Anda di halaman 1dari 26

FILSAFAT PENDIDIKAN SEBAGAI DISIPLIN ILMU

Dosen : Drs. Zuhdi H.S. Mpd

Penyusun : Dede Irawan NRM. 1215101030 Pinuji Prawita Dikjaya NRM. 1215071079

Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta 2012

KATA PENGANTAR Puji syukur penyusun panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sang Pencipta alam semesta, manusia, dan kehidupan beserta seperangkat aturan dan hikmah-Nya, karena berkat limpahan rahmat, taufiq, hidayah serta inayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang sederhana ini. Makalah ini di beri judul Filsfat Pendidikan Sebagai Disiplin Ilmu yang mana isi makalah adalah satu dari sekian topik bahasan dalam mata kuliah Filsafat Pendidikan yang penyusun ikuti. Maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini tidaklah lain untuk menjadi salah satu bahan belajar terkait topik bahasan bagi penyusun maupun peserta lainnya dalam perkuliahan ini. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bpk. Drs. Zuhdi H.S. Mpd selaku dosen mata kuliah Filsafat Pendidikan serta semua pihak yang telah membantu penyelesaian makalah ini baik secara langsung maupun tidak langsung. Demikian pengantar yang dapat penulis sampaikan dimana penulis pun sadar bawasannya penulis hanyalah seorang manusia yang tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, sedangkan kesempurnaan hanya milik Allah Azza Wajala hingga dalam penulisan dan penyusunannya masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif akan senantiasa penulis nanti dalam upaya evaluasi diri. Akhirnya penulis hanya bisa berharap, bahwa dibalik ketidak sempurnaan penulisan dan penyusunan makalah ini adalah ditemukan sesuatu yang dapat memberikan manfaat atau bahkan hikmah bagi penulis, pembaca, dan bagi seluruh mahasiswa-mahasiswi Universitas Negeri Jakarta. Amien ya Rabbal alamin. Penyusun

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB. I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH B. IDENTIFIKASI MASALAH C. PERUMUSAN MASALAH BAB. II PEMBAHASAN A. HAKIKAT DISIPLIN ILMU B. HAKIKAT FILSAFAT PENDIDIKAN C. IMPLIKASI PANDANGAN FILSAFAT PENDIDIKAN BAB. III PENUTUP KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA 23 25 7 10 18 4 6 6. 1 2 3

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH Manusia merupakan sasaran pendidikan1. Kedudukan manusia sebagai sebuah sasaran pendidikan dapat dipahami melalui perspektif teoritis dari beberapa pengertian pendidikan yang dikemukakan oleh beberapa sumber, maupun melalui perspektif yuridis semisal dari Garis Besar Haluan Negara (GBHN) dan undang-undang sistem pendidikan nasional. Beberapa pengertian pendidikan tersebut diantaranya ialah : 1) Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu . (Mudyahardjo 2001, 3) 2) Suatu kegiatan yang sistemis dan sistematik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik. (Tirtarahardja 2008, 34) 3) Drs. D. Marimba berpendapat bahwa pengertian pendidikan adalah bimbingan atau pimipinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rokhani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.2 Sementara itu, UU Sisdiknas menyebutkan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
3

dan menjadi warga Negara yang

demokratis serta bertanggung jawab. Adapun GBHN menyatakan bahwa

1 2

Umar Tirtarahardja, Pengantar Pendidikan (Cet. 2; Jakarta: PT RINEKA CIPTA, 2008), h. 1. Alix Wijaya H.K. ,12 Pengertian Pendidikan, Alixwijaya, diakses dari http://alixwijaya.com/2010/12definisi-pendidikan-2.html, pada tanggal 1 Maret 2012, pukul 01.17 3 Republik Indonesia, UndangUndang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,

pembangunan nasional dilaksanakan di dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.4 Meskipun menggunakan beberapa istilah yang berbeda, seperti : individu, peserta didik maupun manusia Indonesia, namun menjadi jelas bahwa manusialah yang menjadi sasaran pendidikan dalam pengertianpengertian yang telah disebutkan diatas. Sebagai akibatnya, kebutuhan ilmu pendidikan akan suatu pandangan yang menyeluruh dan mendalam mengenai hakikat manusia dan bagaimana ia belajar menjadi tak terelakan lagi. Tugas mendidik pun dianggap hanya mungkin dilakukan dengan benar dan tepat tujuan apabila pendidik memiliki gambaran yang jelas tentang siapa manusia itu sebenarnya.5 Berkaitan dengan hal di atas, pandangan filosofis dengan sifatnya yang komperhensif dan kritis turut menjadi kajian penting yang

mempengaruhi studi dan praktik pendidikan baik secara konseptual maupun operasional dalam berbagai aspek maupun level. Hal ini diperkuat dengan didudukannya manusia sebagai kajian filsafat dan sifat kajian filsafat itu sendiri di sisi lain.6 Sifat filsafat tersebut, yaitu: 1) menyeluruh, 2) mendasar, 3) dan spekulatif,7 memungkinkan filsafat untuk menghasilkan suatu pandangan yang luas dan dalam mengenai hakikat manusia . Dari penjelasan diatas, dapat dilihat hubungan antara filsafat dan pendidikan. Umar Tirtarahardja dalam buku Pengantar Pendidikan

menjelaskan hubungan ini sebagai berikut : Terdapat kaitan yang erat antara pendidikan dan Filsafat karena filsafat mencoba merumuskan citra tentang manusia dan masyarakat sedangkan pendidikan berusaha mewujudkan citra itu. Rumusan tentang harkat dan martabat manusia beserta masyarakatnya ikut menentukan tujuan dan cara-

