PENYAKIT DAN KELAINAN ALAT KANDUNGAN

Dr. Harizon Hendrik Dr. Yanasta M, SpOG

PERINEUM • Lunak dan elastis  mudah lahir kepala • Perineum kaku menghambat kala II meningkatkan risiko kematian janin, menyebabkan kerusakan jalan lahir yang luas. episiotomi • Lebar perineum 4 cm dari komisura post ke anus

VULVA DAN VAGINA • Kelainan bawaanatresia vulva, septum vagina • Variseswanita hamil sering mengeluh melebarnya pembuluh darah di tungkai vagina dan vulva dan wasir menghilang setelah anak lahir • Varises dalam kehamilan dan persalinan bahaya bila pecah harus dijahit

• Edema  bendungan lokal atau bagian dari edema umum pada malnutrisi atau preeklamsia • Hematoma pembuluh darah pecah sehingga hematoma di jaringan ikat yang renggang di vulva, sekitar vagina atau ligamentum latum • Bila hematom kecil resorbsi sendiri, bl besar harus insisi dan bekuan darah dikeluarkan

abses.bartolinitis.PERADANGAN • Sering bersamaan dengan peradangan vagina • Infeksi spesifiksifilis. kandidasis dan amebbiasis • Infeksi tidak spesifik eksema. dan kista bartolini . diabetes melitus. trikomoniasis. gonorea.

Sifilis • Troponema pallidum • Luka primer di vulva sering tidak disadari penderita • Dalam stadium 2 dijumpai kondilomata lata  tonjolan kulit lebar-lebar dengan permukaan licin basah warna putih atau kelabu dan sangat infeksius • Wanita hamil fluor albus  periksa kemungkinan lues .

Bayi  blenorea neonatorum • Trikomoniasis vaginalis parasit golongan protozoa  gejala fluor albus & gatal  diobati dengan metronidazole • Kandidiasis  keluhan gatal di vulva dan introitus vagina  diobati dengan gentian violet 1-2% .• Gonorea  vulvovaginitis dalam kehamilan dengan keluhan fluor albus dan disuria.

Terapi dengan suntikan emetin 30-45 mg/hr selama 5-6 hari bersama dengan terapi lokal obat anti amoeba .• Amoebiasis entamoeba histolytica  keluhan keputihan. nyeri waktu coitus. pada pemeriksaan didapat ulkus-ulkus warna merah dan mudah bedarah.

• Eksema  gatal  obat anti histamin atau kortikosteroid • Diabetes melitus  gatal  terapi penyakit primernya • Bartolinitis. Kista kecil dan tidak menggangu  dibiarkan saja dalam kehamilan . abses dan kista bartolini  peradangan biasa disebabkan oleh gonokokkus.

warnanya lebih gelap • Sebaiknya diobati sebelum bersalin  eksisi dengan elektrocauter atau dengan tingtura podofilin • Kemungkinan residif .Kondilomata akuminata •  pertumbuhan pada kulit atau selaput lendir yang menyerupai jegger ayam jago • Permukaan kasar papiler. tonjolan lebih tinggi.

ikontinensia alvi. • Fistula sdh tertutup  kontraindikasi pervaginam .Fistula • Fistula vesikovaginal atau fistula rectovaginal biasanya terjadi waktu bersalin • Tekanan lama antara kepala dan tulang panggul  gangguan sirkulasi  kematian jaringan lokal  5-10 hr lepas  lubang • Akibatnya inkotinensia urin.

ditengah. distal dibawah orifisium uretra eksternum • Bila kecil dan tidak ada keluahn dibiarkan tapi bila besar dilakukan pembedahan • Marsupialisasi sebaiknya 3 bln setelah lahir .Kista vagina • Berasal dari duktus Gartner atau duktus Muller • Letak lateral dalam vagina bagian proksimal.

vagina. 1 vagina cavum uteri kanan dan kiri terpisah secara tidak lengkap . servik dibentuk dari kedua duktus muller yang dalam pertumbuhan mudigah mengalami proses penyatuan • Uterus subseptus 1 korpus uteri dengan septum yang tidak lengkap.Uterus • Kelainan bawaan uterus • Embriologis uterus . 1 servik.

