Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH AL-ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN

GERAKAN PEMBAHARUAN ISLAM DI INDONESIA

DISUSUN OLEH INGGAR PRASASTI 702010033

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN 2012

Kata Pengantar
Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya Penulis bisa menyelesaikan Makalah Al-Islam Kemuhammadiyahan mengenai Gerakan Pembaharuan Islam di Indonesia. Salawat beserta salam tak lupa Penulis haturkan kepada junjungna kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat serta para pengikutnya hingga akhir zaman. Penulis menyadari Makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan dan kebenaran. Oleh karena itu, Penulis mengharapkan kritik dan saran yang bertujuan untuk kesempurnaan di masa yang akan datang. Pada proses penyelesaian Makalah, Penulis banyak mendapatkan bantuan, dengan demikian kami mengucapkan rasa hormat dan terima kasih atas kerja samanya. Semoga Allah SWT memberikan pahala yang sebesar-besarnya kepada orangorang yang berperan aktif dalam proses penyelesaian Makalah ini.

Palembang, April 2012

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar .................. 2 Daftar Isi ................ 3 I. II. III. 6 IV. 10 DAFTAR PUSTAKA Revolusi dan Perkembangan Gerakan Pembaharuan Islam di Indonesia..... Latar Belakang Gerakan Pembaharuan Islam di Indonesia .................. 4 Awal Kelahiran Gerakan Pembaharuan Islam di Indonesia.................. 5 Tokoh-tokoh Gerakan Pembaharuan Islam di Indonesia..............

I. Latar Belakang Gerakan Pembaharuan Islam di Indonesia Pada abad ke-13 Masehi, agama Islam mulai masuk ke Indonesia, dan ada yang berpendapat bahwa penyebaran Islam pertama kali dilakukan oleh para pedagang dan mubaligh dari Gujarat-India. Sekarang jumlah umat Islam di Indonesia merupakan yang paling besar dibandingkan umat Islam di negara-negara lain di dunia ini oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa umat Islam di Indonesia mempunyai peranan yang penting bagi bangsa-bangsa dan negara-negara Islam lainnya. Lebih-lebih di Indonesia sendiri, umat Islam merupakan mayoritas penduduk dan mereka bertebaran di segenap pelosok tanah air serta banyak yang berkumpul dalam berbagai organisasi sosial, pendidikan, keagamaan, ekonomi, dan politik. Semenjak datangnya Islam di Indonesia yang disiarkan oleh para mubaligh khususnya di Jawa oleh Wali Sanga atau Sembilan Wali Allah hingga berabad-abad kemudian, masyarakat sangat dijiwai oleh keyakinan agama, khususnya Islam. Sejarah telah mencatat pula, bahwa Islam yang datang di Indonesia ini sebagiannya dibawa dari India, dimana Islam tidak lepas dari pengaruh Hindu. Campurnya Islam dengan elemenelemen Hindu menambah mudah tersiarnya agama itu di kalangan masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa, karena sudah lama kenal akan ajaran-ajaran Hindu itu. Sebelumnya, masyarakat sangat kuat berpegang teguh pada Agama Hindu dan Budha. Setelah kedatangan Islam, mereka banyak berpindah agama secara sukarela. Tetapi sementara itu mereka masih membiasakan diri dengan adat kebiasaan, sehingga bercampur-baur antara adat kebiasaan Hindu-Budha dengan ajaran Islam. Hal tersebut berlangsung dari abad ke abad, sehingga sulit dipisahkan antara ajaran Islam yang murni dengan tradisi peninggalan Hindu atau peninggalan agama Budha. Dan tidak sedikit tradisi lama berubah menjadi seakan-akan Tradisi Islam. Seperti kebiasaan menyelamati orang yang telah mati pada hari ke:7, 40, 1 tahun dan ke 1000-nya serta selamatan pada bulan ke7 bagi orang yang sedang hamil pertama kali, mengkeramatkan kubur seseorang, meyakini benda-benda bertuah dan sebagainya.

