Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Acruired Immune Deficiensy Syndrome atau yang lebih dikenal dengan istilah AIDS merupakan penyakit yang ditandai dengan adanya kelainan yang komplek dalam sistem pertahanan selular tubuh dan menyebabkan korban menjadi sangat peka terhadap mikroorganisme oportunistik. Penyakit AIDS disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus atau disingkat dengan HIV. Penyakit ini merupakan penyakit kelamin, yang pada mulanya dialami oleh kelompok kaum homoseksual. AIDS pertama kali ditemukan di kota San Francisco, Amerika Serikat. Penyakit ini muncul karena hubungan seksual (sodomi) yang dilakukan oleh komunitas kaum homoseksual (Varney, 2006: 151). Menurut data UNAIDS/WHO AIDS Epidemic Update yang

dipublikasikan pada 21 November 2007, diperkirakan 39,5 juta Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Terdapat 4,3 juta infeksi baru pada 2006, 2,8 juta (65 persen) dari jumlah tersebut terjadi di Sub-Sahara Afrika, sedangkan kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara menyumbang angka 860.000 (15 persen). Sedangkan kanker merupakan penyakit atau kelainan pada tubuh sebagai akibat dari sel-sel yang tumbuh abnormal, diluar batas kewajaran dan tidak terkendali perkembangannya. (Sunaryati, 2011: 12) Kanker mempunyai andil yang besar dalam kasus kematian penduduk dunia. Insidensi kanker di Asia berkisar 20 kasus baru di antara 100.000 penduduk. Adapun di negara maju, yaitu 100 kasus per 100.000 penduduk dan sekitar 40.000 akan meninggal akibat penyakit ini. Pasien yang menderita AIDS dan mengalami kanker memperlihatkan adanya gangguan psikologis berupa stres dan depresi yang ditunjukkan dengan perasaan sedih, putus asa, pesimis, merasa diri gagal, tidak puas dalam hidup, merasa lebih buruk dibandingkan dengan orang lain, penilaian rendah terhadap tubuhnya, dan merasa tidak berdaya. (Jeffry dkk, 2006: 157). Berdasarkan latar belakang tersebutlah maka penulis menyusun makalah mengenai Psikologi pada Pasien dengan HIV AIDS dan Kanker.

B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian HIV AIDS dan Kanker 2. Apa kebutuhan psikologi pada pasien dengan HIV AIDS dan Kanker 3. Bagaimana masalah psikologis yang akan terjadi pada pasien dengan HIV AIDS dan Kanker 4. Apa strategi pemecahan masalah psikologis yang terjadi pada pasien dengan HIV AIDS dan Kanker 5. Bagaimana sistem rujukan pada pasien HIV AIDS dan Kanker dalam lingkup masalah psikologi

C. Tujuan Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah: 6. Untuk mengetahui pengertian HIV AIDS dan Kanker 7. Untuk mengidentifikasi kebutuhan psikologi pada pasien dengan HIV AIDS dan Kanker 8. Untuk memprediksi masalah psikologis yang akan terjadi pada pasien dengan HIV AIDS dan Kanker 9. Untuk menjelaskan strategi pemecahan masalah psikologis yang terjadi pada pasien dengan HIV AIDS dan Kanker 10. Untuk menerangkan sistem rujukan pada pasien HIV AIDS dan Kanker dalam lingkup masalah psikologi

BAB II HIV AIDS

A. Definisi HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus penyebab AIDS. HIV tidak dikenal hingga awal tahun 1980-an, dan sejak saat itu telah menginfeksi jutaan manusia di seluruh dunia. HIV ditularkan terutama melalui semen, darah dan cairan serviks. Hasil dari infeksi HIV adalah rusaknya sistem kekebalan tubuh yang akan menjadi penyebab munculnya AIDS. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) yaitu sindrom (kumpulan gejala) menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV. Orang yang mengidap AIDS sangat mudah tertular oleh berbagai macam penyakit karena sistem kekebalan tubuh penderita telah menurun. Semua orang yang terinfeksi HIV adalah orang yang berisiko untuk sakit atau mati akibat infeksi oportunistik dan komplikasi neoplastik sebagai suatu konsekuensi yang tidak terelakkan dari AIDS (Nugraha, 2006: 125). Untuk keperluan surveilans AIDS pada remaja dan dewasa (lebih dari 12 tahun), WHO telah menetapkan sebagai kasus AIDS apabila hasil tes untuk antibodi HIV positif, dan munculnya satu atau lebih tandatanda/kondisi berikut ini: 1. Berat badan menurun lebih dari 10 persen, disertai dengan diare kronis atau demam berkepanjangan yang berlangsung lebih dari 1 bulan. 2. Cryptococcal meningitis. 3. Pulmonary atau extrapulmonary tuberculosis. 4. Sarkoma kaposi. 5. Kerusakan syaraf. 6. Candidiasis pada oesophagus. 7. Pneumonia dengan episode berulang. 8. Kanker serviks invasif. Tidak ada obat atau vaksin untuk infeksi HIV, akan tetapi penggunaan antiretroviral yang sangat aktif memberi harapan dalam memperpanjang usia penderita. (Jerry dkk, 2006: 158)

