Anda di halaman 1dari 12

a.

Klasifikasi klinis ROP Pada tahun 1983, telah mula diperkenalkan klasifikasi oleh suatu badan internasional yang terdiri daripada ahli neonatologist dan optalmologis yang dikenali sebagai The International Classification of Retinopathy of Prematurity. Pada tahun, 1946 dahulu merupakan temuan paling awal untuk penyakit ini yang dikenali sebagai kelainan retina pada premature yang disebabkan oleh toksiksitas oksigen dengan menggunakan istilah fibrolental retroplasia. Istilah sudah tidak digunakan lagi sejak diperkenalkan klasifikasi pada tahun 1983, karena kelainan yang dideskripsikan sudah berada pada derajat 5 atau ROP yang paling berat. Oleh itu, istilah itu sudah dilupakan karena pengertian untuk fibrolenta retroplasia merupakan tahap akhir atau berat pada ROP yang sudah terlambat terdiagnosa. Selangkah dengan temuan-temuan baru, mulai diperkenalkan suatu klasifikasi yang mampu mendeteksi dini perjalanan awal bagi penyakit ini, yang harus diintervensi dengan segera dan dimonitor secara berkala bagi mengelakan perburukan yang diakibatkan perkembangan perjalanan penyakit ROP. Standar yang digunakan pada klasifikasi tersebut membagikan derajat berat ringan penyakit ini berdasarkan derajat 1 hingga 5 dengan 5 merupakan derajat paling berat, lokasi dan juga penyebaran ROP. Namun demikian, sejajar dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang digunakan untuk penelitian baru, telah banyak pembaharuan serta tambahan yang dimasukan bagi memperlengkapi klasifikasi yang telah sekian wujud sejak 40 tahun yang lalu. Temuan yang baru ini, membantu untuk mengenal pasti tanda bahaya dengan lebih ini, agar dalam penegakan diagnose ROP tidak terlambat dan terapi yang dibutuhkan juga masih belum terlambat untuk mengurangkan dampak buruk dan progresivitas penyakit ini. Sehingga saat ini, konsep yang masih dipegang dalam diagnose ROP masih terdiri dari 3 komponen penting dalam menyelidiki progresivitas penyakit ini yaitu derajat , lokasi dan perluasan. Tambahan dalam klasifikasi ini adalah preplus disease, plus disease dan aggressive posterior ROP yang merupakan 3 tanda bahaya yang harus dikenalpasti lebih dini bagi mengelakan perburukan pada penyakit ini. Pada bayi premature tanpa adanya ROP, pada pemeriksaannya dapat dilihat bagian sentral vaskuler yang berhubungan secara langsung dengan bagian perifer retina yang avaskuler yang berbeda dengan bayi dengan ROP dimana dapat terlihat batas antara bagian sentral vaskuler dan bagian perifer yang avaskuluer.

Derajat Batas yang dapat dilihat antara bagian sentral yang vaskuler dengan bagian perifer yang vaskuler dinilai sebagai tanda awal bagi ROP yang pada premature yang tidak ada ROP tidak akan terlihat batas pada bagian tersebut dan seharusnya ada pertemuan halus antara kedua bagian perifer dan sentral retina. Derajat 1 merupakan derajat yang paling ringan hingga derajat 5 merupakan paling berat ROP apabila sudah terjadi ablation retina total. Kelainan lain juga harus diwaspadai jika tidak ditemukan ciri-ciri pada derajat 1 hingga 5 ROP. Antara lain adalah, plus disease, preplus disease dan aggressive posterior ROP yang menunjukan ciri-ciri yang berbeda dengan ROP yang klasik dan bersifat lebih aggresif dan berdampak lebih buruk.