• Uterus arkuatus mempunyai cekungan di fundus uteri  sering dijumpai • Uterus bikornis unilateral rudimentarius 1 uterus dan disampingnya terdapat tanduk lain • Uterus unikornis 1 uterus. kehamilan ektopik dan kelainan letak janin . 1 servik yang berkembang dari satu saluran kanan dan kiri • Kelainan ini dapat menyebabkan abortus.

Kelainan letak uterus • Anteversio uteri kelainan letak ke depan dijumpai pada perut gantung • Perut gantung terdapat pada multipara karena melemahnya dinding perut. pembukaan tidak lancar • Dalam persalinan tidur telentang. setiap ada his fundus dorong ke atas . terutama multipara gemuk menghalangi masuknya kepala ke dalam panggul.

inkrserasi . koreksi tidak lengkap.Retrofleksio uteri • Kadang2 menyebabkan kemandulan karena kedua tuba tertekuk • Uterus gravidus yang bertumbuh terus bisa terkurung dalam rongga panggul retrofleksio uteri gravidi inkarserata • Nasib kehamilan pada retrofleksio uterikoreksi spontan. abortus.

Tingkat 1 servik belum keluar dari vulva 2.Prolap uteri • Turunya uterus dari tempat biasa • 3 tingkat 1. Tingakt 2 servik sudah keluar vulva tapi corpus belum 3. Tingkat 3korpus uteri sudah berada di luar vulva Kehamilan dapat terjadi pada prolap tk 1&2 .

Inersia uteri dan atonia uteri 6. Kemungkinan abortus bertambah 3. Kelainan letak janin dalam rahim 4. Menghalangi jalan lahir 5.Tumor uterus • Mioma uteri • Pengaruh mioma pada kehamilan dan persalinan 1. Sulit lepasnya plasenta . Mengurangi kemungkinan hamil 2.

dapat berubah bentuk dan mudah terjadi gangguan sirkulasi didalamnya.Pengaruh kehamilan dan persalinan pada mioma 1. tumor tumbuh lebih cepat 2. Tumor menjadi lebih lunak. Torsi pada mioma subserosum . Tumor tampak merah degenerasi merah atau tampak seperti daging degenerasi daging 3.

Penanganan • Pada umumnya tidak dilakukan operasi untuk mengangkat mioma • Bila degenerasi merah maka diambil sikap koservatif dengan istirahat baring dan kontrol yang ketat • Bila mioma menghalangi jalan lahir  SC • Pengangkatan setelah 3 bln postpartum .

penyinaran dan operasi radikal • Trisemester III>36 mg SC. hambatan pertumbuhan janin. perdarahan. abortus.Karsinoma servisis uteri • Kangker leher rahim mempunyai pengaruh tidak baik terhadap kehamilan kemandulan. • Penanganan trisemester I penyinaran maupun opersi radikal • Trisemester II histerotomi. bl < Tunggu .

Karsinoma korporis uteri • Hampir tidak mungkin hamil • Terapi dalam kehamilan sama seperti yang tidak hamil histerektomi dengan atau tanpa penyinaran sebelum atau sesudahnya .

Adneksa • Tuba  patensi tuba mutlak untuk pembuahan. • Ovarium dalam kehamilan tumor ovarium jarang paling sering kista dermoid • Komplikasi yang paling sering dan berbahaya  torsi • Kista dapat pecah karena trauma dan pengakhiran persalinan .

Penanganan • Kehamilan tumor ovarium lebih besar telor angsa harus dikeluarkan karena 1. Kemungkinan kleganasan 2. Kemungkinan menimbulkan komplikasi • Triwulan I operasi ditunda sampai 16 mg • Operasi paling baik antara 16-20 mg . Kemungkinan torsi 3.

• Pada kehamilan > 16 minggu plasenta sudah terbentuk sehingga fungsi corpus luteum diambil alih plasenta dan produksi progesteron berlangsung terus. • Pada kehamilan > 20 mg teknik lebih sulit sehingga rangsangan mekanis pada uterus sulit dihindarkan partus prematurus • Bila tumor diketahui pada kehamilan tua tanpa komplikasi partus spontan .

Prolapsus Uteri .

fasia endopelvikdan otot dasar panggul yang menyokong uterus. .Prolapsus uteri adalah Keadaan dimana turunnya uterus melalui hiatus genitalis yang disebabkan kelemahan ligamen.

