Anda di halaman 1dari 30

Kelompok -6

Imam Mulyono Raden Yuni Eko Setiawan Hanifan Mesin Mesin Akutansi Elektro Elektro

Pengertian Puasa

Puasa adalah menahan diri dari semua hal yang bisa membatalkannya, sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, dengan niat khusus.

Shaum atau puasa secara bahasa bermakna alimsak atau menahan diri dari sesuatu seperti menahan diri dari makan atau berbicara. Makna shaum seperti ini dipakai dalam ayat ke-26 surat Maryam.
Maka makan dan minumlah kamu, wahai Maryam, dan tenangkanlah hatimu; dan jika kamu bertemu seseorang, maka katakanlah saya sedang berpuasa dan tidak mau berbicara dengan siapapun.

Hukum Puasa
1. Wajib, yaitu dalam 6 macam puasa:
a. Puasa Ramadhan b. Puasa Qadla c. Puasa Kaffarah / penebus seperti kaffarah dzhihar
(menyamakan punggung istrinya dengan punggung ibunya), atau kaffarah sebab berhubungan suami istri pada siang hari bulan Ramadhan].

d. Puasa saat haji dan umrah, sebagai ganti dari menyembelih


hewan ternak dalam pembayaran fidyah.

e. Puasa dalam ritual shalat Istisqa (shalat memohon


turunnya hujan), jika diperintahkan oleh pemerintah.

f. Puasa nadzar.

Hukum Puasa
2. Sunnah, terbagi menjadi 3 (tiga) macam:
A. Terulang tiap tahun, seperti puasa hari Arafah, puasa Tasua
(tanggal 9), Asyura (tanggal 10), dan tanggal 11 bulan Muharram, puasa 6 hari di bulan Syawwal, puasa pada bulan-bulan suci (yaitu bulan Dzul Qadah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab), puasa 10 hari pertama dari bulan Dzul Hijjah, dan sebagainya.

B. Tidak terulang tiap tahun, seperti puasa al ayyam al biidh


(hari-hari putih, yaitu tanggal 13, 14, dan 15 pada tiap bulan hijriyyah), dan puasa al ayyam as suud (hari-hari hitam, yaitu tanggal 28, 29, dan 30 pada tiap bulan hijriyyah).

C. Terulang tiap minggu, seperti puasa hari Senin dan Kamis.

Hukum Puasa
3. Makruh,
Seperti puasa hari Jumat saja, atau Sabtu saja, atau Ahad saja. Tidak makruh, jika digabung dengan yang lain, misalkan Jumat dengan Sabtu, atau Sabtu dengan Minggu, atau 3 hari berturut-turut (Jumat, Sabtu, dan Minggu). Makruh juga puasa tiap hari sepanjang tahun (puasa dahr) bagi orang yang khawatir puasa tersebut dapat membahayakan dirinya.

Hukum Puasa
4. Haram, terbagi menjadi 2 (dua) bagian:
A. Haram namun puasanya sah,yaitu puasanya seorang istri tanpa
seizin suaminya, dan puasanya seorang budak sahaya tanpa seizin tuannya.

B. Haram dan puasanya tidak sah, dalam 5 (lima) kasus:


1. Puasa saat hari Raya Idul Fitri (1 Syawwal) 2. Puasa saat hari Raya Idul Adha (10 Dzul Hijjah) 3. Puasa saat hari-hari tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzul Hijjah. 4. Puasa separuh terakhir di bulan Syakban, yaitu tanggal 16, 17, 18 sampai akhir bulan Syakban. 5. Puasa hari syak (ragu), yaitu puasa hari ke-30 pada bulan Syakban, jika sudah ramai dibicarakan tentang terlihatnya bulan / hilal

Syarat sah Puasa


Artinya, jika sudah terpenuhi syarat-syarat 4 (empat) di bawah ini sah puasanya, yaitu: 1. Islam

2. Berakal
3. Tidak haid atau nifas.

4. Mengetahui bahwa di hari itu dia boleh berpuasa.

Syarat wajib Puasa


Artinya, jika sudah terpenuhi 5 (lima) syarat ini, seseorang wajib berpuasa, yaitu: 1. Islam

2. Mampu
3. Mukkalaf : baligh dan berakal 4. Sehat 5. Muqim : puasa tidak wajib bagi orang yang sedang bepergian
jauh (minimal 82 KM)

