Anda di halaman 1dari 6

Miastenia gravis

Miastenia gravis adalah suatu penyakit yang bermanifestasi sebagaikelemahan dan kelelahan otot-otot rangka akibat defisiensi reseptor asetilkolinpada sambungan neuromuscular.Miastenia gravis dapat terjadi akibat gangguansistem saraf perifer yang ditandai dengan pembentukan autoantibodi terhadapreseptor asetilkolin yang terdapat di daerah motor and-plate otot rangka.Autoantibodi igG secara kompetitif berikatan dengan reseptor asetilkolin danmencegah peningkatan asetilkolin ke reseptor sehingga mecegah kontraksi otot.Miastenia gravis pada awalnya dapat menyebabkan kelemahan otot yangmengontrol gerakan bola mata atau dapat mempengaruhi seluruh tubuh.Miastenia gravis merupakan penyakit kelemahan otot yang parah.Penyakitini merupakan penyakit neuromuscular yang merupakan gabungan antaracepatnya terjadi kelelahan otot-otot volunter dan lambatnya pemulihan.Sindromklinis ini ditemukan pertama kali pada tahun 1600, dan pada akhir tahun 1800Miastenia gravis dibedakan dari kelemahan otot akibat paralisis burbar.Padatahun 1920 seorang dokter yang menderita penyakit Miastenia gravis merasalebih baik setelah minum obat efedrin yang sebenarnya obat ini ditujukan untukmengatasi kram menstruasi.Dan pada tahun 1934 seorang dokter dari Inggrisbernama Mary Walker melihat adanya gejala-gejala yang serupa antara Miasteniagravis dengan keracunan kurare.Mary Walker menggunakan antagonis kurareyaitu fisiotigmin untuk mengobati Miastenia gravis dan ternyata ada kemajuannyata dalam penyembuhan penyakit ini.Miastenia gravis banyak timbul antara umur 10-30 tahun.Pada umurdibawah 40 tahun miastenia gravis lebih banyak dijumpai pada wanita.Sementaraitu diatas 40 tahun lebih banyak pada pria (Harsono, 1996).Insidens miastenia gravis di Amerika Serikat sering dinyatakan sebagai 1 dalam 10.000.Tetapibeberapa ahli menganggap angka ini terlalu rendah karena sesungguhnya banyakkasus yang tidak pernah terdiagnosis.

Patofisiologi
Miastenia gravis adalah suatu kelainan autoimun yang ditandai oleh suatukelemahan abnormal dan progresif pada otot rangka yang dipergunakan secaraterus-menerus dan disertai dengan kelelahan saat beraktivitas.Penyakit ini timbulkarena adanya gangguan dari synaptictransmission

atau pada neuromuscular junction . Gangguan tersebut akan mempengaruhi transmisi neuromuscular padaotot tubuh yang kerjanya di bawah kesadaran seseorang (volunter). Karakteristikyang muncul berupa kelemahan yang berlebihan, dan umumnya terjadi kelelahanpada otot-otot volunter dan hal itu dipengaruhi oleh fungsi saraf cranial. Miastenia gravis merupakan sindroma klinis akibat kegagalan transmisineuromuskuler yang disebabkan oleh hambatan dan destruksi reseptorasetilkolin oleh autoantibodi .Sehingga dalam hal ini, miastenia gravis merupakanpenyakit autoimun yang spesifik organ.Antibodi reseptor asetilkolin terdapatdidalam serum pada hampir semua pasien.Antibodi ini merupakan antibodi IgGdan dapat melewati plasenta pada kehamilan.Pada orang normal, bila ada impuls saraf mencapai hubunganneuromuskular, maka membran akson terminal presinaps mengalami depolarisasisehingga asetilkolin akan dilepaskan dalam celah sinaps. Asetilkolin berdifusimelalui celah sinaps dan bergabung dengan reseptor asetilkolin pada membranpostsinaps.Penggabungan ini menimbulkan perubahan permeabilitas terhadapnatrium dan kalium secara tiba-tiba menyebabkan depolarisasi lempeng akhir dikenal sebagai potensial lempeng akhir (EPP). Jika EPP ini mencapai ambang akanterbentuk potensial aksi dalam membran otot yang tidak berhubungan dengansaraf, yang akan disalurkan sepanjang sarkolema. Potensial aksi ini memicuserangkaian reaksi yang mengakibatkan kontraksi serabut otot. Sesudah transmisimelewati hubungan neuromuscular terjadi, astilkolin akan dihancurkan olehenzim asetilkolinesterase.Pada miastenia gravis, konduksi neuromuskular terganggu.Abnormalitasdalam penyakit miastenia gravis terjadi pada endplate motorik dan bukan padamembran presinaps.Membran postsinaptiknya rusak akibat reaksi imunologi.Karena kerusakan itu maka jarak antara membran presinaps dan postsinapsmenjadi besar sehingga lebih banyak asetilkolin dalam perjalanannya ke arahmotor endplate dapat dipecahkan oleh kolinesterase. Selain itu jumlah asetilkolinyang dapat ditampung oleh lipatanlipatan membran postsinaps motor end platemenjadi lebih kecil. Karena dua faktor tersebut maka kontraksi otot tidak dapatberlangsung lama. Klasifikasi miastenia gravis Klasifikasi klinis miastenia gravis dapat dibagi menjadi: 1.Kelompok I: Miastenia okularHanya menyerang otot-otot ocular, disertai ptosisdandiplopia Sangatringan, tidak ada kasus kematian. 2.Kelompok IIA: Miastenia umum ringan Awitan lambat, biasanya pada mata, lambat laun menyebar ke otot-ototrangka danbulbar Sistem pernapasan tidak terkena.Respon terhadap terapiobat baik.Angka kematian rendah.

3.Kelompok IIB: Miastenia umum sedangAwitan bertahap dan sering disertai gejala-gejala ocular, lalu berlanjutsemakin berat dengan terserangnya seluruh otototot rangka danbulbar. Disartria,disfagia, dan sukar mengunyah lebih nyata dibandingkandengan miastenia gravis umum ringan.Otot-otot pernapasan tidak terkena.Respon terhadap terapi obat kurang memuaskan dan aktifitaspasien terbatas, tetapi angka kematian rendah. 4.Kelompok III: Miastenia berat akutAwitan yang cepat dengan kelemahan otototot rangka dan bulbar yangberat disertai mulai terserangnya otot-otot pernapasan.Biasanya penyakitberkembang maksimal dalam waktu 6 bulan.Respons terhadap obatburuk.Insiden krisis miastenik, kolinergik, maupun krisis gabungankeduanya tinggi.Tingkat kematian tinggi. 5.Kelompok IV: Miastenia berat lanjutMiastenia gravis berat lanjut timbul paling sedikit 2 tahun sesudah awitangejala-gejala kelompok I atau II.Miastenia gravis berkembang secaraperlahan-lahan atau secara tiba-tiba.Respons terhadap obat dan prognosisburuk.Disamping klasifikasi tersebut di atas, dikenal pula adanya beberapabentuk varian miastenia gravis, yaitu: 1. Miastenia neonatusJenis ini hanya bersifat sementara, biasanya kurang dari bulan. Jenis initerjadi pada bayi yang ibunya menderita miastenia gravis, dengankemungkinan 1:8, dan disebabkan oleh masuknya antibodi antireseptorasetilkolin ke dalam melalui plasenta. 2. Miastenia anak-anak (juvenile myastenia)Jenis ini mempunyai karakteristik yang sama dengan miastenia gravis padadewasa. 3. Miastenia kongenitalBiasanya muncul pada saat tidak lama setelah bayi lahir.Tidak ada kelainanimunologik dan antibodi antireseptor asetilkolin tidak ditemukan.Jenis inibiasanya tidak progresif. 4. Miastenia familialSebenarnya, jenis ini merupakan kategori diagnostik yang tidak jelas.Biasaterjadi pada miastenia kongenital dan jarang terjadi pada miastenia gravisdewasa. 5. Sindrom miastenik (Eaton-Lambert Syndrome)Jenis ini merupakan gangguan presinaptik yang dicirikan oleh terganggunyapengeluaran asetilkolin dari ujung saraf.Sering kali berkaitan dengankarsinoma bronkus (small-cell carsinoma).Gambaran kliniknya berbedadengan miastenia gravis.Pada umumnya penderita mengalami kelemahanotot-otot proksimal tanpa disertai atrofi, gejalagejala orofaringeal danokular tidak mencolok, dan refleks tendo menurun atau negatif.Seringkalipenderita mengeluh mulutnya kering. 6. Miastenia gravis antibodi-negatif Kurang lebih daripada penderita miastenia gravis tidak menunjukkanadanya antibodi.Pada umumnya keadaan demikian terdapat pada pria darigolongan I dan IIB. Tidak adanya antibodi

menunjukkan bahwa penderitatidak akan memberi respons terhadap pemberian prednison, obatsitostatik, plasmaferesis, atau timektomi. 7. Miastenia gravis terinduksi penisilaminD-penisilamin (D-P) digunakan untuk mengobati arthritis rheumatoid,penyakit Wilson, dan sistinuria. Setelah penderita menerima D-P beberapabulan, penderita mengalami miastenia gravis yang secara perlahan-lahanakan menghilang setelah D-P dihentikan. 8. BotulismeBotulisme merupakan akibat dari bakteri anaerob, Clostridium botulinum,yang menghalangi pengeluaran asetilkolin dari ujung saraf motorik.Akibatnya adalah paralisis berat otot-otot skelet dalam waktu yanglama. Dari 8 jenis toksin botulinum, tipe A dan B paling sering menimbulkankasus botulisme. Tipe E terdapat pada ikan laut (see food).Intoksikasibiasanya terjadi setelah makan makanan dalam kaleng yang tidakdisterilisasi secara sempurna.Mula-mula timbul mual dan muntah, 1236 jam sesudah terkena toksin. Kemudian muncul pandangan kabur, disfagia,dan disartri.Pupil dapat dilatasi maksimal.Kelemahan terjadi poladesendens selama 4-5 hari, kemudian mencapai tahap stabil(plateau).Paralisis otot pernapasan dapat terjadi begitu cepat dan bersifatfatal.Pada kasus yang berat biasanya terjadi kelemahan otot ocular danlidah.Sebagian besar penderita mengalami disfungsi otonom (mulut kering,konstipasi, retensi urin).Miastenia gravis juga menyerang otot-otot, wajah, dan laring.Keadaan inidapat menyebabkan regurgitasi melalui hidung jika pasien mencoba menelan(otot-otot palatum), menimbulkan suara yang abnormal atau suara nasal, danpasien tak mampu menutup mulut yang dinamakan sebagai tanda rahangmenggantung. Pada sistem pernapasan, terserangnya otot-otot pernapasan terlihat dari adanya batuk yang lemah, dan akhirnya dapat berupa serangandispnea dan pasien tidak lagi mampu membersihkan lender dari trakea dancabang-cabangnya.Pada kasus yang lebih lanjut, gelang bahu dan panggul dapatterserang hingga terjadi kelemahan pada semua otot-otot rangka.Kelainan kelenjar timus terjadi pada miastenia gravis.Meskipun secararadiologis kelainan belum jelas terlihat karena terlalu kecil, tetapi secarahistologik kelenjar timus pada kebanyakan pasien menunjukkan adanyakelainan.Wanita muda cenderung menderita hiperplasia timus, sedangkan priayang lebih tua dengan neoplasma timus.Elektromiografi menunjukkan penurunanamplitudo potensial unit motorik apabila otot dipergunakan terus-menerus. Penyebab Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, miastenia gravis didugamerupakan gangguan otoimun yang merusak fungsi reseptor asetilkolin danmengurangi efisiensi hubungan neuromuskular.Keadaan ini sering bermanifestasisebagai

penyakit yang berkembang progresif lambat.Tetapi penyakit ini dapattetap terlokalisir pada sekelompok otot tertentu saja. Gangguan tersebut kemungkinan dipicu oleh infeksi, operasi, atau penggunaan obat-obatan tertentu, seperti nifedipine atau verapamil (digunakanuntuk mengobati tekanan darah tinggi), quinine (digunakan untuk mengobati malaria), dan procainamide (digunakan untuk mengobati kelainan ritme jantung). Neonatal myasthenia terjadi pada 12% bayi yang dilahirkan oleh wanita yangmengalami myasthenia gravis.Antibodi melawan acetylcholine, yang beredar didalam darah, bisa lewat dari wanita hamil terus ke plasenta menuju janin.Padabeberapa kasus, bayi mengalami kelemahan otot yang hilang beberapa harisampai beberapa minggu setelah lahir.Sisa 88% bayi tidak terkena

Tanda dan gejala Peristiwa pada gejala-gejala yang memperburuk sering terjadi. Pada waktuyang lain, gejala-gejala kemungkinan kecil atau tidak ada. Gejala-gejala yangpaling sering terjadi sebagai berikut: Kelemahan otat mata yang menyebabkan ptosis ( turunnya kelopak mata). kelemahan otot wajah, leher dan tenggorokan yang menyebabkan kesulitanmakan dan menelan. Penyebaran kelemahan otot yang berkelanjutan. Pada awalnya terjadikeletihan ringan dengan pemulihan kekuatan setelah beristirahat. Namunpada akhirnya kekuatan tidak pulih lagi setelah melakukan istrahat. Pada sistem pernapasan, terserangnya otot-otot pernapasan terlihat dariadanya batuk yang lemah, dan akhirnya dapat berupa serangan dispneadan pasien tidak lagi mampu membersihkan lender dari trakea dan cabang-cabangnya. Gangguan emosi atau stres. Kebanyakan pasien mengalami kelemahan ototapabila mereka berada dalam keadaan tegang, Pengobatan Secara garis besar, pengobatan Miastenia gravis berdasarkan 3 prinsip,yaitu: 1. Mempengaruhi transmisi neuromuskuler: a. Istirahat Dengan istirahat, banyaknya ACh dengan rangsangan saraf akanbertambah sehingga serat-serat otot yang kekurangan AChR di bawahambang rangsang dapat berkontraksi. b. Memblokir pemecahan AchDengan anti kolinesterase, seperti prostigmin, piridostigmin, edroponiumatau ambenonium diberikan sesuai toleransi penderita, biasanya dimulaidosis kecil sampai dicapai dosis optimal. Pada bayi dapat dimulai

dengandosis 10 mg piridostigmin per os dan pada anak besar 30 mg , kelebihandosis dapat menyebabkan krisis kolinergik.2. Mempengaruhi proses imunologika. Timektomi Tujuan neurologi utama dari Thymectomi ini adalah tercapainya perbaikansignifikan dari kelemahan pasien, mengurangi dosis obat yang harusdikonsumsi pasien, serta idealnya adalah kesembuhan yang permanendari pasien.Timektomi dianjurkan pada MG tanpa timoma yang telahberlangsung 3-5 tahun. Dengan timektomi, setelah 3 tahun 25%penderita akan mengalami remisi klinik dan 40-50% mengalami perbaikan.b. KortikosteroidDiberikan prednison dosis tunggal atau alternating untuk mencegah efeksamping.Dimulai dengan dosis kecil, dinaikkan perlahan-lahan sampaidicapai dosis yang diinginkan.Kerja kortikosteroid untuk mencegahkerusakan jaringan oleh pengaruh imunologik atau bekerja langsung padatransmisi neromuskuler. c. Imunosupresif Yaitu dengan menggunakan Azathioprine, Cyclophosphamide (CPM),Cyclosporine,.Namun biasanya digunakan azathioprin (imuran) dengandosis 2 mg/kg BB.Azathioprine merupakan obat yang secara relatif dapatditoleransi dengan baik oleh tubuh dan secara umum memiliki efeksamping yang lebih sedikit dibandingkan dengan obat imunosupresif lainnya.Perbaikan lambat sesudah 3-12bulan.Kombinasi azathioprine dankortikosteroid lebih efektif yang dianjurkan terutama pada kasus-kasusberat. d. Plasma exchangeBerguna untuk mengurangi kadar anti-AChR; bila kadar dapat diturunkansampai 50% akan terjadi perbaikan klinik. 3. Penyesuaian penderita terhadap kelemahan otota. Memberikan penjelasan mengenai penyakitnya untuk mencegah problempsikis. b. Alat bantuan non medikamentosaPada Miastenia gravis dengan ptosis diberikan kaca mata khusus yangdilengkapi dengan pengkait kelopak mata.Bila otot-otot leher yang kena,diberikan penegak leher. Juga dianjurkan untuk menghindari panasmatahari, mandi sauna, makanan yang merangsang, menekan emosi dan jangan minum obat-obatan yang mengganggu transmisi neuromuskulerseperti B-blocker, derivate kinine, phenintoin, benzodiazepin, antibiotikaseperti aminoglikosida, tetrasiklin dan d-penisilamin