan menarik partikel-partikel pada daerah tersebut, sehingga timbul discontinuity. Evaluasi terhadap indikasi yang muncul dapat dilakukan dengan cahaya biasa atau dengan bantuan sinar ultraviolet, tergantung pada jenis partikel yang dipakai. Internal defect pada matrial menimbulkan diskontinuitas. Bila pada material yang akan ditest diinduksikan suatu medan magnet maka pada daerah yang mengalami diskontuinitas tersebut akan terjadi yang biasa disebut sebagai Flux Leakage (kebocoran garis gaya magnet). Prinsip ini yang digunakan untuk mendeteksi internal defect pada material.

Gambar 5.1 Alat Uji Magnetik


Cornelius Tony Suteja (4110100053)
LAPORAN PRATIKUM INSPEKSI LAS | 37

FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111 Telp : 031 594 7254, Fax : 031 596 4182 Email : kapal@its.ac.id

5.2. Tujuan Magnetic particle ditujukan untuk untuk mendeteksi discontinuity permukaan (surface) dan bawah permukaan (subsurface) pada komponen logam ferromagnetic (dapat ditarik kuat oleh magnet). Logam yang dapat dilakukan magnetik particle test hanyalah logam ferromagnetic sebab magnetic particle test menggunakan sisa induksi magnetik pada logam. 5.3. Dasar Teori Magnet merupakan suatu logam yang dapat menarik besi, dan selalu memiliki dua kutub yaitu kutub utara dan kutub selatan. Dimana arah medan magnet disetiap titik bersumber dari kutub utara menuju ke selatan dan mengarah dari kutub selatan ke utara di dalam magnet. Pada pengujian ini spesimen atau benda uji dimagnetisasi dengan cara memberikan arus listrik. Karena perlakuan yang seperti itu, maka pada benda uji akan timbul medan magnet sebagai akibat dari adanya beda potensial (arus listrik mengalir dari tegangan tinggi ke tegangan rendah). Pada daerah tersebut ditaburkan serbuk ferro magnetik. Selanjutnya serbuk ferro magnetik tersebut akan mengikuti bagian yang cacat dari benda uji tersebut. Ada beberapa jenis magnet, antara lain sebagai berikut : Magnet Permanen o Merupakan bahan-bahan logam tertentu yang jika dimagnetisasi maka bahan logam tersebut akan mampu mempertahankan sifat magnetnya dalam jangka waktu yang lama (permanen). Elektromagnet o Merupakan magnet yang terbuat dari bahan ferro magnetik yang jika diberikan arus listrik maka bahan tersebut akan menjadi magnet, tetapi jika pemberian arus listrik dihentikan, maka sifat magnet pada bahan tersebut akan hilang. Ada beberapa metode magnetisasi, antara lain sebagai berikut : Magnetisasi longitudinal, pada metode ini magnetisasi dihasilkan dari arus listrik yang dialirkan dalam koil.

Cornelius Tony Suteja (4110100053)

LAPORAN PRATIKUM INSPEKSI LAS | 38

FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111 Telp : 031 594 7254, Fax : 031 596 4182 Email : kapal@its.ac.id

Magnetisasi Yoke, magnetisasi dengan menggunakan yoke. Dengan cara ujung kaki yoke ditempelkan pada material yang akan dimagnetisasi. Magnetisasi sirkular, pada metode magnetik sirkular ini terdiri dari : o Magnetik tak langsung, arus listrik dialirkan ke konduktor sentral. Medan magnet mengenai bahan dan benda yang dilingkupinya. o Magnetisasi langsung, arus listrik dialirkan pada bahan yang akan dimagnetisasi. o Prod, magnetisasi dengan cara material ferromagnetic dililiti dengan logam tembaga kemudial dialiri arus listrik.

Metode pengerjaan berdasarkan waktu magnetisasi o Medan Magnet Kontinyu, magnetisasi berlangsung secara terus menerus bersamaan dengan pemberian serbuk ferromagnetik basah (suspensi) atau yang kering. o Medan Magnet sisa (residual) o Partikel ferromagnetic (kering atau suspensinya) diberikan setelah proses magnetisasi berakhir.

