Anda di halaman 1dari 39

DIFUSI DAN OSMOSIS

(Laporan Praktikum Fisiologi Pohon)

Oleh Ardiyansa Dwi Saputra 1014081054

JURUSAN KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG 2012

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Difusi adalah peristiwa mengalirnya/berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Contoh yang sederhana adalah pemberian gula pada cairan teh tawar. Lambat laun cairan menjadi manis. Contoh lain adalah uap air dari cerek yang berdifusi dalam udara.

Osmosis adalah perpindahan air melalui membran permeabel selektif dari bagian yang lebih encer ke bagian yang lebih pekat. Membran semipermeabel harus dapat ditembus oleh pelarut, tapi tidak oleh zat terlarut, yang mengakibatkan gradien tekanan sepanjang membran. Osmosis merupakan suatu fenomena alami, tapi dapat dihambat secara buatan dengan meningkatkan tekanan pada bagian dengan konsentrasi pekat menjadi melebihi bagian dengan konsentrasi yang lebih encer. Gaya per unit luas yang dibutuhkan untuk mencegah mengalirnya pelarut melalui membran permeabel selektif dan masuk ke larutan dengan konsentrasi yang lebih pekat sebanding dengan tekanan turgor. Tekanan osmotik merupakan sifat koligatif, yang berarti bahwa sifat ini bergantung pada konsentrasi zat terlarut, dan bukan pada sifat zat terlarut itu sendiri. B. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum kal ini yaitu Untuk mengetahui proses difusi dan osmosis yang terjadi pada sel.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Proses fisika difusi (dengan osmosis sebagai bagian khususnya) memainkan peranan sangat penting pada fisiologi tumbuhan, sehingga pengertian yang jelas mengenai proses ini perlu sekali dimiliki, tetapi agar mudah dimengerti, beberapa sifat umum materi harus diperhatikan lebih dahulu. Telah diketahui benar bahwa semua zat, baik unsur maupun senyawa, pada hakikatnya tersusun atas partikel-partikel kecil. Partikel-partikel ini memiliki dua sifat umum yang penting, yaitu : 1. Kemampuan untuk bergerak bebas 2. Kecenderungan bagi partikel yang sama untuk tarik-menarik. Kedua sifat ini sangat bertentangan. Kemampuan untuk bergerak bebas cenderung untuk memisahkan partikel penyusun suatu zat, sedangkan gaya tarik-menarik cenderung untuk mempersatukan partikel-partikel itu. Efek pengaruh-mempengaruhi antara kecenderungan yang bertentangan itu (misalnya, apakah kecenderungan bagi gerakan bebas lebih besar dari pada gaya tarik, atau sebaliknya) menentukan keadaan fisik suatu zat. Sebagai perkiraan dapat dikatakan bahwa jika kecenderungan untuk gerakan bebas lebih unggul, zat itu akan berada dalam bentuk

gas; jika kecenderungan untuk gaya tarik lebih unggul, zat itu akan berada dalam bentuk padat, sedangkan jika kedua kecenderungan itu kira-kira sama kuat, zat itu akan berada dalam bentuk cair. Ada dua faktor penting yang menentukan apakah suatu zat tertentu berkelakuan sebagai zat padat, zat cair, atau gas: 1. Mobilitas dasar suatu zat (misalnya partikel oksigen sangat mobil, sedangkan besi saling terikat kuat-kuat) 2. Suhu zat itu (mialnya penggunaan panas dapat mengubah zat cair menjadi gas dengan meningkatkan kemampuan gerakan bebas partikel zat itu).(A.R.Loveless:1991) Apabila kita meneteskan tinta ke dalam segelas air, maka warna tinta tersebut akan menyebar dari tempat tetesan awal (konsentrasi tinggi) ke seluruh air dalam gelas (konsentrasi rendah) sehingga terjadi keseimbangan. Sebenarnya, selain terjadi pergerakan tinta, juga terjadi pergerakan air menuju ke tempat tetesan tinta (dari konsentrasi air tinggi ke konsentrasi air rendah). Laju difusi antara lain tergantung pada suhu dan densitas (kepadatan) medium. Gas berdifusi lebih cepat dibandingkan dengan zat cair, sedangkan zat padat berdifusi lebih lambat dibandingkan dengan zat cair. Molekul berukuran besar lebih lambat pergerakannya dibanding dengan molekul yang lebih kecil. Pertukaran udara melalui stomata merupakan contoh dari proses difusi. Pada siang hari terjadi proses fotosintesis yang menghasilkan O2 sehingga konsentrasi O2 meningkat. Peningkatan konsentrasi O2 ini akan menyebabkan difusi O2 dari daun ke udara luar melalui stomata. Sebaliknya konsentrasi CO2 di dalam jaringan menurun (karena digunakan untuk fotosintesis) sehingga CO2 dari udara luar masuk melalui stomata. Penguapan air melalui stomata (transpirasi) juga merupakan contoh proses difusi. Di alam,

angin, dan aliran air menyebarkan molekul lebih cepat disbanding dengan proses difusi (Volk dan Wheeler, 1988). Pada hakekatnya, osmosis adalah suatu proses difusi. Para ahli kimia mengatakan bahwa osmosis adalah difusi dari tiap pelarut melalui suatu selaput yang permeabel secara diferensial. Seperti dikatakan di atas, pelarut universal adalah air. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa osmosis adalah difusi air melalui selaput yang permeabel secara diferensial dari suatu tempat yang berkonsentrasi tinggi ke tempat yang berkonsentrasi rendah.(Tim Dosen Pembina:2010)

III. METODE PENGAMATAN

A. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu : Alat-alat : Pisau, tabung reaksi, pengaris, pena, stopwatch dan timbangan digital, bahan-bahan : Gula, air, aquades (air oksigen), kentang, dan tinta(hitam) .

B. Metode Praktikum Untuk percobaan yang pertama: 1. Gelas A dan B (Aqua gelas) diisi dengan air yang dicampuri gula dengan takaran Gelas A yaitu 15% dan B yaitu 5%. Dan gelas C diisi dengan air Aquades (air oksigen) 2. Lalu membuat kubus tiga dengan ukuran 1x1cm dengan mengunakan kentang dan timbang ketiga kubus tersebut 3. Kemudian masukan ketiga kubus tersebut ke dalam masing-masing gelas dan diamkan selama 20 menit

4. Setelah 20 menit angkat kembali kubusnya, timbang berat ketiga kubus tersebut dan perhatikan perubahan dari ketiga kubus tersebut.

Untuk percobaan yang kedua : 1. Menyiapkan tabung reaksi yang diisi dengan air 250ml, kemudian meneteskan 5 kali tetesan tinta yang berwarna hitam 2. Lalu mengamati percampuran tinta dengan air dan dihidupkan stopwatch untuk mengetahui waktunya 3. Setelah tinta dan air menyatu atau tidak ada pergerakan dari percampuran tersebut baru matikan stopwatch dan catat waktunya. 4. Melakukan ulangan percampuran tinta dengan air selama 3 kali ulangan

IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Adapun hasil pengamatan yang diperoleh dari praktikum kali ini yaitu : Pada Percobaan 1 Berat Kubus Umbi Kentang Sebelum Sesudah 1,50gr 1,57gr

No Jenis Larutan A Larutan gula 15%

Keterangan Warna umbi tetap kuning segar

Larutan gula 5%

1,54gr

1,64gr

Warna umbi berubah menjadi sedikit memucat

Aquades

1,45gr

1,54gr

Warna umbi menjadi kuning memucat

Pada Percobaan 2 No 1 2 3 Percobaan 250ml (5 trtes pertama) 250ml (5 tetes kedua) 250ml (5 tetes ketiga) Waktu 81441 52692 70601

