Anda di halaman 1dari 12

1

Sisi Lain dari Ujian Nasional


Prof. Dr. Kacung Marijan
(Staf Ahli Mendikbud dan Guru Besar di Universitas Airlangga)
SUMBER : MEDIA INDONESIA ONLINE, 4 Juni 2012 www.mediaindonesia.com

ESAN yang dimiliki sebagian anggota masyarakat, termasuk orangtua dan peserta didik, ialah ujian nasional (UN) itu sematamata sebagai instrumen untuk menentukan lulus tidaknya peserta didik. Konsekuensinya, UN dipandang sebagai kekuatan sangat besar yang akan menentukan masa depan peserta didik, seperti apakah peserta didik akan bisa melanjutkan pendidikannya ataukah tidak, atau bahkan apakah peserta didik itu akan memperoleh pekerjaan atau tidak. Dalam taraf tertentu, pandangan semacam itu memang ada benarnya ketika formulasi UN masih didesain sebagai komponen utama dalam menentukan kelulusan. UN yang dilaksanakan beberapa hari dan hanya menyangkut beberapa mata ajaran bisa menjadi kata akhir untuk memberi predikat peserta didik lulus atau tidak. Akan tetapi, formulasi itu belakangan mengalami perubahan. Seperti diketahui, lulus tidaknya peserta didik ditentukan dua instrumen evaluasi

utama. Pertama ialah instrumen evaluasi internal yang melibatkan guru dan sekolah. Yang termasuk evaluasi internal tersebut ialah evaluasi kegiatan belajar mengajar, perilaku (akhlak), dan ujian sekolah. Evaluasi yang memiliki pembobotan 40% tersebut, karena itu, menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sekaligus. Instrumen kedua ialah evaluasi eksternal, berupa ujian nasional. Evaluasi tersebut dilakukan untuk menilai pengetahuan yang dimiliki peserta didik terhadap materi mata ajar. Selain itu, UN sejatinya bukan semata-mata sebagai instrumen untuk menilai kemampuan peserta didik. Paling tidak ada dua sisi lain dari UN yang tidak kalah penting dari sekadar sebagai salah satu komponen penentu kelulusan peserta didik. Budaya Berkompetisi Seperti kita ketahui, salah satu faktor pokok maju tidaknya dan sejahtera tidaknya suatu bangsa berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki. Banyak bangsa memiliki sumber daya alam melimpah, tetapi tingkat kesejahteraan masyarakat mereka biasa-biasa, bahkan tergolong miskin. Sementara itu, tidak sedikit bangsa memiliki sumber daya alam terbatas, tetapi masyarakat mereka memiliki tingkat kesejahteraan yang tinggi. Kualitas SDM kita masih terbatas. Hal itu terlihat dari indeks pembangunan manusia Indonesia yang masih di bawah negara-negara maju. Kualitas demikian pada gilirannya berpengaruh terhadap daya saing yang dimiliki Indonesia. Dari laporan yang dibuat World Economic Forum (WEF), The Global Competitiveness Report 2011-2012 , kita bisa mengetahui posisi daya saing Indonesia masih belum terlalu memuaskan kalau dibandingkan dengan negaranegara lain. Di antara sejumlah negara ASEAN, daya saing Indonesia pada 2011 masih menduduki urutan ke-4, di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Bahkan, kalau dibandingkan dengan 2010, peringkat daya saing Indonesia mengalami penurunan, dari 44 ke 46, dari keseluruhan negara yang dilaporkan WEF. Padahal, daya saing bangsa memiliki keterkaitan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat. Pengembangan sektor pendidikan merupakan prakondisi utama bagi suatu bangsa ketika hendak menuju sebagai bangsa yang kompetitif. Melalui pendidikan yang baik akan dimungkinkan lahirnya individu-individu yang berkualitas, tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk orang di