Rukun Puasa
Ada 2 (dua), yaitu:

1. Niat, baik puasa sunnah maupun puasa wajib

2. Meninggalkan hal-hal yang dapat membatalkan puasa.

Sunnah-Sunnah Berpuasa
1. Mempercepat (tajil) buka puasa jika sudah yakin masuk waktu berbuka 2. Sahur, walaupun dengan seteguk air. 3. Mengakhirkan sahur di akhir malam. 4. Berbuka dengan kurma muda (ruthab), jika tidak ada maka dengan kurma, 5. Berdoa saat berbuka, 6. Memberi makan untuk orang yang berbuka. 7. Jika berhadats besar, disunnahkan mandi janabah / mandi besar sebelum terbit fajar. 8. Mandi di malam hari setiap bada Maghrib di bulan Ramadhan, supaya lebih giat untuk qiyamul lail (tarawih, tadarrus, dll). 9. Senantiasa melaksanakan shalat Tarawih selama bulan Ramadhan. 10. Senantiasa melaksanakan shalat Witir

Sunnah-Sunnah Berpuasa
11. Memperbanyak bacaan Alquran. 12. Memperbanyak melakukan kesunnahankesunnahan,. 13. Memperbanyak amal-amal shalih 14. Lebih meningkatkan semangat ibadah pada 10 hari terakhir, 15. Lebih memperbanyak dalam menafkahi keluarganya. 16. Meninggalkan banyak bergurau, terutama yang mengandung ejekan

Hal-Hal yang Dapat Membatalkan Puasa


terbagi menjadi 2 (dua) macam:

I.

Membatalkan pahala puasa, ada 6 (enam):

1. Ghibah
2. Namimah, yaitu menyebarkan berita dengan tujuan terjadinya fitnah. 3. Bohong. 4. Melihat sesuatu yang diharamkan, atau melihat sesuatu yang halal namun dengan syahwat. 5. Sumpah palsu. 6. Berkata keji

Hal-Hal yang Dapat Membatalkan Puasa


terbagi menjadi 2 (dua) macam:

II. Membatalkan puasa, baik membatalkan pahalanya maupun puasa itu sendiri (karenanya wajib qadla): 1. Murtad 2. Haid, nifas, atau melahirkan 3. Gila, walaupun sebentar saja. 4. Pingsan dan mabuk (jika memakan waktu sepanjang siang). 5. Berhubungan badan

Keutamaan Puasa
Puasa mempunyai banyak keutamaan:

Diantaranya digambarkan dalam beberapa hadis Rasulullah berikut ini


Puasa adalah perisai dari api neraka sebagaimana perisai yg melindungi dirimu pada peperangan. Barang siapa berpuasa krn Allah maka dgn tiap satu hari puasanya Allah akan menjauhkannya dari api neraka sebanyak tujuh puluh kharif

Tazkiyah an-nafs (pembersihan jiwa),


menyehatkan badan

Hikmah Puasa

tarbiah bagi iradah (kemauan), jihad bagi jiwa, pembiasaan kesabaran, dan "pemberontakan" kepada hal-hal yang telah lekat mentradisi menundukkan nafsu seksual
menajamkan perasaan terhadap nikmat Allah Swt

puasa juga mempunyai hikmah ijtima'iyah (hikmah sosial),


puasa dapat mempersiapkan orang menuju derajat takwa dan naik ke kedudukan orang-orang mutaqin

HUKUM HAJI

Hukum haji adalah fardhu ain, wajib bagi setiap muslim yang mampu, wajibnya sekali seumur hidup. Haji merupakan bagian dari rukun Islam. Mengenai wajibnya haji telah disebutkan dalam Al Quran, As Sunnah dan ijma (kesepakatan para ulama).

Hukum Haji
1. Dalil Al Quran
Allah Taala berfirman,

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Ali Imron: 97).

2. Dalil AS Sunnah
Dari Ibnu Umar, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengaku Muhammad adalah utusanNya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji dan berpuasa di bulan Ramadhan. (HR. Bukhari no. 8 dan
Muslim no. 16).

3. Dalil Ijma

Para ulama pun sepakat bahwa hukum haji itu wajib sekali seumur hidup bagi yang mampu. Bahkan kewajiban haji termasuk perkara al malum minad diini bidh dhoruroh (dengan sendirinya sudah diketahui wajibnya) dan yang mengingkari kewajibannya dinyatakan kafir.