B. Kebutuhan Psikologi Studi yang dilakukan oleh Meredith (dalam Varney: 2006) yang menanyai wanita HIV positif mengenai apa yang mereka butuhkan dari perawatan mereka, menjawab: 1. Perawatan personal dan dihargai 2. Mempunyai masalahnya 3. Jawaban-jawaban yang jujur dari lingkungannya 4. Tindak lanjut medis 5. Mengurangi penghalang untuk pengobatan 6. Pendidikan/penyuluhan tentang kondisi mereka Selain itu beberapa studi lainnya menjelaskan bahwa seorang penderita HIV AIDS setidaknya membutuhkan bentuk dukungan dari lingkungan sosialnya. Dimensi dukungan sosial meliputi 3 hal: 1. Emotional support, miliputi; perasaan nyaman, dihargai, dicintai, dan diperhatikan 2. Cognitive support, meliputi informasi, pengetahuan dan nasehat 3. Materials support, meliputi bantuan / pelayanan berupa sesuatu barang dalam mengatasi suatu masalah. (Nursalam, 2007) Dukungan sosial terutama dalam konteks hubungan yang akrab atau kualitas hubungan perkawinan dan keluarga barangkali merupakan sumber dukungan sosial yang paling penting. House (2006) membedakan empat jenis dimensi dukungan sosial 1) Dukungan Emosional Mencakup ungkapan empati, kepedulian dan perhatian terhadap pasien dengan HIV AIDS yang bersangkutan 2) Dukungan Penghargaan Terjadi lewat ungkapan hormat / penghargaan positif untuk orang lain itu, dorongan maju atau persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu dan perbandingan positif orang itu dengan orang lain seseorang untuk diajak bicara tentang masalah-

3) Dukungan Instrumental Mencakup bantuan langsung misalnya orang memberi pinjaman uang, kepada penderita HIV AIDS yang membutuhkan untuk pengobatannya 4) Dukungan Informatif Mencakup pemberian nasehat, petunjuk, sarana.

C. Masalah Psikologi Pasien yang didiagnosis dengan HIV akan mengalami masalah fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Masalah psikologis yang timbul adalah: 1. Stres, yang ditandai dengan menolak, marah, depresi, dan keinginan untuk mati. Individu yang terinfeksi AIDS (atas pemberitahuan dokter), biasanya mengalami shock. Bisa putus asa (karena shock berat). Penderita mengalami depressi berat, sehingga menyebabakan penyakit makin lama makin berat, timbul berbagai infeksi opotunistik, penderita makin tersiksa. Biaya pengobatan tambah besar, macam penyakit tambah banyak, obat yang di beri harus tambah banyak dan tambah keras, dengan berbagai efek samping, yang memperparah keadaan penderita. 2. Keyakinan diri yang rendah pada penderita HIV/AIDS akan menyebabkan penderita mengalami hypochondria. Dimana penderita seringkali memikirkan mengenai kehilangan, kesepian dan perasaan berdosa di atas segala apa yang telah dilakukan sehingga menyebabkan mereka kurang menitik beratkan langkah-langkah penjagaan kesehatan dan kerohanian mereka. Seorang pasien yang telah didiagnosis HIV positif dan mengetahuinya, kondisi mental penderita akan mengalami fase yang sering disingkat SABDA (Shock, Anger, Bargain, Depressed, Acceptance). 3. Kecemasan akan HIV/AIDS berkorelasi negatif dengan Psychological Well Being (kesejahteraan psikologis) Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kecemasan pada penderita HIV/AIDS, maka Psychological Well Being (kesejahteraan psikologis) pada penderita HIV/AIDS akan semakin rendah.