Derajat 1 Ditemukan suatu garis halus yang menunjukan batas antara bagian vaskuler dan avaskuler retina. Derajat 2 Ditemukan garis yang lebih besar, yang disertai oleh proliferasi pembuluh darah baru pada sisi posterior garis tersebut. Namun demikian, proliferasi pembuluh darah tidak menjalar lebih dari bagian retina Derajat 3 Dapat terlihat neovaskularisasi yang melebihi batas garis besar yang ditemukan pada derajat 2, dan disertai juga oleh vaskularisasi ekstraretina, yang menjalar lebih jauh dari bagian retina. Derajat 4a Sudah mulai terjadi ablatio retina parsial ekstrafovea. Derajat 4b Ablatio retina menjalar ke bagian fovea.

Derajat 5 Ablation retina total terjadi sehingga seluruh bagian retina sudah tertarik sehingga pada pasien ini telah terjadi kebutaan komplit.

Perluasan Perluasan bagi bagian yang terkena ditentukan oleh total bagian yang terjadi kelainan pertumbuhan pembulah darah berdasarkan arah jam.

Lokasi Lokasi dibagi menjadi 3 zona. Zona tersebut dibagi dari bagian posterior retina yang terdiri daripada macula lutea dan nervus optikus hinggalah bagiaan paling anterior retina yaitu ora serrata. Zona 1: Zona 1 merupakan, bagian yang paling posterior yang terdiri daripada bulatan dengan radius 2 kali ganda jarak antara bagian tengah nervus optikus dengan bagian tengah macula yaitu fovea. Zona 2: Zona 2 berlanjutan dari zona 1 sehingga ke batas anterior atau ora serrata yang di bagian nasal dan titik radius masih pada bagian tengah nervus optikus. Ora serrata pada bagian nasal lebih dekat jarak dengan nervus optikus dibandingkan dengan bagian temporal. Zona 3: Zona 3 merupakan bagian anterior dari zona 2 yaitu pada bagian temporal.

Prognosis lebih buruk sekiranya, kelainan terjadi bagian posterior dibandingkan dengan kelainan yang terjadi pada bagian perifer retina. Pada bayi yang sangat premature, pertumbuhan pembuluh darah yang sudah terjadi hanya berlaku pada zona 1 sahaja.

Preplus disease Istilah ini baru diperkenalkan dalam diagnose ROP karena, peningkatan dilatasi dan kelokan pada pembuluh darah yang terjadu pada bagian posterior retina merupakan suatu indicator yang sangat signifikan bagi suatu progesivitas ROP yang sedang berlaku. Maka dengan itu, para ahli mata juga akan memperhatikan hal ini, dalam pemeriksaan dan akan menyatakan berlaku suatu kelaian preplus disease yang menunjukan suatu progresivitas penyakit ini yang pada akhirnya sekiranya terus berlanjutan dan meluas ke bagian lain akan berdampak buruk pada penglihatan bayi itu. Lanjutan dan perluasan area dimana terjadinya dilatasi pembuluh darah yang disertali kelokan dikenali sebagai plus disease.

Plus disease Istilah Plus disease yang digunakan merupakan suatu kelanjutan daripada preplus disease. Suatu kelainan pada retina itu dinyatakan sebagai plus disease jika sudah terpenuhi kriteria bagi plus disease berdasarkan perluasan daripada kelaianan pembuluh darah retina yang sudah mencapai sekurang-kurangnya 2 kuadran pada retina yang mempunyai ciri-ciri sama seperti preplus disease dengan peningkatan dilatasi pembuluh darah besertakan kelokan pembuluh darah.

