Anda di halaman 1dari 111

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PERAWATAN UNIT CORONER INTENSIF

Halaman : Suatu bentuk perawatan khusus dengan pemantuan terus menerus, perawat yang telah dididik khusus, dilengkapi dengan DC shock, pacu jantung sementara dan obat-obatan lengkap. Mengawasi dan segera memberikan pengobatan atau tindakan bila terjadi komplikasi A. PERSIAPAN ALAT 1. PERSONALIA ; tenaga dokter dan perawat yang telah dilatih untuk merawat, serta penderita yang akan dirawat di ICCU. Tiap tempat tidur harus paling sedikit seorang perawat. MONITOR EKG : Tiap tempat tidur harus dilengkapi dengan sebuah monitor EKG dipasang 24 jam setiap hari. 2. RESUSCITATION KIT 3. DC SHOCK 4. Pacu jantung sementara 5. Obat-obatan : xylocard, Digoxin / Cedilanid, preparat nitrat, Isoptin, valium, Morfin, Dopamin / Dobutamin, Streptokinase B. CARA KERJA 1. Penderita bedrest setengah duduk 2. Pasang oksigen 4 - 6 liter/menit 3. Infus NaCl 0,9 % atau Dextrose 5% 8 tetes/menit 4. Pasang monitor EKG terus menerus 5. Rekam serial EKG setiap 12 jam 6. Segera lakukan tindakan atau pengobatan bila terjadi komplikasi

Tujuan

Prosedur

Page 1

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PENERIMAAN PASIEN
Halaman : Suatu kegiatan penerimaan pasien baru dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan dan asuhan keperawatan, secara intensif dan berkesinambungan sesuai dengan tingkat kekritisan penyakit jantung dan pembuluh darah. 1. Memenuhi kebutuhan pelayanan dan asuhan keperawatan intensif serta menjamin pemantuan secara berksenambungan. 2. Dapat dilakukan tindakan khusus serta pengobatan yang spesifik 3. Dapat dilakukan deteksi dini, penanggulangan yang cepat dan tepat dengan tujuan menurunkan kesakitan dan kematian penyakit jantung dan pembuluh darah. 1. Telah mendapatkan persetujuan konsulen Interna/Cardiolog 2. Transpotable 3. Persetujuan pasien/keluarga 4. Memberi tahu per telepon kepada perawat jaga 1. Penyakit jantung koroner akut/AMI 2. Nyeri dada atau disangka penyakit jantung koroner akut 3. Shock cardiogenic 4. Aritmia ganas / malignant 5. Tamponade jantung 6. Infeksi jantung / corditis 7. Decompensasi Cordis Berat / NYHA Derajat IV PERSIAPAN ALAT DAN OBAT : OLEH PERAWAT 1. Bedside / tempat tidur telah disiapkan di dalam pintu masuk unit rawat jantung 2. Bedside : monitor sistem 3 elektrroda ON, lengkap dengan aksesorisnya, seperti : manset dan kabel tensimeter, saturasi oksigen, elektroda dan 3 buah plat elektod 3. Emergency trolly dekatkan ke pasien yang telah dilengkapi dengan obatobat emergency, cairan serta alat-alat seperti : terapi oksigen, defibrilator, resusitator, iv kateter, iv line 4. EKG pertable atau automatic 5. Syring pump 6. Format catatan medik dan keperawatan

Tujuan

Kebijakan

Indikasi

Prosedur

Page 2

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Prosedur

PENERIMAAN PASIEN
Halaman : CARA KERJA : 1. Nilai respon pasien, meliputi kesadaran, pernapasan, denyut jantung dalam waktu 10-20 detik. Bila stabil segera dipindahkan ke tempat tidur unit rawat jantung tujuan menurunkan kesakitan dan kematian penyakit jantung dan 3. Beri tahu tentang tujuan dan manfaat pemasangan alat-alat unit rawat jantung 4. Pasang monitor, pilih grafik R yang tinggi, ukur tekanan darah dan denyut jantung 5. Pasang oksigen sesuai program 6. Serah terima dengan perawat pengantar pasien tentang kelengkapan catatan medik dan keperawatan, pengobatan yang telah diberikan serta tindakan atau hasil-hasil pemeriksaan. 7. Pasang / pertahankan infus emergency 8. Rekam EKG serial 12 -15 lead 9. Memberikan pengobatan sesuai program medik dengan atau tanpa syring pump 10. Melaksanaan tindakan khusus dan atau pemriksaan khusus sesuai program 11. Melaksanaan pengkajian dasar keperawatan 12. Melaksanaan pendokumentasian.

Page 3

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PEMINDAHAN PASIEN DARI UNIT RAWAT JANTUNG KE UNIT RAWAT INAP

Halaman : Pemindahan pasien dari unit rawat jantung ke rawat inap oleh karena pasien tidak memerlukan lagi perawatan intensif, sehingga dapat dilanjutkan asuhan keperawatan di rawat inap guna memenuhi pemulihan kesehatan. 1. Agar pasien terpenuhi pemulihan kesehatan 2. Melanjutkan pengobatan dan perawatan berkesinambungan 3. Membantu kelancaran alur pasien 4. Memperjelas alur tanggung jawab terhadap pengelolaan perawatan pasien 1. Pasien pindah dari unit rawat jantung telah ditetapkan oleh dokter ahli / konsulen SMF Jantung 2. Pasien pindah ke rawat inap diantar oleh perawat unit rawat jantung Dilaksanakan oleh perawat/ petugas unit rawat jantung A. Persiapan pasien dan keluarga 1. Pasien dan keluarga diberitahu bahwa tidak memerlukan perwatan intensif lagi dan boleh pindah ke rawat inap. 2. Menanyakan kepada pasien dan keluarga tentang klas perawatan yang dikehendaki, kecuali pasien tidak mampu. 3. Memeriksa keadaan umum dan tanda vital, terakahir sebelum diantar ke rawat inap dicatat dalam perawatan dan surat pindah 4. Menjelaskan hal-hal yang harus dipatuhi selama perawatan sampai pulang ke rumah, tentang obat, diet, rehabilitasi pasien dan lain-lain. B. Persiapan Administrasi dan Dokumen 1. Ada surat pindah dari dokter ahli / konsulen, SMF jantung 2. Dilampiri catatan perawatan terakhir 3. Memesan tempat di rawat inap, sesuai dengan kesepakatan pasien dan keluarga kaitannya dengan pemilihan klas perawatan. 4. Sertakan hasil pemeriksaan dan tindakan selama di unit rawat jantung. 5. Melapor ke TPP serta melengkapi catatan medil rawat inap yang dituju. C. Pemindahan pasien 1. Dengan kursi roda/brankard/tempat tidur sesuai dengan kondisi pasien 2. Dengan oksigen atau tanpa oksigen sesuai keadaan pasien 3. Serah terima dilakukan oleh perwat unit rawat inap dengan unit rawat jantung di nurse station, meliputi : kelengkapan catatan medik dan

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Page 4

TANGGAL TERBIT RSU PROSEDUR TETAP REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PEMINDAHAN PASIEN DARI UNIT RAWAT JANTUNG KE UNIT RAWAT INAP

Prosedur

Halaman : keperawatan, hasil-hasil suatu tindakan pemeriksaan dan obat-obatan 4. Apabila dalam pelaksanaan mengalami kesulitan sehubungan dengan keterbatasan perawat, kesibukan, tingkat emergency pasien di unit rawat jantung maka pemindahan pasien ini dapat diesepakati bersama-sama melalui penyelia jaga agar ruang rawat ianp yang terkait dapat mengambil pasien tersebut. 5. selanjutnya perawatan pasien menjadi tanggung jawab dokter dan perawat ruang inap yang ditempati.

Page 5

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PENGGUNAAN EKG
Halaman : Elektrokardiografi adalah ilmu yang memperlajari tentang perubahan potensi listrik jantung Elektrokardiograf adalah alat galvanometer, dilengkapi dengan radio amplifier, gerakan jarum dan tinta yang dapat mencatat getaran arus listrik melalui permukaan tubuh Elektrokardiogram adalah grafik yang menggambarkan perubahan potensial listrik pada setiap kontraksi otot jantung yang dihubungkan dengan waktu. Pemeriksaan / pengkajian diagnostik penyakit jantung 1. penyakit jantung koroner 2. gangguan irama jantung / aritmia 3. hipertrofi atrium dan ventrikel 4. gangguan elektrolite/ kalium dan calsium 5. perikarditis 6. efek dari obat jantung Persiapan : oleh perawat A. Alat : 1. Elektrokardiograf satu channel atau tiga channel lengkap dengan elektrode serta plat atau manset extremitas 2. Kertas EKG 3. Jelly, kertas tissue 4. Tempat tidur 5. Spidol/pena B. Pasien 1. Diberi penjelasan tentang tujuan pemeriksaan 2. Pasien tenang, tidak bergerak, tidak menahan b.a.k / b.a.b 3. Tidur terlentang rileks/ tangan dan tungkai tidak bersentuhan 4. Tidak menyentuh besi tempat tidur c. Perawat 1. Menyiapkan alat dan pasien, merekam serta mampu interpretasi rekaman EKG pada pasien penyakit jantung koroner 2. Interpretasi EKG dalam keadaan tertentu segera kolaborasi atau melaku kan pertolongan pertama pada keadaan gawat. TANGGAL TERBIT RSU Page 6

Tujuan

Prodesur

RSU

REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP PROSEDUR

PENGGUNAAN EKG
Halaman : CARA KERJA : 1. Bersihkan lemak kulit pada tempat yang akan ditempel elektrode 2. pasang manset / flat elektrode pada hantaran I, II, II, aVR, aVL, aVF a. Kabel merah / R pasang di tangan kanan / RA b. Kabel kuning / L pasang di tangan kiri / LA c. Kabel hijau / F pasang di kaki kiri / RL d. kabel hitam / G pasang di tungkai kanan / gronding 3. Pasang elektrode pada Precordial lead VI s/d V6 / Anterior V7 s/d V9 / Posterior V2R s/d V6R / vbetrikuler kanan a. V1 ruang intercosta IV faris sternum kanan b. V2 Ruang intercosta IV garis sternum kiri c. V3 pertengahan antara V2 dan V4 d. V4 Ruang intercosta V garis mid clavicula kiri e. V5 Horisontal dengan V4 anterior aksilaris kiri f. V6 horisontal V6 mid aksilaris kiri g. V7 Horisontal V6 Posterior aksilaris h. V8 Horisontal V7 ujung scapula i. V9 Horisontal V8 pinggir vertebra 4. Kabel listrik EKG dihubungkan dengan stop kontak listrik 5. Tekan tombol ON power, tampak lampu menyala pada EKG 6. Cek voltage hingga 1 mv / 10 mm dengan kalibrasi,dial slektor posisi STD 7. Rekam dimulai dari lead I, II, III, aVR, aVL, aVF dengan memutar dial selektor 8. Rekam V1 s/d V6 ,bila menggunakan 6 elektrode dengan memutar dial selektor dan bila menggunakan satu elektrode dapat memindahkan elektrode ke arah lead V1 s/d V9 9. Setelah selesai merekam seluruhnya dicek voltage dengan kalibrasi lagi. 10. Jika perlu voltage dibesarkan / dikecilkan dan diberi catatan 11. Tuliskan pada kertas rekaman EKG : nama pasien, umur, tanggal, jam dan lead masing-masing serta nama yang merekam 12. Catat pada format EKG untuk hasil interpretasi.

TANGGAL TERBIT RSU Page 7

RSU

REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian Tujuan

TINDAKAN DEFIBRILASI-CARDIOVERSI
Halaman : Merupakan terapi dengan cara memberi energi listrik ke jantung,melalui electrode/pedal yang ditempatkan pada dinding dada pasien Defibrilasi : 1. Mencegah ancaman kematian oleh karena ventrikel Fibrilasi 2. Mencegah irama denyut jantung normal sinus dan mengembalikan curah jantung yang hilang oleh karena VT / VT Non pols, mengembalikan oksigenasi dan perfusi jaringan. Cardioversi: Mengembalikan Aritmia jantung yang ganas dengan hemodinamik yang rendah dan atau gagal dengan farmakoterapi Defribrilasi : ventrikular Fibrilasi Ventrikular takikardi / VT - Tidak ada pols / Non Pols Cardioversi Ventrikular Takikardi / VT, Hemodinamik tidak stabil Supra ventrikular takikardi , hemodinamik tidak stabil * Paroksismal Atrial takikardi / PAT * Atrial Fibrilasi Rapid Ventrikular Rate / AFRVR * Atrial Flutter Rapid Ventrikular Rate / AFRV * Paroksismal junction Takikardi Persiapan A. Dokter / Perawat : Harus paham tentang : 1. Interpretasi Rekaman RKG 2. Prinsip-prinsip BCLS dan ACLS B. Alat : 1. Defibrilator dengan elektrode monitor dan dua paddle / 10 -13 cm 2. Emergency trolly lengkap dengan obat emergency, Resusitator 3. Alat intubasi papan resusitasi 4. Oksigen terapi 5. Jelly C. Pasien : 1. Monitor EKG " Pastikan " VF / VT Non Pols 2. Monitor EKG " Pastikan " VT , PAT , SVT / EKG 12 lead 3. Posisi tidur spine diatas papan resusitasi 4. tidak ada gigi palsu TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: Page 8

Indikasi

Prosedur

RSU DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Prosedur

TINDAKAN DEFIBRILASI-CARDIOVERSI
Halaman : CARA KERJA DEFIBRILASI / ASINCRONISE 1. Dekatkan defibrilator dengan pasien serta alat-alat yang lain 2. Putar On defibrilator, atur energi diawali 200 joule asyncronise 3. Berikan jelly yang cukup pada seluruh permukaan kedua paddle 4. Tempatkan posisi paddle pada sternum & apex di dada pasien, cek dengan melihat monitor display, dinilai irama jantungnya, pastikan adanya VF / VT 5. Komunikasikan pada anggota tim , Charging defibrilator" 6. Tekan charge,tombol pidal apex dengan tangan kanan atau defibrilator kontrol 7. Bila charge sudah penuh joule, beri tekanan pada paddle ke dinding dada 8. Nyatakan bahwa defibrilasi siap aman terhadap pasien dan penolong 9. Tekan kedua tombol paddle sternum dan apex simultan dan jangan terangkat 10. Perhatikan di monitor display post defibrilasi, berubah atau tidak dari VF / VT 11. Bila VF/VF tetap, paddle tetap diletakkan pada dinding dada pasien, ulangi sampai ketiga kali dengan menaikkan 200-300 Joule 12. Bila masih tetap VF/VT, dilanjutkan Algoritma VF/VT 13. Bila berhasil pada shock ke 1/2/3, dipertahankan untuk pemulihan irama janyung normal, serta pernapasan adekuat 14. Alat dirapikan, paddle dibersihkan dari sisa jelly CARA KERJA CARDIOVERSI / SYNCHRONIZE 1. Beri tahu pasien dan keluarga 2. Pasien dalam infus, diberi penenang/ valium dan cukup oksigenasi 3. Hubungkan monitor dengan pasien dan usahakan mencari R yang tinggi dan jelas usahakan gambaran EKG tidak artefak 4. Tekan knop sinchronize, pastikan alat monitor dalam keadaan siap, paddle beri jelly 5. Energi diawali dengan 50 joule, dinaikkan bertahap bila belum ada respon 100 joule, 200 joule, 300 joule, 360 joule 6. Observasi monitor EKG terus meneus selama tindakan dan observasi tanda vital

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN Page 9

DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Pengertian

PERAWATAN INFARK MIOKARD AKUT


Halaman : keadaan dimana sebagian miokard mengalami nekrosis seluler irreversible akibat adanya oklusi aliran koroner total yang mendadak. Keadaan ini biasanya sebagai akibat menurunnya alliran darah koroner lama dibawah tingkat krisis 1. Pengawasan terhadap komplikasi terutama aritmia pada hari-hari pertama 2. segera bisa bertindak untuk mengatasi komplikasi yang sangat berbahaya. 1. Perawatan standar ICCU 2. Diagnosis : serial EKG dan enzim jantung CKMB, SGOT,LDH setiap 12 jam 3. Pengobatan : yang datang < 6 jam bila terdapat kontraindikasi dapat diberikan terapi trombolitik (streptokinase), sakit dada dapat diberikan Novalgin IV, Morfin SC atau Pethidin IM, angina pasca infark diberikan preparat nitrat (sublingual transdermal, drip IV). Bila terjadi komplikasi seperti Aritmia, payah jantung,dsb diobati menurut standar pengobatan masing-masing

Tujuan

Prosedur

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PENGOBATAN TROMBOLITIK INTRAVENA


Page 10

PROSEDUR TETAP Tujuan Indikasi

PENGOBATAN TROMBOLITIK INTRAVENA PADA INFARK MIOKARD AKUT


Membatasi luas infark 1. Nyeri dada yang khas lebih dari 20 menit bisa hilang dengan istirahat dan pemberian nitrat 2. Onset kurang dari 12 jam 3. Pada EKG elevasi segmen ST > 2 mm pada dua sadapan atau lebih pada sadapan prekordial atau lebih 1 mm pada dua sadapan atau lebih pada sadapan extermitas. 4. Usia < 70 tahun 1. hipertensi , BP > 200 / 110 mmHg 2. kecurigaan diseksi aorta 3. pasca resusitasi yang traumatic 4. riwayat stroke < 6 bulan 5. riwayat trauma kepala yang baru atau adanya neoplasma intrakranial 6. riwayat ulkus peptikum atau hemorroid dengan perdarahan baru. 7. riwayat post partum dini atau penderita hamil 8. penderita dengan penyakit-penyakit terminal 9. riwayat pengobatan streptokinase kurang dari satu tahun atau riwayat alergi streptokinase 10. bila memang diperlukan, dapat menggunakan trombolitik yang non antigenik (urokinase r.TPA) 1. Ada persetujuan keluarga 2. Tersedia defibrilator dan trolly emergency 3. Pemeriksaan sebelum trombosis : EKG lengkap, foto thorax, Cardiac enzym, darah lengkap, masa perdarahan, masa pendjedalan APTT dan elektrolit 4. Pasang kateter IV (infus) 5. Premedikasi dengan diphenhydramin hydroclorida 50 mg dan dexamethasone 40 mg IV 6. Streptokinase 1.500.000 unit dilarutkan dalam 100 ml NaCl 0,9% dan diberi kan selama 1 jam 7. Monitor tanda vital tiap 10 - 15 menit. Bila terjadi hipotensi -> head down position. Trombolisis sementara dihentikan. Filling dengan NaCl 0,9 % 100 250 ml untuk mengatasi efek vasodilatasi karena trombolisis. Setelah tekanan darah naik diteruskan lagi. 8. Monitor gambaran EKG jika terjadi aritmia 9. Observasi tanda-tanda alergi 10. Setelah streptokinase selesai dilanjutkan heparinisasi bolus 5000 unit TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS Halaman :

KONTRA INDIKASI

Prosedur

PROSEDUR

PENGOBATAN TROMBOLITIK INTRAVENA


Page 11

TETAP

Halaman : heparin drip dengan dosisi awal 1000 unit/jam selama lima hari dengan menyesuaikan hasil pemriksaan APTT 1,5 - 2 kali kontrol. Harus selalu diawasi tanda-tanda perdarahan selama infus heparin. bila terjadi perdarahan distop, pengelolaan perdarahan (transfusi k/p dan obatobatan fibrinotik). pemeriksaan laboratorium sesudah streptokinase * APTT tiap 12 jam * enzim jantung tiap 24 jam * EKG lengkap tiap 24 jam

PADA INFARK MIOKARD AKUT

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP

PROGRAM TERAPI OKSIGEN


Page 12

PROGRAM TERAPI OKSIGEN


Pengertian Halaman : Program terapi oksigen merupakan upaya dalam mempertahankan keseimbangan kebutuhan oksigenasi dalam tubuh. a. Memenuhi kebutuhan oksigen pada hipoxia b. Menurunkan kerja pernapasan c. Menurunkan beban kerja jantung/ miokard d. Pemerikasaan saturasi oksigen rendah 1. Persiapan Alat a. Outlet oksigen sentral / dinding/ tabung b. Flow meter oksigen dan humidifer c. Kateter nasal d. Kenule nasal e. Sungkup muka sederhana f. Sungkup muka dengan kantong non rebreathing / NRM g. sengkup muka dengan kantong rebreathing / RM h. sengkup muka dengan Venturi i. Jelly k-y/ untuk pelicin 2. Pasien a. Diberi tahu manfaat dan tujuan b. Atur posisi tidur sesuai dengan kondisi pasien Cara Kerja oleh Perawat 1. Perawat cuci tangan 2. Hubungkan dengan flow meter oksigen 3. Hubungi dengan outlet sentral/ tabung 4. Pilih kateter nasal/ kenule nasal/ Sungkup muka sederhana, Sungkup muka dengan kantong non rebreathing / atau sungkup muka dengan kantong rebreathing atau Venturi 5. Hubungkan pada flow meter oksigen 6. Alirkan oksigen dengan memutar selektor sesuai kebutuhan 7. Pasang ke pasien dengan cara seperti dibawah ini :

Tujuan

Prosedur

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP

PROGRAM TERAPI OKSIGEN


Halaman : Page 13

PROSEDUR Jenis Alat Nasal Kenule Aliran Konsentrasi Cara Kerja L/ Mnt (%) 1 - 22 6 - 24 Beri pelicin pada ujung/ kedua ujung kenule, masikan kedua ujung kenule kedalam lubang hidung pasien fiksasi 1 - 24 6 - 44 Ukur jarak antara lubang hidung sampai ke ujung daun telinga, beri pelicin/ jelly pada ujung kateter masukan melalui lubang hidung sejauh yang diperkirakan kemudian fiksasi. 5 -40 8 - 60 Atur tali pengikat sengkup muka, sehingga menutup rapat dan nyaman jika perlu memakai kain kasa pada daerah tertekan. 8 -60 12 - 100 Isi oksigen kedalam kantong dengan menutup lubang antara kantong dengan sungkup. Atur tali pengikat sungkup sehinga menutup rapat dan nyaman 4 -30 13- 55 s.d.a

Karakter Nasal

Sungkup Muka sederhana

Sungkup muka non rebreathing

Sungkup muka rebreathing

Perawatan

1. Outlet oksigen sentral/ dinding/tabung 2. Flow meter oksigen dan humidifer 3. Kateter nasal 4. Kenule nasal 5. Sungkup Muka sederhana 6. Sungkup muka dengan kantong non rebreathing / NRM 7. Sungkup muka dengan kantong rebreathing / RM 8. Sungkup muka dengan venturi 9. Jelly K-Y / Untuk pelicin

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PENATALAKSANAAN AKUT MIOKARD INFARK

Halaman : Akut miokard Infark (AMI) adalah suatu keadaan dimana terjadi kerusakan atau

Page 14

Pengertian nekrose otot jantung yang disebabkan oleh berkurangnya atau terhentinya aliran koroner secara tiba-tiba, atau secara tiba-tiba kebutuhan oksigen meningkat tanpa disertai perfusi arteri koroner yang memadai. Tujuan Prosedur Menurunkan kebutuhan oksigen dan meningkatkan persediaan oksigen miokard A. Pemeriksaan penunjang 1. Pemeriksaan EKG serial = Abnormal segmen ST, gelombang T dan Q 2. Pemeriksaan cardiac enzym serial = peningkatan CK-CKMB, LDH, GOT 3. Rontgen Thorax = ada cardiomegali, oedema paru 4. Echocardiografi = disfungsi ventrikel / valve 5. Angiografi koroner = Oklusi arteri koroner 6. Pemeriksaan darah = Lekositosis serum lipid meningkat AGD mungkin hipoxemia Penatalaksanaan Prinsip penatalaksanaan AMI adalah menurunkan kebutuhan oksigen dan meningkatkan persediaan oksigen miokard. 1. Bedrest total selama 24 jam pertama 2. Terapi oksigen 3. Infus emergency 4. Bedside cardiac monitoring 5. Monitoring hemodinamik 6. Terapi : vasodilator, beta bloker, analgetik, narkotik, antiplatelet, antilipid 7. Tindakan revaskularisasi koroner : PTCA (percutaneus Transluminae Coronary Angioplasty) 8. Menenangkan pasien = obat sedative, penyuluhan 9. Diet = Puasa sampai 8 jam pertama setelah serangan, diteruskan diet jantung secara bertahap (Diet jantung I,II,III,IV) 10. Monitoring balance cairan 11. Rehabilitasi = setelah 24 jam pertama tidak ada komplikasi dimulai mobilisasi secara bertahap.