II. Awal Kelahiran Gerakan Pembaharuan Islam di Indonesia


4

Melihat keadaan di lapangan bahwa pengamalan agama Islam di Indonesia yang masih banyak bercampur dengan tradisi Hindu-Budha tersebut dan jelas sekali merusak kemurnian ajarannya, maka tampillah beberapa ulama mengadakan pemurnian dan pembaharuan faham keagamaan dalam Islam. Pada mulanya lahir Gerakan Padri di daerah Minangkabau yang dipelopori oleh Malim Basa, pendiri perguruan di Bonjol, yang kemudian dikenal dengan sebutan Imam Bonjol. Sejak kembali dari Mekah, Imam Bonjol melancarkan pemurnian aqidah Islam seperti yang telah dilakukan oleh gerakan Wahabi di Mekah. Karena kaum tua yang masih sangat kuat berpegang teguh pada adat menentang dengan keras terhadap gerakan Imam Bonjol maka timbulah perang Padri yang berlangsung antara tahun 1821-1837. Pemerintahan Kolonial Belanda, sesuai dengan politik induknya Devide et empera akhirnya membantu kaum adat untuk bersama-sama menumpas kaum pembaharu. Sungguh pun kaum militer Padri dapat dikalahkan, tetapi semangat pemurnian Islam dan kader-kader pembaharu telah ditabur yang kemudian pada kenmudian hari banyak meneruskan usaha dan perjuangan mereka. Diantaranya, Syekh Tohir Jalaludin, setelah kembali dari Mekah dan Mesir bersama-sama dengan Al Khalili mengembangkan semangat pemurnian Agama Islam dengan menerbitkan majalah Al Imam di Singapura. Pada saat itu juga, di Jakarta berdiri Jamiatul Khair pada tahun 1905, yang pada umumnya beraggotakan peranakan Arab. Organisasi Jamiatul Khair ini dinilai sangat penting karena dalam kenyataanya dialah yang memulai dalam bentuk organisasi dengan bentuk modern dalam masyarakat Islam (dengan anggaran dasar, daftar anggota yang tercatat, rapat-rapat berkala) dan mendirikan suatu sekolah dengan cara-cara yang banyak sedikitnya telah modern. Di bawah pimpinan Syekh Ahmad Soorkati, Jamiatul Khair banyak mengadakan pembaharuan dalam bidang pengajaran bahasa Arab, pendidikan Agama Islam, penyiaran agama, dan banyak berusaha mewujudkan Ukhuwah Islam. Sementara itu, banyak tumbuh dan lahir gerakan pembaharuan dan pemurnian Agama Islam di beberapa tempat di Indonesia, yang satu sama lain mempunyai penonjolan perjuangan dan sifat yang berbeda-beda. Akan tetapi, secara keseluruhan mereka mempunyai cita-cita yang sama dan tunggal yaitu Izzul Islam wal Muslimin atau kejayaan Agama Islam dan Kaum Muslimin. Di antara gerakan-gerakan tersebut adalah: Partai Sarekat Islam Indonesia, Muhammadiyah, Persatuan Islam, dan Al Irsyad. Gerakan-gerakan tersebut, umumnya terbagi dalam dua golongan yaitu Gerakan Modernis dan Gerakan Reformis. Yang dimaksud dengan Gerakan Modernis ialah gerakan
5

yang menggunakan organisasi sebagai alat perjuangannya. Jadi semua Gerakan Islam tersebut dapat digolongkan sebagai gerakan Modernis. Sedangkan Gerakan Reformis, berarti di samping gerakan ini menggunakan organisasi sebagai alat perjuangannya, juga berusaha memurnikan Islam dan membangun kembali Islam dengan pikiran-pikiran baru, sehingga Islam dapat mengarahkan dan membimbing umat manusia dalam kehidupan mereka. Misalnya: Muhammadiyah, Persatuan Islam, dan Al Irsyad.

