Anda di halaman 1dari 23

ASPEK FISIOLOGI DAN PATOLOGIK AKIBAT PROSES MENUA

Penurunan kapasitas fungsional pada geriatri

1. Perubahan-perubahan anatomi/fisiologik akibaat proses menua 2. Penyakit atau keadaan patologik sebagai akibat penuaan. 3. Pengaruh psiko-sosial Kenyataannya memang sukar untuk membedakan apakah suatu abnormalitas disebabkan oleh proses menua (normal) ataukah diakibatkan oleh proses penyakit.

Perubahan Akibat Proses Menua Dan Usia Biologis

Makin lanjutnya usia seseorang maka kemungkinan terjadinya penurunan anatomi (dan fungsional) atas organ-organnya makin besar. Andres dan Tobin mengintroduksi hukum 1% yang menyatakan bahwa fungsi organ-organ akan menurun sebanyak satu persen setiap tahunnya setelah usia 30 tahun.

Perubahan Akibat Proses Menua Dan Usia Biologis


Svanborg et al menyatakan bahwa penurunan tersebut tidak sedramatis itu, tetapi memang terdapat penurunan fungsional yang nyata setelah usia 70 tahun. Lebih tepat bila dikatakan bahwa penurunan anatomi dan fungsi organ tersebut tidak dikaitkan dengan umur kronologik akan tetapi dengan umur biologiknya, dengan perkataan lain, mungkin seseorang dengan usia kronologik baru 55 tahun, tetapi sudah menunjukan berbagai penurunan antomik dan fungsional yang nyata akibat umur biologiknya yang sudah lanjut sebagai akibat tidak baiknya factor nutrisi, pemeliharaan kesehatan dan kurangnya aktivitas.

Penurunan anatomi dan fungsional dari organ-organ menyebabkan lebih mudah timbulnya penyakit pada organ tersebut (=predileksi). Petanda penuaan bukan pada tampilan organ atau organism saat istirahat, akan tetapi bagaimana organ atau organisme tersebut dapat beradaptasi terhadap stres dari luar. Sebagai contoh, seorang lansia mungkin masih menunjukan nilai gula darah normal pada saat puasa, akan tetapi mungkin menunjukan nilai yang abnormal tinggi dengan pembebanan glukosa. Filtrasi glomerulus dan aliran darah ginjal sudah menurun, banyak lansia menunjukan nilai kreatinin serum dalam batas normal. Ini disebabkan karena massa otot bersih dan produksi kreatinin yang sudah menurun pada usia lanjut. Oleh karena itu pada usia lanjut kretinin serum tidak begitu tepat untuk dijadikan sebagai indicator fungsi ginjal disbanding dengan pada usia muda.

1. Sistem Panca Indra


Perubahan morfologik pada mata, telinga, hidung, syaraf perasa dilidah dan kulit. Perubahan yang bersifat degenerative anatomik fungsional, memberi manifestasi pada morfologi berbagai organ panca indra tersebut baik pada fungsi melihat, mendengar, keseimbangan ataupun perasa dan perabaan. Pada keadaan yang ekstrim bahkan bisa bersifat patologik misalnya terjadinya ektropion/ entropion, ulkus kornea, glaucoma dan katarak pada mata, sampai pada keadaan konfusio akibat penglihatan yang terganggu. Pada telinga dapat terjadi tuli konduktif, sindroma Meniere (keseimbangan).

2. Sistem Gastro-Intestinal
Gigi sampai anus terjadi perubahan morfologik degenerative (atrofik pada rahang, sehingga gigi lebih mudah tanggal, atrofik mukosa, kelenjar dan otototot perncernaan). Menyebabkan perubahan fungsional sampai patalogik, diantaranya gangguan mengunyah dan menelan, perubahan nafsu makan sampai pada berbagai penyakit, diantaranya adalah :

Disfagia
Kausa neurologic : - otak : stroke, bulbar palsy, presbyesofagus - syaraf otonom Kausa diluar dinding esophagus : aneurisma aorta, karsinorma mediastinum Kausa pada dinding esophagus : - karsinoma lanjut - esophagus refluks - akalasia kardia - moniliasis

Hiatus Hernia
Sering merupakan keadaan yang menyertai proses menua. sliding, yang sering terdapat pada usia lanjut dihubungkan dengan esofagitis refluks. Paraesofageal/roling hernia yang kekerapannya pada usia lanjut sama dengan pada usia muda.

Perubahan sekresi lambung


Makin lanjut usia sering terjadi kegagalan sekresi asam, karena terjadi atrofi sel mukosa lambung.