sekitarnya. Individu yang berkualitas bukan sekadar orang yang memiliki kemampuan untuk dirinya sendiri, melainkan juga individu yang mampu bekerja sama dan membangun jaringan untuk mencapai tujuan bersama. UN merupakan salah satu instrumen untuk mengetahui kualitas peserta didik di dalam mata ajar tertentu. UN, dengan demikian, merupakan salah satu instrumen untuk mengetahui sejauh mana proses belajar mengajar itu berlangsung. Logikanya, ketika proses belajar mengajar berlangsung secara baik, potensi peserta didik menyelesaikan soal-soal di dalam UN akan lebih baik juga. Namun, UN sejatinya bukan sekadar salah satu instrumen untuk mengevaluasi. UN juga sebagai titik tolak bagi peserta didik untuk memiliki energi bekerja keras serta bekerja secara efisien dan efektif. Tidak hanya peserta didik, energi demikian juga akan tumbuh di kalangan guru dan orangorang lain yang terlibat di dalam proses belajar mengajar. Seorang ahli psikologi sosial, David Mcleland, pernah mengatakan seseorang akan memiliki daya dorong kuat untuk mengejar kemajuan manakala ia `terinfeksi' oleh virus N-Ach (need for achievements). Virus tersebut akan menggerakkan orang untuk bekerja keras, berusaha menggapai apa yang hendak diinginkan. Semua peserta didik bercita-cita lulus sekolah. Demikian juga para guru dan orangtua, menginginkan anak didik dan anak-anak mereka lulus sekolah. Angan-angan ini merupakan bagian dari virus yang akan menggerakkan diri untuk mencapai apa yang dinginkan itu. Memang di antara peserta didik, termasuk guru dan orangtua, ada yang menggunakan cara-cara instan untuk mengejar cita-cita itu. Untuk mengejar kelulusan, cara-cara yang tidak baik digunakan, seperti menyontek, mengatrol nilai, bahkan ada yang berusaha mencuri soal UN. Cara cara seperti itu bukan bagian dari energi positif. Cara demikian, kalaupun bisa dilakukan, hanya akan membawa hasil yang instan pula. Peserta didik pada akhirnya tetap bukan peserta didik yang berkualitas. Meskipun lulus, mereka bukanlah SDM yang berkualitas dan kompetitif. Di dalam persaingan di dunia nyata, orang-orang ini akan berpotensi sebagai orangorang yang kalah. Kalaupun ada yang menang, biasanya karena cara-cara yang tidak benar dipakai.

UN harus dipakai sebagai titik tolak sebagai bagian dari proses menuju manusia-manus unggul. Semua pihak yang sia t terlibat di dalam pendidikan, mulai pemerintah, masyarakat, orangtua, guru, hingga peserta didik, sama-sama bekerja keras untuk memperbaiki kualitas pendidikan. Dengan demikian, UN juga sebagai titik tolak bagi lahirnya budaya kompetisi yang sehat bagi manusia-manusia Indonesia yang unggul di masa depan. Dasar Kebijakan Bagi pemerintah khususnya, baik pemerintah pusat maupun daerah, hasil UN merupakan salah satu data yang sangat penting bagi perumusan kebijakan-kebijakan di bidang pendidikan. Melalui hasil UN, sejumlah pertanyaan dasar bisa dijawab, seperti mengapa ada sekolah-sekolah atau daerah-daerah tertentu memiliki tingkat kelulusan yang sangat tinggi dan mengapa yang lain lebih rendah? Hasil UN untuk SMA/MA/ SMK dan SMP/MTs yang telah diumumkan memperlihatkan bahwa sekolah-sekolah yang telah mempunyai standar yang baik cenderung memiliki tingkat kelulusan yang lebih besar. Tidak hanya itu, nilai UN peserta didik dari sekolah-sekolah demikian cenderung lebih baik daripada yang lainnya. Sekolah-sekolah yang tergolong rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) memiliki tingkat dan kualitas kelulusan yang lebih baik bila dibandingkan dengan yang lain. Murid-murid dari RSBI juga lebih banyak yang diterima di PTN daripada yang lain. Hal itu terjadi bukan sematamata karena peserta didik dari sekolah-sekolah demikian sejak awal memang telah berkualitas. Standar pendidikan yang dimiliki sekolahsekolah demikian juga lebih baik. Yang tidak kalah pentingnya ialah semua pihak yang terlibat di dalamnya telah memiliki karakteristik budaya kompetitif yang sehat juga. Tugas pokok pemerintah tidak sekadar membuat kebijakan bagi tersedianya akses yang seluas-luasnya bagi seluruh warga negara untuk memperoleh pendidikan. Pemerintah bersama-sama masyarakat juga memiliki tugas untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Melalui hasil UN, pemerintah telah memiliki peta yang relatif jelas tentang sekolah-sekolah mana saja, termasuk di daerah mana saja, yang membutuhkan intervensi lebih banyak guna meningkatkan kualitas mereka. Intervensi yang telah dilakukan dalam tahun-tahun terakhir ini telah mulai membawa hasil. Sekolah-sekolah atau daerah-daerah tertentu yang

