Anda di halaman 1dari 33

KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI

Mengembangkan Keterampilan Komunikasi Antar Pribadi

Oleh:

KELOMPOK 7 Nama Kelompok: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kadek Ari Dwiarwati I Nengah Budhi Saputra Ni Luh Gd. Mudiyathi Mawar Sari I. D. A. Asti Metayani Pande Kadek Ayu Sugianitri Ni Made Ayu Dwi Safitri (1011011019) (1111011009) (1111011010) (1111011030) (1111011032) (1111011038)

JURUSAN BIMBINGAN KONSELING FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA SINGARAJA 2013

KATA PENGANTAR
Om Swastyastu, Puja dan puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat dan karunia-Nya dan juga usaha dari kami akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah sederhana yang berjudul Mengembangkan Keterampilan Komunikasi Antar Pribadi. Pada kesempatan ini, tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Gede Sedanayasa, M.Pd selaku dosen pengajar mata kuliah Komunikasi Antar Pribadi yang telah bersedia memberikan bimbingan dan arahannya. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan mahasiswa, serta pihak lain yang turut membantu dalam proses pembuatan makalah ini. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi isi dan penyusunannya. Hal tersebut dikarenakan keterbatasan kami dalam hal pengetahuan dan pengalaman. Oleh sebab itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca, khususnya bagi mahasiswa jurusan Bimbingan Konseling.

Om Santih, Santih, Santih, Om

Singaraja, Maret 2013

Penyusun

ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .......................................................................................... ii DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 1.4 Latar Belakang .................................................................................... 1 Rumusan Masalah................................................................................ 1 Tujuan ................................................................................................. 2 Manfaat ............................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN 2.1 2.2 2.3 2.4 Keterampilan Merefleksi Perasaan .................................................. 3 Keterampilan Memberi Penguatan................................................... 4 Keterampilan Mendengarkan .......................................................... 5 Keterampilan Bertanya ..................................................................... 13

BAB III PENUTUP 3.1 3.2 Simpulan ............................................................................................. 28 Saran ................................................................................................... 29

DAFTAR PUSTAKA

iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Sebagai seorang calon guru bimbingan konseling yang nantinya akan

selalu berkomunikasi dengan seluruh lapisan sekolah. Komunikasi sendiri memiliki arti sebagai suatu proses pengiriman pesan dari komunikator ke komunikan. Pesan disini disampaikan dalam bentuk yang sederhana dan diharapkan mampu dimengerti oleh lawan bicara. Pesan itu harus memiliki makna, dimana pesan itu akan bermakna apabila pesan disampaikan secara lengkap tanpa mengurangi isi dari pesan itu. Kekaburan sebuah makna pesan dapat dikurangi dengan melihat cara pemakaian kata itu atau konteks suatu kalimat. Penyampaian pesan akan terputus apabila tidak terjadi suatu hubungan yang baik antar pribadi, hubungan antar pribadi adalah suatu proses hubungan yang tercipta, tumbuh dan berkembang antar individu satu dengan individu yang lain. Tidak cukup hanya dengan hubungan antar pribadi saja suatu komunikasi itu kan berjalan dengan baik, tetapi dalamsuatu komunikasi diperlukan juga keterampilan dalam melakukannya. Jadi dalam melakukan komunikasi

dibutuhkan keterampila-keterampilan khusus agar nantinya komunikasi itu akan mendapat tindak lanjut dan tidak terputus. Ketermpilan ini harus dikuasi oleh setiap guru bimbingan konseling karena mengingat tugas kita yang nantinya akan sebagai seorang pendengar, pemberi motivasi, pemberi penguatan dan lain-lain. Maka dari itu kita wajib mengetahui dan mempelajiri keterampilan-keterampilan tersebut sebagai dasar dan modal utama kita dalam melaksanakan tugas.

1.2

Rumusan Masalah Dari latar belakang tersebut didapatkan rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana keterampilan merefleksi perasaan? 2. Bagaimana keterampilan memberi penguatan? 3. Bagaimana keterampilan mendengarkan ? 4. Bagaimana keterampilan bertanya?

1.3

Tujuan 1. Mahasiswa dapat mengetahui keterampilan merefleksi perasaan. 2. Mahasiswa dapat mengetahui keterampilan memberi penguatan. 3. Mahasiswa dapat mengetahui keterampilan mendengarkan. 4. Mahasiswa dapat mengetahui keterampilan bertanya.

1.4

Manfaat Adapun manfaat yang diperoleh dari penyusunan makalah ini adalah

makalah ini nantinya dapat dijadikan sumber atau bahan bacaan bagi mahasiswa. Karena sebagai seorang calon konselor kita harus dapat mengetahui model konseling humanistik agar dapat membantu konseli.

BAB II PEMBAHASAN

2. 1. Keterampilan Merefleksi Perasaan Bagaimana seseorang merasakan suatu masalah sama pentingnya dari pada hakekat atau isi masalah itu sendiri. Perasaan terjalin bersama dengan masalah itu sendiri. Kesuksesan pemecahan masalah sebagaian tergantung pada pemahaman seseorang akan perasaan dan kesadaran kembali akan segala sesuatu yang ada kaitannya dengan perasaannya. Untuk membantu orang lain agar menjelaskan perasaannya, kamunikator harus mengenal betul perasaan orang yang diajak bicara. Itulah sebabnya, penekanan dalam uraian dan kegiatan ini terletak pada identefikasi dan ekspresi perasaan komunikator sendiri dan sebagai terletak pada pengenalan perasaan orang lain. Keterampilan merespon perasaan komunikan secara aktual difokuskan pada penggalan berikutnya. Untuk mengomunikasikan perasaan anda sendiri dengan cermat atau untuk memahami perasaan orang lain, merupakan kegiatan yang sulit. Alasannya: a. Ekspresi perasaan mengambil banyak bentuk yang berbeda. Perasaanperasaan dapat mengekspresikan diri melalui perubahan-perubahan badaniah, seperti : kecepatan detak jantung, pernafasan, malu, keringatan, teriakan atau tangisan, benturan, melihat satu arah atau memalingkan wajah, membungkuk, menggigit bibir. Dalam bentuk kata misalnya : komentar, gerak isyarat, tuduhan, panggilan nama, sindiran tajam, pertimbangan. Ekspresi perasan yang spesifik dapat bersumber dari perasaan yang sangat berbeda-beda. Wajah yang merah umpamanya, dapat menjadi indikasi perasaan kecewa atau malu, jengkel atau susah. b. Persepsi komunikator akan perasaan orang lain didasarkan pada berbagai situasi atau pengalaman yang berbeda. Bila seseorang berbicara dan anda lebih memungkinkan mempengaruhi perasaan seseorang. Persepsi anda akan perasaan orang lain, sering lebih tergantung pada apa yang anda rasakan dari pada kata-kata atau tindakan orang lain. Selanjutnya keterampilan mereleksi perasaan adalah respon terhadap poerasaan
3

komunikan. Respon ini dapat dilakukan dengan jalan merefleksi atau memantulkan perasaan komunikan. Untuk dapat memberikan respon yang tepat maka sebelumnya komunikator harus mengenali daftar perasaan dan tingkatannya mulai perasaan yang paling halus sampai perasaan yang paling keras. Pengenalan terhadap jenis-jenis perasaan yang tepat. Tidak mungkin akan memrefleksi perasaan senang kalau ekspresi komunikan cemberut.

