Anda di halaman 1dari 24

Diagnosis and Treatment Outcome of Mycotic Keratitis at a Tertiary Eye Care Center in Eastern

Journal Reading
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Pendidikan Dokter Umum Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta Pembimbing : dr. Ida Nugrahani, Sp.M.

Oleh : Anna Listyana Dewi J500 060 071 KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

PENDAHULUAN

Latar belakang

Tujuan penelitian

Kebutaan kornea merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di seluruh dunia dan keratitis menular merupakan salah satu penyebab dominan. Kondisi tertentu seperti trauma pada bola mata dan terapi dengan antibiotik dan kortikosteroid membuat mata mudah terkena infeksi jamur terutama di daerah tropis di dunia. Sebagian besar penelitian dari India telah melaporkan epidemiologi dan mikrobiologi keratitis jamur, namun hanya ada beberapa yang telah memberikan analisis yang komprehensif dari segi klinis dan laboratorium. Perbedaan kecil pada frekuensi dan spektrum jamur terkait dengan keratitis mikotik telah dilaporkan, bagian India selatan (36,7%), Utara (7,3%), Barat (36,3%), dan tenggara (25,6%). Dari dua penelitian di India, wilayah tenggara telah melaporkan prevalensi tinggi (38% dan 42%) didapatkan keratitis jamur.

Latar Belakang

Pengetahuan tentang perbedaan ini ditambah dengan tanda-tanda yang sesuai dengan epidemiologi, klinis dan hasil pengobatan yang akan membantu dokter mata mengelola penyakit ini yang menantang di daerah mereka.

Laporan periodik yang komprehensif dari wilayah geografis yang berbeda akan membantu merekam variasi selama periode waktu dan pada saat yang sama yang akan memberikan strategi diagnostik dan manajemen saat ini dengan hasil yang memungkinkan.
Penelitian ini menyajikan analisis luas klinis dan mikrobiologis dari 264 kasus keratitis mikotik yang dilihat lebih dari tiga dan periode setengah tahun di Tertiary Eye Care Center di India timur di mana semua pasien diperiksa dan diobati dengan protokol seragam.

Latar Belakang Cont...

Untuk mengetahui karakteristik epidemiologi, diagnosis dari pemeriksaan mikrobiologi, dan hasil treatment pada pasien keratitis mikotik di Tertiery Eye Care Center di India bagian tenggara

Tujuan Penelitian

ISI JURNAL

Desain Penelitian

Analisis Statistika

Metodelogi Penelitian

Kriteria Restriksi

Hasil Penelitian

Teknik Pengambilan sampel

Jenis studi: Deskriftif Retrospektif

Penelitian ini dilakukan dari Juli 2006 sampai Desember 2009, pada pasien dengan hasil laboratorium positif terkena keratitis jamur, di Tertiery Eye Care Center di India bagian tenggara

Desain Penelitian

Kriteria Inklusi:
Semua pasien yang pada pemeriksaan laboratorium (mikroskopis dan kultur) didiagnosis keratitis mikotik

Kriteria Restriksi

Dokumentasi pasien yang dicatat:


Sosial-demografi Durasi gejala Faktor predisposisi Penemuan pada slit lamp biomicroscopy Kondisi penglihatan Penyakit sistemik lainnya Terapi yang diterima sebelum presentasi Ketajaman visual pada saat presentasi Pengobatan yang diberikan, yang merespon terhadap pengobatan selama masa tindak lanjut dan hasil klinis

Dilakukan teknik pengambilan sampel dengan mengambil hapusan dari kornea Dikumpulkan dari setiap pasien untuk diperiksa dengan mikroskop dan untuk dikultur Diambil tiga hapusan yang akan diberi reagen yang berbeda, yaitu: Kalium hidroksida 10% dengan calcofluor white 0,1% (KOH+CFW, fluorescence microscopy), Gram dan Giemsa
Pasien yg menjalani keratoplasty , pengambilan sampel dilakukan saat pasien menjalani keratoplasty dengan cara mengambil hapusan dari ulkus Inokluasi di chocolate agar, brain heart infusion broth, thioglycollate broth, & sabouraud dextrose agar

Diinkubasi dan diinterpretasikan

Teknik Pengambilan Sampel

Kriteria Kultur: 1. Pertumbuhan confluen dalam media padat, dan/atau 2. Pertumbuhan lebih dari satu media, dan/atau 3. Pertumbuhan satu media dengan organisme dalam mikroskop langsung, dan/atau 4. Isolasi ulang pada organisme

Teknik Pengambilan Sampel Cont....