Ulkus Peptikum
Sepertiga kematian akibat ulkus lambung terjadi pada usia lanjut. Gejala yang terdapat lebih umum, diantaranya anemia, berat badan turun dan rasa tak enak diperut atas (dyspepsia).

Divertikulosis
Merupakan fenomena yang berhubungan dengan lanutnya usia. Lokasi yang tersering adalah di esophagus, duodenum dan yeyunum. Kelaianan ini penting oleh karena sering menyebabkan defisiensi B12, terutama pada divertikula multiple.

Pankreatitis
Walaupun prevalensinya jarang, akan tetapi insidensi meningkat dengan bertambahnya umur. Hal ini diduga akibat penyakit iskemia vaskuler.

Sindroma Malabsorbsi
Penting karena menyebabkan defisiensi berbagai zat (asam folat, B12, zat besi, kalsium, vitamain D dll). Keadaan ini dihubungkan dengan terjadinya perubahan villi mukosa usus halus pada proses menua, menjadi lebih pendek dan lebih lebar.

Usus Besar
Dari aspek fisiologik dan patologik dari organ ini,yang perlu diperhatikan adalah kebiasaan buang air besar, keluhan konstipasi. Sedangkan berbagai keadaan patologik antara lain adalah penyakit megakolon,karsinoma kolon dan rectum, kolistis iskemik dan kolistis ulserativa.

3. Sistem Kardivaskuler
Walaupun tanpa adanya penyakit, pada usia lanjut jantung sudah menunjukan penurunan kekuatan kontraksi, kecepatan kontraksi dan isi sekuncup. Terjadi pula penuruna yang signifikan dari cadangan jantung dan kemampuan untuk meningkatkan kekuatan curah jantung misalnya pada keadaan latihan / exercise. Bila gejala angina timbul pada usia lanjut, hal ini sudah terjadi pada tingkat latihan yang rendah dan seringkali menandakan penyakit koroner yang cukup berat. Golongan lanjut usia seringkali kurang merasakan nyeri dibanding usia muda dan gejala pertama infark miokard akut seringkali adalah gagal jantung, embolus, hipotensi atau konfusio. Angka kematian akibat infark miokard meningkat pada usia lanjut, dari sekitar 25% pada usia 70-an menjadi sekitar 40% pada usia 90-an. Gejala infark miokard pada usia lanjut : Nyeri dada Dispneu Sinkope Memburuknya dekompensasi jantung konfusio Derajat kesehatan menurun

Faktor predisposisi IHD pada usia lanjut


Penelitian terakhir menunjukan bahwa disamping usia, maka factor resiko penyakit jantung iskemik pada usia lanjut hampir sama saja dengan pada usia muda diantaranya adalah hipertensi, obesitas, hiperlipidemia, diabetes dan merokok. Pada usia yang sangat lanjut (>90 tahun), adanya factor resiko yang tidak disertai adanya tanda penyakit jantung iskemik seringkalli menunjukan mungkin terdapat suatu genetic immunity, oleh karena mereka yang rentan terhadap penyakit tersebut tentu sudah lama menderita akibat penyakitnya dan bahkan mungkin sudah meninggal dunia. Penelitian juga menunjukan bahwa para lansia yang duda/janda lebih banyak menderita IHD ketimbang mereka yang masih mempunyai pasangan.

4. Sistem Respirasi
System respirasi sudah mencapai kematangan pertumbuhan pada usia 20-25 tahun, setelah itu mulai menurun fungsinya. Elastisistas paru menurun, kekakuan dinding dada meningkat, kekuatan otot dada menurun. Semua ini berakibat menurunnya rasio ventilasi-perfusi dibagian paru yang tak bebas dan pelebaran gradient alveolar arteri untuk oksigen. Keadaan ini tidak boleh disalah artikan sebagai adanya penyakit paru. Terjadi penurunan gerak silia di dinding system respirasi, penurunan reflex batuk dan reflex fisiologik lain, yang menyebabkan peningkatan kemungkinan terjadinya infeksi akut pada saluran nafas bawah. Berbagai perubahan morfologik dan fungsional tersebut mempermudah terjadinya berbagai keadaan patologik, diantaranya Penyakit Obstruktif/PPOK, Penyakit infeksi paru akut/kronis, dan keganasan Paru-bronkus.

5. Sistem Endokrinologik
Metabolism karbohidrat Pada sekitar 50% lansia menunjukan intoleransi glukosa, dengan kadar gula puasa yang normal. Disamping factor diet, obesitas dan kurangnya olahraga serta penuaan menyebabkan terjadinya penurunan toleransi glukosa. Tiroid Frekuensi hipertiroid tinggi pada usia lanjut (25% hipertiroid terjadi pada lansia). Sekitar 75% dari-nya mempunyai gejala / tanda klasik, sebagian lagi menunjukan apa yang disebut sebagai apathetic thyrotoxicosis. Hipotiroid merupakan penyakit yang terutama terjadi antara usia 70 tahun. Gejala dan tandanya sering tidak mencolok sehingga sering tidak terdiagnosis.

