Anda di halaman 1dari 23

EVALUASI PERLAKUAN AKUNTANSI ASET TETAP PSAP NO.

07 PADA DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN
Jurnal Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mendapatkan Gelar Sarjana dari Universitas Pamulang

Oleh: Dian Sudaryati


NIM : 2008120010

PROGRAM STUDI AKUNTANSI S1 FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS PAMULANG


TANGERANG SELATAN 2013

EVALUASI PERLAKUAN AKUNTANSI ASET TETAP PSAP NO. 07 PADA DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN
Dian Sudaryati
Ekonomi Akuntansi Universitas Pamulang Jl. Surya Kencana No. 1, Tangerang Selatan dian_sudaryati@yahoo.co.id

ABSTRAK
Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang dimiliki perusahaan/ pemerintah yang digunakan dalam operasi perusahaan/ pemerintahan, tidak dimaksudkan untuk dijual dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. Dalam Perlakuan Standar Akuntansi Pelaporan yang mengatur tentang perlakuan aset tetap adalah PSAP No. 7. Penelitian ini dilakukan di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Tangerang Selatan. Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perlakuan akuntansi aset tetap yang diterapkan di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Tangerang Selatan dengan perlakuan akuntansi berdasarkan PSAP No. 7. Dalam melakukan penelitian ini penulis mendasarkan pada analisis yang dibuat berdasarkan literatur yang relevan dengan topik penelitian serta data yang diperoleh dari tempat penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan metode observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kualitatif deskriptif dengan metode evaluasi. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yaitu data yang diperoleh melalui pengamatan di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Tangerang Selatan dan data sekunder yaitu data yang diperoleh melalui dokumen atau arsip yang berkaitan dengan penulisan berupa laporan keuangan. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset DaerahKota Tangerang Selatan mengukur aset tetap yang dimiliki berdasarkan nilai perolehan. Aset tetap diukur berdasarkan nilai perolehan dan disajikan pada neraca sebesar nilai awal pada saat pencatatan (nilai perolehan tidak dikurangi akumulasi penyusutan). Hal ini didasari oleh kebijakan dari Pemerintah Kota Tangerang Selatan sehingga nilai

yang diperoleh sebesar nilai awal saat pencatatan. Dan untuk mencapai keandalan laporan keuangan, Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Tangerang Selatan harus membuat catatan terkait dengan aset tetap.

PENDAHULUAN
Latar Belakang Otonomi daerah menurut UU NO.32 TH 2004 tentang pemerintahan daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempatsesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kebijakan Otonomi daerah dilaksanakan dengan cara memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada pemerintah daerah secara proposional yang diwujudkan dengan pengaturan,pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan,serta perimbangan keuangan pusat dan daerah. Aset tetap merupakan suatu bagian utama aset daerah dan karenanya mempunyai nilai yang signifikan dalam penyajian posisi keuangan.Dalam menentukan apakah suatu pos memenuhi kriteria pertama untuk pengakuan, suatu daerah harus memenuhi tingkat kepastian aliran manfaat keekonomian masa yang akan datang berdasarkan bukti yang tersedia pada waktu pengakuan awal. Berdasarkan hal diatas, penulis tertarik untuk melakukan evaluasi perlakuan akuntansi aset tetap PSAP No. 07 pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Tangerang Selatan.

Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Untuk mengetahui bagaimana perlakuan akuntansi terhadap aset-asettetap apakah sudah megacu pada PSAP No. 7 atau belum. b. Untuk mengetahui seberapa besar manfaat aset tetap terhadap perkembangan ekonomi masyarakat setempat.

Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terkait diantaranya sebagai berikut: (1) Bagi Penulis, Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah kajian-kajian teoritis dan menambah wawasan pengetahuan di bidang keuangan daerah terutama yang berkaitan dengan pengelolaan aset tetap daerah. Selanjutnya guna memenuhi satu syarat untuk menempuh sidang comprehensive Sarjana Strata-I (SI) program studi akuntansi

pada fakultas ekonomi universitas pamulang. (2) Bagi Perguruan Tinggi, Sebagai penambah informasi-informasi baru khususnya pengelola keuangan daerah. (3) Bagi Pihak DPPKAD Kota Tangerang Selatan, sebagai informasi dan bahan evaluasi guna mengetahui dimana harus melakukan perubahan dalam upaya melakukan perbaikan secara terus menerus untuk mengoptimalkan pengelolaan aset-aset tetap daerah. Pembatasan Masalah Untuk lebih mengarahkan pembahasan agar tidak terjadi kesimpangsiuran dalam pemecahan masalah, maka diperlukan adanya pembatasan masalah yang lebih terarah dan sesuai dengan ruang lingkup pembahasan. Ruang lingkup penelitian hanya dibatasi pada: EVALUASI PERLAKUAN AKUNTANSI ASET TETAP PSAP NO.07 PADA DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN . Perumusan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah yang penulis kemukakan diatas maka dalam penelitian ini terdapat beberapa rumusan masalah yaitu sebagai berikut: 1. Bagaimana perlakuan Akuntansi Aset Tetap menurut PSAP No. 07 di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Tangerang Selatan? 2. Bagaimana evaluasi terhadap aset tetap di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Tangerang Selatan?

LANDASAN TEORI
Pengertian Akuntansi Pemerintahan Dari pengertian beberapa ahli mengenai akuntansi publik dapat dikatakan bahwa akuntansi adalah suatu sistem atau teknik dari suatu pencatatan, penggolongan dan peringkasan, pelaporan dan menganalisa data keuangan yang dilakukan dengan cara tertentu dan ukuran moneter yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan ekonomi atau perusahaan. Berdasarkan pengertian diatas dapat dirumuskan pengertian akuntansi pemerintahan adalah akuntansi yang digunakan dalam suatu organisasi pemerintahan/lembaga yang tidak bertujuan untuk mencari laba, dan merupakan suatu bagian dari disiplin ilmu akuntansi sebagai yang utuh. Kerangka Konseptual Standar Akuntansi Pemerintahan Menurut buku Akuntansi Pemerintahan Daerah karangan Abdul Hafiz Tanjung, Standar Akuntansi Pemerintahan terdiri dari kerangka konseptual dan 12 Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP), yaitu : PSAP 01 Tentang Penyajian Laporan Keuangan PSAP 02 Tentang Laporan Realisasi Anggaran PSAP 03 Tentang Laporan Arus Kas PSAP 04 Tentang Catatan Atas Laporan Keuangan

