Anda di halaman 1dari 5

Terjemahan bebas bahasa Indonesia (July 8, 2010) Letter of Intent (Surat Pernyataan Niat) antara Pemerintah Kerajaan Norwegia

dan Pemerintah Republik Indonesia tentang Kerjasama dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dari deforestasi and degradasi hutan1 I. MUKADIMAH Pemerintah Republik Indonesia (Indonesia) dan Pemerintah Kerajaan Norwegia (Norwegia), (selanjutnya disebut "Partisipan"): mengakui bahwa pengentasan kemiskinan dan pembangunan ekonomi merupakan sasaran keseluruhan untuk kesejahteraan manusia; mengingat kembali bahwa perubahan iklim adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dunia saat ini; mempertimbangkan bahwa Indonesia dan Norwegia merupakan para Pihak (Parties) pada Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), Protokol Kyoto, dan Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati; mempertimbangkan bahwa mukadimah UNFCCC mengakui bahwa perubahan iklim yang bersifat global menuntut adanya kerja sama antar negara seluas mungkin; mengakui relevansi Strategi Pembangunan Jangka Menengah Indonesia; memperhatikan bahwa sasaran utama kebijakan iklim Indonesia dan Norwegia adalah untuk membatasi kenaikan rata-rata temperatur global di bawah 2C dibandingkan temperatur rata-rata sebelum era industri, dan untuk menyusun kebijakan-kebijakan nasional yang dapat menjamin bahwa kebijakan-kebijakan ini membawa manfaat melampaui kontribusi biasanya untuk mewujudkan sasaran ini; dengan ini menetapkan sebuah kemitraan perubahan iklim, yang difokuskan pada REDD+ (selanjutnya disebut Kemitraan). II. TUJUAN DAN FOKUS KEMITRAAN Tujuan dari Kemitraan ini adalah untuk membantu mengurangi secara signifikan emisi gas rumah kaca dari deforestasi, degradasi hutan dan konversi lahan gambut lewat: a. pelaksanaan sebuah dialog kebijakan tentang kebijakan perubahan iklim internasional, terutama kebijakan internasional tentang REDD +. b. kerja sama mendukung pengembangan dan pelaksanaan strategi REDD+ Indonesia. III PENDEKATAN DAN PRINSIP-PRINSIP UMUM Dalam kerja sama ini kedua Partisipan berniat untuk: a. Memastikan bahwa Kemitraan ini didasarkan pada, dan bahwa tidak ada hal apa pun dalam Kemitraan ini yang atau yang akan bertentangan dengan, UNFCCC dan Kemitraan REDD+ Global. b. Memberikan kesempatan pada seluruh stakeholder yang relevan, termasuk masyarakat adat, masyarakat lokal dan masyarakat sipil, yang tunduk pada perundang-undangan nasional, serta, jika relevan, instrumen internasional, untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dalam perencanaan dan implementasi REDD+. c. Mencari sebuah upaya peningkatan yang proporsional dan progresif atas pendanaan, tindakan dan hasil-hasilnya, berdasarkan azas pembayaran atas pelaksanaan (contributions-for-delivery). d. Sepenuhnya transparan tentang pendanaan, tindakan dan hasil-hasilnya.
1

REDD+ sebagaimana didefinisikan dalam Rencana Aksi Bali (1/CP.13).

e. f.

g.

Mendorong partisipasi mitra pembangunan lain. Menjamin terciptanya koordinasi dengan seluruh prakarsa REDD+ lain, termasuk program UN-REDD, Fasilitas Kemitraan Karbon Hutan, Program Investasi Hutan dan prakarsa REDD+ bilateral dan multilateral lain yang berlangsung di Indonesia. Berupaya memastikan keberlangsungan dan integritas ekonomi, sosial dan lingkungan dari upaya-upaya REDD+ kita.