4 5

Umar Tirtarahardja, op. cit., h. 27. Ibid. h. 1. 6 Berkaitan dengan kedudukan manusia sebagai kajian filsafat lihat Jujun Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Cet. 20; Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2007), h. 27-28. 7 Ibid. h. 20-22.

cara penyelenggaraan pendidikan, dan dari sisi lain, pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia (Umar Tirtarahardja 2008, 84) Sementara itu, pokok permasalahan filsafat telah pula berkembang menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai bidang kajian yang lebih spesifik. Jujun Suriasumantri dalam buku Filsfat Ilmu menyebutkan cabangcabang filsafat tersebut antara lain mencangkup: 1) Epistemologi (Filsafat Pengetahuan), 2) Etika (Filsafat Moral), 3) Estetika (Filsafat Seni), 4) Metafisika, 5) Politik (Filsafat Pemerintahan), 6) Filsafat Agama, 7) Filsafat Ilmu, 8) Filsafat pendidikan, 9) Filsafat Hukum, 10) Filsafat Sejarah, 11) Filsafat Matematika (Suriasumantri 2008, 32-33).8 Dari semua cabang filsafat ini, Filsafat Pendidikan telah berkembang menjadi sebuah disiplin ilmu yang coba menjawab kebutuhan pendidikan baik dalam teori maupun praktik. B. IDENTIFIKASI MASALAH 1) Apakah filsafat pendidikan telah memenuhi syarat sebagai sebuah disiplin ilmu ? 2) Bagaimanakah kedudukan filsafat pendidikan sebagai sebuah disiplin ilmu ? 3) Apa objek kajian filsafat pendidikan ? 4) Bagaimanakah pendekatan filsafat pendidikan dalam mengkaji

masalah pendidikan ? 5) Bagaimanakah peran filsafat pendidikan dalam perkembangan teori pendidikan ? 6) Bagaimanakah peran filsafat pendidikan dalam praktik pendidikan ? 7) Bagaimanakah perkembangan filsafat pendidikan sebagai sebuah disiplin ilmu ?

C. BATASAN DAN RUMUSAN MASALAH Bagaimanakah filsafat pendidikan sebagai sebuah disiplin ilmu berperan dalam perkembangan teori dan praktik pendidikan ?

Bandingkan dengan Redja Mudyahardjo, Filsafat Ilmu Pendidikan: Suatu Pengantar (Cet. 2; Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2002), h. 3-5.

BAB. II PEMBAHASAN

A. HAKIKAT DISIPLIN ILMU A.1. Pengertian Displin Ilmu

Berikut ini adalah pengertian Ilmu yang didapat dari berbagai sumber : 1) Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memberi pengertian terhadap lema iImu sebagai berikut : Suatu pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerapkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) tersebut, seperti ilmu hukum, ilmu pendidikan, ilmu ekonomi dan sebagainya.9 2) Sementara itu, Lenzen dalam Mudyahardjo, meninjau ilmu dari segi morfologis atau bentuk substansinya, sebagai pengetahuan sistematis yang dihasilkan dari kegiatan kritis yang tertuju pada penemuan (Lenzen dalam Mudyahardjo 2002, 9) 3) Moh. Nazir, Ph.D (1983) Mengemukakan bahwa ilmu tidak lain dari suatu pengetahuan, baik natural atau pun sosial, yang sudah terorganisir serta tersusun secara sistematik menurut kaidah umum.10 4) Ahmad Tafsir (1992) Memberikan batasan ilmu sebagai pengetahuan logis dan mempunyai bukti empiris.11 5) Sikun Pribadi (1972) Merumuskan pengertian ilmu secara lebih rinci (ia menyebutnya ilmu pengetahuan), bahwa Obyek ilmu pengetahuan ialah dunia fenomenal, dan metode pendekatannya berdasarkan pengalaman (experience) dengan menggunakan berbagai cara seperti observasi, eksperimen, survey, studi kasus, dan sebagainya.

Pengalaman-pengalaman itu diolah oleh fikiran atas dasar hukum


9

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring, http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php . ( diakses pada tanggal 1 Maret 2012 ). 10 Riski Amalia Putri, Pondasi Ilmiah dalam Penyelenggaraan Pendidikan, di akses dari, http://blog.unsri.ac.id/riski02/pengantar-pendidikan-/karateristik-ilmu-pendidikan-sebagai-disiplinilmu-pondasi-ilmu-/mrdetail/14738/, pada tanggal 1 Maret 2012 pukul 09.12. 11 Ibid.

logika yang tertib. Data yang dikumpulkan diolah dengan cara analitis, induktif, kemudian ditentukan relasi antara data-data, diantaranya relasi kausalitas. Konsepsi-konsepsi dan relasi-relasi disusun menurut suatu sistem tertentu yang merupakan suatu keseluruhan yang terintegratif. Keseluruhan integratif itu kita sebut ilmu pengetahuan. 12 6) Lorens Bagus (1996) Mengemukakan bahwa ilmu menandakan seluruh kesatuan ide yang mengacu ke obyek (atau alam obyek) yang sama dan saling keterkaitan secara logis.13