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PENATALAKSANAAN ANGINA PECTORIS


Halaman : Agina pectoris adalah suatu gejala temporer miokardia iskemia yang dirasakan sebagai nyeri dada (Chest pain) atau tidak nyaman (Chest discomfort) Page 15

Pengertian

Tujuan

Agar cepat menentukan sikap dan tindakan yang perlu dilakukan untuk menyelamatkan pasien dari ancaman yang lebih serius yaitu kematian otot jantung (AMI) Pemeriksaan penunjang : a. EKG 30 % biasanya normal dan 70% abnormal pada episode nyeri dada atau melakukan aktivitas, berupa depresi segmen ST atau gelombang T inverted. b. Cardiac enzym (CK, CKMB, LDH, GOT) Biasanya normal, meningkat menunjukan infark miokard c. Sters Test / Treadmill Hasil abnormal EKG : ST depresi atau T inverted, serangan angina saat test d. Angiografi koroner 10 % biasanya normal, 90% abnormal berupa lesi arteri koroner e. Serum Lipid ( HDL, LDL, Cholesterol, Triglyserid) Meningkat resiko faktor CAD Penatalaksanaan : a. Bedrest, sebaiknya tidur telentang atau semifowler b. Terapi oksigen c. Obat-obatan a). Nitrat Nitrat, cedocard, Minitran, isoket b). Beta Bloker propanolol, atenolol c). Kalsium antagonis Nifedipin, diltiazem, verapamil d). Anti Agregasi Aspilet, ascardia e). Anto koagulan Heparin, levonox d. Pengendalian factor resiko e. Tindakan intervensi a). PTCA ( Percutaneus Transluminal Coronary Angioplasty) b).CABG ( Coronary Artery By Pass Graft). TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

Prosedur

PROSEDUR TETAP Pengertian

PENATALAKSANAAN SYOK KARDIOGENIK


Halaman : Syok adalah merupakan gangguan dimana perfusi ke jaringan tidak cukup membawa zat yang diperlukan dan membuang sisa metabolisme , terutama ke jaringan vital jantung , otak, Ginjal dan hati Page 16

Pengertian

Syok kardiogenik adalah jantung tidak dapat mempertahankan Cardiaca output untuk membutuhkan metabolisme tubuh dengan tubuh # Perfusi ke Organ tergantung dari tekanan arteriaol sistemik dan resistensi atau tekanan vaskuler dari organ. # Cardiac output adalah strok volume dikalikan Heart Rate. # Tekanan arterial adalah cardiac output dikalikan resistensi vaskuler sistemik # Resistensi vaskuler tergantung dari radius pembuluh darah yang mempengaruhi struktur dinding pembuluh darah dan tonus alat polos vaskuler Tujuan 1. Memperbaiki kontraksi jantung 2. Menaikan cardiac output 3. Memberikan vasodilatasi 4. Mengatasi asidosis respiratori dan metebolisme Pemeriksaan penunjang : 1. EKG a). AMI luas : anterior, inferior, posterior kanan yang terjadi ( Perubahan QST). b). Dysritmia : Bradiritmik/ AV Block total. c). Hypertrofi jantung 2. Laboratorium a). Enzym jantung meningkat (CKMB,LDH. SGOT, SGPT) b). AGD : Hypoksemia PaO2 < 80 mmHg Asidosis metebolisme pH < 7,35 Alkalosis respiratori PaCO2 < 35 mmHg 3. Foto thoraks # Jantung sering membesar # Oedema Paru / pembendungan paru 4. Ekhokardiografi 5. Hemodinamic monitor Selain untuk memonitor pemberian cairan juga untuk memonitor LV fungsi

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP

PENATALAKSANAAN SYOK KARDIOGENIK


Halaman : Terapi inisial : 1. Terapi oksigen (Dicapai PaO2 : 80 - 120 mmHg)

Page 17

* 8 - 10 L/Mnt menggunakan masker /NRM * Intubasi bila memerlukan terapi oksigen aliran cepat dengan bantuan ventilator bila PaO2 < 50 mmHg 2. Obat adrenergik * Dopamin - Dosis rendah 2,5 mcg/kgBB/mnt untuk : dilatasi renal, mesenteric, coronary cerebral - Dosis tinggi 5-20 mcg/KgBB/mnt pada pasien dengan tekanan darah kurang dari 70 mmHg (sistolik) untuk meningkatkan kontraksi otot jantung dan cardiac output serta tekanan darah * Dobutamin ( Dobutrex) - Efek inotropik, menstimulasi beta reseptor untuk meningkatkan kontraksi dan stroke volume - Dosis dimulai 2-4 mcg/kgBB/Mnt - Dosis terapi 2-20 mcg/kgBB/Mnt,bila TD sistolik 70 -100 mmHg * Norepinefrin alpa dan beta action - Meningkatkan kontraksi miokard dengan menstimulasi beta reseptor, meningkatktakn tekanan arterial sistemik, meningkatkan kardiak output, dan resistensi vaskuler perifer. 3. Keseimbangan kebutuhan cairan - Perlu pemasangan CVP - Monitor RAP - Monitor PCWP - Dengan monitor hemodinamik dapat diobservasi dan dievaluasi terus menerus setiap 10 menit 4. Memenuhi kebutuhan keseimbangan asam basa - pemeliharaan pH = 7,35 (sodium bicarbonat) 5. Tyrah baring, pososi supine, kaki dinaikan 45 derajat 6. IABP ( Intra Aotric Ballon pump)

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PENATALAKSANAAN CARDIAC ARREST


Halaman : Cardiac Arrest dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana tidak ada tanda-tanda klinis adanya cardiac output. Mencegah kerusakan cerebral yang menetap yang mungkin akan terjadi bahkan kematian. Page 18

Tujuan

Tujuan

PROSEDUR Pemeriksaan penunjang Henti jantung dapat diikuti fenomena listrik antara lain VF, VT, Asistole dan Disosiasi Elektromekanik (PEA) . Oleh karena itu sangat perlu dilakukan monitoring EKG pada pasien dengan cardiac arrest. Penatalaksanaan : Pasien dengan cardiac arrest harus sesegera mungkin dilakukan Resusitasi CardioPulmonar, yang meliputi : 1. Bantuan Hidup Dasar (Basic Cardiac Life Support) yang bertujuan untuk mengupayakan kembali oksigenasi jaringan. 2. Bantuan Hidup Lanjut (Advanced Cardiac Life Support) yang berguna untuk mempertahankan oksigenasi yang spontan. 3. Fase Post resusitasi 4. Tujuan CPR adalah untuk mempertahankan ventilasi dan sirkulasi yang adekuat dan untuk menjaga kestabilan irama jantung.

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PENATALAKSANAAN PASIEN HIPERTENSI


Halaman : Hipertensi terdiri dari hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer (95%) tidak diketahui penyebabnya. Ada beberapa faktor resiko yang dapat menyebabkan terjadinya hipertensi, yaitu : obesitas, merokok, stress, intake sodium yang berlebihan, serum lipid yang meningkat dalam darah dan alkohol. Hipertensi sekunder (5%) adalah hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain Page 19

terutama ginjal. Hipertensi krisis (very severe) : sistolik > 210 mmHg dan diastolik > 110 mmHg. Diklasifikasi dalam 2 tipe : 1) hipertensi urgensi adalah severe hipertensi tanpa diikuti kerusakan organ target. 2) Hipertensi emergency adalah severe hipertensi yang diikuti dengan adanya kerusakan organ target seperti otak, jantung dan ginjal. 1. Menurunkan morbiditas dan mortalitas. 2. Mempertahankan TD sistolik 140mmHg dan diastolik 90 mmHg 3. Mencegah komplikasi. 1. Lakukan pemeriksaan penunjang ; a. EKG akan didapatkan : * Pembesaran ventrikel kiri * Pembesaran atrium kiri * Penyakit jantung koroner b. Laboratorium Fungsi ginjal : BUN, Ureum Urine Rutin Asam Urat Darah lengkap Elektrolit c. Radiologi - edema paru oleh karena gagal jantung kiri - pembesaran jantung, vaskularisasi aorta yang lebar - pelebaran mediastiunum oleh karena diseksi aorta d. Ekokardiografi Tampak penebalan dinding ventrikel kiri, mungkin juga sudah terjadi dilatasi dan gangguan fungsi sistolik dan diastolik. TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

Tujuan

Prosedur

PROSEDUR TETAP PROSEDUR

PENATALAKSANAAN PASIEN HIPERTENSI


Halaman : 2. Penatalaksanaan a. Pengobatan Non Farmakologi 1) Perubahan cara hidup 2) Mengurangi asupan garam dan lemak 3) Mengurangi asupan alkohol 4) Berhenti merokok 5) Menurunkan BB bagi pasien obesitas Page 20

6) Meningkatkan aktifitas fisik 7) Olahraga teratur 8) Menghindari ketegangan 9) Istirahat cukup b. Pengobatan Farmakologi 1) Diuretik : furosemid 0,5-1 mg/KgBB 2) Beta bloker : propanolol 3) Calsium antagonis 4) ACE inhibitor : captopril 5) Alpha adrenergic blocking agent 6) Vasodilator : - Nitroprusid, yaitu vasodilator arteri dan vena. Dosis 0,25-8ug/KgBB/menit pemberian yang cepat > 15ug/KgBB/menit atau pemberian yang lama > 48 jam dapat menyebabkan terjadinya Thyocinate Toxicity yang ditandai dengan gejala pandangan buram, bingung, tinitus. Obat ini diberikan dengan menggunakan infus pump. - Nitroglicerine adalah vasodilator untuk vena dengan dosis 5-100ug/menit 7) Morphin : 2-5mg

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PENGGUNAAN DEFIBRILASI (DC SHOCK)


Halaman : Defibrilatror adalah suatu alat elektrik yang biasanya dilengkapi dengan alat monitor EKG yang digunakan untuk terapi aritmia jantung (defibrilasi atau kardioversi) Defibrilasi (external) adalah suatu tindakn terapi dengan cara memberikan aliran energi listrik yang kuat dengan mode asinchron ke jantung pasien melalui elektroda (pedal) yang ditempelkan di permukaan dinding dada. Cardiovesi adalah suatu tindakan terapi dengan cara memberikan aliran energi listrik yang kuat dengan metode sinchron. Page 21

Tujuan

a. menghilangkan ancaman kematian karena ancaman jantung b. mengembalikan irama jantung menjadi normal. c. mengembalikan oksigenasi dan perfusi ke jaringan. DEFIBRILASI A. INDIKASI : 1. pasien dengan irama VF (Ventrikel Fibrilasi) 2. Pasien dengan irama VT (Ventrikel Takikardi) non pulse B. PERSIAPAN DEFIBRILASI 1) Perawat Harus paham : - Anatomi dan fisiologi sistem kardiovaskuler - Interpretasi gambaran EKG - Prinsip-prinsip keamanan terhadap listrik. 2) Peralatan a) DC Shock (Defibrilator dengan electrode/pedalnya) b) Jelly c) Ambu bag dengan face mask d) Oksigen e) papan resusitasi f) obat-obat emergency 3) Pasien a) Posisikan supine diatas papan yang rata dan keras (papan RKP) b) Singkirkan semua besi yang menempel langsung pada pasien c) Ambil gigi palsu pada pasien, bila ada. C. PROSEDUR DEFIBRILASI 1. Pastikan gambaran EKG F pada monitor EKG 2. Siapkan alat-alat defibrilasi (lakukan RJP) bila alat-alat belum tersedia. TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR

PROSEDUR TETAP PROSEDUR

PENGGUNAAN DEFIBRILASI (DC SHOCK)


Halaman : 3. Matikan pace maker bila terpasang. 4. Lakukan defibrilasi bila dipastikan gambaran EKG VF atau VT non pulse dengan cara sbb: - Beri jelly yang cukup pada pedal - Hidupkan defibrilator dan pastikan dalam setelan Asinchron, atur energi yang dipakai - Letakkan pedal pada dada, agak diputar agar jelly menyebar rata - Pastikan tidak ada orang yang kontak dengan pasien atau bed pasien. - Tekan knop pedal secara bersama-sama dan defibrilator akan Page 22

memberikan kejutan / kontraksi pada pasien - Nilai gambaran EKG segera jika masih VF, defibrilasi diulangi. D. PERAWATAN POST DEFIBRILASI 1. Nilai keadaan psien 2. Monitoring gambaran EKG 3. Pasang infus bila belum terpasang 4. Siapkan pemberian obat-obatan dan observasi pemberian obat-obatan 5. Berikan oksigen 6. Perhatikan pada pasien apakah ada luka bakar

CARDIOVERSI A. INDIKASI : Dilakukan pada pasien dengan kelainan EKG : * VT : Ventrikel Takikardi * PAT : Paroksismal Atrial Takikardi * SVT : Supra Ventrikel Takikardi * F : Atrial Takikardi Yang tidak dapat diatasi dengan obat-obatan. B. CARA CARDIOVERSI : 1. Emergency : Tidak perlu tindakan (khusus) apa-apa, bila VT langsung cardioversi (harus dengan alay-alat RJP) 2. Elektif : Premediksai dulu dengan valium

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP PROSEDUR

PENGGUNAAN DEFIBRILASI (DC SHOCK)


Halaman : C. PROSEDUR CARDIOVERSI 1. Beritahu pasien dan keluarga (terangkan maksud dan tujuannya) 2. Rekam EKG 12 lead 3. Pasang Infus (bila belum terpasang) 4. Atur posisi pasien terlentang 5. Berikan oksigen dan obat penenang 6. Observasi tanda vital 7. Siapkan alat-alat Cardioversi : a) hubungkan pasien dengan monitor EKG (usahakan EKG dengan gelombang R yang tinggi dan jelas) Page 23

b). Usahakan gambaran EKG tidak artefak c) tekan knop sinchron d) berikan jelly yang cukup pada pedal 8. Yakinkan lat-alat pada keadaan siap, knop pada posisi sinchron dan berikan enrgi sesuai kebutuhan 9. Lakukan cardioversi * letakkan pedal pada posisi yang benar * tekan knop pedal secara bersamaan 10. Nilai gambaran EKG (bila menetap, energi dinaikkan bertahap dan prosedur diulang) 11. Setelah selesai, rapikan alat-alat 12. Catat dan laporkan tindakan Cardioversi.

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Tujuan Indikasi

INTUBASI
Halaman : Mendapatkan jalan napas yang lancar dengan penempatan yang tepat pipa trachea oral 1. Henti jantung 2. Pasien sadar tapi ventali kurang adekuat 3. Pasien tidak dapat mempertahankan jalan napas yang adekuat 4. Penolong tidak mampu memberikan ventilasi adekuat dengan cara konvensional 1. Laringoskop, lengkap dengan handle dan blade 2. Pipa Endotrakeal (ETT) dengan ukuran : a) Perempuan : No. 7,0 ; 7,5 ; 8,0 Page 24

Persiapan Alat

b) Laki-laki : No 8,0 ; 8,5 c) Emergency : No 7,5 3. Stilet 4. Mandrin 5. Forsep magil 6. Jeli 7. Spuit 20 cc atau 10 cc 8. Steteskop 9. bantal 10. Plester dan gunting 11. Mesin Suction (alat penghisap lendir) Prosedur 1. Cek alat-alat yang diperlukan dan pilih ukuran ETT sesuai dengan kebutuhan 2. Beri pelumas pada ujung ETT sampai daerah "cuff" 3. Lakukan hiperventilasi minimal 30 detik (lakukan "Sellick Manuver") 4. Letakkan bantal di Oksiput setinggi 10 cm dan kepala tetap extensi 5. Bila perlu lakukan penghisapan lendir pada mulut dan faring 6. Buka mulut dengan cara "cross finger" & tangan kiri memegang laringoskop 7. Masukkan bilah laringoskop menelusuri mulut sebelah kanan, sisihkan lidah ke kiri. Masukkan bilah sampai mencapai dasar lidah, perhatikan agar lidah atau bibir tidak terjepit diantara bilah dan gigi. 8. Angkat laringoskop ke atas dan ke depan dengan kemiringan 30 -40 derajat, jangan menggunakan gigi sebagai tumpuan. 9. Bila pita suara sudah terlihat, masukkan ETT sambil memperhatikan bagian proximal dar "cuff" ETT melewati pita suara 1-2 cm atau pada orang dewasa kedalaman ETT 19-23 cm 10. Waktu intubasi tidak boleh lebih dari 30 detik. TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP prosedur

INTUBASI
Halaman : 11. Lakukan ventilasi dengan menggunakan "bagging" dan lakukan auskultasi, pertama pada lambung kemudian pada paru kanan dan kiri sambil memperhatikan perkembangan dada. 12. Bila terdengar suara "gargling" pada lambung dan dada tidak mengembang lepaskan ETT, lakukan hiperventilasi kembali selama 30 detik dengan O2 100% selanjutnya lakukan intubasi kembali. 13. Kembangkan balon "cuff" dengan menggunakan spuit 20 cc atau 10 cc dengan volume secukupnya sampai tidak terdengar suara kebocoran udara di mulut saat dilakukan ventilasi "bagging". 14. Lakukan fixasi ETT dengan plester agar tidak terdorong atau tercabut. 15. lakukan ventilasi terus dengan oksigen 100%

Page 25

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP PROSEDUR

PASIEN DAN PENDERITA YANG DAPAT DIRAWAT DI ICU


Penentuan penderita yang dapat dirawat di ICU

Halaman :

Memberikan batasan penderita yang akan mendapat pelayanan di ICU Penderita dalam keadaan akut, kritis dan masih dalam keadaan dapat ditolong (reversible dan recoverble) I. INDIKASI UMUM 1. Semua penderita yang membutuhkan bantuan pernapasan mekanik atau alat bantuan khusus lainnya. 2. Semua penderita yang membutuhkan monitoring secara cermat dan ketat. II. INDIKASI KHUSUS Page 26

1. Kelainan pada saluran pernapasan Pneumonia, Bronkiolitis, Laringitis, dirawat di ICU apabila : dengan pengobatan klasik tidak memberikan hasil yang baik atau menuju ke arah terjadinya kegagalan pernapasan. 2. Kelainan pada sistem kardiovaskuler. Syok hipovolemik, kardiogenik,septik. syok hipovolemik dan septik yang tidak menunjukkan respon yang baik terhadap pengobatan klasik atau didapatkan komplikasi menuju ke arah kegagalan pernapasan. Setiap syok kardiogenik/syok septik maupun penyebabnya, untuk pengawasan EKG (BED SIDE) / pemantauan ketat hemodinamik. 3. Keracunan Kasus-kasus keracunan makanan, obat-obatan, zat kimia yang memerlukan pengobatan suportif misalnya : hemodialisa, transfusi tukar, bantuan napas mekanik dan syok.

