Anda di halaman 1dari 4

Anemia

A. Gambaran Umum Anemia merupakan keadaan ketika terjadi penurunan jumlah eritrosit atau kadar hemoglobin dalam darah. Anemia mengakibatkan keadaan mudah lelah, pusing, terutama pada perubahan dari posisi jongkok ke posisi berdiri, palpitasi, dan peningkatan resiko infeksi. Anemia dapat terjadi pada pasien rawat-inap maupun rawat jalan. Pasien dengan resiko tertinggi untuk terkena anemia adalah anak balita, wanita dengan haid yang lama atau banyak, ibu hamil, manula, dan para peminum minuman keras. Anemia adalah penyakit darah yang sering ditemukan. beberapa anemia memiliki penyakit dasarnya. anemia bisa diklasifikasikan berdasarkan bentuk atau morfologi sel darah merah, etiologiyang mendasari, dan penampakan klinis. penyebab anemia yang paling sering adalah perdarahan yang berlebihan, rusaknya sel darah merah secara berlebihan hemolisis atau kekurangan pembentukan sel darah merah (hematopoiesis yang tidak efektif).

B. Penyebab Secara garis besar, anemia dapat disebabkan karena : 1. Peningkatan destruksi eritrosit, contohnya pada penyakit : gangguan sistem imun, talasemia. 2. Penurunan produksi eritrosit, contohnya pada penyakit anemia aplastik, kekurangan nutrisi. 3. Kehilangan darah dalam jumlah besar, contohya akibat perdarahan akut, perdarahan kronis, menstruasi, ulser kronis dan trauma.

C. Gejala Bila anemia terjadi dalam waktu yang lama, konsentrasi Hb ada dalam jumlah yang sangat rendah sebelum gejalanya muncul. Gejala- gejala tersebut berupa : Asimtomatik : terutama bila anemia terjadi dalam waktu yang lama Letargi Nafas pendek atau sesak, terutama saat beraktfitas Kepala terasa ringan

palpitasi Sedangkan, tanda-tanda dari anemia yang harus diperhatikan saat pemeriksaan

yaitu : Pucat pada membrane mukosa, yaitu mulut, konjungtiva, kuku. Sirkulasi hiperdinamik, seperti takikardi, pulse yang menghilang, aliran murmur sistolik Gagal jantung Perdarahan retina Tanda-tanda spesifik pada pasien anemia diantaranya : Glossitis : terjadi pada pasien anemia megaloblastik, anemia defisiensi besi Stomatitis angular : terjadi pada pasien anemia defisiensi besi. Jaundis (kekuningan) : terjadi akibat hemolisis, anemia megaloblastik ringan. Splenomegali : akibat hemolisis, dan anemia megaloblastik. Ulserasi di kaki : terjadi pada anemia sickle cell Deformitas tulang : terjadi pada talasemia Neuropati perifer, atrofi optik, degenerasi spinal, merupakan efek dari defisiensi vitamin B12. Garing biru pada gusi (Burtons line), ensefalopati, dan neuropati motorik perifer sering terlihat pada pasien yang keracunan metal.

D. Patofisiologi Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sum-sum tulang atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sum-sum tulang dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, inuasi tumor, atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi) pada kasus yang disebut terakhir, masalah dapat akibat efek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah normal atau akibat beberapa factor diluar sel darah merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah. Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam system fagositik atau dalam system retikuloendotelial terutama dalam hati dan limpa. Sebagai hasil samping proses ini bilirubin yang sedang terbentuk dalam fagosit akan masuk dalam aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direpleksikan

dengan meningkatkan bilirubin plasma (konsentrasi normalnya 1 mg/dl atau kurang ; kadar 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera.