Suriasumantri (1984) menyatakan bahwa tiap-tiap pengetahuan mempunyai tiga komponen yang merupakan tiang penyangga tubuh pengetahuan yang disusunnya. Komponen tersebut adalah ontologi,

epistemologi, dan aksiologi. Ontologi merupakan asas dalam menetapkan batas/ruang lingkup ujud yang menjadi objek penelaahan (objek formal dari pengetahuan) serta penafsiran tentang hakikat realitas (metafisika) dari objek formal tersebut. Epistemologi merupakan asas mengenai cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh

pengetahuan. Sedangkan aksiologi merupakan asas dalam menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan disusun dalam tubuh pengetahuan tersebut. llmu merupakan pengetahuan yang aspek ontologis, epistemologis dan aksiologisnya telah jauh lebih berkembang dibandingkan dengan

pengetahuan-pengetahuan lain dan dilaksanakan secara konsekuen dan penuh disiplin. Dari pengertian ini berkembang pengertian ilmu sebagai sebuah disiplin, yakni pengetahuan yang mengembangkan tanggung jawab syarat-syarat dan dan ilmiah

melaksanakan aturan kesungguhan.14

mainnya

dengan penuh yang memenuhi

Pengetahuan

dikonotasikan sebagai disiplin karena pengetahuan ilmiah diproses lewat

12 13

Ibid. Ibid 14 Jujun Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Cet. 20; Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2007), h. 35.

serangkaian langkah-langkah tertentu yang dilakukan dengan penuh kedisiplinan.15 A.2. Syarat Disiplin Ilmu Sebagaimana yang dapat dipahami dari pengertian akan displin ilmu, maka tidak semua pengetahuan itu dapat disebut sebagai Ilmu. Suatu pengetahuan dapat dikatakan sebagai ilmu apabila dapat memenuhi persyaratan-persyaratan, sebagai berikut: 1) Ilmu mensyaratkan adanya obyek yang diteliti, baik yang berhubungan dengan alam (kosmologi) maupun tentang manusia (Biopsikososial). Lorens Bagus (1996) menjelaskan bahwa dalam teori skolastik terdapat pembedaan antara obyek material dan obyek formal. Obyek material merupakan obyek konkret yang disimak ilmu. Sedang obyek formal merupakan aspek khusus atau sudut pandang terhadap ilmu. Yang mencirikan setiap ilmu adalah obyek formalnya. Sementara obyek material yang sama dapat dikaji oleh banyak ilmu lain.16 2) Ilmu mensyaratkan adanya metode tertentu, yang di dalamnya berisi pendekatan dan teknik tertentu. Metode ini dikenal dengan istilah metode ilmiah. Dalam hal ini, Moh. Nazir, (1983:43) mengungkapkan bahwa metode ilmiah boleh dikatakan merupakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Karena ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh interrelasi yang sistematis dari fakta-fakta, maka metode ilmiah berkehendak untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan

pendekatan kesangsian sistematis. Almack (1939) mengatakan bahwa metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. Sedangkan Ostle (1975) berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh sesutu interrelasi. Selanjutnya pada bagian lain Moh. Nazir mengemukakan beberapa kriteria metode ilmiah dalam
15 16

Ibid. Riski Amalia Putri, Pondasi Ilmiah dalam Penyelenggaraan Pendidikan, di akses dari, http://blog.unsri.ac.id/riski02/pengantar-pendidikan-/karateristik-ilmu-pendidikan-sebagai-disiplinilmu-pondasi-ilmu-/mrdetail/14738/, pada tanggal 1 Maret 2012 pukul 09.12.

perspektif penelitian kuantitatif, diantaranya: (a) berdasarkan fakta, (b) bebas dari prasangka, (c) menggunakan prinsip-prinsip analisa, (d) menggunakan hipotesa, (e) menggunakan ukuran obyektif dan menggunakan teknik kuantifikasi. Belakangan ini berkembang pula metode ilmiah dengan pendekatan kualitatif. Nasution (1996:9-12) mengemukakan ciri-ciri metode ilimiah dalam penelitian kualitatif, diantaranya : (a) sumber data ialah situasi yang wajar atau natural setting, (b) peneliti sebagai instrumen penelitian, (c) sangat deskriptif, (d) mementingkan proses maupun produk, (e) mencari makna, (f) mengutamakan data langsung, (g) triangulasi, (h) menonjolkan rincian kontekstual, (h) subyek yang diteliti dipandang berkedudukan sama dengan peneliti, (i) verifikasi, (j) sampling yang purposif, (k) menggunakan audit trail, (l)partisipatipatif tanpa mengganggu, (m) mengadakan analisis sejak awal penelitian, (n) disain penelitian tampil dalam proses penelitian.17 3) Pokok permasalahan (subject matter atau focus of interest). ilmu mensyaratkan adanya pokok permasalahan yang akan dikaji.18

B. HAKIKAT FILSAFAT PENDIDIKAN B.1. Pengertian Filsafat Pendidikan

B.1.1 Pengertaian Filsafat Filsafat berasal dari kata philos, philein (cinta) dan sophos atau Sophia (kebajikan, kebaikan, kebenaran). Filsafat adalah pandangan hidup

seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.

17 18

Ibid. Ibid.

