Anda di halaman 1dari 26

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY R DENGAN TUBERKULOSIS PARU Di RUANG B1 SARAF RSUD Dr KARIYADI

Disusun oleh : NETTY HERAWATI AKHMAD LISTYONO MAJID

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS ANGKATAN XX PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2012

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Tuberculosis adalah penyakit langsung yang mengenai parenkim paru yang disebabkan oleh basil mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman tuberculosis mengenai paru tapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (Brunner & Suddarth, 2001). TB paru sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, berdasarkan laporan tahun 1997 Indonesia menduduki tempat ketiga sebagai penyumbang kasus tuberculosis enam belas negara di dunia. Berdasarkan hasil survey kesehatan rumah tangga tahun 1995. Menurut Departemen Kesehatan RI (2001) penderita TB paru 95% berada di negara berkembang dan 75% penderita TB paru adalah kelompok usia produktif (15 50 tahun) dengan tingkat sosial ekonomi rendah. Di Indonesia TB paru merupakan penyebab kematian utama ketiga setelah penyakit jantung dan saluran pernafasan (Rusnoto, 2010). Resiko penularan setiap tahun atau Annual Risk of Tuberculosis Infection / ARTI di Indonesia cukup tinggi dan bervariasi antara 1-2%. Pada daerah dengan ARTI sebesar 1% berarti setiap tahun diantara 1000 penduduk, 10 orang akan terinfeksi. Sebagian besar dari orang yang terinfeksi tidak akan penderita tuberculosis, hanya 10% dari yang terinfeksi yang akan menjadi penderita tuberkulosisi. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi penderita tuberkulosis adalah daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya karena gizi buruk atau HIV/ AIDS disamping faktor pelayanan yang belum memadai. Pasien dengan TB sering menjadi sangat lemah karena penyakit kronis yang berkepanjangan dan kerusakan status nutrisi. Anoreksia, penurunan berat badan dan malnutrisi umum terjadi pada pasien TB. Keinginan pasien untuk makan mungkin terganggu oleh keletihan akibat batuk berat, pembentukan sputum, nyeri dada atau status kelemahan secara umum. Pada penderita tuberculosis paru bila penanganan di rumah sakit kurang baik, maka penderita tuberculosis paru akan mengalami komplikasi perdarahan dari saluran pernafasan bagian bawah yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas, penyebaran infeksi ke organ lain misalnya otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya. Berdasarkan latar belakang diatas dan meningkatnya kasus tuberculosis paru serta meningkatnya angka kematian penyakit tuberculosis paru per tahun, maka penulis tertarik melakukan dan mempelajari lebih lanjut tentang

pemberian asuhan keperawatan pada Ny R dengan TB paru di C3L1 RSUP DR KARIYADI. B. TUJUAN 1. Tujuan Umum Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan pada Ny R dengan TB paru Tujuan Khusus a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian secara komprehensif kepada Ny R dengan TB paru b. Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada Ny R dengan TB paru c. Mahasiswa mampu menentukan prioritas masalah pada Ny R dengan TB paru d. Mahasiswa mampu menyusun rencana asuhan keperawatan pada Ny R dengan TB paru e. Mahasiswa mampu melakukan intervensi asuhan keperawatan pada Ny R dengan TB paru f. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi asuhan keperawatan pada Ny R dengan TB paru

2.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi menahun menular yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Kuman tersebut biasanya masuk ke dalam tubuh manusia melalui udara (pernapasan) kedalam paru-paru, kemudian kuman tersebut menyebar dari paru-paru ke organ yang lain melalui peredaran darah, yaitu: kelenjar limfe, saluran pernapasan atau penyebaran langsung ke organ tubuh lain (Depkes RI, 1998). Tuberkulosis adalah infeksi yang disebabkan oleh Basil Tahan Asam (BTA). Walaupun TBC dapat menyerang berbagai organ tubuh, namun kuman ini paling sering menyerang organ paru (www.kompas.com). Menurut Smeltzer (2001) Tuberkulasis (TB) adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim paru. Tuberkulosis dapat pula ditularkan ke bagian tubuh lainnya termasuk meningen, ginjal, tulang, dan nodus limfe.

B. ETIOLOGI Penyebab Tuberkulosis adalah Mycobacterium tuberculosis. Kuman lain yang dapat menyebabkan TBC adalah Mycobacterium Bovis dan M. Africanus (www.tempointeraktif.com). Kuman Mycobacterium tuberculosis adalah kuman berbentuk batang aerobic tahan asam yang tumbuh dengan lambat dan sensitive terhadap panas dan sinar ultraviolet (Smeltzer, 2001:584) Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid inilah yang membentuk kuman lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik. Kuman dapat tahan hidup dalam udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es). Hal ini teradi karena kuman berada dalam sifat dormant. Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif lagi (Bahar,1999:715).

Sifat lain kuman ini adalah aerob, sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang lebih tinggi kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan oksigen pada daerah apikal paru-paru lebih tinggi daripada bagian lain, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat prediksi penyakit tuberkulosis. Kuman TBC menyebar melalui udara (batuk, tertawa, dan bersin) dan melepaskan droplet. Sinar matahari langsung dapat mematikan kuman, akan tetapi kuman dapat hidup beberapa jam dalam keadaan gelap

(www.tempointeraktif.com).

C. PATOFISIOLOGI 1. Tuberkulosis Primer Tuberkulosis primer ialah penyakit TB yang timbul dalam lima tahun pertama setelah terjadi infeksi basil TB untuk pertama kalinya (infeksi primer) (STYBLO,1978 dikutip oleh Danusantoso,2000:102). Penularan tuberkulosis paru terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet dalam udara. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1- 2 jam. Dalam suasana lembab dan gelap kuman dapat tahan berhari-hari sampai berbulan-bulan. Bila partikel infeksi ini dapat terhisap oleh orang sehat ia akan menempel pada jalan napas atau paru-paru. Bila menetap di jarigan paru, akan tumbuh dan berkembang biak dalam sitoplasma makrofag. Kuman yang bersarang di jaringan paru-paru akan membentuk sarang tuberkulosa pneumonia kecil dan disebut sarang primer atau afek primer dan dapat terjadi di semua bagian jaringan paru. Dari sarang primer akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis lokal) dan juga diikuti pembesaran kelenjar getah bening hilus (limfangitis regional) yang menyebabkan terjadinya kompleks primer. Kompleks primer ini selanjutnya dapat menjadi : a. Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat.

b. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas (kerusakan jaringan paru). c. Berkomplikasi dan menyebar secara : 1) Per kontinuitatum, yakni menyebar ke sekitarnya. 2) Secara bronkogen pada paru yang bersangkutan maupun paru di sebelahnya. Dapat juga kuman tertelan bersama sputum dan ludah sehingga menyebar ke usus. 3) Secara linfogen, ke organ tubuh lainnya. 4) Secara hematogen, ke organ tubuh lainnya (Bahar, 1999:716)

2. Tuberkulosis Post-Primer (Sekunder) Adalah kuman yang dormant pada tuberkulosis primer akan muncul bertahun-tahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi tuberkulosis dewasa (tuberkulosis post-primer). Hal ini dipengaruhi penurunan daya tahan tubuh atau status gizi yang buruk. Tuberkulosis pasca primer ditandai dengan adanya kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura. Tuberkulosis post-primer ini dimulai dengan sarang dini di regio atas paru-paru. Sarang dini ini awalnya juga berbentuk sarang pneumonia kecil. Tergantung dari jenis kuman, virulensinya dan imunitas penderita, sarang dini ini dapat menjadi : a. b. Diresorbsi kembali tanpa menimbulkan cacat Sarang mula-mula meluas, tapi segera menyembuh dengan sembuhan jaringan fibrosis c. Sarang dini yang meluas dimana granuloma dan bagian berkembang tengahnya

menghancurkan

jaringan

sekitarnya

mengalami nekrosis dan menjadi lembek membentuk jaringan keju d. Bila tidak mendapat pengobatan yang tepat penyakit ini dapat berkembang biak dan merusak jaringan paru lain atau menyebar ke organ tubuh lain (Bahar, 1999:716)

D. PATHWAYS TUBERKULOSIS
Faktor tosik (rokok, alcohol) Terpapar penderita TBC Lingkungan yang buruk Social ekonomi rendah Gizi buruk Daya tahan tubuh rendah

Mycobacterium Tuberculosis aktif menjadi kuman patogen

panas

Infeksi paru-paru (tuberculosis paru)

Menghasilkan sekret Tidak bisa batuk efektif

Kurang pengetahuan tentang perawatan dan penularan TBC

Pembentukan tuberkel oleh makrofag (sarang primer) Sarang primer + limfangitis local + limfadenitis regional

Penumpukan secret >>

Resti penularan TBC

Inefektif bersihan jalan nafas

Kompleks primer Sembuh total Sembuh dengan sarang gohn pleura Infeksi endogen oleh kuman dormant pleuritis jantung perikarditis Penyebaran ke organ lain tulang TB tulang Nyeri pada tulang Sembuh dengan jaringan fibrotik otak meningitis TIK Nyeri kepala Saluran pencernaan lambung HCL

Infeksi post primer Diresorbsi kembali/sembuh Sarang meluas Membentuk kavitas Menembus pleura (efusi pleura) Anerisma arteri pulmonalis Hemaptoe Suplai O2 Perdarahan >> Sesak nafas Resiko syok hipovolemik Gangguan pertukaran gas Kelelahan Intoleransi aktivitas hipoksia Memadat dan membungkus diri (tuberkuloma) Mengganggu perfusi dan difusi O2 Bersih & sembuh

Mual, muntah, anorexia

Ganggaun rasa nyaman

Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan

E. MANIFESTASI KLINIK Tanda dan gejala yang sering ditemui pada tuberkulosis adalah batuk yang tidak spesifik tetapi progresif. Biasanya tiga minggu atau lebih dan tidak ada dahak. Batuk terjadi karena adanya iritasi pada bronkus, sifat batuk dimulai dari batuk kering (non produktif) kemudian setelah timbul peradangan menjadi produktif (menghasilkan sputum). Selain gejala batuk disertai dengan gejala dan tanda lain seperti tersebut di bawah ini : 1. Demam. Terjadi lebih dari sebulan, biasanya pada pagi hari. 2. Hilangnya nafsu makan dan penurunan berat badan. 3. Keringat malam hari tanpa kegiatan. 4. Sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah berlanjut, dimana infiltrasinya sudah setengah bagian paru. 5. Nyeri dada. Timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. Gejala ini jarang ditemukan. 6. Kelelahan. 7. Batuk darah atau dahak bercampur darah (Bahar,1999:719)

F. KLISIFIKASI TUBERKULOSIS Di Indonesia Klasifikasi yang dipakai berdasarkan DEPKES 2000 adalah 1. Kategori 1 Paduan obat 2HRZE/4H3R3 atau 2HRZE/4HR atau 2HRZE/6HE Obat tersebut diberikan pada penderita baru Y+TB Paru BTA Positif, penderita TB Paru BTA Negatif Roentgen Positif yang sakit berat dan Penderita TB ekstra Paru Berat. 2. Kategori II Paduan obat 2HRZES/HRZE/5H3R3E3 Obat ini diberikan untuk: penderita kambuh (relaps), pendrita gagal (failure) dan penderita dengan pengobatan setelah lalai ( after default)

3. Kategori III Paduan obat 2HRZ/4H3R3. Obat ini diberikan untuk penderita BTA negatif fan roentgen positif sakit ringan, penderita ekstra paru ringan yaitu TB Kelenjar Limfe (limfadenitis), pleuritis eksudativa uiteral, TB Kulit, TB tulang (kecuali tulang belakang), sendi dan kelenjar adrenal. Adapun tambahan dari pengobatan pasien TB obat sisipan yaitu diberikan bila pada akhir tahab intensif dari suatu pengobatan dengan kategori 1 atua 2, hasil pemeriksaan dahak masih BTA positif, diberikan obat sisipan (HRZE ) setiap hari selama satu bulan.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Pemeriksaan Radiologis Pemeriksaan radiologis dada merupakan cara yang praktis untuk menemukan lesi tuberkulosis. Pada awal penyakit dimana lesi masih merupakan sarang-sarang pneumonia gambaran radiologis adalah berupa bercak-bercak seperti awan dengan batas yang tidak tegas. Bila telah berlanjut, bercak-bercak awan jadi lebih padat dan batasnya jadi lebih jelas. Bila lesi sudah diliputi jaringan ikat akan terlihat bulatan dengan batas yang tegas. Lesi ini dikenal dengan nema tuberkuloma. Pada satu foto dada sering didapatkan bermacam-macam bayangan sekaligus (pada tuberkulosa lebih lanjut) seperti infiltrat + garis-garis fibrotik + klasifikasi + kavitas (sklerotik/nonsklerotik). Tuberkulosis sering memberikan gambaran yang aneh-aneh, sehingga dikatakan tuberkulosis is the greatest imitator(Bahar, 1996:719) Pemeriksaan radiologis dapat menunjukkan gambarang yang

bermacam-macam dan tidak dapat dijadikan gambaran diagnostik yang absolut dari tuberkulosis (www.kompas.com).

2.

Pemeriksaan Laboratorium a. Pemeriksaan Darah Pada pemeriksaan darah yang diperiksa adalah jumlah leukosit dan limfosit yang meningkat pada saat tuberkulosis mulai (aktif). Pada pemeriksaan Laju Endap Darah mengalami peningkatan, tapi Laju Endap Darah yang normal bukan berarti menyingkirkan adanya proses tuberkulosis. Bila penyakit mulai sembuh, jumlah leukosit mulai normal dan jumlah limfosit masih tetap tinggi dan Laju Endap Darah mulai turun ke arah normal lagi (Bahar,1996:719). b. Pemeriksaan Sputum Pemeriksaan sputum adalah penting karena dengan ditemukannya kuman BTA diagnosis tuberkulosis sudah bisa dipastikan. Penemuan adanya BTA pada dahak, bilasan bronkus, bilasan lambung cairan pleura atau jaringan paru adalah sangat penting untuk mendiagnosa TBC paru. Pemeriksaan dahak dilakukan tiga kali yaitu : dahak sewaktu datang, dahak pagi dan dahak sewaktu berkunjung hari kedua. Bila didapatkan hasil dua kali positif maka dikatakan mikroskopik BTA positif. Bila satu pisitif, dua kali negatif maka pemeriksaan perlu diulang kembali. Pada pemeriksaan ulang akan didapatkan satu kali positif maka dikatakan mikroskopik BTA positif, sedangkan bila tiga kali negatif dikatakan mikroskopik BTA negatif. Untuk memastikan jenis kuman yang menginfeksi perlu diakukan pemeriksaan

biakan/kultur kuman atau biakan yang diambil (Depkes RI,1998). c. Tes Tuberkulin Biasanya dipakai cara mantoux yakni dengan menyuntikkan 0,1cc tuberkulin PPD (Purified Protein Derivate) intra cutan. Setelah 48-72 jam tuberkulin disuntikkan, akan timbul reaksi berupa indurasi kemerahan yang terdiri dari infiltrasi limfosit yakni persenyawaan antara antibody dan antigen tuberkulin. Hasil tes mentoux dibagi dalam :

1) Indurasi 0-5 mm (diameternya) 2) Indurasi 6-9 mm 3) Indurasi 10-15 mm 4) Indurasi lebih dari 16 mm

: mantoux negative : hasil meragukan : hasil mantoux positive : hasil mantoux positif kuat

Biasanya hampir seluruh penderita memberikan reaksi mantoux yamg positif (99,8%) Kelemahan tes ini juga dapat positif palsu yakni pemberian BCG atau terinfeksi dengan Mycobacterium lain. Negatif palsu lebih banyak ditemukan daripada positif palsu

(Bahar,1996:721).

H. PENATALAKSANAAN Pengobatan TB ada 2 tahap menurut DEPKES.2000 yaitu : 1. Tahap intensif Penderita mendapat obat setiap hari dan diawasi langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap rifampisin. Bila saat tahab intensif tersebut diberikan secara tepat, penderita menular menjadi tidak tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar penderita TB BTA positif menjadi negatif (konversi) pada akhir pengobatan intensif. Pengawasan ketat dalam tahab intensif sangat penting untuk mencegah terjadinya kekebalan obat. 2. Tahap lanjutan Pada tahap lanjutan penderita mendapat obat jangka waktu lebih panjang dan jenis obat lebih sedikit untuk mencegah terjadinya kelembutan. Tahab lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten (dormant) sehingga mencegah terjadinya kekambuhan. Jenis obat yang dipakai 1. Obat Primer a. Isoniazid (H) b. Rifampisin (R) c. Pirazinamid (Z) d. Streptomisin

e. Etambutol (E) 2. Obat Sekunder a. Ekonamid b. Protionamid c. Sikloserin d. Kanamisin e. PAS (Para Amino Saliciclyc Acid) f. Tiasetazon g. Viomisin h. Kapreomisin

Panduan obat kategori 1 : Tahap Lama (H) day / R day Z day F day Jumlah Hari X Nelan Obat 60 54

Intensif Lanjutan

2 bulan 4 bulan

1 2

1 1

3 -

3 -

Panduan Obat Kategori 2 Tahap Lama (H) R Z @300 @450 @500 mg mg mg E E Strep. @ @500 Injeksi 250 mg mg 3 3 0,5 % Jumlah Hari X Nelan Obat 60 30

Intensif

2 1 bulan 1 1 bulan Lanjutan 5 2 bulan

1 1

3 3

66

Panduan Obat Kategori 3 Tahap Intensif Lanjutan 3 x week Lama 2 bulan 4 bulan H @ 300 R@450mg P@500mg Hari X Nelan mg Obat 1 1 3 60 2 1 1 54

OAT Sisipan Tahap Lama

Intensif (dosis harian)

1 bulan

H R Z E day Nelan @300mg @450mg @500mg @250mg X Hari 1 1 3 3 30

Kegagalan Pengobatan Sebab-sebab kegagalan pengobataan : 1. Obat a. Paduan obat tidak adekuat b. Dosis obat tidak cukup c. Minum obat tidak teratur / tdk. Sesuai dengan petunjuk yang diberikan. d. Jangka waktu pengobatan kurang dari semestinya e. Terjadi resistensi obat. 2. Drop out a. Kekurangan biaya pengobatan b. Merasa sudah sembuh c. Malas berobat 3. Penyakit. a. Lesi Paru yang sakit terlalu luas / sakit berat b. Ada penyakit lainyang menyertai contoh : Demam, Alkoholisme dan lain-lain. c. Ada gangguan imunologis

Penanggulangan Khusus Pasien 1. Terhadap penderita yang sudah berobat secara teratur a. menilai kembali apakah paduan obat sudah adekuat mengenai dosis dan cara pemberian. b. Pemeriksaan uji kepekaan / test resistensi kuman terhadap obat 2. Terhadap penderita yang riwayat pengobatan tidak teratur a. Teruskan pengobatan lama 3 bulan dengan evaluasi bakteriologis tiap-tiap bulan. b. Nilai ulang test resistensi kuman terhadap obat c. Jangka resistensi terhadap obat, ganti dengan paduan obat yang masih sensitif. 3. Pada penderita kambuh (sudah menjalani pengobatan teratur dan adekuat sesuai rencana tetapi dalam kontrol ulang BTA ( +) secara mikroskopik atau secara biakan ) a. Berikan pengobatan yang sama dengan pengobatan pertama b. Lakukan pemeriksaan BTA mikroskopik 3 kali, biakan dan resistensi c. Roentgen paru sebagai evaluasi. d. Identifikasi adanya penyakit yang menyertai (demam, alkoholisme/ steroid jangka lama) e. Sesuatu obat dengan tes kepekaan / resistensi f. Evaluasi ulang setiap bulannya: pengobatan, radiologis,

bakteriologis. 4. Perawatan bagi penderita TBC Perawatan yang harus dilakukan pada penderita tuberkulosis adalah : a. Awasi penderita minum obat, yang paling berperan disini adalah orang terdekat penderita yaitu keluarga. b. Mengetahui adanya gejala samping obat dan rujuk bila diperlukan. c. Mencukupi kebutuhan gizi yang seimbang penderita. d. Istirahat teratur minimal 8 jam perhari.

e. Mengingatkan penderita untuk periksa ulang dahak pada bulan kedua, kelima, dan keenam. f. Menciptakan lingkungan rumah dengan ventilasi dan pencahayaan yang baik (Pepkes RI,1998) 5. Pencegahan penularan TBC Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah : a. Menutup mulut bila batuk. b. Membuang dahak tidak di sembarang tempat. Buang dahak pada wadah tertutup yang diberi lysol 5% atau kaleng yang berisi pasir 1/3 dan diberi lysol. c. Makan makanan bergizi. d. Memisahkan alat makan dan minum bekas penderita. e. Memperhatikan lingkungan rumah, cahaya dan ventilasi yang baik. f. Untuk bayi diberikan imunisasi BCG (Depkes RI,1998).

I.

Asuhan Keperawatan TB Paru 1. Pengkajian Data Yang dikaji a. Aktifitas/istirahat Kelelahan Nafas pendek karena kerja Kesultan tidur pada malam hari, menggigil atau berkeringat Mimpi buruk Takhikardi, takipnea/dispnea pada kerja Kelelahan otot, nyeri , dan sesak b. Integritas Ego Adanya / factor stress yang lama Masalah keuangan, rumah Perasaan tidak berdaya / tak ada harapan Menyangkal Ansetas, ketakutan, mudah terangsang

c. Makanan / Cairan Kehilangan nafsu makan Tak dapat mencerna Penurunan berat badan Turgor kult buruk, kering/kulit bersisik Kehilangan otot/hilang lemak sub kutan d. Kenyamanan Nyeri dada Berhati-hati pada daerah yang sakit Gelisah e. Pernafasan Nafas Pendek Batuk Peningkatan frekuensi pernafasan Pengembangn pernafasan tak simetris Perkusi pekak dan penuruna fremitus Defiasi trakeal Bunyi nafas menurun/tak ada secara bilateral atau unilateral Karakteristik : Hijau /kurulen, Kuning atua bercak darah f. Keamanan Adanya kondisi penekanan imun Test HIV Positif Demam atau sakit panas akut g. Interaksi Sosial Perasaan Isolasi atau penolakan Perubahan pola biasa dalam tanggung jawab

Pemeriksaan Diagnostik 1. Kultur Sputum 2. Zeihl-Neelsen 3. Tes Kulit

4. Foto Thorak 5. Histologi 6. Biopsi jarum pada jaringan paru 7. Elektrosit 8. GDA 9. Pemeriksaan fungsi Paru

J.

Diagnosa Keperawatan 1. Resiko tinggi infeksi ( penyebaran / aktivasi ulang ) B.d a. Pertahanan primer tak adekuat , penurunan kerja silia b. Kerusakan jaringan c. Penurunan ketahanan d. Malnutrisi e. Terpapar lngkungan f. Kurang pengetahuan untuk menghindari pemaparan patogen

Kriteria hasil : a. Pasien menyatakan pemahaman penyebab / faktor resiko individu

b. mengidentifkasi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi c. Menunjukkan teknik , perubahan pola hidup untuk peningkatan lingkungan yang aman Intervensi : a. Kaji patologi penyakit dan potensial penyebaran infeksi b. Identifikasi orang lain yang beresiko c. Anjurkan pasien untuk batuk /bersin dan mengeluarkan pada tissue dan menghindari meludah d. Kaji tindakan kontrol infeksi sementara e. Awasi suhu sesuai indikasi f. Identifikasi faktor resiko individu terhadap pengaktifan berulang g. Tekankan pentingnya tidak menghentikan terapi obat

h. Kaji pentingnya mengikuti dan kultur ulang secara perodik terhadap sputum i. Dorong memilih makanan seimbang j. Kolaborasi pemberian antibiotic k. Laporkan ke departemen kesehatan lokal

2. Bersihan jalan nafas tak efektif B.d adanya secret, Kelemahan , upaya batuk buruk, Edema tracheal Kriteria Evaluasi : Pasien menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi Intervensi : a. Kaji fungsi pernafasan , kecepatan , irama , dan kedalaman serta penggunaan otot asesoris b. Catat kemampuan unttuk mengeluarkan mukosa / batuk efekttif c. Beri posisi semi/fowler d. Bersihkan sekret dari mulut dan trakhea e. Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml per hari f. Kolaboras pemberian oksigen dan obat obatan sesuai dengan indikasi adekuat

3. Resiko tinggi / gangguan pertukaran gas B.d a. Penurunan permukaan efektif paru , atelektasis b. Kerusakan membran alveolar kapiler c. Sekret kental , tebal d. Edema bronchial Kriteria Evaluasi : Pasien menunjukkan perbaikan venilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernapasan Intervensi : 1. Kaji Dipsnea,Takhipnea, menurunnya bunyi nafas ,peningkatan upaya pernafasan , terbatasnya ekspansi dinding dada , dan kelemahan

2. Evaluasi perubahan tingkat kesadaran , catat sianosis dan atau perubahan pada warna kulit 3. Anjurkan bernafas bibr selama ekshalasi 4. Tingkatkan tirah baring / batasi aktivitas dan atau Bantu aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan 5. Kolaborasi oksigen

4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan B.d Kelemahan, Sering batuk / produksi sputum, Anorexia, Ketidakcukupan sumber keuangan Kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan BB, menunjukkan perubahan perilaku / pola hidup untuk meningkatkan / mempertahankan BB yang tepat Intervensi : a. Catat status nutrisi pasien pada penerimaan , catat turgor kulit , BB, Integrtas mukosa oral, kemampuan menelan, riwayat mual/ muntah atau diare. b. c. b. Pastikan pola diet biasa pasien Awasi masukan dan pengeluaran dan BB secara periodik Selidiki anorexia , mual , muntah dan catat kemungkinan hhubungan dengan obat c. d. e. Dorong dan berikan periode stirahat sering. Berikan perwatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernafasan. Dorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohodrat. f. g. h. Dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah. Kolaborasi ahli diet untuk menentukan komposisi diet. Konsul dengan terapi pernafasan untuk jadual pengobatan 1-2 jam sebelum dan sesudah makan. i. j. Awasi pemeriksaan laboratorium Kolaborasi antipiretik

5. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan tindakan, dan pencegahan Berhubungan dengan : Keterbatasan kognitif. Tak akurat/lengkap informasi yang ada salah interpretasi informasi. Kriteria hasil : Menyatakan pemahaman kondisi / proses penyakit dan pengobatan serta melakukan perubahan pola hidupdan berpartispasi dalam program pengobatan Intervensi : 1. Kaji kemampuan psen untuk belajar 2. Identifikasi gejala yang harus dilaporkan ke perawat 3. Tekankan pentingnya mempertahankan proten tinggi dan det

karbohidrat dan pemasukan cairan adekuat. 4. Berikan interuksi dan informasi tertuls khusus pada pasien untuk rujukan. 5. Jelaskan dosis obat, frekuensi pemberian, kerja yang diharapkan dan alasan pengobatan lama. 6. Kaji potensial efek samping pengobatan dan pemecahan masalah 7. Tekankan kebutuhan untuk tidak minum alcohol sementara minum INH 8. Rujuk untuk pemeriksaan mata setelah memula dan kemudian tiap bulan selama minum etambutol 9. Dorongan pasien/ atau orang terdekat untuk menyatakan takut / masalah. Jawab pertanyaan dengan benar. 10. Dorong untuk tidak merokok 11. Kaji bagaimana TB ditularkan dan bahaya reaktivasi

BAB IV PEMBAHASAN

NY R pertama datang ke RSUP DR KARIYADI karena mengeluh sesak nafas sejak 2 bulan yang lalu, dan semakin memberat 1 bulan ini. Sesak nafas sampai tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Sesak nafas hilang timbul dan semakin memberat ketika malam hari. Sejak 2 bulan klien juga mengeluh batuk, dahak kadang encer, kadang kental warna putih. Klien mengatakan pernah batuk darah tahun 2004 dan 2009. Riwayat TB putus obat tahun 2004. Pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 19 November 2012 klien mengeluh batuk dan dahak sulit keluar. Berdasarkan bersihan jalan buruk. Tanda dan gejala yang sering ditemui pada tuberkulosis adalah batuk yang tidak spesifik tetapi progresif. Biasanya tiga minggu atau lebih dan tidak ada dahak. Batuk terjadi karena adanya iritasi pada bronkus, sifat batuk dimulai dari batuk kering (non produktif) kemudian setelah timbul peradangan menjadi produktif (menghasilkan sputum) (Bahar,1999:719). Batuk diakibatkan oleh iritasi membran mukosa dimana saja dalam saluran pernafasan. Stimulus yang menghasilkan batuk dapat timbul dari suatu proses infeksi atau dari suatu iritan yang dibawa oleh udara seperti asap, kabut, debu atau gas (Pranowo C.W.2011). Intervensi yang diberikan untuk mengatasi diagnosa pertama yaitu dengan mengajarkan klien batuk efektif. Diharapkan setelah diajarkan batuk efektif penderita tuberkulosis paru (Ny R) tidak harus mengeluarkan banyak tenaga untuk mengeluarkan sekret. Sebelum diajarkan batuk efektif klien dianjurkan untuk minum air hangat dengan rasionalisasi untuk mengencerkan dahak. Setelah itu dianjurkan untuk inspirasi dalam. Hal ini dilakukan selama dua kali. Kemudian setelah insipirasi yang ketiga, anjurkan klien untuk membatukkan dengan kuat (Pranowo C.W.2011). selanjutnya intervensi yang diberikan adalah memberikan posissi semi atau fowler tinggi. Membantu klien untuk latihan nafas dalam dan data tersebut ditegakan diagnosa pertama