III. PRIORITAS INDIKASI RAWAT ICU Mengingat terbatasnya tempat/tenaga/sarana makan prioritas indikasi rawat: * Syok kardiogenik apapun sebabnya. Unit Terkait SMF lain, HCU, ICCU

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian Tujuan Kebijakan Prosedur

TATA CARA JAGA ICU

Halaman :

Peraturan yang dibuat untuk mengatur tugas jaga ICU Supaya pelayanan pasien dan pencatatan pasien di ICU dapat berjalan baik Dokter jaga ICU melaksanakan tugas sesuai dengan prosedur 1. Serah terima pasien dengan segala permasalahannya dari dokter jaga ICU ke dokter jaga sesuai konsultan jaag kelas 1 dan kelas 2, dengan aturan : senin-kamis : 14.00 jumat : 11.00 sabtu : 12.30 Minggu / hari libur pagi : 08.00 malam : 20.00 2. Atasi kegawatan -> lakukan program -> konsul Anestesi atau sub bagian Page 27

lain yang terkait 3. Menulis laporan jaga di MR 4 4. Menyerahkan pasien dengan segala permasalahannya ke dokter jaga berikutnya Unit Terkait Dokter jaga ICU

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian Tujuan Kebijakan Prosedur

PENYEDIAAN OBAT DAN PERALATAN KEGAWATAN

Halaman : Obat-obat emergency dan peralatan standar yang harus tersedia di ICU Mendukung pelayanan terhadap kegawatan penderita yang dirawat. Semua tempat perawatan yang menjadi ruang lingkup ICU harus tersedia 1. PERALATAN A. Alat pembebas jalan nafas 1. Ambu bag : lengkap 2. Masker / Sungkup muka : semua ukuran lengkap 3. Laringoskop dan blade 4. Pipa ET lengkap 5. Pipa nasofaringeal lengkap 6. Pipa Orofaringeal lengkap 7. Pipa Tracheostomi lengkap Page 28

8. Masker (non dan reberathing ), T piece 9. Head box 10. kateter penghisap B. Transfusi dan Infus 1. Infusion pump 2. Syringe Pump 3. Infus set/Transfusion set/ extension set 4. IV catheter 5. Three way stopcock 6. Umbilical catheter C. Monitor 1. bed side monitor : pulse oxymetri, tekanan darah invasif dan non invasif 2. EKG 3. Respirasi 4. Temperatur D. lain-lain 1. NGT (feeding tube) 2. Catheter Urine E. Obat-obatan 1. Adrenalin 2. Aminophyllin 3. Atropin sulfas 4. calcium chloride 10% calcium gluconas 10% TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP

PENYEDIAAN OBAT DAN PERALATAN KEGAWATAN


5. dexamethasone 6. diazepam 7. dilantin 8. digoxin 9. dipenhidramin 10. dopamin 11. dobutamin 12. dextrose 40% 13. furosemid 14. heparin 15. clonidin injeksi 16. lidocain 17. manitol 18. midazolam 19. morfin 20. naloxone Page 29

Halaman :

21. natrium bicarbonat 22. phenytoin 23. phenobarbital F. cairan-cairan A. cairan kristaloid cairan yang mengandung molekul elektrolit 1. Sodium Chloride (NaCl 0,9%) 2. Rineger lactat 3. maintanance : D5% dengan elektrolit NaCl dan Kcl B. cairan koloid cairan pengganti plasma sebelum mendapatka transfusi 1. HAES steril 6%, HAES steril 10% 2. Expafusin 3. Albumin 2,5%, 10% Unit terkait IGD, ICU, SMF lain

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian Tujuan Kebijakan Prosedur

PENILAIAN TINGKAT KESADARAN


(METODE GLASGOW-PITTSBURGH COMA SCALE)

Halaman : Penentuan tingkat kedaran dengan metode Glasgow-Pittsburgh Coma Scale Menyamakan penilaian tingkat kesadaran pasien Penilaian tingkat kesadaran harus memakai kriteria yang telah dibuat. a. BUKA MATA Spontan Patuh perintah Pada rangsangan nyeri Tidak ada b. RESPON MOTORIK TERBAIK Menurut perintah Reaksi setempat Menarik (wihdraws) Flexi abnormal Page 30

4 3 2 1

6 5 4 3

Extensi Tidak ada C. RESPON VERBAL TERBAIK Baik (oriented) Pembicaraan kacau Kata-kata tak tersusun Suara Tidak ada D. REAKSI PUPIL TERHADAP CAHAYA Normal Lambat Respon tak sama Besar tak sama Tidak ada E. REFLEX SARAF OTAK TERTENTU Semua ada Reflex bulu mata (-) Reflex Kornea (-) RSU

2 1

5 4 3 2 1

5 4 3 2 1

5 4 3 TANGGAL TERBIT REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Prosedur

PENILAIAN TINGKAT KESADARAN


(METODE GLASGOW-PITTSBURGH COMA SCALE)
semua reflex kranial (-) f. KEJANG Tidak ada Kejang fokal Umum intermitten Umum kontinyu Flaksid g. NAPAS SPONTAN Normal periodik Hiperventilasi sentral Hipoventilasi/ irreguler Apnea

Halaman : 1

5 4 3 2 1

5 4 3 2 1

Unit Terkait

IGD, SMF SARAF, ICU Page 31

Unit Terkait

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

KENAIKAN TEKANAN INTRAKRANIAL


Halaman : Peningkatan volume/jumlah tekanan dari struktur di dalam rongga tengkorak yang terdiri dari otak, otak dan pembuluh darah serta cairan serebrospinal. Sebagai panduan penanganan kenaikan intrakranial Penanganan segera dan tepat akan mencegah komplikasi dan gejala sisa serta menurunkan mortalitas. 1. Tentukan prosedur perawatan dan meminta ijin tertulis untuk melakukan tindakan medis kepada keluarga pasien. 2. Kenali gejala, tanda penyakit sakit kepala, muntah, perubahan kepribadian, diplopia, kejang, penurunan kesadaran, dilatasi pupil. 3. Pemeriksaan laboratorium dan penunjang atas indikasi: pengukuran tekanan intrakranial, CT Scan kepala, Funduskopi 4. Pengobatan Tergantung pada penyebabnya : 1) Endema otak a. Endema vasogenik Page 32

Tujuan Kebijakan

Prosedur

Kortikosteroid Monitol 0,5 - 1 gr/kgBB/6-8 jam b. Endema sitotoksik Manitol 0,5-1gr/KgBB/6-8 jam c. Endema interstitial Azetazolamid 25-50 mg/KgBB/hr 2). Hidrosefalus : VP shunting 3). Tumor,perdarahan,SOL a. Konsul bedah saraf, operatif b. Atasi faktor penyebabnya. 5. Pemantauan efek samping pengobatan berupa gangguan elektrolit, gangguan keseimbangan cairan dan sirkulasi, hipertensi dan komplikasi penyakit yaitu tanda-tanda herniasi dan cushing syndrome. Unit Terkait ICU, SMF Saraf, SMF Anak, ICCU

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

MENINGITIS BAKTERI
Halaman : Meningitis bakteri adalah peradangan selaput otak yang disebabkan oleh bakteri patogen Sebagai panduan penanganan menigitis bakteri Penanganan segera dan tepat akan mencegah komplikasi dan menurunkan mortalitas 1. Tentukan prosedur perawatan dan meminta ijin tertulis untuk melakukan tindakan medis kepada keluarga pasien. 2. Kenali gejala dan tanda meningitis bakteri. - sering didahului infeksi saluran nafas atau saluran cerna dengan gejala panas, batuk, pilek, diare dan muntah serta nyeri kepala - Penurunan kesadaran, kaku kuduk, tanda rangsang meningeal yang lain, kejang dan defisit neurologis fokal. 3. Pemeriksaan penunjang * Darah perifer lengkap, gula darah, elektrolit darah, biakan darah. * Lumbal pungsi (jumlah sel, kadar protein, kadar gula, pewarnaan gram, biakan dan uji resistensi) * Pemeriksaan CT scan kepala, EEG atas indikasi. Page 33

Tujuan Kebijakan

Prosedur

4. Pengobatan Supuratif Atasi kejang, turunkan panas, cegah hipoxia otak, cegah dekubitus, keratitis aspirasi, turunkan tekanan inttrakranial yang meningkat Jika ditemukan endema otak dapat diberikan manitol 0,5-1gr/KgBB setiap 8 jam dan kortikosteroid. Pengobatan kausatif 1) Pengobatan empirik antibiotik Cefotaxime Ampicillin Chloramphenicol 2) Terapi Antibiotik sesuai kultur LCS Lama pengobatan : 10-14 hari 3) Kortikosteroid : dexamethasone 4) Bedah : jika ditemukan emyema subdural, abses otak, hidrosefalus. 5. Pemantauan efek samping pengobatan * pemeriksaan darah tepi TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Prosedur

MENINGITIS BAKTERI
Halaman : * uji fungsi hati * uji fungsi ginjal * uji pendengaran * uji penglihatan Komplikasi penyakit subdural effusion subdural empyema, abses cerebri, hidrocefalus.

unit Terkait

ICU, SMF Saraf, SMF Anak

Page 34

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

TETANUS
Halaman : Suatu penyakit toksemia akut dan fatal yang disebabkan oleh Clostridium tetani dengan tanda utama kekauan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran Sebagai panduan penanganan ketoasidoasis diabetik Penanganan segera dan tepat akan mencegah komplikasi dan menurunkan mortalitas. 1. Tentukan prosedur perawatan dan meminta ijin tertulis untuk melakukan tindakan medis kepada keluarga pasien 2. Kenali gejala, tanda, derajat dan komplikasi penyakit Derajat I (tetanus ringan) * Trismus ringan sampai sedang * Kekakuan umum * Kaku kuduk, opistotonus, perut papar. * Tidak dijumpai disfagia ringan * Tidak dijumpai kejang * Tidak dijumpai gangguan aspirasi Derajat II (tetanus sedang) * trismus sedang * kekakuan jelas Page 35

Tujuan Kebijakan PROSEDUR

* dijumpai kejang rangsang * tidak ada keajng spontan * takipnea * disfagia ringan Derajat III (tetanus berat) * trismus berat * otot spastis, keajng spontan * takipnea, takikardi * Apneic spell * disfagia berat * aktifitas sistem autonom meningkat Derajat IV (tetanus stadium terminal) * derajat III ditambah dengan * gangguan autonom berat TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP

TETANUS
Halaman : * hipertensi berat dan takikardi atau * hipertensi dan bradikardi * hipertensi berat atau hipotensi berat Penyakit pada tetanus # gangguan ventilasi paru # aspirasi pneumonia # bronkopneumonia # atelektasis # empisema mediastinal # pneumothorax # sepsis # fraktur vertebra 3. Pemeriksaan laboratorium atas indikasi Liquor cerrebrospinal dan biakan kuman anaerobik 4. Terapi dasar tetanus Antibiotik * Penicillin prokain 50.000 IU/KgBB/Kali IM, tiap 12 jam atau * Ampicillin 150 mg/KgBB/hari IV dibagi 4 dosis atau * tetrasiklin 25-50 mg/KgBB/Hari PO dibagi 4 dosis (max 2 gram) atau Page 36

* metronidazole loading dose 15 mg/KgBB/jam selanjutnya 7,5 mg/KgBB tiap 6 jam, atau * eritromisin 40-50 mg/KgBB/hari PO dibagi 4 dosis (bila ada sepsis/pneumonia dapat ditambahkan sefalosporin) Netralisasi toksin : ^ anti tetanus serum (ATS) 50.000 - 100.000 IU setengah dosis diberikan IM dan setengahnya IV dilakukan uji kulit terlebih dahulu. ^ apabila tersedia dapat diberikan human tetanus immunoglobulin (HTIG) 3000-6000 IU IM Anti konvulsi * diazepam0,1-0,3 mg/KgBB/Kali IV tiap 2-4 jam TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP PROSEDUR

TETANUS
Halaman : * dalam keadaan berat : diazepam drip 20 mg/KgBB/hari dirawat di ICU * dosis pemerliharaan 8 mg/KgBB/hari PO dibagi 6-8 dosis perawatan luka atau pot d'entre dilakukan setelah diberi antioksidan dan anti konvulsi 5. Terapi suportif * bebaskan jalan nafas * hindarkan aspirasi dengan menghisap lendir perlahan-lahan dan memindah-mindahkan posisi pasien * perawatan dengan stimulasi minimal * pemberian cairan dan nutrisi adekuat, bila trismus berat dapat dipasang sonde nasogastrik * bantuan nafas pada tetanus berat atau tetanus neonatorum * pemantuan atau monitoring kejang dan tanda penyulit 6. Tetanus ringan dan sedang * terapi dasar tetanus * perhatian khusus pada keadaan jalan nafas akibat kejang dan aspirasi * pemberian cairan parenteral bila perlu nutrisi secara parenteral. Tetanus berat * terapi dasar seperti diatas * perawatan dilakukan di ICU, diperlukan intubasi dan pemakaian ventilator * balans cairan dimonitor secara adekuat Page 37

* apabila spasme sangat hebat, berikan pankuronium bromida 0,02 mg/KgBB/Kali IV diikuti 0,05 mg/KgBB/kali diberikan tiap 2-3 jam * apabila terjadi aktifitas simpatis yang berlebihan, berikan beta bloker seperti propanolol dan labetalol Unit Terkait

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PENENTUAN KEMATIAN BATANG OTAK


Halaman : Mati batang otak adalah suatu keadaan jaringan otak rusak sedemikian beratnya, sehingga fungsi vitalnya rusak, irreversible dan tidak lagi tergantung pada keadaan jantung Untuk menyamakan penilaian/diagnosa kematian batang otak. Diagnosa kematian batang otak harus melalui prosedur yang ditetapkan 1. Setiap pasien yang dibawa ke IGD dianggap masih dalam keadaan hidup dan diperlakukan sebagaimana layaknya meninggal. 2. Pernyataan meninggal cukup dilakukan seorang dokter kecuali bila pasien dipersiapkan menjadi donor cadaver maka harus dibuat oleh minimal oleh 2 orang dokter yang tidak terlibat dalam proses transplantasi. 3. Sebelumnya dokter harus melakukan pemeriksaan teliti 4. Bila sudah terdapat henti jantung dan paru maka perlu resusitasi pasling sedikit 10 menit atau dipasang alat respirator kecuali dokter yakin bahwa tindakan medik tersebut tidak ada gunanya. 5. Jika sesudah resusitasi tidak menunjukkan tanda-tanda berhasil maka segala upaya dapat dihentikan dan kemudian pasien ditempatkan di ruang observasi selama 2 jam untuk kepentingan konfirmasi kecuali dokter yakin bahwa pasien telah benar-benar meninggal. 7. Setiap pasien yang telah dinyatakan meninggal oleh dokter dibuatkan surat kematian atas namanya dan selanjutnya jenazah ditempatkan di kamar janazah. 8. Dalam hal pasien diapsang alat penunjang kehidupan (respirator) maka untuk penentuan kematiannya dikemudian hari harus menggunakan kriteria diagnosis Page 38

Tujuan Kebijakan PROSEDUR

yang bersumber pada konsep "brain stem death is death" Unit terkait Bangsal perawatan, ICU, IGD

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian Tujuan PROSEDUR

SEPSIS
Halaman : Sepsis adalah SIRS dengan bukti atau dugaan infeksi sebagai penyebab. Sebagai panduan penanganan sepsis. Penanganan segera dan tepat akan mencegah komplikasi dan menurunkan mortalitas 1. Tentukan prosedur perawatan dan meminta ijin tertulis untuk melakukan tindakan medis kepada keluarga pasien 2. kenali definisi, gejala dan tanda sepsis SIRS (Systemic inflammatory Response syndrome) Respon sistemik terhadap berbagai kelainan klinik berat ( misalnya infeksi, trauma dan luka bakar) yang ditandai dengan 2 dari 4 kriteria sebagai berikut: * Hipertermi ( > 38,5 0 C) * Takikardi yaitu peningkatan HR > 2 SD diatas normal sesuai umur dalam keadaan tidak terdapat stimulasi external. Pemakaiaan obat-obat jangka panjang, atau rangsangan nyeri kenali definisi, gejala dan tanda sepsis SIRS (Systemic inflammatory Response syndrome) : Respon sistemik terhadap berbagai kelainan klinik berat ( misalnya infeksi, trauma dan luka bakar) yang ditandai dengan 2 dari 4 kriteria sebagai berikut: * Hipertermi ( > 38,5 0 C) atau Hipotermi (< 36 0C) * Takikardi yaitu peningkatan HR > 2 SD diatas normal sesuai umur dalam keadaan tidak terdapat stimulasi external. Pemakaiaan obat-obat jangka panjang atau rangsangan nyeri atau bradikardi : HR< persentil 10 sesuai umur tanpa stimulasi vagal external, Page 39

pemakaian -Bloker, atau penyakit jantung bawaan. * Takipneu dengan RR > 20 SD diatas normal sesuai umur atau ventilator mekanik yang akut yang tidak berhubungan dengan penyakit neuromuskuler atau penggunaan anastesi umum * Jumlah lekosit yang meningkat atau menurun ( yang bukan akibat dari kemoterapi) sesuai umur atau neurofil imatur > 10% ( Lihat Tabel 1) SEPSIS SIRS dengan bikti atau dugaan infeksi sebagai penyebab. INFEKSI Suatu kecurigaan atau bukti ( dugaan kultur positif, pengecatan jaringan/ uji POR) TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP PROSEDUR

SEPSIS
Halaman : Infeksi disebabkab adanya kuman patogen atau sindrom klinis yang berhubungan dengan kemungkinan besar infeksi. bukti infeksi meliputi penemuan positif pada pemeriksaan klinis, pencitraan /test laboratorium ( misalnya pada sel darah putih pada cairan tubuh normal steril perforasi usus, foto ronsen dadamenetap adanya pnemonia, ruam ptekiae atau purpura atau purpura fulminal). SEPSIS BERAT sepsis dengan disfungsi organ cardiovaskuler/ ARDS atau 2 disfungsi organ lain. SYOK SEPTIK Sepsis dengan disfungsi organ cardiovaskuler ( lihat tabel 2) 3.Pemeriksaan laboratorium dan penunjang atas indikasi : * Darah rutin, Hb, Ht, Leukosit, Trombosit * GDS, CRP * Studi Koagulasi * Kultur darah berseri * Hapus darah tepi : lekopenia/ lekositosis , granula toksis, shif to the left * urinalisis * Foto Thoraks * Syok Septik asam laktat, BAG, LFT, Elektrolit dan EKG 4. Pengelolaan : 1) diagnosis dini 2) Early Goal Directed Therapy (EGDT) resutansi cairan agresif dengan koloid atau kristaloid, pemberian obat-obatan inotroprik dan atau vasopresor dalam waktu 6 jam sesudah sesudah Page 40

diagnosis ditegakkan di unit gawat darurat sebelum masuk PICU. 3) Inotropik/ Vasopresor/ Vasodilator 4) Extra Corporeal Membrane Oxigenation (ECMO) 5) Suplemen Oksigen 6) Koreksi Asidosis 7) terapi antibiotika 8) Eradikasi sumber infeksi 9) Terapi Kortikosteroid 10) Anti - inflamasi 11) Granulocyte Macrophage Colony Stimulating Factor ( GMCSF) 12) Intervenous Imunoglobulin (IMG) TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP

SEPSIS
Halaman :

13) Transfusi tukar/ hemafiltrasi 14) Terapi suportif a. Profilaksis stress Ulcers b. Profilaksis trombosis Vena dalam c. Pencegahan hipoglikemia pada sepsis d. Penatalaksanaan disfungsi organ paru,saluran cerna, koagulasi, & renal Tabel 1. Tanda vital khusus sesuai umur & variabel laboratorium ( batas bawah untuk HR jumlah leukosit & TD sistolik untuk persentil 5 & batas atas untuk frekuensi jantung, laju napas/ hitung leukosit untuk persentil 95) Kelompok Usia Heart rate, X/ Menit Laju napas lekosit Tekanan (x 103/mm2 (mmHg) takikardi brikardix/Permenit Sistol 0 hari - I > 80 < 100 > 50 > 34 < 65 minggu 1 minggu - 1 bulan > 180 < 100 > 40 >19.5 atau < 5 < 75 1 Bulan - 1 Tahun >180 < 90 > 34 > 17.5 atau < 5 < 100 2- 5 tahun > 140 Not applicable > 22 > 15.5 atau <6 < 94 6- 12 tahun >130 Not applicable > 18 > 13.5 atau , 4.5< 105 13-18 tahu > 110 Not applicable > 14 > 11 atau < 4.5 < 117 Tabel 2. Kriteria disfungsi Organ Disfungsi Kardiovaskuler meskipun pemberian bolus cairan intravena isotonis 40 mg/kg BB dalam 1 jam * Penurunan tekanan darah ( hipotensi) < persentil 5 Th. Sesuai usia atau sistolik < 2 SD dibawah normal sesuai usia ATAU * Membutuhkan obat vasioaktif untuk mencegah tekanan darah dalam rentang normal (dopamin> 5 mg/kg/ menit atau dobutamin epineprin atau norepineprin pada berbagai dosis) * Dua hari berikut ini : asidosis metabolik yang dapat dijelaskan, defisit basa> 5.0 mEq/L Meningkatnya laktat arteri > 2 kali batas atas atau normal Page 41

Oligori , urine < 0,5 cc/kgBB/jam Pemanjangan cappilary refill > 5 detik Beda suhu core dan perifer > 3o C Pernapasan * PaO2/FiO2 < 300 tanpa adanya penyakit jantung sianotik atau penyakit paru sebelumnya ATAU * PaCO2 > 65 torr atau 20 mmHg diatas PaCO2 normal ATAU * dibutuhkan FiSO2 > 50 % untuk menjaga saturasi diatas 92% ATAU * Membutuhkan ventilasi mekanik non efektif invasif atau non invasif Neurologi TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP

SEPSIS

Halaman : * Glasgow Coma scale 11 * Perubahan akut pada status mental dengan penurunan GCS 3 poin dari keadaan abnormal Hematologi * Hitung Trombosit < 80 mm2 atau penurunan 50% hitung trombosit dari nilai tertinggi yang dicatat dalam 3 hari terakhir untuk pasien hematologi onkologi kronik ) ATAU Ginjal * Serum kreatinin 2 kali batas atas normal sesuai usia 2 kali lipat peningkatan dari kreatinin awal Hepar * Bilirubin Total 4 mg/dl ( tidak untuk neonatus) ATAU * SGPT 2 kali diatas batas normal sesuai usia Unit Terkait

Page 42

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

KETOASIDOSIS
Halaman : Ketoasidosis diabetik (KAD) adalah kegawatan penyakit metabolik dan endokrin sebagai komplikasi Diabetes Mellitus tipe karena defisiensi insulin yang ditandai kadar gula darah > 300 mg di ketonimia dan asidosis (pH < 7,32 dan kadar bikarbonat < 15 mEq) Sebagai panduan penanganan ketoasidosis diabetik Penanganan segera dan tepat akan mencegah komplikasi dan menurunkan mortalitas 1. Tentukan prosedur perawatan dan meminta ijin tertulis untuk melakukan tindakan medis kepada keluarga pasien 2. Kenali gejala dan tanda diabetes atau riwayat poliuria dan polidipsi beberapa hari sebelumnya kemudian kesadaran menurun sampai koma. Tanda-tanda asidosis dan dehidrasi kadang sampai syok: Hiperpnea, reflex tendon menurun sampai hilang, adanya reflex Babinski dan hipotermia. 3. Timabang berat badan, tentukan derajat dehidrasi, tingkat kesadaran dan keadaan sirkulasi (ukur tekanan darah dan nadi) 4. Pemeriksaan laboratorium atas indikasi : gula darah, fungsi ginjal, urinalisa, AGD 5. Tidak sadar GDS> 100 mg% atau kondisi lain yang memerlukan perawatan di ICU Management Airway dan breathing Intubasi dan pemakaian ventilator mekanik jika perlu.