B. Pembahasaan

Pada praktikum kali ini mengenai tentang difusi dan osmosis, dengan medianya difusi (Percobaan 1) menggunakan tinta yang dimasukan kedalam tabung reaksi yang diisi air sebanyak 250ml dengan melakukan 3kali pengulangan, denga waktu yang didapat pada saat 5 tetesan tinta pertama dengan waktu 81441 , 5 tetes ke dua wktunya adalah 52642 , pada 5 tetes ke 3 waktunya 70601. Sedangkan osmosis menggunakan media kentang yang dibuat berbentuk kubus yang direndam dengan larutan gula dengan takaran 15%, 5%, dan larutan aquades (air oksigen) . Dan akhirnya mendapatkan hasil percobaan menggunakan larutan gula 15% yaitu berat kubus umbi kentang yang sebelum direndam sebesar 1,50gr setelah kubus tersebut dikeluarkan dari gelas nilai meningkat menjadi 1,57gr tetapi warnanya tetap kuning segar dan teksturnya menjadi lebih kembung akibat penyerapan umbi kentang terhadap air dan mengakibatkan larutan menjadi berkurang, pada larutan gula 5% berat sebelum direndam 1.54gr setelah dikeluarkan dari rendaman beratnya menjadi1,64gr dan warnanya menjadi sedikit memucat, tekstur bentuknya menjadi lebih berisi, Sedangkan dengan menggunakan larutan aquades berat sebelum perendaman 1,45gr dan setelah perendaman beratnya menjadi 1,54gr dengan warnanya berubah menjadi kuning memucat dan tekstur bentuk menjadi lebih besar. Gula bersifat impermeable yang menyebabkan hanya air yang berpindah. Itulah sebabnya kenapa air pada selang naik.

Apabila kita meneteskan tinta ke dalam segelas air, maka warna tinta tersebut akan menyebar dari tempat tetesan awal (konsentrasi tinggi) ke seluruh air dalam gelas (konsentrasi rendah) sehingga terjadi keseimbangan. Sebenarnya, selain terjadi pergerakan tinta, juga terjadi

pergerakan air menuju ke tempat tetesan tinta (dari konsentrasi air tinggi ke konsentrasi air rendah). Laju difusi antara lain tergantung pada suhu dan densitas (kepadatan) medium. Gas berdifusi lebih cepat dibandingkan dengan zat cair, sedangkan zat padat berdifusi lebih lambat dibandingkan dengan zat cair. Molekul berukuran besar lebih lambat pergerakannya dibanding dengan molekul yang lebih kecil. Pertukaran udara melalui stomata merupakan contoh dari proses difusi. Pada siang hari terjadi proses fotosintesis yang menghasilkan O2 sehingga konsentrasi O2 meningkat. Peningkatan konsentrasi O2 ini akan menyebabkan difusi O2 dari daun ke udara luar melalui stomata. Sebaliknya konsentrasi CO2 di dalam jaringan menurun (karena digunakan untuk fotosintesis) sehingga CO2 dari udara luar masuk melalui stomata. Penguapan air melalui stomata (transpirasi) juga merupakan contoh proses difusi. Di alam, angin, dan aliran air menyebarkan molekul lebih cepat disbanding dengan proses difusi (Volk dan Wheeler, 1988). Pada hakekatnya, osmosis adalah suatu proses difusi. Para ahli kimia mengatakan bahwa osmosis adalah difusi dari tiap pelarut melalui suatu selaput yang permeabel secara diferensial. Seperti dikatakan di atas, pelarut universal adalah air. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa osmosis adalah difusi air melalui selaput yang permeabel secara diferensial dari suatu tempat yang berkonsentrasi tinggi ke tempat yang berkonsentrasi rendah.(Tim Dosen Pembina:2010)

V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari praktikum kali ini yaitu : 1. Difusi adalah proses pergerakan acak parkitel-partikel gas, cairan dari konsetrasi tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah. Difusi dengan menggunakan tinta yang dimasukan kedalam tabung reaksi dan berisi air, supaya bercampur antara tinta dengan air . 2. Osmosis adalah perpindahan pelarut dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah melalui membran semipermeable, dengan menggunakan media perendaman kentang yang dibentuk kubus direndam dengan air gula dan air oksigen supaya dapat melihat penyerapan kentang.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 20xx. http://nandofiles.blogspot.com/p/proses-osmosis-pada-kentang. html . Diakses tanggal 29/09/2012 pukul 17.00 WIB. Anonim B. 2009. Difusi. http://id.wikipedia.org/wiki/DifusidanOsmosis. Diakses tanggal 29/09/2012 pukul 18.00 WIB. Campbell. 2002. Biologi Jilid 1. Erlangga: Jakarta. Volk dan Wheeler. 1988. Mikrobiologi dasar. Erlangga: Jakarta.

Sabtu, 13 Oktober 2012


Laporan Praktikum Difusi & Osmosis

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pada semua makhluk hidup, dari prokariota hingga organisme multiseluler yang paling kompleks, melakukan pertukaran zat dengan lingkungannya pada tingkat seluler. Pertukaran zat tersebut sangat penting bagi metabolisme sel. Transport yang tersebut dapat berlangsung secara aktif maupun pasif. Transport secara pasif diantaranya difusi dan osmosis. Difusi adalah perpindahan molekul-molekul dari hipertonik ke hipotonik. Hipertonik berarti konsentrasi yang tinggi, sedang hipotonik berarti konsentrasi yang rendah. Osmosis adalah perpindahan molekul air melalui membran semipermeabel dari larutan yang konsentrasi airnya tinggi (hipertonik) ke larutan yang konsentrasi airnya rendah (hipotonik). Osmosis juga sering disebut sebagai difusi pada organism hidup dimana molekul yang berdifusi harus menerobos pori-pori mrmbran plasma. Oleh karena itu, untuk lebih memahami perbedaan antara kedua proses transport pasif di atas, maka pada praktikum kali ini akan dipelajari bagai mana proses difusi dan osmosis terjadi, terutama pada tumbuhan, yang dilakukan pada kentang (Solanum toberosum).

1.2 Tujuan - Membandingkan proses difusi pada penghomogenan metilen blue dan CuSo4 dengan aquades (air). - Mengetahui proses osmosis pada kentang (Solanum toberosum). - Menjelaskan perbedaan proses difusi dan osmosis.