III. Tokoh-tokoh Gerakan Pembaharuan Islam di Indonesia 1. Syeikh Ahmad Khatib Syeikh Ahmad Khatib bin Abdul Latif al Minangkabawi as Syafii lahir di Kota Gedang Bukittinggi Sumatera Barat, pada hari Senin tanggal 6 Dzulhijah 1276H, dan wafat di Mekkah hari Senin 8 Jumadil Awal 1334H. Beliau adalah seorang Ulama Besar yang pertama menduduki kursi dan jabatan IMAM KHATIB dan Guru Besar di Mesjid Mekkah (Mesjid Haram) dan juga Mufti Besar dalam Madzhab Syafii. Beliau adalah satu-satunya Ularna Indonesia yang mencapai derajat setinggi jabatan yang dipangkunya di Mekkah Mukarramah. Banyak sekali murid beliau bangsa Indonesia pada permulaan abad ke 14 H. yang belajar kepada beliau tentang ilmu fiqih Syafii yang kemudian menjadi ulama-ulama besar pada pertengahan abad ini di Indonesia. Di antara murid-murid beliau bangsa Indonesia itu dapat dicatat, yaitu Syeikh Sulaiman Ar Rasuli Candung Bukittinggi. Kemudian terdapat alm. Syeikh Muhammad Jamil Jaho Padang Panjang, alm. Syeikh Abbas Qadhi Ladang Lawa Bukittinggi, Alm. Syeikh Abbas Abdullah Padang Japang Suliki, alm. Syeikh Khatib Ali Padang, alm. Syeikh Ibrahim Musa Parabek, alm. Syeikh Mustafa Husein Purba Baru Mandahiling, alm. Syeikh Hasan Maksum Medan Deli dan banyak lagi ulama di Jawa, Madura, Sulawesi, Kalimantan yang berasal dari murid Syeikh Ahmad Khatib ini. Syeikh Ahmad Khatib al Minangkabawi ini boleh dikatakan menjadi tiang tengah dari Madzhab Syafii dalam dunia Islam pada permulaan abad ke XIV. Beliau banyak sekali mengarang kitab dalam bahasa Arab dan bahasa Melayu (Indonesia), di antaranya yang banyak tersiar di Indonesia, adalah: 1. Riyadathul Wardhiyah dalam ilmu fiqih.
6

2. Al Khitathul Mardhiah, soal membaca Ushalli. 3. Al Minhajul Masyru, soal faraidh (harta pusaka). 4. Ad Dalilul Masmu, soal hukum pembagian harta pusaka. 5. An Nafahaat, Syarah waraqaat. (usul fiqih). 6. Irsyadul Hajara fi Raddhi alan Nashara. 7. Tanbihul Awam, masalah Syarilat lsl,am. 8. Iqnaun Nufus, tentang zakat uang kertas. 2. Syeikh Muhammad Tahir Jalaluddin Syeikh Muhammad Tahir bin Muhammad bin Jalaluddin Ahmad bin Abdullah al-Minangkabawi al-Azhari lahir di Cangking, Agam, Sumatera Barat pada hari Selasa, 4 Ramadan 1286 H/8 Disember 1869 M. Meninggal dunia di Kuala Kangsar, Perak, Malaysia sesudah sembahyang Subuh pada hari Jumaat, 22 Rabiulawal 1376 H/26 Oktober 1956 M.

Tulisan 1. Irsyadul Khaidhi li `Ilmil Faraidhi 2. Huraian Yang Membakar, Taman Persuraian Haji. 3. Perisai Orang Beriman Pengisai Mazhab Orang Qadyan 4. Ithaful Murid fi Ahkamit Tajwid, tanpa disebut tarikh selesai penulisan. 5. Ta'yidu Tazkirah Mutba'is Sunnah fir Raddi `alal Qa-ili bi Saniyati Raka'ataini Qablal Jum'ah, dalam bahasa Arab. 6. Natijatul `Umur. 7. Jadawil Pati Kiraan Pada Menyatakan Waktu Yang Lima Dan Hala Qiblat Dengan Logharitma 8. Nukhbatut Taqrirat fi Hisabil Auqat wa Sammatil Qiblat bil Lugharitmat 9. Al-Qiblah fi Nushushi `Ulamais Syafi'iyah fi ma Yata'allaqu bi Istiqbalil Qiblatis Syar'iyah Manqulah min Ummuhat Kutubil Mazhab. 3. Syekh Muhammad Jamil Jambek Syekh Muhammad Jamil Jambek adalah ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatra Barat awal abad ke-20, dikenal juga sebagai ahli ilmu falak terkemuka. Nama Syekh Muhammad Jamil Jambek lebih dikenal dengan sebutan
7