Tujuan Kebijakan PROSEDUR

Unit terkait

Page 43

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

RESUSITASI JANTUNG PARU


Halaman : Resusitasi jantung paru adalah suatu tindakan untuk mengembalikan fungsi pernapasan dan jantung guna kelangsungan hidup pasien. Mengembalikan fungsi jantung dan fungsi paru Indikasi: 1) Henti nafas 2) Henti jantung Persiapan 1) Alat a. Alat pelindung diri (masker, handscoen) b. trolly emergency yang berisi: * Laryngoskop lurus dan bengkok (anak dan dewasa) * Magil force * Pipa trakhea berbagai ukuruan * trakhea tube berbagai ukuran * Gudel berbagai ukuran * CVP set * Infus set/blood set * Papan resusitasi * Gunting verban * bag resusitasi lengkap c. EKG d. DC shock lengkap 2) Pasien a. Keluarga diberi penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan b. Posisi pasien diatur terlentang di tempat datar dan alas keras c. Baju bagian atas pasien dibuka Pelaksanaan 1. petugas menggunakan alat pelindung diri (masker, handscoen) Page 44

Tujuan PROSEDUR

2. mengecek kesadaran pasien dengan cara: memanggil nama menanyakan keadaannya menggoyangkan bahu pasien/ mencubit pasien 3. Jika pasien tidak sadar/respon, aktifkan SPGDT 4. Buka jalan nafas dengan head lift chin lift dan bersihkan jalan nafas dari sumbatan TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP PROSEDUR

RESUSITASI JANTUNG PARU


Halaman : 5. Menilai pernafasan dengan cara : melihat pergerakan dada/perut mendengar suara keluar/masuk udara dari hidung merasakan adanya udara dari mulut/hidung pipi atau punggung tangan 6. Jika pasien tidak bernafas, berikan nafas buatan dengan resuscitator sebanyak 2 kali secara perlahan 7. Periksa denyut jantung pasien dengan cara meraba arteri karotis, jika arteri carotis teraba cukup berikan nafas buatan setiap 5 detik sekali 8. Jika arteri carotis tidak teraba lakukan kombinasi nafas buatan dan kompresi jantung luar dengan perbandingan 15 : 2 untuk dewasa baik 1 atau 2 penolong dan 3 : 1 untuk neonatus 9. Setiap 4 siklus (4 kali kompresi dan 5 kali ventilasi) cek pernapasan h. Jika nafas tetap belum ada lanjutkan tehnik kombinasi dimulai dengan kompresi jantung luar. Hal-hal yang perlu diperhatikan 1. Evaluasi pernapasan pasien tiap 1 menit saat dilakukan RJP BC kombinasi 2. Lakukan RJP BC sampai : timbul napas spontan diambil alih alat/petugas lain dinyatakan meninggal penolong tidak mampu atau sudah 30 menit tidak ada respon 3. Kompresi jantung luar dilakukan dengan cara : a) dewasa * penekanan menggunakan dua pangkal telapak tangan dengan kejutan bahu * penekanan pada daerah sternum 2-5 jari di atas processus xyphoideus * kedalaman tekanan 3-5 cm * frekuensi penekanan 80-100 kali per menit b) anak *penekanan menggunakan satu pangkal telapak tangan * kedalaman tekanan 2-3 cm * frekuensi penekanan 80-100 kali per menit c) neonatus Page 45

* punggung bayi diletakkan pada lengan bawah kiri penolong sedangkan tangan kiri memegang lengan atas bayi sambil meraba arteri brachalis sebelah kiri * jari tangan dan telunjuk tanagn penolong menekan dada bayi pada posisi sejajar putting susu 1 cm ke bawah * kedalaman tekanan 1-2 cm * perbandingan kompresi jantung dengan begging adalah 3 :1

Page 46

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PENERIMAAN DAN PENANGANAN PASIEN DI INSTALASI GAWAT DARURAT

Halaman : Prosedur yang mengatur tentang proses penerimaan dan penanganan pasien di instalasi gawat darurat. a. Agar sistem pelayanan yang dilakukan di Instalasi Gawat Darurat sesuai dengan alur yang ditetapkan b. sebagai acuan dalam pelaksanaan penanganan pasien di Instalasi Gawat darurat, langkah-langkah mengenai batasan tugas dan dokter dan perawat jaga IGD a. Undang-undang no 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan b. SK.Menkes No.1333 Tahun 1999 tentang Penerapan standar/ pelayanan Rumah Sakit c. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat 1. Pasien diterima oleh perawat dan dokter Instalasi Gawat Darurat yang bertugas di ruang tindakan 2. Pasien gawat bedah (trauma) dan atau non trauma yang perlu tindakan misalnya retensi urin, corpus alienum, intoksikasi, langsung dilakukan tindakan life saving oleh dokter jaga atau perawat jaga IGD 3. Lakukan konsultasi untuk penanganan lebih lanjut pada pasien oleh dokter jaga IGD bila perlu ( kasus bedah, kasus medik ) 4. Pasien gawat yang memerlukan tindakan bedah cito, langsung disiapkan pelayanan operasinya di IGD. Dan setelah kamar operasi (Instalasi Bedah Sentral) sudah siap, pasien segera diantar oleh perawat IGD untuk dilakukan operasi di kamar operasi 5. Dokter dan perawat jaga IGD mendokumentasikan semua tindakan yang sudah dilakukan dalam catatan medik (status pasien) 6. Pasien diobservasidi IGD selama 2-6 jam. Setelah 6 jam, dokter jaga IGD menentukan pasien boleh pulang atau rawat inap. 7. Pasien / keluarganya menyelesaikan administrasi IGD dan obat yang dipakai di loket IGD SMF Anak, SMF Bedah, SMF penyakit dalam, SMF Kebidanan, ICU/ICCU, OK, SMF Saraf, SMF THT, SMF Jiwa, SMF Mata, TPP

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit Terkait

47

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP

PELAYANAN TRIAGE

Halaman : Pengertian Sistem penerimaan dan seleksi untuk pelayanan sehari-hari dan atau mengadakan seleksi penderita pada keadaan bencana atau musibah massal Tujuan Agar semua pasien dapat menerima dan dilayani, diklaifikasikan tingkat & jenis kegawatannya sehingga diarahkan pada pertolongan yang tepat dan cepat a. Undang-undang no 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan b. SK.Menkes No.1333 Tahun 1999 tentang Penerapan standar/ pelayanan Rumah Sakit c. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat Semua pasien di triage dilakukan oleh dokter/perawat jaga triage 1. Pelayanan pasien di triage dilakukan oleh dokter/perawat jaga triage 2. Label seleksi pasien sebagai berikut : Pasien yang telah meninggal dunia (Hitam) = 0 Pasien gawat darurat mengancam nyawa (Merah) = 1 Pasien gawat darurat dengan keadaan umum stabil (Kuning) = 2 Pasien gawat darurat palsu/false emergency (Hijau) = 3 3. Pasien dengan kriteria biru dan merah sesudah dilakukan life saving ( penanganan segera oleh dokter) 4. Pasien dengan kriteria kuning dan hijau diberikan perawatan dan pengobatan oleh dokter jaga dan dibantu oleh perawat IGD 5. Triage dalam keadaan bencana/disaster digunakan untuk menentukan prioritas penanganan pasien berdasarkan beratnya cedera dan atau kegawatan pasien serta probabilitas hidupnya ( label merah didahulukan). A. Triage dalam keadaan sehari-hari 1. Pasien diterima oleh perawat jaga triage dan dilakukan pemeriksaan oleh dokter jaga triage 2. Lakukan seleksi dengan memberi label sesuai tingkat kegawatan pasien. 3. Keluarga atau pengantar pasien mendaftar ke ruang TPP untuk dicatat kelengkapan data atau identitas pasien dan mendapatkan status untuk catatan medis selanjutnya yang akan diisi oleh dokter jaga triage 4. Apabila pasien perlu mendapat tindakan makan pasien dibawa ke ruang tindakan IGD disertai rekam medik (status) pasien 5. Apabila pasien tidak perlu mendapat tindakan maka pasien diperbolehkan pulang dan keluarga menyelesaikan administrasinya.

Kebijakan

Prosedur

48

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Prosedur

PELAYANAN TRIAGE
Halaman : B. Triage dalam Keadaan Bencana/Disaster 1. Dokter memeriksa kondisi korban secara singkat dan cermat 2. Dokter segera menentukan tingkat kegawatdaruratan korban 3. Dokter bersama petugas memberikan label:hitam, merah, kuning & hijau untuk setiap korban sesuai dengan tingkat kegawatdaruratan, yaitu : a. Label hitam : Diberikan untuk korban yang sudah meninggal dunia = 0 b. Label Merah : Diberikan untuk korban gawat darurat yaitu korban cedera sehingga terjadi gangguan pada sistem respirasi yang mengancam henti nafas & atau ada gangguan sistem kardiovaskuler yang mengancam henti jantung atau korban yang diketahui baru saja terlihat henti nafas atau henti jantung = 1 c. Label kuning : Diberikan untuk korban gawat darurat , yaitu korban dengan cedera berat atau parah dalam keadaan stabil = 3 d. Label Hjau : Diberikan untuk korban darurat tidak gawat, yaitu korban dengan luka ringan, tidak ada gangguan sistem respirasi dan atau kardiovaskuler = 4 4. Pada saat terjadi musibah massal, dokter jaga menetapkan status terjadinya musibah massal, tergantung dari banyaknya pasien yang datang IRNA, OK, ICU/ICCU, NICU, RADIOLOGI, LABORATORIUM

Unit Terkait

49

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Pengertian

PEMBUATAN CATATAN MEDIS DI IGD


Halaman : Prosedur yang mengatur tentang proses pembuatan catatan perjalanan penyakit pasien IGD dan dihasilkan dengan rapi dan lengkap 1. Diperolehnya catatan medis yang lengkap,tepat, jelas dan benar 2. Mencegah terjadinya kesalahan dalam memberikan tindakan dan melindungi petugas medis dari tuntutan hukum c. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kupang tentang pelayanan b. SK.Menkes No.1333 Tahun 1999 tentang Penerapan standar/ pelayanan Rumah Sakit c. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat 1. Semua psien yang masuk ke IGD harus mendaftar dirinya atau didaftarkan oleh keluarga atau pengantarnya ke petugas TPP 2. Pasien tanpa keluarga dan pengantar tetap didaftarkan oleh petugas IGD ke TPP dengan diberi identitas / label Tn / Ny / Nn / An / :X 3. Lembar catatan medik diisi oleh dokter jaga IGD dan perawat jaga IGD dan Konsulen sesuai kasus pasien 4. Lembar catatan medik pasien rawat jalan setelah selesai perawatan dicatat pada laporan medis harian IGD dan dalam waktu maksimal 1x24 jam di setor ke TPP rawat jalan 5. Lembar catatan medik IGD bagi pasien yang MRS rawat inap setelah di lengkapi pengantar rawat, didaftarkan se petugas TPP rawat inap untuk diberikan nonor registrasi dan berkas rekam medis rawat inap 6. Lembar catatan medis IGD dan pengantar rawat disatukan dengan berkas rekam medis rawat inap, untuk selanjutnya oleh perawat IGD diserahkan ke perawat ruangan sesuai permintaan ruang/kelas atau hak pasien 7. Lembaran catatan medik IGD tidak dibenarkan untuk diisi atau diserahkan oleh atau kepada pihak-pihak yang tidak berkepentingan. Semua SMF , Medical Record

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit Terkait

50

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian Tujuan Kebijakan

PELAYANAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM KLINIS PASIEN INSTALASI GAWAT DARURAT

Prosedur

Halaman : Sistem pelayanan pemriksaan laboratorium klinis pada pasien yang masuk dan atau dirawat di IGD Agar pemeriksaan laboratorium klinis dapat dilakukan secara cepat dan benar untuk penunjang diagnosa a. SK.Menkes No.1333 Tahun 1999 tentang Penerapan standar/ pelayanan Rumah Sakit b. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kupang tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat 1. Yang meminta pemeriksaan laboratorium adalah dokter jaga IGD atau dokter konsulen jaga sesuai bidang SMF terkait 2. Perawat/ dokter jaga IGD melakukan pengambilan sampel pemeriksaan sesuai permintaan yang tertulis pada blanko pemeriksaan laboratorium 3. Sampel pemeriksaan & blanko permintaan pemeriksaan selanjutnya diserahkan kepada keluarga/pengantar pasien untuk diantar ke laboratorium 4. Pasien ASKES/ JAMKESMAS/JAMKESDA/JAMKESDA PROPINSI untuk blanko permintaan pemeriksaan harus disertai dengan blanko jaminan 5. Pasien umum (tanpa jaminan asuransi) pembayaran biaya pemeriksaan di atur berdasarkan ketentuan /prosedur tetap instalasi Laboratorium RS 6. Pemeriksaan yang karena keterbatasan fasilitas laboratorium RS dapat dilakukan di laboratorium lain yang mempunyai fasilitas yang sesuai dengan permintaan / kasus setelah dibicarakan dengan pasien/keluarga 7. Bagi pasien yang sulit dilakukan penangambilan sampel pemeriksaan (seperti bayi/anak dengan vena yang kolaps/sulit didapat) maka perawat IGD menghubungi petugas laboratorium untuk pengambilan sampelnya Alternatif lain untuk pengambilan sample pemriksaan sulit adalah melalui venaseksi yang dilakukan oleh dokter ahli sesuai kebutuhan. 8. Setelah pemeriksaan selesai dilakukan, keluarga/pengantar pasien mengambil hasil pemeriksaan dari labortaorium untuk diserahkan kepada dokter atau perawat jaga IGD 9. Bagi pasien yang tidak ada keluarga/pengantar maka perawat IGD menghubungi petugas laboratorium untuk pengambilan sampel sesuai permintaan pemeriksaan. 10. Hasil pemeriksaan laboratorium klinis IGD untuk pasien rawat jalan diserahkan kepada pasien/keluarga/pengantar oleh dokter/perawat jaga IGD sebelum pasien meninggalkan ruang perawatan IGD. 11. Kepada pasien yang MRS hasil pemeriksaannya disertakan pada berkas catatan medisnya semua SMF, PICU/NICU, ICU/ICCU/HCU, Instalasi Patologi klinik

Unit terkait

51

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian Tujuan Kebijakan

PELAYANAN PEMERIKSAAN FOTO RADIOLOGI PASIEN INSTALASI GAWAT DARURAT

Prosedur

Unit terkait

Halaman : Pelayanan pemeriksaan foto radiologi bagi pasien yang masuk dan atau dirawat di IGD Agar foto radiologi dapat segera diperoleh untuk membantu penegakkan diagnosa dengan cepat dan tepat a. Undang-undang no 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan b. SK.Menkes No.1333 Tahun 1999 tentang Penerapan standar/ pelayanan Rumah Sakit c. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat 1. Permintaan foto dilakukan oleh dokter jaga IGD atau dokter konsulen jaga bidang SMF terkait 2. Dokter/perawat jaga IGD memberitahukan kepada pasien/keluarga/ pengantar pasien bahwa akan dilakukan pemeriksaan foto radiologi & salah satu anggota keluarga/pengantar pasien disarankan menemani pasien untuk ikut ke instalasi Radiologi 3. Perawat jaga dibantu pekarya/petugas loket IGD mengantar pasien ke Instalasi Radiologi untuk dilakukan pemeriksaan radiologi sesuai permintaan pada blanko pemeriksaan 4. Pasien ASKES/ JAMKESMAS/ JAMKESDA/ JAMKESDA PROPINSI blanko permintaan pemeriksaan harus disertai dengan blanko jaminan ASKES/ JAMKESMAS/ JAMKESDA/ JAMKESDA PROPINSI 5. Pasien umum tanpa jaminan asuransi pembayaran pemeriksaan radiologi diatur berdasarkan ketentuan /prosedur tetap Instalasi radiologi RS 6. Setelah dilakukan pemeriksaan foto radiologi, pasien diantar perawat di bantu pekarya untuk kembali ke IGD. Sedangkan salah satu anggota keluarga/ pengantar pasien menunggu hasil pemeriksaan untuk selanjutnya diserahkan kembali ke dokter jaga IGD atau dokter konsulen. 7. Bagi pasien yang tidak ada keluarga/pengantar dan atau pasien yang saat itu belum mampu melunasi administrasi di Instalasi Radiologi, pemeriksaan radiologi tetap dilakukan. Hasil pemeriksaan radiologi diambil oleh petugas IGD beserta dengan kwitansi tagihan (sebagai piutang) yang akan ditagihkan kepada pasien/ keluarga setelah ada kepastian cara pembayarannya. 8. Hasil pemeriksaan foto radiologi dari IGD untuk pasien rawat jalan setelah dicatat hasilnya pada berkas catatan medis pasien, dituliskan hasil radiologi telah diserahkan kepada pasien atau keluarga/pengantar pasien oleh dokter /perawat jaga IGD sebelum pasien meninggalkan ruang perawatan IGD 9. Pada pasien yang MRS hasil pemeriksaannya disertakan pada berkas catatan medisnya SMF Anak, SMF Bedah, SMF Penyakit dalam, kebidanan, ICU/ICCU, Radiologi 52

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Pengertian

PELAYANAN FARMASI PASIEN IGD


Halaman : suatu sistem pelayanan yang mengatur tentang penggunaan obat dan bahan pakai untuk pengobatan dan perawatan pasien yang masuk dan atau dirawat di IGD Agar penyediaan obat-obatan dan bahan bagi pasien IGD dapat segera diguna kan untuk menyelamatkan pasien dari kecacatan dan atau kematian a. Undang-undang no 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan b. SK.Menkes No.1333 Tahun 1999 tentang Penerapan standar/ pelayanan Rumah Sakit c. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat 1. Dokter jaga IGD/dokter konsulen membuat resep sesuai dengan catatan penggunaan obat dan bahan yang habis pakai yang digunakan pasien 2. Petugas Depo obat IGD membuat perincian harga obat dan bahan yang digunakan, untuk pasien umum dibuat pada resep umum selanjutnya diserahkan pada pasien/keluarga agar membayar di petugas jaga depo obat IGD untuk pasien ASKES/JAMKESMAS/JAMKESDA/JAMKESDA PROPINSI dibuat pada resep ASKES (blanko/formulir resep tersedia) selanjutnya resep akan menjadi arsip bagi petugas depo IGD. Ini berlaku bagi pasien rawat jalan dan MRS dengan resep ASKES, khusus pasien MRS kopian resepnya dibawasertakan ke rauangan bersama status rawat inap 3. Pada kondisi karena ketersediaan/keterbatasan obat dan bahan yang akan digunakan pada pasien IGD maka petugas Depo obat IGD menganjurkan pasien/keluarga/pengantar untuk membeli/menebus resep di apotek lain. 4. Bila tidak ada anggota keluarga yang mengurus obat & bahan yang dipakai maka dibuatkan catatan pemakaian oleh petugas Depo IGD untuk tujuan : a. Dilanjutkan ke ruangan bila penderita dirawat inap sebagai piutang untuk ditagihkan b. Bon dengan jaminan berupa alamat penderita secara lengkap dan tanda tangan lengkap penderita untuk urusan penagihan (bon dilakukan petugas Depo IGD dengan mengetahui dokter jaga IGD) c. Bilamana penderita meninggal dunia, tagihan diberikan pada keluarga penderita untuk diselesaikan. 5. Demi untuk ketersediaan & kelangsungan pengadaan khusus untuk bahan spalk/ bidai (dalam hal ini penyediaan papan spalknya) maka pengaturan pemakaiannya & pembayarannya diatur berdasarkan PERDA Instalasi farmasi 53

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit terkait

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Pengertian

PELAYANAN SISTEM RUJUKAN


Halaman : Cara bagaimana masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai sesuai dengan penyakitnya Sebagai pedoman penerapan langkah-langkah untuk membantu masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. a. Undang-undang no 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan b. SK.Menkes No.1333 Tahun 1999 tentang Penerapan standar/ pelayanan Rumah Sakit c. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat 1. Pasien yang datang dirujuk dari sarana kesehatan lain diminta menunjukkan surat pengantar rujukan 2. Keluarga atau pengantar pasien mendaftarkan di TPP untuk dicatat datanya dalam status catatan medik 3. Pasien dimasukkan ke dalam ruang pemeriksaan sesuai dengan kasusnya 4. Dokter jaga IGD melakukan pemeriksaan dibantu perawat IGD dan kalau perlu mengatasi kegawatannya. 5. Sesudah dokter jaga IGD mengisi lembar catatan medik yang diperlukan & perawat mengisi lembar tindakan perawatan dan kolaboratif, bila memerlu kan konsultasi ahli, pasien dilaporkan ke dokter konsulen, lengkap dengan keterangan tindakan medik yang sudah diberikan 6. setelah mendapatkan saran/jawaban dari dokter konsulen pasien dapat MRS ke ruang rawat inap atau pasien dipulangkan. 7. Pasien karena keterbatasan kemampuan RS terpaksa dirujuk ke RS rujukan harus membawa surat pengantar dari konsulen, lengkap dengan keterangan tindakan medik yang sudah diberikan 8. Kalau pasien memerlukan pengawasan dalam perjalanan harus diantar dengan pengawasan perawat terlatih 9. Pasien yang tidak MRS rawat inap atas saran dokter konsulen harus diberi kan jawaban surat rujukan untuk sarana kesehatan yang merujuk. SMF Anak, SMF Bedah, SMF penyakit dalam, SMF Kebidanan, ICU/ICCU, OK, SMF Saraf, SMF THT, SMF Jiwa, SMF Mata, TPP

