Anda di halaman 1dari 16

Makalah

KRITIK TERHADAP MODERNISME Studi Komparatif Pemikiran Jurgen Habermas dan Seyyed Hosein Nasr

Oleh : Adi Firdaus Nurmawan 20010010041 Kelas C

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

Jl. Purnawarman No. 59 Bandung - 40116 Telp. 022-4203368 Pes. 148-149 Fax. 022-4219134 http://pasca.unisba.ac.id - email : pascasarjana@unisba.ac.id

KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Sang Illahi Robbi yang mana atas berkat dan RahmatNyalah kami bisa menyelesaikan makalah ini, tak lupa sholawat dan salam marilah kita limpah curahkan kepada Guru besar kita Yakni Nabi Muhammad SAW, tanpa adanya beliau mungkinkah kita terbebas dari zaman kebodohan. Dalam makalah ini penulis membahas Kritik Terhadap Modernisme,Studi Komparatif Pemikiran Jurgen Habermas Dan Seyyed Hosein Nasr. Makalah ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi bagi yang membutuhkan baik bagi dunia pendidikan ataupun para akademisi yang ingin meningkatkan atas pengetahuanya walaupun dengan segala keterbatasanya artikel ini dalam memberikan informasi, apabila ada kesalahan dalam artikel ini kami mohon maaf yang sebesar besarnya, karena kealpaan, kehilafan itu adalah sifat manusia yang nyata didunia, maka segala saran dan kritik yang sifatnya membangun demi kemajuan, sangat kami harapkan. Akhir kata dari penulis mengucapkan banyak terima kasih. Wasalamualaikum wr.bb.

Cianjur, Juni 2011

Penulis

Latar Belakang Masalah Positivisme secara etimologi berasal dari kata positive, yang dalam bahasa filsafat bermakna sebagai suatu peristiwa yang benar-benar terjadi, yang dapat dialami sebagai suatu realita. Ini berarti, apa yang disebut sebagai positif bertentangan dengan apa yang hanya ada di dalam angan-angan (impian), atau terdiri dari apa yang hanya merupakan konstruksi atas kreasi kemampuan untuk berpikir dari akal manusia. Dapat disimpulkan pengertian positivisme secara terminologis berarti merupakan suatu paham yang dalam pencapaian kebenarannya bersumber dan berpangkal pada kejadian yang benar-benar terjadi. Segala hal diluar itu, sama sekali tidak dikaji dalam positivisme. Abad ke-19 merupakan abad yang sangat dipengaruhi oleh filsafat positivisme, dan pengaruh itu terutama sangat terasa di bidang ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, di dalam sejarah filsafat Barat, orang sering menyatakan bahwa abad ke-19 merupakan Abad Positivisme, yaitu abad yang ditandai oleh peranan yang sangat menentukan dari pikiran ilmiah atau yang disebut ilmu pengetahuan modern. Positivisme memisahkan agama dengan berbagai bidang kehidupan, pemikiran berdasarkan agama yang kurang realistis dianggap sebagai pemikiran yang kuno dan harus ditinggalkan. Positivisme menjadi ciri utama modernisasi abad-19 yang didorong faktor empiris seperti munculnya Kapitalisme, Negara Nasionalis yang terpisah dari Agama. Era modern yang dibangun dengan positivisme ini menciptakan manusia menjadi semakin rasional dan tekonologis. Rasionalis yang meyakini objektivitas itu memiliki dunia tersendiri. Positivisme juga mengatarkan kepada era saintisme, yaitu saintifikasi berbagai hidup dan menjadikan manusia hanya sebagai objek pengetahuan. Kaum positivis menyatakan bahwa ilmu harus bersifat bebas nilai (value free) agar tercipta objektivitas ilmiah. Tokoh Kontemporer Jurgen Habermas dan Seyyed Hossein Nasr mengkritik pandangan kaum positivis tersebut, sebab tidak saru pun jenis ilmu pengetahuan di dunia ini yang dapat membebaskan diri dari nilai-nilai. Pada kenyataannya ilmu pengetahuan jenis apapun terikat pada nilai (value loaded), maka ilmu pengetahuan selayaknya dibangun atas nilai. Perumusan masalah
y y

Bagaimana kondisi sosial, budaya dan politik yang melatarbelakangi munculnya gagasan kritik Habermas dan Nasr terhadap modernisme? Bagaimana persamaan pemikiran kritik antara Habermas dan Nasr tentang modernisme?

y y

Bagaimana perbedaan pemikiran kedua tokoh tersebut? Bagaimana implikasi pemikiran kedua tokoh tersebut?