Syekh Muhammad Jambek, dilahirkan dari keluarga bangsawan. Dia juga merupakan keturunan penghulu. Ayahnya bernama Saleh Datuk Maleka, seorang kepala nagari Kurai, sedangkan ibunya berasal dari Sunda. Masa kecilnya tidak banyak diketahui. Namun, yang jelas Syekh Muhammad Jambek mendapatkan pendidikan dasarnya di Sekolah Rendah yang khusus mempersiapkan pelajar untuk masuk ke sekolah guru. Kemudian, dia dibawa ke Mekkah oleh ayahnya pada usia 22 tahun, untuk menimba ilmu. Ketika itu dia berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Semula Syekh Muhammad Jambek tertarik untuk mempelajari ilmu sihir, tapi dia disadarkan dan diinsyafkan oleh gurunya. Selama belajar di tanah suci, banyak ilmu agama yang dia dapatkan. Antara lain yang dipelajari secara intensif adalah tentang ilmu tarekat serta memasuki suluk di Jabal Abu Qubais. Dengan pendalaman tersebut Syekh Muhammad Jambek menjadi seorang ahli tarekat dan bahkan memperoleh ijazah dari Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Namun, dari semua ilmu yang pernah didalami yang pada akhirnya membuatnya terkenal adalah tentang ilmu falak. 4. Haji Abdul Karim Amrullah Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan Hamka, yakni singkatan namanya, (lahir di Maninjau, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, ahli filsafat, dan aktivis politik. Ia dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia setelah dikeluarkannya Keppres No. 113/TK/Tahun 2011 pada tanggal 9 November 2011. Hamka merupakan salah satu orang Indonesia yang paling banyak menulis dan menerbitkan buku. Oleh karenanya ia dijuluki sebagai Hamzah Fansuri di era modern.[2] Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan untuk orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati. 5. Syaikh Ibrahim Musa
8

Syekh Ibrahim Musa dilahirkan di Parabek, Bukittinggi pada tahun 1882. Setelah belajar pada beberapa perguruan, pada umur 18 tahun ia berangkat ke Mekah dan belajar di negeri itu selama 8 tahun. Ia kembali ke Minangkabau pada tahun 1909 dan mulai mengajar pada tahun 1912. kemudian ia berangkat lagi ke Mekah pada tahun berikutnya dan kembali pada tahun 1915. Saat itu ia telah mendapat gelar Syekh Ibrahim Musa atau Inyiak Parabek sebagai pengakuan tentang ilmu agamanya. Ketika kembali ke Minangkabau, Inyiak Parabek mendirikan Sumatera Thawalib di Parabek, Inyiak Karim Amarullah (orang tua Buya Hamka) mendirikan Thawalib di Padang Panjang. Berdirinya Madrasah tahun 1910 dimulai dengan halaqah di Parabek. Lama pendidikannya variatif bahkan ada yang mencapai 11 tahun. Namun sejak tahun 1980 sampai sekarang menjadi 6 tahun. Bedanya, sekarang ada pendidikan Takhashus. Jadi murid Parabek yang telah tamat tapi merasa belum puas dengan ilmunya bisa menambah pendidikan non formal.

IV. Revolusi dan Perkembangan Gerakan Pembaharuan Islam di Indonesia 1. Serikat Dagang Islam (SDI) Latar Belakang: a. Monopoli perdagangan oleh pedagang-pedagang China b. Politik Kristenisasi oleh Pemerintah Kolonial
9

c. Adat Lama yang dipakai di daerah Kerajaan-kerajaan Jawa. Berdiri/Pendiri: 16 Oktober 1905 di Solo oleh Haji Sumanhudi, Harjo Sumarto dan kawan-kawan. Bentuk dan Lapangan Kegiatan: Organisasi Sosial Ketua Umum: Haji Samanhudi Tujuan Berdirinya Organisasi: a. Mematahkan Monopoli Perdagangan oleh kaum China umumnya dalam kain dan Batik b. Memajukan Jiwa dagang dikalangan kaum muslimin. c. Memurnikan ajaran Islam dari paham-paham yang keliru. Tempat Kedudukan: Solo Halangan dan Rintagan: Karena sering bentrok dengan golongan China, SDI dilarang menerima anggota baru, dilarang rapat. Baru September 1912 diperbolehkan lagi dengan syarat menyusun Anggaran Dasar yang baru. Cabang dan Anggota: Cabang berdiri di Bogor oleh Syekh Ahmad Bajened Bulan Januari 1911 dan di Jakarta tahun 1909 oleh RM Tirtoadisuryo dengan anggota 12 ribu. Bubar/ Berubah menjadi: Menjelma menjadi Sarikat Islam (1912). 2. SERIKAT ISLAM (SI) Latarbelakang: Penyusunan Anggaran Dasar baru akibat kericuhan-kericuhan yang ditimbulkan SDI. Berdiri/Pendiri: 10 September 1912 oleh Haji Samahudi dibantu Hos Cokroaminoto. Bentuk dan Lapangan Kegiatan: Partai Politik Ketua Umum: Haji Samnhudi; tahun 1913 digantikan Hos Cokroaminoto. Tujuan: a. Mamajukan Perdagangan, Pendidikan dan Kesejahteraan. b. Mengusahakan hidup menurut perintah Agama Islam. c. Mempertebal rasa persaudaraan dikalangan anggota. d. bekerja sama dengan perkumpulan-perkumpulan Islam yang sepaham.
10