Osteoporosis Sering terdapat pada usia lanjut baik jenis primer atau sekunder. Terutama terjadi pada wanita pasca menopause oleh karena penurunan mendadak hormon estrogen. Pada usia lebih tua, kejadian pada pria juga meningkat, karena faktor-faktor inaktivitas, asupan kalsium yang kurang. Pembuatan vitamin D melalui kulit yang menurun dan juga faktor hormonal.

6. Sistem Hematologik
Sumsum tulang merupakan elemen yang dinamik, karena dalam sepanjang hidup selalu mengalami prodksi dan replikasi. Hal ini berbeda dengan jaringan lain seperti otot dan syaraf. Batas umur tertentu, sumsum tulang mengalami inovolusi, sehingga cadangan sumsum tulang pada usia lanjut menurun. Perubahan ini terutama disebabkan oleh faktor lingkungan mikro dan humoral. Meskipun demikian, nilai rujukan untuk beberapa parameter hematologik tidak berbeda secara bermakna dibanding dengan usia muda.

Anemia defisiensi besi Penyebab utama aneman kekurangan zat besi pada usia lanjut karena kehilangan darah, jarang sekali disebabkan karena kekurangan zat besi dalam diet. Pendarahan kronik terutama yang berasal dari sistem gastro instesnial merupakan penyebab utama misalnya : tukak peptik, varises esofagus, penggunaan salisilat dan obat golongan anti inflamasi non steroid, keganasan lambung, kolon, rektum kolitis dsb. Anemia megaloblastik Kekurangan vitamin B12 dan asam folat merupakan penyebab anemia megaloblastik pada usia lanjut. Tempat absorbsi vitamin B12 pada ileum, dan memerlukan faktor intrinsik yang dihasilkan oleh sel parietal lambung, sedangkan absorbsi asam folat di duodenum dan jejunum dan tidak memerlukan faktor intrinsik.

Leukimia Limfositik Kronik Leukimia limfositik kronik (LLK) merupakan salah satu keganasan hematologik yang sering didapatkan pada usia lanjut.
Anemia pada/akibat penyakit kronis Misalnya pada : tuberculosis, ulkus peptikum, gagal ginjal kronis, kolitis ulcerative, keganasan dan lain-lain.

7. Sistem Persendian
Penyakit rematik merupakan salah satu penyebab utama terjadinya disabilitas pada usia lanjut. Terjadi perubahan, tidak ratanya permukaan sendi, fibrilasi dan pembentukan celah dan lekukan di permukaan tulang rawan. Erosi tulang rawan hialin menyebabkan ebunarsi tulang dan pembentukan kista dirongga subkondral dan sumsum tulang. Semua perubahan tersebut belum bisa disebut patologik,akan tetapi disepakati bahwa perubahan tersebut harus dianggap patologik apabila terdapat stress tambahan misalnya apabila terjadi trauma atau pada sendi penanggung beban. Diantara penyakit sendi yang sering terdapat pada usia lanjut adalah osteoartritis, rematoid artritis, gout dan pseudo-gout, artritis mono-artikuler senilis, dan rematika polimialgia.

8. Sistem Urogenital dan Tekanan darah


Pada usia lanjut ginjal mengalami perubahan antara lain terjadi penebalan kapsula Bouwman dan gangguan permeabilitas terhadap solute yang akan difiltrasi. Nefron secara keseluruhan mengalami penurunan dalam jumlah (jumlah nefron pada akhir rentang hidup rata-rata tinggal tersisa sekitar 50% dibanding usia 30 tahun) dan mulai terlihat atrofi. Aliran darah di ginjal pada usia 75 tahun tinggal sekitar 50% dibanding usia muda. Akan tetapi fungsi ginjal secara keseluruhan dalam keadaan istirahat tidak terlihat menurun. Barulah apabila terjadi stress fisik (laatihan berat, infeksi, gagal jantung dll) ginjal tidak dapat mengatasi peningkatan kebutuhan tersebut dan mudah terjadi gagal ginjal. pada usia lanjut kreatinin juga tidak menggambarkan keadaan fungsi ginjal, oleh karena jumlah pretein tubuh dalam massa otot (yang merupakan contributor utama kadar kreatinin darah) sudah menurun.

9.