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit Terkait

54

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PENANGANAN PASIEN YANG MENINGGAL DI IGD

Halaman : Prosedur yang mengatur tentang pelayanan perawatan pada pasien yang meninggal di IGD Agar keluarga pasien yang meninggal dalam perawatan di IGD dapat memperoleh ketenangan untuk menghadapi musibah yang mendadak dan tidak terduga SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kupang tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat 1. Dokter jaga IGD atau dokter SMF terkait yang merawat pasien yang gawat harus memberikan penjelasan secara terperinci mengenai kemungkinan perjalanan penyakit yang dapat menimbulkan kematian pasien serta upaya tindakan yang akan dan telah dilakukan 2. Pasien yang meninggal pada saat dilakukan pemeriksaan/pertolongan/ perawatan di IGD, diobservasi di IGD selama 2 jam. Selanjutnya jenazah langsung dikirim ke kamar jenazah (IPS) oleh perawat jaga dibantu pekarya IGD 3. Jenazah diserhakan kepada petugas kamar jenazah disertai surat penyerahan yang ditandatangani petugas. 4. Selanjutnya perawat IGD menyerahkan perawatan jenazah kepada petugas kamar jenazah (IPS) sepengetahuan keluarga atau pengantar. 5. Pada kasus kematian tidak wajar (ruda paksa) atau penderita yang tidak dikenal, petugas IGD melaporkan pada pihak yang berwajib/polisi 6. Pada kondisi yang membutuhkan kelancaran atau untuk meghindari keributan/banyaknya pengunjung IGD, pasien yang sudah dinyatakan meninggal oleh dokter jaga IGD atau dokter SMF terkait, perawat/pekarya IGD dapat langsung mengantarkan jenazah ke kamar jeanazah tanpa menunggu observasi 2 jam di IGD atau dengan kata lain observasi 2 jam dilakukan Instalasi Pemulasaran Jenazah Instalasi Pemulasaran Jenazah, Medical Record

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit Terkait

55

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Pengertian

PEMBERIAN RESEP
Halaman : Pemberian resep adalah tanda bukti permintaan obat dari dokter untuk diberi kan kepada pasien yang bersangkutan untuk pembelian obat di apotek Adanya peraturan tertulis tentang langkah-langkah pemberian resep oleh dokter terhadap pasien. Dokter menuliskan resep-resep sesuai dengan acuan pembukaan resep 1. Setelah dokter memeriksa pasien 2. Dokter menuliskan resep untuk pasien 3. Resep diberikan kepada pengantar pasien 4. Resep dibawa ke apotek untuk pengambilan obat IGD, Medical record, Apotek

Tujuan

Kebijakan Prosedur

Unit terkait

56

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP pengertian

PEMBERIAN SURAT KETERANGAN SAKIT


Halaman : Surat keterangan sakit adalah laporan tertulis untuk pasien yang memerlukan istirahat yang dibuat oleh dokter sesuai dengan penyakitnya. sebagai acauan dalam membuat surat keterangan sakit adanya peraturan tertulis tenyang pemberian surat keterangan sakit 1. Setelah dokter memriksa pasien, dokter mencatatnya di rekam medik 2. Dokter menulis surat keterangan sakit sesuai dengan keadaan pasien, bagi pasien yang memerlukan surat keterangan sakit 3. Surat keterangan sakit yang telah dibuat diberikan kepada pasien atau keluarga pasien Dokter IGD, Medical record

Tujuan kebijakan Prosedur

Unit terkait

57

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Pengertian

MENJAGA RAHASIA MEDIS


Halaman : Rahasia medis adalah rahasia yang ditimbulkan akibat adanya pelayanan medis yang dilakukan oleh petugas medis yang dilakukan oelh petugas RS kepada pasien yang tercatat maupun yang tidak tercatat. Sebagai acuan untuk menjaga kerahasiaan pelayanan medis Adanya prosedur dalam menjaga rahasia medis 1. Setiap petugas RS diberitahukan bahwa pelayanan medik kepada pasien bersifat rahasia oleh sebab itu wajib dijaga kerahasiaannya. 2. Dokumen rekam medik yang berisi hasil pelayanan medis harus disimpan dengan baik dan tidak boleh ditunjukkan kepada siapapun secuali seijin petugas. 3. Apabila ada permintaan aparat penyelidik atau pengadilan, yang dapat diserahkan hanya resume penyakitnya saja. 4. Apabila keluarga pasien ingin mengetahui hasil pelayanan medik dapat dijelskan secara lisan dengan pengetahuan pasien 5. Bila pasien asuransi atau berusaha ingin mengetahui informasi tentang pelayanan medis, pasien yang ditangani harus disertai dengan surat permintaan dokter perusahaan atau asuransi, selanjutnya dapat diberikan riwayat penyakitnya. 6. Catatan rekam medik disimpan di rekam medik dengan diberi tulisan "Dilarang masuk kecuali petugas" Dokter IGD, Perawat IGD, Medical record

Tujuan Kebijakan Prosedur

Unit Terkait

58

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Pengertian

PASIEN TANPA IDENTITAS


Halaman : Pasien tanpa identitas adalah pasien yang tak diketahui identitasnya dan di kirim oleh masyarakat setempat atau pihak lain dalam keadaan tidak sadar sebagai acuan penerapan langka-langkah pada pasien tanpa identitas atau tidak dikenal. Adanya prosedur pasien tanpa identitas 1. Pasien diterima di ruang Triage, sesuai dengan prosedur triage 2. Lakukan analisa terhadap kelangsungan hidup seperti pernapasan, kardiovaskuler dan susunan saraf. 3. Lakukan tindakan bantuan hidup dasar & lanjutkan sesuai dengan prosedur 4. Petugas mencatat identitas pasien (meliputi jenis kelamin, umur,warna rambut, panjang rambut, warna baju pada status pasien) 5. Perawat mencatat temuan-temuan lainnya, bila ada luka, jenis luka, luas permukaan luka, keadaan cacat tubuh dari rambut sampai kaki pada status 6. Perawat IGD mencatat identitas pengantar 7. Bila perlu dirujuk sesuai dengan prosedur rujukan 8. Barang yang dipakai diamankan oleh perawat IGD dan ditulis jenis barang nya pada formulir identifikasi barang pasien. 9. Petugas IGD melapor ke pihak kepolisian. IGD, Medical Record, kepolisian

Tujuan

Kebijakan Prosedur

Unit terkait

59

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP

PELAYANAN PASIEN DATANG DENGAN PERMINTAAN VISUM ET REPERTUM DI IGD

Halaman : Pengertian Prosedur yang mengatur tentang pelayanan kepada pasien yang membutuh kan visum et repertum Tujuan Agar pemeriksaan atas pasien dengan permohonan visum et repertum dapat dilakukan sesuai dengan syarat undang-undang a. Undang-undang no 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan b. SK.Menkes No.1333 Tahun 1999 tentang Penerapan standar/Pelayanan RS c. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kupang tentang pelayanan Keperawatan di Unit Gawat Darurat 1. Pasien diterima dan dilayani seperti pasien rutin 2. IGD hanya melyani pasien dengan permintaan visum et repertum yang di antar oleh petugas yang sah (polisi atau jaksa) sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 3. Ada permintaan tertulis visum et repertum dari yang berwajib. 4. Identitas pasien harus sesuai dengan identitas permintaan Visum et Repertum. 5. Visum et repertum diterima dan diagendakan oelh petugas (pada bagian loket MR) dan jawabannya atau visum et repertumnya dibuat segera oleh dokter yang menangani pasien. 6. Permintaan visum et repertum harus diserahkan ke petugas urusan visum et repertum RS pada jam kerja. 7. Administrasi keuangan diselesaikan sesuai dengan prosedur yang berlaku di IGD (PERDA) 8. Hal yang bersifat khusus (visum bedah mayat/otopsi) penanganannya dilakukan oleh tim otopsi dibawah tanggung jawab wadir pelayanan dan tekinik pelaksanaannya dikoordinasikan dengan petugas IPS RS. 9. Permintaan visum et repertum dapat untuk orang hidup, orang mati, benda dari tubuh manusia, penggalian jenazah. 10. Penolakan otopsi berakhir dengan pencabutan visum et repertum oleh polisi atau pernyataan keberatan tertulis oleh keluarga. 11. Khusus visum et repertum perkosaan dibuat: SMF kebidanan &kandungan 12. Hasil pemeriksaan pasien sebagai jawaban permintaan visum et repertum dikirim kepada petugas visum et repertum dalam 24 jam untuk selanjutnya diatur pengirimannya kepada yang berwenang. SMF Anak, SMF Bedah, SMF penyakit dalam, SMF Kebidanan, medical record, Instalasi Pemulasaran jenazah. 60

Kebijakan

Prosedur

Unit Terkait

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PELAYANAN PENERIMAAN JASA RS UNTUK PASIEN IGD

Halaman : Prosedur yang mengatur tentang proses penerimaan jasa RS untuk setiap pasien yang datang dan atau dirawat di IGD Sebagai pedoman/ acuan pelaksanaan Peraturan Daerah (PERDA) tentang tarif jasa pelayanan di IGD a. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat b. Perda Tarif No. 10 Tahun 2010 tentang retribusi pelayanan

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

1. Tugas penarikan jasa rumah sakit dalam pelayanan pasien IGD dilaksanakan oleh seksi keuangan RS 2. Pelayanan dibantu oleh pembantu bendahara penerima penyetor yang bertugas secara shift selama 24 jam 3. Pasien ASKES / JAMKESMAS / JAMKESDA / JAMKESDA Propinsi yang telah menerima pelayanan di IGD harus menyelesaikan administrasinya, jaminan pembayaran oleh asuransinya, termasuk obat-obatan dan alat habis pakai yang digunakan untuk pelayanan terhadap pasien. 4. Pasien umum (tanpa jaminan pembayaran asuransi) yang telah menerima perawatan di IGD, harus menyelesaikan administrasi pembayarannya di loket administrasi keuangan IGD 5. Petugas loket keuangan IGD menghitung nominal uang atau biaya perawatan obat-obatan dan alat kesehatan yang telah diterima oleh pasien di IGD 6. Petugas loket keuangan IGD mengeluarkan bukti pembayaran dan diserahkan kepada pasien atau keluarga pasien atau pengantar 7. Pasien yang belum bisa menyelesaikan administrasi keuangan akan diputuskan oleh pimpinan RS 8. Kepala IGD hanya menerima laporan keuangan dari petugas loket IGD Bagian Keuangan

Unit Terkait

61

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

TUGAS DAN WEWENANG DOKTER JAGA IGD

Halaman : Prosedur yang mengatur tentang tugas dan wewenang dokter jaga dalam memberikan pelayanan pasien gawat darurat Sebagai pedoman/acuan penerapan langkah-langkah mengenai batasan tugas dan wewenang dokter jaga di IGD a. Undang-undang no 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan b. SK.Menkes No.1333 Tahun 1999 tentang Penerapan standar/ pelayanan Rumah Sakit c. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kupang tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

1. Melakukan seleksi pasien baik sehari-hari maupun bencana massal atau disaster. 2. Melakukan pemeriksaan, pengobatan dan tindakan lanjutan pada pasien yang datang di IGD 3. Melakukan pemeriksaan penunjang yang berguna untuk menegakkan diagnosa penyakit pasien 4. Melakukan tindakan medis sesuai kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki demi menyelamatkan pasien dari kecacatan dan kematian seperti : Hecting, resusitasi Jantung Paru dan lain-lain secara benar dan tepat 5. Melakukan konsultasi dan atau rujukan kepada SMF terkait untuk penanganan pasien selanjutnya 6. Menentukan pasien untuk pulang (rawat jalan) dan atau masuk Rumah sakit (MRS) 7. Mencatat semua hasil pemeriksaan, tindakan, konsultasi dan obat yang di berikan pada lembar catatan medis pasien IGD dengan baik dan benar, baik pasien rawat jalan maupun pasien rawat inap 8. Menulis blanko rujukan jika diperlukan dan atau atas persetujuan konsulen 9. Membuat Visum Et Repertum jika diperlukan 10. Membuat laporan dokter jaga 11. Mengatur pengunjung agar tidak mengahlangi tugas pelayanan di IGD 12. bertanggung jawab terhadap Direktur RS melalui tahap-tahap pertanggungjawaban yaitu kepada kepala ruangan IGD, kepala IGD dan wakil Direktur Pelayanan dalam memberikan pelayanan yang optimal kepada pasien. Komite Medik, Bidang Pelayanan, SMF Terkait, RANAP, IPJ, PICU/NICU, ICU/ Unit Terkait ICCU/HCU, Radiologi, Patologi Klinik, OK

62

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

TUGAS DAN WEWENANG DOKTER KONSULEN

Halaman : Prosedur yang mengatur tentang tugas dan wewewang sebagai dokter konsulen dalam memberikan pelayanan konsultasi medik 1. Sebagai pedoman/acuan penerapan langkah-langkah mengenai batasan tugas dan wewenang dokter konsulen di IGD 2. Menghindari pelanggaran etika kedokteran 3. Melindungi petugas medis dari tuntutan hukum a. Undang-undang no 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan b. SK.Menkes No.1333 Tahun 1999 tentang Penerapan standar/ pelayanan Rumah Sakit c. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kupang tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat 1. Dokter konsulen datang di IGD apabila dihubungi oleh dokter jaga IGD untuk mengadakan konsultasi medis 2. Jika dalam waktu 15 menit dokter jaga IGD tidak dapat menghubungi konsulen jaga maka wajib menghubungi konsulen jaga berikut 3. Memberikan pemeriksaan, pengobatan dan tindakan lanjutan kepada pasien yang datang di IGD 4. Menyarankan pemeriksaan penunjang yang masih perlu dilakukan. 5. Mengadakan konsultasi dengan SMF lain yang terkait jika diperlukan 6. Memberikan tindakan profesional sesuai dengan bidangnya. 7. Menuliskan jawaban konsul pada kolom formulir konsultasi yang tersedia 8. Mengisi resume perawatan jika pasien yang dikonsulkan meninggal 9. Membuat daftar jaga konsulen di IGD untuk masing-masing SMF 10. Membuat rujukan ke RS rujukan apabila oleh karena sesuatu sebab harus dirujuk (misalnya keterbatasan sarana) yang tidak memadai dan atau atas permintaan pasien. 11. Memberikan bimbingan, tambahan ketrampilan dan penyegaran ilmiah kepada dokter jaga IGD untuk meningkatkan pelayanan di IGD Semua SMF, komit Medik, RANAP, PICU/NICU, ICU/ICCU/HCU, OK, Radiologi, Patologi Klinik

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit Terkait

63

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

TUGAS DAN WEWENANG PERAWAT IGD

Halaman : Prosedur yang mengatur tentang tugas dan wewenang perawat jaga dalam memberikan pelayanan pasien gawat darurat. Sebagai pedoman/acuan penerapan langkah-langkah mengenai batasan tugas dan wewenang perawat jaga IGD a. Undang-undang no 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan b. SK.Menkes No.1333 Tahun 1999 tentang Penerapan standar/ pelayanan Rumah Sakit c. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat 1. Bersama dokter jaga menyeleksi pasien, baik sehari-hari maupun bencana massal 2. Menyiapkan peralatan medis dan atau non medis yang dibutuhkan untuk pelayanan kepada pasien IGD sesuai yang dibutuhkan 3. Memberikan tindakan perawatan kepada pasien secara profesional dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan 4. Dengan pengawasan dan persetujuan dokter jaga IGD melakukan tindakan medis sesuai kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki demi menyelamat kan pasien dari kecacatan dan atau kematian seperti : hecting, (RJP) dan lain-lain secara tepat dan benar 5. Melaporkan kepada dokter jaga IGD tentang perkembangan kondisi pasien, baik pasien yang baru datang maupun pasien yang diobservasi di IGD 6. Mencatat semua hasil pemeriksaan, tindakan dan obat yang diberikan pada berkas rekam medis pasien (lembar catatan keperawatan dan tindakan kolaboratif) IGD dengan baik dan benar, rawat jalan maupun pasien yang rawat inap 7. Membuat laporan perawat jaga 8. Mengantar pasien yang perlu perawatan inap ke ruang rawat inap 9. Bersama pekarya dan cleaning service IGD bertanggung jawab menjaga kebersihan ruangan dan peralatan / inventaris IGD 10. Mengatur pengunjung agar tidak menghalangi tugas pelayanan di IGD IRNA, OK, PICU / NICU, ICU / ICCU / HCU

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit Terkait

64

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Pengertian

PERTEMUAN BERKALA STAF IGD


Halaman : Prosedur yang mengatur tentang pertemuan staf IGD dan mengevaluasi pelayanan di IGD Sebagai acauan penerapan langkah-langkah dalam rangka peningkatan mutu pelayanan gawat darurat. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat 1. Semua staf/petugas IGD datang tidak pakai undangan hanya ditulis pada papan pengumuman 2. Pertemuan dimulai jam 07.30-09.00 3. Diadakan absent dengan tertib 4. Materi yang akan disampaikan : a. Koordiansi kerja untuk peningkatan pelayanan, b. mengevaluasi pelayanan sebulan sebelumnya, c. mencari solusi masalah yang harus dipecahkan bersama-sama d. menampung permasalahan yang akan disampaikan pada rapat koordinasi Instalasi yang akan dipimpin Direktur 5. Notulen ditulis dengan rapi. Bidang Keperawatan, Bidang Pelayanan.

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit terkait

65

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP

ORIENTASI PEGAWAI BARU DI IGD

Halaman : Pengertian Suatu sistem untuk memberikan arahan kepada petugas baru supaya mengetahui tugas masing-masing di IGD Tujuan Sebagai acauan penerapan langkah-langkah untuk memberikan arahan kepada petugas baru untuk mengetahui tugas msaing-masing sehingga dapat bekerja secara optimal sesuai latar belakang pendidikan dan profesinya. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat 1. Petugas/pegawai baru datang ke IGD menghadap Kepala IGD dengan membawa Surat Tugas dari direktur 2. Sesuai dengan tugas/profesi masing-masing petugas baru mendapat bimbingan orientasi yaitu : Tenaga Dokter : oleh Kepala IGD atau koordinator medis Tenaga Perawat, pekarya/cleaning service/loket dan administrasi : oleh KARU IGD 3. Petugas baru mengikuti program orientasi sesuai dengan materi yang telah disiapkan dalam blanko orientasi. 4. Setelah dianggap cukup, petugas baru menghadap kembali Kepala IGD dengan membawa bukti pelaksanaan orientasi yang telah ditandatangani oleh pembimbing 5. Petugas mulai dapat bekerja dan selanjutnya menjadi staf IGD Bagian Kepegawaian, bidang Keperawatan, bidang Pelayanan.

Kebijakan

Prosedur

Unit terkait

66

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Pengertian Tujuan

PERMINTAAN BARANG MEDIS DI IGD


Halaman : Prosedur yang mengatur tentang permintaan barang medis yang dibutuhkan di IGD Agar semua kebutuhan bahan medis selalu tersedia untuk kelancaran pelayanan kepada pasien SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat 1. Daftar permintaan barang medis dilakukan oleh Kepala Ruang IGD dengan mengetahui Kepala IGD 2. Daftar permintaan barang habis pakai ditujukan kepada Apotek RS. Daftar permintaan barang diluar barang medis habis pakai (peralatan/inventaris medis) ditujukan kepada Kabid Pelayanan. 3. Permintaan bahan yang tidak terpenuhi dilaporkan langsung kepada Bidang Pelayanan&dicatat untuk bahan pembahasan Rapat koordinasi. 4. Karu IGD dengan mengetahui Ka.IGD menuliskan daftar barang medis habis pakai pada buku permintaan disiapkan), dibawa petugas IGD ke Instalasi Farmasi setiap hari..dan...Untuk inventaris (perlatan medis) dalam dalam bentuk permintaan kebutuhan yang diajukan dalam tahun anggaran 5. Permintaan barang medis yang tidak terpenuhi dilaporkan langsung kepada Bidang Pelayanan dan dicatat untuk bahan pembahasan dalam rapat koordinasi. 6. Daftar permintaan barang medis dilakukan oelh Kepala Ruang IGD dengan mengetahui Kepala IGD 7. Daftar permintaan barang medis habis pakai ditujukan kepada Apotek RS. Daftar permintaan barang diluar barang medis habis pakai (peralatan/ inventaris medis) ditujukan kepada Kabid Pelayanan. 8. Permintaan bahan yang tidak terpenuhi dilaporkan langsung kepada Kepala Bidang Pelayanan&dicatat untuk bahan pembahasan Rapat kooordinasi 9. Karu IGD dengan mengetahui Kepala IGD menuliskan daftar bahan medis habis pakai pada buku permintaan untuk dibawa petugas IGD ke Instalasi Farmasi setiap hari.. dan.. Untuk inventaris (peralatan medis) dibuat dalam bentuk permintaan kebutuhan yang diajukan pertahun anggaran. 10. Permintaan barang medis yang tidak terpenuhi dialporkan langsung kepada Bidang Pelayanan dan dicatat untuk bahan pembahasan dalam rapat koordinasi. Instalasi farmasi, bidang Pelayanan.

Kebijakan

Prosedur

Unit terkait

67

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Pengertian

PERMINTAAN BARANG NON MEDIS DI IGD


Halaman : Prosedur yang mengatur tentang laporan kerusakan alat non medis yang digunakan di IGD Agar setiap peralatan dan fasilitas di IGD selalu siap untuk memberikan pelayanan selama 24 jam. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat 1. Daftar permintaan barang non medis dilakukan oleh Kepala Ruang IGD 2. Karu IGD dengan mengetahui Kepala IGD menuliskan daftar barang non medis pada buku permintaan (disiapkan) untuk dibawa petugas IGD ke bagian perlengkapan setiap hari Kamis. 3. Daftar permintaan barang non medis ditujukan kepada bagian perlengkapan 4. Permintaan barang yang tidak terpenuhi dilaporkan langsung kepada Kepala Bidang Pelayanan untuk dicatat sebagai bahan pembahasan pada rapat koordinasi. 5. Untuk inventaris dibuat dalam bentuk permintaan kebutuhan yang diajukan pertahun anggaran. Instalasi farmasi, bidang Pelayanan.