Tempat Kedudukan: Surabaya Aliran Politik pada Penjajah: Dalam kegiatannya bersikap non koperatif pada pemerintah kolonial. Halangan Rintangan: a. Karena takut anggotanya semakin besar, permintaan pengesahan SI sebagai badan hukum ditolak Gub Jen (Juni 1913). b. Pertentangan antara golongan komunis dengan Islam progressif itu membuat jemu anggota-anggotanya, Peranakan Arab yang selama ini menjadi donatur SI keluar dari anggota lainnya ke Muhammadiyah, jumlah anggota turun derastis. Cabang dan Anggota: Karena cabang dan anggota bertambah besar, maka dibentuklah Central Sarikat Islam (CSI) pada 8 Maret 1915 di Surabaya yang bertujuan membina dan memelihara kerjasama antara SI-SI lokal. Tahun 1916 CSI diakui sebagai Badan Hukum. Anggaran dasar yang baru membuka keanggotaan yang lebih luas dibanding AD SDI sehingga jumlah anggota semakin meningkat, awal tahun 1913, 80.000 anggota setahun kemudian jumlah cabangnya ada 50 buah. Tahun 1918 450.000 anggota dari 87 SI lokal. Setelah itu mundur dikarenakan pertentangan golongan Islam Islam progresif dengan golongan komunis tahun 1920-an. Bubar/Berubah: Untuk mempertegas diri sebagai partai Politik, maka dalam kongres SI di Madiun pada 17-20 Februari 1923 diputuskan mengubah nama menjadi partai Serikat Islam.

3. PARTAI SERIKAT ISLAM (PSI) Latarbelakang: Untuk mengokohkan Serikat Islam sebagai Partai Politik maka Kongres RI diperbaharui menjadi PSI. Berdiri/Pendiri: Februari 1923 oleh HOS Cokroaminoto dkk. Bentuk dan Lapangan Kegiatan: Partai Politik.
11

Ketua Umum: HOS Cokroaminoto Tujuan: Tercapai Kemerdekaan Nasioanal berdasarkan Agama Islam Tempat Kedudukan: Surabaya Aliran Politik pada Penjajah: Awalnya dalam Kongres di Madiun tahun 1923 itu dinyatakan bahwa PSI menunjang sikap non koperatif. Tapi sikap ini tak dijalankan dengan konsekuen karena PSI masih mengambil dalam keanggotaan Volksraad. Baru dalam kongres CSI Agustus 1925 diputuskan bersikap non Koperatif sepenuhnya. Halangan dan Rintangan: Di masa ini PSI mengadakan aksi-aksi keagamaan seperti bersama-sama Muhammadiyah menyelenggarakan Kongres HAL Islam dan merencanakan turut serta dalam kongres Islam sedunia di Saudi. Hal ini mendapat tantangan para ulama Mazhab yang lalu mendirikan NU. Untuk selanjutnya, setiap usaha pembaharuan PSI dan Muhammadiyah selalu mendapat tantangan dari NU. Dengan dirintis oleh HA.Salim, PSI menjalankan Pan Islam atau Nasionalisme Islam. Hal ini mendapat kecaman dari golongan Nasionalis Sekuler yakni PNI dan Budi Utomo yang menyatakan Pan Islam itu sebagai Persatuan Palsu bukan Persatuan Indonesia dan bersifat Cosmopolitis. Cabang dan Anggota: PSI tak pernah lagi dapat menyamai kejayaan SI di tahun 1920-an, walaupun demikian, jumlah anggota PSI di masa ini lebih naik dibanding keadaan SI tahuntahun terakhir. Bubar/Berubah menjadi: Berganti nama lagi menjadi Partai Serikat Islam Indonesia (PSI) ditahun 1929. 4. MUHAMMADIYAH Latarbelakang: Saran dan metode pengajaran Agama Islam di Pulau Jawa yang masih terbelakang. Berdiri/Pendiri: 18 November 1812 oleh KH. Akhmad Dahlan. Bentuk dan Lapangan Kegiatan: Organisasi pendidikan masuk MIAI (1937), Masyumi (1943-1960) dan Pormusi (1968).
12

