Anda di halaman 1dari 3

Kawan atau Lawan ?

Jupiter tidak mengurangi risiko asteroid dan


komet menabrak bumi.

Selama lebih dari satu dekade, Jupiter


dianggap sebagai perisai antariksa bagi bumi.
Para astronom percaya planet raksasa itu
menangkis asteroid dan komet menjauhi tata
surya bagian dalam.

Gaya tarik gravitasi planet gas itu dipercaya


bisa melontarkan semua obyek yang
mengancam bumi keluar dari tata surya.
Tindakan Jupiter itu melindungi saudara kecilnya, bumi, dari kemungkinan
tabrakan dan membantu mendukung kehidupan di dalamnya.

Namun, peran kakak melindungi adik kecilnya itu kini dipertanyakan. Sebuah
studi pendahuluan mengindikasikan bumi bisa melindungi diri sendiri dengan
cara serupa--bahkan lebih baik--tanpa bantuan Jupiter.

Hasil studi itu dipresentasikan pada European Planetary Science Congress di


Potsdam, Jerman, akhir pekan lalu. Disebutkan bahwa bumi akan dihantam oleh
sedikitnya satu kelas obyek langit, tanpa menghiraukan ada tidaknya Jupiter di
sisinya.

Temuan itu jelas masih sementara, kata Jonathan Horner, astronom di Open
University di Milton Keynes yang memimpin studi tersebut. Namun, dia
menambahkan, peran Jupiter sebagai pelindung ada kemungkinan terlalu
berlebihan. "Kelihatannya gagasan itu tak terlalu meyakinkan," ujarnya.

Ide Jupiter sebagai pembela bumi pertama kali diusulkan oleh ilmuwan planet,
George Wetherill, pada 1994. Wetherill menunjukkan bahwa massa planet yang
318 kali lebih besar dari bumi itu cukup kuat untuk melontarkan komet yang
mungkin menabrak bumi keluar dari tata surya.

Beberapa ilmuwan lain juga "mendalilkan" bahwa Jupiter menapis kerumunan


asteroid berbahaya dan obyek lain sehingga membuat bumi menjadi tempat
tinggal yang lebih aman. Studi lain justru menyatakan bahwa perubahan orbit
Jupiter pada masa lalu ada kemungkinan justru meningkatkan jumlah obyek
yang bakal menabrak bumi. Sampai saat ini, kata Horner, baru sedikit upaya
yang dilakukan untuk menguji mana gagasan yang benar.

Dalam sebuah upaya untuk menguji itulah Horner dan rekannya, Barrie Jones,
membangun sebuah model komputer untuk menguji beberapa versi tata surya
pada cluster komputer Open University. Versi pertama dengan satu Jupiter

http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?artikel&1188395857&15
dengan massa sebenarnya, versi kedua tanpa planet itu, dan yang lainnya
dengan satu planet gas raksasa dengan massa seperempat, setengah, atau tiga
perempat massa Jupiter.

Sistem itu juga berisi 100 ribu centaur, benda antariksa berukuran besar dan
dingin dari sabuk Kuiper. Populasi induk dari keluarga komet Jupiter ini terletak
dekat Pluto.

Setelah menjalankan model-model tata surya itu selama 10 juta tahun virtual,
Horner dan Jones menemukan sejumlah hasil yang mengejutkan. Bumi
berpeluang lebih dari 30 persen untuk ditumbuk satu centaur dalam sebuah tata
surya dengan satu planet seukuran Jupiter ketimbang sistem tanpa planet
Jupiter.

Bencana lebih parah bakal dialami bumi ketika ada planet berukuran menengah
di lokasi yang ditempati Jupiter. Jupiter, dalam versi yang lebih ringan, membantu
menarik centaur ke dalam tata surya bagian dalam, tapi tak punya cukup
gravitasi untuk melempar mereka keluar. Akibatnya, sebuah planet berukuran
seperempat massa Jupiter memperbesar kemungkinan bumi ditabrak asteroid
atau komet sampai 500 persen bila dibandingkan dengan sistem tanpa ada
planet di situ.

Bila tak ada planet raksasa sebesar Jupiter, centaur tak akan terbelokkan ke
dalam orbit melintasi bumi. Alhasil, persentase tumbukan dengan bumi pun
menjadi rendah.

Sedangkan kehadiran planet sebesar massa Saturnus (sepertiga kali Jupiter)


akan menghasilkan gaya tarik gravitasi yang memasukkan obyek langit ke dalam
orbit yang melintasi bumi. Tapi gravitasinya tak cukup besar untuk bisa
melontarkannya dari tata surya. Ini berarti akan ada lebih benda langit yang
berada pada orbit melintasi bumi serta kemungkinan tabrakan lebih besar.

Meski hasil studi Horner ini cukup meyakinkan, tak semua astronom
mengiyakannya. Mark Bailey, Direktur Armagh Observatory di Irlandia Utara dan
pakar asteroid penabrak bumi, menyatakan Horner lalai mempertimbangkan
kemampuan Jupiter menangkis benda-benda penabrak bumi dari awan Oort,
sebuah awan komet raksasa yang mengelilingi tata surya.

Horner juga tak memperhitungkan faktor sumber asal datangnya tabrakan, kata
Alessandro Morbidelli, astronom di Observatoire de la Cote d'Azur, di Nice,
Prancis. Sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter memang ancaman paling besar,
tapi ada benda langit lain yang melintasi bumi dalam tata surya.

Morbidelli menyatakan, untuk benar-benar memahami peran Jupiter sebagai


pelindung, memerlukan sebuah kalkulasi bagaimana pengaruh planet itu

http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?artikel&1188395857&15
terhadap banyak obyek yang lebih kecil. "Itu hal yang jauh lebih rumit untuk
dilakukan," kata Morbidelli.

Menjawab tantangan tersebut, Horner dan timnya akan segera membuat


simulasi yang melibatkan awan komet Oort dan obyek-obyek dari sabuk asteroid.
Simulasi ini juga akan menghitung risiko tumbukan asteroid dengan bumi dan
menguji peran posisi Jupiter dalam tata surya.

http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?artikel&1188395857&15