PSAP 05 PSAP 06 PSAP 07 PSAP 08 PSAP 09 PSAP 10

Tentang Akuntansi Persediaan Tentang Akuntansi Investasi Tentang Akuntansi Aset Tetap Tentang Akuntansi Konstruksi Dalam Pengerjaan Tentang Akuntansi Kewajiban Tentang Koreksi Kesalahan, Perubahan Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Operasi yang tidak dilanjutkan. PSAP 11 Tentang Laporan Keuangan Konsolidasian PSAP 12 Laporan Operasional Kerangka konseptual merumuskan konsep yang mendasari penyusunan dan pengembangan Standar Akuntansi Pemerintahan. Kerangka konseptual juga berfungsi sebagai acuan dalam hal terdapat masalah akuntansi yang belum dinyatakan dalam Standar Akuntansi Pemerintahan, akan tetapi bila terjadi pertentangan antara kerangka konseptual dengan standar, maka ketentuan standar diunggulkan relatif terhadap kerangka konseptual. Tujuan Kerangka Konseptual Kerangka Konseptual Standar Akuntansi Pemerintahan bertujuan untuk memberikan acuan bagi : a. Penyusun standar akuntansi pemerintahan dalam melaksanakan tugasnya. b. Penyusun laporan keuangan dalam menanggulangi masalah akuntansi yang belum diatur dalam standar. c. Pemeriksa dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan disusun sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan. d. Para pengguna laporan keuangan dalam menafsirkan informasi yang disajikan pada lapporan keuangan yang disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Lingkungan Akuntansi Pemerintah Lingkungan operasional organisasi pemerintah berpengaruh terhadap karakteristik tujuan akuntansi dan pelaporan keuangannya. Ciri-ciri penting lingkungan pemerintahan yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan tujuan akuntansi dan pelaporan keuangan adalah sebagai berikut : a. Ciri utama struktur pemerintahan dan pelayanan yang diberikan 1) Bentuk umum pemerintahan dan pemisahan kekuasaan 2) Sistem pemerintahan otonomi dan transfer pendapatanantar pemerintah 3) Pengaruh proses politik 4) Hubungan antara pembayaran pajak dengan pelayanan pemerintah b. Ciri keuangan pemerintah yang penting bagi pengendalian 1) Anggaran sebagai pernyataan kebijakan publik, target fiskal, dan sebagai alat pengendalian. 2) Investasi dalam aset yang tidak langsung menghasilkan pendapatan. 3) Kemungkinan penggunaan akuntansi dana untuk tujuan pengendalian 4) Penyusutan nilai aset sebagai sumber daya ekonomi karena digunakan dalam kegiatan operasional pemerintah .

Pengguna Laporan Keuangan Terdapat beberapa kelompok utama pengguna laporan keuangan pemerintah, namun tidak terbatas pada : 1) Masyarakat 2) Para wakil rakyat, lembaga pengawas, dan lembaga pemeriksa. 3) Pihak yang memberi atau berperan dalam proses donasi, investasi dan pinjaman . 4) Pemerintah Definisi Aset Tetap Dari beberapa pengertian dapat ditarik kesimpulan bahwa aktiva/ aset tetap adalah aktiva berwujud yang dimiliki perusahaan/ pemerintah yang digunakan dalam operasi perusahaan/ pemerintahan, tidak dimaksudkan untuk dijual dan mempunyaimasamanfaatlebihdarisatutahun.

Klasifikasi Aset Tetap Dalam PSAP 07, aset tetap di neraca diklasifikasikan menjadi enam akun sebagaimana dirinci dalam penjelasan berikut ini: 1) Tanah 2) Peralatan dan Mesin 3) Gedung dan Bangunan 4) Jalan, Irigasi dan Jaringan 5) Aset Tetap Lainnya 6) Konstruksi dalalm pengerjaan Pengakuan Aset Tetap Sesuai dengan klasifikasi Aset Tetap, suatu aset dapat diakui sebagai aset tetap apabila berwujud dan memenuhi kriteria: 1) Mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan; 2) Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal; 3)Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal entitas; 4) Diperoleh/dibangun dengan maksud untuk digunakan. Pengukuran Aset Tetap Aset tetap yang dimiliki atau dikuasai oleh pemerintah harus dinilai atau diukur untuk dapat dilaporkan dalam neraca. Menurut SAP, aset tetap yang diperoleh atau dibangun secara swakelola dinilai dengan biaya perolehan. Secara umum, yang dimaksud dengan biaya perolehan adalah jumlah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aset tetap sampai dengan aset tetap tersebut dalam kondisi dan tempat yang siap untuk digunakan. Hal ini dapat diimplementasikan pada aset tetap yang dibeli atau dibangun secara swakelola. Aset tetap yang tidak diketahui harga perolehannya disajikan dengan nilai wajar. Nilai wajar adalah nilai tukar aset tetap dengan kondisi yang sejenis di pasaran pada saat penilaian. Aset tetap yang berasal dari hibah, yang tidak diketahui harga perolehannya, pemerintah dapat menggunakan nilai wajar pada saat perolehan. Komponen