Kerangka teori yang digunakan dalam buku ini adalah dengan meminjam teori paradigma Thomas S.Kuhn yaitu dengan teori revolusi pengetahuan yang mengaitkan antara sain yang normal-anomali-krisis-paradigma baru. Diposisikan disini modernisme sebagai sain normal, anomali krisis adalah cacat-cacat modernisme yang tidak bisa menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi masa kini, dan pemikiran Jurgen Habermas dan Seyyed Hossein Nasr sebagai paradigma baru.

modernisme (sain normal)

anomali (cacat modernisme)

paradigma baru (pemikiran Habermas & Nasr)

Kondisi Sosial Politik Intelektual di German 1. Revolusi agamis hubungan antara Renaissance dan Reformasi Reformasi dan Renaissance merupakan produk dari gerakan individualisme yang kuat yang menimbulkan kekacauan pada tatanan kehidupan pada abad keempatbelas dan kelimabelas. Keduanya timbul dilatarbelakangi faktor ekonomis sebagai akibat dari kapitalisme yang melahirkan kaum borjuis. Reformasi maupun Renaissance memiliki ciri yaitu kembali kepada sumber yang asli. Reformasi kembali kepada doktrin-doktrin gereja sedangkan Renaissance kembali kepada kejayaan Yunani dan Romawi. Esensi Renaissance adalah menikmati hidup ini dan masa bodoh terhadap supra-alami sedangkan Reformasi adalah ukhrawi dan benci terhadap segala sesuatu yang bersifat jasmani, karena dianggap sangat rendah dibandingkan dengan rohani. Renaissance didukung oleh kaum humanis yang berusaha untuk membangkitkan kemabali Yunanai dan soal-soal kuno Romawi, sedangkan kaum Reformis Gereja kembali kepada ajaran Paulus dan Augustinus yang menolak ide kaum humanis. Revolusi protestan pertama kali dimulai di Jerman karena ketika itu jerman lebih terbelakang dalam pengetahuan, ekonomi dan teknologi dibanding negeri lain, Renaissance belum banyak berpengaruh di Jerman yang masyarakatnya lebih agamis dibanding masyarakat di negeri lain.

2. Aufklarung (pencerahan) Aufklarung adalah jaman penemuan dan emansipasi. Periode tentang pergerakan (kemajuan) budaya dan intelektual di Barat. Kesusastraan, artistik dan filsafat merupakan ciri utama yang menandai abad transisi dari abad pertengahan ke abad modern. Terdapat perbedaan yang mencolok antara abad-17 dan abad ke-18. Abad ke-17 manusia membatasi diri pada usaha memberikan tafsiran baru terhadap kenyataan bendawi dan rohani yaitu kenyataan mengenai manusia, dunia dan Tuhan. Akan tetapi abad ke-18 mereka menganggap dirinya mendapat tugas untuk meneliti secara kritis (sesuai dengan kaidah-kaidah yang diberikan akal) segala realita yang ada, baik di dalam negara, masyarakat, bidang ekonomi, bidang hukum, agama, pengajaran dan pendidikan dan lain sebagainya. Jga orang tidak takut untuk mengemukakan pendapat dalam bentuk celaan yang sederhana atau tajam. 3. Kritik terhadap tradisi Fase pencerahan (Aufklarung) di Jerman kemungkinan diawali oleh Christian Thomasius (1655-1728), G.W. Leibniz (1646-1716) yang disebut sebagai ahli pikir modern di Jerman, dan bapak filsafat bagi filsof Jerman, kemudian ada Christian Wolff (1679-1754) yang berusaha menjadikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang pasti dan berguna dengan bukti-bukti, pengertian yang jelas dan kuat. Kemudian ada Immanuel Kant (1724) yang berhasil keluar dari kekuatan besar pada saat itu yaitu empirisme dan dogmatisme. Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan manusia dan pengetahuan itu benar jika didukung oleh pengalaman, akan tetapi pengalaman itu hanya sebuah kenyataan yang tidak semua gejalanya dapat diselidiki. Berbeda dengan empirisme, dogmatisme menerima dan percaya seluruh kemampuan akal dan rasio, aliran ini berlanjut menjadi rasionalisme yang menyatakan bahwa akal manusia dapat menembus semua pengetahuan. Immanuel Kant memandang bahwa akal merupakan sesuatu yang tinggi namun memiliki keterbatasan pada bidang metafisis. Filsafat Kant disebut kritisisme, bermaksud membeda-bedakan antara pengenalan hal murni dan tidak murni yang tidak memiliki kepastian. Kant memberikan ciri kepada pemikiran Jerman dengan metafisika yang rasional atau etika rasional. Kemudian gerakan filsafat Jerman dibawa oleh G.W.F. Hegel yang terkenal hingga luar Jerman karena filsafat idealisme nya. Idealisme adalah suatu pandangan dunia atau metafisik yang mengatakan bahwa realitas dasar sangat erat

