Anda di halaman 1dari 8

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.

1 Karakteristik Responden Penelitian Jumlah responden pada penelitian ini berjumlah 234 orang dengan 10 orang tidak memenuhi syarat sebagai sampel, sehingga diperoleh sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 224 orang. Dari 224 orang sampel ditemukan karakteristik sampel diperlihatkan pada Tabel 4.1. Tabel 4.1 Karakteristik Responden Karakteristik Jumlah (n) Perilaku Seksual Baik 100 Buruk 124 Jenis Kelamin Laki-laki 116 Perempuan 108 Sikap Setuju 96 Tidak Setuju 128 Pengetahuan Baik 116 Kurang 108 Peran Orang Tua Baik 140 Kurang 84 Media Masa Baik 158 Kurang 66 Peran Teman Sebaya Baik 123 Kurang 101

Persentase (%) 44,6 55,4 51,8 48,2 42,9 57,1 51.8 48.2 62.5 37.5 70.5 29.5 54.9 45.1

Berdasarkan Tabel 4.1 menunjukkan bahwa, sampel dalam penelitian ini berjumlah 224 orang dengan sebaran 124 orang berperilaku buruk (55,4%) dan berperilaku baik 100 orang (44,6%). Hampir tidak ada perbedaan yang signifikan antara proporsi perilaku baik dan prilaku buruk pada,perilaku seksual remaja, namun perilaku seksual buruk pada remaja 25

tetap lebih dominan yaitu 124 orang (55,4%). Hal ini sesuai dengan penelitian Mariani dan Bachtiar (2010) pada remaja di Kota Mataram yang mendapatkan bahwa 72 % siswa berperilaku buruk. Sedangkan menurut Suryoputro et al. (2006) usia remaja SMA memiliki perilaku seksual yang lebih buruk bila dibandingkan dengan perilaku seksual dewasa muda pekerja buruh dengan proporsi 75% responden remaja SMA berperilaku seksual buruk. Hal yang sama juga dipaparkan oleh Tobey et al. (2011) bahwa perilaku seksual yang buruk sering ditemukan pada remaja di Afrika dan Amerika dengan secara keseluruhan berusia 12-18 tahun. Namun pada penelitian ini proporsi remaja yang berprilaku buruk juga memiliki persentase yang cukup tinggi yaitu 124 orang (55,4%), hal ini diduga karena remaja Indonesia, khususnya Aceh saat ini sedang mengalami perubahan sosial yang cepat dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern, yang juga mengubah norma-norma, nilai-nilai dan gaya hidup. Remaja yang dahulu terjaga secara kuat oleh sistem keluarga, adat budaya serta nilai-nilai tradisional yang ada, telah mengalami pengikisan yang disebabkan oleh urbanisasi yang cepat. Hal ini diikuti pula oleh adanya revolusi media yang terbuka bagi keragaman gaya hidup dan pilihan karir. Hal ini sesuai dengan Adolescent Reproductive Health in Indonesia (2003) yang dilakukan di Jakarta bahwa remaja Indonesia telah mengalami pergeseran etitut dan perilku, khususnya prilaku seksual yang diduga disebabkan oleh faktor urbanisasi dan industrialisasi ataupun proses moderenisasi. 4.2 Gambaran Distribusi Perilaku Seksual Berdasarkan Jenis Kelamin Berdasarkan Tabel 4.2 menunjukkan bahwa remaja di SMA X di Banda Aceh didominasi oleh jenis kelamin laki-laki yang berjumlah 116 orang (51,8%). Tabel 4.2 Gambaran Frekuensi Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah (n) Laki-laki 116 Perempuan 108 Total 224

Persentase (%) 51,8 48,2 100 26

Tabel 4.3 Gambaran Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total n 61 39 100

Perilaku

seksual

Perilaku Seksual Baik Buruk % n % 52,59 55 47,41 36,11 69 63,89 44,64 124 55,36

Total n 116 108 224 % 100 100 100

Berdasarkan tabel 4.3, bahwa remaja di SMA X di Banda Aceh paling banyak berperilaku seksual buruk yaitu berjumlah 124 orang (55,36%) dan paling banyak berjenis kelamin perempuan. Hasil tabulasi silang ini juga menunjukkan bahwa proporsi yang berperilaku seksual baik adalah laki-laki yang berjumlah 61 orang (52,59%), sedangkan pada perempuan sebesar 39 orang (36,11%), hal ini dapat dikatakan bahwa perilaku seksual yang buruk jauh lebih banyak ditemukan pada perempuan daripada laki-laki. Hasil ini tidak sesuai dengan penelitian Tobey et al. (2011) mendapatkan perilaku seksual yang buruk paling banyak ditemukan pada laki-laki dari pada perempuan. Juga diperoleh Suryoputro et al. (2006) bahwa proporsi perilaku seksual buruk masing-masing ditemukan pada laki-laki dan perempuan adalah 18% dan 5%. 4.3 Gambaran Distribusi Perilaku Seksual Berdasarkan Pengetahuan Berdasarkan Tabel 4.4 menunjukkan bahwa remaja di SMA X di Banda Aceh paling banyak berpengetahuan baik tentang seksual yaitu berjumlah 116 orang (51,8%) Tabel 4.4 Gambaran Distribusi Frekuensi Pengetahuan Pengetahuan Baik Kurang Total Jumlah (n) 116 108 224 Persentase (%) 51.8 48.2 100