10

Filsafat adalah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam tentang sesuatu sampai ke akar-akarnya. Sesuatu disini dapat berarti terbatas dan dapat pula berarti tidak terbatas. Bila berarti terbatas, filsafat membatasi diri akan hal tertentu saja. Bila berarti tidak terbatas, filsafat membahas segala sesuatu yang ada dialam ini yang sering dikatakan filsafat umum. Sementara itu filsafat yang terbatas adalah filsafat ilmu, filsafat pendidikan, filsafat seni dan lain-lainnya. Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam, maka dikatakan kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia saja. Sesungguhnya isi alam yang dapat diamati hanya sebagian kecil saja, diibaratkan mengamati gunung es, hanya mampu melihat yang di atas permukaan laut saja. Semantara filsafat mencoba menyelami sampai kedasar gunung es itu untuk meraba segala sesuatu yang ada melalui pikiran dan renungan yang kritis. Tujuan filsafat ialah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin dan menerbitkan serta mengatur semua itu dalam bentuk sistematik. Dengan demikian filsafat memerlukan analisa secara hati-hati terhadap penalaran-penalaran sudut pandangan yang menjadi dasar suatu tindakan. B.1.2 Pengertian Pendidikan Pendidikan adalah bimbingan secara sadar dari pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya manusia yang memenuhi kepribadian yang utama dan ideal. Pendidikan dapat diartikan juga sebagai suatu proses, dimana pendidikan merupakan suatu usaha dari manusia dewasa yang telah sadar akan kemanusiaannya dalam membimbing, melatih dan mengajar dan enanamkan nilai-nilai serta dasardasar pandangan hidup kepada generasi muda agar nantinya menjadi manusia yang sadar dan bertanggung jawab akan tugas-tugas hidupnya sebagai manusia sesuai sifat hakiki dan cirri-ciri kemanusiaaan dengan kata lain proses pendidikan merupakan rangkaian usaha membimbing

mengarahkan potensi hidup manusia yang berupa kemampuan dasar dan


11

kehidupan pribadinya sebagai mahluk individu dan mahluk social serta dalam hubungannya dengan alam sekitarnya agar menjadi pribadi yang

bertanggung jawab. B.1.3 Filsafat Pendidikan Berikut ini adalah beberapa pengertian Filsafat Pendidikan dari beberapa sumber : 1) Al-Syaibany mengartikan bahwa filsafat pendidikan yaitu aktifitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat tersebut sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan.19 2) Barnadib mempunyai versi pengertian atas filsafat pendidikan, yakni ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban dari pertanyaanpertanyaan dalam bidang pendidikan.20 3) Arifin mengungkapkan bukan bahwa keberadaan insindental, filsafat artinya, dalam filsafat ilmu itu

pendidikan

merupakan

merupakan teori umum dari pendidikan, landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan.21 4) Noor Syam mengemukakan filsafat pendidikan ialah niai dan keyakinan keyakinan filosof yang menjiwai, mendasari dan

memberikan indentitas(karakteristik) suatu sistem pendidikan. 5) Filsafat Pendidikan menyelidiki hakikat pelaksanaan pendidikan yang bersangkut paut dengan tujuan, latar belakang, cara dan hasilnya, serta hakikat ilmu pendidikan yang bersangkut paut dengan analisis kritis terhadap struktur dan kegunaannya. (B Othanel Smith dalam Redja Mudyaharjo 2002, 5) Jadi dapat disimpulkan bahwa Filsafat Pendidikan adalah adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan

19

Rino Sofiansyah, Hakikat dan Tujuan Pendidikan Islam, diakses dari http://forum.uii.ac.id/index.php/home/topic.html?id=183 pada tanggal 2 Maret 2012 pukul 00.12. 20 Ibid. 21 Pengertian dan Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan, diakses dari http://makalahguru.blogspot.com/p/pengertian-dan-ruang-lingkup-filsafat.html pada tanggal 2 Maret 2012 pukul 00.15.

12

yang merupakan landasan bagi semua pendidikan untuk memperoleh jawaban-jawaban bagi permasalahan. B.2. Objek dan kedudukan Filsafat Pendidikan Filsafat Pendidikan merupakan satu bentuk filsafat khusus atau terapan. Filsafat pendidikan dalam arti luas dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: 1) Filsafat Praktek Pendidikan dan 2) Filsafat Ilmu Pendidikan. Filsafat Praktik Pendidikan adalah analisis kritis dan komperhensif tentang bagaimana seharusnya pendidikan diselenggarakan dan

dilaksanakan dalam kehidupan manusia. Tiga masalah pokok yang dibahas dalam Filsafat Praktik Pendidikan adalah : 1) apakah sebenarnya pendidikan itu; 2) apakah tujuan pendidikan itu sebenarnya; dan 3) dengan cara apa tujuan pendidikan tersebut dapat dicapai (Henderson dalam Mudyahardjo 2002, 5). Namun T.W. Moore mengemukakan tiga masalah lagi yang menjadi bahasan Filsafat Praktik Pendidikan, yaitu: 1) hakikat kemanan manusia dan pendidikan, 2) hakikat kesamaan manusia dan pendidikan, dan 3) hakikat demokrasi dan pendidikan (T.W. dalam Mudyahardjo 2002, 5). Filsafat Ilmu Pendidikan merupakan merupakan bagian dari Filsafat Pendidikan yang menyelidiki pendidikan sebagai ilmu. Dengan demikian, objek dari Filsafat Ilmu Pendidikan ini dapat dibedakan dalam empat macam22, yaitu : a) Ontologi Ilmu Pendidikan, yang membahas tentang hakikat substansi dan pola organisasi Imu Pendidikaan; b) Epistemologi Ilmu Pendidikan, yang membahas tentang hakikat objek formal dan material Ilmu Pendidikan; c) Metodologi Ilmu Pendidikan , yang membahas tentang hakikat cara-cara kerja dalam menyusun Ilmu Pendidikan; dan d) Aksiologi Ilmu Pendidikan, yang membahas tentang hakikat nilai kegunaan teoritis dan praktis Ilmu Pendidikan.