Dalam pandangan masyarakat, ODHA sering dianggap memiliki perilaku yang tercela (orang jahat) dan mereka kemudian dilihat sebagai orang yang berhak mendapatkan takdir atas perilaku tercela tadi. Pada saat yang sama masyarakat menyalahkan ODHA sebagai sumber penularan penyakit AIDS. Pandangan dan pendapat masyarakat tentang HIV/AIDS yang akhirnya menimbulkan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Menurut The Centre for the Study of AIDS University of Pretoria, terdapat 2 macam stigma, yaitu: a. Eksternal stigma Eksternal stigma merujuk pada pengalaman ODHA yang diperlakukan secara tidak wajar/tidak adil dan berbeda dengan orang lain. Eksternal stigma meliputi: 1) Menjauhi (avoidance), yakni orang-orang menjauhi ODHA atau tidak menginginkan untuk menggunakan peralatan yang sama. 2) Penolakan (rejection), yakni orang-orang menolak ODHA. Hal ini dapat dilakukan oleh anggota keluarga atau teman yang tidak mau lagi berhubungan dengan ODHA atau dapat juga suatu masyarakat atau kelompok tertentu yang tidak mau menerima ODHA. 3) Peradilan moral (moral judgement), yakni orang menyalahkan ODHA karena status HIV mereka atau melihat ODHA sebagai orang yang tidak bermoral. 4) Stigma karena hubungan (stigma by association), yakni orang yang terkait dengan ODHA (seperti keluarga atau teman dekatnya) akan terstigma juga karena keterkaitan tersebut. 5) Keenggganan untuk melibatkan ODHA (unwillingness to invest in PLHA), yakni orang mungkin akan dipinggirkan dalam suatu organisasi/kelompok karena status HIV mereka. 6) Diskriminasi (discrimination), yakni penghilangan kesempatan untuk ODHA, seperti ditolak untuk bekerja, ditolak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai atau petugas menolak untuk melayani ODHA. 7) Pelecehan (abuse), yakni ODHA yang secara fisik ataupun lisan dilecehkan.

8) Pengorbanan

(victimization),

sebagai

contoh

anak-anak

yang

terinfeksi HIV atau anak yatim piatu yang orangtuanya meninggal karena AIDS. 9) Pelanggaran hak asasi manusia (abuse of human right), sebagai contoh pelanggaran asas kerahasiaan seperti membuka status HIV seseorang pada orang lain tanpa persetujuan yang bersangkutan atau dilakukan tes HIV tanpa melakukan informed consent. b. Internal stigma Internal stigma adalah perasaan tertentu seseorang tentang diri mereka sendiri seperti rasa malu atau rasa takut ditolak. Internal stigma meliputi: 1) Mengasingkan diri dari pelayanan atau kesempatan (self-exclusion from services or opportunities), yakni ODHA tidak menginginkan untuk mendapatkan pelayanan atau tidak bekerja karena mereka takut diketahui sebagai ODHA. 2) Persepsi terhadap diri sendiri (perception of self), ODHA memiliki rasa rendah diri karena status HIV mereka yang positif. 3) Penarikan diri secara sosial (social withdrawal), ODHA akan menarik diri dari hubungan pribadi dan sosial. 4) Mengganti secara berlebihan (overcompensation), ODHA percaya bahwa mereka seharusnya memberi lebih dibanding orang lain atau adanya perasaan berhutang jika orang lain bersikap baik pada mereka. 5) Ketakutan untuk pengungkapan (fear of disclosure), ODHA tidak akan mengungkapkan status HIV mereka karena mereka takut akan konsekuensinya.

