Anda di halaman 1dari 4

misteri monopol magnet

Mungkinkah Misteri "Monopole" Magnet Telah Terungkap??????

"... dalam batu ini kamu harus mengerti dengan hati-hati bahwa ada
dua titik yang salah satunya dipanggil kutub utara, yang lainnya
kutub selatan." - Petrus Peregrinus (1269 AD)

KETIDAKSEMPURNAAN simetri antara medan listrik dan medan magnet


adalah suatu kejanggalan alam yang masih menjadi misteri sampai saat
ini. Listrik dan magnet sebenarnya adalah sama. Jika sebuah kawat
dialiri listrik, di sekeliling kawat itu akan tercipta medan magnet.
Jika magnet bergerak di dekat sebuah kumparan kawat tertutup, akan
tercipta aliran listrik pada kumparan kawat tersebut.

Medan listrik permanen ada karena adanya partikel yang bermuatan


listrik, seperti elektron atau proton. Namun, medan magnet permanen
selalu ada jika kutub utara dan selatan ada secara bersama-sama.
Tidak peduli seberapa kecil kita memenggal batang magnet, yang kita
dapatkan pada penggalan magnet yang lebih kecil adalah selalu
pasangan dua kutub magnet, utara dan selatan. Kita tidak pernah
menemukan satu kutub magnet terpisah, utara atau selatan. Kutub
magnet yang terpisah inilah yang disebut monopole (mono=tunggal,
pole=kutub) magnet.

Adalah Paul Dirac, seorang fisikawan kelahiran Bristol, Inggris, pada


tahun 1902, yang pertama kali mengajukan konsep tentang adanya kutub
tunggal magnet-sebuah partikel hipotesis yang memiliki kutub magnet
terisolasi utara atau selatan-di tahun 1931.

Dirac yang memenangkan hadiah Nobel fisika pada tahun 1933 ini
mengajukan hipotesis bahwa keberadaan partikel magnet ini akan
menjelaskan mengapa muatan listrik selalu memiliki besar yang
merupakan kelipatan muatan partikel elektron. Pada tahun 1931 inilah
pencarian partikel elementer magnet dimulai.

Di dalam fisika klasik, fenomena medan listrik dan magnet berhasil


dipadukan oleh fisikawan berkebangsaan Skotlandia yang bernama Max-
Well. Ia memadukan kedua medan listrik dan magnet ke dalam empat
persamaan terkenal yang disebut persamaan Max-Well.

Dua dari empat persamaan Max-Well ini berisi Hukum Faraday dan
Ampere. Hukum Faraday menyatakan terciptanya medan listrik dari
perubahan fluks magnet, sedangkan Hukum Ampere menjelaskan
terciptanya medan magnet dari adanya aliran listrik.
Dua persamaan lainnya berisi Hukum Gauss untuk medan listrik dan
medan magnet. Hukum Gauss untuk medan listrik merujuk kepada adanya
muatan listrik tunggal, seperti elektron dan proton. Sementara itu,
Hukum Gauss untuk medan listrik merujuk kepada tidak adanya muatan
tunggal magnet.

Keanehan persamaan Max-Well adalah keempatnya melibatkan muatan dan


aliran listrik, tetapi tidak melibatkan muatan dan aliran magnet.
Kenyataan ini disebut ketidaksimetrisan persamaan Max-Well. Untuk
membuat persamaan Max-Well simetris inilah, Dirac mengajukan
hipotesis tentang keberadaan monopole magnet.

Kesimetrisan antara medan listrik dan magnet dikenal sebagai prinsip


dualitas elektromagnetik. Jika prediksi Dirac benar, monopole magnet
ini akan memiliki muatan magnet yang berbanding terbalik dengan
muatan elektron, sebuah kondisi yang dikenal sebagai Kuantisasi Dirac.

Walaupun terlihat meyakinkan dan elegan secara teori, namun monopole


magnet ini sangat sulit ditemukan. Pencarian yang melibatkan
fisikawan dan fasilitas eksperimen di seluruh dunia ini belum juga
membuahkan hasil seperti yang diprediksi.

Pencarian "monopole" magnet dengan teori partikel

Pencarian monopole Dirac dilakukan melalui fasilitas pemercepat


partikel seperti fasilitas pemercepat partikel Fermi di Chicago.
Pengamatan langsung dilakukan dengan cara menyelimuti daerah
interaksi tumbukan proton dan antiproton dengan lembaran plastik.
Secara tidak langsung, pengamatan juga dilakukan dengan membuang
berkas proton ke dalam bahan ferromagnetik, yang kemudian diletakkan
di dalam medan magnet yang sangat besar untuk "menarik" monopole
keluar dari daerah interaksi tersebut.

Pencarian ini juga dilakukan dengan menggunakan sinar kosmis. Usaha


ini dimotivasi oleh prediksi teori penggabungan agung atau GUT. Pada
tahun 1974, secara terpisah, Gerald t'Hooft dari Belanda dan
Alexander Polyakov dari Rusia menyatakan bahwa monopole magnet
diperlukan sebagai penyelesaian persamaan matematika bagi GUT ini.
GUT adalah teori fisika sedang diusahakan untuk menggabungkan antara
gaya elektromagnetik, inti lemah, dan inti kuat.