Metode pengaplikasian partikel ferromagnetic o Metoda Kering Partikel magnetik yang digunakan berupa bubuk kering. Metoda ini digunakan pada permukaan benda uji yang kasar. Suhu kerja yang baik yaitu pada suhu kamar 10oC hingga 55oC, metoda ini juga masih dapat dilakukan pada suhu tinggi asalkan benda uji masih berwujud padat. Metoda ini tidak cocok dilakukan pada suhu dingin karena serbuk ferromagnetic akan lengket terkena embun. Warna partiker ferromagnetik yang dipilih harus kontras terhadap benda uji. Bubuk diarahkan pada lokasi yang diinginkan secara perlahan-lahan, sisa partikel yang berlebih dihilangkan dengan air. o Metoda Basah Partikel magnetik yang digunakan dalam bentuk suspensi. Metoda ini bisa digunakan pada metoda kontinyu maupun residual. Metoda basah biasa digunakan pada permukaan benda uji yang halus. Metoda
Cornelius Tony Suteja (4110100053)
LAPORAN PRATIKUM INSPEKSI LAS | 39

FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111 Telp : 031 594 7254, Fax : 031 596 4182 Email : kapal@its.ac.id

ini cocok digunakan pada suhu dingin dan batas maksimalnya adalah tidak boleh lebih dari batas akhir temperatur kamar, yaitu 55 oC karena suspensi akan mengalami penguapan jika suhu terlalu panas. 5.4. Spesimen dan Peralatan Uji Pada pengujian magnetik ini, test piece yang digunakan sama seperti test piece pada penetrant test.

Gambar 5.2 Specimen Uji Magnetik Dalam melakukan uji Magnetic Particle, alat dan bahan yang harus dipersiapkan antara lain : MT Set yang terdiri dari (Cleaner, WCP dan MP INK 7HF) YOKE, seperti yang terlihat pada Gambar 5.1 dan Kabel Ghauss meter Lampu Lux Meter Sikat baja Kain/ tisu Penggaris Prosedur uji

Gambar 5.3 MT set, Ghauss Meter, Lux Meter

Cornelius Tony Suteja (4110100053)

LAPORAN PRATIKUM INSPEKSI LAS | 40

FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111 Telp : 031 594 7254, Fax : 031 596 4182 Email : kapal@its.ac.id

5.5. Prosedur Pengujian Pengujian magnetik dilakukan dengan mempersiapkan test piece dan peralatan uji terlebih dahulu. Setelah peralatan uji siap dan test piece telah memenuhi standard maka pengujian magnetik dapat dilakukan. Dalam melakukan pengujian magnetik, terdapat prosedur pengujian yang harus diperhatikan oleh praktikan antara lain : Persiapan Alat, yaitu dengan menguji kekuatan yoke terlebih dahulu (Power Lifting of Yoke) berdasarkan ASME section V Article 6 (T-773, 2), yaitu untuk arus AC yoke harus mampu mengangkat beban seberat 4,5 kg (10 lb) pada maximum pole spacingnya. Apabila yoke masih dapat mengangkat beban yang disyaratkan, maka yoke tersebut masih layak untuk digunakan. Pengujian lifting power ini biasanya dilakukan dalam jangka waktu satu tahun sekali. Specimen dibersihkan permukaannya dari oil, dan kotoran lain yang berupa karat, lemak, cat, dan kotoran lainnya dengan menggunakan claner. Material uji disemprot dengan White Contrast Paint (WCP 2) secara merata. Tunggu sebentar hingga white contrast paint kering Setelah kering, atur yoke sedemikian rupa sehingga dapat memagnetisasi material uji dengan baik dan pada saat proses memagnetisasi material uji yoke ditempatkan pada posisi yang berbeda-beda sehingga tampak semua discontinuity yang ada pada material uji tersebut baik crack yang ada di permukaan maupun yang sub-surface. Saat yoke memagnetisasi material uji, material uji disemprotkan wet particle hingga tampak cacat yang ada pada material uji tersebut. Amati discontiniuity yang tampak dan catat. Demagnetisasi atau penghilangan sisa-sisa magnet pada spesimen setelah evaluasi. Kemudian material uji diukur sifat magneticnya dengan menggunakan gause meter. Post Cleaning/pembersihan akhir.