Otot-otot dasar panggul .Fasia endopelvik 4.Tonus otot uterus 2 Ligamen-ligamen yang memfiksasi uterus 3.Uterus dan vagina dipertahankan posisinya oleh : 1.

tumor-tumor di daerah pelvis. 2) Tarikan pada janin pada pembukaan belum lengkap. 5) Relinakulum uteri yang lemah . 3) Ekspresi Crede 4) Asites.ETIOLOGI PROLAPSUS UTERI : 1) Dasar panggul yang lemah.

REKTOKEL. .  tetapi prolaps vagina dapat berdiri sendiri. dapat menjadi  SISTOKEL .  ENTEROKEL  prolaps vagina.PATOLOGI PROLAPSUS GENITALIS  Persalinan yang sulit.  servis uteri terletak diluar vagina .  Prolaps uteri sering diikuti prolaps vagina.URETROKEL.

KLASIFIKASI PROLAPSUS UTERI Tingkat I : Uterus turun dalam introitus vagina Tingkat II : Uterus sebagian keluar dari vagina Tingkat III : Uterus keluar seluruhnya dari vagina yang disertai dengan inversio vagina (PROSIDENSIA UTERI) .

GEJALA KLINIS PROLAPSUS UTERI Sangat individual dan berbeda-beda. :  perasaan berat pada perut bagian bawah  nyeri dipinggang  Timbulnya gejala dari :  BAK sedikit-sedikit dan stress inkontinensia  terjadi gangguan defikasi seperti obstipasi. .

Menoragia karena bendungan. Leukorea. berjalan bekerja. . Servisitis menyebabkan infertility. Luka lecet pada portio Enterokel.      Koitus terganggu.

KOMPLIKASI PROLAPSUS UTERI : 1) Keratinisasi mukosa vagina dan portio uteri 2) Dekubitus 3) Hipertropi serviks uteri dan elongasioa koli 4) Gangguan miksi dan stress inkontinensia 5) Infeksi saluran kencing 6) Infertilitas 7) Gangguan partus 8) Hemoroid 9) Inkarserasi usus .

 masih bersuami atau tidak.  keinginan punya anak lagi dan ingin mempertahankan haid.  tingkat prolapsus.  Penanganan dibagi atas : .PENANGANAN PROLAPSUS UTERI  Faktor-faktor yang harus diperhatikan  keadaan umum pasien umur. beratnya keluhan.

seperti  Tidak mengedan sebelum waktunya  Kala II jangan terlalu lama  Kandung kemih kosongkan)  episiotomi agar dijahit dengan baik  Episiolomi jika ada indikasi  Bantu kala II dengan FE atau VE .  Pimpin yang benar waktu persalinan.PENCEGAHAN Faktor-faktor yang mempermudah prolapsus uteri dan dengan anjuran :  Istirahat yang cukup.

Pengobatan Tanpa Operasi  Tidak memuaskan dan hanya bersifat sementara  pada prolapsus uteri ringan  ingin punya anak lagi  menolak untuk dioperasi KU pasien tak mengizinkan untuk dioperasi .PENGOBATAN A.

.Caranya :  Latihan otot dasar panggul  Stimulasi otot dasar panggul  Pemasangan pesarium .Hanya bersifat paliatif.Prinsipnya : alat ini mengadakan tekanan pada dinding atas vagina sehingga uterus tak dapat turun melewati vagina bagian bawah.Pesarium dari cincin plastik . .

Biasanya dipakai pada keadaan :  Prolapsus uteri dengan kehamilan  Prolapsus uteri dalam masa nifas  Prolapsus uteri dengan ulkus  Prolapsus yang tak mungkin dioperasi Mis : keadaan umum yang jelek .

1. 2. 3.A. Pengobatan dengan Operasi Operasi Manchester-Fothergill Histeraktomi vaginal Kolpoklelsis (operasi Neugebauer-La fort) Operasi-operasi lainnya :  Ventrofiksasi/hlsteropeksi  Interposisi . 4.

Jika Prolaps uteri terjadi pada wanita muda yang masih ingin mempertahankan fungsi reproduksinya cara yang terbaik adalah dengan : 1. Pemasangan pesarium 2. Ventrofiksasi (bila tak berhasil dengan pemasangan pesarium) .