2. 2. Keterampilan Memberi Penguatan Komunikator bisa memberikan respon dalam bentuk dukungan atau penghargaan kepada komunikan apabila pertanyaan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai bersama. Tujuan respon penguatan adalah disamping memotivasi komunikan agar dapat lebih terbuka, juga dapat mengmbangkan diri dalam komunikasi. Menurut D.N.Pah (1996) membedakan penguatan menjadi dua yaitu: 1. Penguatan Verbal Penguatan verbal berupa kata-kata pujian, dukungan, dorongan yang digunakan untuk menguatkan tingkah laku dan penampilan komunikan. Kata-kata yang digunakan seperti, benar, bagus sekali, tepat, dan sebagainya. Atau dalam bentuk kalimat seperti, bagus sekali jawaban mu. 2. Penguatan non verbal Penguatan non verbal adalah penguatan berupa mimik dan gerak tubuh seperti, senyuman, anggukan, acungan jempol dan sebagainya. Kedua jenis penguatan diatas bisa dilakukan bersamaan tergantung situasi. Contohnya, ketikan komunikator memberikan penguatan verbal saya sangat senang, pada saat itu juga komunikator tersenyum sambil menganggukan kepala. Penguatan Ada beberapa bentuk penguatan yang dapat dilakukan dalam komunikasi antar pribadi yang dapat memperkokoh terjadinya komunikasi antar pribadi. 1. Penguatan minimal yang baik mencangkup a. Mengelaborasi aspek-aspek nonverbal tentang prilaku attending yang baik, contoh : Memelihara kontak mata

Badan condong kedepan dengan penuh perhatian Gerak isyarat yang tepat Tanpa gerakan-gerakan gugup yang menggangu Anggukan kepala Gerakan badan kedepan bersama gerak isyarat yang hangat pada waktu yang tepat.

b. Ungkapan/ucapan verbal yang singkat, umpanya: Oh, Begitu, Kemudian, Dan. Ceritakan Lagi Mm, He Menyatakan kembali secara sederhana kata-kata eksak dari pertanyataan terakhir komunikan Mengulangi satu atau dua kata-kata kunci

2. Penguat minimal yang jelek mencangkup: Sikap badan yang kaku Tidak terbata-bata Gerakan badan yang terlalu banyak Keadaan diam yang menimbulkan perasaan malu

2. 3. Keterampilan Mendengarkan Mendengarkan bukan sekedar merupakan perkara fisik mendengarkan. Mendengarkan merupakan proses intelektual dan emosional. Dengar proses itu orang menyimpulkan dan mengintegrasi antara, input, fisik, emosional dan intelektual dari orang lain dan berusaha menangkap pesan serta maknanya. Tujuan mendengarkan menurut Soli Abimayu adalah mengumpulkan informasi yang ada hubungannya dengan masalah yang dihadapi dan tujuan yang dikemukakan oleh seseorang. Mendengarkan dengan baik tidak terjadi dengan gampang. Mendengarkan merupakan kerja keras. Mendengarkan bukan hanya menyangkut konsentrasi, dan kepekaan tetapi juga berbagai perubahan fisik dalam tubuh. Pada waktu mendengarkan dengar baik, detak jantung kita bertambah, suhu badan sedikit naik, dan peredaran darah lebih cepat.

Agar dapat menjadi pendengar yang baik, kita harus berusaha menjadi objektif. Meskipun objektivitas penuh itu jarang ada, mendengarkan menuntut usaha yang secra sadar mencoba untuk mengerti orang yang berbicara dengan kita, tanpa membiarkan pendapat pribadi mempengaruhi arti dan maksud katakatanya. Kita harus berusaha untuk mengerti apa yang hendak disampaikan kepada kita oleh orang yang berbicara dengan kita dan bukan apa yang ingin kita mengerti. Hal ini membantu kita untuk melihat dan merasakan apa yang dilihat dan dirasakan oleh orang yang berbicara dengan kita. Dengan demikian kita, jasanya dapat menembus lambing-lambang komunikasi dan lebih dekat dengan kenyataan yang bersangkutan dalam pembicaraan. Sebagai komunikan dam komunikator dengan pendengar yang jelek, maka kita tidak akan mampu menangkap pesan yang disampaikan masing-masing. Akibatnya kita tidak menangkap makna yang tersirat dalam ungkapan tersebut. Karena tidak menangkap makna pesan yang tepat, maka diantara keduanya saling mengajukan pertanyaan kembali. Kondisi seperti ini tentu merupakan komunikasi yang tidak efektif. Kurangnya kecakapan mendengarkan juga menciptakan rasa kurang percaya pada orang yang diajak berbicara. Karena mereka tidak percaya kepada kita, pada waktu berbicara dengan mereka, mereka juga tidak akan mendengarkan lawan bicranya. Sebaliknya jika kita memiliki kecakapan yang baik dengan orang-orang yang kita ajak berbicara kita akan membangun hubungan yang komunikatif dengan orang yang kita ajak bicara. Kita dengan mudah dapat menangkap makna pesan yang disampaikan apakah itu harapan, komentar, gagasan dan sebagaiannya. Cara mendengarkan yang baik mencakup : Memelihara perhatian penuh dan terpusat kepada klien. Mendengarkan segala sesuatu yang dikatakan oleh klien. Mendengarkan keseluruhan pribadi klien (kata-katanya, perasaan, dan prilakunya). Memahami seluruh pesanya. Mengarahkan apa yang anda katakan terhadap apa yang telah dikatakan oleh klien. Verma menyarankan bahwa jika ingin menjadi pendengar yang baik maka jadilah ACTIVE LISTEN. A singkatan dari attention yang berarti menaruh perhatian penuh terhadap pesan yang disampaikan baik

oleh komunikator maupun komunikan, C singkatan dari concern yang berarti, tertarik atau focus pada pesan pokok yang disampaikan, T singkatan dari timing yang berarti, memilih waktu yang tepat dalam merespon dan tidak menyela, I singkatan dari involvement yang bearti merasa ikut terlibat dalam suatu percakapan, V singkatan dari vocal tones (memperhatiakan irama suara dalam komunikasi dengan menyesuaikan diri dengan lawan bicara), E singkatan dari eye contact yang berarti, melakukan kontak mata yang baik yaitu tidak menatap secara menoton tetapi sesuai dengan kebutuhan. Berikutnya, L singkatan dari look yaitu melihat dan memperhatikan bahasa tubuh (body language) lawan bicara apakah antara respon verbak telah sesuai dengan bahasa non verbal, I singkatan dari intetset menunjukan minat yang tinggi terhadap lawan bicara atau materi yang dibicarakan, S singkatan summarize artinya dapat menangkap makna pokok pesan singkat, T singkatan dari territory focus pada hal-hal penting saja tidak melebar pada konteks lain, W singkatan dari empathy yang berarti menunjukan kebersamaan, merasakan apa yang dirasakan lawan bicara, dan N singkatan dari nod yang menandakan telah memahami atau setuju dengan apa yang dibicarakan. Cara mendengarkan yang jelek mencakup: Memungkinkan anda sendiri diganggu oleh keributan lain, pandangan diluar pandangan klien mengajukan pertimbangan-pertimbangan tentang pribadi klien sebelum mendengarkan semua pesan klien. Merumuskan suatu respon terhadap pesan klien sebelum klien mengakhiri pesannya. Melompat-lompat dari topic yang satu ke topic yang lain.