Untuk semua kasus dengan hasil positif pada hasil pemeriksaan mikroskopis dengan hapusan kornea diberikan: 1. Terapi antifungal topikal Natamycin 5%, untuk 3 hari pertama tiap 1 jam selama 24 jam, selanjutnya tiap 2 jam selama 12 jam sampai ulcus membaik. Pasien juga diberikan 1% sulfas atropin tetes. Selama penelitian sekitar 2,2% (6/264) pasien diterapi dengan 1,25 % povidon iodin dengan dosis yang sama.

2. Terapi sistemik: Ketokonazol tab 200 mg 2x1 hari, atau itrakonazol tab 100 mg 2x1 hari, flukonazol tab 150 mg 1x1 hari 158 (58,35) pasien dengan corneal stromal infiltrate
Pasien yg tdk respon thd Tx medis dilakukan terapi Penetrasi Keratoplasty (PK), eviserasi, dan cyanocrylate dengan menempelkan lensa kontak atau mencuci bilik anterior dg Amphotericin B Waktu penyembuhan <3 minggu dari presentasi dianggap hasil yang baik waktu penyembuhan >3 minggu dianggap sebagai respon yang buruk

Post treatment, kesembuhan jika: Epithelial defect maksimal < 1 mm dan terdapat visible scar (jaringan parut)

Teknik Pengambilan Sampel Cont...

Pemeriksaan hapusan kornea dg KOH+CFW= 94,8%, Giemsa= 79,1%, Gram=78,9% Distribusi Species fungal terbanyak: Aspergillus (27,9%) dan Fusarium (23,2%)

Prevalensi keratitis mikotik menurut usia, terbanyak usia 50-59 th (23,5%), dan terbanyak pada laki-laki (70,1%) hasil treatment, sembuh (35,6%)
< 10 hari 47,8%, > 10 hari 45,6%,, PK Terapy (19,7%), eviserasi (3,4%)

Hasil Penelitian

DISKUSI
Penelitian ini menyajikan laboratorium menyeluruh dan data klinis dari sejumlah besar pasien keratitis mikotik dari India timur. Jumlah yang cukup besar dari pasien telah dianalisis dalam semua laporan di rumah sakit ternama. Dalam penelitian yang lebih besar dari 3528 kasus keratitis mikroba di Delhi (India utara), prevalensi keratitis jamur dilaporkan menjadi 24,3%. Di seluruh negeri, keratitis mikotik tampaknya terjadi pada pria, petani adalah faktor predisposisi yang paling umum terjadinya trauma kornea. Prevalensi lebih tinggi pada laki-laki antara 50-60 tahun. Hasil yang baik untuk pemeriksaan keratitis mikotik didapatkan pada hapusan dengan reagen KOH + CFW

DISKUSI Cont......
Untuk menentukan jenis jamur akan terlihat dari hasil kultur di laboratorium. Selain itu, kultur hapusan kornea atau jaringan kornea adalah satu-satunya cara untuk menentukan infeksi jamur dan infeksi campuran dengan bakteri yang memerlukan pengobatan dengan antibiotik kombinasi antijamur dan antibakteri. Prevalensi infeksi campuran 6-10% (Pseudomonas aeruginosa) pada penelitian ini 17% (Staphylococcus spp). Pseudomonas spp signifikan, khususnya ditemukan pd kontaminasi tetes mata Natamycin . Untuk menyingkirkan kontaminasi Pseudomonas spp disarankan mengambil sampel ulang utk hapusan ulkus dan kultur pd keratitis yang tidak respon terhadap pengobatan. Pengobatan keratitis mikotik dengan Natamycin tetap kurang memuaskan termasuk dalam penelitian ini 52 (19,7%) pasien memerlukan PK terapi, 9 (3,4%) pasien melakukan eviserasi

Kesimpulan

Kesimpulan :
Prevalensi relatif keratitis mikotik lebih tinggi dari India utara dibandingkan di bagian India lain. Jamur yang terlibat adalah (Aspergillus dan Fusarium) sama di seluruh India. Prevalensi yang lebih tinggi adalah pada kelompok usia tua. Keratitis jamur dapat didiagnosis dengan mudah secara klinis dan dengan metode laboratorium .