22

Redja Mudyahardjo, op. cit., h. 6.

13

B.4.

Aliran-aliran Filsafat Pendidikan Setidaknya ada lima aliran Filsafat yang sering disebutkan dalam studi

mengenai pendidikan. Nasution dalam bukunya Asas-asas kurikulum menyebutkan kelima aliran tersebut sebagai : 1) aliran perennialisme, 2) aliran idealisme, 3) aliran realisme, 4) aliran pragmatism dan 5) aliran eksistensialisme.23
1) Filsafat

pendidikan

progresivisme.

yang

didukung

oleh

filsafat

pragmatisme. Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya

pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk: mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
2) Filsafat pendidikan esensialisme. yang didukung oleh idealisme dan

realisme; Tokoh aliran idealisme adalah Plato (427-374 SM), murid Sokrates. Aliran idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa. Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak di antara gambaran asli (cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indera. Pertemuan antara jiwa dan cita melahirkan suatu angan-angan yaitu dunia idea. Aliran ini memandang serta menganggap bahwa yang nyata hanyalah idea. Idea sendiri selalu tetap atau tidak mengalami perubahan serta penggeseran, yang mengalami gerak tidak dikategorikan idea.

23

S. Nasution, Asas-asas Kurikulum, edisi 2 (Cet. 7; Jakarta: PT Bumi Aksara,2006), h. 22-25.

14

Keberadaan idea tidak tampak dalam wujud lahiriah, tetapi gambaran yang asli hanya dapat dipotret oleh jiwa murni. Alam dalam pandangan idealisme adalah gambaran dari dunia idea, sebab posisinya tidak menetap. Sedangkan yang dimaksud dengan idea adalah hakikat murni dan asli. Keberadaannya sangat absolut dan kesempurnaannya sangat mutlak, tidak bisa dijangkau oleh material. Pada kenyataannya, idea digambarkan dengan dunia yang tidak berbentuk demikian jiwa bertempat di dalam dunia yang tidak bertubuh yang dikatakan dunia idea. Plato yang memiliki filsafat beraliran idealisme yang realistis mengemukakan bahwa jalan untuk membentuk masyarakat menjadi stabil adalah menentukan kedudukan yang pasti bagi setiap orang dan setiap kelas menurut kapasitas masin-masing dalam masyarakat sebagai keseluruhan. Mereka yang memiliki kebajikan dan kebijaksanaan yang cukup dapat menduduki posisi yang tinggi, selanjutnya berurutan ke bawah. Misalnya, dari atas ke bawah, dimulai dari raja, filosof, perwira, prajurit sampai kepada pekerja dan budak. Yang menduduki urutan paling atas adalah mereka yang telah bertahun-tahun mengalami pendidikan dan latihan serta telah memperlihatkan sifat superioritasnya dalam melawan berbagai godaan, serta dapat menunjukkan cara hidup menurut kebenaran tertinggi. Mengenai kebenaran tertinggi, dengan doktrin yang terkenal dengan istilah ide, Plato mengemukakan bahwa dunia ini tetap dan jenisnya satu, sedangkan ide tertinggi adalah kebaikan. Tugas ide adalah memimpin budi manusia dalam menjadi contoh bagi pengalaman. Siapa saja yang telah menguasai ide, ia akan mengetahui jalan yang pasti, sehingga dapat menggunakan sebagai alat untuk mengukur,

mengklasifikasikan dan menilai segala sesuatu yang dialami sehari-hari. 3. Filsafat pendidikan perenialisme yang didukung oleh idealisme. Kadangkala dunia idea adalah pekerjaan rohani yang berupa angan-angan untuk mewujudkan cita-cita yang arealnya merupakan lapangan metafisis di luar alam yang nyata. Menurut Berguseon, rohani
15

merupakan sasaran untuk mewujudkan suatu visi yang lebih jauh jangkauannya, yaitu intuisi dengan melihat kenyataan bukan sebagai materi yang beku maupun dunia luar yang tak dapat dikenal, melainkan dunia daya hidup yang kreatif (Peursen, 1978). Aliran idealisme kenyataannya sangat identik dengan alam dan lingkungan sehingga melahirkan dua macam realita. Pertama, yang tampak yaitu apa yang dialami oleh kita selaku makhluk hidup dalam lingkungan ini seperti ada yang datang dan pergi, ada yang hidup dan ada yang demikian seterusnya. Kedua, adalah realitas sejati, yang merupakan sifat yang kekal dan sempurna (idea), gagasan dan pikiran yang utuh di dalamnya terdapat nilai-nilai yang murni dan asli, kemudian kemutlakan dan kesejatian kedudukannya lebih tinggi dari yang tampak, karena idea merupakan wujud yang hakiki. Prinsipnya, aliran idealisme mendasari semua yang ada. Yang nyata di alam ini hanya idea, dunia idea merupakan lapangan rohani dan bentuknya tidak sama dengan alam nyata seperti yang tampak dan tergambar. Sedangkan ruangannya tidak mempunyai batas dan tumpuan yang paling akhir dari idea adalah arche yang merupakan tempat kembali kesempurnaan yang disebut dunia idea dengan Tuhan, arche, sifatnya kekal dan sedikit pun tidak mengalami perubahan. Inti yang terpenting dari ajaran ini adalah manusia menganggap roh atau sukma lebih berharga dan lebih tinggi dibandingkan dengan materi bagi kehidupan manusia. Roh itu pada dasarnya dianggap suatu hakikat yang sebenarnya, sehingga benda atau materi disebut sebagai