D. Strategi Pemecahan Masalah Mekanisme koping adalah mekanisme yang digunakan individu untuk menghadapi perubahan yang diterima. Apabila mekanisme koping berhasil, maka orang tersebut akan dapat beradaptasi terhadap perubahan tersebut. Mekanime koping dapat dipelajari, sejak awal timbulnya stresor dan orang menyadari dampak dari stresor tersebut. Kemampuan koping dari individu tergantung dari temperamen, persepsi, dan kognisi serta latar belakang budaya/norma dimana dia

dibesarkan. Mekanisme koping terbentuk melalui proses belajar dan mengingat. Belajar disini adalah kemampuan menyesuaikan diri (adaptasi) pada pengaruh faktor internal dan eksternal. Menurut Roy, yang dikutip oleh Nursalam (2007) mekanisme belajar merupakan suatu proses didalam sistem adaptasi (cognator) yang meliputi mempersepsikan suatu informasi, baik dalam bentuk implisit maupun eksplisit. Belajar implisit umumnya bersifat reflektif dan tidak memerlukan kesadaran (focal) sebagaimana terlihat pada gambar. Keadaan ini ditemukan pada perilaku kebiasaan, sensitisasi dan keadaan. Pada habituasi timbul suatu penurunan dari transmisi sinap pada neuron sensoris sebagai akibat dari penurunan jumlah neurotransmitter yang berkurang yang dilepas oleh terminal presinap. Pada habituasi menuju ke depresi homosinaptik untuk suatu aktivitas dari luar yang terangsang terus menerus. Sensitifitas sifatnya lebih kompleks dari habituasi, mempunyai potensial jangka panjang (beberapa menit sampai beberapa minggu). Koping yang efektif menempati tempat yang central terhadap ketahanan tubuh dan daya penolakan tubuh terhadap gangguan maupun serangan suatu penyakit baik bersifat fisik maupun psikis, sosial, spiritual. Perhatian terhadap koping tidak hanya terbatas pada sakit ringan tetapi justru penekanannya pada kondisi sakit yang berat. Lipowski membagi koping dalam 2 bentuk, yaitu: a) Coping style merupakan mekanisme adaptasi individu meliputi mekanisme psikologis dan mekanisme kognitif dan persepsi. Sifat dasar coping style adalah mengurangi makna suatu konsep yang dianutnya, misalnya penolakan atau pengingkaran yang bervariasi yang tidak realistis atau berat (psikotik) hingga pada tingkatan yang sangat ringan saja terhadap suatu keadaan. b) Coping strategy merupakan koping yang digunakan individu secara sadar dan terarah dalam mengatasi sakit atau stresor yang dihadapinya. Terbentuknya mekanisme koping bisa diperoleh melalui proses belajar dalam pengertian yang luas dan relaksasi. Apabila individu mempunyai mekanisme koping yang efektif dalam menghadapi stresor, maka stresor tidak akan menimbulkan stres yang berakibat kesakitan

(disease), tetapi stresor justru menjadi stimulan yang mendatangkan wellness dan prestasi. Beradaptasi terhadap penyakit memerlukan berbagai strategi tergantung ketrampilan koping yang bisa digunakan dalam menghadapi situasi sulit. Ada 3 teknik koping yang ditawarkan dalam mengatasi stress: a) Pemberdayaan Sumber Daya Psikologis (Potensi diri) Sumber daya psikologis merupakan kepribadian dan kemampuan individu dalam memanfaatkannya menghadapi stres yang disebabkan situasi dan lingkungan. Karakterisik di bawah ini merupakan sumber daya psikologis yang penting. 1. Pikiran yang positif tentang dirinya (harga diri) Jenis ini bermanfaat dalam mengatasi situasi stres, sebagaimana teori dari Colleys looking-glass self: rasa percaya diri, dan kemampuan untuk mengatasi masalah yg dihadapi. 2. Mengontrol diri sendiri Kemampuan dan keyakinan untuk mengontrol tentang diri sendiri dan situasi (internal control) dan external control (bahwa kehidupannya dikendalikan oleh keberuntungan, nasib, dari luar) sehingga pasien akan mampu mengambil hikmah dari sakitnya (looking for silver lining). Kemampuan mengontrol diri akan dapat memperkuat koping pasien, perawat harus menguatkan kontrol diri pasien dengan melakukan: (1) Membantu pasien mengidentifikasi masalah dan seberapa jauh dia dapat mengontrol diri (2) Meningkatkan perilaku menyeleseaikan masalah (3) Membantu meningkatkan rasa percaya diri, bahwa pasien akan mendapatkan hasil yang lebih baik (4) Memberi kesempatan kepada pasien untuk mengambil keputusan terhadap dirinya (5) Mengidentifikasi sumber-sumber pribadi dan lingkungan yang dapat meningkatkan kontrol diri: keyakinan, agama