Gambar 5.4 Proses Pengujian Magnetik

Cornelius Tony Suteja (4110100053)

LAPORAN PRATIKUM INSPEKSI LAS | 41

FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111 Telp : 031 594 7254, Fax : 031 596 4182 Email : kapal@its.ac.id

Gambar 5.5 Kondisi Material Uji setelah Magnetic Test 5.6. Data Pengujian Pada pengujian ini, diperoleh data-data pengujian sebagai berikut : L B t = 380 = 221 = 11.25 mm mm mm

Dengan cacat berupa round yang terdapat pada 9 tempat dan linier pada 1 tempat pada arah A-B, dengan rincian sebagai berikut : o Round 1 : L D0 = 5.75 = 79.16 mm mm

o Round 2 : L D01 = 2.43 = 16.93 mm mm

o Round 3 : L D12 = 1.7 = 7.7 mm mm

o Round 4 : L D23 = 1 = 14.67 mm mm

o Round 5 : L D45 = 1.71 = 5.97 mm mm

o Round 6 : L = 2.03 mm
LAPORAN PRATIKUM INSPEKSI LAS | 42

Cornelius Tony Suteja (4110100053)

FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111 Telp : 031 594 7254, Fax : 031 596 4182 Email : kapal@its.ac.id

D56

= 9.47

mm

o Round 7 : L D67 = 1.63 = 55.12 mm mm

o Round 8 : L D78 = 3.28 = 27.51 mm mm

o Round 9 : L D89 = 3.32 = 37.08 mm mm

o Linier 1 : L D34 = 10.25 = 27.85 mm mm

Gambar 5.6 Sketsa Magnetic Test setelah pengujian 5.7. Analisa Pengujian dan Kesimpulan Magnetic particle merupakan salah satu metode pengujian tidak merusak (nondestructive test) untuk mendeteksi discontinuity permukaan (surface) dan bawah permukaan (subsurface) pada komponen logam ferromagnetik (dapat ditarik kuat oleh magnet). Teknik ini dilakukan dengan cara magnetisasi permukaan komponen yang telah disemprot partikel-partikel magnet. Magnetisasi dapat dilakukan dengan magnet permanen atau dengan elektromagnet. Adapun material sendiri mempunyai 3 macam karakteristik, yaitu : Diamagnetic, bersifat sukar dimagnetisasi, misalnya Ag, Cu. Parramagnetic, bersifat sedikit bisa dimagnetisasi, misalnya Mg.
Cornelius Tony Suteja (4110100053)
LAPORAN PRATIKUM INSPEKSI LAS | 43

FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111 Telp : 031 594 7254, Fax : 031 596 4182 Email : kapal@its.ac.id

Ferrromagnetic, bersifat kuat dimagnetisasi, misalnya Fe ,Co. Dari ketiga karakter diatas, yang bisa diuji dengan menggunakan Magnetic Particle

Examination adalah material yang bersifat ferromagnetic. Dari sepuluh indikasi yang muncul tidak semuanya merupakan relevant indication karena ada yang memiliki panjang kurang dari 1,5 mm yaitu rounded indication 4 dan juga terdapat satu linier indication. Untuk rounded indication 2, 3, 5, 6, 7, 8, 9 masih bisa acc karena diameter masih < dari 5 mm sedangkan rounded indication 1 rejected karena diameter > 5 mm , sedangkan untuk linier indication semuanya harus dilakukan repair.

Cornelius Tony Suteja (4110100053)

LAPORAN PRATIKUM INSPEKSI LAS | 44