Aggressive posterior of ROP. Istilah yang digunakan sebelum ini adalah rush disease, yang menunjukan suatu kelainan ROP yang berkembang dengan sangat cepat dan merupakan suatu kelainan yang berat pada ROP. Kelainan ini terjadi di zona 1 dan 2 retina yaitu pada bagian posterior retina. Walaubagaimanpun, tanda daripada kelainan ini tidak jelas dan kelainan yang bisa dapat dilihat adalah kemunculan suatu jaringan rata neovaskularisasi yang terbatas di retina sahaja. Kelainan ini bukan merupakan lanjutan dari derajat ringan sebelumnya dan bukan gejala klasik bagi ROP yang dapat kita lilat pada kelima derajat ROP. Sekiranya terjadinya kelainan ini pada bayi premature, maka prognosis bagi kelainan tersebut makin sulit ditentukan sehingga intervensi segera haruslah dilakukan bagi mencegah perburukan dari penyakit ini.

b. Pemeriksan screening untuk ROP ( Retinopathy of Prematurity)

Bayi premature merupakan golongan yang berisiko tinggi untuk terjadinya suatu kelainan pada pembentukan dan pertumbuhan pembuluh darah retina. Salah satu factor yang dapat menyebabkan terjadinya kelainan pada pembentukan pembuluh darah adalah penggunaan kadar saturasi oksigen yang tinggi dan lama yang berperan penting dalam patogenesa penyakit ini. Berdasarkan dengan beberapa temuan dan penelitian baru tentang perjalanan penyakit ini, telah ditemukan beberapa pembaharuan tentang konsep penyakit sehingga telah diperbaharui dan dikemaskini ilmu tentang diagnosa penyakit ini. Sehubungan dengan itu, di beberapa buah negara telah diperkenalkan pedoman bagi memudahkan diagnose dan bagi mendeteksi dini penyakit ini sebelum berkembang ke suatu tahap yang lebih berat di mana dapat terjadinya kebutaan. Pedoman ini ditujukan bagi mengidentifikasi bayi yang beresiko tinggi untuk terjadinya penyakit ini, dan juga berisiko untuk berkembang menjadi lebih berat jika terlambat diintervensi. Sebagai contoh, di Amerika Serikat menganjurkan untuk dilakukan pemeriksaan screening pada bayi yang lahir pada usia gestasi kurang dari 30 minggu dengan berat badan lahir kurang dari 1500g dan juga pada bayi yang lahir dengan umur kehamilan lebih dari 30 minggu yang disertai oleh keadaan klinis yang kurang stabil sehingga diberikan bantuan kardiorespiratori yang intens dan lama pada bayi tersebut. Di beberapa buah negara lain mempunyai pedoman mereka sendiri seperti di United Kingdom bayi lahir kurang dari 31 minggu, dengan berat badan lahir kurang dari 1500 g, sedangkan di Kanada ditetapkan bahwa pada setiap bayi yang lahir dengan masa gestasi kurang dari 30 minggu dengan berat badan lahir kurang dari 1250 g dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan screening ini. Pemeriksaan screening ini penting bagi mengetahui kelompok yang berisiko tinggi untuk terjadinya ROP yang harus dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan mata untuk melihat apakah terlihat tanda-tanda terjadinya suatu kelainan pada pembuluh darah retina khususnya diharapkan hasil dari pemeriksaan tersebut masih merupakan tahap awal dari penyakit ini, sehingga penting sekali untuk dilakukan suatu penatalaksanaan bagi mencegah progresivitas penyakit ini. Semakin muda usia kehamilan semakin besar resiko untuk terjadinya ROP. Penyakit ini berdampak baik pada penglihatan pada bayi premature sekiranya deteksi dini terhadap penyakit dapat dilakukan sebelum terjadinya progressivitas penyakit ini. Peran sebagai seorang dokter anak atau dokter umum, adalah lebih kepada mengenal pasti golongan bayi yang berisiko tinggi untuk terjadinya ROP dan untuk