b) Rasionalisasi (Teknik Kognitif) Upaya memahami dan mengiterpretasikan secara spesifik terhadap stres dalam mencari arti dan makna stres (neutralize its stressfull). Dalam menghadapi situasi stres, respons individu secara rasional adalah dia akan menghadapi secara terus terang, mengabaikan, atau memberitahukan kepada diri sendiri bahwa masalah tersebut bukan sesuatu yang penting untuk dipikirkan dan semuanya akan berakhir dengan sendirinya. Sebagaian orang berpikir bahwa setiap suatu kejadian akan menjadi sesuatu tantangan dalam hidupnya. Sebagian lagi menggantungkan semua permasalahan dengan melakukan kegiatan spiritual, lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta untuk mencari hikmah dan makna dari semua yang terjadi. c) Teknik Perilaku Teknik perilaku dapat dipergunakan untuk membantu individu dalam mengatasi situasi stres. Beberapa individu melakukan kegiatan yang bermanfaat dalam menunjang kesembuhannya. Misalnya, pasien HIV akan melakukan aktivitas yang dapat membantu peningkatan daya tubuhnya dengan tidur secara teratur, makan seimbang, minum obat anti retroviral dan obat untuk infeksi sekunder secara teratur, tidur dan istirahat yang cukup, dan menghindari konsumsi obat-abat yang memperparah keadan sakitnya.

E. Sistem Rujukan Selama hari-hari sulit dimana pasien dengan HIV AIDS, keluarga dapat menjadi sangat tergantung pada keputusan professional. Oleh sebab itu, seorang tenaga professional hendaknya secara empati mampu mengarahkan dan memberikan pilihan pada keluarga untuk menemukan tempat rujukan terbaik, berupa klinik kesehatan mental, layanan psikolog/psikiater atau dokter dengan spesialisasi kejiwaan. Dalam hal pemberian pengarahan alternatif rujukan ini, Laura A. Talbot menganjurkan bekerja dengan anggota keluarga dengan jalan: 1) Memberikan pilihan 2) Membantu mereka mengidentifikasi dan memfokuskan perasaan 3) Mendorong istirahat dari krisis 4) Memberi pengarahan dalam cara memberi tanggung jawab dan harapan

10

BAB III KANKER

A. Definisi Kanker adalah penyakit yang tidak mengenal status sosial dan dapat manyerang siapa saja dan muncul akibat pertumbuhan tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi sel kanker dalam perkembangannya. Sel-sel kanker ini dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya sehingga dapat menimbulkan kematian(Varney, 2006: 107). Hal ini sejalan dengan defenisi dari American Cancer Society yang mengatakan kanker sebagai kelompok penyakit yang ditandai oleh pertumbuhan dan penyebaran sel abnormal yang tidak terkendali. Sel kanker berbahaya karena dapat menyebabkan kematian baik secara langsung maupun tidak langsung. Sel kanker tumbuh dengan cepat, sehingga sel kanker pada umumnya cepat menjadi besar. Sel kanker menyusup ke jaringan sehat sekitarnya, sehingga dapat digambarkan seperti kepiting dengan kakikakinya mencengkram alat tubuh yang terkena (Sunaryati, 2011: 13). Di samping itu, sel kanker dapat menyebar (metatasis) ke bagian alat tubuh lainnya yang jauh dari tempat asalnya melalui pembuluh darah dan pembuluh getah bening sehingga tumbuh kanker baru di tempat lain. Penyeberan sel kanker ke jaringan sehat pada alat tubuh lainnya dapat merusak alat tubuh tersebut sehingga fungsi alat tersebut menjadi terganggu. Di sisi lain, bila ditinjau dari aspek gender, maka jumlah kaum perempuan yang menderita penyakit kanker menduduki proporsi yang lebih banyak dibandingkan kaum lelaki. (Varney: 2006: 107) Manusia mempunyai sifat yang holistik, dalam artian manusia adalah makhluk fisik yang sekaligus psikologis, yang mana kedua aspek ini saling berkaitan satu sama lain dan saling mempengaruhi. Sehingga apa yang terjadi dengan kondisi fisik manusia akan mempengaruhi pula kondisi psikologisnya, dengan kata lain setiap penyakit fisik yang dialami seseorang tidak hanya menyerang manusia secara fisik saja, tetapi juga dapat membawa masalahmasalah bagi kondisi psikologisnya. Hal ini dapat kita lihat pada pasien penderita kanker dimana ketika dokter mendiagnosis bahwa seseorang menderita penyakit berbahaya seperti kanker.