hubungannya dengan ide, pikiran dan jiwa. Idealisme memandang dunia memiliki dengan dua jalan yaitu dunia dipahami dengan hukum pikiran dan dunia dipahami dengan metode ilmu objektif. Filsafat Hegel terkenal dengan istilah dialektika yang artinya kesadaran bahwa setiap bentu atau momen dalam isolasinya adalah tidak benar, maka memanggil penyangkalannya dan dalam adri ini juga memuatnya dimana penyangkalan itu sendiri lalu perlu disangkal, dst. Tradisi kritik lalu dilanjutkan oleh Karl Marx yang keluar dari pengaruh Hegel dan mengkritisi pemikiran Feurbach. Marx bertolak dari dialektika Hegel dan filsafat manusia Feurbach. Marx memikirkan pembebasan manusia dari segala keterasingan. Keterasingan yang menunjukkan wajahnya yang paling buruk dalam keadaan tak manusiawi kaum buruh upahan kapitalisme. Perbedaan Marx dengan terdahulunya yaitu dampak pada kehidupan politik. Filsafat Marx dijadikan ideologi oleh partai buruh yang kemudian dikenal dengan Marxisme. 4. Gerakan revisi positivisme Gerakan ini digerakan oleh kelompok Lingkaran Wina (Wiener Kreis, Vienna Circle) yaitu sarjana-sarjana ilmu pasti dan alam di wina. Gerakan ini sering disebut neopostivisme, positivisme logis atau empirisme logis. Pandangan mereka dipengaruhi empirisme dan positivisme, ilmu empirik dan logika simbolik. Pandangan mereka adalah hanya ada satu sumber saja yakni pengalaman yang menghasilkan data indrawi, akan tetapi mereka tetap mengakui adanya dalil-dalil logika dan matematika yang tidak dihasilkan dari pengalaman. 5. Mazhab Frankfurt dan Marxisme Mazhab Frankfurt (Die Frankfurter Schule) digunakan untuk menunjukkan sekolompok sarjana yang bekerja pada Institut fur Sozialforschung (Lembaga Penelitian Sosial). Kebanyakan anggota kelompok ini bersimpati terhadap Marxisme bahkan diantaranya menjadi anggota partai Komunis Jerman. Salah satu anggotanya adalah Jurgen Habermas yang dilahirkan di Gummersbach tahun 1929. Habermas terkenal dengan filsafat kritis yang terisnpirasi dari pemikiran Marx. Ciri filsafat kritis adalah bahwa ia selalu berkaitan erat dengan kritik terhadap hubungan sosial yang nyata. Pemikiran kritis mereflesikan masyarakat serta dirinya sendiri dalam konteks dialektika struktur-struktur penindasan dan emansipasi.