merujuk bayi ini kepada para spesialis mata pada masa yang sesuai sehingga, sekiranya terjadi kelainan pada pertumbuhan pembuluh darah retina dapat dideteksi lebih awal. Selain itu, sebagai seorang dokter yang bukan ahli pada bidang mata, sekurang-kurangnya dapat menjelaskan kepada keluarga pasien berhubungan dengan perjalanan daripada penyakit ini, dan pemeriksaan apa saja dan tindakan apa saja yang harus dilakukan pada bayi tersebut, supaya keluarga pasien lebih memahami tentang penyakit ini. Pemeriksaan screening ini nanti akan disusuli oleh beberapa pemeriksaan serial yang berkala dan follow up pada bayi tersebut sehingga bayi tidak lagi termasuk dalam golongan bayi yang berisiko tinggi ke arah yang lebih berat pada penyakit ini. Frekuensi untuk pemeriksan serial itu tergantung daripada beratnya ROP yang terjadi pada bayi tersebut, denga mengambil kira progresivitas pada penyakit ini. Pada ROP yang sudah pada tahap yang lebih berat haruslah dilakukan pemeriksaan dengan lebih sering dibandingkan dengan ROP yang masih pada tahap ringan. Setelah ditentukan golongan yang berisiko tinggi untuk terjadinya ROP, langkah selanjutnya adalah untuk menentukan waktu yang sesuai untuk memulai pemeriksaan screening yang pertama. Pemeriksaan screening yang pertama menentukan perjalanan daripada penyakit ini, yang dapat berkembang dari tahap yang ringan menjadi suatu yang lebih berat. Sekiranya, pemeriksaan screening yang pertama kita anjurkan terlambat dilakukan, maka pada bayi itu beresiko lebih lagi untuk terjadinya suatu ROP yang sudah berkembang menjadi lebih berat. Keterlambatan untuk melakuan pemeriksaan screening ini akan, berdampak buruk terhadap bayi apalagi, jika sudah terjadinya ROP yang berat yaitu sudah mulai terjadinya ablation retina yang sudah terlambat untuk ditangani dan juga lebih sering menyebabkan kebutaan. Maka dengan itu, diharapka pemeriksaan pertama untuk screening ROP dilakukan dengan usaha, supaya tidak terjadinya suatu keterlambatan diagnose pada penyakit ini, lebihlebih lagi pada tahap dimana sudah mulai terjadi ablatio retina. Oleh yang demikian, berdasarkan beberapa penelitian dan studi yang telah dilakukan, waktu yang sesuai untuk dilakukan pemeriksaan pertama bagi screening ROP adalah waktu yang diharapkan dapatkan mendeteksi dini perjalanan awal dari penyakit ini. Ketepatan waktu untuk pemeriksaan pertama screening diharapkan dapat membantu mencegah progresivitas penyakit ini yang dapat berkembang kepada suatu tahap yang lebih berat jika berlaku keterlambatan intervensi daripada penyakit ini. Usia gestasi pada bayi tersebut menentukan kapan harus dilakukan untuk memulai pemeriksaan screening yang pertama, yang diharapkan dapat menunjukan suatu hasil yang masih menunjukan

tahap awal atau ringan dari penyakit ini, sehingga dapat dilakukan intervensi yang bersesuaian dengan beratnya ROP yang terjadi pada bayi tersebut. Pada bayi yang lahir minggu usia-usia awal kehamilan kehamilan berisiko lebih tinggi, untuk menjadi ROP yang lebih berat dan bersifat lebih aggresif pada perjalanan penyakit tersebut. Berdarkan penelitian terbaru, pada usia postmenstruasi 31 minggu, merupakan usia yang paling sesuai untuk dilakukan pemeriksaan screening pertama karena pada usia tersebut tanda-tanda awal bagi kelainan pembuluh darah retina yang mengarah ke penyakit ini sudah kelihatan dengan lebih jelas. Pada bayi yang sangat premature atau pada pemeriksaan yang dilakukan pada usia kurang dari 31 minggu selalu memberikan hasil pemeriksaan yang kurang memuaskan disebabkan vitreus yang belum sepenuhnya jernih sehingga pada pemeriksaan, kurang jelas dilihatkan tanda-tanda awal bagi penyakit ini. Tabel 1 di bawah diambil dari pedoman American Association of Pediatric yang menganjurkan untuk dilakukan pemeriksaan pertama sesuai dengan usia postmenstrual yang sering dilakukan pada usia postmenstruasi 31 minggu.