penjelmaan dari roh atau sukma. Aliran idealisme berusaha menerangkan secara alami pikiran yang keadaannya secara metafisis yang baru berupa gerakan-gerakan rohaniah dan dimensi gerakan tersebut untuk

menemukan hakikat yang mutlak dan murni pada kehidupan manusia. Demikian juga hasil adaptasi individu dengan individu lainnya. Oleh karena itu, adanya hubungan rohani yang akhirnya membentuk

kebudayaan dan peradaban baru (Bakry, 1992). Maka apabila kita menganalisa pelbagai macam pendapat tentang isi aliran idealisme, yang
16

pada dasarnya membicarakan tentang alam pikiran rohani yang berupa angan-angan untuk mewujudkan cita-cita, di mana manusia berpikir bahwa sumber pengetahuan terletak pada kenyataan rohani sehingga kepuasaan hanya bisa dicapai dan dirasakan dengan memiliki nilai-nilai kerohanian yang dalam idealisme disebut dengan idea. Memang para filosof ideal memulai sistematika berpikir mereka dengan pandangan yang fundamental bahwa realitas yang tertinggi adalah alam pikiran (Ali, 1991). Sehingga, rohani dan sukma merupakan tumpuan bagi pelaksanaan dari paham ini. Karena itu alam nyata tidak mutlak bagi aliran idealisme. Namun pada porsinya, para filosof idealisme mengetengahkan berbagai macam pandangan tentang hakikat alam yang sebenarnya adalah idea. Idea ini digali dari bentuk-bentuk di luar benda yang nyata sehingga yang kelihatan apa di balik nyata dan usaha-usaha yang dilakukan pada dasarnya adalah untuk mengenal alam raya. Walaupun katakanlah idealisme dipandang lebih luas dari aliran yang lain karena pada prinsipnya aliran ini dapat menjangkau hal-ihwal yang sangat pelik yang kadang-kadang tidak mungkin dapat atau diubah oleh materi, Sebagaimana Phidom mengetengahkan, dua prinsip pengenalan dengan memungkinkan alat-alat inderawi yang difungsikan di sini adalah jiwa atau sukma. Dengan demikian, dunia pun terbagi dua yaitu dunia nyata dengan dunia tidak nyata, dunia kelihatan(boraton genos) dan dunia yang tidak kelihatan (cosmos neotos). Bagian ini menjadi sasaran studi bagi aliran filsafat idealisme. Plato dalam mencari jalan melalui teori aplikasi di mana pengenalan terhadap idea bisa diterapkan pada alam nyata seperti yang ada di hadapan manusia. Sedangkan pengenalan alam nyata belum tentu bisa mengetahui apa di balik alam nyata. Memang kenyataannya sukar membatasi unsur-unsur yang ada dalam ajaran idealisme khususnya dengan Plato. Ini disebabkan aliran Platonisme ini bersifat lebih banyak membahas tentang hakikat sesuatu daripada menampilkannya dan mencari dalil dan keterangan hakikat itu sendiri. Oleh karena itu dapat kita katakan bahwa pikiran Plato itu bersifat dinamis dan tetap berlanjut tanpa
17

akhir. Tetapi betapa pun adanya buah pikiran Plato itu maka ahli sejarah filsafat tetap memberikan tempat terhormat bagi sebagian pendapat dan buah pikirannya yang pokok dan utama. Antara lain Betran Russel berkata: Adapun buah pikiran penting yang dibicarakan oleh filsafat Plato adalah: kota utama yang merupakan idea yang belum pernah dikenal dan dikemukakan orang sebelumnya. Yang kedua, pendapatnya tentang idea yang merupakan buah pikiran utama yang mencoba memecahkan persoalan-persoalan menyeluruh persoalan itu yang sampai sekarang belum terpecahkan. Yang ketiga, pembahasan dan dalil yang dikemukakannya tentang keabadian. Yang keempat, buah pikiran tentang alam/cosmos, yang kelima, pandangannya tentang ilmu pengetahuan (Ali, 1990). Plato adalah generasi awal yang telah membangun prinsip-prinsip filosofi aliranidealis. George WE Hegel kemudian merumuskan aliran idealisme ini secara komprehensif ditinjau secara filosofi maupun sejarah. Tokoh-tokoh lain yang juga mendukung aliran idealisme antara lain Plotinus, George Berkeley, Leinbiz, Fichte, dan Schelling serta Kant. Ilmuan Islam yang sejalan dengan idealisme adalah Imam AlGhozali.