Kondisi Sosial-Politik dan Intelektual di Persia (Iran) 1. Kondisi sosial-politik Sejak awal sejarah Islam, Persia adalah salah satu negeri sufisme, dimensi Islam yang esoteris dan mistis, berkembang dengan pesat dan mengekspresikan dirinya dalam bentuk sastra dan artistik yang mengagumkan. Kehidupan sosial masyarakat persia yang relijius dalam keseharian yang didominasi oleh Islam Syiah. Pada masa Reza Syah dan Muhammad Reza Syah Pahlevi kehidupan sosial-budaya mengalami pergeseran cukup tajam, yaitu bergerak ke arah sekuler, dimana kehidupan agama yang sudah kental dalam masyarakat muslim Iran yang religius-spiritual dicoba untuk diarahkan kepada hal yang bersifat matearialissekuler. Ketika itu Iran menjadi kawasan yang diperhitungkan di Timur Tengah juga di Dunia. 2. Kondisi Intelektual Kondisi intelektual di Persia mengalami pasang surut. Surut ketika abad ke-5 H/ 11 M akan tetapi mulai bangkit kembali pada abad ke-7 H/ 13 M yaitu masa Nashirudin Thusi yang menghidupkan kembali filsafat Islam. Pada periode Dinasti Qajar Kota Teheran menjadi pusat studi filsafat Islam, namun setelah perang dunia kedua Qum menjadi pusat pengajaran filsafat Islam penting. Filsafat Islam tradisional yang telah lama di Iran tidak terpengaruhi secara signifikan oleh filsafat-filsafat barat yang diajarkan di universitas-universitas di Iran. Pada perkembangannya di Iran muncul term Rausyan Fikr yang dicetuskan oleh tokoh Iran aliran sekularisme. Term tersebut digunakan kepada tokoh agama yang revolusioner dengan penambahan alim sebelum terjadi revolusi pada tahun 19781979. 3. Khazanah Filsafat Islam di Persia (Iran) Filsafat Islam sebagai filsafat tradisional didasarkan pada akal supraindividual daripada opini individualistik. 4. A 5. Latar belakang Internal dan Eksternal Seyyed Hossein Nasr Seyyed Hossein Nasr dilahirkan di Teheran Iran pada tanggal 7 April 1933. Ia berasal dari keluarga ulama dan dibesarkan dalam tradisi Syiah tradisional, yang merupakan faham dominan di Iran. Nasr dilahirkan ketika kondisi politik Iran sedang masa ketegangan antara penguasa (Dinasti Pahlevi) dan para ulama. Ayahnya seorang dokter baik secara tradisional maupun modern dan tercatat sebagai seorang penyair.

a. Masa-masa belajar Sebelum pindah ke Amerika untuk belajar formal ilmu modern pada umur tahun, Nasr memperoleh pendidikan tradisional di Iran. Pendidikan tradisional ini diperoleh secara informal dan formal. Pendidikan informalnya dia dapat dari keluarganya, terutama dari ayahnya. Sedangkan pendidikan tradisional formalnya diperoleh di madrasah Teheran. Selain itu oleh ayahnya dia juga dikirim untuk belajar di lembaga atau madrasah pendidikan di Qum yang diasuh Allamah Thabathabai untuk belajar filsafat, teologi dan tasawuf. Ia juga diberi pelajaran tentang hafalan al-Quran dan pendidikan tentang seni Persia klasik. Obsesi Valiullah Nasr agar Hossein Nasr menjadi orang yang memperjuangkan kaum tradisional dan nilai-nilai ketimuran dimulai dengan memasukkkan Hossein Nasr ke Peddie School di Hightstown, New Jersey lulus pada tahun 1950. Kemudian melanjutkan ke Massacheusetts Institute of Technology (MIT). Di institusi pendidikan ini Nasr memperoleh pendidikan tentang ilmu-ilmu fisika dan matematika teoritis di bawah bimbingan Bertrand Russel yang dikenal sebagai seorang filosof modern. Nasr banyak memperoleh pengetahuan tentang filsafat modern. Selain bertemu dengan Bertrand Russel, Nasr juga bertemu dengan seorang ahli metafisika bernama Geogio De Santillana. Dari kedua ini Nasr banyak mendapat informasi dan pengetahuan tentang filsafat Timur, Khususnya yang berhubungan dengan metafisika.Dia diperkenalkan dengan tradisi keberagamaan di Timur, misalnya tentang Hinduisme. Selain itu Nasr juga diperkenalkan dengan pemikiran-pemikiran para peneliti Timur, diantaranya yang sangat berpengaruh adalah pemikiran Frithjof Schuon tentang perenialisme. Selain itu juga berkenalan dengan pemikiran Rene Guenon, A. K. Coomaraswamy, Titus Burchardt, Luis Massignon dan Martin Lings. Pada tahun 1956 Nasr berhasil meraih gelar Master di MIT dalam bidang geologi yang fokus pada geofisika. Belum puas dengan hasil karyanya, beliau merencanakan untuk menulis desertasi tentang sejarah ilmu pengetahuan dengan melanjutkan studinya di Harvard University. Dalam menyusun disertasinya Nasr dibimbing oleh George Sarton. Akan tetapi sebelum disertasi ini selesai ditulisnya, George Sarton meninggal dunia, sehingga Nasr mendapatkan bimbingan berikutnya oleh tiga orang professor, yaitu Bernard Cohen, Hammilton Gibb dan Harry Wolfson. Disertasi ini selesai dengan judul Conceptions of Nature in Islamic Thought yang kemudian dipublikasikan oleh Harvard University Press pada tahun 1964