Jadwal Pemeriksaan Screening Sesuai Usia Gestasi Usia gestasi ( minggu ) 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Usia postnatal ( minggu ) 8 7 6 5 4 4 4 4 4 4

Tabel 1 menunjukan hubungan antara usia gestasi dan usia postnatal untuk dilakukan pemeriksaan screening yang pertama dikutip dari American Association of Pediatric 2010.

Selanjutnya, kita harus mempunyai rencana untuk melanjutkan pemeriksaan screening yang harus dilakukan bagi menilai perjalanan penyakit ini, dan memb uat keputusan medis bagi menentukan intervensi yang harus dilakukan bagi mengelakan penyakit ini berkembang lebih berat. Waktu untuk pemeriksaan follow up selanjutnya, tergantung kepada hasil daripada pemeriksaan screening yang pertama. Sekiranya, hasil dari pemeriksaan screening pertama, menunjukan suatu tanda-tanda dini yang berpotensi menjadi lebih berat, maka untuk pemeriksaan follow up selanjutnya haruslah dilakukan lebih sering dan lebih segera, dibandingkan dengan hasil yang lebih baik yang ditemukan pada pemeriksaan screening yang pertama. Selalunya, pada pemeriksaan screening yang pertama, yang harus kita lebih waspada sekiranya terjadi kelainan pembuluh darah terjadi pada bagian posterior retina yang dapat berdampak lebih buruk sekiranya berlanjutan karena pada bagian posterior retina terdiri daripada macula dimana ditemukan sel kerucut dan sel batang yang paling padat pada bagian tersebut. Oleh itu, ditetapkan suatu pedoman yang dapat membantu untuk menentukan pemeriksaan follow yang harus dilakukan selanjutnya.

Jadwal untuk pemeriksaan follow up Frekuensi Setiap 1 minggu atau kurang Hasil pemeriksaan screening pertama Zona 1, derajat 1 atau 2 ROP Zona 2, derajat 3 ROP

Setiap 1-2 minggu

Zona 1, tidak ada ROP Zona 1, perbaikan ROP Zona 2, derajat 2 ROP

Setiap 2 minggu

Zona 2, derajat 1 ROP Zona 2, perbaikan ROP

Setiap 2-3 minggu

Zona 2, tidak ada ROP Zona 3, derajat 1 atau 2 ROP Zona 3, perbaikan ROP

Table 2 menunujukan hubungan antara waktu untuk follow up dan juga hasil daripada pemeriksaan screening yang pertama harus dilakukan secara berkala dikutip dari American Association of Pediatric 2010.

Hal yang selanjutnya, yang harus kita perhatikan adalah untuk mengetahui kapan kita bisa menghentikan pemeriksaan follow up, dan untuk menyatakan bahwa bayi tersebut sudah tidak beresiko lagi untuk berkembangnya suatu ROP lebih berat. Oleh itu, telah ditetapkan suatu ketentuan yang diharapkan dapat membantu para spesialis mata untuk menentukan bahwa prognosis pada anak itu sudah bertambah lebih baik. Dibawah ini merupakan criteria berdasarkan anjuran dari UK Retinopathy of Prematurity Guidelines 2008 yang harus ditemukan pada pemeriksaan screening selama 2 kali berturut-turut sebelum pemeriksaan selanjutnya dapat dihentikan. Berkurangnya perburukan pada penyakit yang dinilai dari pembuluh darah retina Sudah terjadi perbaikan yang mengarah perkembangan perbaikan yang komplit Perubahan warna pada garis batas antara bagian sentral retina vaskuler dan perifer avaskuler dari merah muda menjadi lebih putih Neovaskularisasi semakin berkurang Tidak ditemukan sekualae setelah terapi laser Setelah pemeriksaan follow up diberhentikan pada pedoman yang dianjurkan oleh UK ROP Guidelines 2008 turut menganjurkan untuk melakukan pemeriksaan ulang pada umur 5 tahun untuk menilai sekiranya terjadi sequalae khususnya yang pernah diterapi sinar laser yang berisiko untuk terjadi sequalae yang disebabkan oleh penyembuhan yang tidak sempurna akibat terapi sinar sehingga pada akhirnya dapat menjejaskan penglihatan anak itu.