E. Pathogenesis Perdarahan menahun menyebabkan kehilangan besi sehingga cadangan besi makin menurun. Jika cadangan besi menurun keadaan ini disebut iron depleted state atau negative iron balance . Keadaan ini ditandai oleh penurunan kadar feritin serum, peningkatan absorbsi besi dalam usus. Serta pengecatan besi dalam sumsum tulang negative. Apabila kekurangan besi terus berlanjut maka cadangan besi akan menjadi kosong sama sekali. Peneydiaan besi untuk eritropoesis berkurang sehingga menimbulkan gangguan pada bentuk eritrosit tetapi anemia secara klinis belum terjadi keadaan ini disebut iron deficient erytropoiesis . Pada fase ini kelainan pertama yang dapat dijumpai adalah peningkatan kadar free protophorphyn atau zinc protophoryn dalam eritrosit. Saturasi transferin menurun dan total iron binding capacity (TIBC) meningkat. Akhir-akhir ini parameter yang sangat spesifik ialah peningkatan reseptor transferin dalam serum. Apabila jumlah besi menurun terus maka eritropoesis semakin terganggusehingga kadar hemoglobin mulai menurun, akibatnya timbul anemia hipokromik mikrositik disebut iron defeciency anemia. Pada saat ini juga terjadi kekurangan besi pada epitel serta beberapa enzim yang dapat menimbulkan gejala pada kuku, epitel mulut dan faring serta berbagai gejala lainnya.

F. Pengobatan Pemeriksaan darah sederhana bisa menentukan adanya anemia. Persentase sel darah merah dalam volume darah total (hematokrit) dan jumlah hemoglobin dalam suatu contoh darah bisa ditentukan. Pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari hitung jenis darah komplit (CBC). Terapi langsung ditujukan pada penyebab anemia, dapat berupa : 1. Transfusi darah 2. Pemberian kortikosteroid atau obat-obatan lain yang dapat menekan sistem imun. 3. Pemberian eritropoietin, hormon yang berperan pada proses hematopoiesis, berfungsi untuk membantuk sumsum tulang pada proses hematopoiesis. 4. Pemberian suplemen besi, vitamin B12, vitamin-vitamin dan mineral lain yang dibutuhkan.

G. Terapi Gizi Setelah diagnosis ditegakkan maka dibuat rencana pemberian terapi. Terapi terhadap anemia defisiensi besi adalah: Terapi kausal: terapi terhadap penyebab perdarahan. Pemberian preparat besi untuk mengganti kekurangan besi dalam tubuh (iron replacement therapy): 1. Terapi besi oral. Merupakan pilihan utama karena efektif, murah, dan aman. Preparat yang utama adalah ferrous sulphat. Diberikan 3 sampai 6 bulan, setelah kadar hemoglobin normal untuk mengisi cadangan besi tubuh. Dosis

pemeliharaan adalah 100-200 mg. Jika tidak diberikan dosis pemeliharaan, maka anemia sering kambuh kembali. Dianjurkan pemberian diet yang banyak mengandung hati dan daging. 2. Terapi besi parenteral Sangat efektif tetapi lebih berisiko dan mahal. Karena itu terapi besi parenteral hanya diberikan untuk indikasi tertentu seperti: intoleransi terhadap besi oral, kepatuhan pada obat rendah, gangguan pencernaan, penyerapan besi terganggu, kehilangan darah yang banyak, kebutuhan besi besar dalam waktu pendek, dan defisiensi besi fungsional relatif akibat pemberian eritropoietin pada anemia gagal ginjal kronik atau anemia akibat penyakit kronik. Pengobatan lain Diet : makanan bergizi dengan tinggi protein terutama yang berasal dari protein hewani Vitamin C : dosis 3x100 mg per hari untuk meningkatkan absorpsi besi. Transfusi PRC: sesuai indikasi

Bahan Makanan yang Baik Diberikan: Sumber protein hewani seperti ayam, daging, hati, ikan, telur, susu, keju. Sumber protein nabati seperti kacang-kacangan dan hasilnya : tahu, tempe, oncom. Bahan Makanan yang Dihindari: Makanan yang terlalu manis dan gurih yang dapat mengurangi nafsu makan seperti : gula-gula, dodol, cake, tarcis dan sebagainya.

Anda mungkin juga menyukai