a. Macam-Macam Pendengar Phillip I. Hunsaker dan Antony J. Alessandra mengklasifikasikan pendengar menjadi empat tingkatan yaitu: 1. Pendengar yang bukan mendegar, 2. Pendengar dangkal, 3. Pendengar evaluative, dan 4. Pendengar aktif. Dalam kaitan dengan uraian ini hanya dijelaskan tiga jenis pendengar saja yaitu pendengar danggkal, pendengar evaluative, dan pendengar aktif. Sedangkan

tingkatan yang pertama yang disebut bukan pendengar tampaknya kurang relevan untuk dijelaskan. 1. Pendengar dangkal Pendengar dangkal artinya, mendengarkan suara dan kata-kata, tetapi tidak sunguh-sunguh mendengarkan. Isi atau pesan pembicaraan terungkap, tetapi tidak tertangkap. Pendengar dangal secara datar ada dipermukaan persoalan atau masalah, dan tidak mengambil resiko untuk masuk kedalamnya. Dia menunda perkara diluar. Dia menghindari pembicaraan serius. Dan jika mendengarkan, dia cenderung mendengarkan hal-hal yang sepele dan bukan yang pokok. Pendengar dangkaldapat jatuh pada perasaan terhibur palsu bahwa dia dapat mendengarkan, tetapi dia tidak mengerti apa yang dikatakan orang kepadanya. Tanggapan terhadap hal yang disampaikan kepadanya sering dipersoalkan karena meleset dari masalah pokoknya. 2. Pendengar evaluatif Pendengar evaluative artinya, mendengarkan dengan konsentrasi dan perhatian lebih besar dari pada tingkat mendengarkan diatas. Pendengar evaluative dimana pendengar secara aktif berusaha mendengar apa yang dikatakan orang, tetapi tidak berusaha untuk mengerti sepenuhnya apa makna pembicaraan orang. Kita lebih cenderung menjadi pendengar yang logis, lebih menaruh perhatia pada isi dari pada perasaan. Pendengar evaluative cenderung tetap tak terlibat secara emosional dalam pembicaraan. Dia cakap merumuskan kembali isi pembicaraan yang baru didengar dari orang lain, tetapi sama sekali tidak tahu isi lain dari pembicaraan yang diungkapkan oleh pembicara lewat nada suara, ungkapan wajah, dan gerak-gerik. Dia dapat dapat menangkap arti kata, dan atau fakta yang diuraikan dan kesimpulan yang dapat ditarik daripembicaraan, tetapi kepekaan untuk menangkap perasaan dan pemahaman yang benar, lemah sekali. Pendengar evaluative merasa yakin bahwa dirinya mengerti orang yang berbicara dengannya, tetapi orang yang berbicara dengannya merasa tidak mengerti olehnya. Mendengarkan secra evaluative mempercepat pembicaraan. Karena pendengar evaluative cepat menyambung, bahkan memotong, pembicaraan orang lain, entah karena setuju atautidak. Konsentrasi pendengar evaluative hanya

terpusat pada satu segi pembicaraan. Karena dia membentuk pendapatnya atas

dasar pendapatan atas dasar penangkapan yang tidak lengkap atas isi pembicaraan orang lain. Akibatnya orang yang berbicara dengan dia merasa kurang dimengerti, dipahami dan diterima. 3. Pendengar aktif Tingkat mendengarkan ini merupakan tingkat mendengarkan yang paling tinggi dan paling baik. Jika kita sudah mampu menahan diri untuk tidak menilai ucapan-ucapan orang yang berbicara dengan kita dan menempatkan diri pada tempatnya dengan berusaha untuk melihat perkara dari segi pandangannya, kita sudah berhasi mencapai tingkat pendengaran ini. Kita sudah menjadi pendengar aktif. Pada tingkat ini terjadi komunikasi yang sejati. Kita tidak hanya penuh perhatian terhadap kata-kata yang diucapkan orang, tetapi berusha menjadi satu dengannya. Untuk ini kita perlu menahan pikiran dan perasaan kita sendiri dan memusatkan perhatian pada mendengarkan orang yang berbicara dengan kita. Kita tidak hanya mendegarkan isi ucapan-ucapan tetapi lebih penting juga perasaan yang menyertai. Kita perlu menunjukan kepada orang yang berbicara kepada kita, baik secara verbal maupun non verbal, bahwa kita betul-betul mendengarkannya. Pendengar aktif tidak perlu memotong pembicaraan orang. Dia amat penuh pengertian. Dia berusaha berusa untuk selalu mencari tanda-tanda suatu gejala-gejala verbal atau non verbal yang merupakan ungkapan untuk menyatakan hal yang ingin yang dikatakan. Dia mendengarkan tidak hanya apa yang dikatakan dan bagaimana hal itu dikatakan orang, tetapi juga peka terhadap apa yang tidak dikatakan. Pendengar aktif adalah orang yang cakap mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Dia mempergunakan pertanyaan-pertanyaan untuk

memperjelas mengenbangkan dan memperluas pembicaraan dengan maksud agar seluruh hal yang hendak dikatakan orang kepadanya terungkap secara enak dan leluasa. Pendengar aktif memiliki tiga keterampilan penting yang tidak dimiliki oleh pendengar-pedengar pada tingkat dibawahnya. Dia dapat menangkap, memperhatikan dan menjawab dengan baik.dia dapat menangkap dalam arti dapat mengenal dan menghargai maksud yang tak terucapkan yang disampaikan orang yang berbicara dengannya lewat nada suara, raut wajah, gerak-gerik dan sebagainnya. Dia mampu memperhatikan dalam arti mampu menyampaikan

pesan-pesan kepada orang yang bebicara dengannya lewat katakata suara, raut wajah dan gerak-gerik yang menunjukan perhatian, sikap bersedia menerima, dan pengakuannya terhadap orang yang berbicara dengannya berserta maksung yang hendak disampaikan olehnya. Hal ini mencakup kontak mata, raut wajah, gerakgerik, anggukan kepala, sikap tenang dan tindak tanduk yang jauh dari pertanda bosan atau marah. Dia cakap menjiwai dalam artian cakap member tanggapan yang menunjukan ketepatannya menangkap agar orang itu dengan bebas dapat terus berbicara dengan enakdan mengeluarkan isi pikiran dan hatinya, mendapat informasi yang dibutuhkan, serta membuat orang berbicara dengannya dipahami. Cara mendengarkan tingkat ini melelhkan sebab menuntut konsentrasi yang besar.

b. Hambatan Dalam Mendengarkan Ada beberapa hambatan untuk mendengarkan secara baik. Dibawah ini disebutkan macam-macamnya. Dengan mengetahui hambatan-hambatan itu diharapkan kita mampu mencari jalan untuk mengatasinya. 1. Motivasi Dan Sikap Motivasi dan sikap mungkin merupakan hambatan yang paling besar untuk mendengarkan dengan baik. Kita cenderung untuk mendengarkan hal yang ingin kita dengar saja dan tidak mendengarkan hal yang seharusnya kita dengar. Maka jika kita masuk dalam situasi dimana kita harus mendengarkan dan kita tidak memiliki motivasi dan sikap untuk mendengarkan, kita tidak akan mendengarkan, menangkap atau mengerti apa yang dikatakan orang. 2. Kurang Konsentrasi Dan Perhatian Kekurangan konsentrasi dan perhatian dapat terjadi karena orangnya memang tidak cakap memusatkan perhatian untuk jangka waktuyang cukup lama, karena orang itu terbagai perhatiannya. Misalnya, antara membaca majalah yang dipegangnya dan mendengarkan orang yang berbicara dengannya. Karena gangguan diluar seperti suara, orang-orang yang berbicara ramai-ramai, telepon yang terus-menerus bordering dan sebagaiannya. Semua ini mengganggu konsentrasi dan perhatian dalam mendengarkan. 3. Pengertian Salah Tentang Arti Mendengarkan

10

Banyak orang mengira bahwa mendengarkan merupakan kegiatan yang pasif. Maka kita cenderung mau banyak bicara dan tidak mau mendengarkan. Tetapi kalu ada dua orang berbicara dan kedua-duanya hanya mau berbicara dan tidak mau mendengarkan, mereka tidak hanya saling mendengarkan, tetapi juga merusk komunikasi dan hubungan antara mereka. Karena dari tindakan tidak saling mendengarkan itu, mereka tidak saling menerima. Sebaliknya jka mendengarkan itu merupakan kegiatan aktif dan terjadi interaksi antara pendengar an orang yang berbicara, maka kemungkinan untuk saling menerima dan mengerti diantara mereka menjadi lebih besar. 4. Pengalaman Dan Latar Belakang Pengalaman dan pendidikan mempengaruhi dalam mendengarkan. Misalnya, jika kita mendengarkan ceramah di bidang ilmu yang tidak kita kuasai dan dalam ceramah itu dipergunakan banyak istilah teknis, kita akan sulit mendengarkan dan menangkap isi ceramah dengan lengkap. Sama halnya jika kita miskin dalam pembendaharaan kata dalam bahasa yang digunakan dalam pembicaraan, kita akan sulit berbicara dengan orang yang kaya dengan berbagai istilah muktahir.