c. Teknik pemeriksaan screening

Hingga saat ini, pemeriksaan gold standard bagi ROP dikendalikan oleh spesialis mata menggunakan Binocular Indirect Opthalmoscopy (BIO). BIO digunakan untuk menilai retina pada bayi melalui kontak secara langsung dengan kornea. Antara penilaian yang dilakukan meliputi zona, derajat, dan perluasan ROP dan pada masa yang sama dinilai juga jika terdapatnya preplus disease atau plus disease yang ditemukan yang merupakan suatu indicator perjalanan awal penyakit yang beresiko tinggi untuk menjadi ROP yang berat sehingga dapat menyebabkan kebutaan. Di beberapa buah negara, telah dibuatkan suatu formulir untuk memudahkan penilaian bagi spesialis mata dan untuk memudahkan penjadwalan follow up yang selanjutnya. Namun demikian, pemeriksaan menggunakan BIO oleh spesialis mata sangat bersifat subyektif dan bergantung sepenuhnya kepada kompentensi dan pengalaman seorang spesialis mata tersebut. Oleh yang demikian, bagi mengurankan subyektivitas pada penilaian ROP telah diperkenalkan beberapa teknik baru yang menerapkan konsep telemedicine bagi penilaian retina dengan bantuan kamera untuk retinal imaging. Namun demikian, ketersediaan teknologi tersebut sangat terbatas di rumah-rumah sakit terutamanya di negara yang membangun , fasilitas dan teknologi kamera yang dapat digunakan sebagai penilaian retina masih sangat jarang. Selain itu, teknologi itu juga sangat mahal dan masih dibangunkan bagi meningkatkan lagi kualitas imaging dan juga mengurankan subyektivitas pada pemeriksaan. Di samping itu, salah satu kekurangan juga bagi retinal imaging adalah membutuhkan seorang yang benar-benar terlatih untuk mengoperasikan kamera tersebut bagi memudahkan penilaian. Berdasarkan, penelitian juga pemeriksaan screening menggunakan BIO dan kamera untuk retinal imaging mempunyai nilai sensitivitas dan spesifik yang sama, sehingga hingga saat ini pemeriksaan BIO masih praktis dilakukan untuk diagnose dan screening ROP. Di samping itu, dari segi validitas dan reliabilitas pemeriksaan screening dengan retinal imaging dibandingkan dengan BIO tetap member makna yang sama. Selain itu, ketersediaan BIO juga lebih banyak dibandingkan dengan kamera retinal imaging yang masih terbatas karena harganya yang mahal dan membutuhkan ahli yang terlatih untuk mengoperasikan kamera tersebut. Kamera yang sudah mulai digunakan untuk pemeriksaan screening ROP di negara-negara maju adalah terdiri dari 2 tipe yaitu Wide-angle contact corneal camera (RETCAM) dengan lapang pandang 130o dan Narrow-angle non contact corneal camera (NIDEK) dengan lapang pandang 30o . RETCAM lebih unggul daripada NIDEK dalam