V. TAHAPAN-TAHAPAN KEMITRAAN Kemitraan ini akan dilaksanakan dalam tiga tahapan. Tujuannya adalah untuk melaksanakan dua tahapan pertama dalam waktu 3-4 tahun. Tinjauan kembali tahunan yang independen perlu dipertimbangkan sebelum memasuki tahap ketiga. VI TAHAP 1: PERSIAPAN Pada tahap ini, akan dilakukan langkah-langkah persiapan utama untuk implementasi strategi REDD+ Indonesia, antara lain: a. Menyelesaikan sebuah strategi REDD+ nasional yang juga dapat mengatasi seluruh penyebab utama emisi dari hutan dan lahan gambut. b. Membentuk sebuah dinas khusus yang bertanggung jawab langsung ke Presiden untuk mengkoordinasikan upaya-upaya terkait pengembangan dan implementasi REDD+ c. Mengembangkan sebuah strategi untuk dan membentuk kerangka kerja awal sebuah institusi independen untuk sebuah sistem monitoring, pelaporan dan verifikasi nasional terhadap emisi gas rumah kaca dari hutan dan lahan gambut akibat tindakan manusia di sumbernya dan penghilangan penyerapan (sinks), penyimpanan karbon hutan (forest carbon stock) dan perubahan wilayah hutan alam. d. Merancang dan membentuk sedini mungkin sebuah instrumen pendanaan, bekerja sama dengan pihak donor yang relevan dan dikelola oleh sebuah institusi keuangan internasional yang memiliki reputasi baik. Instrumen dimaksud haruslah: i. berdasarkan azas pembayaran atas hasil (contributions-for-deliverables), yang disesuaikan seiring dengan waktu sebagai hasil pelaksanaan (deliverables) yang berkembang dari kebijakan berkekuatan hukum ke pengurangan emisi yang telah diverifikasi (verified emission reduction) tingkat nasional; ii. dikelola menurut standar-standar yang diakui dunia internasional termasuk perlindungan (safeguards) tanggung jawab hukum, tata kelola, lingkungan dan sosial; iii. menjamin transparansi dalam seluruh aspek pengucuran dana (disbursement) dan operasi; iv. mencakup perwakilan pemerintah pusat, pemerintah setempat, masyarakat sipil, dan masyarakat adat dan masyarakat lokal dalam struktur tata kelola instrument pendanaan, yang tunduk pada perundang-undangan nasional, serta, jika relevan, instrumen insternasional; v. Menyalurkan sumber-sumber keuangan hanya pada implementasi strategi REDD+ id dan strategi pembangunan rendah karbon yang memenuhi syarat sebagai asistensi pembangunan resmi [official development assistance (ODA)]; vi. Dikenakan audit tahunan independen; vii. Disepakati oleh Mitra sebelum pembentukannya. e. Memilih uji coba REDD+ tingkat propinsi. Propinsi dimaksud haruslah memiliki wilayah hutan hutan alam yang luas dan menyetujui rencana proyek deforestasi dan degradasi hutan dalam skala yang akan membawa dampak signifikan terhadap tingkat emisi nasional jika dilaksanakan. Sebuah strategi REDD+ untuk propinsi