dengan judul An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines. Dengan selesainya disertasi ini Nasr mendapat gelar Philosophy of Doctor (Ph.D) dalam usia yang cukup muda yaitu 25 tahun tepatnya pada tahun 1958. b. Masa berkiprah Setelah menamatkan belajarnya di Amerika Serikat, selanjutnya Nasr mengajar di Universitas Teheran dan menjadi profesor Sejarah sain dan Filsafat di universitas tersebut. Nasr juga menjadi orang pertama yang menjabat Presiden Iranian Academy of Phylosophy. Nasr juga aktif di Husayniah Irsyad sebuah lembaga keagamaan dan pendidikan yang dipelopori Ali Syariati pada tahun 1967. Selain di Iran Nasr juga memberikan kuliah di American University of Beirut selama 1964-1965, mendirikan Lembaga Aga Khan untuk kajian keIslaman. Nasr juga berpartisipasi di lembaga kajian filsafat Pakistan Philosophical Congress. Pada tahun 1981 Nasr memberika kuliah di Gifford Lectures, sebuah asosiasi prestius bagi kalangan teolog, filosof dan scientis Eropa dan Amerika. Dalam kuliah tersebut Nasr menyatakan pemiskinan spiritual Barat disebabkan oleh kenyataan bahwa Barat telah menduniawikan (mensekulerkan) pengetahuan dan kehilangan kontak dengan yang Kudus. Revolusi Iran oleh Ayatullah Khomeini memaksa Nasr hidup di Amerika Serikat dan menjadi profesor studi Islam di George Washington University dan profesor studi Islam dan agam a di Temple University di Philadelphia. Titik Singgung Fondasi Kritik Kata-kata modern, positif dan objektif merupakan terma-terma yang menjadi bahan kritikan Habermas dan Nasr. Habermas dan Nasrb memandang istilah-istilah ini dalam modernisme telah terjadi penyimpangan mendasar, oleh karena itu mereka berdua mencoba merumuskan dan memposisikan kembali istilah modern, positif dan objektif dalam wacana ilmu pengetahuan. A. Persprektif modernisme August Comte menyatakan kemajuan masyarakat berkaitan dengan berfungsinya fikiran secara tepat, bila individu dalam masyarakat berpikir ilmiah, maka mereka akan membantu perkembangan tata masyarakat ilmiah. Menurut Yoseph Kahl manusia modern adalah orang yang aktif; ia berupaya membentuk kehidupannya meskipun secara pasif dan membersihkan tanggapan terhadap takdirnya. Ia adalah seorang individualis, yang tidak menggabungkan karir pekerjaannya dengan hubungan persaudaraan atau

pertemanan. Ia yakin bahwa karir yang terpisah dari hubungan persaudaraan atau pertemanan itu tidak hanya diperlukan, tetapi mungkin, karena ia mem-bayangkan baik peluang hidup maupun komunitas lokal hampir tak ditentukan oleh status yang diperoleh karena keturunan. Ia lebih menyukai kehidupan kota daripada desa, dan ia mengikuti berita di media massa a. Modernisme dalam Perpektif Habermas Modernisme yang dipahami oleh Habermas yaitu pemahaman yang sejalan dengan konsep modernitas Hegel. Modernitas bukan hanya dunia baru akan tetapi zaman baru, dengan kata lain konsep ini dipahami sebagai konseo waktu, tempat modern, zaman modern yaitu periode setelah zaman kuno ke zaman abad pertengahan. Modernitas yaitu sadar akan kebaruan tetapi tidak lupa masa silam. Hegel memberi pandangan bahwa modern ditandai oleh positivitas kehidupan etis, yaitu didasarkannya agama pada otoritas belaka tanpa memasukkan unsur manusiawi di dalam realitasnya. b. Modernisme dalam Perspektid Seyyed Hossein Nasr Bila Habermas cenderung terhadap konsep waktu dan sepandangan dengan Hegel, Nasr lebih setuju dengan pemikiran Walter Benjamin yaitu adanya kebangkitan tradisi dengan bentuk kreatif dan inovatif. Nasr menggunakan terma modern, tidak dimaksudkan kontemporer maupun mengikuti zaman; tidak pula mengisyaratkan bagi Nasr sesuatu yang menaklukkan dan mendominasi alam semesta. Menurut Nasr karakteristik dasar modern yang harus ada adalah antropomorfismenya. B. Perspektif Positivisme Positivisme menurut Comte semua yang kita ketahui berasal dari pengalaman indrawi atau data empirik. Doktrin positivisme terdapat prinsip verifikasi yang menegaskan bahwa suatu ungkapan baru mempunyai makna manakala ia menunjuk pada pengalaman langsung dan kongkret. Sikap positivistis yang dianut ilmu-ilmu sosial menjadi manusia sebagai objek semata. Terdapat tiga pengandaian yang digunakan dalam ilmu sosial :
y y y

Prosedur metodologis ilmu alam dapat diterapkan pada ilmu sosial Hasil penelitian dapat dirumuskan yang kemudian menjadi hukum pasti Ilmu-ilmu sosial harus bersifat teknis.