hal pemeriksaan dengan lapang pandang yang lebih luas sehingga mampu menilai kelainan yang terjadi pada bagian perifer retina. Namun demikian, RETCAM lebih mahal dan lebih sulit dioperasikan jika dibandingkan dengan NIDEK karena pada RETCAM memerlukan kontak langsung dengan kornea sehingga menyebabkan prosedur untuk pemeriksaan menggunakan RETCAM menjadi lebih sulit jika dibandingkan dengan NIDEK. Pada kedua-dua kamera ini telah dilengkapi dengan suatu software yang mampu menilai kelainan pembuluh darah secara kuantitas, dengan tujuan meningkatkan obyektivitas penilaian retina untuk screening dan diagnosa ROP. Sebelum pemeriksaan screening dilakukan dengan BIO, terdapat persiapan untuk mata untuk memudahkan lagi penilaian. Untuk itu, digunakan midriatik drop yang digunakan untuk dilatasi pupil, yang membantu dilatasi pupil yang lebih besar untuk penilaian pada bagian perifer retina. Midriatik drop yang digunakan terdiri daripada 2 golongan obat yaitu obat yang berkerja sebagai parasimpatik blocker yang bekerja pada otot pupilatory sphincter seperti tropicamide dan cyclopentolate dan juga obat sympatomimetik otot pupilatory dilator seperti phenylephrine. Terdapat juga regimen obat dengan kombinasi 2 golongan obat tersebut sebagi contoh kombinasi phenylephrine 1% dan cyclopentolate 0.2%. Midriatik drop ini diberikan 1 jam sebelum pemeriksaan dilakukan. Namun demikian, walaupun obat ini digunakan untuk penggunaan topical tetap ada efek samping sistemik yang harus kita waspada untuk penggunaan obat ini. Ini adalah karena absorpsi obat ini dapat melalui kulit, kornea, konjugtiva, mukosa nasal dan kanalis nasolakrimal, sehingga absorpsi yang berlebihan pada obat ini dapat menyebabkan efek samping sistemik. Di samping itu, dianjurkan untuk dilakukan pengenceran dan menurunkan konsentrasi obat bagi mengurangkan dosis obat yang diabsorpsi namun, tetap diharapkan dilatasi pupil tetap berjalan dengan sempurna. Selain itu, karena ada risiko untuk terjadinya efek samping sistemik maka dengan itu dianjurkan, untuk monitor tanda-tanda vital pada bayi yang harus diketahui dengan segera sekiranya terjadi efek samping sistemik pada bayi itu. Namun demikian, hampir tidak ada terjadi efek samping sistemik yang disertai perburukan keadaan umum bayi setelah penggunaan obat midriatik drop. Selain itu, harus dipastikan bahwa alatan yang digunakan pada pemeriksaan BIO dalam keadaan steril bagi mencegah potensi infeksi local pada mata bayi tersebut terutama pada bagian langsung dengan mata bayi.

Penggunaan obat topical anestesi juga diperlukan, untuk mengurangkan gelisah pada bayi sekiranya selama pemeriksaan digunakan spekulo palpebra yang dapat menyebabkan rasa ketidaknyamanan selama dilakukan pemeriksaan. Seharusnya, selama pemeriksaan dilakukan bayi tersebut dalam keadaan tenang supaya tidak menggangu penilaian retina. The British National Formulary for Children 2007 telah menganjurkan untuk obat topical anestesi yang aman untuk bayi premature adalah oxybuprocaine hydrochloride ( Benoxinate atau Novesin ) yang lebih aman dan lebihh cepat dimetabolisme dan untuk obat topical anestesi yang dikontraindikasikan pada bayi premature adalah proxymetacaine karena pada bayi premature fungsi metabolism masih belum sempurna sehingga obat ini tidak dianjurkan untuk digunakan pada bayi premature untuk prosedur pemeriksaan BIO dan beresiko lebih tinggi untuk terjadi reaksi toksiksitas dan efek samping obat itu. Obat topical anestesi ini lebih sering digunakan jika penggunaan spekulo palpebra digunakan dalam pemeriksaan BIO.