Anda di halaman 1dari 3

Gede Padma Amrita 07700044

Epidemiologi Penyakit Menular Kolera


Kolera adalah penyakit diare parah yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae. Bakteri ini berbentuk batang atau bacill, bersifat Gram-negatif yang motilitasnya positif dan berbentuk kurva. Dari 139 serogroup O yang diketahui, hanya serogroup O1 (biotipe el tor dan klasik) dan O139 yang diketahui menyebabkan kolera epidemik. Di alam, Vibrio cholerae hidup di lingkungan akuatik, bertahan di air payau dan air karang. Penularan kepada manusia adalah dengan air atau makanan. Reservoir alami dari organisme tidak diketahui. Vibrio cholerae menghasilkan toksin kolera, merupakan salah satu jenis enterotoksin, yang bekerja pada epitel mukosa usus dan bertanggung jawab atas karakteristik penyakit diare kolera. Manusia merupakan satu-satunya pejamu alami untuk Vibrio cholerae. Dalam manifestasi ekstrim, kolera adalah penyakit yang sangat mematikan yang dapat menyerang anak-anak dan orang dewasa. Tidak seperti penyakit diare lainnya, orang yang sehat dapat menjadi hipotensi dalam waktu satu jam dari timbulnya gejala dan mungkin akan sampai pada tahap kematian dalam waktu 2-3 jam jika tidak segera mendapat perawatan atau pertolongan. Pada kasus umum, penyakit ini berawal dari kotoran cair pertama sampai shock dalam 4-12 jam, dengan kematian berikutnya dalam waktu 18 jam sampai beberapa hari. Individu dengan kekebalan rendah, seperti kekurangan gizi anak-anak atau orang yang hidup dengan HIV, memiliki risiko kematian lebih besar jika terinfeksi oleh kolera. Pada daerah endemik, air terutama berperan penting dalam penularan kolera; namun pada epidemik yang besar penularan juga terjadi melalui makanan yang terkontaminasi oleh tinja atau air yang mengandung Vibrio cholerae. Penularan dari manusia ke manusia dan dari petugas medis jarang terjadi. Pasien dengan infeksi ringan atau asimtomatik berperan penting pada penyebaran penyakit ini. Perbandingan antara penderita asimtomatik dengan simtomatik pada suatu epidemik diperkirakan 4:1 pada kolera Asiatik, sedangkan untuk kolera El Tor diperkirakan 10:1. Pada kolera El Tor angka karier sehat (pembawa kuman) mencapai 3%. Pada karier dewasa Vibrio cholerae hidup dalam kandung empedu. Prevalensi kolera di daerah endemik pada anak yang lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa yaitu 10:1. Pada orang dewasa, insidens pada pria lebih tinggi daripada wanita. Pada keadaan epidemis, insidens tidak berbeda pada kelompok umur ataupun jenis kelamin tertentu. Penyakit ini ditandai dengan diare yang sangat berat yang dapat menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit dan hipovolemia, dengan angka kematian ( mortality rate) yang berkisar dari < 1% hingga 40%. Terdapat spektrum yang luas mulai dari yang asimtomatik, ringan, hingga berat. Masa inkubasinya sendiri berlangsung antara 16-72 jam. Manifestasi klinis yang khas dari penyakit ini, yaitu diare, biasanya tanpa didahului oleh rasa mulas maupun tenesmus. Dalam waktu singkat tinja yang semula berwarna dan berbau feses berubah menjadi cairan putih keruh (seperti air cucian beras), tidak berbau busuk maupun amis, tapi manis menusuk. Muntah timbul kemudian setelah diare, dan berlangsung tanpa didahului mual. Pada kurang lebih 10% bayi dan anak-anak, dapat dijumpai kejang stupor, yang disebabkan hipoglikemia. Gejala dan tanda kolera terjadi akibat kehilangan cairan dan elektrolit serta asidosis. Tanda-tanda dehidrasi tampak jelas, seperti nadi dan nafas menjadi cepat, suara