27

Tabel 4.5 Gambaran Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengetahuan Pengetahuan Baik Kurang Total n 59 41 100

Perilaku

seksual

Perilaku Seksual Baik Buruk % n % 49,19 51 43,97 37,96 73 67,59 44,64 124 55,36

Total n 116 108 224 % 100 100 100

Berdasarkan tabel 4.5, bahwa remaja di SMA X di Banda Aceh yang berperilaku seksual baik paling banyak memiliki pengetahuan yang baik juga yaitu 59 orang (50,86%). Hasil tabulasi silang ini juga menunjukkan bahwa proporsi yang berperilaku seksual buruk yang berjumlah 124 orang (55,36%), cenderung memiliki pengetahuan yang kurang yaitu sebanyak 73 orang (67,59%), hal ini dapat dikatakan bahwa perilaku seksual yang buruk lebih banyak ditemukan pada remaja yang memiliki pengetahuan yang buruk tentang seksual. Menurut hasil penelitian Tang et al. (2011) mendapatkan terdapat hubungan antara peningkatan jumlah perilaku seksual yang buruk terhadap tidak adanya pendidikan yang mengakibatkan rendahnya pengetahuan tentang seksual. Stephenson, et al. (2009) juga menemukan hal yang sama bahwa proporsi perilaku seksual buruk memiliki persentase yang lebih tinggi pada individu yang memiliki riwayat putus sekolah ketika remaja, dengan persentase 75%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa proporsi perilaku seksual yang buruk seiring meningkat dengan semakin rendahnya pengetahuan. 4.4 Gambaran Distribusi Perilaku Seksual Berdasarkan Sikap Berdasarkan Tabel 4.6 menunjukkan bahwa remaja di SMA X di Banda Aceh paling banyak menolak atau tidak setuju terhadap perilaku seksual yaitu berjumlah 128 orang (57,1%), namun perbedaan sikap setuju atau tidak setuju ini tidak memilki perbedaan yang signifikan. Hal ini diduga karena ketidakpahaman responden terhadap pertanyaan yang diajukan didalam kuesioner. 28

Tabel 4.6 Gambaran Distribusi Frekuensi Sikap Sikap Setuju Tidak Setuju Total Jumlah (n) 96 128 224 Persentase (%) 42.9 57.1 100.0

Berdasarkan tabel 4.7, bahwa remaja di SMA X di Banda Aceh yang berperilaku seksual baik paling banyak memiliki sikap tidak setuju 57 orang (52,78%). Hasil tabulasi silang ini juga menunjukkan bahwa proporsi yang berperilaku seksual buruk yang berjumlah 124 orang (55,36%), cenderung memiliki sikap setuju sebanyak 73 orang (62,93%), hal ini dapat dikatakan bahwa perilaku seksual yang buruk lebih banyak ditemukan pada remaja yang memiliki sikap setuju tentang seksual yang buruk. Menurut hasil penelitian Ahrold dan Meston (2010) mendapatkan perilaku seksual sangat berhubungan erat terhadap sikap remaja dalam memahami pengetahuan seksual dan penyesuaian terhadap lingkungan dan pergeseran kultur yang mengarah terhadap prilaku seksual yang buruk. Nordin et al. (2009) menyatakan bahwa pengetahuan yang buruk akan sejalan dengan sikap yang buruk terhadap perilaku seksual. Hal ini dapat disimpulkan bahwa proporsi perilaku seksual yang buruk seiring meningkat dengan semakin rendahnya pengetahuan yang berdampak terhadap sikap individu yang buruk. Tabel 4.7 Gambaran Distribusi Berdasarkan Sikap Sikap Setuju Tidak Setuju Total n 43 57 100 Frekuensi Perilaku seksual

Perilaku Seksual Baik Buruk % n % 37,06 73 62,93 52,78 51 47,22 44,64 124 55,36

Total n 116 108 224 % 100 100 100

29

4.5 Gambaran Distribusi Perilaku Seksual Berdasarkan Peran Orang Tua Berdasarkan Tabel 4.8 menunjukkan bahwa remaja di SMA X di Banda Aceh paling banyak memiliki orang tua yang berperan dalam perkembangan perilaku seksual remaja tersebut yaitu berjumlah 140 orang (62,5%). Tabel 4.8 Gambaran Frekuensi Peran Orang Tua Peran Orang Tua Jumlah (n) Baik 140 Kurang 84 Total 224