Ketua Umum: KH. Akhmad Dahlan (18 November 1912 sampai dengan 23 Februari 1923), KH.Ibrahim (1923-1932), H.Hisyam (1932-1938), KH.Mas Mansyur (1938-1943), Ki Bagus Hadi Kusumo (1943-1953) dst. Tujuan: a. Memajukan pendidikan berdasarkan Agama Islam b. Mengembangkan pengertian tentang ilmu Agama c. Hidup menurut aturan Agama yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Tempat Kedudukan: Yogyakarta Aliran Politik pada Penjajah: -----Halangan dan Rintangan: Karena dalam berpropaganda tak menyerang pihak atau Agama lain bahkan juga Politik Kolonial kecuali yang menghalangi kegiatannya, disokong oleh pemerintah Kolonial Belanda dan kelak oleh pemerintah Jepang, akibat sokongan itu Muhammadiyah diserang Golongan Nasionalis Radikal karena dianggap Propemerintah sering pula bertengkar dengan NU karena gerakan pembaharuannya. Cabang dan Anggota: Sikap Muhammadiyah yang netral dan tak berpolitik meyebabkan jumlah anggota tiap tahunnya bertambah. Tahun 1925 memiliki 4.000 anggota dari 29 cabang tahun 1929 melonjak menjadi 209 Cabang dengan 17 ribu anggota, Januari 1931 naik menjadi 267 Cabang dengan 24.300 anggota. Ditahun 1930 melebarkan sayapnya keluar Jawa dan mendapat sambutan hangat, sehingga 5 tahun kemudian memiliki 710 cabang di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan dengan 43.000 anggota. Boleh dikatakan jumlah cabang dan anggotanya tiap tahun naik hingga kini. 5. NAHDATUL ULAMA (NU) Latarbelakang: Kekhawatiran alim ulama mazhab akan masuknya pengaruh Wahabi dari Arab Saudi dengan turut sertanya Delegasi Indonesia yang diwakili PSI dan Muhammadiyah. Berdiri/Pendiri:
13

Tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya oleh KH. Hasyim Asyari dan KH.Wahab Hasbullah Bentuk dan Lapangan Kegiatan: Organisasi kegamaan menjadi partai politik (1 Mei 1952). Ketua Umum: Kapemimpinan NU dibagi dua yaitu: bagian Syuriah (Alim Ulama) dan Rois Akbar, sedangkan bagian PH diketuai oleh ketua umum. Rois akbar pertama adalah KH.Hasyim Asyari (1926-1947) dan KH. Wahab Hasbullah (1947-1971). Ketua PB pertama adalah : H. Hasan Gipo yang lalu diganti Kh. Mahfudz Shiddiq (19371944). Tahun 1952 ketua: KH.Wahid Hasyim lalu KH.Masykur, KH.M. Dahlan dan KH.Idgham Chalidi (1956-kini). Tujuan: a. Menegakkan Syariat Islam dengan berhaluan mazhab yang 4 (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali). b. Melaksanakan berlakunya Hukum Islam dalam masyarakat. Tempat Kedudukan: Surabaya Halangan dan Rintangan: a. NU yang konservatif selain berselisih paham dengan Serikat Islam dan Muhammadiyah yang progresif sehingga persatuan ketiganya selalu gagal hingga adanya MIAI. b. Dikalangan anggota NU berselisih paham tentang sikap pada PKI apalagi di masa Ordelama. Kaum politik meginginkan kerjasama dalam menempati posisi-posisi pemerintah. Tapi para ulama terutama di pedesaan dan pemuda GP Ansor menolaknya. Sebaliknya dalam aksi Piagam Jakarta 1968-1970 para ulama dan pemuda yang amat bersemangat, sedangkan kaum politik bersikap moderat. Cabang dan Anggota: Pendirian NU segera mendapat sambutan kaum ulama di daerah Jawa. Pengaruh NU amat besar dalam kehidupan pedesaan di Jawa yang di masa itu masih mengikuti Syariat Islam dari masa sebelumnya, hal inilah yang menyebabkan usaha-usaha Modernisasi PSI dan Muhammadiyah kurang mendapat sambutan. NU mendirikan bagian pemuda: Ansor (1935) dan NU muslimat (1940). