Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Sejak dahulu, air minum, merupakan suatu kebutuhan yang sangat

penting oleh kita. Air minum tidak hanya menghilangkan rasa haus tetapi juga bermanfaat untuk kesehatan. Untuk memperoleh air minum ini sendiri tidaklah mudah, karena dibutuhkan suatu proses agar dapat dihasilkan air minum yang layak digunakan. Air minum yang layak digunakan haruslah memenuhi tiga persyaratan, yaitu kuantitas,kualitas dan kontiniuitas. Untuk dapat terpenuhi ke tiga persyaratan tersebut dibutuhkanlah suatu proses pengolahahan air minum yang baik, yaitu dengan adanya bangunan pengolahan air. Oleh karena itu, pada makalah ini akan dibahas tentang bangunan pengolahan air minum. Pengolahan air minum terdiri atas unit operasi dan unit proses pada makalah ini akan membahas tentang unit operasi yang terdiri dari intake dan screen.

1.2

Ruang Lingkup Masalah Ruang lingkup dari pembahasan masalah dalam makalah ini ialah segala

sesuatu yamg berkenaan dengan masalah pengolahan air minum yang memenuhi syarat kelayakan suatu air minum yaitu berdasarkan kualitas, kuantitas dan kontiniuitas.

1.3

Tujuan Penulisan Pada zaman sekarang ini, sangatlah penting mengetahui bagaimana cara

pengolahan air minum yang kita minum sehari-hari. Oleh karena itu, makalah ini ditulis bertujuan memberikan informasi kepada pembaca tentang cara pengolahan air minum dengan unit operasi yaitu intake dan sreen. Makalah ini akan memberikan beberapa informasi penting tentang unit operasi intake dan screen yang akan dibahas secara lengkap pada Bab II Pembahasan.

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Instalasi Pengolahan Air Bersih Air adalah salah satu kebutuhan utama bagi manusia, untuk kebutuhan

minum, mandi, cuci, masak, dan lainnya. Ketersediaan air bersih di sebuah kawasan sangatlah penting. Namun, mengingat bahwa tidak semua kawasan mendapatkan air bersih, maka perlu adanya pemerataan distribusi air bersih bagi masyarakat. Kriteria air bersih biasanya meliputi 3 aspek, yaitu kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Dalam usaha menyediakan air bersih, biasanya BUMN di Indonesia yang berkaitan dengan hal ini adalah PDAM Perusahaan Dagang Air Minum. Kadang ada yang menyindirnya sebagai Perusahaan Dagang Air Mandi, karena terkadang air yang didistribusikan tidak memenuhi kriteria air minum. Secara umum, skema pengolahan air bersih di daerah-daerah di Indonesia terlihat seperti pada gambar di bawah. Terdapat 3 bagian penting dalam sistem pengolahannya. 1. Bangunan Intake a. Intake (bangunan pengumpul air) b. Bar Screen (penyaring kasar) c. Bak Prasedimentasi (optional) 2. Water Treatment Plant a. Koagulasi b. Flokulasi c. Sedimentasi d. Filtrasi 3. Reservoir

Gambar 2.1 Proses Pengolahan Air Bersih

2.2

INTAKE Bangunan sadap (intake) merupakan bangunan penangkap atau

pengumpul air baku dari suatu sumber sehingga air baku tersebut dapat dikumpulkan dalam suatu wadah untuk selanjutnya diolah. Bangunan penyadap sangat penting dalam proses pengolahan air, jika bangunan penyadap mengalami kerusakan atau kesalahan maka keseluruhan instalasi pengolahan air akan terganggu (Kawamura, 1991). Beberapa lokasi intake pada sumber air yaitu intake sungai, intake danau dan waduk, dan intake air tanah. Jenis-jenis intake, yaitu intake tower, shore intake, intake crib, intake pipe atau conduit, infiltration gallery, sumur dangkal dan sumur dalam (Kawamura, 1991).

Secara umum fungsi dari bangunan intake adalah sebagai berikut : Mengumpulkan air dari sumber untuk menjaga kuantitas debit air yang dibutuhkan oleh instalasi. Menyaring benda-benda kasar dengan menggunakan bar screen. Mengambil air baku sesuai debit yang diperlukan instalasi pengolahan yang direncanakan demi menjaga kontinuitas penyediaan dan pengambilan air dari sumber. Kriteria yang harus diperhatikan dalam pembuatan intake yaitu: Tertutup untuk mencegah masuknya sinar matahari yang memungkinkan tumbuhan atau mikroorganisme hidup di dalamnya. Harus kedap air untuk mencegah terjadinya kebocoran. Intake dekat dengan permukaan air untuk mencegah masuknya suspended solid. Bangunan harus didesain untuk menghadapi keadaan darurat. Mampu mengatasi fluktuasi muka air. Intake yang dibangun harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain: Kehandalan dalam menyediakan air secara kontinu, Keamanan dalam beroperasi dan pembiayaan yang minimum, Kapasitas intake harus mampu melayani kebutuhan maksimum harian. Menurut Al-Layla (1978), beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam penentuan lokasi intake yaitu : Area sekitar intake harus bebas dari halangan atau rintangan. Intake harus berlokasi pada tempat dimana tidak akan terjadi aliran deras yang memungkinkan intake rusak sehingga berakibat pada penyediaan air baku yang tersendat. Intake harus berada di bagian upstream (hulu) suatu sungai sehingga aman dari pencemaran, Posisi intake yang benar agar air baku dapat disadap secara konstan sesuai dengan kebutuhan baik pada musim kemarau maupun pada musim hujan. Tanah di daerah intake harus stabil. Untuk menghindari kemungkinan kontaminasi, intake harus berlokasi beberapa jauh dari bak.

Bagian-bagian dari suatu intake pada umumnya tergantung pada kebutuhan dan kondisi dimana intake tersebut didirikan, umumnya elemen-lemen intake terdiri atas: 1. Bangunan intake Umumnya memiliki konstruksi beton bertulang (reinforced concrete) agar memiliki ketahanan yang baik terhadap kemungkinan hanyut oleh arus sungai. 2. Inlet intake Inlet intake dapat berupa saluran segi empat atau bundar yang dilengkapi dengan bar screen untuk menyaring material kasar. 3. Saringan halus (Strainer) Berfungsi untuk menyaring material yang mengapung dan ikan-ikan kecil yang dapat menghambat penghisapan air baku pada ujung pipa. 4. Suction well (intake well) Adalah bangunan penampung air baku yang akan dihisap oleh pompa atau dialiri secara gravitasi. Intake well harus cukup lebar agar mudah dimasuki oleh operator saat melakukan pembersihan. Waktu detensi yang dianjurkan adalah kurang dari 20 menit. 5. Pipa backwash Berfungsi untuk melakukan pengurasan intake well saat endapan pasir dan material lain sudah menumpuk, biasanya dilengkapi dengan valve penguras. 6. Pompa hisap dan ruangan pompa Berada diatas sumur intake dengan jarak minimal 1,5 m dari muka air. Ruangan pompa harus cukup lebar dan nyaman untuk dimasuki oleh operator saat melakukan pengontrolan dan pembersihan.

Tabel 2.1 Kriteria Desain Intake Keterangan Kemiringan Bar Diameter Bar Kecepatan Aliran Sumber : Qasim,1975 Satuan C Inchi m/dtk Kriteria Desain 40 60 0,5 1 0,3 0,6

Bangunan intake, coarse dan fine screen harus dibangun di lokasi yang tidak akan terjadi banjir. Selain itu harus aman dari gerusan dan deposisi endapan. Coarse yang digunakan sebagai fine screen harus tersedia agar material yang terapung tidak memasuki sistem. Mengingat adanya fluktuasi pada permukaan air sungai, inlet harus dipasang pada berbagai variasi. Jika fluktuasi pada musim kemarau dan penghujan sangat tinggi dan sungai menjadi selalu hampir kering saat kemarau, air harus disimpan dengan membangun ambang kecil di seberang sungai. Ditinjau dari air baku yang akan di ambil maka intake dibedakan menjadi : 1. Reservoir Intake (Intake Tower/dam) Reservoir intake digunakan untuk air baku yang diambil dari danau, baik yang alamiah atau buatan (beton). Bangunan ini dilengkapi dengan beberapa inlet dengan ketinggian yang bervariasi untuk mengatasi adanya fluktuasi muka air. Dapat juga dibuat menara intake yang terpisah dengan dam pada bagian upstream. Jika air dibagian reservoir dapat mengalir secara gravitasi ke pengolahan, maka tidak diperlukan pemompaan dari menara. Lokasi Sedekat mungkin dengan tepian air namun ditempatkan dimana kedalaman air minimum 10 ft (3 m) dengan pengecualian intake berukuran kecil. Bentuk dan Ukuran Bagian puncak tower mempunyai ketinggian minimal 5 ft (1,5 m) diatas permukaan air tertinggi. Jembatan penghubung juga mempunyai ketinggian yang sama. Diameter dalam tower harus cukup besar untuk meletakkan dan memperbaiki pintu intake dan pompa. Struktur Material yang dipergunakan untuk membangun tower harus kuat dan tahan lama seperti ranforced concread dan harus dibangun diatas pondasi yang kokoh.

Gambar 2.3 Sketsa Intake Tower Gambar 2.2 Intake Tower Intake Tower terletak pada bagian pelimpahan atau dekat sisi bendungan. Pondasi menara (tower) terpisah dari bendungan dan dibangun pada bagian hulu. Menara terdiri atas beberapa inlet yang terletak pada ketinggian yang bervariasiuntuk mengantisipasi fluktuasi tinggi muka air dapat mengalir secara gravitasi ke fasilitas penjernihan air, maka intake tower tidak diperlukan.

2.

River Intake Digunakan untuk menyadap air baku yang berasal dari sungai atau danau.

Gambar 2.4 Sketsa River Intake

River Intake terdiri atas sumur beton berdiameter 3 6 m yang dilengkapi 2 atau lebih pipa besar yang disebut penstock. Pipa-pipa tersebut dilengkapi dengan katup sehingga memungkinkan air memasuki intake secara berkala. Air yang terkumpul dalam sumur kemudian dipompa dan dikirim kedalam instalasi pengolahan. River Intake terletak pada bagian hulu kota untuk menghidari pencemaran oleh air buangan.

3.

Shore Intake

Gambar 2.5 Shore Intake Lokasi Ditempatkan pada ketinggian air minimum 6 ft (1,8m). Tipe Shore intake tipikal tipe sumur shipon, tersuspensi, terapung,tergantung situasi. Struktur Tergantung tipe intake, tetapi pada dasarnya sama dengan intake tower.

3.

Lake Intake Lake intake dipakai apabila muka air dari air baku sangat dalam. Bentuk

ini lebih mahal biayanya dibandingkan tipe lainnya. Lake Intake terdiri atas satu atau lebih pipa bell-mouthed yang dipasang di dasar danau. Bell-mouthed ditutup dengan saringan (screen). Sebagai penyangga pipa dibuat jembatan yang menghubungkan pipa dari danau menuju tempat pengolahan air. Tipe intake ini dapat dipakai dalam kondisi :

Sumber air dalam misal sungai dan danau Tanggul sangat resisten terhadap erosi dan sedimentasi.

Gambar 2.6 Lake Intake (www.thinkorthwim.com)

4.

Canal Intake Dipakai bila air baku disadap dari kanal. Suatu bak memiliki bukaan

dibangun pada satu sisi pada tanggul kanal, yang dilengkapi saringan kasar. Dari bak air dialirkan melalui pipa yang memiliki ujung berbentuk bell mouth yang tertutup saringan parabola.

Gambar 2.7 Canal Intake (www.iecca.net)

Canal Intake terdiri atas sumur beton yang dilengkapi dengan pipa bellmouthed yang terpasang menghadap ke atas. Terdapat saringan halus pada bagian atas untuk mencegah masuknya ikan-ikan kecil dan benda-benda terapung. Ruangan juga dilapisi dengan saringan dari kerikil.

5.

Intake Crib

Gambar 2.8 Intake Crib

Gambar 2.9 Sketsa Crib Intake

Lokasi Lebih dari 10 ft (3 m) dari permukaan dan terletak dilokasi dimana intake Crib tidak akan terbenam oleh sedimen, terbawa aliran atau terganggu oleh es. Struktur Terletak pada area dimana ketinggian air lebih dari 10 ft. Puncak intake harus berada 3 ft dari dasar. Jika ketinggian air < 10 ft Crib harus diletakkan dibawah dasar sungai sejauh 1 3 ft. Semua sisi harus dilindungi dengan tembok, batu atau lempengan beton. Kecepatan maximum aliran yang lewat 0,25 - 0,5 fps (0,08 - 0,15 m/s). Intake juga dilengkapi dengan beberapa perlatan penunjang, antara lain. 1. Pipa inlet, berfungsi untuk membawa air masuk ke dalam intake. 2. Gate valve, berfungsi untuk mengatur debit aliran air dengan jalan membuka dan menutup aliran. 3. Screen, berfungsi untuk menyaring kotoran atau suspended solid yang mungkin terbawa dalam air. 4. Overflow, berfungsi untuk mengeluarkan kelebihan air sehingga tinggi muka air dalam bak tetap konstan. 5. Ventilasi, berfungsi menjaga tekanan udara dalam intake agar selalu sama dengan tekanan udara luar. 6. Pompa, berfungsi untuk menaikan air dari sumber. 7. Drain, berfungsi untuk menguras. 8. Bak mom, berfungsi untuk membubuhkan desinfektan. 9. Pipa outlet, berfungsi untuk membawa air keluar dari intake. 10. Ruang operator

Jenis bangunan intake sangat tergantung dari lokasi sumber air bakunya, juga faktor biaya baik biaya kontruksi, operasional maupun pemeliharaannya. Selain itu juga tergantung dengan tingkat sedimentasi dari lokasi sumber air baku. Faktor estetis juga bisa menjadi pertimbangan. Kombinasi dari beberapa tipe bangunan intake juga bisa dilakukan untuk mengakomodir kondisi di lapangan.

10

2.3

Screen Kata screen, menurut kamus ada banyak padanannya seperti kasa, layar,

tabir, sekat, saring, tapis, dll. Padanan dalam bahasa Inggris pun banyak seperti ditulis di paragraf kedua di bawah ini. Juga dapat disinonimkan dengan filter kalau dilihat dari mekanisme operasinya. Kata filter, khususnya dalam teknologi pengolahan air minum dan air limbah, sebaiknya tidak diterjemahkan menjadi saringan. Rapid sand filter hendaklah tetap disebut filter pasir cepat, bukan saringan pasir cepat untuk menghindari salah tafsir (persepsi) dengan sinonim kata lainnya. Screen merupakan penyaring atau penahan yang terbuat dari batangbatang besi tegak. Pada screen, partikel-partikel akan mengambang, bahkan sampah dan benda terapung lainnya yang mungkin ada di tempat penyadapan, terutama dibangunan sadap sungai dapat disishkan. Cara penyisihannya yaitu dengan melewatkan air pada screen sehingga partikel yang tidak digunakan dapat tertahan screen itu. Letak screen berada pada struktur intake, reservoir dan sungai. Screen mempunyai bukaan/opening yang umumnya berukuran seragam, materinya berupa bar (batang), wire (kawat), grating,perfored plate; berbentuk lingkaran ataupun segiempat. Screen dari paralel bars atau rods disebut : rack yang fungsinya untuk melindungi pompa pompa, valve, pipa dan instalasi lainnya. Istilah screen dikhususkan untuk perforated plate dan wire chlot.

Gambar 2.10 Sketsa Screen

11

Pada pengolahan air minum, screen ini ditempatkan di bangunan intake (sadap) air baku. Karena airnya berasal dari danau atau sungai maka biasanya banyak berisi sampah atau serpihan material yang melayang dan terapung seperti kayu, bambu, daun, plastik, kain, ranting, dll. Sampah ini tidak boleh masuk ke dalam IPAM dan/atau IPAL karena dapat merusak alat-alat mekanis dan menyumbat pipa atau lubang-lubang perforasi pipa. Oleh sebab itu, akumulasi sampah harus segera disisihkan, baik secara manual maupun mekanis. Pembersihan manual diterapkan di instalasi yang sampahnya sedikit sebaliknya cara mekanis diterapkan di instalasi yang banyak sampahnya. Screen, secara visual memang tampak sederhana, terutama screen yang dibuat di instalasi kecil. Di beberapa intake milik PDAM malah seolah-olah dilalaikan, nyaris ditelantarkan. Patutlah diakui, pembuatan screen terutama yang manual memang sederhana dan mudah, bahkan bisa dibuat oleh orang awam. Tukang bangunan pun sering memasang screen batang di selokan dekat pekerjaannya untuk memperoleh air yang bebas sampah. Tak ada satu rumus pun yang mereka pelajari. Namun dapat diduga screen buatan mereka boleh jadi tidak optimal karena terlalu kecil atau terlalu besar. Screen yang memenuhi syarat dan bisa dipertanggungjawabkan secara teoretis dan praktis dibuat dengan mengikuti tatacara desain dan kalkulasi matematisnya.

Berikut beberapa jenis screen yang digunakan, antara lain : Bar Screen

Gambar 2.11 Sketsa Bar Screen Bar screen adalah unit operasi yang pertama-tama dijumpai dalam bangunan pengolahan air limbah. Saringan ini pada prinsipnya adalah suatu peralatan dengan bukaan, yang biasanya seragam dalam ukurannya,

12

dan digunakan untuk menahan benda-benda kasar yang terdapat dalam air limbah. Bar screen berfungsi untuk menahan dan menyaringbenda-benda keras dan besar seperti ranting kayu, potongan kayu dan sampah dan mencegah rusaknya saringan berikutnya. Jarak antar saringan bar dibagi menjadi 50 mm sampai 150 mm untuk benda kasar, jarak 20 mm samapi 50 mm untuk benda medium dan untuk benda halus 10 mm.

Tabel 2.2 Kriteria Desain Bar Screen Keterangan Jarak bukaan antar batang (b) Lebar penampang batang (w) Kedalaman batang (P) Sudut kemiringan batang kecepatan aliran melalui kisi (Vs) Volume material (V) Kedalaman (y) Lebar saluran (L) Koefisien Manning Slope Sumber : Qasim,1975 Satuan mm mm mm C m/dtk m m m m/m
3

Kriteria Desain 25 75 4 -8 25 50 45 60 0,3 1,2 3,5 8,0 0,16 2 0,32 0,4 0,013 0,001

Seluruh aspek screening, mulai dari tahap removal, transport, dan disposal, haruslah mempertimbangkan : a. Kemampuan penyaringan dalam menahan benda-benda atau meterial; b. Keselamatan dan kesehatan operator, karena pada penyaringan terdapat organisme patogen dan kemungkinan terjadi serangan serangga; c. Potensial bau yang terjadi (odor potential); d. Persyaratan yang dibutuhkan dalam perawatan, pengangkutan, dan pembuangan; e. Pemilihan tempat dalam proses pembuangan.

13

Untuk tipe saringan (screen) coarse screens dan fine screens digunakan pada tahap pengolahan pendahuluan (preliminary treatment) Umumnya Elemen pada saringan (screen) terdiri dari : a. Parallel bar (batang paralel); b. Rods or wires(tangkai atau kawat); c. Grating (jeruji); d. Wire mesh (lubang kawat); e. Perforated plate (piringan berlubang) dan; f. Opening (pembuka) dengan berbagai bentuk, umumnya dengan slot bundar (circular) atau empat persegi panjang (rectangular).

Saringan (screen) yang disusun dengan batang parallel (parallel bar) sering disebut dengan nama Bar Rack atau coarse screen yang digunakan untuk menyaring padatan kasar.

Dalam Pengolahan air limbah Bar Rack berfungsi : a. Melindungi pompa, valve, pipa dari kemungkinan rusak dan tersumbat oleh kehadiran benda-benda kasar yang terbawa aliran; b. Untuk limbah industri, mungkin tidak memerlukan peralatan ini, tergantung karakteristik air limbahnya. Travelling Screen Saringan bergerak (travelling screen) diletakkan di belakang saringan bar rak kasar dengan lubang berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran antara 0,9 cm sampai 1,25 cm untuk mencegah ranting daun, ikan mati dan sisa batang kayu. Saringan Kasar Saringan kasar (coarse screen) berfungsi untuk menahan dan menyaring benda padat keras dengan ukuran lebih kecil yang mungkin lolos dari saringan bar. Saringan kasar digunakan pula untuk menyaring pasir dan kerikil agar tidak meruska pompa pada proses selanjutnya. Saringan kasar diusahakan memilki panjang dan lebar saringan sekitar 1,25 cm x 1,25 cm

14

Prinsip dasar dilakukannya penyaringan benda kasar (coarse screen) adalah : a. Menjaga agar tidak terjadi kerusakan pada peralatan; b. Mengurangi kemungkinan pengolahan air yang kurang efektif; c. Menghindari terjadinya kontaminasi pada jalan air. Saringan Halus Saringan halus (fine screen) memiliki ukuran saringan antara 1,5 mm sampai 6,0 mm. Saringan halus berfungsi untuk menyaring benda-benda padat halus yang mungkin masih terbawa oleh air dari saringan kasar misalnya pasir, batuan kecil, dan kerikil.

Penyaringan benda halus (fine screen) bertujuan untuk : a. Melindungi proses peralatan atau, b. Menghilangkan material yang menghambat penggunaan kembali biosolid. Saringan Mikro Saringan mikro (microscreen) memiliki lubang saringan ukuran 0,001 mm samapi 0,3 mm. Saringan mikro baiasanya digunakan untuk menyaring bendabenda padat halus yang berasal dari air tanah.

15

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN Untuk memperoleh air minum yang layak memerlukan suatu proses pengolahan air minum. Dalam melakukan proses pengolahan dibutuhkan bangunan pengolahan air minum yaitu salah satunya dengan menggunakan unit Intake dan Screen. Intake merupakan bangunan penangkap atau pengumpul air baku dari suatu sumber sehingga air baku tersebut dapat dikumpulkan dalam suatu wadah untuk selanjutnya diolah. Bangunan intake sangat penting dalam proses pengolahan air. Pada makalah, telah dijelaskan bagaimana cara kerja dari bangunan intake tersebut serta fungsi dan jenis-jenis dari bangunan itu sendiri yang penggunaannya sesuai dengan kebutuhan dan kondisi dimana intake tersebut didirikan Sementara sreen merupakan suatu penyaring atau penahan, yang mana letaknya berada pada struktur intake, reservoir dan sungai. Pada makalh juga telah menjelaskan cara kerja,fungsi dan jenis-jenis screen tergantung pemakaian dan kebutuhannya.

SARAN Dengan makalah ini, pembaca diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan tentang cara mengetahui pengolahan air minum. Sehingga, dengan mengetahui cara pengolahan tersebut, kedepannya pembaca dapat

mempraktikkannya langsung ke dunia nyata. Kita sebagai Sarjana Teknik Lingkungan sangat diperlukannya suatu skill tentang cara pengolahan, terutama apabila kita akan bekerja disuatu perusahaan yang berhubungan dengan pengolahan air. Dengan mengetahui awal mula dari pengolahan air minum, kita dapat dengan mudah mempraktikkannya di dunia kerja nanti.

16

DAFTAR PUSTAKA

Hofkes.(1981).Small

Community

Water

Supplies.UK,Mc

Graw

Hill

Peavy,Rowe,Tchobanoglous. (1986).Enviromental Engineering.UK,Mc Graw Hill Nhamo Masanganise. Surface Water Intake And Small Dams. Slide kuliah Rekayasa Lingkungan Departemen Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB 2009 oleh Ibu Dewi Kania. Skinner, Brian (2008). Small Scale Water Supply. India : Practical Action Publishing http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2011/12/26/pengelolaan-air-sungaisebagai-sumber-pasokan-air-bersih/ http://aryansah.wordpress.com/2010/12/03/instalasi-pengolahan-air-bersih/ http://fzan721.wordpress.com/2011/06/10/floating-intake/ http://fzan721.wordpress.com/2011/06/10/floating-intake/ http://callmecrysant.wordpress.com/tag/coarse-screen/ Sumber : Pedoman Pengenalan SPAM - Kemenpu BPPSPAM http://aladintirta.blogspot.com/2011/03/bangunan-penangkap-sumber-sumberair_30.html http://ketutgiri.wordpress.com/2009/10/25/instalansi-pengolaha-air-minumdarimana-air-pdam-berasal/ http://bennysyah.edublogs.org/2006/12/14/salahkah-bersikap-keras-dalamdakwah-4/
http://bulekbasandiang.wordpress.com/2009/03/26/intake/ http://fzan721.wordpress.com/2011/06/10/floating-intake/ http://aryansah.wordpress.com/2010/12/03/instalasi-pengolahan-air-bersih/

17