Persentase (%) 62.5 37.5 100

Hal ini menunjukkan bahwa remaja cenderung mendapat perhatian dan pengawasan yang lebih dari orang tuanya, terutama tentang perilaku seksual. Tabel 4.9 Gambaran Distribusi Perilaku Seksual Berdasarkan Peran Orang Tua Perilaku Seksual Total Peran Orang Baik Buruk Tua N % n % n % Baik 44 37,93 72 62,07 116 100 Kurang 56 51,85 52 48,15 108 100 Total 100 44,64 124 55,36 224 100 Tabel 4.9 menjelaskan bahwa perilaku seksual yang buruk terjadi pada remaja yang memiliki peran orang tua yang baik yaitu sebesar 72 orang (62,07%). Hal ini tidak sesuai dengan Bleakley et al. (2009) yang menyatakan bahwa peran orang tua memiliki peranan yang penting dalam perkembangan perilaku seksual remaja. Mengingat bahwa rentang usia remaja di sekolah menengah atas (SMA) adalah 1618 tahun, hal ini menunjukkan bahwa hubungan seksual atau perilaku seksual yang buruk kebanyakan terjadi setelah lepas dari sekolah menengah atas dengan persentase lebih dari 50% responden bertempat tinggal terpisah dari orang tua untuk melanjutkan belajar atau bekerja. Temuan ini memperkuat 30

pandangan bahwa kurangnya pengawasan dari orang tua memperbesar kemungkinan terjadinya hubungan seksual pra-nikah (Suryoputro et al., 2006). Perbedaan hasil ini diduga disebabkan karena kurang koorperatifnya responden selama penelitian. 4.8 Gambaran Distribusi Perilaku Seksual Berdasarkan Media Massa Berdasarkan Tabel 4.10 menunjukkan bahwa remaja di SMA X di Banda Aceh paling sering mendapatan informasi dari media masa, terutama tentang seksual yaitu sebesar 158 orang (70,5%). Hal ini sesuai dengan Bleakley et al. (2009) yang menyatakan bahwa remaja lebih sering mendapatkan pengetahuan dari media masa yaitu sekitar 57% dari penelitian yang dilakukan pada 419 remaja di Philadelphia. Tabel 4.10 Gambaran Frekuensi Peran Media Masa Media Masa Baik Kurang Total Jumlah (n) 158 66 224 Persentase (%) 70.5 29.5 100

Sedangkan menurut Tabel 4.11 bahwa perilaku seksual yang buruk sering terjadi pada remaja yang peran media masanya baik tentang seksual yaitu sebesar 78 orang (67,24%). Hal ini sesuai dengan Bleakley et al. (2009) yang menyatakan bahwa 57% remaja mendapatkan informasi seksual melalui media masa dengan remaja yang cenderung memiliki perilaku seksual yang buruk. Tabel 4.11 Gambaran Distribusi Perilaku Seksual Berdasarkan Peran Media Masa Perilaku Seksual Total Media Masa Baik Kurang n % n % n % Baik 33 24,45 78 67,24 116 100 Kurang 67 62,04 46 42,59 108 100 Total 100 44,64 124 55,36 224 100

31

4.9

Gambaran Distribusi Perilaku Seksual Berdasarkan Teman Sebaya Berdasarkan Tabel 4.12 menunjukkan bahwa teman sebaya memiliki

banyak peran terhadap pengerahuan remaja di SMA X di Banda Aceh tentang seksual yaitu sekitar 123 orang (54,9%). Hal ini sesuai dengan Bleakley et al. (2009) yang menyatakan bahwa remaja lebih sering mendapatkan pengetahuan dan pengaruh dari teman sebaya yaitu sekitar 74,9% dari penelitian yang dilakukan pada 419 remaja di Philadelphia. Tabel 4.12 Gambaran Frekuensi Peran Media Masa Teman Sebaya Baik Kurang Total Jumlah (n) 123 101 124 Persentase (%) 54.9 45.1 100

Sedangkan menurut Tabel 4.13 bahwa perilaku seksual yang buruk sering terjadi pada remaja yang memiliki peran teman sebaya yang baik tentang seksual yaitu sebesar 72 orang (58,54%). Hal ini sesuai dengan Bleakley et al. (2009) yang menyatakan bahwa 74,9 remaja mendapatkan informasi dan pengaruh seksual yang cenderung buruk melalui teman sebaya. Tabel 4.13 Gambaran Distribusi Perilaku Seksual Berdasarkan Peran Media Masa Perilaku Seksual Total Teman Sebaya Baik Kurang n % n % n % Baik 51 41,46 72 58,54 123 100 Kurang 49 48,52 52 51,48 101 100 Total 100 44,64 124 55,36 224 100

32