serak (vox cholerica), turgor kulit menurun, mulut menyeringai karena karena bibir kering, perut cekung (skafoid), dan washer woman hands. Diare akan bertahan hingga 5 hari pada pasien yang tidak diobati. Enam pandemik (epidemik seluruh dunia) kolera muncul antara tahun 1817 dan 1923, yang paling banyak disebabkan oleh Vibrio cholerae O1 biotipe klasik dan sebagian besar berasal dari wilayah Asia yang biasanya merupakan anak benua India. Pandemik yang ke tujuh dimulai pada tahun 1961 di pulau Sulawesi, Indonesia, dengan penyebarannya ke daerah Asia, Timur Tengah, dan Afrika, termasuk di dalamnya Bangladesh pada tahun 1963, India tahun pada tahun 1964, dan Uni Soviet, Iran, dan Iraq pada tahun 1965-1966. Pandemik ini disebabkan oleh Vibrio cholerae biotipe El Tor. Pada tahun 1970 kolera menyebar ke Afrika Barat, suatu wilayah yang belum pernah mengalami penyakit ini selama lebih dari 100 tahun. Penyakit ini menyebar ke beberapa negara dan menjadi endemik pada banyak benua. Mulai tahun 1991, pandemik ke tujuh menyebar ke Peru lalu ke negara lain di Amerika Selatan dan Amerika Tengah, di mana penyakit ini sebenarnya telah hilang selama lebih dari satu abad. Kasus-kasus serupa juga muncul di Afrika. Jutaan orang telah menderita kolera dengan pandemik ini dan dalam waktu setahun penyakit ini telah menyebar ke 11 negara kemudia secara cepat menyebar lintas benua. Sampai tahun 1992, hanya serogroup Vibrio cholerae O1 yang menyebabkan epidemik kolera. Serogroup yang lainnya dapat menyebabkan kasus-kasus diare yang sporadik, tapi tidak dapat menyebabkan diare. Pada akhir tahun 1992 terjadi ledakan kasus kolera dimulai di India dan Bangladesh yang disebabkan oleh serogroup Vibrio cholerae yang sebelumnya belum teridentifikasi. Beberapa ada yang beranggapan bahwa kolera ini disebabkan oleh strain serotype O139 yang kemudian menjadi pandemik ke delapan yang dimulai di anak benua India pada tahun 1992-1993, dengan penyebaran ke Asia. Penyakit ini jarang terjadi di Amerika Utara sejak pertengahan tahun 1800, tetapi terdapat fokus endemik di Pantai Teluk Louisiana dan Texas. Sejak tahun 2005, munculnya kembali kolera telah dicatat secara paralel dengan semakin besarnya penduduk yang rentan hidup dalam kondisi yang tidak sehat. Kolera masih merupakan ancaman global terhadap kesehatan masyarakat dan salah satu indikator kunci pembangunan sosial. Walaupun penyakit ini tidak lagi menjadi masalah di negara-negara di mana standar-standar kebersihan minimal terpenuhi, itu tetap menjadi ancaman di hampir setiap negara berkembang. Jumlah kasus kolera yang dilaporkan ke WHO selama tahun 2006 meningkat secara drastis, mencapai tingkat akhir 1990-an. Sebanyak 896 kasus dari 236 diberitahu dari 52 negara, termasuk 6.311 kematian, keseluruhan peningkatan 79% dibandingkan dengan jumlah kasus yang dilaporkan pada tahun 2005. Ini peningkatan jumlah kasus merupakan hasil dari beberapa wabah besar yang terjadi di negara-negara di mana kasus tidak dilaporkan selama beberapa tahun. Diperkirakan bahwa hanya sebagian kecil kasus - kurang dari 10% - dilaporkan ke WHO. Kolera bersifat endemik di India dan Asia tenggara. Dari kedua tempat ini, kolera tersebar melalui jalur penerbangan, rute perdagangan, dan rute migrasi haji. Penyakit ini disebabkan melalui kontak dengan orang yang sakit ringan atau baru saja sakit, atau melalui air, makanan, dan lalat. Biasanya hanya 1-5% dari orang rentan yang terpajan dengan kolera yang akan menjadi sakit. Stadium carrier jarang melebihi 3-4 minggu, dan jarang ditemukan carrier kronik sejati. Vibrio dapat hidup dalam air sampai 3 minggu. Di antara orang-orang yang mengalami perkembangan gejala, 80% dari kasus keseluruhan adalah dari keparahan ringan atau sedang. Di antara kasus-kasus yang tersisa, 10% -20% parah diare berair dengan tanda-tanda dehidrasi. Jika tidak diobati, sebanyak satu dari dua orang bisa mati. Dengan pengobatan yang tepat, maka tingkat kematian harus tetap di bawah 1%.

Langkah-langkah untuk pencegahan kolera belum banyak berubah dalam beberapa dekade terakhir, dan sebagian besar terdiri dari penyediaan air bersih dan sanitasi yang layak untuk populasi yang berpotensi terkena dampak. Pendidikan kesehatan dan kebersihan makanan yang baik sama pentingnya. Secara khusus, sistematis mencuci tangan harus diajarkan. Setelah wabah terdeteksi, strategi intervensi yang biasa adalah untuk mengurangi angka kematian dengan memastikan segera akses terhadap pengobatan dan mengendalikan penyebaran penyakit. Sebagian besar pasien - hingga 80% - dapat diobati secara memadai melalui administrasi garam rehidrasi oral (WHO / UNICEF ORS sachet standar). Pasien yang mengalami dehidrasi berat diobati melalui administrasi infus cairan, sebaiknya Ringer laktat. Antibiotik yang tepat dapat diberikan untuk kasus-kasus yang parah untuk mengurangi durasi diare, mengurangi volume cairan rehidrasi yang dibutuhkan dan memperpendek durasi ekskresi vibrio. Perawatan rutin masyarakat dengan antibiotik, atau "chemoprophylaxis massa", tidak berpengaruh pada penyebaran kolera dan dapat memiliki efek dengan meningkatkan resistensi antimikroba. Dalam rangka untuk menjamin akses yang tepat waktu untuk pengobatan, pusat-pusat perawatan kolera harus ditetapkan di antara penduduk yang memiliki kemungkinan besar terkena bencana kapan saja. Penyediaan air bersih dan sanitasi merupakan tantangan yang berat, tetapi tetap menjadi faktor penting dalam mengurangi dampak dari wabah kolera. Fitur metode pengendalian, termasuk kasus standar manajemen, telah terbukti efektif dalam mengurangi tingkat kematian kasus. Data surveilans komprehensif sangat penting untuk memandu intervensi dan menyesuaikan diri mereka untuk setiap situasi yang spesifik. Selain itu, pencegahan dan pengendalian kolera bukanlah isu yang harus ditangani oleh sektor kesehatan sendirian. Air, sanitasi, pendidikan dan komunikasi di antara sektor-sektor lain biasanya terlibat. Pendekatan multidisiplin yang komprehensif harus dilakukan untuk mengatasi wabah kolera yang potensial.