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit terkait

68

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP

PENGGUNAAN BAHAN HABIS PAKAI DAN OBAT LIFE SAVING


DI INSTALASI GAWAT DARURAT

Halaman : Pengertian Petunjuk tentang cara menggunakan alat dan obat yang benar,tepat dan cepat dalam penanganan pasien di instalasi gawat darurat Tujuan Agar memiliki pedoman/petunjuk pelaksanaan penggunaan obat dan bahan yang benar,tepat dan cepat dalam penanganan pasien di IGD Kebijakan a. Undang-undang no 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan b. SK.Menkes No.1333 Tahun 1999 tentang Penerapan standar/Pelayanan RS c. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat Prosedur A. Alat-alat habis pakai 1. Nasogastrik tube (NGT) a. Indikasi 1) Kumbah lambung pada pasien keracunan. 2) Pada pasien vomitus berat untuk cegah aspirasi 3) Pada pasien pre OP jika ada indikasi b. Cara pemasangan 1) Ukur panjang NGT : telinga-pangkal hidung sampai lambung pasien 2) Memberikan pelicin/jeli pada NGT 3) Masukkan ujung NGT melalui hidung, pasien disuruh menelan NGT sampai batas yang telah diukur, fiksasi NGT Pastikan NGT masuk lambung bukan paru dengan cara memasukkan udaar lewat NGT dan pasang steteskop pada epigastrum akan terdengar bunyi udara masuk atau dengan mengaspirasi adanya cairan lambung. 2. Foley kateter a. Indikasi : 1) Retensio urine pada Benign Prostat Hypertropy 2) Untuk mengukur banyaknya urine output pada rehidrasi. 3) Keperluan diuresis yang cepat, misalnya pada pemberian diuretic pada edema paru b. Cara pemakaian 1) Bersihkan Oriticium Uretrae Externa (OUE) dengan antiseptik 2) Licinkan kateter dengan jeli,masukkan jeli 3 cc lewat OUE 3) Masukkan ujung kateter pada OUE dengan cara steril sampai Vesica urinaria sehingga keluar urin 4) Fiksasi dengan memasukkan aquabidest 15-25 cc lewat pengunci atau sesuai indikasi pada etiket kateter 3. Urine bag a. Indikasi : 1) Retensio urine pada Benign Prostat Hypertropy

69

TANGGAL TERBIT RSU PENGGUNAAN BAHAN HABIS PAKAI DAN OBAT LIFE SAVING DI INSTALASI GAWAT DARURAT REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Prosedur

Halaman : 2) Untuk mengukur banyaknya urine output pada rehidrasi. 3) Keperluan diuresis yang cepat, misalnya pada pemberian diuretic pada edema paru b. Cara pemakaian : dipasang di ujung luar kateter dengan sekaligus dipergunakan mengukur banyaknya urine output 4. Venacath a. Indikasi : Memberikan jalur intravena untuk dapat memasukkan obat dan atau cairan ke dalam tubuh pasien b. Cara pemasangan : 1) Lakukan ikatan di atas vena yang dipilih 2) Masukkan jarum setelah dilakukan tindakan antiseptik sehingga darah keluar kemudian dihubungkan dengan botol infus yang telah disediakan 3) Kemudian ditutup dengan kasa berantiseptik dan lakukan fikasasi 5. Infus set/Transfusi set a. Indikasi : 1) penghubung venacath dengan cairan infus/darah, sekaligus mengatur besarnya tetesan aliran cairan infus/darah. 2) Sebagai jalan masuk obat-obatan yang dimasukkan secara IV b. Cara pemasangan : Dipasang antara venacath dan botol infus/darah Disamping alat-alat tersebut di IGD perlu disediakan bahan habis pakai : 6. kassa steril 7. Kapas alkohol 8. Alkohol 70% 9. Povidone Iodine 10. Aqua pro injeksi dan aqua steril 11. jarum injeksi 12. Papan spalk dan softband spalk B. Obat-obatan habis pakai 1. Adrenalin Indikasi : a. Shock Anafilaktik b. Asma Bronkiale c. Henti jantung 70

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Prosedur

PENGGUNAAN BAHAN HABIS PAKAI DAN OBAT LIFE SAVING


DI INSTALASI GAWAT DARURAT

Halaman : 2. Dexamethasone Indikasi : a. Shock Anafilaktik Dosis 10 mg (dewasa) secara IV bisa diulang tiap jam b. Asma Bronkiale Dosis 10 mg (dewasa) secara IV bisa diulang tiap 6-8 jam Catatan : hanya diberikan pada status asmatikus&penderita asma yang sudah tergantung dengan kortikosteroid. c. Alergi Dosis 5 mg (dewasa) secara IV atau IM 3. Natrium bicarbonat Indikasi : a. Henti jantung b. Asidosis Dosis : 1 mg/KgBB secara IV 4. Dopamin Indikasi : Hipotensi atau shock Kardiogenik Dosis : 2-20 mg/KgBB/menit per drip (ditrasi) sampai tercapai tekanan yang diinginkan 5. Lidokain Indikasi : a. Disaritmia ventrikuler Dosis 1 mg/KgBB Bolus, diikuti per infus 1-4 mg/menit sampai hilang Disaritmianya b. Anestesi Lokal Dosis 0,5-1 mg sampai tercapai efek yang diinginkan 6. Sulfas Atropin Indikasi : a. Bradikardia Dosis 0,5-2 mg/IV sampai tercapai efek yang diinginkan b. Keracunan obat Insektisida Dosis : 0,5 -2 mg/IV sampai tercapai efek yang diinginkan. 7. Aminophyllin Indikasi : Asma Bronkiale Dosis : 1/2 ampul Bolus diteruskan dengan 1 1/2 ampul dalam D5% dengan tetesan 10 tetes/menit

71

TANGGAL TERBIT RSU PENGGUNAAN BAHAN HABIS PAKAI DAN OBAT LIFE SAVING DI INSTALASI GAWAT DARURAT REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Prosedur

Halaman : 8. Antrain Digunakan sebagai analgesik 9. Diazepam Indikasi : Pasien kejang Dosis : 10 mg IV dewasa 5 mg per rectal anak , bila masih kejang :diulang per 10 menit 10. Primperan / Metoclopramid Indikasi : Pada pasien dengan keluhan mual-muntah Dosis : 1 ampul secara IV dewasa 11. Ulsikur / cimetidine Indikasi : Epigastric pain/ gastritis Dosis : 1 ampul dewasa 12. Lasik / Furosemid Indikasi : Pasien diuresis cepat pada edema pulmonal Dosis : 2 ampul secara IV 13. Profenid Suppositoria Indikasi : Pada pasien dengan nyeri hebat Dosis : sesuai kebuthuan 14. Transamin / Asam traneksamat Indikasi : Kasus perdarahan Dosis : 1 ampul secara IV 15. Dextrose 40 % Indikasi : Kasus Hipoglikemia Dosis : sesuai hasil pemeriksaan Gula Darah Sewaktu (GDS) 16. Serum Anti Bisa Ular 17. Anti Tetanus/ Tetagam 18. Xylomidon 19. Diphenhidramine C. Cairan infus 1. Ringer Laktat Digunakan pada kasus hipovolemik/dehidrasi dan asidosis metabolik 72

TANGGAL TERBIT RSU PENGGUNAAN BAHAN HABIS PAKAI DAN OBAT LIFE SAVING DI INSTALASI GAWAT DARURAT REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Prosedur

Halaman : atau pasien dengan cedera kepala 2. NaCl 0,9% Digunakan pada pasien : a. Alkalosis metabolik misalnya pasien muntah terus menerus b. cairan kumbah lambung 3. Dextrose 5 % Digunakan untuk maintanance 4. Dextrose 10 % Digunakan pada pasien sulit makan (pengganti glukosa) 5. Martos Digunakan untuk maintanance pada penderita DM 6. Dextran Digunakan pada pasien anti oedem, misalnya pasien stroke 7. D5 1/2NS Digunakan pada pasien anak (pada kasus) cedera kepala) 8. D5 1/4NS Digunakan pada pasien neonatus (pada kasus cedera kepala) 9. Manitol Digunakan pada pasien yang mengalami gangguan perfusi jaringan otak

73

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Pengertian Tujuan

PENGGUNAAN JASA AMBULANCE


Halaman : Petunjuk tentang penggunaan Ambulance Menjelaskan tata cara pemesanan ambulance,penanganan pasien serta pencatatan administrasi a. Undang-undang no 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan b. SK.Menkes No.1333 Tahun 1999 tentang Penerapan standar/ pelayanan Rumah Sakit c. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat 1. Penanggulangan pemesanan ambulance oleh pihak luar : ^ Pasien/keluarga yang berkepentingan menghubungi RS (IGD-Ambulance) untuk menjemput pasien di lokasi yang telah ditentukan. ^ Petugas jaga melihat daftar penggunaan ambulance untuk memastikan keberadaan ambulance dan membuat surat jalan kepada sopir dan perawat jaga yang bertugas ^ Sopir dan perawat yang bertugas menerima surat jalan dan langsung menuju lokasi yang diminta dan langsung melakukan penanganan medis terhadap pasien (sesuai standar emergency yang berlaku) serta melakukan koordianasi dengan pihak unit gawat darurat untuk mempersiap kan penanganan medis lanjutan 2. Penanganan pemesanan ambulance oelh pihak instalasi (pelayanan medis/ pelayanan diagnostik dan penunjang medik) # Petugas jaga menerima surat rujukan/surat pengantar dokter dari petugas poli/ instalasi dan selanjutnya melihat daftar penggunaan ambulance untuk memastikan keberadaan ambulance dan membuat surat jalan kepada sopir dan perawat jaga yang bertugas # Sebelum dilakukan pengantaran, pihak keluarga lebih dahulu menyelesai kan masalah administrasi dengan menerima bukti penyewaan ambulance IRNA, OK, PICU/NICU, ICU/ICCU/HCU

Kebijakan

Prosedur

Unit terkait

74

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PERSIAPAN PASIEN OPERASI CITO/ EMERGENCY

Halaman : Persiapan operasi yang dilakukan segera untuk menyelamatkan hidup pasien atau mempertahankan fungsi organ tanpa penundaan 1. Menyelamatkan kehidupan pasien 2. mempertahankan fungsi organ/anggota tubuh dengan segera 3. menghentikan perdarahan 4. Mencegah terjadinya infeksi intra dan pasca operasi a. Undang-undang no 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan b. SK.Menkes No.1333 Tahun 1999 tentang Penerapan standar/ pelayanan Rumah Sakit c. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat 1. Melengkapi semua dokumen pasien baik status, pemeriksaan diagnostik dan pendaftaran di kamar operasi 2. Menhubungi ruang rawat (sesuai dengan permintaan kelas) untuk menyiap kan tempat pasien operasi cito. 3. Mengontrol persiapan obat dan alat untuk keperluan operasi sesuai resep 4. Menyiapkan pasien: $ Check informed consent $ Personal hygiene dan daerah yang dicukur $ Puasakan pasien sesuai program $ Melepaskan gigi palsu atau lensa kontak $ Mengosongkan kandung kemih dengan urine bag 5. Mengontrol kembali persiapan darah, obat-obatan dan status pasien 6. Mengobservasi tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah dan RR) 7. Mengantar pasien ke kamar operasi setelah diinformasikan oleh perawat Instalasi Bedah Sentral (IBS) 8. Memberi laporan kepada perawat penerima di IBS SMF Bedah, Instalasi Bedah Sentral

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit terkait

75

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PELAYANAN PASIEN STATUS DOA DI INSTALASI GAWAT DARURAT

Halaman : Suatu sistem yang mengatur tentang prosedur dalam memberikan pelayanan kepada pasien dengan status meninggal dalam perjalanan (death of arrival) Agar mendapatkan pelayanan perawatan jenazah sehingga tidak menimbulkan penampilan jenazah yang kurang baik atau tidak layak a. Undang-undang no 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan b. SK.Menkes No.1333 Tahun 1999 tentang Penerapan standar/ pelayanan Rumah Sakit c. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat 1. Semua pasien yang tiba mati (DOA) di IGD harus dilakukan pemeriksaan dan diisi data pasien oleh dokter jaga dan perawat jaga IGD pada berkas catatan medis IGD dengan baik dan benar 2. Jenazah dirawat, dibersihkan dari kotoran, darah,dll 3. Bila sudah meninggal, langsung dikirim ke Instalasi Pemulasaran jenazah RS serta dibuat serah terima jenazah (formulir pengantar jenazah IGD) 4. Lembar catatan medis pasien IGD yang datang dengan DOA oleh petugas administrasi IGD, menyerahkannya ke TPP rawat jalan. Semua SMF, Instalasi Pemulasaran Jenazah, Medical Record

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit Terkait

76

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PENANGGULANGAN PASIEN GAWAT DARURAT DI LUAR RUMAH SAKIT

Halaman : Sistem yang mengatur tentang pertolongan/penangganan pasien gawat darurat di luar rumah sakit Agar pasien gawat darurat di luar rumah sakit dapat diberi pertolongan dengan cepat dan tepat serta dibawa ke rumah sakit untuk tindakan penyelamatan selanjutnya. a. Undang-undang no 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan b. SK.Menkes No.1333 Tahun 1999 tentang Penerapan standar/ pelayanan Rumah Sakit c. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat 1. Informasi yang diterima harus melalui telepon (0380). 2. Informasi yang diterima meliputi : a. Nama Lengkap yang memberi informasi b. Alamat lengkap yang memberi informasi, kalau perlu nomor telepon terdekat untuk re-check c. Gejala sakit yang diterima terutama jenis dan tingkat kegawatan 3. Penerima telepon harus melaporkannya kepada perawat penanggung jawab atau dokter penanggung jawab. 4. Dokter penanggung jawab /perawat penanggung jawab menelpon kembali untuk re-check (kalau ada telepon) 5. Koordinasikan segera dan disiapkan ambulance IGD dan team pertolongan serta peralatan sesuai kebutuhan. 6. Dalam 15 menit paling lambat ambulance menuju lokasi kejadian. SMF Terkait, OK, Radiologi, Patologi Klinik, PICU/NICU, ICU/ICCU/HCU, Rawat Inap, medical Record

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit terkait

77

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Pengertian

PEMASANGAN SPALK ATAU BIDAI


Halaman : Spalk atau bidai adalah alat yang dipakai untuk mempertahankan kedudukan atau letak tulang yang fraktur 1. Memberi support/memperthankan kedudukan tulang yang fraktur 2. Mengurangi rasa sakit SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat a. Persiapan alat : # spalk 1 pasang (lebar,panjang sesuai dengan kebutuhan) # pembalut/perban roll # kapas # handscoen b. Persiapan pasien: * Perawat mencuci tangan dan memakai handscoen * Menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan * Mengatur posisi pasien utnuk memudahkan perawat memasang spalk atau bidai * Meletakkan splak/bidai malampui 2 sendi tulang yang fraktur * Memastikan posisi fraktur sudah sesuai dengan ukuran spalk/bidai yang akan dipasang * Membalut (kassa perban) bagian yang sudah terpasang spalk/bidai dengan gerakan melingkar dan dipastikan bagian yang terpasang spalk/ bidai tertutup kembali * Bidai tidak boleh terlalu kencang atau ketat, dengan memperhatikan warna kuku setelah 10 menit * Mencuci tangan * Mendokumentasikan tindakan yang dilakukan. IGD

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit terkait

78

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Pengertian Tujuan

PEMAKAIAN NEBULIZER
Halaman : Alat yang digunakansebagai bronchodilator pada pasien dengan Asma Bronchiale 1. Melebarkan jalan nafas pasien 2. Memenuhi kebutuhan oksigenasi 3. Memberikan kenyamanan pasien Direktur Rumah Sakit Umum Daerah tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat 1. Persiapan alat : # Nebulizer siap pakai # Bisolvon dan berotec solution # NaCl 0,9% # Spuit disposible 3cc/5 cc # Handscoen # Masker # Nierbeken 2. Persiapan pasien : * Menjelaskan pada pasien& keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan * Mengisi medication tank dengan cairan atau obat sesuai program ( 3ml max 6 ml ) * Memasang kembali nebulizer cup dengan nebulizer tank kemudian pasang masker/bagian penghubung ke mulut pasien * Hubungkan selang udara : ujung yang 1 ke unit kompresor dan ujung yang lain dihubungkan ke bagian bawah medication tank * Pegang nebulizer pada bagian nebulizer cup dan hidupkan mesin * Saat menghirup uap nebulizer, pasien harus duduk tegap&rileks. Jika pasien dalam perawatan di tempat tidur, sokong tubuh pasien dengan bantal hingga duduk tegap (posisi kepala miring, tertekuk tidak dianjurkan) * Letakkan mouthpiece ke depan mulut pasien 3 cm untuk memulai menghirup uap * Tarik nafas perlahan-lahan dan dalam hingga uap obat dapat mencapai saluran bronchiale tahan nafas beberapa saat (2-3 detik) lalu hembuskan nafas perlahan perlahan mengeluarkan mouthpiece dari mulut. Tekan pause bila lelah * Bila obat telah habis, tekan off dan diconnect/mencabut kabel dari saklar * Bersihkan nebilizer kit dan rapikan alat * Perawat mencuci tangan * Mendokumentasikan tindakan yang dilakukan 79

Kebijakan

Prosedur

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PENANGGANAN PASIEN AKIBAT TINDAKAN ATAU DIDUGA AKIBAT TINDAKAN KRIMINAL

Halaman : Prosedur yang mengatur tentang penangganan pasien akibat tindakan atau diduga tindakan kriminal Agar penangganan pada pasien dengan dugaan/kasus kriminal dapat terlayani sesuai dengan kebutuhan pasien dan keluarga a. Undang-undang no 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan b. SK.Menkes No.1333 Tahun 1999 tentang Penerapan standar/ pelayanan Rumah Sakit c. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat 1. Penangganan pasien dilakukan sesuai dengan prosedur oleh perawat dan dokter jaga IGD 2. Memberi saran kepada keluarga untuk melapor kepada yang berwajib atau polisi 3. Pemberitahuan tentang dugaan/kasus kriminal kepada yang berwajib hanya dilakukan oleh dokter jaga SMF Bedah, Medical Record

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit terkait

80

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PELAYANAN PASIEN GAWAT DARURAT PERKOSAAN DI IGD

Halaman : Prosedur yang mengatur tentang pelayanan pasien yang mengalami kasus perkosaan. Agar pasien yang mengalami perkosaan dapat diberi ketenangan guna perawatan dan tindak lanjutan (pemeriksaan untuk visum et repertum) a. Undang-undang no 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan b. SK.Menkes No.1333 Tahun 1999 tentang Penerapan standar/Pelayanan RS c. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kupang tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat 1. Tenangkan korban di tempat yang tenang, bebas dari kegaduhan atau gangguan orang lain. 2. Bila korban tidak sadar atau mengalami luka berat atau ringan maka catat secara teliti keadaannya dan atasi kelainan-kelainan tersebut sebagimana kelainan secara umum. 3. Mengenai kelainan di alat kelamin dan pembuktian adanya cairan mani, sel Kebidanan dan penyakit kandungan. Bila pasien memerlukan penanganan yang lebih lanjut segera kirim ke SMF kebidanan dan penyakit kandungan. 4. Permintaan visum et repertum diajukan secara tertulis oleh pihak kepolisian atau kejaksaan dan korban diantarkan sendiri oleh pihak kepolisian atau kejaksaan bersama surat permohonan visum et repertum. Permintaan visum et Repertum repertum tidak boleh dibawa sendiri oleh yang bersangkutan atau keluarga korban. 5. Dalam permintaan visum et repertum dimana kejadian perkosaan atau upaya perkosaan : # Baru terjadi (kurang dari 3 hari) maka korban harus dirawat inap di RS sampai selesai pemriksaan dilakukan oleh dokter dari SMF kebidanan dan penyakit kandungan. # Sudah lama (lebih dari 3 hari) maka korban dianjurkan untuk kembali diperiksa di SMF kebidanan dan penyakit kandungan pada jam kerja. 6. Petugas penerima korban yang memerlukan visum et repertum wajib mencatat : nama, pangkat, NRP, petugas kepolisian atau kejaksaan yang mengantarkan korban. Selanjutnya petugas tersebut dapat meninggalkan korban di rumah sakit sambil membawa lembaran II permintaan Visum et Repertum yang telah diisi dan ditandatangani oleh dokter yang menerima korban yang pertama kalinya. SMF kebidanan, medical record, komite medic 81

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit terkait

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PELAYANAN PASIEN PENYAKIT MENULAR/ TERSANGKA PENYAKIT MENULAR DI IGD

Halaman : Prosedur yang mengatur tentang tugas dan wewenang perawat jaga dalam memberikan pelayanan pasien gawat darurat dengan penyakit menular atau tersangka penyakit menular sebagai pedoman/ acuan penerapan langkah-langkah mengenai batasan tugas dan wewenang dokter dan perawat jaga IGD a. Undang-undang no 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan b. SK.Menkes No.1333 Tahun 1999 tentang Penerapan standar/Pelayanan RS c. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kupang tentang pelayanan keperawatan di Unit Gawat Darurat 1. Bila pasien sudah meninggalkan ruangan isolasi : ^ Alat-alat yang telah dipakai pasien harus didesinfektan ulang termasuk lantai dan dinding ^ Kasur dan bantal dijemur di bawah sinar matahari ^ Semua peralatan dikembalikan ke tempat semula setelah didesinfektan. ^ Kamar dikosongkan selama 24 jam 2. Ruangan isolasi adalah ruangan khusus untuk memisahkan pasien berpenyakit menular dan peralatan yang terpakai agar tidak terjadi penyebaran atau penularan penyakit 3. Penyakit-penyakit yang membutuhkan ruangan isolasi : # Difteria # Varicella # TBC # Hepatitis # Enteritis ; disentri ; kolera # Susp.HIV AIDS # Susp. Flu burung semua SMF, medical record

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

unit terkait

82

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Pengertian

PENANGANAN PASIEN LUKA BAKAR


Halaman : Luka bakar adalah luka yang mengenai kulit dan lapisan dibawahnya yang disebabkan oleh trauma panas/dingin, trauma elektrolis dan trauma kimia Sebagai acuan dalam pelaksanaan diagnosis dan terapi luka bakar Agar petugas medis dan paramedis dapat menagani pasien luka bakar sesuai dengan standar yang berlaku 1. Anamnesa a. trauma panas/dingin b. trauma elektrolis c. trauma kimia 2. Pemeriksaan fisik a. edema b. penuh bulla c.eritema 3. pemeriksaan penunjang : Laboratorium 4. Diagnosis banding 5. Penatalaksanaan a. bebaskan jalan nafas K/P dan O2 b. atasi keadaan shock c. timbang berat badan penderita d. Tanyakan kronologis terjadinya luka bakar, jam terjadinya e. Hitung luas luka dengan rule of nine f. Rehidrasi ^ Dengan memasang infus RL, dengan dosis menurut formula boxter : % luas luka bakar x kgBB x 4 ml RL ^ Setengah dari jumlah tersebut diberikan dalam 8 jam pertama dan setengahnya lagi 16 jam berikutnya. g. Bersihkan luka h. Keluarkan cairan darah, bulla i. Cuci dengan NaCl 0,9% j. Tutup luka dengan sofratulle dan silvadene k. Balut luka l. awasi keadaan umum dan balance cairan m. medikamentosa * Antibiotika * ATS 1500 mg * Analgetik 83

Tujuan Kebijakan Prosedur

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Prosedur

PENANGANAN PASIEN LUKA BAKAR


Halaman : 6. Konsultasi ; dokter spesialis bedah 7. Perawatan Rumah Sakit : ^ Rawat inap tergantung tingkat luka bakar dan luasnya ^ Rawat jalan tergantung tingkat luka bakar dan luasnya. 8. Penyulit ; shock 9. Tenaga standar : dokter umum 10. Lama perawatan $ Rawat jalan dengan 3 (tiga ) hari kontrol $ Opname sampai dengan sembuh 11. Masa pemulihan : Tergantung luka bakarnya.