C. IMPLIKASI PANDANGAN FILSAFAT PENDIDIKAN C.1. Implikasi dalam Pengembangan Teori Pendidikan

1) Munculnya filsafat p endidikan yang dipelopori oleh Plato.24 Menurut Plato, setiap objek atau benda didunia fisik memiliki ide atau bentuk abstrak yang menyebabkannya. Ide murni atau esensi dari benda ini eksis secara independen dari materi, dan sesuatu akan hilang ketika diterjemahkan ke dalam materi. Karenanya, jika kita berusaha mendapatkan pengetahuan dengan memeriksa benda-benda yang kita rasakan dan alami lewat indera, kita akan tersesat. Informasi Inderawi
24

Redja Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan: Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-Dasar Penndidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia (Cet. 1; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001), h.29

18

hanya menghasilkan opini; ide-ide abstrak itu sendirilah satu-satunya dasar dari pengetahuan yang benar.25 2) Lahir dan berkembangnya mazhab-mazhab / aliran-aliran filsafat pendidikan, seperti: filsafat pendidikan idealisme, realisme,

eksperimentalisme/ instrumentalisme, dan eksistensialisme. C.2. Implikasi dalam Praktek Pendidikan Konsep-konsep filsafat umum ( metafisika, epistemologi, dan aksiologi) menjadi dasar/landasan penyelenggaraan pendidikan (Landasan Filosofis Pendidikan). Berikut ini merupakan penjelasan bagaimana Implementasi Aliran Filsafat idealisme Pendidikan dalam tujuan, kurikulum dan metode

pendidikan serta peran guru dan siswa sebagai contoh. Bagi aliran idealisme, anak didik merupakan seorang pribadi tersendiri, sebagai makhluk spiritual. Mereka yang menganut paham idealisme senantiasa memperlihatkan bahwa apa yang mereka lakukan merupakan ekspresi dari keyakinannya, sebagai pusat utama pengalaman pribadinya sebagai makhluk spiritual. Tentu saja, model pemikiran filsafat idealisme ini dapat dengan mudah ditransfer ke dalam sistem pengajaran dalam kelas. Guru yang menganut paham idealisme biasanya berkeyakinan bahwa spiritual merupakan suatu kenyataan, mereka tidak melihat murid sebagai apa adanya, tanpa adanya spiritual. 1. Tujuan Pendidikan Menurut para filsuf idealisme, pendidikan bertujuan untuk membantu perkembangan pikiran dan diri pribadi (self) siswa. Mengingat bakat manusia berbeda-beda maka pendidikan yang diberikan kepada setiap orang harus sesuai dengan bakatnya masing-masing. Sejak idealisme sebagai paham filsafat pendidikan menjadi keyakinan bahwa realitas adalah pribadi, maka mulai saat itu dipahami tentang perlunya pengajaran secara individual. Pola pendidikan yang diajarkan fisafat

25

B.R. Hergenhahn dan Matthew H. Olson, Theoris of Learning, diterjemahkan oleh Tri Wibowo B.S dengan judul Teori Belajar, edisi 7 ( Cet. 1; Jakarta: Kencana, 2008), h. 32.

19

idealisme berpusat dari idealisme. Pengajaran tidak sepenuhnya berpusat dari anak, atau materi pelajaran, juga bukan masyarakat, melainkan berpusat pada idealisme. Maka, tujuan pendidikan menurut paham idealisme terbagai atas tiga hal, tujuan untuk individual, tujuan untuk masyarakat, dan campuran antara keduanya. Pendidikan idealisme untuk individual antara lain bertujuan agar anak didik bisa menjadi kaya dan memiliki kehidupan yang bermakna, memiliki kepribadian yang harmonis dan penuh warna, hidup bahagia, mampu menahan berbagai tekanan hidup, dan pada akhirnya diharapkan mampu membantu individu lainnya untuk hidup lebih baik. Sedangkan tujuan pendidikan idealisme bagi kehidupan sosial adalah perlunya persaudaraan sesama manusia. Karena dalam spirit persaudaraan terkandung suatu pendekatan seseorang kepada yang lain. Seseorang tidak sekadar menuntuk hak pribadinya, namun hubungan manusia yang satu dengan yang lainnya terbingkai dalam hubungan kemanusiaan yang saling penuh pengertian dan rasa saling menyayangi. Sedangkan tujuan secara sintesis dimaksudkan sebagai gabungan antara tujuan individual dengan sosial sekaligus, yang juga terekspresikan dalam kehidupan yang berkaitan dengan Tuhan. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan,

kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. 2. Kurikulum Pendidikan Kurikulum pendidikan idealisme berisikan pendidikan liberal dan pendidikan vokasional/praktis. Pendidikan liberal dimaksudkan untuk

pengembangan kemampuan-kemampuan rasional dan moral. Pendidikan vokasional dimaksudkan untuk pengembangan kemampuan suatu

kehidupan/pekerjaan. Kurikulum yang digunakan dalam pendidikan yang beraliran idealisme harus lebih memfokuskan pada isi yang objektif. Pengalaman haruslah lebih