biaya yang dapat dimasukkan sebagai biaya perolehan suatu aset tetap terdiri dari: 1) harga beli, 2) bea impor, 3) biaya persiapan tempat, 4) biaya pengiriman awal (initial delivery) dan biaya simpan dan bongkar muat (handling cost), 5) biaya pemasangan (instalation cost), 6) biaya profesional seperti arsitek dan insinyur, serta 7) biaya konstruksi (biaya langsung untuk tenaga kerja, bahan baku, dan biaya tidak langsung termasuk biaya perencanaan dan pengawasan, perlengkapan, tenaga listrik, sewa peralatan, dan semua biaya lainnya yang terjadi berkenaan dengan pembangunan aset tetap tersebut). Yang tidak termasuk komponen biaya aset tetap adalah: 1) Biaya administrasi dan biaya umum lainnya sepanjang biaya tersebut tidak dapat diatribusikan secara langsung pada biaya perolehan aset atau membawa aset ke kondisi kerjanya. 2) Biaya permulaan (start-up cost) dan pra-produksi serupa kecuali biaya tersebut perlu untuk membawa aset ke kondisi kerjanya. Penyusutan Semua jenis aktiva tetap, kecuali tanah akan makin berkurang kemampuannya untuk memberikan jasa bersamaan dengan berlalunya waktu. Beberapa faktor yang mempengaruhi menurunnya kemampuan ini adalah pemakaian, keausan, ketidakseimbangan kapasitas yang tersedia dengan yang diminta dan keterbelakangan teknologi. Berkurangnya kapasitas berarti berkurangnya nilai aktiva tetap yang bersangkutan. Hal ini perlu dicatat dan dilaporkan. Pengakuan adanya penurunan nilai aktiva tetap berwujud disebut penyusutan (depreciation). Penyusutan dapat dihitung tiap-tiap bulan atau ditunda sampai dengan akhir tahun. Metode Penyusutan Nilai sisa adalah taksiran harga pasar aktiva tetap pada akhir masa manfaat. Dalam hal demikian, nilai yang dapat disusutkan adalah harga perolehan dikurangi nilai sisa. Taksiran manfaat mencerminkan besarnya kapasitas/manfaat aktiva tetap selama dapat dipakai. Taksiran ini dapat dinyatakan dalam lamanya jangka waktu pemakaian (umur berguna atau masa manfaat). Ada beberapa cara untuk menghitung penyusutan, yaitu metode garis lurus, saldo menurun, jumlah angka-angka tahun dan unit produksi.

METODOLOGI PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Tangerang Selatan yang beralamat di Jl. Raya Witanaharja Komplek Sasmita Jaya, Tangerang Selatan. Waktu yang dibutuhkan dalam melakukan penelitian ini selama dua bulan, yaitu pada awal bulan Januari sampai dengan akhir bulan Maret 2013. Jenis Penelitian Adapun kegiatan penelitian ini menggunakan tipe penelitian Kualitatif dengan metode analisis kualitatif yang bersifat deskriptif yaitu kegiatan menganalisis dan membandingkan antara PSAP No.7 dengan Perlakuan akuntansi aset tetap di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah.

Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut: a. Data kualitatif, yaitu data dari perusahaan dalam bentuk informasi baik lisan maupun tulisan seperti sejarah berdirinya obojek penelitian, struktur organisasi yang disertai uraian tugasnya, serta data-data lain yang sifatnya kualitatif yang dibutuhkan dalam rangka penulisan. b. Data kuantitatif, yaitu data yang berupa angka-angka seperti besarnya nilai aktiva tetap yang diakui oleh DPPKAD dalam laporan keuangan, serta datadata lain yang dibutuhkan dalam rangka penulisan. 2. Sumber Data Adapun sumber data yang digunakan penulis, yaitu: a. Data Primer, yaitu data yang diperoleh melalui pengamatan atau wawancara langsung dengan pihak DPPKAD. b. Data Sekunder, yaitu data data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen atau arsip-arsip DPPKAD yang berkaitan dengan penulisan berupa laporan keuangan serta catatan-catatan mengenai pengakuan dan pengukuran aktiva tetap. Metode Pengumpulan Data Suharsimi Arikunto (2010)mendefinisikan Teknik mengumpulkan data yaitu bagaimana peneliti menentukan metode setepat-tepatnya untuk memperoleh data, kemudian disusul dengan cara menyusun alat pembantunya, yaitu instrumen. Dalam metode pengumpulan data ada beberapa cara yang dapat digunakan, tetapi tidak semua cara dapat diterapkan dalam setiap jenis penelitian. Menurut Suharsimi Arikunto (2010) ada beberapa metode, yaitu : 1.Observasi Observasi adalah pengamatan langsung kepada objek yang diteliti dan usaha pengumpulan data dan informasi secara intensif disertai analisa dan pengujian kembali atas data yang akan dikumpulkan.

2. Interview/Wawancara interview adalah sebuah dialog (interview)yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara (interviwed). 3. Studi Kepustakaan Penelitian kepustakaan dilakukan dengan cara mengumpulkan, membaca dan memahami buku, literature, catatan perkuliahan, artikel, data dari internet dan prosedur pengendalian internal yang relevan dengan permasalahan. 4. Dokumentasi Dokumentasi, dari asal katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturanperaturan, notulen rapat, dan sebagainya. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode dokumentasi sebagai pendukung untuk memperoleh data yang dibutuhkan mengenai DPPKAD, seperti sejarah, struktur organisasi, dan data-data yang lain.

Metode Analisis Data Untuk mengetahui bagaimana perlakuan akuntansi aset daerah maka penulis menggunakan metode analisis kualitatif yang bersifat deskriptif Yaitu dengan cara membandingkan antara PSAP No. 7 dengan perlakuan akuntansi aset tetap yang diperlakukan di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Tangerang Selatan. Untuk menjawab rumusan masalah, maka metode analisis yang digunakan adalah metode analisis deskriptif kualitatif. Dengan metode analisis deskriptif kualitatif, data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif, yaitu dengan mengkaji, memaparkan, menelaah, dan menjelaskan data-data yang diperoleh pada DPPKAD untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan menyeluruh tentang proses pengakuan dan pengukuran Aset tetap hingga tersaji ke dalam laporan keuangan. Setelah mendapatkan gambaran penuh tentang proses pengakuan dan pengukuran aset tetap, langkah berikutnya adalah menganalisis perlakuan pengakuan dan pengukuran aset tetap pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah dengan membandingkan antara proses pengakuan dan pengukuran aset tetap pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah dengan ketentuan yang berlaku dalam Perlakuan Standar Akuntansi Pelaporan, yaitu Pernyataan PSAP No.7 tentang aset tetap.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Tangerang Selatan terbentuk berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2008 tentang Organisasi dan tata kerja Lembaga Teknis Daerah Kota Tangerang Selatan. Pembentukan Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah sebagai salah satu lembaga teknis daerah yang dilatarbelakangi oleh perubahan pengelolaan keuangan daerah, yaitu Kepala Daerah diwajibkan menyusun laporan pertanggungjawaban keuangan daerah yang terdiri dari laporan Realisasi APBD, Neraca daerah, Laporan arus kas dan Catatan atas laporan keuangan. Konsekuensi logis dari perubahan pertanggungjawaban tersebut maka dibentuklah organsiasi BPKD yang telah dirubah namanya menjadi Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah guna terintegrasinya pengelolaan keuangan yang meliputi pencatatan dan pertanggungjawaban penerimaan kas dan pengeluraan kas, serta aset/barang daerah. Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Tangerang Selatan berdiri pada tahun 2008 dipimpin oleh Bp.Ir. H. Uus Kusnadi, M.Si. Fungsi dan Tugas Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Tangerang Selatan adalah sebagai berikut: a. Sekretariat b. Bidang Pendapatan c. Bidang Akuntansi d. Bidang Anggaran, Verifikasi dan Pembiayaan e. Bidang Aset dan Investasi

Visi dan Misi DPPKAD

Visi merupakan kondisi masa depan yang hendak diwujudkan dengan mempertimbangkan kondisi organisasi saat ini dan tantangan yang dihadapi dimasa depan. Visi organsiasi mengacu pada Visi Kota Tangerang Selatan yakni Kota Entrepreneur. Adapun visi Dinas, Pendapatan, Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kota Tangerang Selatan adalah: Menjadi instansi yang handal, sistematis dan akuntabel dalam pengelolaan pendapatan, keuangan dan aset daerah Misi merupakan jalan pilihan untuk menuju ke masa depan dan menjelaskan keberadaan suatu organsiasi serta menentukan batas dan maksud aktivitas yang akan dilaksnakan. Dalam mewujudkan visi tersebut, maka Badan Pengelola Keuangan Daerah menjabarkannya melalui misi sebagai berikut: a. Meningkatkan pengelolaan pendapatan daerah b. Mengembangkan pengelolaan anggaran belanja daerah c. Meningkatkan pengelolaan aset daerah

Tujuan DPPKAD Tujuan dari Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Tangerang Selatan adalah : d. Meningkatkan pendapatan daerah. e. Meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan disiplin aparatur dalam pelaksnaan tugas f. Meningkatkan koordinasi dengan mitra kerja, baik antar SKPD dan lembaga lain yang saling bekerjasama g. memantapkan pelaksanaan anggaran dan pertanggunjawaban keuangan daerah yang akuntabel dan transparan h. Meningkatkan pelayanan adminstrasi yang akuntabel guna mendukung pencapaian sasaran kinerja.

Hasil Penelitian Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan maka berikut ini diperoleh hasil penelitian sebagai berikut : a. Definisi Aset Tetap menurut DPPKAD Aset tetap adalahAset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan Pemerintah Kota Tangerang Selatan atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum. b. Klasifikasi Aset Tetap menurut DPPKAD Klasifikasi aset tetap menurut DPPKAD terdiri dari tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan,irigasi,dan jaringan, aset tetap lainnya, dan konstruksi dalam pengerjaan. c. Pengakuan Aset Tetap di DPPKAD Untuk dapat diakui sebagai aset tetap, suatu aset harus berwujud dan memenuhi kriteria: 1) Mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan; 2) Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal; 3) Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal entitas; 4) Diperoleh atau dibangun dengan maksud untuk digunakan dalam operasi normal Pemerintahan Kota Tangerang Selatan. Jurnal pengakuan aset dari belanja modal adalah sebagai berikut: Aset tetap (modal) XXXXX Diinvestasikan dalam aset tetap XXXXX
d. Pencatatan Untuk pencatatan aset tetap adalah Aset tetap dicatat pada saat potensi

manfaat ekonomi masa depan diperoleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan atau pada saat hak kepemilikannya dan penguasaannya berpindah dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.

10

e. Pengukuran Aset tetap disajikan sebesar biaya perolehannya. Apabila penilaian aset tetap dengan menggunakan biaya perolehan tidakmemungkinkan maka nilai aset tetap didasarkan pada nilaiwajarnya pada saat perolehan.
f. Penilaian Aset tetap dinilai berdasarkan nilai wajar pada saat perolehan.Apabila

penilaian aset tetap dengan menggunakan tidakmemungkinkan maka nilai aset tetap nilaiwajarnya pada saat perolehan.
g. Pelaporan

biaya perolehan didasarkan pada

Disajikan di neraca sebagai aset nonlancar sebesar harga perolehannya atau nilai wajarnya bila tidak ada harga perolehannya. Pengukuran setelah pengakuan awal tidak memperhitungkan adanya penyusutan terhadap gedung dan bangunan. Kebijakan dari Pemerintah Kota Tangerang Selatan yaitu nilai harga satuan untuk gedung dan bangunan yang kurang dari dua puluh juta rupiah, maka tidak dilaporkan sebagai aset tetap. Pengukuran setelah pengakuan awal tidak memperhitungkan adanya penyusutan terhadap peralatan dan mesin.Kebijakan dari Pemerintah Kota Tangerang Selatan yaitu nilai harga satuan untuk peralatan dan mesin yang kurang dari satu juta rupiah, maka tidak dilaporkan sebagai aset tetap. Pembahasan Menurut PSAP No. 7 a. Definisi Aset Tetap Definisi aset tetap menurut PSAP No. 7 yaitu Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Definisi aset tetap pada DPPKAD telah sesuai dengan PSAP No. 7. b. Klasifikasi Aset Tetap Klasifikasi aset tetap menurut PSAP No. 7 terdiri dari Tanah, Peralatan dan Mesin, Gedung dan Bangunan, Jalan, Irigasi, dan Jaringan, Aset Tetap Lainnya, dan Konstruksi dalam Pengerjaan. Hal ini telah sesuai dengan dengan pengakuan aset yang terjadi di DPPKAD. c. Pengakuan Aset Tetap Pengakuan aset tetap menurut PSAP No. 7 yaitu suatu aset harusberwujud dan memenuhi kriteria: 1) Mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan 2) Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal 3) Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal entitas; dan 4) Diperoleh atau dibangun dengan maksud untuk digunakan
Hal ini telah sesuai dengan pengakuan yang dilakukan oleh DPPKAD.