tidak efektif berhubungan dengan Secret kental, upaya batuk

batuk efektif. Membersihkan secret dari mulut/trachea, lakukan penghisapan jika perlu. Mempertahankan asupan cairan 2500 ml per hari. Sejak 6 bulan terakhir klien mengatakan berat badan terjadi penurunan. Klien mengatakan makan 3x sehari, makanan diperoleh dari rumah sakit, dan makanan hanya habis porsi. IMT : 17.11 (underweight). Pada penderita tuberculosis paru biasanya mengeluh adanya anoreksia, nafsu makan menurun, badan kurus, berat badan menurun, karena adanya proses infeksi (Marilyn. E. Doenges, 1999). Berdasarkan data tersebut ditegakan diagnosa yang kedua yaitu Perubahan nurisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. Selain gejala batuk TB Paru dapat disertai dengan gejala dan tanda lain seperti penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan. Intervensi untuk mengatasi masalah tersebut yaitu Timbang BB pasien setiap hari . Kaji faktor yang menyababkan penurunan nafsu makan. Kaji tentang makanan kesukaan pasien. Dorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat. Ciptakan lingkungan yang bersih. Anjurkan untuk makan sedikit tapi sering, Monitor adanya penurunan berat badan. Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukanDorong dan berikan periode istirahat.Monitor turgor kulit, Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva. Monitor makanan kesukaan, serta mencatat adanya mual, muntah, nyeri/distensi lambung.

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN Tindakan persalinan sectio cesaria merupakan tindakan operasi yang menyebabkan nyeri dan mengakibatkan terjadinya perubahan kontinuitas jaringan karena adanya pembedahan. Resiko Sectio caesaria 25x lebih besar dibandingkan dengan persalinan melalui pervaginaan. Bahkan untuk satu kasus karena infeksi mempunyai angka 80x lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan pervagina. Diagnosa keperawatan utama yang muncul pada kasus Ny R adalah Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sputum yang kental dan Perubahan nurisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia Intervensi yang dilakukan untuk mengatasi masalah keperawatan yang terjadi pada Ny R antara lain mengajarkan klien batuk efektif,

mengajurkan klien minum air yang hangat tidak es. Mengajurkan klien untuk banyak beristirahat. Mengajurkan klien menghabiskan porsi makannya. Memonitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan. Mendorong dan berikan periode istirahat. Memonitor turgor kulit, Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva. Diharapkan setelah dilakukan tindaan keperawatan 3x24 jam bersihan jalan napas efektif dan kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi.

B. SARAN 1. Bagi pasien Pasien

2.

Bagi perawat Diharapkan perawat dapat merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan dengan tepat kepada pasien. Perawat juga dapat

mengajarkan teknik batuk efektif untuk memudahkan pasien mengeluarkan dahak/sputum, sertanya pendidikan kesehatan tentang pentingnya minum obat secara rutin agar tidak terjadi penyakit TB berulang, dan pendkes tentang pentingnya peran keluarga dalam pemantauan klien TB dalam minum obat.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenitto, L.J.(2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Alih bahasa, Monica Ester. Ed.8.Jakarta : EGC. Corwin, Elizabeth.J. (2000). Buku Brahm.U.Pendit. Jakarta : EGC. Saku Patofisiologi. Alih bahasa,

Danusantoso, Halim.(2000). Buku Saku Ilmu Penyakit Paru.Jakarta : Hipokrates. Depkes RI. (1998). Perawatan Kesehatan Masyarakat : Anduan Asuhan Keluarga dengan Kasus TB Paru, Kusta, Ibu Hamil Beresiko, Ibu Hamil Preeklamsi, Ibu Hamil Anemia, Balita KEP, Neonatal BBLR, Neonatal Beresiko, Tetanus Neonatorum.Jakarta : Depkes RI. Depkes RI. (1998).Buku Pedoman Kader Kesehatan Paru. Jakarta : Depkes RI. Depkes RI. (2001).Panduan Pengawas Menelan Obat TBC. Jakarta : Depkes RI. Depkes RI. Indonesia Peringkat Ketiga Penderita TBC (online). Tersedia di: http://www.depkes.go.id/index.php?option=news&taks=viewarticle&sid= 407&itemid=2. (23 Juli 2005). Erawati. Indonesia Peringkat Ketiga Penderita TBC (online). Tersedia di: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0209/24/jateng/indo26.htm. ( 23 Juli 2005). Long, C. Barbara. (1996). Perawatan Medikal Bedah 2. Terjemahan Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan. Bandung : Yayasan IAPK Pajajaran. Mahmoedin, Saharawati. Batuk Darah Tak Perlu Ditakuti (online). Tersedia di : http://www.tempointeraktif.com/2005/07/08/brk.20050708-62609.id.html. (23 Juli 2005). Rosjid, Imron. TBC (online). Tersedia di: http://www.nusaindah.tripod.com /kestbc.htm. (23 Juli 2005). Smeltzer, Suzanne. C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner&Suddart. Alih Bahasa Agung Waluyo. Ed.8. Jakarta : EGC. Soeparman, et.all. (1999). Ilmu Penyakit Dalam. Ed.3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Anda mungkin juga menyukai