20

banyak daripada pengajaran yang textbook. Agar supaya pengetahuan dan pengalamannya senantiasa aktual. 3. Metode Pendidikan Tidak cukup mengajar siswa tentang bagaimana berfikir, sangat penting bahwa apa yang siswa pikirkan menjadi kenyataan dalam perbuatan. Metode mangajar hendaknya mendorong siswa untuk memperluas

cakrawala, mendorong berfikir reflektif, mendorong pilihan-pilihan morak pribadi, memberikan keterampilan-keterampilan berfikir logis, memberikan kesempatan menggunakan pengetahuan untuk masalah-masalah moral dan sosial, miningkatkan minat terhadap isi mata pelajaran, dan mendorong siswa untuk menerima nilai-nilai peradaban manusia (Callahan and Clark,1983). 4. Peran Guru dan Siswa Para filsuf idealisme mempunyai harapan yang tinggi dari para guru. Keunggulan harus ada pada guru, baik secara moral maupun intelektual. Tidak ada satu unsur pun yang lebih penting di dalam sistem sekolah selain guru. Guru hendaknya bekerjasama dengan alam dalam proses

menggabungkan manusia, bertanggung jawab menciptakan lingkungan pendidikan bagi para siswa. Sedangkan siswa berperan bebas mengembangkan kepribadian dan bakat-bakatnya. (Edward J.Power,1982) a) Guru dalam sistem pengajaran yang menganut aliran idealisme berfungsi sebagai: b) Guru adalah personifikasi dari kenyataan si anak didik; c) Guru harus seorang spesialis dalam suatu ilmu pengetahuan dari siswa; d) Guru haruslah menguasai teknik mengajar secara baik; e) Guru haruslah menjadi pribadi terbaik, sehingga disegani oleh para murid; f) Guru menjadi teman dari para muridnya; g) Guru harus menjadi pribadi yang mampu membangkitkan gairah murid untuk belajar;
21

h) Guru harus bisa menjadi idola para siswa; i) Guru harus rajib beribadah, sehingga menjadi insan kamil yang bisa menjadi teladan para siswanya; j) Guru harus menjadi pribadi yang komunikatif; k) Guru harus mampu mengapresiasi terhadap subjek yang menjadi bahan ajar yang diajarkannya; l) Tidak hanya murid, guru pun harus ikut belajar sebagaimana para siswa belajar; m) Guru harus merasa bahagia jika anak muridnya berhasil; n) Guru haruslah bersikap demokratis dan mengembangkan demokrasi; o) Guru harus mampu belajar, bagaimana pun keadaannya.

22

BAB. III PENUTUP Kesimpulan Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta seputar pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan semata . Manusia merupakan sasaran pendidikan. Maka pengertian yang luas dan mendalam tentang hakikat manusia sangat diperlukan bagi

perkembangan ilmu dan praktik pendidikan. Pengertian yang demikian mengenai hakikat manusia dimungkinkan oleh kajian filsafat yang bersifat komperhensif dan mendasar. Untuk itu, filsafat telah berkembang menjadi beberapa cabang yang lebih spesifik objek kajiannya, filsafat pendidikan adalah salah satunya. Filsafat Pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan yang merupakan landasan bagi semua pendidikan untuk memperoleh jawaban-jawaban bagi permasalahan. Sebagai sebuah disiplin ilmu, Filsafat Pendidikan membahas hal-hal seperti : 1) apakah sebenarnya pendidikan itu; 2) apakah tujuan pendidikan itu sebenarnya; dan 3) dengan cara apa tujuan pendidikan tersebut dapat dicapai 4) hakikat kemanan manusia dan pendidikan, 5) hakikat kesamaan manusia dan pendidikan, dan 6) hakikat demokrasi dan pendidikan. Selain itu objek formal dari disiplin ini ialah : Ontologi, Epistemologi, Metodologi dan aksiologi dari Ilmu Munculnya filsafat p endidikan yang dipelopori oleh Plato.26 Serta Lahir dan berkembangnya mazhab-mazhab / aliran-aliran filsafat pendidikan, seperti: filsafat pendidikan idealisme, realisme, eksperimentalisme/

instrumentalisme, dan eksistensialisme adala merupakan implikasi filsafat

26

Redja Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan: Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-Dasar Penndidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia (Cet. 1; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001), h.29

23

dalam

pengembangan

teori

pendidikan,

sedangkan

penyelengaraan

pendidikan yang menjadikan konsep-konsep filsafat umum ( metafisika, epistemologi, dan aksiologi) sebagai dasar/landasannya adalah merupakan implikasi dalam praktek pendidikan.

24

DAFTAR PUSTAKA Alix Wijaya H.K. , 12 Pengertian Pendidikan , Alixwijaya, diakses dari http://alixwijaya.com/2010/12-definisi-pendidikan-2.html, 1 Maret 2012. B.R. Hergenhahn dan Matthew H. Olson. Theoris of Learning. Tri Wibowo B.S. 2008. Teori Belajar. Jakarta: Kencana, Jujun Suriasumantri. 2007. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Pengertian dan Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan . diakses dari http://makalahguru.blogspot.com/p/pengertian-dan-ruang-lingkupfilsafat.html. 2 Maret 2012. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring. http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php . 1 Maret 2012. Redja Mudyahardjo. 2001. Pengantar Pendidikan: Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-Dasar Penndidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Redja Mudyahardjo. 2002. Filsafat Ilmu Pendidikan: Suatu Pengantar. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA. Rino Sofiansyah. Hakikat dan Tujuan Pendidikan Islam. diakses dari http://forum.uii.ac.id/index.php/home/topic.html?id=183 . 2 Maret 2012. Riski Amalia Putri. Pondasi Ilmiah dalam Penyelenggaraan Pendidikan, http://blog.unsri.ac.id/riski02/pengantar-pendidikan-/karateristik-ilmupendidikan-sebagai-disiplin-ilmu-pondasi-ilmu-/mrdetail/14738/, 1 Maret 2012. S. Nasution. 2006. Asas-asas Kurikulum. Jakarta: PT Bumi Aksara.

25

Umar Tirtarahardja. 2008. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT RINEKA CIPTA.

26