11

d. Pencatatan Aset tetap dicatat apabila aset tetap telah diterima atau diserahkan hak

e.

f.

g.

h.

kepemilikannnya atau pada saat penguasaannya berpindah. Dari uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pencatatan aset tetap di DPPKAD sudah sesuai dengan PSAP No. 7. Pengukuran Aset tetap diukur dengan biaya perolehan apabila tidak memungkinkan maka didasarkan pada nilai wajar saat perolehan. Dari uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengukuran aset tetap di DPPKAD sudah sesuai dengan PSAP No. 7. Penilaian Aset tetap dinilai dengan biaya perolehan. Apabila penilaian aset tetap dengan menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai aset tetap didasarkan pada nilai wajar saat perolehan. Dari uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa penilaian aset tetap di DPPKAD sudah sesuai dengan PSAP No. 7. Pelaporan Aset tetap Disajikan sebesar harga perolehannya.Nilai penyusutan untuk masing-masing periode diakui sebagai pengurang nilai tercatat aset tetap dan diinvestasikan dalam aset tetap. Aset bersejarah tidak disajikan di neraca tetapi cukup diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan (CALK). Jika penyelesaian pengerjaan suatu aset tetap melebihi dan atau melewati satu periode tahun anggaran, maka aset tetap yang belum selesai tersebut dilaporkan sebagai konstruksi dalam pengerjaan sampai aset tersebut selesai dan siap dipakai. Dari uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pelaporan aset tetap di DPPKAD belum sesuai dengan PSAP No. 07 dikarenakan tidak adanya nilai penyusutan dalam perlakuan aset tetap. Hal ini terjadi karena ada kebijakan tersendiri dari Pemerintah Kota Tangerang Selatan mengenai perlakuan ase tetap. Selanjutnya penulis menganalisa perlakuan akuntansi DPPKAD yang tidak sesuai dengan yang tertuang di PSAP No. 07 dan sekaligus memberikan solusi berupa perlakuan akuntansi yang sesuai dengan PSAP No. 07. Gedung dan Bangunan Pengakuan nilai DPPKAD setelah pengakuan awal tidak sesuai dengan yang diwajibkan dalam PSAP No. 7. DPPKAD tidak melakukan penyusutan terhadap gedung dan bangunan yang dimiliki. Dalam melakukan estimasi masa manfaat gedung dan bangunan, penulis mengambil acuan berdasarkan pada UU No. 36 th 2008 pasal 11:6 (2008:18) karena DPPKAD tidak pernah mengestimasi masa manfaat gedung dan bangunan. Berdasarkan pada peraturan pajak tersebut, gedung dan bangunan DPPKAD dikategorikan sebagai bangunan permanen dengan masa manfaat selama 20 th serta tarif penyusutan sebesar 5% (metode garis lurus). Tabel dibawah ini memperlihatkan bahwa seharusnya nilai gedung dan bangunan Rp 376.961.291.153,6. Jumlah akun beban depresiasi selama th 2008-2009 yang

12

belum diakui sebesar Rp 61.328.122.341,9 dikompensasikan pada ekuitas DPPKAD.


Tabel 4.1 Perhitungan depresiasi gedung dan bangunan DPPKAD Untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2011 Akumulasi Hrg perolehan Tarif Beban Depresiasi Nilai buku Depresiasi
445.718.047.622,5 445.718.047.622,5 445.718.047.622,5 445.718.047.622,5 5% 5% 5% 5% 16.756.317.579,7 22.285.902.381,1 22.285.902.381,1 7.428.634.127,0 16.756.317.579,7 39.042.219.960,8 61.328.122.341,9 68.756.756.468,9 428.961.730.042,8 406.675.827.661,7 384.389.925.280,6 376.961.291.153,6

Th
2008 2009 2010 2011

Note : Tabel ini adalah hasil perhitungan menurut penulis

Dan berikut ini adalah informasi terkait gedung dan bangunan yang harus diungkapkan di dalam catatan atas laporan keuangan : 1. Pengukuran nilai bruto gedung dan bangunan DPPKAD yaitu harga perolehan gedung dan bangunan. 2. Metode penyusutan yang digunakan yaitu metode garis lurus. 3. Umur manfaat dan tarif penyusutan yang digunakan yaitu selama 20 th dan sebesar 5%. 4. Rekonsiliasi jumlah tercatat gedung dan bangunan pada awal dan akhir periode yang menunjukkan penambahan dan pelepasan karena selama kurum waktuk Januari 2011-Desember 2011 tidak ada penambahan dan pelepasan gedung dan bangunan DPPKAD. Dibawah ini memperlihatkan ayat jurnal penyesuaian (AJE) yang digunakan untuk memperbaiki perlakuan akuntansi gedung dan bangunan DPPKAD. Berikut ini adalah ayat jurnal penyesuaian untuk perlakuan akuntansi gedung dan bangunan di DPPKAD.

13

Tabel 4.2 AJE untuk perlakuan akuntasi gedung dan bangunan DPPKAD Untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2011
DPPKAD PSAP No. 7 AJE

Tidak Bebandepresiasi 7.428.634.127 Beban depresiasi 7.428.634.127 U melakukan Akm.Depresiasi 7.428.634.127 Akm.Depresiasi 7.428.634.127 m penjurnalan u (DPPKAD) Setiap th PSAP No. 7 mewajibkan r tidak adanya penyusutan untuk gedung dan Untuk membukukan depresiasi gedung dan mengestima bangunan yang dimiliki. bangunan pada bulan Januari 2011m si masa Desember 2011. a manfaat dan n juga tidak Ekuitas DPPKAD 61.328.122.341,9 f pernah Akm.Depresiasi 61.328.122.341,9 a melakukan a penyusutan Karena selama ini periode sebelumnya t pada gedung DPPKAD tidak pernah melakukan dan depresiasi terhadap gedung dan bangunan d bangunan maka ekuitas DPPKAD di debet sebesar a akm depresiasi gedung dan bangunan mulai t januari 2008-Desember 2010. a r i f penyusutan gedung dan bangunan di dapatkan dari peraturan pajak yaitu UU No. 36 th 2008 pasal 11:6. Note : Tabel ini adalah hasil perhitungan menurut penulis

Berikut ini adalah contoh neraca menurut penulis berdasarkan PSAP No. 7 Tabel 4.3 NERACA DPPKAD berdasarkan PSAP No. 7. PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN NERACA PER 31 DESEMBER 2011 (dalam jutaan rupiah)
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Uraian ASET ASET LANCAR Kas dan setara kas Kas di Bendahara umum daerah Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Penerimaan Investasi Jangka Pendek Piutang Piutang Pajak Piutang Retribusi Piutang PAD lainnya Piutang Transfer Bagian Lancar TGR Piutang Lain-lain Belanja Dibayar Di Muka 2011