11

B. Kebutuhan Psikologi Bagi pasien dengan penyakit kanker, terdapat beberapa kebutuhan yang mampu menurunkan ketegangan akibat masalah-masalah bagi kondisi

psikologisnya, antara lain: 1. Rasa Nyaman, terhindar dari hal-hal yang menyulitkan, ketenangan. 2. Komunikasi, mendengarkan berbagai keluhan pasien, mendapat informasi mengenai kebenaran kondisinya, serta perkembangan yang dialaminya setelah mendapat pengobatan 3. Dukungan Keluarga, merupakan bentuk dukungan terpenting bagi pasien, membuat mereka merasa masih dibutuhkan Berdasarkan teori kebutuhan dasar manusia dari Abraham Maslow, kebutuhan pasien dengan penyakit kanker pun dapat dianalisis sebagai berikut, yaitu: 1. Kebutuhan fisik, pasien dengan kanker tentu membutuhkan nutrisi, cairan, oksigenasi, eliminasi, istirahat, tidur, dan sebagainya, hanya saja berbeda dengan dalam hal pemenuhannya bagi tiap jenis kanker. 2. Kebutuhan rasa aman dan perlindungan, lebih kepada psikologis pasien, dalam hal inilah dibutuhkan peran tenaga kesehatan guna meyakinkan bahwa pasien sedang menjalani pengobatan dengan aman. 3. Kebutuhan rasa cinta, berupa kasih saying, kehangatan, persahabatan, mendapat tempat bukan hanya ditengah keluarga, juga kelompok social dan sebagainya. 4. Kebutuhan akan harga diri, perasaan dihargai orang lain, guna memperoleh kekuatan, rasa percaya diri untuk menjalani kehidupan. 5. Kebutuhan aktualisasi diri, kebutuhan untuk berkontribusi pada orang lain, hal ini dapat diwujudkan dengan ikut serta dalam kelompok / grup komunitas penderita kanker, sehingga penderita bisa saling berbagi dan saling berkontribusi satu sama lain. (Uliyah, 2006: 3)

12

C. Masalah Psikologi Kemungkinan terjadinya gangguan psikologi seperti depresi, kecemasan, kemarahan, perasaan tidak berdaya dan tidak berharga dialami antara 23%-66% pasien kanker. Diperkirakan saat ini ada sekitar 25% pasien kanker yang mengalami depresi berat. a) Stress Salah satu pengobatan yang harus dijalani pasien kanker adalah radioterapi. Radioterapi memberikan dampak fisik dan psikis terhadap penderitanya. Dampak fisik tersebut berupa bentuk tubuh tidak indah lagi, rambut rontok, kulit menghitam, susah menelan, makan tidak enak, mual, muntah, dan terasa nyeri pada luka bekas operasi. Dampak psikisnya dapat berupa perasaan cemas, was-was, khawatir, takut, tegang, distres, bingung, dan kekhawatiran terhadap perubahan sikap orang-orang terdekat. b) Kecemasan Perawatan di rumah sakit merupakan salah satu hal yang cukup mencemaskan bagi pasien, misalnya ketika akan dilakukan operasi dan merasa tidak nyaman atau mengalami rasa sakit setelah dilakukannya operasi. Setelah operasi, penderita kanker seringkali mengalami perasaan kecewa ketika harus kehilangan salah satu organ tubuh Selain itu, pendekatan yang tidak personal dari dokter, perawat ataupun pegawai rumah sakit menyebabkan pasien merasa hanya menjadi objek pemeriksaan semata. Dalam kondisi demikian, seorang seringkali mengalami kehilangan identitas diri dan kehilangan kontrol atas tubuh, lingkungan fisik dan sosialnya, sehingga membuat pasien kurang nyaman menjalani pemeriksaan dan perawatan di rumah sakit. c) Depresi Secara umum ada tiga bentuk respon emosional yang bisa muncul pada pasien penyakit kronis seperti kanker, yaitu penolakan, kecemasan dan depresi. Dalam keadaan tersebut sangat sulit bagi pasien kanker untuk dapat menerima dirinya karena keadaan dan penanganan penyakit kanker ini dapat menimbulkan stres yang terus-menerus, sehingga tidak hanya mempengaruhi penyesuaian fisik tapi juga penyesuaian psikologi individu.

13

d) Gangguan Kualitas Hidup Penyakit kanker juga berkaitan dengan kualitas hidup penderitanya. Kualitas hidup terdiri atas empat dimensi, yaitu kesejahteraan fisik, psikologis, fungsional, dan sosial. Salah satu bentuk penurunan kualitas hidup yang banyak dialami pasien kanker adalah terjadinya penurunan kesejahteraan psikologis. Kesejahteraan psikologis adalah gambaran kesehatan psikologis individu berdasarkan pemenuhan kriteria fungsi psikologis positif individu tersebut (positive psychological functioning). Fungsi psikologis positif yang dimaksud adalah enam kriteria dasar yang disarikan dari teori-teori psikologi kepribadian, kesehatan mental, maupun psikologi perkembangan. Adapun kriterianya adalah penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, kemandirian, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi.

D. Strategi Pemecahan Masalah


1) Strategi Koping Perilaku atau usaha yang dilakukan individu dalam menyesuikan diri maupun menghindari hal-hal yang menekannya atau proses mengatasi kondisi yang mengancam disebut strategi koping. Lazarus dan Folkam membagi koping menjadi 2 macam fungsi, yaitu; (1) Problem focus coping yaitu perilaku koping yang berpusat pada masalah. Individu akan mengatasi dengan mempelajari cara-cara atau ketrampilanketrampilan yang baru. Individu cenderung menggunkan strategi ini bila dirinya yakin akan dapat mengubah situasi; (2) Emotion focused coping, yaitu perilaku koping yang berpusat pada emosi digunakan untuk mengatur respon emosional terhadap stress

2) Pengobatan Paliatif

Strategi yang dilakukan dapat pula berupa pengobatan paliatif diberikan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien yang menderita penyakit yang serius atau membahayakan jiwa. Tujuan dari pengobatan paliatif adalah mencegah atau merawat sedini mungkin gejala-gejala penyakit dan efek samping yang disebabkan dari pengobatan penyakit tersebut, serta masalah-masalah psikologi. Pengobatan paliatif diantaranya:

14

a) Mengurangi rasa sakit dan gejala tidak nyaman lainnya b) Menegaskan arti kehidupan dan memandang kehidupan sebagai suatu proses yang normal c) Tidak bertujuan untuk membantu pasien hidup seaktif mungkin sampai saatnya meninggal d) Menawarkan dukungan untuk membantu keluarga pasien agar tabah selama pasien sakit serta disaat-saat sedih dan kehilangan e) Menggunakan pendekatan secara tim untuk menjawab kebutuhan pasien dan keluarganya, termasuk dukungan disaat-saat sedih dan kehilangan f) Meningkatkan kualitas hidup, dan memberikan pengaruh positif selama sakit g) Dapat diterapkan sejak awal pengobatan penyakit, bersamaan dengan terapi-terapi lain yang bertujuan untuk memperpanjang hidup

E. Sistem Rujukan Rujukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu ke fasilitas yang lebih baik diharapkan mampu menanggulangi gangguan psikologi kanker sedini mungkin. Tempat rujukan yang dipilih harus: memiliki tenaga spesialis yang khusus menangani kanker, mempunyai sarana terapi kanker yang memadai layanan psikolog/psikiater dokter dengan spesialisasi kejiwaan.

Dalam hal ini pun perlu kerjasama dengan anggota keluarga guna pengambilan keputusan yang tepat.

15

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Dari penjelasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa: 1. HIV AIDS dan Kanker adalah penyakit yang mampu menyebabkan masalah psikologi pada penderitanya, berupa stress, kecemasan dan depresi 2. Dukungan merupakan hal yang paling dibutuhkan baik bagi pasien HIV AIDS maupun kanker 3. Strategi yang digunakan dalam pemecahan masalah psikologi adalah metode koping dan pengobatan paliatif 4. Rujukan dilakukan dengan kerjasama anggota keluarga menuju psikolog atau ahli kejiwaan yang tepat.

B. Saran 1. Setelah mengetahui masalah-masalah psikologis pada penderita HIV AIDS dan Kanker diharapkan kita mampu menjaga pola hidup sehat agar terhindar dari penyakit-penyakit tersebut. 2. Supaya kita lebih peka untuk memberi dukungan pada penderita HIV AIDS dan Kanker yang berada disekitar kita.

16