1. Positivisme dalam pandangan Habermas

Dalam mengkritisi positivisme Habermas hanya melanjutkan teori yang dibangun oleh Mazhab Frankfurt yang mengalami kebuntuan. Dia menolak positivisme yang dia artikan sebagai usaha penerapan ilmu-ilmu alam pada ilmuilmu sosial. Kebenaran pada ilmu sosial berbeda dengan kebenaran pada ilmu alam yang kongkret. Ilmu positif menerima warisan ontologi dalam dua hal: 1. Mewarisi sikap teoritis murni sebagai metodologi, 2. Mereka menyimpan pengandaian dasar ontologi bahwa struktur dunia dan struktur masyrakat tidak tergantung dari subjek yang mengetahuinya. Positivisme telah membangun dinding tebal diantara pengetahuan dan kehidupan praktis manusia. 2. Positivisme dalam Pandangan Nasr Nasr mengkritisi positivisme berdasar dari paradigma Islam tradisional, yaitu Islam tradisional melihat dunia dalam aspek kefanaannya; bahwa tiada yang abadi selain Allah. Nasr menganggap positivisme terlalu mendewakan rasio-indra dalam penentuan kebenaran sehingga hanya bisa menguasai dan menaklukkan alam saja. Sains Islam menurut Nasr bermakna bahwa Islam mampu membuktikan bahwa tidak perlu menjadi asing untuk menciptakan sains. C. Perspektif Objektivitas 1. Objektivitas dalam perspektif Jurgen Habermas Menurut Habermas objektivitas dalam ilmu pengetahuan mengandung unsur ilusi karena positivisme menipu ilmu pengetahuan dengan gambaran dunia otonom yang terdiri atas susunan fakta yang dapat di indrai. Kerasnya objektivitisme dalam ilmu pengetahuan menurut Habermas mengakibatkan berpisahnya teori dari praxis, pengetahuan dari kehidupan, ilmu pengetahuan dari etika karena pengetahuan menjadi barang objektif yang netral, asing bagi subjek yang sebenarnya ikut membentuk objek tersebut. Habermas memberikan solusi untuk memulihkan Positivisme dengan cara reflexi diri dari metodologi ilmu pengetahuan itu sendiri. Pragmatisme Peirce dan Historisisme Dilthey merupakan cara refleksi diri atas metodologi penelitian ilmu pengetahuan. 2. Objektivitas dalam perspektif Seyyed Hossein Nasr Objektivitas yang diartikan sebagai sifat-sifat tidak berpihak dan adil dalam pengetahuan dalam tradisi Islam tidak dapat dipisahkan dari kesadaran Religius tauhid. Objektif dalam tradisi islam berbeda dengan konsep objektif oleh aliran positivis (manusia modern). Dunia dalam pandangan positivis adalah dunia yang tidak memiliki dimensi transendental, bahkan di dunia yang nyata ini segala sesuatu yang tidak dapat dimasukan di dalam kriteria sains modern secara kolektif