5. Tempat Untuk Mendengarkan Yang Jelek Tempat dimana kita berkomunikasi dan berbicara dengan orang lain mempengaruhi cara kita mendengarkan orang itu. Kita tidak dapat mendengarkan orang lain dengan baik, jika tempat berkomunikasi dan berbicara itu ramai. Kita tidak dapat mendengarkan orang lain dengan baik jika tempat berkomunikasi dan berbicara itu tidak nyaman. Misalnya tempat duduk itu tidak enak dan udara pengap, penuh bau tidak sedap. Kita tidak dapat mendengarkan orang lain, yang berbicara dengan kita dengan baik, jika tempat duduk kita jauh dari tempat duduk orang yang berbicra dengan kita. Kita tidak dapat mendengarkan dengan baik, jika tempat komunikasi dan tempat berbicara terlalu banyak hiasan yang begitu indah dan asing, sehingga kita lebih tertarik pada hiasan dari pada isi dan maksud yang hendak disampaikan orang kepada kita. Maka kita hendak mendengarkan orang dengan baik, tempat untuk mengadakan pembicaraan, apalagi untuk pembicaraan yang serius perlu dipertimbangkan.

11

6. Prasangka Prasangka tercipta dalam diri kita dapat sekedar rasa, keyakinan, atau nilai-nilai yang kita pegang. Rasa dapat menghambat dan membantu kita untuk mendengarkan orang lain. Kita cenderung sulit mendengarkan orang yang tidak kita sukai dan mudah mendengarkan orang yang kita sukai. Jika hal yang kita dengar sejalan dengan keyakinan kita, kita cenderung untuk lebih mendengarkan dengan penuh perhatian dari pada hal-hal yang tidak sejalan dengan keyakinan kita. Jika nilai yang terkandung dalam pembicaraab cocok dengan nilai yang kita pegang, kita cenderung lebih menyerapnya dari pada pembicaraan tentang nilai yang tidak cocok. Oleh karena itu dalam proses mendengarkan kita perlu kritis dengan diri sendiri dan berusaha menghilangkan prasangka yang ada dalam diri kita. Sebab hanya dengan bebas dari prasangka kita dapat mendengarkan orang lain secara penuh dan tanpa saingan. 7. Cara Orang Berbicara Ada orang yang berbicara secara sistematik. Ada orang yang berbicara agak acak-acakan. Ada orang berbicara cepat. Ada orang yang berbicara lambat. Cara orang berbicara itu mempengaruhi kita waktu mendengarkan. Kita mungkin lebih mudah mendengarkan orang yang berbicara cepat. Tetapi orang lain lebih mungkin mudah mendengarkan orang yang berbicara lambat. Tambahan pula cara orang menangkap pembicaraan juga berbeda-beda. Tipe auditif, misalnya lebih mudah menangkap pembicaraan lewat telinga dari pada visual yang lebih mudah menangkap pembicaraan orang lain, kita mampu memanfaatkan kekuatan kita dan menangkap pembicaraan orang dengan lebih baik. 8. Kurang Kecakapan Untuk Mendengarkan Kurang cakapan untuk mendengarkan merupakan hambatan untuk mendengarkan yang paling jelas. Salah satu cara untuk mengatasi kekurangan itu adalah menyadari hambatan-hambatan yang sudah disebut diatas. Dan jika sudah merasa melihat hambatan itu pada diri sendiri berusaha untuk mengatasinya. Cara yang kedua adalah mengembangkan kecakapan itu. Dan cara ketiga adalah membina motivasi menjadi pendengar baik.

12

2. 4. Keterampilan Bertanya Bertanya adalah kegiatan yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Di sekolah, di kantor, di rumah dan dimana saja selalu terjadi kegiatan tanya jawab. Pertanyaan yang diajukan oleh seseorang biasanya untuk memperoleh informasi mengenai hal-hal yang belu diketaui. Dalam komunikasi atar pribadi, pertnyaan yang diajukan oleh komunikator atau oleh komunikan bertujuan untuk mengetahui apa yang belum diketahui oelh masing-masing pihak. Secara lebih khusus tujuan bertanya antara lain: 1. Untuk membangkitkan minat dan rasa ingin tahu terhadap suatu konsep atau pokok bahasan. 2. Untuk memusatkan perhatian terhadap satu topik yang dibahas dalam komunikasi. 3. Mendorong pendengar untuk mengemukan ide atau informasi. Kecakapan bertanya juga memberi kemungkinan kepada komunikator untuk mampu menemukan masalah tujuan yang diinginkan, sasaran yang dituju dan lebih jauh memungkinkan untuk menemukan diri sendiri.

a. Mengapa Orang Bertanya Fungsi pertama dan utama dari pertanyaan adalah untuk merangsang, mendorong, dan menciptakan komunikasi. Dengan mengajukan pertanyaan, kita membuka saluran atau jalan untuk berkomunikasi, memulai interaksi verbal dan menciptakan hubungan dalam bentuk kata. Jika interaksi sudah dimulai dan jalan komunikasi sudah terbuka, fungsi pertanyaan kita dapat berubah . kita dapat terus mendorong jalannya komunikasi, dan dapat mempergunakan untuk mencapai tujuan-tujuan lain, seperti dijelaskan dibawah ini. 1. Bertanya untuk mendapatkan informasi Pertanyaan dapat digunakan untuk mendapatkan informasi berkenaan dengan topik yang dibicarakan. Topik tersebut bisa menyangkut masalah sosial, pribadi,pekerjaan, dan karir, juga masalah-masalah lainnya. Informasi yang diperoleh dapat member gambaran mengenai latar belakang, sebab-sebab dan sumber-sumber masalah. 2. Bertanya untuk mendapatkan pengertian yang mendalam pertanyaan ini

13

Berkat kecakapan kita untuk mengajukan pertanyaan, kita dapat mengerti sudut pandang orang yang kita ajak berbicara. Karena pengertian sudut pandangnya, kita dapat menyesuaikan isi serta gaya kita dengan pandangan kita. Kita dapat membantu dia untuk merumuskan gagasan dan isi, cara dan gaya kita dengan pandangan dia. Kita dapat membantu dia untuk merumuskan gagasan dan isi hatinya berdasarkan motif, harapan dan cirta-citanya. Kita juga dapat mengerti apa yang dia butuhkan. 3. Bertanya memberikan informasi Dengan pertanyaan komunikator mendapatkan fakta dan data yang perlu diketahui. Isinya adalah penyampaian informasi, tetapi bentuknya berupa pertanyaan. Seperti : apakah kamu mengetahui setiap kegiatan di hmj memerlukan dana untuk pelaksanaannya? Bentuk pertanyaan ini sangat khas dalam arti tidak memerlukan jawaban lagi kita sudah memahami dan tahu akan jawabannya. 4. Bertanya untuk mengharapkan partisipasi Tidak jarang terjadi komunikasi kurang komunikatif. Untuk itu kita perlu membantu komunikan agar keluar dari permasalahan. Tujuannya adalah membuka dan mengungkapkan diri, dan pada akhirnya melibatkan diri pada komunikasi tersebut. Untuk ini kita perlu mencari bentuk pertanyaan yang sesuai dan menemukan saat yang tepat untuk mengajukannya. Pertanyaan seperti : selama beberapa hari terakhir ini, kamu tampak tidak seperti biasanyanya. Apakah saya boleh mengetahui penyebabnya?. Pertanyaan yang penuh minat dan perhatian ini dapat menjadi awal untuk meruntuhkan hambatan-hambatan yang membuat orang menarik dan menutup diri. Dengan merasa diperhatikan, meskipun masalahnya belum tentu dapat terselesaikan namun orang merasa dimengerti dan dipahami. Akibatnya dia rela untuk keluar dari masalahnya sendiri, dan mau terlibat dalam hidup dan tugasnya. Inti dari pertanyaan untuk mengharapkan partisipasi dan kerja sama, pada pokoknya bertujuan untuk membantu orang agar mau dan mampu terlepas dari permasalahnya. 5. Bertanya untuk mengecek pengertian