430.893.508.304,00 429.803.498.729,00 1.090.009.575,00 0 0 23.252.776.127,68 493.793.367,00 9.450.287,00 177.768.101,00 21.281.429.016,83 23.325.000,00 0 1.267.010.355,85

14

16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 47 48 49 50 51 47 48 49 50 51 47 48 49

Lanjutan Tabel 4.3 Persediaan JUMLAH ASET LANCAR INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi Non Permanen Investasi Permanen JUMLAH INVESTASI JANGKA PANJANG ASET TETAP Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan, Irigasi dan Jaringan Aset Tetap Lainnya Konstruksi Dalam Pengerjaan Akumulasi Penyusutan Jumlah Aset Tetap DANA CADANGAN Dana Cadangan JUMLAH DANA CADANGAN ASET LAINNYA Tagihan Piutang Penjualan Angsuran Tagihan Tuntutan Ganti Kerugian Daerah Kemitraan dengan Pihak Ketiga Aset Tidak Berwujud Aset Lain-lain JUMLAH ASET LAINNYA JUMLAH ASET KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Utang Perhitungan Pihak Ketiga Utang Transfer Utang Bunga Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Pendapatan Diterima Di Muka Utang Jangka Pendek Lainnya JUMLAH KEWAJIBAN JANGKA PENDEK KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Utang Dalam Negeri Utang Luar Negeri JUMLAH KEWAJIBAN JANGKA PANJANG JUMLAH KEWAJIBAN EKUITAS EKUITAS DANA LANCAR Akumulasi SILPA Cadangan Piutang Cadangan Persediaan Dana yang harus disediakan untuk pembayaran utang jangka pendek Pendapatan Yang ditangguhkan JUMLAH EKUITAS DANA LANCAR EKUITAS DANA INVESTASI Diinvestasikan dalam Investasi Jangka

20.728.914.668,38 474.875.199.100,06 0 0 0 921.688.543.629,41 224.201.764.797,00 445.718.047.622,50 512.516.699.798,16 13.799.009.780,00 15.112.380.588,34 (7.428.634.127,00) 2.125.607.812.088,41 0 0 0 0 0 9.461.924.600,00 7.737.746.000,00 17.199.670.600,00 2.617.682.681.788,47

123.969.101,00 1.208.532.800,00 0 0 0 21.023.573.522,00 22.366.075.423,00 0 0 0 22.356.075.423,00

430.765.124.802,00 23.252.776.127,68 20.728.914.668,38 (22.227.766.322,00) 74.401,00 452.519.123.677,06

15

50 51 52 53 54 55 56 57 58

Lanjutan Tabel 4.3 Diinvestasikan dalam Aset Tetap Diinvestasikan dalam Aset lainnya (tidak termasuk dana cadangan) Dana yang harus disediakan untuk pembayaran utang jangka panjang JUMLAH EKUITAS DANA INVESTASI EKUITAS DANA CADANGAN Diinvestasikan dalam dana cadangan JUMLAH EKUITAS DANA CADANGAN JUMLAH EKUITAS JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS
[

2.125.607.812.088,41 17.199.670.600,00

2.150.236.116.815,41 0 0 2.602.755.240.492,47 2.617.682.681.788,47

a.

Perubahan format neracaPerubahan pertama tentu saja adalah disajikannya neraca sebagai bagian dari laporan keuangan DPPKAD. Melalui neraca, pengguna laporan keuangan DPPKAD dapat mengetahui proporsi kewajiban dengan aset atau ekuitas entitas. Sehingga pada akhirnya, dapat memberikan informasi megenai posisi keuangan DPPKAD. Informasi keuangan ini membantu DPPKAD dalam mengambil keputusan untuk melakukan permohonan utang karena DPPKAD dapat selalu memantau perbandingan aset dan kewajibannya. Apabila kewajiban lebih besar daripada aset maka DPPKAD dapat memutuskan untuk tidak melakukan permohonan utang sebab tidak ada lagi aset yang dapat dijaminkan andai kata DPPKAD gagal melunasi utang. Begitu pula sebaliknya jika aset lebih besar daripada kewajiban maka DPPKAD dapat melakukan permohonan utang. Nilai buku gedung dan bangunan mengalami penurunan cukup tajam yakni 15% (Rp 68.756.756.468,9). Penurunan ini disebabkan karena neraca berdasarkan PSAP No.7 telah memperhitungkan depresiasi pada gedung dan bangunan. Perbedaan informasi nilai yang disajikan cukup material yakni adanya penurunan terhadap aset tidak lancar tersebut. Setelah dilakukan penyusutan sebesar 30%. Penurunan nilai tersebut mencapai 15% dari total aset DPPKAD sebelum diterapkannya PSAP No.7. Penurunan tersebut mempengaruhi laporan keuangan DPPKAD. Berdasarkan pada rekomendari format neraaca meurut PSAP No. 7 yang disusun, nilai gedung dan bangunan DPPKAD telah disusutkan sehingga aset tidak lancar tersebut mencerminkan kondisi yang sesungguhnya, yaitu telah mengalami penurunan umur masa manfaat setelah dipakai beberapa lama oleh DPPKAD. Peralatandan Mesin Pengakuan nilai DPPKAD setelah pengakuan awal tidak sesuai dengan yang diwajibkan dalam PSAP No. 7. DPPKAD tidak melakukan penyusutan terhadap peralatan dan mesin yang dimiliki. Dalam melakukan estimasi masa manfaat peralatan dan mesin, penulis mengambil acuan berdasarkan pada UU No. 36 th 2008 pasal 11:6 (2008:18) karena DPPKAD tidak pernah mengestimasi masa manfaat

16

peralatan dan mesin. Berdasarkan pada peraturan pajak tersebut, peralatan dan mesin DPPKAD dikategorikan sebagai peralatan permanen dengan masa manfaat selama 8 th serta tarif penyusutan sebesar 12,5% (metode garis lurus). Tabel dibawah ini memperlihatkan bahwa seharusnya nilai peralatan dan mesin. Tabel 4.4 Perhitungan depresiasi peralatan dan mesin DPPKAD Untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2011
Th 2008 2009 2010 2011 Akumulasi Depresiasi 224.201.764.797 12,5% 8.407.566.179,8 8.407.566.179,8 224.201.764.797 12,5% 28.025.220.599,6 36.432.786.779,4 224.201.764.797 12,5% 28.025.220.599,6 64.458.007.379 224.201.764.797 12,5% 3.736.695.711,6 68.194.703.090,6 Note : Tabel ini adalah hasil perhitungan menurut penulis Hrg perolehan Tarif Beban Depresiasi Nilai buku 215.794.198.617,2 187.768.978.017,6 159.743.757.418,0 156.007.061.706,4