10

di abaikan, dan secara objektif dinyatakan tidak ada. Di dunia islam dikenal konsep al-fitrah. D. Analisis Perbandingan Habermas dan Nasr Habermas dan Nasr berpendapat bahwa modernisme yang sedang berlangsung saat ini memiliki cacat-cacat yang mendasar yaitu dalam epistemologinya, bahkan Nasr menyebutkan terdapat cacat pada ontologis nya juga, sehingga berimplikasi tidak menyelesaikan problem-problem yang muncul pada era modern itu sendiri. Habermas dan Nasr berpendapat bahwa modernisme telah dikuasai oleh pemikiran positivisme dan mendasarkan segala sesuatu pada apa yang disebut objektivitas. Oleh karena itu problem manusia modern tidak bisa dijawab oleh penemuan modern, bahkan penemuan modern tersebut menjadi beban baru bagi manusia modern. Persamaan pemikiran Habermas dan Nasr dalam mengkritisi modernisme, positivisme, objektivitas antara lain: a. Modern dalam pengertian umum berarti baru, maju, progresif, terbuka, demokratis dan partisipatif, perubahan dari tradisional menjadi baru. Habermas menilai modern berdasar konsep waktu Hegel, yaitu adanya peralihan dari zaman kuno ke abad pertengahan dan abad modern, kesadaran akan kebaharuan tidak melepaskan masa lalu dengan tujuan terarah menjadi manusia yang dinamis. Emansipasi menurut Habermas yakni proses pencerahan manusia dari kungkungan mitos sebelumnya, akan muncul krtitik terus-menerus. Nasr berpendapat modern bukanlah kontemporer yaitu perubahan zaman atau penaklukan terhadap alam . Habermas dan Nasr sepakat modernisme saat ini telah mengasingkan metafisika yang sebenarnya sangat ada hubungannya. b. Positivisme, berdasar pemikiran Comte berarti sesuatu yang nyata, pasti, tepat dan tertib. Positivisme menganggap objektivitas pengetahuan hanya berdasar indrawi. Menurut Habermas positivisme adalah adanya usaha penerapan ilmu-ilmu alam pada ilmu-ilmu sosial. Nasr menilai positivisme tidak intelek hanya berdasar indera, positivisme mereduksi konsep ilm dalam islam yaitu adanya relasi spiritual dengan ilmu pengetahuan. Penelitian tentang manusia tidak dapat dengan kuantitatif. c. Objektivitas, menurut positivisme objektivitas adalah pengetahuan bersifat objektif (bebas nilai religi, etis), terdapat keterulangan dan saling tergantung. Menurut Habermas dan Nasr Objektivitas tidak hanya berdasar sesuatu yang empiris saja tetapi ada sesuatu yang abstrak yang tidak bisa diketahui oleh ilmu alam saja.

11

Konstruksi Bangunan Pemikiran Kritis Jurgen Habermas. Habermas dalam mengkritisi modernisme dengan melanjutkan dan merumuskan kembali teori kritis mazhab Frankfurt, merekonstruksi teori kerja dan teori komunikasi Marx, membedakan rasio instrumental, rasio bertujuan dan rasio komunikatif. Habermas membedakan ilmu pengetahuan ke dalam tiga cakupan: Ilmu-ilmu empiris-analitis. Penelitian ilmu-ilmu yang diawali dengan membuat acuan (pengandaian) terlebih dahulu untuk menetapkan aturan-aturan guna menyusun maupun menguji teori-teorinya. Ilmu-ilmu historis-heurmeunetis. Mengacu pada hasil Dilthey, yaitu ilmu yang berusaha mencari makna (Sinneverstehen) dan bukan menjelaskan fakta yang di observasi (Erklaren). Teorinya tidak disusun secara deduktif akan tetapi dengan cara yang sama seperti menafsirkan teks. Ilmu-ilmu kritis. Ilmu pengetahuan seperti yang diteliti oleh Mazhab Frankfurt yang berusaha meneliti teori sosial yang pada umumnya dinilai tidak dapat diubah (ajeg) dengan refleksi-diri.

Menurut Habermas teori yang dibangun Marx mereduksi manusia pada pekerjaan. Habermas berpendapat bahwa pekerjaan dan komunikasi (interaksi) adalah tindakan dasar manusia. Rasio historis Marx menurut Habermas adalah kerja atau disebut rasio instrumental atau rasionalitas untuk menguasai alam. Habermas menilai rasio bertujuan Weber membawa krisis sosial-kultural, ia mengemukakan konsep rasionalitas-komunikatif yang dinilai lebih manusiawi karena terdapat pemahaman keilmuan, moral dan estetika. Modern menurut Habermas adalah emansipasi yaitu pembebasan dari mitos dan dominasi rasio instrumental Seyyed Hossein Nasr Menurut Nasr Islam sebagai agama yang berdasarkan unitas (tauhid) tidak pernah membedakan hal-hal yang spiritual dan temporal serta yang religius dan profan di dalam segala bidang. Konsep sekular tidak dikenal dalam Islam.Nasr dalam mengkritisi modernisme dengan cara melanjutkan dari teori filsafat Islam yang berkembang di Iran yang bernuansa sufistik klasik Syiah, kemudian merumuskan kembali teori tradisi konsep tauhid dan dikembangkan hubungan ilmu pengetahuan dan spiritual serta membedakan rasio berpangkal kepada