tempat uji coba dilaksanakan, yang dikembangkan lewat proses yang transparan dan inklusif dan yang dapat mengatasi penyebab utama emisi dari hutan dan lahan gambut, akan disusun. VII TAHAP 2: TRANSFORMASI Tahap kedua akan dimulai bulan Januari 2011, dengan aspirasi bersama untuk menyelesaikannya menjelang akhir tahun 2013. Pada tahapan ini, upaya-upaya pemerintah Indonesia dan dukungan pemerintah Norwegia akan difokuskan pada: Peningkatan kapasitas, pengembangan dan implementasi kebijakan serta reformasi hukum dan penegakan hukum tingkat nasional; satu atau lebih uji coba REDD+ tingkat propinsi secara penuh. Tujuan dari tahapan ini adalah untuk menyiapkan Indonesia untuk memasuki Tahapan Pembayaran Pengurangan Emisi yang telah Diverifikasi (Contributions-for-Verified Emission Reductions Phase) sambil memulai aksi mitigasi besar-besaran, sebagai berikut: a. Para pihak berniat untuk mengoperasionalkan secara penuh instrumen pendanaan yang dirancang dalam tahapan persiapan tidak lewat dari tanggal 1 Januari 2011. b. Menjelang bulan Desember 2013, akan siap sebuah sistem monitoring, pelaporan dan verifikasi (MPV) negara yang sesuai dengan IPCC Tier 2 atau yang lebih baik, yang dijalankan oleh institusi MPV independen yang dijelaskan dalam tahap pertama di atas, termasuk verifikasi internasional independen, dan yang mampu mengkaji rentang ketidakpastian estimasinya. Rentang ketidakpastian akan berdampak pada mekanisme pembayaran pengurangan emisi yang telah diverifikasi (contributions-for-verified emissions reductions mechanism) di Tahap 3. Di saat yang sama, sebuah strategi untuk meningkatkan sistem MPV sesuai presisi dan akurasi Tier 3 akan disusun. c. Mengidentifikasi, mengembangkan dan mengimplementasikan instrumen kebijakan dan kapabilitas penegakan hukum yang tepat di seluruh Indonesia, termasuk namun tidak terbatas pada: i. Sebuah penangguhan selama 2 tahun atas seluruh ijin baru konversi lahan gambut dan hutan alam. ii. Membentuk sebuah database lahan rusak, yang dimulai di satu atau lebih propinsi yang sesuai, untuk memfasilitasi pembentukan aktifitas ekonomi di atas lahan-lahan tersebut dan bukan konversi lahan gambut atau hutan alam. iii. Menerapkan UU yang berlaku terhadap pembalakan liar dan perdagangan haram kayu dan kejahatan-kejahatan hutan terkait serta membentuk sebuah unit khusus untuk mengatasi masalah ini. iv. Mengambil langkah-langkah yang sesuai untuk mengatasi konflik penguasaan tanah dan tuntutan kompensasi. d. Uji coba tingkat propinsi pertama akan dilaksanakan dari bulan Januari 2011 dan selanjutnya. Pelaksanaan uji coba propinsi ini perlu meliputi: i. Implementasi strategi REDD+ di seluruh propinsi yang dijelaskan dalam tahap satu di atas, yang melibatkan seluruh stakeholder yang relevan, termasuk masyarakat adat, masyarakat lokal dan masyarakat sipil, dan tunduk pada perundang-undangan nasional, serta, jika relevan, instrumen-instrumen internasional. ii. Sebuah sistem MPV tingkat propinsi yang sesuai dengan IPCC Tier 2 atau yang lebih baik, dan yang mampu mengkaji rentang ketidakpastian estimasinya, akan siap menjelang bulan Desember 2011. Sebuah mekanisme pembayaran pengurangan emisi yang telah diverifikasi (contributions-for-verified emission reductions

mechanism) akan dibuat atas landasan ini paling lambat tiga bulan setelah verifikasi diselesaikan; asalkan instrumen pendanaan yang dijelaskan di atas dapat diberlakukan dan portofolio proyek yang dapat diimplementasikan sudah siap. Sebuah strategi untuk meningkatkan sistem MPV sesuai presisi dan akurasi Tier 3 akan disusun. iii. Langkah-langkah yang tepat untuk menangani konflik-konflik penguasaan lahan dan tuntutan kompensasi akan diambil mulai awal tahun 2011 dan selanjutnya. e. Sebuah uji coba propinsi kedua, yang tunduk pada kriteria yang sama dengan uji coba propinsi pertama, dapat dipilih menjelang akhir tahun 2011 dan dilaksanakan menjelang awal 2012. Alokasi pendanaan untuk kedua tahapan pertama ini akan disediakan oleh pemerintah Norwegia berdasarkan hasil pelaksanaan (deliverables) yang disalurkan lewat sebuah mekanisme keuangan yang disepakati. Pembayaran untuk hasil pelaksanaan tahun 2010 akan difokuskan hanya pada hasil-hasil terkait kebijakan-kebijakan dan langkahlangkah berkekuatan hukum. Proporsi pembayaran yang disalurkan lewat mekanisme pembayaran pengurangan emisi yang telah diverifikasi (contributions-for-verified emission reductions mechanisms) (dalam uji coba tingkat propinsi tahap 2, dan tingkat nasional dalam tahap 3) akan ditingkatkan secara signifikan untuk pembayaran tahun 2012 dan pembayaran tahunan selanjutnya. VIII TAHAP 3: PEMBAYARAN PENGURANGAN EMISI YANG TELAH DIVERIFIKASI (CONTRIBUTIONS-FOR-VERIFIED EMISSION REDUCTION) Aspirasi bersama para pihak adalah untuk memulai tahap ketiga dari tahun 2014, berdasarkan pengurangan emisi di tahun 2013. Pada tahap ini, sebuah mekanisme pembayaran pengurangan emisi yang telah diverifikasi tingkat nasional akan diimplementasikan, yang meliputi hal-hal berikut: a. Indonesia akan menerima pembayaran tahunan untuk pengurangan emisi nasional yang telah diverifikasi secara independen relatif terhadap tingkat referensi UNFCCC (atau tingkat referensi yang ditetapkan Indonesia dan mitraimtranya berdasarkan janji pengurangan emisi yang dibuat Indonesia dan panduan metodologis UNFCCC (4/CP 15), sesuai dengan keputusan yang relevan dari COP, jika belum ada tingkat referensi UNFCCC yang ditentukan untuk Indonesia). b. Pemerintah Norwegia (dan mungkin mitra-mitra lainnya yang bergabung ke dalam kemitraan) akan menyalurkan pembayaran-pembayaran keuangan ini ke instrumen keuangan yang dijelaskan dalam tahap 1 di atas. IX PEMBAYARAN KEUANGAN NORWEGIA Norwegia berniat membayarkan sejumlah dana untuk upaya-upaya REDD+ Indonesia sebesar satu milyar dolar AS (mengingat 6 kroner Norwegia = 1 dolar AS). Pembayaran tersebut akan tergantung pada pembentukan sebuah instrumen keuangan sebagaimana dijelaskan dalam Letter of Intent ini dan disepakati para Pihak, serta hasil-hasil pelaksanaan (deliverables) yang memadai sebagaimana dijelaskan dalam Letter of Intent. Persyaratan dan kondisi yang rinci untuk dukungan tersebut akan diatur dalam kesepakatan pembayaran yang akan dicapai antara pemerintah Norwegia dan pengelola pendanaan. Jumlah pembayaran-pembayaran tahunan yang konkrit akan tergantung pada alokasi dari Parlemen Norwegia. X RINCIAN DAN AMANDEMEN TERHADAP KEMITRAAN Rincian-rincian dari Kemitraan ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam seperangkat dokumen terpisah , yang meliputi:

Sebuah dokumen terpisah, yang akan disusun bersama oleh Partisipan secara tentatif menjelang bulan Oktober 2010, yang menjelaskan dengan rinci hasilhasil pelaksanaan (deliverables) dalam LoI ini kecuali instrumen pendanaan. Dokumen atau dokumen-dokumen yang diperlukan untuk menyusun instrumen pendanaan.

Kemitraan ini tidak akan berlaku sampai dokumen tersebut telah disepakati. Amandemen terhadap dokumen tersebut dapat disepakati oleh kedua pihak dan ditambahkan setiap waktu. XI KELOMPOK KONSULTASI BERSAMA (JOINT CONSULTATION GROUP) Sebuah Kelompok Konsultasi Bersama (Joint Consultation Group) akan dibentuk untuk membantu efektifitas pelaksanaan Kemitraan ini. Kelompok ini akan beranggotakan titik-titik kontak (points of contact) untuk Indonesia dan Norwegia. XII TINJAUAN KEMBALI INDEPENDEN Sebuah kelompok tinjauan kembali yang independen, yang disepakati baik oleh Indonesia maupun Norwegia, akan melakukan tinjauan kembali tahunan atas hasilhasil yang dicapai terhadap indikator-indikator yang disepakati. Kelompok ini akan bertanggung jawab pada Kelompok Konsultasi Bersama. Laporannya akan dipublikasikan untuk publik. XIII PEMBERLAKUAN, LAINNYA a. PENGHENTIAN DAN PERTIMBANGAN-PERTIMBANGAN

b.

LoI ini akan diberlakukan setelah ditandatangani, dan akan tetap berlaku sampai akhir tahun 2016, dan akan diperbarui secara otomatis untuk periode-periode 4 tahun berikutnya kecuali ada pemberitahuan sebaliknya dari salah satu pihak lewat jalur-jalur diplomatik. LoI ini dapat dihentikan setiap saat oleh salah satu Pihak, dengan pemberitahuan tertulis, lewat jalur-jalur diplomatik.

Dibuat rangkap dua di Oslo tanggal 26 Mei 2010, dalam bahasa Inggris. MEWAKILI PEMERINTAH KERAJAAN NORWEGIA Erik Solheim Menteri Lingkungan Hidup Dan Pembangunan Internasional MEWAKILI PEMERINTAH INDONESIA R.M. Marty M. Natalegawa Menteri Luar Negeri REPUBLIK