Dan berikut ini adalah informasi terkait peralatan dan mesin yang harus diungkapkan di dalam catatan atas laporan keuangan : 1. Pengukuran nilai bruto peralatan dan mesin DPPKAD yaitu harga perolehan peralatan dan mesin. 2. Metode penyusutan yang digunakan yaitu metode garis lurus. 3. Umur manfaat dan tarif penyusutan yang digunakan yaitu selama 8 th dan sebesar 12,5%. 4. Rekonsiliasi jumlah tercatat gedung dan bangunan pada awal dan akhir periode yang menunjukkan penambahan dan pelepasan karena selama kurum waktuk Januari 2011-Desember 2011 tidak ada penambahan dan pelepasan peralatan dan mesin DPPKAD. Dibawah ini memperlihatkan ayat jurnal penyesuaian (AJE) yang digunakan untuk memperbaiki perlakuan akuntansi peralatan dan mesin DPPKAD. Berikut ini adalah ayat jurnal penyesuaian untuk perlakuan akuntansi peralatan dan mesin. Tabel 4.5 AJE untuk perlakuan akuntasi peralatan dan mesin DPPKAD Untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2011
DPPKAD
Tidak melakukan penjurnalan (DPPKAD) tidak mengestimasi masa manfaat dan juga tidak pernah melakukan penyusutan pada gedung dan bangunan

PSAP No. 7
Beban depresiasi 3.736.695.711,6 Akm.Depresiasi 3.736.695.711,6 Setiap th PSAP No. 7 mewajibkan adanya penyusutan untuk peralatan dan mesin yang dimiliki.

AJE
Beban depresiasi 3.736.695.711,6 Akm.Depresiasi 3.736.695.711,6 Untuk membukukan depresiasi peralatan dan mesin pada bulan Januari 2011-Desember 2011.

Ekuitas DPPKAD 64.458.007.379 Akm.Depresiasi 64.458.007.379 Karena selama ini periode sebelumnya DPPKAD tidak pernah melakukan depresiasi terhadap gedung dan bangunan maka ekuitas DPPKAD di debet sebesar akm depresiasi peralatan dan mesin mulai januari 2008-Desember 2010. Umur manfaat dan tarif penyusutan gedung dan bangunan di dapatkan dari peraturan pajak yaitu UU No. 36

17

th 2008 pasal 11:6.

Contoh neraca menurut penulis berdasarkan PSAP No. 7 Tabel 4.6 NERACA DPPKAD berdasarkan PSAP No. 7. PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN NERACA PER 31 DESEMBER 2011 (dalam jutaan rupiah)
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Uraian ASET ASET LANCAR Kas dan setara kas Kas di Bendahara umum daerah Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Penerimaan Investasi Jangka Pendek Piutang Piutang Pajak Piutang Retribusi Piutang PAD lainnya Piutang Transfer Bagian Lancar TGR Piutang Lain-lain Belanja Dibayar Di Muka Persediaan Lanjutan Tabel 4.6 JUMLAH ASET LANCAR INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi Non Permanen Investasi Permanen JUMLAH INVESTASI JANGKA PANJANG ASET TETAP Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan, Irigasi dan Jaringan Aset Tetap Lainnya Konstruksi Dalam Pengerjaan Akumulasi Penyusutan Jumlah Aset Tetap DANA CADANGAN Dana Cadangan JUMLAH DANA CADANGAN ASET LAINNYA Tagihan Piutang Penjualan Angsuran Tagihan Tuntutan Ganti Kerugian Daerah Kemitraan dengan Pihak Ketiga Aset Tidak Berwujud Aset Lain-lain JUMLAH ASET LAINNYA JUMLAH ASET 2011

430.893.508.304,00 429.803.498.729,00 1.090.009.575,00 0 0 23.252.776.127,68 493.793.367,00 9.450.287,00 177.768.101,00 21.281.429.016,83 23.325.000,00 0 1.267.010.355,85 20.728.914.668,38

17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40

474.875.199.100,06 0 0 0 921.688.543.629,41 224.201.764.797,00 445.718.047.622,50 512.516.699.798,16 13.799.009.780,00 15.112.380.588,34 (3.736.695.711,60) 2.129.299.750.503,81 0 0 0 0 0 9.461.924.600,00 7.737.746.000,00 17.199.670.600,00 2.621.374.620.203,87

18

41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 47 48 49 50 51 47 48 49 50 51 47 48 49 50

KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Utang Perhitungan Pihak Ketiga Utang Transfer Utang Bunga Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Pendapatan Diterima Di Muka Utang Jangka Pendek Lainnya JUMLAH KEWAJIBAN JANGKA PENDEK KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Utang Dalam Negeri Utang Luar Negeri JUMLAH KEWAJIBAN JANGKA PANJANG JUMLAH KEWAJIBAN EKUITAS EKUITAS DANA LANCAR Akumulasi SILPA Cadangan Piutang Cadangan Persediaan Dana yang harus disediakan untuk pembayaran utang jangka pendek Pendapatan Yang ditangguhkan JUMLAH EKUITAS DANA LANCAR EKUITAS DANA INVESTASI Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Diinvestasikan dalam Aset Tetap Lanjutan Tabel 4.6 Diinvestasikan dalam Aset lainnya (tidak termasuk dana cadangan) Dana yang harus disediakan untuk pembayaran utang jangka panjang JUMLAH EKUITAS DANA INVESTASI EKUITAS DANA CADANGAN Diinvestasikan dalam dana cadangan JUMLAH EKUITAS DANA CADANGAN JUMLAH EKUITAS JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS

123.969.101,00 1.208.532.800,00 0 0 0 21.023.573.522,00 22.366.075.423,00 0 0 0 22.356.075.423,00

430.765.124.802,00 23.252.776.127,68 20.728.914.668,38 (22.227.766.322,00) 74.401,00 452.519.123.677,06