Sayangnya, monopole magnet diprediksikan oleh GUT memiliki massa yang


sangat berat. Dalam satuan energi, massa ini berskala 1016 giga
elektronvolt, suatu skala energi yang tidak mungkin dicapai oleh
laboratorium pemercepat partikel mana pun di dunia ini. GUT juga
memprediksikan bahwa kepadatan monopole magnet ini sama besarnya
dengan kepadatan atom di alam semesta. Kenyataan pengamatan lapangan
menunjukkan sebaliknya bahwa tidak satu pun monopole magnet
ditemukan. Dalam kosmologi, kontradiksi ini dikenal sebagai "masalah
monopole".

Dalam teori kosmologi, medan magnet dalam solar sistem dan dalam
galaksi kita akan mempercepat monopole magnet dari luar angkasa untuk
tiba di bumi dengan kecepatan yang berkisar dari 0,0001 sampai 0,01
kali kecepatan cahaya. Menurut fisikawan partikel, kecepatan ini
termasuk rendah.

Oleh karena itu, hal termudah untuk mendeteksi sesuatu yang


berkecepatan rendah adalah dengan membangun detektor yang cukup besar
dan mengamati adakah sesuatu yang melintasi detektor ini dengan waktu
yang cukup lama. Salah satu fasilitas semacam ini bernama MACRO.
Detektor ini memiliki daerah penerimaan seluas sepuluh ribu meter
persegi pada kedalaman rata-rata 3,8 km di bawah daerah Pegunungan
Gran Sasso, Italia.

Mencari "monopole" di ruang momentum

Karena kegagalan eksperimen untuk menemukan monopole magnet selama


ini, seorang fisikawan Jepang yang bernama Yoshinori Tokura
mengalihkan pencarian tersebut ke tempat yang tidak mendapatkan
perhatian fisikawan selama ini. Tempat ini disebut ruang momentum.

Ruang momentum bukanlah ruang yang riil, melainkan ruang matematika.


Setiap obyek akan menempati ruang dan memiliki kecepatan-jika sebuah
obyek berhenti, itu berarti obyek tersebut memiliki kecepatan nol.
Besaran yang berasal dari perkalian antara massa dan kecepatan obyek
tadi disebut besaran momentum. Jika kita berlari dengan kecepatan
tertentu, semakin cepat kita berlari, semakin sulit pula kita
berhenti. Hal yang membuat kita sulit berhenti inilah yang disebut
sebagai kuantitas gerak atau momentum.

Kecepatan dan posisi atau koordinat partikel bisa dijadikan label


untuk menentukan perilaku partikel tadi. Ruang dengan label lokasi
adalah ruang riil, sedangkan ruang dengan label momentum adalah ruang
matematika. Banyak fenomena fisika lebih mudah dipelajari jika
fenomena tersebut ditempatkan di dalam ruang momentum ini.

Tokura dan rekan-rekan kerjanya termotivasi oleh teori dalam fisika


zat padat yang dikembangkan akhir-akhir ini. Teori ini menyarankan
bahwa perilaku monopole magnet dalam ruang momentum berhubungan dekat
dengan apa yang dikenal sebagai anomali pada efek Hall.

Tokura dan rekan-rekannya melakukan eksperimen dengan menempatkan


kristal dengan kualitas yang tinggi yang terbuat dari stronsium,
ruthenium, dan oksigen dalam medan magnet pada sumbu koordinat z, dan
kemudian mengukur resistivitas transverse pada arah sumbu y
sebagaimana aliran listrik mengalir pada arah sumbu x. Mereka
menemukan bahwa resistivitas ini tidak berubah secara linier terhadap
suhu sebagaimana diharapkan, tetapi berubah-ubah dan bahkan berubah
tanda-negatif atau positif.

Tim ini juga mengukur konduktivitas optis transverse film tipis yang
terbuat dari kristal yang sama dengan menggunakan teknik yang dikenal
sebagai mikroskopi Kerr resolusi tinggi. Dalam pengukuran tadi,
mereka menemukan kurva dengan puncak tajam pada energi yang rendah.
Menurut Tokura dan timnya, kurva dengan puncak tajam tadi hanya bisa
dijelaskan dengan keberadaan monopole magnet pada struktur pita
kristal.

Tim dari tiga negara-Jepang, China, dan Swiss-ini percaya bahwa efek
anomali itu adalah semacam "sidik jari" keberadaan monopole magnet.
Mereka merencanakan untuk mempelajari yang menunjukkan bahkan efek
anomali yang lebih besar lagi. Salah satu anggota tim, Kei Takahashi,
yang berasal dari Universitas Genewa, mengatakan, "Elektromagnetik
adalah titik awal semua area dalam fisika. Dari titik pandang ini,
kami telah membuktikan bahwa kami bisa melakukan investigasi hampir
semua cabang fisika, termasuk fisika partikel dan kosmologi, dalam
eksperimen fisika zat padat."

Jika memang benar bahwa monopole magnet telah ditemukan dalam materi
tertentu, penemuan ini akan memberikan dampak yang sangat besar
kepada ilmu fisika. Sebab, banyak teori yang perlu direvisi akibat
adanya muatan dan aliran listrik yang harus diperhitungkan dalam
teori tertentu.

Dampak yang besar akan terjadi pada bidang elektronika karena para
insinyur elektronik bisa menciptakan aliran listrik dengan
menggunakan aliran magnet. Pembawa muatan tidak lagi harus muatan
listrik, tetapi dengan muatan magnet.