1.3 Manfaat - Dapat memahami proses difusi melalui pangamatan penghomogenan metilen blue dan CuSo4 dengan aquades (air).

- Memahami konsep osmosis pada tumbuhan melalui pengamatan pada kentang (Solanum toberosum). - Memahami perbedaan antara proses difusi dan osmosis.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Semua makhluk hidup memerlukan nutrisi untuk melangsungkan kehidupannya, penyerapan nutrien ini memerlukan suatu sistem transport. Sistem transport nutrien sangat penting bagi tumbuhan dan hewan. Pada tumbuhan transport zat hara serta pertukaran zat dan hasil metabolisme dari sel ke sel dengan menembus membran plasma dan berlangsung baik secara aktif maupun pasif. Pada umumnya membran sel bersifat selektif permeabel yaitu cuma zat-zat tertentu saja yang dapat masuk keluar membran plasma. Transport aktif adalah transport ion atau molekul yang membutuhkan energi untuk melewati membran plasma, sedangkan transport pasif adalah transport ion atau molekul yang tidak memerlukan energi untuk melewati membran plasma. Metabolisme pada organisme multi seluler meliputi banyak hal diantaranya transpor materi dan energi. Sistem transportasi sangat penting bagi tumbuhan dan hewan yang berkaitan dengan massa organisme. Pada tumbuhan dan hewan yang masih sederhana atau belum memiliki struktur organisme rumit, transpot materi (nutrien dan zat hara) dan hasil metabolisme cukup dari sel ke sel. Transportasi tersebut dapat berlangsung secara aktif maupun pasif. Transportasi pasif berlangsung antara lain secara osmosis. Protoplasma sel mempunyai plasma ( pada tumbuhan ) atau selaput sel (pada hewan) yang mampu mengatur secara selektifaliran cairan dari lingkungan suatu sel ke dalam sel atau sebaliknya. Terdapat dua proses fisiokimia yang penting yaitu difusi dan osmosis (Volk dan Wheeler, 1988). 2.1 Difusi Difusi adalah perpindahan molekul-molekul dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah baik melalui membrane plasma ataupun tidak. Molekul dan ion yang terlarut dalam air bergerak secara acak dengan konstan. Gerakan ini mendorong terjadinya difusi. Sedangkan menurut Wikipedia Difusi adalah peristiwa mengalirnya atau berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Perbedaan konsentrasi yang ada pada dua larutan disebut gradient konsentrasi. Contoh sederhana adalah pemberian gula pada cairan teh tawar. Lambat laun cairan menjadi manis. Contoh lain adalah uap air dari cerek yang berdifusi dalam udara. Difusi yang paling sering terjadi adalah difusi molekuler. Difusi ini terjadi jika terbentuk perpindahan dari sebuah lapisan (layer) molekul yang diam dari solid atau fluida.

Metabolisme diartikan pertukaran zat antar suatu sel organisme secara keseluruhan dengan lingkungannya. Salahsatu aktivitas protoplasma yang penting adalah pembentukan sel baru dengan cara pembelahan. Sebelum sel melakukan pembelahan, maka protoplasma aktif mengumpulkan serta mensintesis karbohidrat, protein, lemak dan banyak lagi senyaawa organic kompleks yang merupakan bagian dari protoplasma dan dinding sel. Bahan dasar untuk sintesa adalah unsur-unsur anorganik yang diserap oleh akar dan gula yang dibentuk dari karbondioksida dan air dalam proses fotosintesa. Dengan demikian metabolism pada organisme multiseluler juga mencakup masalah penyerapan air serta senyawa-senyawa anorganik dari dalam tanah serta transport nutrien ke tempat sintesa (Campbell, 2002). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan difusi ,yaitu: a. Ukuran partikel. Semakin kecil ukuran partikel, semakin cepat partikel itu akan bergerak. Sehingga kecepatan difusi semakin tinggi. b. Ketebalan Membran. Semakin tebal membrane, semakin lambat kecepatan difusinya. c. Luas suatu area. Semakin besar luas area, semakin cepat kecepatan difusinya d. Jarak. Semakin besar jarak antara dua konsentrasi, semakin lambat kecepatan difusinya e. Suhu. Semakin tinggi suhu, partikel mendapatkan energy untuk bergerak dengan lebih cepat. Maka, semakin cepat pula kecepatan difusinya. Difusi merupakan peristiwa perpindahan melekul dengan menggunakan tenaga kinetik bebas, proses perpindahan ini berlangsung dari derajat konsentrasi tinggi ke derajat konsentrasi rendah. Proses ini akan terus berlangsung hingga dicapai titik keseimbangan. Difusi merupakan proses pergerakan partikel-partikel (atom, molekul) gas, cairan, dan larutan dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah hingga mencapai tahap kesetimbangan. Macam-macam difusi : Difusi dipermudah sengan saluran protein Substansi seperti asam amino, gula, dan substansi bermuatan tidak dapat berdifusi melalui membran plasma. Substansi-substansi tersebut melewati membran plasma melalui saluran yang dibentuk oleh

protein. Protein yang membentuk saluran yang dibentuk oleh protein. Protein yang membentuk saluran ini merupakan protein integral. Difusi dipermudah dengan protein pembawa Proses difusi ini melibatkan protein yang membentuk suatu saluran dan mengikat substansi yang ditransport. Protein ini disebut protein pembawa. Protein pembawa biasanya mengangkut molekul polar, misalnya sam amino dan glukosa (Campbell, 2002). 2.2 Osmosis Osmosis adalah perpindahan air melalui membrane permeable selektif dari bagian yang lebih encer ke bagian yang lebih pekat (www.wikipedia.com). Osmosis adalah perpindahan molekul air melalui membrane semipermiabel dari larutan yang konsentrasi airnya tinggi ke larutan yang konsentrasinya rendah. Dengan kata lain osmosis berarti juga perpindahan molekul dari larutan berkepekatan rendah (hipotonis) ke larutan berkepekatan tinggi (hipertonis) melalui selaput (membrane) semipermeabel. Membrane semipermeabel harus dapat ditembus oleh pelarut, tetapi tidak oleh zat terlarut, yang mengakibatkan gradient tekanan sepanjang membran. Osmosis merupakan suatu fenomena alami, tapi dapat dihambat secara buatan dengan meningkatkan tekanan pada bagian dengan konsentrasi pekat menjadi melebihi bagian dengan konsentrasi yang lebih encer. Gaya perunit luas yang dibutuhkan untuk mencegah mengalirnya pelarut melalui membran permeable selektif dan masuk ke larutan dengan konsentrasi yang lebih pekat sebanding dengan tekanan turgor. Tekanan osmotik merupakan sifat koligatif, yang berarti bahwa sifat ini bergantung pada konsentrasi zat terlarut, dan bahkan pada sifat zat terlarut itu sendiri. Osmosis adalah suatu topik yang penting dalam biologi karena fenomena ini dapat menjelaskan mengapa air dapat ditransportasikan ke dalam dan keluar sel (Pratiwi, 2004). Osmosis adalah peristiwa perpindahan massa dari lokasi dengan potensi solvent tinggi, menuju lokasi berpotensi solvent rendah, melalui membran semi-permeable.Umumnya yang disebut sebagai solvent di sini adalah air. Dapat dikatakan bahwa peristiwa osmosis adalah transfer solvent (dan bukan solut).Sedangkan peristiwa transfer solut, dikenal sebagai dialysis (arah aliran dari titik berpotensi solut tinggi menuju ke rendah) (Pratiwi, 2004). Prinsip osmosis: transfer molekul solvent dari lokasi hypotonic (potensi rendah) solution menuju hypertonic solution, melewati membran. Jika lokasi hypertonic solution kita beri tekanan tertentu, osmosis dapat berhenti, atau malah berbalik arah (reversed osmosis).Besarnya tekanan yang dibutuhkan untuk menghentikan osmosis disebut sebagai osmotic press.Jika dijelaskan sebagai konsep termodinamika, osmosis dapat dianalogikan sebagai proses perubahan entrropi. Komponen solvent

murni memiliki entropi rendah, sedangkan komponen berkandunagn solut tinggi memiliki entropi yg tinggi juga. Mengikuti Hukum Termo II: setiap perubahan yang terjadi selalu menuju kondisi entropi maksimum, maka solvent akan mengalir menuju tempat yg mengandung solut lebih banyak, sehingga total entropi akhir yang diperoleh akan maksimum.Solvent akan kehilangan entropi, dan solut akan menyerap entropi. "Orang miskin akan semakin miskin, sedang yang kaya akan semakin kaya". Saat kesetimbangan tercapai, entropi akan maksimum, atau gradien (perubahan entropi terhadap waktu) = 0. Ingat: pada titik ekstrim, dS/dt = 0 (Volk, 1988). Contoh proses osmosis yang terjadi misalnya, masuk dan naiknya air mineral dalam tubuh pepohonan merupakan proses osmosis. Air dalam tanah memiliki kandungan solvent lebih besar (hypotonic) dibanding dalam pembuluh, sehingga air masuk menuju xylem atau sel tanaman. Jika sel tanaman diletakkan dalam kondisi hypertonic (solut tinggi atau solvent rendah), maka sel akan menyusut (terplasmolisis) karena cairan sel keluar menuju larutan hypertonic. Ikan air tawar yang ditempatkan di air laut akan mengalami penyusutan volume tubuh. Air laut adalah hypertonic bagi sel tubuh manusia, sehingga minum air laut justru menyebabkan dehidrasi. Kentang yang dimasukkan ke dalam air garam akan mengalami penyusutan (Pratiwi, 2004). Osmosis merupakan suatu peristiwa perembesan suatu molekul air melintasi membran yang memisahkan dua larutan dengan potensial air yang berbeda. Proses osmosis berlangsung dari larutan hipotonik menuju larutan yang hipertonik atau perpindahan air dari molekul air larutan yang potensial air tinggi menuju potensial air rendah. Ketika sel tumbuhan diletakkan pada larutan yang hipertonik atau lebih pekat dibanding konsentrasi plasma selnya maka air yang berada dalam vakoula akan merembes ke luar sel. Akibatnya protoplasma mengkerut dan terlepas dari dinding sel, peristiwa ini disebut dengan plasmolisis. Keadaan tersebut dapat kembali seperti semula apabila lingkungan sel diganti dengan larutan hipotonik. Kembalinya keadaan protoplasma setelah plasmolisis disebut deplasmolisis. Metabolisme pada organisme multiselluler mencakup beberapa hal, antara lain transport zat hara dan transport ion. Sistem transport pada hewan yaitu sistem sirkulasi. Pada sistem sirkulasi, aliran materi terjadi karena adanya daya dorong dari organ pemompa. Sedang sistem transport pada tumbuhan yaitu sistem vaskuler, pada sistem ini aliran senyawa berlangsung mengikuti atau melawan padatan (gradient) konsentrasi. Sel terdiri atas materi hidup yang disebut dengan protoplasma. Protoplasma sel dibatasi dari lingkungan sekitarnya oleh selaput sel tipis yang disebut dengan membran plasma (membran sel). Membran ini mempunyai kemampuan untuk mengatur secara selektif aliran materi dari dan keluar sel. Berdasarkan kemampuan membran menyeleksi aliran materi antar sel dan lingkungannya maka membran dapat dibedakan menjadi dua jenis. Membran dikatakan permiabel apabila semua jenis molekul dalam cairan dapat melewati membran. Sedang suatu membran dikatakan semi-permiabel jika hanya dapat dilewati oleh molekul-molekul tertentu saja. Terdapat dua proses fisikokimiawi yang penting dalam transport materi dalam sel yaitu difusi dan osmosis (Saktiono, 1989).

BAB III METODE KERJA

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum pembelahan sel (mitosis) ini dilakukan pada hari Jumat, tanggal 25 November 2011, pada pukul 07.30-09.30 wita dan bertempat di Laboratorium Keanekaragaman Hayati, Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam, Universitas Mulawarman.

3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat - gelas piala - pipet tetes 3.2.2 Bahan - larutan metilen blue pekat - Kristal CuSO4 - aquadest 3.3 Cara kerja - Diteteskan metilen blue pekat ke dalam gelas piala berisi aquadest. - Diamati penyebaran warna birunya. - Dimasukkan Kristal CuSO4 ke dalam gelas piala yang berisi aquadest. - Diamati penyebaran warna biru dari Kristal CuSO4. - Dicatat waktu sampai warna larutan merata. - Diulangi percobaan dengan metilen blue dan Kristal CuSO4 di atas, tetapi setelah penetesan larutan segera diaduk, lalu diamati.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan/Pengambilan Sampel a. Difusi

Gambar 4.1.1 (proses difusi)

b. Osmosis Kontrol (0%) = 10 mL 2 mL = 8 mL 10 % = 10 mL 1 mL = 9 mL 20 % = 10 mL + 1 mL = 11 mL 30 % = 10 mL + 1 mL = 11 mL

4.2 Pembahasan a. Difusi Difusi adalah perpindahan molekul-molekul dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah baik melalui membrane plasma ataupun tidak. Molekul dan ion yang terlarut dalam air bergerak secara acak dengan konstan. Gerakan ini mendorong terjadinya difusi. Pada percobaan penghomogenan metilen blue dan CuSO4 dengan aquadest, bubuk CuSO4 lebih cepat homogen dengan aquadest dibandingkan dengan metilen blue dengan aquadest. Metilen blue berdifusi ke larutan aquadest. Campuran menjadi homogen setelah 1 jam 42 menit, 35 detik. Konsentrasi metilen blue lebih besar dari aquadest, dan lebih pekat dari aquadest. Metilen blue akan berdifusi ke aquadest. Proses penghomogenan berlangsung lebih lama dibandingkan dengan penghomogenan CuSO4, karena perbedaan konsentrasinya lebih besar. Metilen blue mengapung di aquadest karena massa jenisnya jauh lebih ringan atau lebih kecil dari aquadest. Bila dilihat dari ukuran atau strukturnya, metilen blue dengan aquadest seharusnya lebih cepat bercampur atau menjadi homogen, karena metilen blue sama-sama berwujud zat cair seperti aquadest. Tetapi pada percobaan ini terjadi sebaliknya karena yang berlaku atau yang menjadi dasar penghomogenan di sini adalah perbedaan konsentrasinya yang lebih besar.

Meskipun CuSO4 berupa bubuk dan tidak sama-sama berupa zat cair seperti aquadest, tetapi karena perbedaan konsentrasinya kecil, maka kedua zat cepat bercampur atau cepat menjadi homogen.

b. Osmosis Osmosis adalah perpindahan molekul air melalui membrane semipermiabel dari larutan yang konsentrasi airnya tinggi ke larutan yang konsentrasinya rendah. Dengan kata lain osmosis berarti juga perpindahan molekul dari larutan berkepekatan rendah (hipotonis) ke larutan berkepekatan tinggi (hipertonis) melalui selaput (membrane) semipermeabel. Pada percobaan ini, air yang 10 mL tanpa kandungan glukosa (control 0%) yang didiamkan 30 menit dalam kentang berkurang menjadi 8 mL. karena kentang telah menyerap 2 mL.Pada air 10 mL yang mengandung 10% glukosa berkurang menjadi 9 mL, karena air terserap ke dalam kentang sebanyak 1 mL. Pada air 10 mL yang mengandung 20 % glukosa, yang didiamkan 30 menit dalam kentang bertanbah menjadi 11 ml, karena air yang terkandung dalam kentang keluar dan tercampur dengan larutan gula. Air 10 ml yang mengandung 30% glukosa yang didiamkan 30 menit dalam kentang bertambah menjadi 11 ml, karena telah ditambah dengan air yang keluar dari dalam kentang. Proses yang mempengaruhi penyerapan dan keluarnya air pada kentang adalah proses osmosis ( perpindahan zat dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi ). Dari percobaan ini, air yang tidak mengandung glukosa dan sedikit glukosa ( 10% ) airnya berkurang, karena konsentrasi air masih rendah dari kentang. Sedang pada larutan glukosa 20% dan 30%, air malah bertambah karena konsentrasi larutannya tinggi dari air dalam kentang, sehingga air dalam kentang keluar.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa : - Pada percobaan penghomogenan metilen blue dan CuSO4 dengan aquadest, bubuk CuSO4 lebih cepat homogen dengan aquadest dibandingkan dengan metilen blue dengan aquadest, karena yang berlaku atau yang menjadi dasar penghomogenan di sini adalah perbedaan konsentrasinya. - Proses yang mempengaruhi penyerapan dan keluarnya air pada kentang adalah proses osmosis (perpindahan zat dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi ). Dari percobaan ini, air yang tidak mengandung glukosa dan sedikit glukosa (10% ) airnya berkurang, karena konsentrasi air masih rendah

dari kentang. Sedang pada larutan glukosa 20% dan 30%, air malah bertambah karena konsentrasi larutannya tinggi dari air dalam kentang, sehingga air dalam kentang keluar. - Difusi adalah perpindahan molekul-molekul dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah, sedang osmosis adalah perpindahan molekul air melalui membrane semipermiabel dari larutan yang konsentrasi airnya tinggi ke larutan yang konsentrasinya rendah.

5.2 Saran Pada percobaan selanjutnya akan lebih baik bila menambahkan bahan, baik larutan atau tumbuhannya. Misalnya menggunakan larutan garam.

DAFTAR PUSTAKA Campbell, NA. JB. Reece, LG. Mitchell. 2002. Biologi Jilid 1. Jakarta: Erlangga. J.W. Kimbal. 1987. Biologi. Edisi 5 (terjemahan). Jakarta :Erlangga. Pratiwi, D.A. 2004. Penuntun Biologi. Jakarta: Erlangga. Saktiono. 1989. Biologi Umum. Jakarta: Gramedia Volk, W. 1988. Mikrobiologi dasar. Jakarta: Erlangga

ABSTRAK
Praktikum Tekanan Osmosis Cairan Sel dan Potensial Air ini bertujuan menghitung tekanan osmosis cairan sel dan mengukur nilai potensial jaringan umbi kentang. Pada pengamatan Tekanan Osmosis menggunakan daun Rhoe discolor dan larutan sukrosa dengan konsentrasi 0,26 M , 0,24 M , 0,22 M , 0,20 M , 0,18 M , 0,16 M , dan 0,14 M. Alat yang digunakan yaitu mikroskop, pisau silet, pinset, neraca, pipet tetes, tabung reaksi, gelas objektif dan penutup. Daun Rhoe discolor disayat tipis dan dimasukkan dalam larutan sukrosa dengan konsentrasi berbeda selama 30 menit dan diperoleh hasil pada konsentrasi sukrosa 0,18 M diperoleh nilai persentase mendekati keadaan insipien plasmolisis yakni 52,4%. Adapun insipien plasmolisis yaitu dimana diperoleh persentase 50% dari jumlah sel epidermis telah terplasmolisis dalam larutan gula. Selanjutnya pada pengamatan Potensial Air menggunakan umbi kentang (Solanum tuberosum L), akuades dan larutan sukrosa dengan konsentrasi berbeda. Alat yang digunakan yaitu cork borer, pisau silet, timbangan analitik, dan 12 tabung reaksi. Dari hasil percobaan diperoleh hasil pada akuades 0 M hampir dikatakan tidak terdapat perubahan berat irisan kentang sebelum dan setelah direndam dalam larutan. Tidak adanya perubahan berat menandakan bahwa nilai potensial solute sebanding dengan potensial air jaringan. Serta pada percobaan terbukti bahwa semakin tinggi konsentrasi suatu larutan maka berat irisan kentang akan semakin menyusut dikarenakan air pada kentang yang berpotensial tinggi berpindah ke luar menuju larutan yang memiliki potensial air jauh lebih rendah akibatnya berat kentang akan berkurang dari beratnya mula-mula. Kata kunci : Osmosis, Potensial Air, Insipien Plasmolisis, Rhoe discolor, Solanum tuberosum L

A. PENDAHULUAN
a). Latar Belakang Peristiwa osmosis dan difusi sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari. Pada tumbuhan pun tak terlepas dari peristiwa difusi dan osmosis. Hal tersebut terutama terjadi pada saat pengangkutan zat hara dan air dari akar ke daun maupun pada saat pengangkutan hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tumbuhan yang memerlukan. Adapun peristiwa tersebut

dapat terjadi ditentukan oleh adanya perbedaan potensial air. Untuk itulah pada praktikum kali ini akan dilakukan penghitungan tekanan osmosis cairan sel tersebut serta mengkur nilai potensial jaringan umbi kentang.

b). Dasar Teori Pada hakikatnya tekanan osmose merupakan suatu proses tekanan yang menyebabkan difusi. Osmose juga merupakan difusi dari tiap pelarut melalui suatu selaput yang permeabel secara diferensial. Membran sel yang meloloskan molekul tertentu, tetapi menghalangi molekul lain dikatakan permeabel secara diferensial. Seperti dikatakan diatas, pelarut universal adalah air. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa osmosis adalah difusi air melalui selaput yang permeabel secara differensial dari suatu tempat berkonsentrasi tinggi ketempat berkonsentrasi rendah. Pertukaran air antara sel dan lingkungan adalah suatu faktor yang sangat penting sehingga memerlukan suatu penamaan khusus yaitu osmosis (Salisbury & Ross, 1995). Osmosis sangat ditentukan oleh potensial kimia air atau potensial air, yang menggambarkan kemampuan molekul air untuk dapat melakukan difusi. Sejumlah besar volume air akan memiliki kelebihan energi bebas daripada volume yang sedikit, dibawah kondisi yang sama. Energi bebas suatu zat per unit jumlah, terutama per berat gram molekul (energi bebas mol-1) disebut potensial kimia. Potensial kimia zat terlarut kurang lebih sebanding dengan konsentrasi zat terlarutnya. Zat terlarut yang berdifusi cenderung untuk bergerak dari daerah

yang berpotensi kimia lebih tinggi menuju daerah yang potensial kimianya lebih kecil (Sasmitamihardja, 1996). Huruf yunani psi (), digunakan untuk menyatakan potensial air dari suatu sistem, apakah system itu berupa sampel tanah tempat tumbuhan, atau berupa suatu larutan. Potensial air dinyatakan dalam bar. Pada umumnya nilai potensial air dalam tumbuhan mempunyai nilai yang lebih kecil dari 0 bar, sehingga mempunyai nilai yang negative. Nilai potensial air di dalam sel dan nilainya di sekitar sel akan mempengaruhi difusi air dari dan ke dalam sel tumbuhan. Dalam sel tumbuhan ada tiga faktor yang menetukan nilai potensial airnya, yaitu matriks sel, larutan dalam vakuola dan tekanan hidrostatik dalam isi sel. Hal ini menyebabkan potensial air dalam sel tumbuhan dapat dibagi menjadi 3 komponen yaitu potensial matriks, potensial osmotik dan potensial tekanan (Basahona, 2010). Proses osmosis sangat berperan dalam proses pengangkutan tumbuhan. Memungkinkan terjadinya penyerapan air dan ion-ion dari dalam tanah yang nanti akan diedarkan keseluruh bagian tumbuhan.Terjadinya pengangkutan itu akan menyababkan tekanan turgor sel,sehingga mampu membesar dan mempunyai bentuk tertentu. Osmosis juga memungkinkan terjadinya membuka dan menutupnya stomata. Potensial air suatu sistem menunjukkan kemampuannya untuk melakukan kerja dibandingkan dengan kemampuan sejumlah murni yang setara, pada tekanan atmosfer dan pada suhu yang sama. Potensial osmotik larutan bernilai negatif, karena air pelarut dalam larutan itu melakukan kerja kurang dari air murni. Kalau tekanan pada larutan meningkat, kemampuan larutan untuk melakukan kerja (jadi, potensial-air larutan) juga meningkat (Salisbury & Ross, 1995). Potensial air adalah suatu pernyataan dari status energi bebas air, suatu ukuran datat yang menyebabkan air bergerak ke dalam suatu sistem, seperti jaringan tumbuhan, tanah atau atmosfir, atau dari suatu bagian ke bagian lain dalam suatu sistem. Potensial air mungkin merupakan parameter yang paling bermanfaat untuk diukur dalam hubungannya dengan sistem tanah, tanaman dan atmosfir. Komponen-komponen potensial air atau jaringan adalah sebagai berikut : w = s + p + m (PA = PO + PT + PM) Dimana w = potensial air suatu tumbuhan s = potensial osmotik

p = potensial tekanan atau turgor m = potensial matriks (Ismail, 2011). Potensial air merupakan alat diagnosis yang memungkinkan penentuan secara tepat keadaan status air dalam sel atau jaringan tumbuhan. Semakin rendah potensial dari suatu sel atau jaringan tumbuhan, maka semakin besar kemampuan tanaman untuk menyerap air dari dalam tanah. Sebaliknya, semakin tinggi potensial air, semakin besar kemampuan jaringan untuk memberikan air kepada sel yang mempunyai kandungan air lebih rendah (Basahona, 2010). Tekanan osmosis cairan dapat ditentukan dengan cara mencari suatu larutan yang mempunyai tekanan osmosis sama dengan cairan tersebut. Dalam cara ini kita dapat mengambil patokan pada terjadinya peristiwa plasmolisis sel. Dalam keadaan insipien plasmolisis tekanan osmosis cairan sel adalah sama dengan tekanan osmosis larutan dalam massa jaringan sel tersebut direndam. Plasmolisis dapat dilihat dibawah mikroskop sebagai suatu percobaan (Lakitan, 2004). Plasmolisis merupakan suatu proses terlepasnnya membran plasma dari dinding sel. Hal tersebut dapat terjadi bila sel tumbuhan dimasukkan kedalam cairan hipertonik (larutan yang konsentrasinya lebih tinggi daripada konsentrasi isi sel) maka terjadilah eksosmosis yaitu,keluarnya air dari isi sel keluar membran. Karena volume isi berkurang dan dinding plasma bersifat permeabel, maka antar membran plasma dan dinding sel terisi oleh larutan dari luar (Morigan, 2008).

c). Masalah
Adapun permasalahan yang terdapat pada praktikum Tekanan Osmosis dan Potensial Air adalah mengenai berapa tekanan osmosis cairan sel serta berapa nilai potensial jaringan umbi kentang.

B. TUJUAN
Tujuan praktikum Tekanan Osmosis Cairan Sel dan Potensial Air kali ini yaitu pada acara tekanan osmosis bertujuan untuk menghitung tekanan osmosis cairan sel tumbuhan Rhoe discolor dan pada acara penetapan potensial air jaringan tumbuhan bertujuan untuk mengukur nilai potensial jaringan umbi kentang.

C. MATERIAL DAN METODA


a). Waktu dan Tempat Melaksanakan praktikum Tekanan Osmosis Cairan Sel dan Potensial Air ini di

Laboratorium Pendidikan Biologi FKIP UNTAN pada hari Sabtu, 14 dan 21 April 2012 dari pukul 07.30 hingga pukul 09.30 WIB.

b). Alat dan Bahan 1). Tekanan Osmosis Cairan Sel Pada praktikum Tekanan osmosis cairan sel menggunakan bahan daun Rhoe discolor yang masih segar, larutan sukrosa dengan konsentrasi 0,26, 0,24, 0,22, 0,20, 0,18, 0,16, 0,14 M. Alat yang

digunakan pada paktikum ini yaitu mikroskop, pisau silet, pinset, neraca, pipet tetes, tabung reaksi, gelas objektif dan penutup. 2). Penetapan Potensial Air Jaringan Tumbuhan Pada praktikum potensial air menggunakan bahan berupa umbi kentang, akuades, dan larutan sukrosa dengan konsentrasi 0,05 ,0,10, 0,15, 0,20, 0,25, 0,30, 0,35, 0,40, 0,45, 0,50, dan 0,60 M. Adapun alat yang digunakan yaitu cork borer dengan garis tengah 1 cm untuk membuat potongan umbi kentang, pisau silet, timbangan analitik dan 12 tabung reaksi, rak tabung reaksi, pipet tetes, cawan petri, gelas ukur, dan spatula. c). Cara Kerja 1). Tekanan Osmosis Cairan Sel Langkah pertama yaitu menyiapkan 7 buah tabung reaksi dan kemudian mengisinya dengan larutan sukrosa kira-kira 1/3 bagian, satu tabung reaksi untuk satu konsentrasi. Kemudian praktikan menyayat lapisan tipis epidermis berwarna ungu dengan menggunakan pisau silet. Usahakan menyayatnya hanya selapis saja. Setelah itu memeriksa dengan mikroskop apakah sayatan tersebut cukup baik untuk digunakan. Apabila cukup representatif, masukkan sayatan ke dalam tabung reaksi dan praktikan kemudian mencatat waktu mulai perendaman. Selanjutnya membiarkan sayatan dalam larutan selama 30 menit. Setelah 30 menit, maka praktikan memeriksa sayatan epidermis tadi dari berbagai konsentrasi gula dengan mikroskop. Lalu selanjutnya praktikan mencari larutan gula dimana 50% dari jumlah sel epidermis tadi telah terplasmolisis. Keadaan ini disebut insipien plasmolisis, dimana sel pada keadaan ini memiliki potensial osmotik sama dengan potensial osmotik larutan yang digunakan. Dan langkah terakhir yaitu praktikan mencari potensial osmotik sel pada insipien plasmolisis tersebut. 2). Penetapan Potensial Air Jaringan Tumbuhan Langkah awal yaitu menyiapkan 12 buah tabung reaksi diisi dengan 100 ml dengan larutan berikut: akuades, 0,05 molar sukrosa, 0,10 molar sukrosa, 0,15 molar sukrosa, 0,20 molar sukrosa, 0,25 molar sukrosa, 0,30 molar sukrosa, 0,35 molar sukrosa, 0,40 molar sukrosa, 0,45 molar sukrosa, 0,50 molar sukrosa dan 0,60 molar sukrosa. Kemudian melakukan tahap selanjutnya harus dengan cepat. Yaitu membuat 12 silinder umbi kentang dengan cork borer bergaris tengah 1 cm, masing-masing dengan panjang 4 cm. Praktikan menghilangkan bagian luar kulitnya. Dan membuat silinder umbi kentang tersebut sebaiknya dari satu umbi saja, kemudian meletakkannya disebuah wadah tertutup. Dengan pisau silet, praktikan memotong

silinder kentang menjadi irisan-irisan tipis dengan tebal 1-2 mm. Selanjutnya membilas irisan kentang dengan akuades dengan cepat dan mengeringkannya dengan kertas hisap dan kemudian menimbangnya. Selanjutnya praktikan memasukkannya kedalam salah satu larutan sukrosa yang telah disiapkan. Selanjutnya praktikan melakukan hal ini pada setiap silinder kentang untuk masing-masing larutan berikutnya. Setelah tepat 2 jam direndam, praktikan mengeluarkan irisanirisan tersebut dari masing-masing tabung lalu mengeringkannya dengan kertas hisap. Praktikan melakukan semua hal ini untuk semua contoh percobaan. Selanjutnya untuk menghitung perubahan berat menggunakan rumus berikut: x 100%

Selanjutnya membuat grafik dan plotkan persen perubahan berat pada ordinat dan konsentrasi larutan sukrosa (dalam molar) pada absis. Potensial air jaringan dapat diperoleh setelah terlebih dahulu menghitung potensial osmotik (s) untuk masing-masing konsentrasi larutan sukrosa dan menggunakan rumus :

Dimana : -s = potensial air I = konstanta ionisasi sukrosa = 1 R = konstanta gra (0.0831 bar/derajar mol) T = suhu absolut (oC + 273) Rumus diatas cukup digunakan untuk menghitung potensial osmoti satu larutan sukrosa (s). Selanjutnya potensial dari larutan-larutan lainnya dapat ditentukan dengan menggunakan rumus :

Kemudian menentukan konsentrasi sukrosa yang tidak menghasilkan perubahan berat dengan menginterpolasikan dari grafik. Dan menghitung s dari larutan ini. Nilai s tersebut sebanding dengan potensial air (w) jaringan.

D. DATA PENGAMATAN
a). Tabel 1: Tekanan osmotik pada Rhoe discolor Kelompok Jumlah sel awal 1 2 3 4 5 6 7 135 72 166 66 86 55 136 0,14 0,16 0,18 0,20 0,22 0,24 0,26 8,14% 81,9% 52,4% 96,4% 12,8% 32,73% 16,9% 124 13 79 2 75 37 113 Konsentrasi (M) Persentase (%) Jumlah sel akhir

Grafik 1: Perubahan Plasmolisis pada Rhoe discolor

Perhitungan: % perubahan larutan (Molar) = % perubahan larutan 0,14 M = % perubahan larutan 0,16 M = % perubahan larutan 0,18 M = % perubahan larutan 0,20 M = % perubahan larutan 0,22 M = % perubahan larutan 0,24 M = % perubahan larutan 0,26 M = x 100 % = 8,14 % x 100 % = 81,9 % x 100 % = 52,4 % x 100 % = 96,4 % x 100 % = 12,8 % x 100 % = 32,73 % x 100 % = 16,9 % x 100 %

b). Tabel 2: Potensial air umbi kentang (Solanum tuberosum) hasil pengamatan kelompok II Jenis larutan Aquades Konsentrasi (M) 0 0,05 0,10 0,15 0,20 Sukrosa 0,25 0,30 0,35 0,40 0,45 0,50 0,60 Berat awal (gr) 2,01 2 2.05 2,02 2,11 2,14 2,06 2,13 2,06 2,08 2,04 3,08 Berat akhir (gr) 2,00 1,98 1,9 1,89 1,88 1,97 1,95 1,87 1,88 1,60 1,91 1,6 -0,50 -1 -7,32 -6,43 -10,9 -7,94 -5,34 -12,21 -8,73 -23,07 -6,37 -48,05 %perubahan=

Grafik 2 : Perubahan Potensial air umbi kentang (Solanum tuberosum) hasil pengamatan kelompok II

Perhitungan: %perubahan potensial air = % perubahan akuades 0 M = % perubahan akuades 0,05 M = % perubahan akuades 0,10 M = % perubahan akuades 0,15 M = % perubahan akuades 0,20 M = % perubahan sukrosa 0,25 M = % perubahan sukrosa 0,30 M = = -0,50% = -1% = -7,32% = -6,43% = -10,9% = -7,94% = -5,34%

% perubahan sukrosa 0,35 M = % perubahan sukrosa 0,40 M = % perubahan sukrosa 0,45 M = % perubahan sukrosa 0,50 M = % perubahan sukrosa 0,60 M =

= -12,21% = -8,73% = -23,07% = -6,37% = -48,05%

E. PEMBAHASAN
Pada praktikum mengenai Tekanan Osmosis Cairan Sel dan Potensial Air yang dilakukan kali ini bertujuan untuk menghitung tekanan osmosis cairan sel dan mengukur nilai potensial jaringan umbi kentang. Pada acara Tekanan Osmosis menggunakan bahan berupa daun Rhoe discolor yang masih segar serta larutan sukrosa dengan konsentrasi 0,26 M , 0,24 M , 0,22 M , 0,20 M , 0,18 M , 0,16 M , dan 0,14 M. Alat yang digunakan yaitu mikroskop, pisau silet, pinset, neraca, pipet tetes, tabung reaksi, gelas objektif dan penutup. Sedangkan untuk acara penetapan potensial

air jaringan tumbuhan menggunkan bahan berupa umbi kentang, akuades, dan larutan sukrosa dengan konsentrasi 0,05 M ,0,10 M , 0,15 M , 0,20 M , 0,25 M , 0,30 M , 0,35 M , 0,40 M , 0,45 M , 0,50 M , dan 0,60 M. Adapun alat yang digunakan yaitu cork borer dengan garis tengah 1 cm untuk membuat potongan umbi kentang, pisau silet, timbangan analitik dan 12 tabung reaksi, rak tabung reaksi, pipet tetes, cawan petri, gelas ukur, dan spatula. Pada acara Tekanan Osmosis oleh setiap kelompok daun Rhoe discolor disayat tipis dan diambil lapisan tipis epidermisnya untuk kemudian dimasukkan ke dalam konsentrasi sukrosa berbeda yang telah ditentukan. Kelompok kami sendiri yakni kelompok II merendam sayatan lapisan epidermis daun Rhoe discolor dalam konsentrasi 0,16 M. Sayatan tersebut di rendam selama 30 menit. Setelah 30 menit maka sayatan epidermis tersebut selanjutnya diamati dengan mikroskop. Kemudian dari hasil percobaan yang dilakukan masing-masing kelompok dicari larutan sukrosa dimana 50% dari jumlah sel epidermis tadi telah terplasmolisis, dimana keadaan ini disebut insipien plasmolisis. Dan selanjutnya maka dilakukan penentuan potensial osmotik sel pada insipien plasmolisis tersebut. Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan pada acara Tekanan Osmosis diperoleh hasil bahwa kelompok yang memiliki nilai persentase mendekati keadaan insipien plasmolisis adalah kelompok III yaitu dengan persentase 52,4% dimana jumlah sel awal 166, jumlah sel akhir 79, serta konsentrasi sukrosa 0,18 M. Jadi kelompok III hanya mendekati insipien plasmolisis sebab menurut Lakitan (2004) dalam keadaan insipien plasmolisis tekanan osmosis cairan sel adalah sama dengan tekanan osmosis larutan dalam massa jaringan sel tersebut direndam. Jadi seharusnya keadaan insipien plasmolisis yaitu dimana diperoleh persentase 50% dari jumlah sel epidermis telah terplasmolisis dalam larutan gula. Menurut Morigan (2008) plasmolisis merupakan suatu proses terlepasnya membran plasma dari dinding sel. Hal tersebut dapat terjadi bila sel tumbuhan dimasukkan kedalam cairan hipertonik (larutan yang konsentrasinya lebih tinggi daripada konsentrasi isi sel) maka terjadilah eksosmosis yaitu,keluarnya air dari isi sel keluar membran. Pada acara selanjutnya yaitu penetapan potensial air jaringan tumbuhan menggunakan umbi kentang (Solanum tuberosum) yang kemudian dibentuk silinder dengan panjang 4 cm sebanyak 12 batang oleh bantuan cork borer. Selanjutnya silinder kentang tersebut di iris kembali kecilkecil dengan tebal sekitar 2 mm. Kemudian irisan tersebut dibilas dengan akuades, dikeringkan dengan tisu dan ditimbang. Kemudian barulah dimasukkan kedalam tabung berisi akuades dan