14

Pertanyaan dapat digunakan untuk mendapatkan umpan balik kritis yang perlu untuk mengetahui benar-benar bahwa komunikasi dan arahnya betulbetul terjadi. Umpan balik membantu kita untuk memastikan diri bahwa kita telah menangkap pesan yang hendak disampaikan oleh orang-orang yang diajak berbicara, baik perasaan maupun isinya. Sebaliknya umpan balik ini juga dapat kita pergunakan untuk menilai perasaan dan pengertian seseorang tentang topic yang dibicarakan. Kita perlu mempergunakan pertanyaan untuk mendapatkan umpan balik itu secara teratur dan periodik, untuk mengetahui dengan pasti bahwa kita mengerti maksud orang-orang yang diajak berbicara. Dengan mengajukan pertanyaan untuk mengecek pengertian dan minat, kita menyampaikan beberapa hal penting kepada orang yang diajak berbicara, 1. Kita menunjukan bahwa kita berusaha sungguh-sungguh untuk mendengarkan, 2. Kita membuktikan dengan tindakan konkrit bahwa hal-hal yang mereka kemukakan itu penting, 3. Kita menegaskan hal-hal yang dikemukakan itu, sehingga salah pengertian dan rasa tidak enak itu dapat terhindarkan.

6. Bertanya untuk mengajak berpikir Pertanyaan yang kita ajukan untuk memperoleh pendapat dan usulan, membantu orang yang diajak berbicara untuk berpikir, fan

menyumbangkan gagasan yang kita perlukan. Bila kita minta pendapat, kita mengakui kemampuannya untuk menyumbangkan sesuatu yang berarti dan berharga. Permintaan pendapat ini bukanlah merupakan semacamusaha untuk menarik hati orang yang diajak bicara. Karena kita memang betul-betul menerima, menghargai dan memanfaatkan

sumbangan dan pengetahuannya. Dasarnya adalah keyakinan bahwa orang yang kita ajak bicara mempunyai pengetahuan yang cukup tentang apa yang dibahas. Maka dengan menanyakan pendapatnya kita bermaksud memanfaatkan pengalamannya untuk menyampaikan usulan yang berguna dalam pengambilan keputusan. 7. Bertanya untuk mencapai kesepakatan

15

Dengan mengajukan pertanyaan kepada orang yang diajak bicara apakah dia setuju dengan pemikiran, pendapat, saran kita, kita dapat mengerti bagaimana hubungan kita dengan dia. Sia-sialah untuk maju terus dengan suatu perkara, jika orang yang diajak bicara tidak menemukan jalan keluar atau keputusannya, sebelum itu lebih baik menggali bidang-bidang yang disetujui dan tidak disetujui bersama. 8. Bertanya untuk menarik kembali perhatian pada masalahnya Jika tidak berhasil menarik perhatian lawan bicara bicara atau menahannya pada masalah yang sedang kita bicarakan. Mungkin kita dapat mengembalikan perhatiaanya dengan mengajukan pertanyaan- pertanyaan kepada dia. Namun jika hal ini tidak berhasil dan kejenuhan terlihat jelas dan berlangsung alot. Kita perlu mencari waktu lain agar komunikan terlihat lebih siap untuk kita ajak membahas suatu permasalahan. 9. Bertanya untuk menemukan kesenjangan antara keinginan dengan kenyataan Banyak orang suka mengatakan bahwa dia melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan atau keadaannya. Tetapi tidak, tujuan pertanyaan adalah untuk membantunya menyadari keadaan dan melihat hubungan antara keadaan itu dengan tujuan dan cita-cita yang seharusnya dicapai. Pertanyaan ini pada pokoknya menyangkut hal-hal yang tidak memuaskan, kesulitan yang dijumpai, hambatan yang ada, pada waktu dan melakukan sesuatu itu. Berkat jawabanya kita dapat membantu memahami keduanya dengan menyampaikan informasi dan penjelasan yang perlu. Bersama itu perlu komunikator dapat menjelaskan hubungan antara keinginan dengan kenyataan. Dalam konseling upaya ini disebut dengan personalisasi, yang artinya menggerakan komunikasi kepada komunikan tentang masalahnya, tujuan yang ingin dicapai dengan keadaan dirinya.

b. Macam-macam pertanyaan Untuk mengetahui atau mendapatkan informasi dari komunikan pada saat melakukan komunikasi, ada beberapa jenis pertanyaan yang bisa diajukan seprti: 1. Pertanyaan terbuka

16

Pertanyaan terbuka pda umumnya dipergunakan untuk mendapatkan berbagai jawaban atas suatu poko yang luas. Dengan pertanyaan terbuka kita bisa menanyakan pengetahuannya mengenai suatu hal atau pendapatnya mengenai sesuatu. Pertanyaan terbuka itu biasanya seperti: a. Tidak dapat dijawab hanya dengan ya atau tidak. b. Dimulai dengan kata apa, bagaimana, dan mengapa. c. Tidak mendorng orang yang lita tanyai menuju kearah tertentu. d. Mengembangkan diaolog dengan menarik perasaan dan pendapat orang yang kita tanyai. e. Dapat dipergunakan untuk memberi arah kepada orang yang kita tanyai untuk membeberkan tujuan, kebutuhan, kekurangan , masalah, situasi yang ada. f. Dapat dipergunakan untuk membantu orang yang kita tanyai menemukan masalahnya sendiri. g. Dapat dipergunakan untuk merangdsng orang yang kita tanyai, memikirkan gagasan, saran, pengarahan kita. h. Membantu orang yang kita tanyai menampakkan gaya mereka secara lebih siap dan tepat. Pertanyaan-pertanyaan ysng diajukan dapat membantu agar wawancara tetap dapat berlangsung. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan membuka bidangbidang diskusi yang baru, membantu menunjukkan isu dengan cepat, dan dapat digunakan untuk membantu konseli agar meneliti atau mengeksplorasi aspekaspek masalahnya. Konseli mengikuti wawancara karena merasakan suatu masalah. Tugas pertama komunikator adalah menjauhkan diri dari konseli agar ditemukan bagaiman konseli melihat situasinya. Alat yang bermanfaat untuk menentukan kegiatan ini ialah keterampilan menciptakan struktur yang terbatas dengan menggunakan pertanyaan terbuka. Ajakan terbuka untuk berbicara memberi kesempatan konseli agar mengeksplorasi dirinya sendiri dengan dukungan komunikator. Kegiatan itu memberi peluang konseli untuk

mengeksplorasi dirinya tanpa menyesuaikannya dengan setiap kategori yang telah ditentukan oleh komunikan. Sebaliknya pertanyaan tertutup biasanya lebih melacak isi pembicaraan faktual dari pada perasaan, mendemontrasikan

17

kurangnya minat tehadap apa yang telah dikatakan oleh konseli, dan kadangkadang menyerang konseli tanpa menyadari posisinya. Karena pertanyaan tertutup biasanya dapat dijawab dengan beberapa kata atau dengan kata ya atau tidak, jarang memperkuat konseli untuk mengeksplorasi dirinya sendiri. Yang lebih jelek lagi, penggunaan sejumlah petanyaantertutup lebih memudahkan timbulnya semacam introgasi dari pada konseling. Pada umumnya pertanyaan terbuka memberi peluang konseli untuk mengemukakan ide, perasaa, dan arahnya dalam wawancara. Responnya terhadap pertanyaan terbuka ialah untuk menunjukan kesadarannya bahwa dia dimintauntuk menceritakan sejarahnya atau lebih menjabarkan apa yang telah dikatakan. Penguat minimal adalah indikator kecil terhadap orang lain, bahwa konselor bersama konseli. Sekali kamu telah mengajukan pertanyaan (atau menggunakan keterampilan konseling yang lain), konselor menginginkan agar konseli lebih terdorong berbicara terus. Kegiatan ini dapat dilaksanakan secara non verbalatau dengan mengekspresikan ungkapan singkaat yang menunjukan bahwa konselor mendengarkan bersama dengan orang yang sedang dibantu.

2.

Pertanyaan tertutup Pertanyaan tertutup meminta jawaban yang tegas mengenai suatu hal yang

khusus. Jawaban itu ya, tidak, atau singkat. Pertanyaan tertutup biasanya: a. Memberi kemungkinan untuk memperoleh fakta dan data yang diperlukan. b. Menuntut pemikiran sedikit dari orang yang ditanyai. c. Berguna dalam proses umpan balik. d. Dipergunakan untuk mendapat kesanggupan atau keterlibatan dalam pendirian atau hal tertentu. e. Dapat digunakan untuk menekankan pertanyaan-pertanyan yang positif. f. Dapat digunakan untuk mengarahkan pembicaraan menuju kebidang pembicaraan tertentu. Contoh-contoh pertanyaan tertutup, misalnya: 1) Berapa jam kamu belajar dalam seminggu? 2) Apakah kamu perpendapat bahwa belajar itu bisa dilakukan lebih baik lagi?

18

3) Apakah hal itu yang paling membuatmu cemas? 4) Apakah itu merupakan jalan keluar yang baik? Pertanyaan-pertanyaan yang baik Pertanyan yang baik dapat digolongkan menjdadi 3 jenis, yaitu: 1. Pertanyaan yang membantu memulai wawancara, misl: apa yang akan kamu bicarakan hari ini? Sampai dimana pembicaraan kita diperrtemuan yang terrakhir?. Pertanyaan seperti itu biasanya dilontarkan untuk memulai wawancara oleh konselor. 2. Membantu lawan bicara untuk mengutarakan sesuatu, misl: lalu dapatkah kamu menceritakan masalah kamu secara lebih detail? Bagaiman perasaan kamu pada saat itu?. Pertanyaan seperti ini bertujuan untuk mendapatkan informasi yang lebih detail mengenai masalah yang dialami oleh konseli. 3. Membantu memunculkan contoh-contoh perilaku khusus sehingga konselor dapat memahami dengan lebih baik apa yang dijelaskan oleh konseli. Misl: apa yang kamu rasakan pada saat kamu menceritakan masalah kamu kepada saya? Bagaimana perasaan kamu pada saat mengalami masalah seprti itu?. Nampak jelas dari pertanyaan itu akan mendapat jawaban berupa peubahan tingkah laku dari konseli. Sebaliknya pertanyaan yang jelek apabila: 1. Pemakaian pertanyaan tertutup yang terlalu sering. Misl: apakah kita akan kembali melakukan proses konseling? Apakah kamu akan tetap diam dan tidak mengambil keputusan tentang masalah yang kamu alami?. 2. Pengajuan pertanyaan lebih dari satu pada waktu yang sama. Misl: masalah apa yang sedang kamu alami? Apakah kamu sudah pernah melakukan proses konseling sebelumnya?. Pertanyaaan seperti itu dilontarkan pada waktu yang sama, dimana konseli belum menjawab pertanyaan pertama namun sudah dilontarkan pertanyaan yang kedua. 3. Pengajuan pertanyaan mengapa. Misl: mengapa kamu tidak mengikuti pelajaran dengan baik?. Pada umumnya pertanyaan mengapa terlalu bersifat menyudutkan konseli, sebab pertanyan mengapa terlalu menuntut konseli untuk menjawab secara detail dan konselor terlihat

19

seperti ingin tahu masalah dari konseli. Pertanyaan mengapa lebih baik diganti dengan apa bagaimana atau dapatkah karena lebih memberi peluang yang lebih banyak pada konseli untuk mengemukakan hal-hal yang berkaitan dengan topik masalahnya. 4. Memasukan jawaban dalam pertanyaan yang kamu ajukan. Misl: kamu sebenarnya belum mengerti tentang pertanyaan yang diberikan, bukan?. Pertanyaan seperti itu tidak baik dilontarkan sebab penanya terlihat seperti mendeskrisikan bahwa orang yang ditanya seakan-akan memang belum mengerti, melainkan belum tentu orang yang ditanya itu belum mengerti. Didalam kategori pertanyaan terbuka dan tertutup kita dapat menemukan macam-macam pertanyaan, yaitu sebagai berikut: Pertanyaan dalam menemukan fakta Pertanyaan tentang fakta biasanya mengambil pertanyaan dalam bentuk tertutup. Dengen bentuk pertanyaan itu kita dapat memperoleh informasi tentang keadaan, tujuan, cita-cita dan hal-hal lain yang kita perlukan. Biasanya pertanyaan itu mudah untuk dijawab dan dapat dipergunakan untuk mengajak orang masuk kedalam pembicaraan secara mudah dan bertahap. Jika fakta yang ingin kita ketahui tidak sensitif, mengacam atau menantang, pertanyaan tentang fakta dapat kita pergunakan untuk memulai membangun saling percaya dengan orang yang kita tanyai. Dari situ pertanyaan dapat kita angkat menjadi pertanyaan untuk mengetahui fakta. Pada waktu mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan fakta, kita harus menjaring informasi yang memang perlu untuk pembicaraan saat itu. Tambahan pula informasi yang kita terima itu kita dengar dan ingat betul-betul. Kalau perlu mengecek hal yang kita terima itu dengan menanyakan kepada orang yang kita tanyai apakah pengumpulan informasi yang kita peroleh itu benar. Misl : Di mana tempat tinggal mu? Berapa kamu membayar SPP? Berapa jam kamu biasanya kamu belajar?

Pertanyaan untuk menemukan perasaan Pertanyaan untuk menemukan perasaan biasanya pertanyaan terbuka.

Pertanyaan itu dipergunakan untuk mengenali perasaan, sikap, keyakinan,

20

motivasi, dan isi hati seseorang. Sifat pertanyaan kadang-kadang dapat bersifat pribadi dan menyetuh bidang-bidang yang sensitif, maka kita harus yakin terlebih dahulu bahwa hubungan yang baik dan saling percaya sudah terbentuk.bentukbentuk pertanyaan untuk menemukan perasaan, misl: Bagaimana perasaan mu setelah diterima di perguruan tinggi negeri? Dapatkah kamu menjelaskan, bagaimana perasaan mu ketika kamu bertemu dengan orang yang kamu tidak sukai? Bagaimana perasaan mu jika dihadapkan dengan seekor singa?

Pertanyaan untuk memperjelas Menurut strukturnya, pertanyaan ini mengatakan kembali dengan kata-kata

sendiri ucapan orang yang kita tanyai. Bentuk opertanyaan ini bukan untuk menyatakan apa ang dimaksud oleh orang yang mengucapkan kata-kata. Pertanyaan ini digunakan untuk mempertegas dan memberi umpan balik tentang apa yang kita ketahui dari ucapan yang sudah diucapkan oleh orang lain. Pertanyaan jenis ini bertujuan untuk : 1. Mengucapkan dengan kata lain tapsiran kita mengenai apa yang dimaksud oleh mereka. 2. Mengajak mereka untuk menguraikan lebih luas atau menjelaskan hal yang sudah diutarakan sebelumnya. 3. Mencari kepastian apakah antara komunikator dan komunikan seduh berbicara dalam bahasa yang sama. 4. Membantu mereka memperjelas hal-hal yang kita rasa masih kabur dan ungkapan-ungkan umum yang terlalu luas. 5. Contoh : Dari masalah yang saya dengarkan rupanya hal-hal yang kamu perhatikan pada saat itu ialah rasa takut yang mendalam. Benarkah begitu? Jika saya dengarkan dengan seksama saya menyimpulkan bahwa kamu sangat kecewa. Betul begitu? Pertanyaan untuk memperluas Menemukan apa yang sebenarnya apa yang ada pada hati mereka.

21

Jenis pertanyaan ini diajukan untuk mendapatkan jawaban luas mengenai suatu pokok yang sempit. Tujuannya adalah untuk : 1. Menanyakan informasi tambahan dalam bentuk yang lebih terperinci 2. Mendorong orang yang kita tanyai untuk menguraikan atau mengembangkan pokok yang sudah diutarakan Contoh: Dapatkah kamu memberi contoh pilihan karir yang sesuai dengan kemampuan kamu? Apakah kamu dapat menceritakan lebih lanjut mengenai masalah yang kamu alami? Apakah ada faktor lain yang menyebabkan hal itu?

Pertanyaan direktif Bentuk pertanyaan direktif adalah pertanyaan tertutup. Tujuannya untuk

mengarahkan pembicaraan kesuatu bidang yang hendak diperhatikan secra khusus. Pertanyaan seperti itu berguna jika : 1. kita ingin mengubah pembicaraan dari satu pokok ke pokok yang lain. 2. Kita mau memberikan arah khusus untuk jawaban yang hendak kita peroleh dari orang yang kita tanyai 3. Kita ingin membantu orang yang kita tanyai agar lebih mengerti tentang kebutuhan, masalah dan harapan-harapannya. Contoh: Apakah ada hal lain yang hendak kamu sampaikan kepada saya saat ini? Sejauh yang saya tahu masih ada masalah lain yang kita perlu pecahkan. Pertanyaan asumtif Pertanyaan asumtif adalah pertanyaan uyang mengandung unsur pengandaian dan bersifat tidak pasti. Maka dari itu untuk dapat menggunakan pertanyaan ini dengan berhasil, kita harus tahu dengan pasti keadaan pikiran dan sikap orang yang kita tanyai sebelum kita mengandaikan pertanyaan yang kita ajukan. Apabila kita salah mengguanakan pertanyaan kita akan ditertawakan oleh orang lain. Contoh: (dari percakapan sebelumnya diketahui bahwa orang yang kita

22

ajak bicara sedang sakit). Pertanyaan asumtifnya adalah: apakah besok anda tidak pergi kedokter?. Pertanyaan-pertanyaan ini harus tepat waktu. Jika tidak dapat dikatakan sebagai jebakan, untuk memaksa orang-orangyang diajak berbicara agar mengambil keutusan dalam perkara yang mereka tidak sikap. Hal ini dapat membuat mereka kehilangan kepercayaan kepada kita. Pertanyaan menguji Pertanyaan ini berperan untuk mengukur keadaan hati, sikap atau pendirian orang-orang yang kita tanyai mengenai suatu pokok atau masalah tertentu. Pertanyaan itu baik kita ajukan, bila kita perlu menentukan tingkat kesetujuan atau ketidak setujuan mereka mengenai segi atau unsur-unsur masalah yang dibicarakan. Amat tepat jika kita mempergunakan pertanyaan yang menguji itu, pada waktu kita mengadakan usaha pemecahan masalah dengan orang yang kita ajak bicara. Contoh: Bagaimana pendapatmu? Sejauh mana masalah itu kamu pandang penting? Apakah menurutmu langkah semacam itu baik? Pertanyaan meminta Pertanyaan ini diajukan untuk mendapatkan kesepakatan bersama atau melaksanakan rencana atau keputusan bersama. Untuk pertanyaan itu adalah pertanyaan terbuka digabung dengan pengarahan. Meski bentuknya pertanyaan terbuka namun juga mengarahkan seseorang untuk melibatkan diri pada sesuatu. Contoh : Kapan kita akan melanjutkan pembicaraan kita? Tindakan apa yang akan kamu ambil untuk mengatasi masalah itu? Langkah seperti apa yang harus kita ambil selanjutnya untuk menyelesaikan masalah ini?

c. Srategi dan Teknik Bertanya Dengan kecakapan untuk mengajukan pertanyaan-pertayaan, kita

mengawali pembicaraan yang meningkatkan hubungan kita dengan orang-orang

23

yang yang diajak bicara. Entah bagaimana sifat orang tersebut, pendiam, suka bicara, atau biasa-biasa saja, jika kita cakap mengajukan pertanyaan kita akan mendapatkan data atau informasi yang kita butuhkan, namun tetap menjaga hubungan baik dengannya. Untuk menjaga dan meningkatkan mutu cara kita mrngajukan pertyaan, trategi umum untuk memilih pertayaan di bawah ini dapat membantu. 1. Pilihan waktu yang tepat Jika orang-orang yang diajak bicara tidak siap untuk menerima pertayaan, kita tidak akan mendapat jawaban yang kita butuhkan. Pertayaan harus diajukan pada saat yang tepat, tidak terlau cepat, tidak terlalu lambat. Untuk dapat mengajukan pertayaan yang tepat diperlukan kepekaan dan kejelian membaca orang-orang yang diajak bicara. 2. Menyikapi rencana pertayaan Persiapan ini merupakan awal pembicaraan, titik tolak pengembangan pertayaan-pertayaan dan titik kembali jika pertayaan menlantur dan menyeleweng dari tujuan. Dengan persiapan itu, kita dibantu untuk menyusun pertayaanpertayaan sedikit demi sedikit membawa kita ke pertayaan pokok yang ingin kita ajukan kepada lawan bicara kita. 3. Mengenal orang yang kita tanyai Dalam komunikasi anta pribadi, mengenal dan memahami seseorang yang akan diajak bicara adalah merupakan komponen pokok yang paling penting. Dengan demikian informasi mengenai latar belakang pribadi, keluarga, pedidikan, keyakinan, agama, sikap, minat, pendapat, cara kerja, gaya hidup orang yang kita tanyai, kita dibantu untuk menyusun dan mengajukan pertanyaan yang tepat kepada dia. Memeng mengenal orang diperlukan usaha dan waktu yang relative memadai. 4. Minta izin sebelum mengajukan pertayaan Pertmintaan izin sebelum mengajukan pertanyaan ini membuat orangorang yang kita tanyai merasa tenang. Karena permintaan izin ini menunjukan sikap hormat kita kepada orang-orang yang kita tanyai. Dengan demikian perrmintaan izin sebelum mengajukan pertanyaan kepada orang-orang yang kita tanyai, dapat merupakan langkah pertama untuk membangun sikap saling percaya

24

dan memperlancar jalannya pembicaraan. Hal ini dianggap penting pula, terutama kepada orang-orang yang baru pertama kali kenal dengan kita. 5. Bergerak dari pertanyaan-pertanyaan umum (luas) menuju ke pertanyaanpertanyaan khusus (sempit) Pertanyaan umum seperti, dapatkah kamu menceritakan kepada saya sedikit mengenai masalah yang sedang kamu alami?. Pertanyan terbuka memberi kepada orang-orang yang kita tanyai kebebasan dan keleluasaan untuk menjawab. Dari jawaban itu masalah pokok mereka akan dapat terungkap. Kecuali dari jawaban itu kita juga akan mendapatkan informasi, misl: masalah yang dimiliki merupakan masalah belajar, atau masalah sosialnya disekolah. Dari jawaban umum ini kita akan mendapatkan jawaban pokok/khusus sebagai inti dari pembicaraan kita. Dalam banyak hal dengan pertanyaan umum itu kita kerap sudah mendapat jawabanatas pertanyaan khusus yang ingin kita ajukan. 6. Mengembangkan pertanyaan berdasarkan jawaban sebelumnya Kita perlu mendengar dulu sebelum mengajukan pertanyaan. Dari pada sibuk memikirkan pertanyaan yang kita ajukan, lebih baik memusatkan perhatian pada hal-hal yang dikatakan oleh orang yang berbicara dengan kita, untuk menjawab pertanyaan yang kita ajukan sebelumnya. Berpangkal dari jawaban itu kita merumuskan pertanyaan kita selanjutnyadan pada saat mengajukan pertanyaan itu kepada orang yang berbicara dengan kita. Cara ini akan membawa banyak keuntungan seperti: Kita memusatkan perhatian pada apa yang dikatakan orang dan tidak memberi kesempatan kepada pikiran kita untuk melantur ke hal-hal lain. Proses bertanya bertanya berjaan teratur, logis dan berfokus. Dengan mengajukan pertanyaan berdasarkan jawaban sebelumnya, kita nyata-nyata menunjukan bahwa kita mendengarkan orang orang yang kita tanyai. Kita dapat mencoba memproyeksi lebih jau hal-hal yang menjadi minat orang-orang yang kita tanyai.