Unit Terkait 1. Instalasi gawat darurat 2. ICU

84

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Pengertian

PENANGANAN PASIEN SHOCK


Halaman : Merupakan keadaan darurat yang disebabkan oleh kegagalan perfusi darah ke jaringan sehingga mengakibatkan gangguan metabolisme sel. Memperbaiki dan mempertahankan sistem sirkulasi sehingga penderita dapat dibebaskan dari ancaman kematian atau kerusakan organ/cacat lebih lanjut dengan melakukan usaha-usaha penganganan shock sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada. agar petugas medis dan paramedis dapat menangani shock sesuai dengan prosedur yang berlaku. 1. Pedoman awal penanganan shock a. kenali macam shock dan penyebabnya b. lakukan tindakan awal penanganan shock secara umum dengan segera. c. koreksi penyebabnya bila memungkinkan. 2. Tindakan penanganan shock a. penderita ditelentangkan dengan kaki ditinggikan b. bebaskan jalan nafas , beri O2 5 - 6 Liter/menit c. Pasang jalur infus NaCl 0,9 % atau ringer lactat 50 tetes/menit d. obat-obatan ; * Adernalin pada kolaps kardiovaskuler yang berat diberikan SC/IM 0,3-o,5 cc atau 3-5 cc adrenalin yang dilarutkan dalam 9 cc NaCl 0,9% * Oradexon/kortikosteroid 10-20 mg IV * Vasopresor bila pemberian cairan saja tidak memberikan hasil memadai (dopamin/dobuject/kombinasi) 3. Penanganan shock secara khusus a. Penanganan shock hipovolemik * Penderita dibaringkan terlentang, kaki ditinggikan 30 cm * Bebaskan jalan nafas, beri O2 5-8 liter/menit * Pasang jalur infus, bila perlu lebih dari satu * Berikan cairan dengan cepat 2-3 liter dalam 20-30 menit waspada akan orang tua kemungkinan terjadinya over hidarasi * Cairan yang diberikan ; kristaloid : garam fisiologis, NaCl hipertonis atau larutan garam berimbang seperti R.Solution, R.lactat * Koloid ; hemacell, HABS * Darah : diberikan setelah 40 % dari jumlah volume cairan darah yang hilang diganti dengan kristaloid * Bila pemberian cairan yang memadai kurang memberikan hasil yang 85

Tujuan

kebijakan

Prosedur

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Prosedur

PENANGANAN PASIEN SHOCK


Halaman : diharapkan berikan dopamin/dobuject melalui drip/syringe pump. * Pemberian kortikosteroid/oradexon 10-20 mg IV * Koreksi penyebabnya bila memungkinkan b. Penanganan shock kardiogenik * Penderita dibaringkan terlentang kecuali bila terdapat oedema paru * Bebaskan jalan nafas, beri O2 5-6 liter/menit * Pasang jalur infus dengan tetes pelan (0,5 % NaCl 0,9% * Untuk chest pain berat morfin : 3-5 mg IV pemberian selama 2 menit, dapat diulang setelah 10 menit , bila tidak ada depresi pernapasan pethidine 50 mg * Pada Tach/Aritmia Xylocard 50 mg IV bolus, bila perlu : drip/ syringe pump 2-1 mg/menit * Pada bradikardi SA 2 ampul IV dapat diulang tiap 5 menit * Pada AMI : Berikan cedocard 1 tube sub * Pertimbangkan untuk pemberian nitrodisk sebagai venodilator sentral untuk menurunkan preload c. Penanganan septik shock * Septik shock ditandai dengan gejala klinik shock dan adanya infeksi Febris Ptechie Lekositosis Lekopern Hiperventilasi dengan hipokopnia * Penderita dibaringkan terlentang * Bebaskan jalan nafas, berikan cairan kristaloid 1-2 liter selama 30-60 menit * Dopamin drip / syringe pump diberikan bila dengan pemberian cairan belum ada perbaikan * Kortikosteroid / oradexon 10-20 mg IV * Berikan antibiotik d. Penanganan shock neurogenik * Tanda gejala seperti pada shock hipovolemik disertai kelainan neurogenik * Penderita dibaringkan terlentang * Bebaskan jalan nafas berikan O2 5-6 liter/menit * Pasang jalur infus berikan cairan NaCl 50 tetes/ menit * Berikan dopamin melalui drip/syringe pump * Kontraindikasinya pada rujukan ruptur lien e. Penanganan anafilaktik shock * anafilaktik shock ditandai dengan gejala klinis hipotensi broncospasme 86

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Prosedur

PENANGANAN PASIEN SHOCK


Halaman : oedema laring, ruam-ruam kulit dan kelainan intestinal * Penderita dibaringkan terlentang dengan kaki ditinggikan * Bebaskan jalan nafas beri O2 5-6 liter/menit * Berikan adrenalin sedini mungkin * Pada reaksi yang hebat : berikan IV 3-5 cc larutan 1 ampul adrenalin 1/1000 dalam 9 cc NaCl 0,9 % untuk anak : 0,01 cc/KgBB dari larutan 1 ampul adrenalin * untuk reaksi yang ringan : berikan secara IM/ SC 0,3-0,5 larutan aderanlin 1/1000 untuk anak : 0,01 cc/KgBB larutan 1/1000 * dosis ulangan seperlunya adrenalin dapat diberikan setiap 5-10 menit * pasangkan jalur infus dengan NaCl 0,9 % bila bronchospasme menetap, berikan aminophyllin bolus 1 ampul, dilanjutkan dengan drip * korikosteroid / oradexon 10-20 mg * antihistamin : antihistamin, incidal, diphenhydramin * pada ancaman gagal nafas : # Intubasi # Krikotirotomi # Tracheostomi Instalasi Gawat darurat, ICU

Unit terkait

87

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PENANGANAN PASIEN DENGUE SHOCK SYNDROM

Halaman : Yang dimaksud DSS adalah serangan demam berdarah yang bersifat lanjut diman dapat menyebabkan kematian bila tidak diatasi Sebagai acuan petugas medis dan paramedis di IGD dalam menangani dengue shock syndrom Semua petugas medis dan para medis di IGD dan perawatan dapat memahami tata laksana DSS. 1. Anamnesa a. Riwayat demam yang mulai secara tiba -tiba 2-7 hari dengan gejala tidak spesifik sakit kepala ,sakit sendi atau sakit perut b. Timbul bintik-bintik merah pada kulit atau epistaxis atau perdarahan gusi serta batuk darah. ^ Dapat terjadi renjatan dengan penurunan kesadaran atau terjadi kejang. ^ Kejang akral dingin 2. Pemeriksaan fisik Febris dengan kesadaran menurun dengan tensi tak terukur, uji torniket (+) dapat terjadi kejang, kaki dan tangan terasa dingin dapat disertai hepatomegali yang nyeri tekan dan splenomegali. 3. Pemeriksaan penunjang Laboratorium rutin darah : Hb, Leukosit,Ht, trombosit tiap 4-6 jam, pemeriksaan serologis dengue 4. Diagnosa banding: a. ITP b. Anemia apalstik 5. Penatalaksanaan a. Penggantian cairan dengan infus RL 20 ml/KgBB per jam jika renjatan teratasi jika tak tampak perbaikan diberikan plasma expander 15-20 ml/ KgBB/jam jika renjatan teratasi tetesan dipertahankan 14-48 jam b. Awasi terjadinya asidosis dapat dikoreksi dengan meylon c. Jika terjadi hemtemesis atau melena pada pemeriksaan berkala menunjukkan penurunan transfusi darah d. Observasi tiap jam keadaan umum (tensi, nadi) e. Pemeriksaan laboratorium bekala Hb, Ht, trombo tiap 4-6 jaam f. Tetapi antibiotik sesuai indikasi g. Terapi simptomatik

Tujuan

kebijakan

Prosedur

88

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Prosedur

PENANGANAN PASIEN DENGUE SHOCK SYNDROM


6. Penatalaksanaan a. Konsultasi spesialis penyakit dalam jika pasien dewasa b. Konsultasi spesialis anak jika pasien anak 7. Perawatan Rumah Sakit a. renjatan teratasi : rawat inap b. renjatan tak teratasi atau perdarahan : masuk ke ICU 8. Penyulit : a. perdarahan b. prolonged shock 9. Tenaga standar: Dokter umum

Halaman :

Unit Terkait instalasi gawat darurat instalasi perawatan

89

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PENANGANAN GASTROENTERITIS AKUT DENGAN DEHIDRASI PADA ANAK

Halaman : Gastroenteritis akut dengan dehidrasi adalah buang air besar dengan konsistensi lebih encer dari biasanya dapat disertai darah atau lendir yang timbul mendadak tidak lebih dari 2 minggu disertai dengan dehidrasi menurun gejala klinis dehidrasi ,dibagi menjadi : 1. Dehidrasi ringan Hilangnya cairan 5% Keadaan umum sehat Mata : normal Respirasi : 20-30 x/menit Mulut : normal Nadi : kuat < 120 x/menit 2. Dehidrasi sedang Kehilangan cairan 8% Keadaan umum gelisah apatis Turgor ; turun Mata ; cekung Respirasi : 30-40x/menit Mulut : kering Nadi : 120-140x/menit 3. Dehidrasi berat Kehilangan caitan > 10% Keadaan umum ngingau / koma shock Turgor : sangat turun Mata : sangat cekung Respirasi : 40-60x/menit Mulut : kering biru Nadi : > 140 x/menit Mengganti kekurangan cairan akibat diare/muntah Adanya prosedur 10 besar penyakit UGD 1. Dehidrasi ringan - sedang * Pemberian upaya rehidrasi oral dengan pemberian oralit 75 cc/KgBB diberikan setiap mencret atau muntah, diberikan selama 3 jam * Setiap jam nilai kembali 2. Dehidrasi berat * Pemberian oralit diberikan setiap mencret / muntah 75 cc /KgBB * Pemberian cairan lebih dari 10% 90

Tujuan Kebijakan Prosedur

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP prosedur

PENANGANAN GASTROENTERITIS AKUT DENGAN DEHIDRASI PADA ANAK

Halaman : ^ Umur < 12 bulan 30 ml/KgBB diberikan dalam 1 jam selanjutnya 70 ml/KgBB diberikan dalam 5 jam ^ Umur > 12 bulan : 30 ml/KgBB diberikan dalam 7/8 jam selanjutnya 70 ml/KgBB diberikan dalam 2,5 jam * Bayi ASI diteruskan * Anak yang lebih besar, susu formula diencerkan makanan lunak, rendah serat porsi kecil frekuensi sering * Pemberian antibiotik tergantung indikasi : ^ Cotrimoxazole 50 mg/KgBB dibagi dalam 2 dosis selama 5 hari ^ Tetracyclin (>7th) : 50 mg/KgBB dibagi dalam 4 dosis selama 2 hari ^ Metronidazole(Amuba) : 30 mg/KgBB dibagi dalam 3 dosis selama 5 hari ^ Metronidazole(Giardia) : 15 mg/KgBB dibagi dalam 3 dosis selama 5 hari ^ Jika perlu konsul dokter anak

Unit Terkait Dokter jaga IGD Perawat IGD Dokter spesialis anak Medical record

91

TANGGAL TERBIT RSU


PENATALAKSANAAN GASTROENTERITIS AKUT

REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

DENGAN

Halaman : Gastroenteritis dehidrasi berat dan hipovolemik shock adalah keadaan dimana tubuh sangat kekurangan cairan dan elektrolit sehingga terjadi hipovolemik shock biasanya disertai dengan penurunan kesadaran.
DEHIDRASI BERAT DAN HIPOVOLEMIK SHOCK

Tujuan

sebagai acuan untuk penatalaksanaan gastroenteritis dengan hipovolemik shock adanya prosedur standar 10 besar penyakit di UGD 1. Anamnesa : BAB cair timbul secara akut dengan gejala-gejala dehidrasi 2. Pemeriksaan fisik, kesadaran menurun, shock, pernapasan kusmaul, mata cekung, bibir kering, turgor kurang, dapat terjadi sianosis perifer, dapat terjadi kejang otot , oliguria sampai anuria 3. Pasang infus RL guyur jika perlu pasang 2 jalur sampai tekanan darah 100 mmHg (hati-hati pada orang tua) 4. Pasang dower kateter 5. Observasi input + output cairan 6. Berikan antibiotik bila ada indikasi 7. Pasien ditempatkan pada " Cholera Pot " 8. Pemeriksaan penunjang Hb, pemeriksaan faeces, ureum creatinin 9. Bila perlu konsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam IGD, Spesialis penyakit dalam, laboratorium

Kebijakan Prosedur

Unit Terkait

92

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Pengertian

PENANGANAN OBSERVASI DEMAM


Halaman : Observasi demam adalah suatu keadaan demam dimana penyebabnya belum diketahui secara pasti. Sebagai acuan penerapan langkah-langkah penanggulangan tindakan demam yang belum diketahui secara pasti penyebabnya. Adanya prosedur tertulis untuk kasus 10 besar penyakit UGD 1. Anamnesa dengan adanya riwayat demam dengan penyebab yang tidak spesifik 2. Periksa tanda-tanda vital,apabila ada penurunan tanda vital segera ditangani 3. Pemeriksaan laboratorium yaitu trombosit dan lekosit 4. Berikan antibiotik yang sesuai dengan hasil pemeriksaan hasil penunjang 5. Apabila perlu konsultasi dengan konsulen dokter penyakit dalam 6. Pasien dirawat. IGD, Spesialis penyakit dalam, laboraotrium

Tujuan

Kebijakan Prosedur

Unit Terkait

93

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Pengertian

PENANGANAN DEMAM KEJANG


Halaman : Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada kenaikan suhu > 38 derajat yang disebabkan oleh suatu proses extracranium yang bersifat umum, tonik kklonik terjadi beberapa detik sampai 10 menit, penyebab biasanya infeksi saluran pernapasan atas otitis media, pneumonia, GE dan ISK sebagai acuan untuk menangani kejang demam adanya prosedur 10 besar penyakit IGD Prinsip pengobatan : Atasi kejang, mencari dan mengobati penyebab, pemberian profilaksis terhadap berulangnya kejang 1. Anamnesa 2. Bebaskan jalan nafas, pasang sudip lidah 3. Beri O2 lembab 4. Berikan diazepam IV 0,3 - 0,5 mg/KgBB perlahan-lahan dosis max 20 mg 5. Jika sukar mencari vena berikan per rectal dengan dosis 0,5-o,75 mg/kgBb (5 mg untuk BB <10 Kg dan 10 mg untuk BB >10 Kg) 6. Jika pasien sudah sadar berikan antipiretik & antibiotik sesuai penyebabnya. 7. Antikonvulsan profilaksis, berikan diazepam 0,3 mg/KgBB / kali pemberian diberikan 3x/hari selama demam biasanya 2-3 hari DD/ : meningitis, epilepsi IGD, Spesialis Anak, Spesialis Saraf

Tujuan Kebijakan Prosedur

Unit terkait

94

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PENANGANAN PASIEN DENGAN EPISTAKSIS DI IGD

Tujuan Prosedur

Halaman : a. Epistaksis anterior adalah perdarahan dari rongga hidung yang berasal dari plexus Kiesselbach atau a.etmoidalis anterior b. Epistaksis posterior adalah perdarahan dari ronnga hidung yang berasal dari arteri sphenopalatina dan atau arteri etmoidalis posterior 1. Menghentikan perdarahan 2. Mencegah komplikasi 1. Tentukan asal perdarahan dengan memasang tampon yang dibasahi dengan adrenalin1/1000 dan pantokain 2%,dibantu dengan alat penghisap. sedapat mungkin penderita dalam posisi duduk Bila ternyata perdarahan berasal dari Anterior : 2. Pasang kembali tampon yang dibasahi Adrenalin 1/1000 & Pantokain 2% selama 5-10 menit dan ala nasi ditekan ke arah septum 3. Setelah tampon diangkat, asal perdarahan di kaustik dengan larutan AgNO3 20-30% atau asam trikloroasetat 2-6% atau dengan elektrokauter. 4. Bila masih berdarah, pasang tampon anterior yang terdiri :kapas/ kasa yang diberi boozalf/ bimuth iodine paraffin paste (BIPP). Tampon ini dipertahankan 1-2 hari ( boorzalf)/ 3-4 hari ( menggunakan BIPP) Bila ternyata perdarahan berasal dari Posterior : 5. Coba atasi dengan kasutik dan tampon anterior (lihat cara diatas) 6. Bila gagal, pasang tampon posterior (Bellocq); caranya : # Tampon ini terdiri dari gulungan kassa yang mempunyai dua benang di satu ujung dan satu benang di ujung lain. # Masukkan kateter karet dari nares anterior ke dalam sampai tampak di orofaring dan ditarik keluar melalui mulut # Pada ujung kateter diikatkan salah satu dari dua benang yang ada pada satu ujung& kateter ditarik kembali melalui hidung. Dengan cara yang sama benang yang lain dikeluarkan melalui lubang hidung yang lain. # Kemudian kedua benang yang telah keluar melalui lubang hidung itu di tarik sedang telunjuk tangan yang lain membantu mendorong tampon ke arah nasofaring sampai tepat menutup koana. # Lalu kedua benang diikat pada tampon lain yang terletak dekat sekat rongga hidung.Benang dari ujung lain dikeluarkan melalui mulut dan di keluarkan melalui mulut & diletakkan secara longgar di pipi, benang ini berguna untuk menarik keluar tampon bila akan dilepas. # Bila perlu dapat dipasang tampon anterior # Penderita harus dirawat dan tampon diangkat setelah 1-2 hari. Berikan antibiotik misalnya PS 8:1 95

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Prosedur

PENANGANAN PASIEN DENGAN EPISTAKSIS DI IGD

Halaman : Bila perdarahan menetap walaupun telah dilakukan tindakan diatas, pertimbangkan operasi ligasi arteri : 7. Untuk perdarahan anterior dilakukan ligasi a.etmoidalis anterior dengan membuat sayatan dari bagian medial alis mata ke bawah kantus internus: setelah jaringan dipisahkan akan tampak a.etmoidalis anterior 8. Untuk perdarahan posterior dilakukan ligasi a. maksilaris interna dengan membuat sayatan di lipatan gingivobukal seperti pada operasi caldwell Luc; setelah memasuki sinus diangkat sehingga tampak a.maksilaris interna dan cabang-cabangnya di fosa pterigomaksilaris. SMF Anak, SMF THT, OK, ICU/ICCU, RANAP

Unit Terkait

96

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PENANGANAN PASIEN DENGAN KEDARURATAN SISTEM PERNAPASAN

Halaman :

Tujuan Prosedur

1. Menyelamatkan jiwa. 2. mencegah dan membatasi cacat serta meringankan penderitaan pasien. Bila disebabkan oleh benda asing ( misalnya tersedak makanan) usahakan dikeluarkan segara dengan Heimlich manuver: A. Penderita dalam posisi duduk/berdiri : 1. Penolong duduk/berdiri di belakang penderita * Lingkarkan kedua tangan mengelilingi penderita * buat kepalan dengan satu tangan, tangan lain mencekap kepalan tersebut dengan ibu jari menghadap perut & diletakkan di epigastrium * Lakukan pendorongan dengan kuat dan cepat ke arah atas * Tindakan ini dapat diulang beberapa kali 2. Bila tidak berhasil, coba kait benda asing tersebut dengan jari yang dimasukkan ke dalam larings 3. Bila sulit atau benda asing terletak dalam, penderita dibungkukkan dan dilakukan penepukan kuat di punggung diantara kedua scapula. B. Penderita dalam posisi terlentang 1. Penolong berlutut di atas penderita dengan kedua lutut disamping kiri dan kanan tubuh penderita satu telapak tangan diletakkan di epigastrium penderita, telapak tangan yang lain diatasnya 2. Lakukan penekanan dengan pangkal telapak tangan dengan kuat dan cepat ke arah atas 3. Tindakan ini dapat diulang beberapa kali 4. Bila penderita muntah, miringkan tubuhnya dan bersihkan mulutnya Bila cara-cara diatas gagal atau bila tidak disebabkan oleh benda asing: siapkan segera bronkoskopi atau trakeotomi Terhadap penderita obstruksi jalan nafas stadium I dan II : Dilakukan tindakan konservatif dengan oksigen, obat bronkodilator aminophyllin dan bisolvon) & anti edema (papasee) dan pengawasan ketat terhadap gejala yang timbul. Terhadap penderita obstruksi jalan nafas stadium III dan IV : Memerlukan tindakan intubasi atau trakeotomi segera.

97

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PENANGANAN PASIEN YANG MEMERLUKAN TRAKEOSTOMI

Halaman : Merupakan tindakan dengan membuka dinding depan/anterior trakea untuk mempertahankan jalan nafas agar udara dapat masuk ke paru-paru dan memintas jalan nafas bagian atas. 1. Terjadinya obstruksi jalan nafas 2. Sekret pada bronkus yang tidak dapat dikeluarkan secara fisiologis (pasien koma). 3. Apabila terdapat benda asing di subglotis 4. Penyakit inflamasi yang menyumbat jalan nafas, epiglotitis dan lesi vaskuler 5. Pasien dengan kerusakan paru yang kapasitas vitalnya berkurang 1. Premedikasi dengan atropin sulfat 1 mg IM 2. Penderita dalam posisi hiperekstensi pada leher, bila perlu tengkuk diganjal dengan bantal/ kantong pasir 3. Setelah a & antisepsis daerah tindakan, diberikan anestesi lokal (infiltrasi) dengan procain 1% mulai dari cartilago thyroid sampai daerah fosa supra sternal dapat juga dilakukan anestesi umum tetapi sebelumnya trachea harus ditandai dengan pipa endotachea atau bronchoscop. 4. Insisi dibuat mulai dari bawah cartilago cricoid sampai fosa suprasternal, tepat digaris tengah;cara ini lebih aman daripada insisi horisontal meskipun kosmetik lebih buruk. 5. Jaringan subkutis disisihkan,sedapat mungkin jangan memotong pembuluh darah, fascia otot dipotong digaris tengah. 6. Setelah cincin trakea tampak, ismus tiroid disisihkan (bila perlu dipisahkan) sampai cincin trakea I-V terbuka; perdarahan dirawat. 7. Dapat disuntikkan beberapa tetes kokain 5% melalui intercartilago I untuk mencegah iritasi pada pemasangan kanul. 8. Trakea dibuka digaris tengah, sebaiknya dibawah cincin trakea III, lalu dibuat lubang atau flap yang sesuai dengan kanul yang akan dipasang. 9. Bila ada, benda asing dapat dicari dan dikeluarkan melalui stoma dengan bantuan spekulum hidung dan pinset. Bila ternyata benda asing itu terletak distal stoma dan tidak dapat diambil, dorong ke salah satu bronkus agar jalan napas dapat terbuka sebagian dan segera kirim ke tempat yang mempunyai fasilitas bronchoscopi 10. Pasca tindakan tidak perlu dijahit; bila perlu dapat dibuat jahitan longgar di kedua ujung insisi. SMF Bedah, SMF Anestesi, Ok, ICU/ICCU/HCU

Indikasi

Prosedur

Unit terkait

98

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PENANGANAN PASIEN DENGAN STATUS ASMATIKUS

Halaman : Merupakan suatu serangan asma yang berat, berlangsung dalam beberapa jam sampai beberapa hari, yang tidak memberi perbaikan pada pengobatan . yang lazim 1. Menyelamatkan jiwa. 2. Mencegah dan membatasi cacat serta meringankan penderitaan pasien. 1. Bronkodilator Dipakai obat-obat Bronkodialtor secara inhalasi atau per enteral Jika sebelumnya telah digunakan obat golongan simpatomimetik maka sebaiknya diberikan aminofilin per enteral sebab mekanisme kerja yang berlainan demikian sebaliknya, bila sebelumnya telah digunakan obat golongan teofilin per oral maka sebaiknya diberikan obat golongan simpatomimetiksecara aerosol/ parenteral. Obat bronkodilator golongan simpatomimetik bentuk selektif terhadap adrenoreseptor B2 (orsiprenalin, salbutamol, terbutalin, isoetarin, fenoterol) mempunyai sifat lebih efektif & masa kerja lebih lama serta efek samping yang lebih kecil dibandingkan dengan bentuk non selektif (adrenalin, efedrin dan isoprenalin) Obat-obat bronkodilator secara aerosol bekerja lebih cepat & efek samping sistemik lebih kecil. Baik untuk digunakan pada anak/ dewasa dengan sesak nafas yang berat. Mula-mula diberikan 2 sedotan dari suatu metered aerosol devise(Alupent ) metered aerosol).Jika penilaian 10-15 menit tidak menunjukkan perbaikan dapat diulang tiap 2 jam.Jika pada penilain 10 - 15 menit berikutnyatidak menunjukkan perbaikan, berikan aminofilin IV Obat-obat bronkodilator simpatomimetik secara perenteral : Pada dewasa : dicoba dengan 0,3 ml larutan epineferin 1:1000 secara SC Pada anak : diberikan dengan dosis 0,01 mg/KgBB secara SC (1mgr/ ml) dapat diulangi tiap 30 menit, 2-3 kali tergantung kebutuhan. Pemberian Aminofilin IV ; dewasa/ anak : dosis awal 5,6 mg/KgBB yang disuntikkan secara perlahan-lahan dalam 5-10 menit. selanjutnya dosis penunjang : 0,9 mg/KgBB/Jam yang diberikan infus 2. Kortikosteroid Jika pemberian obat-obat bronkodilator tidak menunjukkan perbaikan, dilanjutkan dengan kortikosteroid: 200 mg hidrokortison atau dosis 3-4 mg/kgBB, IV dapat diulang tiap 2-4 jam parenteral sampai serangan akut terkontrol, diikuti 30-60 mg prednison atau dosis 1-2 mg/KgBB/Hari Oral, dosis terbagi lalu diturunkan perlahan-lahan

Tujuan

Prosedur

99

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Prosedur

PENANGANAN PASIEN DENGAN STATUS ASMATIKUS

Halaman :

3. Oksigen Pemberian oksigen dapat melalui kanula hidung dengan kecepatan aliran O2 2-4 Liter/ menit dan dialirkan melalui air untuk memberi kelembaban.

100

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Pengertian

PENANGANAN TRAUMA KEPALA


Halaman : Trauma kepala adalah keadaan pasien dimana diakibatkan oleh benturan benda tumpul atau tajam sehingga menyebabkan gangguan neurologis pada pasien. Sebagai acuan petugas medis dan paramedis IGD dalam menangani kasus trauma kepala Semua petugas medis dan paramedis di IGD dan perawat yang memahami tata laksana penanganan penyakit trauma kepala sesuai dengan prosedur. 1. Pasien datang ke IGD dengan trauma kepala, segera ditidurkan ke meja tindakan resusutasi. Lakukan tindakan ABC (Airway, Breathing, Circulation) 2. Lakukan auto anamnesa/ alloanamnesa dengan teliti terutama cara, tempat, waktu, keadaan pasca kejadian (pingsan, muntah, kejang,pusing-pusing) 3. Rawat luka sebagaimana mestinya. Jika di kepala, cukur rambut sekitarnya sebelum dilakukan tindakan. Jika dasar cranium patah /impresi ada jaringan otak lakukan jahit situasi. 4. Buat diagnosis : tentukan tingkat kesadaran (Glasgow Coma Scale) serta jenis cedera jenis kepala (ringan, sedang, berat) atau Comotio cerebri, Contusio cerebri, Contusio batang otak atau mungkin terjadi komplikasi EDH, SDH 5. Tentukan diagnosa trauma tubuh lain dan ada tidaknya penyakit lain sebelum trauma 6. Lakukan pemeriksaan CT Scan kepala jika : * GCS 4-8 * GCS > 8 dengan riwayat lucide interval / anisokor / bradikardi atau gelisah sekali karena kesakitan kepala, muntah terus atau kejang 7. Pasien dikirim ke kamar bedah / ruangan / ICU dalam keadaan stabil 8. Sertakan rekaman medik penderita yan telah diisi lengkap

Tujuan

kebijakan

Prosedur

Unit Terkait Instalasi Gawat Darurat intalasi keperawatan

101

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP

PENANGANAN TRAUMA THORAX


Halaman : Trauma thorax adalah suatu bentuk kegawatdaruratan di bidang bedah karena adanya trauma , baik trauma tumpul maupun tajam yang mengenai thorax dan dapat mengancam nyawa pasien.

Pengertian sebagai acuan dalam penanganan trauma Thorax Kebijakan prosedur RS menetapkan standar pelayanan medis dalam bidang keilmuan Pada trauma thorax secara cepat harus dilakukan penilaian mengenai airway, Breathing dan circulation A. Prosedur Diagnosis a. Anamnesa * adanya riwayat trauma * mengeluh sakit dada * mengeluh sesak nafas b. Pemeriksaan klinis * penderita nampak sesak nafas * takikardi * tekanan darah menurun * sianosis * pada hemi thorax yang tekena, suara paru hipersonor dan vesikuler menghilang c. Pemeriksaan penunjang * terapi tension pneumothorax tidak boleh terhambat oleh karena pemeriksaan radiologis * pemeriksaan penunjang yang diperlukan adalah X-foto thorax d. penanganan * segera dilakukan pemasangan jarum ukuran besar pada sela iga ke-2 linea midcalvicularis. B. Open pneumothorax 1. Prosedur Diagnosis : a. Anamnesa adanya riwayat trauma dada b. pemeriksaan klinis * adanya defek atau luka terbuka di daerah dada * penderita kesakitan * sesak nafas sampai sianosis 2. penanganan 102

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Prosedur

PENANGANAN TRAUMA THORAX


Halaman : a. Penanganan awal meliputi menutup luka dengan kasa steril yang diplester pada tiga sisi saja b. segera pasang selang WSD c. setelah terpasang WSD, luka pada dada ditutup. C. Flail Chest 1. Prosedur Diagnosis : a. Anamnesa * adanya riwayat trauma di daerah dada * sakit dada * sesak nafas b. pemeriksaan Fisik * adanya jejas di thorax * adanya fraktur tulang iga multiple pada dua atau lebih tulang iga dengan dua atau lebih garis fraktur. * terlihat adanya segmen 'Flail chest' * penderita dispnoe 2. Penanganan a. stabilisasi segment flail dan pemberian analgetik b. pemasangan ventilator

D. Hemothorax 1. Prosedur Diagnosis : a. anamnesa * adanya riwayat trauma * sakit dada * penderita sesak nafas b. Pemeriksaan klinis : * adanya jejas atau luka di daerah dada * bila terjadi masif hemothorax, penderita nampak anemi * sesak nafas * pada sisi dada yang mengalami trauma suara nafas menghilang dan perkusi pekak * bila terjadi masif hemothorax akan ditemukan tanda-tanda shock hipovolemik. 2. Penanganan Penanganan awal berupa dekompresi rongga pleura dengan WSD bersama-sama dengan pemasangan infus. Unit Terkait IGD, Semua Instalasi atau ruangan pelayanan keperawatan 103

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Pengertian

PENANGANAN TRAUMA ABDOMEN


Halaman : Trauma di daerah abdomen meliputi trauma di daerah abdomen yang dapat diakibatkan oleh trauma tumpul dan tajam. Manifestasi klinis yang ditimbulkan tergantung dari kerusakan organ, bisa berupa intra abdominal, bleeding, peritonitis umum/ hematom sebagai acuan dalam penanganan trauma abdomen RS menetapkan standar pelayanan medis dalam bidang keilmuan Pada pasien trauma harus dipastikan dahulu bahwa airway, breathing dan circulation terjamin 1. Anamnesa a. Adanya riwayat trauma b. Nyeri perut yang hebat, bisa terlokalisir atau menyeluruh c. Perut kembung, bisa disertai mual dan muntah d. Perut kembung, bisa disertai mual dan muntah e. Bila disertai febris, bisa mengarah ke proses peritonitis atau kejadian sudah relatif lama f. Penderita tidak bisa flatus dan BAB, kencing baisanya sedikit. g. Bila kencing berwarna merah, organ tractus urinarius mengalami trauma. 2. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan vital sign sangat penting, pastikan airway, breathing dan circulation baik dan circulation baik. a. Inspeksi * adanya jejas di abdomen * adanya perut distensi * anemia menunjukkan terjadi proses perdarahan b. Palpasi c. Perkusi * nyeri ketok di abdomen * pekak alih positif * pekak sisi meninggi * pekak hepar menghilang, menunjukkan adanya pneumo peritonium d. Auskultasi suara usus melemah sampai menghilang e. Colok dubur Nyeri seluruh lapangan pada pemeriksaan colok dubur dapat menunjuk kan proses peritonitis 3. Pemeriksaan penunjang a. Pemeriksaan laboratorium darah rutin (Hb, leukosit, trombosit) dan 104

Tujuan Kebijakan Prosedur

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP

PENANGANAN TRAUMA ABDOMEN

Halaman : pemeriksaan colok dubur dapat menunjukkan proses peritonitis b. Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan ini dilakukan bila keadaan airway, breathing, circulation (hemodinamik) sudah stabil : pemeriksaan yang sudah dilakukan adalah # X ray / foto abdomen # USG abdomen 4. Penatalaksanaan a) preoperatif ^ Pasang infus untuk resusitasi cairan ^ Pasang NGT ^ Pasang kateter urine b) Tindakan operatif Tindakan operatif atau non operatif dilakukan tergantung pada diagnosa yang ditemukan Unit Terkait 1. Instalasi Gawat darurat 2. semua Instalasi/ ruangan yang menyelenggarakan pelayanan keperawatan.

105

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PENANGANAN PASIEN ILEUS OBSTRUKSI

Halaman : Ileus obstruksi merupakan suatu keadaan dimana isi usus tidak dapat melewati (pasage) usus secara normal. sebagai acuan dalam penanganan ileus obstruksi RS menetapakan standar pelayanan medis dalam bidang keilmuan 1. Anamnesa a. Keluhan pasien bermacam-macam tergantung letak dari obstruksi b. Secara umum didapatkan keluhan mual, muntah, distensi perut, nyeri dan tidak dapat flatus dan mungkin didapatkan demam c. Riwayat kebiasaan BAB sebelumnya dapat membantu diagnosis 2. Pemeriksaan fisik a. Inspeksi : Abdominal distensi, gambaran dan gerakan usus nampak, tanda-tanda dehidrasi mungkin ditemukan massa di inguinal atau diabdomen, anemia mungkin ditemukan. b. Palpasi : Turgor kulit mungkin menurun, nyeri tekan dan mungkin ditemukan massa di inguinal atau diabdomen. Adanya defane muskular berarti sudah terjadi strangulasi / perforasi organ usus. c. Perkusi : hipertimpani. Adanya nyeri ketok mungkin disebabkan adanya perforasi. d. Auskultasi : Biasanya suara usus meningkat dan didapatkan metalic sound, suara usus yang negatif berarti sudah terjadi paralitik. e. Colok dubur : Dari pemeriksaan ini mungkin didapatkan adanya massa di daerah anus atau rectum sebagai penyebab obstruksi. 3. Pemeriksaan penunjang a. Laboratorium darh rutin, bila perlu pemeriksaan elektrolit ureum creatinin tergantung kondisi pasien. b. Pemeriksaan X-foto * X-Foto BNO 3 posisi akan didapatkan gambaran dilatasi usus atau colon multiple air fluid level * X-foto colon inloop, dikerjakan tergantung kebutuhan pasien.

Tujuan Kebijakan Prosedur

106

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP

PENANGANAN PASIEN ILEUS OBSTRUKSI

Halaman :

4. Penatalaksanaan 1) Preoperatif a. pasang infus ringer lactat untuk mengoreksi dehidrasi b. pasang NGT c. pasang kateter urine, untuk mengukur produksi urine. d. pemberian antibiotika preoperatif 2) Pada ileus obstruksi yang disebabkan karena adhesi maka cukup dilakukan pemasangan NGT, koreksi dehidrasi dengan pemasangan infus, pemasangan kateter. Tindakan konservatif ini dilakukan selama 2x24 jam, bila tindakan ini gagal maja dilakukan tindakan operatif. 3) Tindakan operatif a. Tindakan sangat tergantung oleh penyebab dari obstruksi b. Bila obstruksi kemungkinan besar disebabkan oleh masa/proses intra abdomen maka dilakukan tindakan laparatomi explorasi c. Bila obstruksi kemungkinan disebabkan oleh hernia externa maka cukup dilakukan koreksi hernia. Unit Terkait Instalasi Gawat darurat semua instalasi/ ruangan yang menyelenggarakan pelayanan keperawatan.

107

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PENANGANAN PASIEN KRISIS HIPERTENSI

Halaman : Krisis hipertensi adalah hipertensi yang (sering) sangat meningkat & dengan tekanan darah diastolik >120 mmHg. Hipertensi ini memerlukan penurunan tekanan darah segera meskipun tidak perlu menjadi normal, untuk mencegah atau membatasi terjadinya kerusakan organ sasaran. Sebagai acuan petugas medis dan paramedis di IGD dalam menangani kasus krisis hipertensi Semua petugas medis & paramedis di IGD dan perawatan dapat memahami tata laksana penanganan penyakit krisis hipertensi sesuai dengan prosedur yang berlaku 1. Anamnesa a. Riwayat penyakit sebelumnya hipertensi , jantung, ginjal b. Keluhan sakit kepala yang hebat c. Perdarahan dari hidung/epistaxis d. Gangguan neurologis, perubahan mental e. Kegagalan jantung kiri 2. Pemeriksaan fisik a. Kesadaran dapat menurun, tensi diastolik > 120 mmHg b. Takikardi, pelebaran vena leher c. Pupil edema, perdarahan fundus d. Gangguan neurologis dan perubahan mental 3. Pemeriksaan penunjang a. Pemeriksaan EKG b. Pemeriksaan radiologi " Thorax" c. Laboratorium, darah rutin, fungsi ginjal elektrolit d. Funduskopi 4. Identifikasi pasien dan pengantarnya a. Hipertensi essensial b. Hipertensi sekunder 5. Penatalaksanaan Tirah baring, diet rendah garam. Menurunkan tekanan secepat dan seaman mungkin, dengan : a. Nifedipin sublingual 15 mg, tunggu 15 menit bisa diulang 2 kali b. Furosemid IV 20 mg dosis awal s/d 100 mg IV, cukup satu kali pemberian c. Obat anti hipertensi yang lain sesuai indikasi : # Kelainan jantung aman, dipakai golongan Ace Inhibitor (Captopril) # Kelainan ginjal aman, dipakai golongan Ca-Antagonis (Adalat) 108

Tujuan

kebijakan

Prosedur

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP

PENANGANAN PASIEN KRISIS HIPERTENSI


6. Konsultasi a. Spesialis penyakit dalam b. Spesialis mata c. Spesialis kebidanan 7. Perawatan RS : Rawat inap semua kasus krisis hipertensi 8. Penyulit a. CVD / stroke b. Payah jantung c. Infark miokard d. Payah ginjal e. gangguan penglihatan 9. Tenaga standar : a. Perawat terlatih b. Dokter umum terlatih

Halaman :

Unit terkait

Instalasi Gawat darurat Instalasi keperawatan

109

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS

PROSEDUR TETAP Pengertian

PENANGANAN PASIEN OEDEMA PARU

Halaman : Oedema paru adalah keadaan dimana paru-paru terendam oleh sejumlah besar cairan sehingga menyebabkan fungsi kiri abnormal atau peningkatan membran kapiler Sebagai acuan petugas medis dan paramedis IGD dalam menangani kasus oedema paru. Semua petugas medis & paramedis di IGD dan perawatan dapat memahami tata laksanaan penanganan kasus oedema paru sesuai dengan prosedur yang berlaku 1. Segera baringkan penderita ke tempat tidur dengan posisi setengah duduk 2. Isap lendir dan beri O2 5-10 liter/menit 3. Berikan diuretika (furosemid/ Lasix 2 ampul IV) ukur tekanan darah, hati-hati terhadap kemungkinan hipotensi 4. Berikan aminophyllin bolus 1 ampul IV pelan, dilanjutkan dengan aminofilin drip per infus 5. Berikan kortikosteroid / oradexon 10-20 mg IV 6. Pemakaian morfin 2-5 mg/KgBB titrasi dengan hati-hati tiap 5-10 menit sampai tercapai efek yang diinginkan dan waspadai kemungkinan depresi pernapasan hipotensi. 7. Jika perlu morfin dapat diulang 4-6 jam 8. Pemberian digitalis dapat dipertimbangkan jika penderita selama 2 minggu terakhir jika penderita selama 2 minggu terakhir tidak mendapat digitalis 9. Pemeriksaan DGA dan lakukan koreksi seperlunya 10. Selanjutnya rawat inap Instalasi Gawat Darurat Instalasi perawatan

Tujuan

Kebijakan

Prosedur

Unit terkait

110

TANGGAL TERBIT RSU REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS PROSEDUR TETAP Pengertian

PENATALAKSANAAN STROKE
Halaman : Stroke adalah disfungsi cerebral (defisit neurologik) yang terjadi mendadak fokal atau global (penurunan kesadaran), disebabkan semata-mata gangguan pembuluh darah otak yang berlangsung lebih dari 24 jam atau meninggal, gangguan pembuluh darah otak diketahui dari ditemukannya faktor resiko stroke sebagai acuan dalam melaksanakan penatalaksanaan stroke adanya prosedur kasus yang mengancam jiwa 1. Anamnesa /alloanamnesa adanya defisit neurologik dan ditemukan faktor stroke 2, Periksa kesadaran dan fungsi vital 3. Jika perlu atasi dulu jalan napas, pernapasan dan sirkulasi 4. Posisi terlentang kepala 30 derajat 5. Beri oksigen 6. Pasang infus RL 12 tetes/menit 7. Jika perlu pasang dower kateter 8. Konsul dokter spesialis penyakit saraf 9. Jika penyebabnya infark : berikan pentoxyphillin (trental) 300 mgr (15 cc) dalam 500 cc RL kecepatan 12 tetes/menit, berikan juga piracetam (nootropil) 12 gr IV drip harus habis dalam 20 menit 11. Ranitidine 2x1 ampul IV 12. Atau sesuai instruksi dokter 13. Pemeriksaan penunjang Hb, lekosit, Gula Darah

Tujuan Kebijakan Prosedur

Unit Terkait IGD, Dokter spesialis saraf, laboratorium

111