SYARAT WAJIB HAJI


1.Islam 2.Berakal

3.Baligh
4.Merdeka 5.Mampu

Catatan:
1.Seandainya anak kecil berhaji, maka hajinya sah. Namun hajinya tersebut dianggap haji tathowwu (sunnah). Jika sudah baligh, ia masih tetap terkena kewajiban haji. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama

2.Syarat mampu bagi laki-laki dan perempuan adalah: (a) mampu dari sisi bekal dan kendaraan, (b) sehat badan, (c) jalan penuh rasa aman, (d) mampu melakukan perjalanan.

Catatan:
3. Mampu dari sisi bekal mencakup kelebihan dari tiga kebutuhan: (1) nafkah bagi keluarga yang ditinggal dan yang diberi nafkah, (2) kebutuhan keluarga berupa tempat tinggal dan pakaian, (3) penunaian utang. 4. Syarat mampu yang khusus bagi perempuan adalah: (1) ditemani suami atau mahrom, (2) tidak berada dalam masa iddah.

SYARAT SAHNYA HAJI


1. Islam 2. Berakal 3. Miqot zamani, artinya haji dilakukan di waktu tertentu (pada
bulan-bulan haji), tidak di waktu lainnya. Abullah bin Umar, mayoritas sahabat dan ulama sesudahnya berkata bahwa waktu tersebut adalah bulan Syawwal, Dzulqodah, dan sepuluh hari (pertama) dari bulan Dzulhijjah.

4. Miqot makani, artinya haji (penunaian rukun dan wajib haji)


dilakukan di tempat tertentu yang telah ditetapkan, tidak sah dilakukan tempat lainnya. Wukuf dilakukan di daerah Arafah. Thowaf dilakukan di sekeliling Kabah. Sai dilakukan di jalan antara Shofa dan Marwah. Dan seterusnya.

TIGA CARA MANASIK HAJI


Haji dapat dilakukan dengan memilih salah satu dari tiga cara manasik:

1. Ifrod, yaitu meniatkan haji saja ketika berihram dan mengamalkan haji saja setelah itu. 2. Qiron, yaitu meniatkan umroh dan haji sekaligus dalam satu manasik. Wajib bagi yang mengambil tata cara manasik qiron untuk menyembelih hadyu. 3. Tamattu yaitu berniat menunaikan umroh saja di bulan-bulan haji, lalu
melakukan manasik umroh dan bertahalul. Kemudian diam di Makkah dalam keadaan telah bertahalul. Kemudian ketika datang waktu haji, melakukan amalan haji. Wajib bagi yang mengambil tata cara manasik tamattu untuk menyembelih hadyu.

WAJIB HAJI
Ada beberapa wajib haji:
1. Ihram dari miqot. 2. Wukuf di Arafah hingga Maghrib bagi yang wukuf di siang hari. 3. Mabit di malam hari nahr (malam 10 Dzulhijjah) di Muzdalifah pada sebagian besar malam yang ada. 4. Mabit di Mina pada hari-hari tasyriq. 5. Melempar jumroh secara berurutan. 6. Mencukur habis atau memendekkan rambut. 7. Thowaf wada.
Jika wajib haji ditinggalkan, maka harus menunaikan dam.

Tolok ukur mampu dalam berhaji adalah sebagai berikut:


Memiliki bekal dan kendaraan yang bisa mengantarkan seorang untuk berhaji ke Mekkah. Jika tidak memiliki kendaraan, maka dia memiliki kemampuan finansial untuk membiayai perjalanan haji yang akan ditempuhnya. Meninggalkan uang sebagai nafkah keluarganya selama ditinggal berhaji. Ini merupakan pendapat jumhur. Ada orang yang mampu menjaga barang dan keluarganya. Adanya keamanan selama melakukan perjalanan, baik keamanan yang terkait dengan jiwa maupun harta. Perjalanan berhaji memungkinkan untuk dilakukan oleh jamaah haji ditinjau dari segi fisik jamaah dan waktu.

Hikmah Haji
Hikmah ibadah haji disini memiliki maksud agar calon jamaah haji dapat mengetahui, memahami dan menghayati tujuan dan hakikat pelaksanaan ibadah haji, sehingga diharapkan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, karena semua ibadah yang kita lakukan pada dasarnya untuk membentuk manusia yang bertaqwa.

Sumber bahan hukum figh puasa dan Haji : Google