2.129.299.750.503,81

51 52 53 54 55 56 57 58

17.199.670.600,00

2.150.236.116.815,41 0 0 2.602.755.240.492,47 2.621.374.620.203,87

Perubahan format neracaPerubahan pertama tentu saja adalah disajikannya neraca sebagai bagian dari laporan keuangan DPPKAD. Melalui neraca, pengguna laporan keuangan DPPKAD dapat mengetahui proporsi kewajiban dengan aset atau ekuitas entitas. Sehingga pada akhirnya, dapat memberikan informasi megenai posisi keuangan DPPKAD. Informasi keuangan ini membantu DPPKAD dalam mengambil keputusan untuk melakukan permohonan utang karena DPPKAD dapat selalu memantau perbandingan aset dan kewajibannya. Apabila kewajiban lebih besar daripada aset maka DPPKAD dapat memutuskan untuk tidak melakukan permohonan utang sebab tidak ada lagi aset yang dapat dijaminkan andai kata DPPKAD gagalmelunasi utang. Begitu pula

19

sebaliknya jika aset lebih besar daripada kewajiban maka DPPKAD dapat melakukan permohonan utang. Nilai buku gedung dan banguna mengalami penurunan 33% (Rp 68194703090,6). Penurunan ini disebabkan karena neraca berdasarkan PSAP No.7 telah memperhitungkan depresiasi pada peralatan dan mesin. Perbedaan informasi nilai yang disajikan cukup material yakni adanya penurunan terhadap aset tidak lancar tersebut. Setelah dilakukan penyusutan sebesar 12,5%. Penurunan nilai tersebut mencapai 3,19% dari total aset tetap DPPKAD sebelum diterapkannya PSAP No. 7. Penurunan tersebut mempengaruhi laporan keuangan DPPKAD. Berdasarkan pada rekomendasi format neraca menurut PSAP No. 7 yang disusun, nilai peralatan dan mesin DPPKAD telah disusutkan sehingga aset tidak lancar tersebut mencerminkan kondisi yang sesungguhnya, yaitu telah mengalami penurunan umur masa manfaat setelah dipakai beberapa lama oleh DPPKAD.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Dalam bab ini yang merupakan bab terakhir berisikan kesimpulan dari bab-bab sebelumnya, serta saran untuk memberikan saran-saran yang kiranya dapat bermanfaat bagi Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah Kota Tangerang Selatan baik saat ini maupun masa yang akan datang. Yang pada khususnya mengenai perlakuan akuntansi aset tetap yang telah diterapkan oleh Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah Kota Tangerang Selatan. A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dan hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab empat, tentang evaluasi perlakuan akuntansi aset tetap. maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Definisi aset tetap, klasifikasi aset tetap, pengakuan, pencatatan, penilaian, pengukuran aset tetap pada DPPKAD telah sesuai dengan yang tertuang pada PSAP No. 7. 2. Masalah yang penting dalam pengakuan awal aktiva tetap adalah masalah pengukuran atau penilaian aktiva tetap pada saat pencatatan aktiva tetap yang bersangkutan. DPPKAD menerapkan harga perolehan (historical cost) sebagai dasar dalam mengukur aktiva tetapnya. Perlakuan ini telah sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Pengakuan awal aktiva tetap yang diperoleh DPPKAD dengan cara pembelian, membangun sendiri atau pihak ketiga dan hibah/sumbangan (donasi) secara umum telah sesuai dengan standar akuntansi keuangan.Pengeluaran setelah perolehan aktiva tetap, Pengeluaran-pengeluaran rutin selama pengunaan aktiva tetap pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan Dan Aset Daerah seperti rehabilitasi, renovasi, restorasi dan reparasi menurut standar akuntansi keuangan harus diperlakukan sebagai pengeluaran modal.

20

3. Aktiva tetap tidak mengalami penyusutan.Pengungkapan aktiva tetap dalam laporan keuangan mengungkapkan bahwa dasar penilaian aktiva tetapnya yaitu sebesar biaya perolehannya. Hal ini belum sesuai dengan yang tertuang dalam PSAP No. 7 dikarenakan Pemerintah Kota Tangerang Selatan mempunyai kebijakan tersendiri dalam perlakuan akuntansi aset tetap. B. Saran Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab empat, tentang evaluasi perlakuan akuntansi aset tetap. maka penulis memberi saran sebagai berikut: 1. Sebaiknya aktiva tetap dilakukan penyusutan setiap periode akuntansi agar terlihat nilai aktiva tetap yang sebenarnya. Dan nilai penyusutan aktiva tetap tersebut disajikan dalam laporan keuangan. 2. Walaupun DPPKAD telah melaksanakan sistem informasi akuntansi aset tetap yang telah memenuhi PSAP No. 7, sebaiknya DPPKAD tetap mempertahankan dan meningkatkan kualitas sistem informasi akuntansi aktiva tetap untuk kemudahan mengelola aktiva tetap.

21

DAFTAR PUSTAKA

Abdul

Hafiz Tanjung, Akuntansi ALFABETA,Bandung,2011.

Pemerintahan

Daerah,

Penerbit

Bastian, Indra, Akuntansi Sektor Publik;Suatu Pengantar, Erlangga Jakarta,2004. Halim, Abdul, Akuntansi Keuangan Daerah, Edisi Revisi, Salemba Empat Jakarta, 2004. Ikatan Akuntan Indonesia,Standar Akuntansi Keuangan, Edisi Revisi, Penerbit Salemba Empat, Jakarta,2003. Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.16, Jakarta, 2007. Muhammad Gade, Akuntansi Pemerintahan, Penerbit Fakultas Ekonomi Universita Indonesia, Jakarta, 2003. Mulyadi,Sistem Akuntansi,Edisi Empat,Jakarta,2003. ke-3,Cetakan ketiga,Penerbit Salemba

Soemarso SR, Akuntansi Suatu Pengantar,Penerbit Salemba Empat,Jakarta,2005. Suharsimi Arikunto,Prosedur CIPTA,Jakarta,2010. Penelitian,Edisi Revisi,PT RINEKA

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Peraturan Standar Akuntansi Keuangan No. 16 Tahun 2007tentang Aset Tetap. Peraturan Standar Akuntansi Pelaporan No. 7 Tahun 2005 tentang Aset Tetap. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Penyusutan.

22