Infeksi dan imunologi

Perubahan imunologik yang mencolok adalah timus sudah mengalami resorbsi. Walaupun demikian jumlah sel T dan B tidak mengalami perubahan. Terjadi peningkatan pembentukan auto-antibodi, sehingga insidensi penyakit autoimun meningkat. Pengenalan dan penyerangan terhadap sel-sel tumor menurun, menyebabkan insidensi penyakit neoplasma meningkat. Tanggapan makrofag dan imunitas innate yang lain, misalnya, sel mukosa,sel kulit silia disistem respirasi,

9. Infeksi dan imunologi


Peningkatan predisposisi pada infeksi penting pada lansia karena infeksi cenderung menjadi berat, bahkan menyebabkan kematian. Infeksi saluran nafas bawah (pneumonia dan bronkopneumonia) serta infeksi saluran kemih merupakan infeksi penting pada usia lanjut, yang bisa berlanjut lebih berat. Faktor-faktor yang memperberat infeksi tersebut diantaranya adalah imobilisasi, instrumentasi serta iatrogenik. Pneumonia, misalnya sering meningkat pada usia lanjut, oleh karena pemberian acid lowering drugs yang berlebihan guna penanganan ulkus stress penderita di ICU hal ini akan menyebabkan kuman-kuman oropharing yang tertelan ke rongga mulut tidak dibinasakan oleh asam lambung. Bila kuman ini terikut pada aspirasi pasif ke laring dan trakhea akan dapat menyebabkan terjadinya pneumonia.

10. Sistem syaraf pusat dan otonom


Berat otak menurun sekitar 10% pada penuaan antara umur 30 sampai 70 tahun Meningen menebal, giri dan sulci otak berkurang kedalamannya. Akan tetapi kelainan ini tidak menyebabkan gangguan patologik yang berarti. Pada semua sitoplasma sel juga terjadi deposit lipofusin yang sering disebut sebagai pigmen wear and tear. Yang bersifat patologis adalah adanya degenerasi pigmen substansia nigra, kekusutan neurofibriler dan pembentukan badan-badan Hirano. Keadaan ini bersesuaian dengan terjadinya patologi sindroma Parkinson dan dementia tipe Alzheimeer. Pembuluh darah terjadi penebalan intima akibat proses aterosklerosis dan tunika media sebagai akibat proses menua. Akibatnya sering terjadi ganggua vaskularisasi otak yang berakibat terjadinya TIA, stroke dan dementia vaskuler. Vaskularisasi yang menurun pada daerah hipotalamus menyebabkan terjadinya gangguan syaraf otonom, disamping mungkin sebagai akibat pengaruh berkurangnya berbagai neurotransmiter. Perubahan patologik pada jaringa syaraf sering menyertai berbagai penyakit metabolik, antara lain diabetes, hipo/hipertiroid yang juga menyebabkan gangguan pada susunan syaraf tepi baik yang bersifat otonom atau tidak.

11. Sistem kulit dan intugumen


Terjadi atrofi dari epidermis, kelenjar keringat, folikel rambut serta berubahnya pigmentasi dengan akibat penipisan kulit, fragil seperti selaput (seperti kulit ari buah salak). Warna kulit berubah dengan disana-sini terjadi pigmentasi merata. Kuku menipis mudah patah, rambut rontok sampai terjadi kebotakan. Lemak subkutan juga berkurang menyebabkan berkurangnya bantalan kulit, sehingga daya tahan terhadap tekanan dan perubahan suhu menjadi berkurang. Oleh karena itulah sangat mudah terjadi hipo atau hipertermia, di samping mudah terjadi dekubitus. Penipisan kulit tersebut menyebabkan kulit mudah terluka dan terjadi infeksi kulit.

12. Otot dan tulang


Otot-otot mengalami atrofi disamping sebagai akibat berkurangnya aktivitas juga seringkali akibat gangguan metabolik atau denervasi syaraf. Keadaan otot akibat inaktivitas ini dapat diatasi dengan memperbaiki pola hidup (olahraga atau aktivitas terpogram). Akan tetapi gangguan akibat penyakit metabolik lama yang mengganggu inervasi syaraf seringkalli sudah ireversibel, walaupun abnormalitas metaboliknya diperbaiki. Dengan bertambahnya usia, proses berpasangan (=coupling) penulangan yaitu perusakan dan pembentukan tulang melambat, terutama pembentukannya. Hal ini selain akibat menurunnya aktivitas tubuh, juga akibat menurunnya hormon estrogen (wanita), vitamin D (terutama mereka yang kurang kena sinar matahari) dan beberapa hormon lain, misalnya parathormon dan kalsitonin. Tulang-tulang terutama trabekulae menjadi lebih berongga-rongga, mikro-arsitektur beruba dan sering berakibat patah tulang baik akibat benturan ringan maupun spontan.