Anda di halaman 1dari 3

Keracunan Paracetamol

Pengertian
Paracetamol adalah golongan obat analgesic non opioid yang dijual bebas. Kegunaan obat ini adalah untuk obat sakit kepala, nyeri otot sementara, sakit menjelang menstruasi, dan untuk demam. Perlu diingat bahwa penggunaan paracetamol adalah untuk mengatasi rasa sakit, sementara rasa sakit itu sendiri adalah manifestasi dari suatu penyakit, artinya obat ini hanya menghilangkan gejala yang timbul tanpa mengobati penyebab penyakit.

Mekanisme Keracunan
Bila penggunaan parasetamol tidak benar, maka beresiko menyebabkan efek yang tidak diinginkan. Parasetamol dalam jumlah 10 - 15gr (20-30 tablet) dapat menyebabkan kerusakan serius pada hati dan ginjal. Keracunan paracetamol disebabkan karena akumulasi dari salah satu metabolitnya yaitu Nacetyl-p-benzoquinoneimine (NAPQI), yang dapat terjadi karena overdosis, pada pasien malnutrisi, atau pada peminum alcohol kronik. Keracunan paracetamol biasanya terbagi dalam 4 fase, yaitu:

Fase 1 :
Kehilangan nafsu makan, mual muntah, perasaan tak menentu pada tubuh yang tak nyaman (malaise) dan banyak mengeluarkan keringat.

Fase 2 :
Pembesaran liver, peningkatan bilirubin dan konsentrasi enzim hepatik, waktu yang dibutuhkan untuk pembekuan darah menjadi bertambah lama dan kadang-kadang terjadi penurunan volume urine

Fase 3 :
Berulangnya kejadian pada fase 1 (biasanya 3-5 hari setelah munculnya gejala awal) serta terlihat gejala awal gagal hati seperti pasien tampak kuning karena terjadinya penumpukian pigmen empedu kulit, membran kulit mukosa dan sclera (joundice), hipoglikemia, kelainan pembekuan darah, dan penyakit degenerative pada otak (encephalopathy). Pada fase ini juga mungkin terjadi gagal ginjal dan berkembangnya penyakit yang tejadi pada jantung (cardiomyopathy)

Fase 4 :
Penyembuhan atau berkembang menuju gagal hati yang fatal

Cara Pengananan
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan sebagai pertolongan pertama saat menemukan korban yang dicurigai keracunan paracetamol adalah sebagai berikut: Rangsang muntah (tindakan ini hanya efektif bila paracetamol baru ditelan atau peristiwa itu terjadi kurang dari 1 jam sebelum diketahui ) Berika arang aktif dengan dosis 100 gr dalam 200 ml air untuk orang dewasa dan larutan 1 gr/kg berat badan anak-anak. Bila kadar serum paracetamol sudah di atas garis toksik maka N-asetilsisitein dapat mulai diberikan loading dose 140mg/kg BB secara oral, lalu dosis berikutnya 40 mg/kg BB diberikan setiap 4 jam. Larutkan asetilsistein ke dalam air, jus maupun soda. Bila terjadi muntah spontan, maka pemberian asetilsistein dapat dilakukan melalui sonde lambung (nasogastric tube) atau berikan metoklopramid pada pasien untuk mengatasi kondisi muntah tersebut. Terapia setilsistein paling efektif bila diberikan dalam dalam waktu 8-10jam pasca penelanan paracetamol. N-asetilsistein harus diberikan secara hati-hati dengan memperhatikan kontraindikasi dan riwayat alergi pada korban, terutama riwayat asthma bronkiale.

Penutup
Kesimpulan Keracunan obat harus ditangani dengan serius dan tepat meskipun korban tidak menampakkan gejala keracunan. Dengan penanganan yang tepat kerusakan akibat keracunan yang mungkin timbul dapat diminimalisir, bahkan sebelum gejala kerusakan tersebut dideteksi. Apabila dicurigai telah terjadi keracunan obat, segera hubungi Sentra Informasi keracuanan atau dokter setempat untuk mendapatkan informasi dan petunjuk seputar penanganan keracunan obat.