sebelumnya memiliki tingkat kelulusan yang rendah sudah mengalami peningkatan setelah memperoleh intervensi melalui kebijakan-kebijakan tertentu, seperti perbaikan infrastruktur dan perbaikan kualitas guru. Intervensi semacam itu sekaligus sebagai jawaban atas apa yang diperintahkan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam menjawab gugatan mengenai UN. Bahwa UN itu bukanlah masalah. Akan tetapi, PN Jakarta Pusat memerintahkan agar tergugat melakukan sesuatu, di antaranya meningkatkan kualitas guru, melengkapi sarana dan prasarana sekolah, serta memberikan akses informasi yang lengkap.

TANGGAPAN PEMBACA
Oleh: Istajib Jazuli Tulisan yang berjudul Sisi Lain dari Ujian Nasional yang ditulis oleh Profesor Kacung Marijan menjelaskan mengenai Ujian Nasional yang menjadi pro dan kontra ditengah masyarakat bahkan pakar pendidikan itu sendiri. Sebagai pembaca penulis dapat memahami posisi Bapak Profesor jika membela Ujian Nasional, bahwa selain Guru Besar di Universitas Airlangga ternyata Bapak Profesor juga Staf Ahli Kementrian dan Kebudayaan. Jadi penulis bisa maklum dan tidak terheran-heran bagaimana seorang Profesor membela Ujian Nasional sedemikian rupa. Dalam perspesi penulis, mungkin jika Bapak Profesor tidak menjadi Staf Ahli, akan berpihak kepada penulis juga. Dalam tanggapan yang penulis tulis ini lebih pada kontranya, sebab penulis termasuk yang tidak setuju dengan cara Ujian Nasional. Tanggapan penulis tentang beberapa poin yang telah ditulis oleh Bapak Profesor: Bapak Profesor menulis: Kesan yang dimiliki sebagian anggota masyarakat, termasuk orangtua dan peserta didik, ialah ujian nasional (UN) itu sematamata sebagai instrumen untuk menentukan lulus tidaknya peserta didik. Konsekuensinya, UN dipandang sebagai kekuatan sangat besar yang akan menentukan masa depan peserta didik, seperti apakah peserta didik akan bisa melanjutkan pendidikannya ataukah tidak, atau bahkan apakah peserta didik itu akan memperoleh pekerjaan atau tidak.(Paragraf Pertama)

Betul memang jika persepsi demikian berkembang ditengah masyarakat, akan tapi sebenarnya bukan masyarakat yang menciptakan kesan tersebut, pemerintah selalu mengatakan Ujian Nasional adalah alat pemetaan distribusi kualitas pendidikan. Namun, sampai saat ini hasil pemetaan itu tidak pernah dibuka dan diumumkan hasil beserta analisanya kepublik, apakah lebih baik atau lebih buruk. Analisa Ujian Nasional tentu bukan hanya soal angka-angka statistik mana yang paling baik/buruk, nilai rata-rata, median dan standar deviasi atau uji validitas dan lain lain. Tapi di bagian mana saja siswa-siswa kita kuat atau