larutan sukrosa dengan konsentrasi berbeda yang telah ditentukan. Irisan kentang tersebut direndam selama 2 jam dalam masing-masing tabung. Setelah 2 jam maka irisan kentang tersebut ditimbang kembali. Kemudian setelah mengetahui berat awal maupun berat akhir dari irisan kentang tersebut maka ditentukan %perubahan berat dari irisan kentang tersebut dengan menggunakan rumus: x 100% Dari hasil percobaan yang dilakukan tersebut ditentukan pada konsentrasi mana irisan kentang tersebut tidak mengalami perubahan berat. Tidak adanya perubahan berat yang terjadi tersebut menandakan bahwa nilai potensial solute tersebut sebanding dengan potensial air jaringan. Pada percobaan yang dilakukan kelompok kami semua irisan kentang mengalami perubahan berat. Namun pada akuades 0 M terdapat % perubahan berat hanya -0,50 saja. Dengan berat awal irisan kentang yaitu 2,01 gr sedangkan berat akhirnya 2,00 gr. Jadi hanya terjadi sedikit perubahan berat pada konsentrasi akuades 0 M. Hasil ini terjadi kekeliruan dimana seharusnya apabila irisan kentang direndam dalam akuades, berat irisan tersebut seharusnya bertambah bukannya berkurang seperti hasil percobaan yang didapatkan. Hal ini dikarenakan akuades terutama yang memiliki konsentrasi 0 M memiliki potensial air yang paling besar. Ini dikarenakan tidak adanya zat terlarut pada akuades tersebut. Sehingga apabila irisan kentang dimasukkan kedalamnya, otomatis air akuades yang berpotensial tinggi akan masuk kedalam kentang yang memiliki potensial yang jauh lebih besar hal ini menyebabkan pada saat ditimbang kembali setelah direndam 2 jam seharusnya irisan kentang tersebut menjadi bertambah berat. Kesalahan ini dapat disebabkan ketidaktelitian praktikan dalam menimbang irisan kentang. Sebaliknya pada larutan sukrosa seharusnya irisan kentang yang direndam didalamnya memiliki berat awal yang lebih besar dibandingkan dengan berat akhir. Dan semakin tinggi konsentrasi sukrosa yang digunakan, maka seharusnya berat irisan kentang semakin banyak berkurang. Ini dikarenakan larutan sukrosa memiliki potensial air yang rendah dikarenakan banyaknya zat terlarut didalamnya. Sehingga air dari irisan kentang yang memiliki potensial jauh lebih tinggi akan keluar menuju larutan sukrosa yang potensial airnya rendah. Inilah yang menyebabkan berat irisan kentang mengalami pengurangan saat ditimbang kembali setelah direndam di larutan sukrosa.

Tidak terjadinya perubahan berat irisan kentang pada suatu konsentrasi menandakan bahwa nilai potensial solute (s) sebanding dengan potensial air (w) jaringan. Dari hasil percobaan diperoleh grafik % perubahan potensial air pada irisan kentang yang direndam dalam akuades dan larutan sukrosa dengan berbagai konsentrasi sebagai berikut:

Dari grafik tersebut terbukti bahwa dalam konsentrasi akudes dan larutan sukrosa yang semakin tinggi maka irisan kentang akan mengalami pengurangan berat yang semakin besar karena air dari kentang akan keluar menuju larutan yang berkonsentrasi zat terlarut tinggi.

F. KESIMPULAN

Dari hasil percobaan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa pada setiap kelompok tidak ada yang mengalami insipien plasmolisis yaitu larutan sukrosa dimana 50% dari jumlah sel epidermis daun Rhoe discolor telah terplasmolisis. Sel pada keadaan insipien plasmolisis memiliki potensial osmotik sama dengan potensial osmotik larutan yang digunakan. Walaupun tidak ada kelompok yang benar-benar mengalami insipien plasmolisis namun ada satu diantara kelompok yang mendekati keadaan tersebut yakni kelompok III dengan persentase 52,4% yakni dengan konsentrasi sukrosa 0,18 M. Pada acara penetapan potensial air jaringan tumbuhan diperoleh hasil bahwa semakin tinggi konsentrasi larutan akuades dan sukrosa yang di gunakan akan membuat berat irisan kentang yang direndam didalamnya semakin berkurang dikarenakan air dari kentang yang memiliki potensial tinggi keluar dari sel menuju ke lingkungan berupa larutan berkonsentri sehingga apabila ditimbang berat kentang akan mengalami penyusutan. Pada akuades dengan konsentrasi 0 M hampir tidak terdapat perubahan berat pada irisan kentang sebelum dan setelah direndam. Berat awal irisan kentang yaitu 2,01 gr sedangkan berat akhirnya 2,00 gr. Hanya terjadi perubahan berat sebesar 0,01 gr. Tidak terjadinya perubahan berat irisan kentang tersebut pada konsentrasi tertentu menandakan bahwa nilai potensial solute (s) sebanding dengan potensial air (w) jaringan. Rekomendasi yang dapat saya ajukan adalah sebaiknya dalam mengiris kentang dan menimbangnya dilakukan secara teliti agar didapatkan hasil yang akurat dan sesuai dengan teori.

DAFTAR PUSTAKA
Basahona, Sumanto. 2010. Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan Pengukuran Potensial Air Jaringan Tumbuhan.(Online) http://basahona.blogspot.com/2010/12 /laporan-praktikum-

fisiologi-tumbuhan.html.(Diakses tanggal 27 April 2012). Ismail dan Abdul Muis. 2011. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Makassar: UNM. Lakitan, Benjamin. 2004. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Morigan, Benny. 2008. Penentuan Tekanan Osmosis Cairan Sel. (

http://bennymorigan.blogspot.com/2008/03/penentuan-tekanan-osmosis-cairan-sel.html. Diakses 27 April 2012).

Salisbury, Frank B. & Ross, Cleon W. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: ITB. Sasmitamihardja, Dardjat, dan Arbayah Siregar. 1996. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: ITB.

LAMPIRAN
a). Tabel 1: Tekanan osmotik pada Rhoe discolor Kelompok Jumlah sel awal 1 2 3 4 5 6 7 135 72 166 66 86 55 136 0,14 0,16 0,18 0,20 0,22 0,24 0,26 8,14% 81,9% 52,4% 96,4% 12,8% 32,73% 16,9% 124 13 79 2 75 37 113 Konsentrasi (M) Persentase (%) Jumlah sel akhir

Perhitungan: % perubahan larutan (Molar) = % perubahan larutan 0,14 M = x 100 % = 8,14 % x 100 %

% perubahan larutan 0,16 M = % perubahan larutan 0,18 M = % perubahan larutan 0,20 M = % perubahan larutan 0,22 M = % perubahan larutan 0,24 M = % perubahan larutan 0,26 M =

x 100 % = 81,9 % x 100 % = 52,4 % x 100 % = 96,4 % x 100 % = 12,8 % x 100 % = 32,73 % x 100 % = 16,9 %

b). Tabel 2: Potensial air umbi kentang (Solanum tuberosum) hasil pengamatan kelompok II Jenis larutan Aquades Konsentrasi (M) 0 0,05 0,10 0,15 0,20 Sukrosa 0,25 0,30 0,35 0,40 0,45 0,50 0,60 Berat awal (gr) 2,01 2 2.05 2,02 2,11 2,14 2,06 2,13 2,06 2,08 2,04 3,08 Berat akhir (gr) 2,00 1,98 1,9 1,89 1,88 1,97 1,95 1,87 1,88 1,60 1,91 1,6 -0,50 -1 -7,32 -6,43 -10,9 -7,94 -5,34 -12,21 -8,73 -23,07 -6,37 -48,05 %perubahan=

Perhitungan:

%perubahan potensial air = % perubahan akuades 0 M = % perubahan akuades 0,05 M = % perubahan akuades 0,10 M = % perubahan akuades 0,15 M = % perubahan akuades 0,20 M = % perubahan sukrosa 0,25 M = % perubahan sukrosa 0,30 M = = -0,50% = -1% = -7,32% = -6,43% = -10,9% = -7,94% = -5,34%

% perubahan sukrosa 0,35 M = % perubahan sukrosa 0,40 M = % perubahan sukrosa 0,45 M = % perubahan sukrosa 0,50 M = % perubahan sukrosa 0,60 M =

= -12,21% = -8,73% = -23,07% = -6,37% = -48,05%