25

7.

Memfokuskan pertanyaan Pertanyaan sebaiknya membantu orang yang berfikir secara logis

mengenai hal yang kita tanyakan. Dari pada menanyakan berbagai hal sekaligus, lebih baik mengambil satu pertanyaan sama kita ikuti satu alur pemikiran yang dengan mudah dapat diikuti oleh orang yang kita tanyai. Dengan lengkah demikian kita, memperbesar kemungkinan untuk mendapatkan pemecahan masalah atau hasil wawancara yang baik. 8. Hanya mengandung gagasan pokok Kita perlu merumuskan pertanyaan, sehingga pertanyaan itu hanya mengandung satu gagasan pokok. Orang yang kita tanyai harus mengerti dengan apa yang kita tanyakan. Jika tidak, kita juga tidak mendapat jawaban yang kita butuhkan. Dengan pertanyaan yang dirumuskan secara baik, orang yang kita tanyai memusatkan perhatian kepada gagasan pokok yang kita ajukan lewat pertanyaan. 9. Menghindari pertanyaan yang kabur Pertanyaan kabur adalah pertanyaan yang rumusannya tidak jelas dan terbuka untuk berbagai penafsiran. Kita akan mendapatkan jawaban yang kabus, jika kita mengajukan petanyaan yang kabur. Kita akan mendapatkan jawaban yang jelas, jika pertanyaan kita jelas juga. 10. Mempergunakan bahasa biasa Pada waktu kita mengajukan pertanyaan, kita sebaiknya menghindari katakata teknis, istilah-istilah khusus, yang tidak sepenuhnya dimengerti oleh orang yang kita tanyai. Kita juga perlu menghindari kata-kata sulit. Karena dengan katakata tenis dan sulit itu kita mengajukan pertanyaan yang sukar atau tidak sepenuhnya dapat ditangkap. Akibatnya yang kita peroleh juga tidak tepat seperti kita harapkan. 11. Mengajukan pertanyaan sesuai dengan masalah dan kebutuhan Dalam mengajukan pertanyaan, sebaiknya kita mengajukan pertanyaan sesuai dengan masalah. Apakah pertanyaan untuk mendapatkan data, memahami perasaan, memperjelas, mengembangkan, mengarahkan, mengulang, menguji, dan pertanyaan yang meminta. Tujuannya agar kit adapt melibatkan orang yang kita tanyai dalam proses Tanya jawab. Dengan demikian pertanyaan yang diajukan

26

makin berarti dan tepat, sehingga jawaban yang diperoleh makin lengkap dan sesuai kebutuhan. 12. Tidak mempergunakan pertanyaan yang menyinggung Sebaiknya kita mengindari pertanyaan yang menyinggung harga diri orang yang kita tanyai. Karena jika kita melontarkan pertanyaan yang kurang manusiawi atau dapat menyinggung hati orang, maka kita akan menyakiti hati orang tersebut dan merusak hubungan baik. 13. Memberi alasan pada waktu mengajukan pertanyaan yang sensitif Dengan menerangkan mengapa pertanyaan diajukan dan mengapa informasi sensitif perlu disampaikan?. Dengan pertanyaan itu ada kemungkinan kita mendapat jawaban yang lengkap, jujur, dan tepat. Penjelasan mengenai alasan itu memberi dasar untuk, mengurangi kecurigaan, dan menepis rasa cemas yang mungkin muncul sehubungan dengan perkara yang ditanyakan.

27

BAB III PENUTUP

3.1.

Kesimpulan Keterampilan merefleksi perasaan adalah bagaimana seseorang merasakan

suatu masalah sama pentingnya dari pada hakekat atau isi masalah itu sendiri. Perasaan terjalin bersama dengan masalah itu sendiri. Untuk mengomunikasikan perasaan anda sendiri dengan cermat atau untuk memahami perasaan orang lain, merupakan kegiatan yang sulit. Alasannya: 1. 2. Ekspresi perasaan mengambil banyak bentuk yang berbeda. Persepsi komunikator akan perasaan orang lain didasarkan pada berbagai situasi atau pengalaman yang berbeda. Keterampilan memberi penguatan adalah dimana saat komunikator bisa memberikan respon dalam bentuk dukungan atau penghargaan kepada komunikan apabila pertanyaan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai bersama. Tujuan respon penguatan adalah disamping memotivas komunikan agar dapat lebih terbuka, juga dapat mengmbangkan diri dalam komunikasi. Menurut D.N.Pah (1996) membedakan penguatan menjadi dua yaitu: 1. Penguatan Verbal 2. Pengutan Non verbal Keterampilan mendengarkan adalah suatu proses intelektual dan emosional. Dengar proses itu orang menyimpulkan dan mengintegrasi antara, input, fisik, emosional dan intelektual dari orang lain dan berusaha menangkap pesan serta maknanya. Tujuan mendengarkan menurut Soli Abimayu adalah mengumpulkan informasi yang ada hubungannya dengan masalah yang dihadapi dan tujuan yang dikemukakan oleh seseorang. Phillip I. Hunsaker dan Antony J. Alessandra mengklasifikasikan pendengar menjadi empat tingkatan yaitu: 1. Pendengar yang bukan mendegar, 2. Pendengar dangkal, 3. Pendengar evaluative, dan 4. Pendengar aktif. Dalam kaitan dengan uraian ini hanya dijelaskan tiga jenis pendengar saja yaitu pendengar danggkal, pendengar evaluative, dan pendengar aktif. Sedangkan tingkatan yang pertama yang disebut bukan pendengar tampaknya kurang relevan untuk dijelaskan.
28

Keterampilan bertanya adalah kegiatan yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Di sekolah, di kantor, di rumah dan dimana saja selalu terjadi kegiatan tanya jawab. Pertanyaan yang diajukan oleh seseorang biasanya untuk memperoleh informasi mengenai hal-hal yang belu diketaui. Dalam komunikasi atar pribadi, pertnyaan yang diajukan oleh komunikator atau oleh komunikan bertujuan untuk mengetahui apa yang belum diketahui oelh masing-masing pihak. Secara lebih khusus tujuan bertanya antara lain: 1. Untuk membangkitkan minat dan rasa ingin tahu terhadap suatu konsep atau pokok bahasan. 2. Untuk memusatkan perhatian terhadap satu topik yang dibahas dalam komunikasi. 3. Mendorong pendengar untuk mengemukan ide atau informasi.

3.2.

Saran Setelah mempelajari materi Mengembangkan Keterampilan Komunikasi

Antar Pribadi, diharapkan kita yang merupakan calon-calon seorang guru bimbingan konseling dapat memiliki wawasan yang luas. Sehingga dalam pelaksanaan bimbingan konseling kita bisa menjalankan tugas sesuai dengan aturan-aturan yang ada.

29

DAFTAR PUSTAKA

Sedanayasa Gede, 2009. Keterampilan Komunikasi, Singaraja FIP. UNDIKSHA