lemah. Untuk Matematika, misalnya, apakah siswa kita lemah di aljabar, geometri, atau yang lainnya. Untuk Bahasa Indonesia, misalnya, apakah siswa kita lemah di gramatika, pemahaman bacaan, atau yang lainnya. Ujian Nasional sudah berjalan beberapa tahun, tapi masyarakat tidak pernah mendapat laporan analisa ini. Bagaimana masyarakat dapat berpikir bahwa Ujian Nasional juga adalah alat pemetaan? Jika saja hasil pemetaan ini di publikasikan, sudah pasti akan banyak masukan dari masyarakat atau pakar pendidikan untuk memperbaiki kelemahan kelemahan tersebut. Kemudian Bapak Profesor menulis juga: Pertama ialah instrumen evaluasi internal yang melibatkan guru dan sekolah. Yang termasuk evaluasi internal tersebut ialah evaluasi kegiatan belajar mengajar, perilaku (akhlak), dan ujian sekolah. Evaluasi yang memiliki pembobotan 40% tersebut, karena itu, menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sekaligus. Instrumen kedua ialah evaluasi eksternal, berupa ujian nasional. Evaluasi tersebut dilakukan untuk menilai pengetahuan yang dimiliki peserta didik terhadap materi mata ajar. (Paragraph ke-3 baris ke-3) Dalam paragraph tersebut bapak Profesor sendiri yang menulis bahwa evaluasi internal menilai proses belajar, perilaku (akhlak) dan ujian sekolah di setiap tahap belajar, serta menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotorik sekaligus. Permasalahannya, menagapa ketiga ranah tersebut hanya diberi bobot 40%, sedangkan yang hanya menguji pengetahuan saja (lebih tepatnya: kognitif tingkat rendah dan nirnalar) justru dibobot 60%? Itu pun setelah dikritik habis sana-sini, baru dibuat pembobotan setengah hati seperti itu. Apakah memang kognitif tujuan utama pendidikan? Tentu hal ini tidak sesuai engan prinsip evaluasi itu sendiri yang harus dapat mengukur ketiga ranah tesebut. Penulis setuju jika pembobotan ini dibalik, 60% untuk evaluasi internal dan 40% untuk evaluasi eksternal. Sebenarnya inipun belum cukup, tetapi lebih baik dari pada 60% evaluasi eksternal dan 40% evaluasi internal. Sebab, mengenai evaluasi ini sebenarnya guru yang lebih mengetahui keadaan peserta didiknya ketimbang pemerintah. Oleh kaena itu pembobotan yang lebih tinggi semestinya diberikan pada evaluasi internal

Prof menulis tentang budaya kompetisi: Dari laporan yang dibuat World Economic Forum (WEF), The Global Competitiveness Report 2011-2012, kita bisa mengetahui posisi daya saing Indonesia masih belum terlalu memuaskan kalau dibandingkan dengan negaranegara lain. Pengembangan sektor pendidikan merupakan prakondisi utama bagi suatu bangsa ketika hendak menuju sebagai bangsa yang kompetitif. (Paragraph ke-6 baris ke-4) Dari paragraph tersebut dapat kita ketahui bersama ternyata yang menjadi dasar pemikiran penguasa pendidikan adalah untuk fokus di pengembangan budaya kompetisi. Mari kita lihat isinya. Dalam Global Competitiveness Report, Primary Education dan Higher Education memang menjadi bagian dari 12 pillar penunjang competitiveness. Untuk primary education (Pendidikan Dasar) yang diukur hanyalah enrollment. Sedangkan untuk higher education (Pendidikan Tinggi), selain enrollment ada juga pengukuran kualitas sistem pendidikan, kualitas pendidikan Matematika dan Sains, kualitas sekolah manajemen, serta on the job training. Didapat disimpulan bahwa kualitas parameter-parameter ini dinilai dari seberapa kita kembangkan budaya kompetitif di sekolah? Untuk kualitas pendidikan Matematika dan Sains, kita dapat melihat pengukuran PISA (Program for International Student Assessment) adalah penilaian standar internasional yang dikembangkan bersama oleh partisipasi ekonomi dan dikelola untuk usia anak sekolah yang berumur 15 tahun. Tiga penilaian sejauh ini telah dilaksanakan (pada tahun 2000, 2003, 2006 dan 2009). Pengujian biasanya diberikan kepada antara 4.500 dan 10.000 siswa di setiap negara. (Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika), yang umum dipakai sebagai pemetaan kualitas pendidikan negara-negara di dunia. Laporan lengkapnya ada di situs PISA, namun kita bisa pakai ringkasan laporan oleh Bank Dunia yang sudah dikaitkan dengan perkembangan ekonomi agar berkaitan dengan tulisan Bapak Profesor tentang betapa kualitas pendidikan berperan menyejahterakan masyarakat. Saat pemerintah membanggakan tingkat kelulusan dan nilai Ujian Nasional rata-rata siswa-siwa kita terus menaik, ternyata nilai siswa-siswa kita di