12

panca indera dan intelek yang berpangkal pada instuisi (hati). Nars mengartikan konsep tradisi sebagai bentuk relasi pengatahuan spiritual dengan ilmu pengetahuan. Implikasi Formulasi Pemikiran Kritis Jurgen Habermas : Membangun Masyarakat Komunikatif dan Teori Kritis Emansipatoris. 1. Membangun Masyarakat Komunikatif Habermas membagi tindakan menajdi empat jenis, yaitu: Tindakan teleologis, yaitu terdapat tujuan khusus yang akan dicapai, dalam proses mencapai tujuan tersebut diperlukan keputusan. - Tindakan normative, yaitu tindakan yang berdasarkan atas norma yang berlaku, dan bertujuan tetap dalam pemenuhan norma tersebut. - Tindakan dramturgic, yaitu tindakan yang dilakukan dengan tujuan menampilkan image diri atau penampilan dihadapan umum. - Tindakan komunikatif, yaitu tindakan interaksi yang sekurangkurangnya dari dua orang yang mempunyai kemampuan berbica dan bertindak, serta dapat membentuk hubungan antar pribadi baik secara verbal dan nonverbal. Intinya adanya koordinasi dalam mencapai pemahaman. 2. Teori kritik Emansipatoris Teori kritik emansipatoris yang dibangun Habermas tidak menolak keseluruhan modernisme seperti yang dilakukan kelompok tradisional kembali kepada tradisi lama, dan berbeda pula dengan pos-strukturalis yang menghacurkan modernisme kemudian membangun yang baru. Habermas hanya melihat cacat yang ada pada modernisme dengan teori refleksi kritik yang bersifat emansipatoris. Seyyed Hossein Nasr : Membangun Manusia Primordial dan teori Kritis Transendental 1. Membangun Manusia Primordial Posisi manusia dalam perspektif Islam menurut Nasr adalah sebagai khalifah (wakil) Tuhan di bumi sekaligus sebagai abdi-Nya. Menurutnya posisi manusia sebagai hamba-Nya bersifat pasif, tetapi sebagai wakil Tuhan dia bersifat aktif. Nasr mengatakan bahwa manusia memiliki intelek (aql) dan -

13

rasio (pikiran/rasion). Masyarakat Primordial (insan Kamil) adalah masyarakat yang selalu terikat dengan Tuhannya. 2. Teori Kritis Transendental Teori Kritis Transendental bertujuan memperjelas posisi manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan alam. Kesakralan dalam berpikir kritis menyadarkan manusia bahwa manusia berada pada pusat lingkaran eksistensinya karena adanya komunikasi dengan Tuhannya. Paradigma Transendental-Emansipatoris Dalam pemikiran Habermas dan Nasr terdapat persamaan yang signifikan yaitu, penolakan terhadap kemutlakan kebenaran (ilmu pengetahuan modern) yang dipelopori positivisme. Habermas mengkritisi dalam aspek praksis atau dalam epistemologis sedangkan Nasr dalam wilayang metafisis atau ontologis. Jurgen Habermas Teori kritis emansipatoris Seyyed Hossein Nasr Teori kritis transendental

Membangun manusia komunikatif bebas Membangun manusia primordial (insan dominasi kamil) Manusia dapat komunikasi pencerahan melalui Manusia dapat pencerahan dengan sadar adanya komunikasi dengan Tuhan-nya

Teori yang digunakan : Menggunakan Teori yang digunakan : Menggunakan rasio-komunikatif rasio-intelek Sumber pengetahuan: realitas kehidupan Sumber pengetahuan : wahyu yang dalam dunia praksis termanifestasikan dalam bentuk tradisi Ilmu pengetahuan : (empiris-analitis) Ilmu pengetahuan : sifatnya sakral mempunyai interest (kepentingan) dalam hubungannya dengan kebenaran Ilahi metodologi, ontologi. Tidak bebas nilai Transendensi: mengembangkan kadar Transendensi : meningkatkan kadar spiritual kemanusiaan manusia modern spiritual religius manusia primordial Kesadaran subjektik sebagai penggerak Kesadaran religius sejarah sejarah Kesadaran rasio-komunikatif penggerak sejarah sebagai penggerak

sebagai Rasio-intelek sebagai penggerak sejarah

14

Paradigma Transendental-Emansipatoris dapat dijadikan jembatan antara Islam yang Universal dan Islam yang partikular. Transendental untuk menghindari kecenderungan modernisme yang terpengaruh positivisme. Emansipatoris untuk mengatasi penafsir itu sendiri sehingga tidak terjadi klaim kebenaran yang mengakibatkan kemutlakan kebenaran sendiri.

15