PISA justru menurun, 76,6% siswa kita bahkan tidak mencapai level 2 di PISA. Lalu berapa jumlah siswa kita yang mencapai level 5 dan 6 (tertinggi) untuk tes Matematika? Jawabannya tidak ada. Mengapa demikian? Sederhana, karena yang diukur oleh PISA berbeda dengan yang diukur oleh UN. PISA mengukur penalaran, high order of thinking. UN mengukur hafalan dan hitung-hitungan, low order of thinking. Bagaimana siswa-siswa kita dapat bersaing atau berkompetisi seperti yang menjadi dasar pemikiran pemerintah kita? Sebenarnya dalam sistem pendidikan yang berkualitas di abad 21 ini, kompetensi apa saja yang bisa dikembangkan pada siswanya? Dari tulisan yang ditulis oleh Bapak Profesor Iwan Pranoto, tentang Kompetensi Hidup Dan Karier Abad 21 yang diajarkan di New Jersey, Amerika Serikat. Di dalamnya ada: berfikir kritis dan memecahkan masalah; kreativitas dan inovasi; kolaborasi, kerja tim dan kepemimpinan; pemahaman lintas budaya dan komunikasi interpersonal; kefasihan komunikasi dan media; akuntabilitas, produktivitas dan etika. Kita tidak melihat ada kompetensi kompetisi di situ, yang ada malah kolaborasi. Mana saja dari kompetensi-kompetensi ini yang diukur di Ujian Nasional? Dalam tulisan Bapak Profesor, Penulis menangkap bahwa Profesor seperti mengatakan kita tidak kompetitif karena kita tidak kompetitif. Seperti menjawab dengan mengulang pertanyaan. Jangan-jangan bangsa kita tidak kompetitif bukan karena manusianya tidak kompetitif, tapi bangsa kita tidak kompetitif karena manusianya tidak kolaboratif? Mengenai kompetisi ini, dalam paragpraph berikutnya Bapak Profesor lalu menulis satu kalimat singkat tentang kolaborasi: Individu yang berkualitas bukan sekadar orang yang memiliki kemampuan untuk dirinya sendiri, melainkan juga individu yang mampu bekerja sama dan membangun jaringan untuk mencapai tujuan bersama. (Paragraph ke-9) Dalam paragraph ini penulis melihat seperti paragraf yang disisipkan. Menurut penulis, ini tidak kaitannya dengan Ujian Nasional dan budaya kompetisi yang Bapak Profesor tulis sebelum dan sesudahnya. Mungkin penulis yang tidak dapat memahami maksudnya.

10

Paragraph selanjutnya Bapak Profesor menulis: UN merupakan salah stau instrument untuk mengetahui kualitas peserta didik di dalam mata ajar tertentu. UN, dengan demikian, merupakan salah satu instrumen untuk mengetahui sejauh mana proses belajar mengajar itu berlangsung. Logikanya, ketika proses belajar mengajar berlangsung secara baik, potensi peserta didik menyelesaikan soal-soal di dalam UN akan lebih baik juga. (Paragraph ke-10) Secara logika memang benar sekali. Akan tetapi jika logika ini

diasumsikan otomatis berlaku sebaliknya maka akan menjadi logical fallacy. Tentu proses belajar mengajar yang baik dapat membuat siswa selesaikan Ujian Nasional dengan baik. Namun bukan berarti saat siswa dapat hasil baik di Ujian Nasional, maka otomatis dapat diartikan proses belajar mengajar berlangsung baik. Bapak Profesor sendiri menulis di beberapa paragraf berikutnya tentang hasil baik Ujian Nasiona bisa didapat dari kecurangan. Tampaknya logika yang dipakai pemerintah di lapangan justru terbalik, yaitu bila hasil Ujian Nasional baik maka proses pembelajaran pasti baik. Di sini Bapak Profesor juga menyinggung tentang kecurangan: Memang di antara peserta didik, termasuk guru dan orangtua, ada yang menggunakan cara-cara instan untuk mengejar cita-cita itu. Untuk mengejar kelulusan, cara-cara yang tidak baik digunakan, seperti menyontek, mengatrol nilai, bahkan ada yang berusaha mencuri soal UN. Cara cara seperti itu bukan bagian dari energi positif. Cara demikian, kalaupun bisa dilakukan, hanya akan membawa hasil yang instan pula. (Paragraph ke-13 baris ke-4) Menurut penulis cara instan tidak otomatis sama dengan cara curang. Banyak juga cara jujur dan legal untuk membawa hasil instan. Misal, berfokus pada memberi siswa latihan soal sepanjang tahun ajaran, memberikan kelas-kelas tambahan untuk latihan soal Ujian Nasional, mengurangi jam dan intensitas pelajaran di luar pelajaran yang di-UN-kan dan menggantinya dengan latihan soal lagi. Jika pendidikan fokusnya hanya lulus Ujian Nasional saja dan tidak boleh curang, maka murid dan guru akan mencari loopholes, cara legal mengakali system, Instan juga kan? Tentunya tidak membawa manfaat bagi pembelajaran dan tidak menghasilkan manusia berkualitas.

11

Bapak Profesor menulis: UN juga sebagai titik tolak bagi peserta didik untuk memiliki energi bekerja keras serta bekerja secara efisien dan efektif. Tidak hanya peserta didik, energi demikian juga akan tumbuh di kalangan guru dan orang-orang lain yang terlibat di dalam proses belajar mengajar. (Paragraph 11 baris ke-2) Saya sepakat, siswa-siswa kita akan mendapat energi dan berlari super kencang menuju arah yang salah dan tidak dengan gembira. Bapak Prof juga menambahkan dasar teori: Seorang ahli psikologi sosial, David McClelland, pernah mengatakan seseorang akan memiliki daya dorong kuat untuk mengejar kemajuan manakala ia `terinfeksi oleh virus N-Ach (need for achievements). Virus tersebut akan menggerakkan orang untuk bekerja keras, berusaha menggapai apa yang hendak diinginkan. (Paragraph 12) McClelland menjelaskan bahwa N-Ach (need for achievements) adalah salah satu needs yang dimiliki seseorang selain N-Pow (need for power) dan NAff (need for affiliation). Namun, apakah benar dengan Ujian Nasional siswa terinfeksi oleh virus N-Ach? Mereka justru diinjeksi paksa dengan virus need for conformity. Mereka harus menyesuaikan dirinya dengan ekspektasi achievement standar yang ditentukan oleh otoritas. Mereka tidak bisa menentukan achievement-nya sendiri sesuai dengan minat, bakat, kondisi dan kebutuhannya. Mereka dipaksa melupakan itu semua untuk keperluan golongan tertentu. Terakhir Prof menulis: Intervensi semacam itu sekaligus sebagai jawaban atas apa yang diperintahkan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam menjawab gugatan mengenai UN. Bahwa UN itu bukanlah masalah. Akan tetapi, PN Jakarta Pusat memerintahkan agar tergugat melakukan sesuatu, di antaranya meningkatkan kualitas guru, melengkapi sarana dan prasarana sekolah, serta memberikan akses informasi yang lengkap. (Paragraph terakhir) Dalam tulisan tersebut Bapak Profesor menulis tentang perintah PN meningkatkan kualitas guru, melengkapi sarana, dan lain -lain, namun tidak menulis perintah menghentikan Ujian Nasional sebelum semua itu dilakukan.

12

Jawaban Bapak ini senada dengan jawaban Bapak Muh. Nuh. Ketika beberapa kali ditanya tentang putusan PN & MA tentang hentikan Ujian Nasional sebelum beres meningkatkan kualitas guru, dan lain-lain, beliau selalu menjawab, perintahnya meningkatkan dan melengkapi, ini kan selalu kami jalankan secara berkelanjutan. Tidak usah disebutkan ya memang inilah kerjaannya Kemdikbud. Kemdikbud begitu memaksakan penerapan standar di mana-mana (yang terakhir: wacana sertifikasi seniman). Namun, ketika suatu standar diperintahkan diterapkan pada dirinya sendiri karena dianggap belum terpenuhi maka Kemdibkud mengelak dengan mengatakan Kami selalu meningkatkan diri kok. Itu kan proses yang tidak pernah berhenti Bagi Penulis, Ujian Nasional punya dua masalah mendasar: penempatannya sebagai high-stake standardized test bagi murid dan guru, serta kualitas soalnya yang nir-nalar. Oleh karenanya Ujian Nasional harus direposisi (bukan dihapus) menjadi alat pemetaan distribusi kualitas pendidikan yang tidak dikaitkan dengan syarat kelulusan (kembalikan penilaian kelulusan kepada sekolah, sesuai roh KTSP, munkin juga kurikulum 2013), serta Ujian Nasional harus diubah model soalnya untuk menguji high order of thinking.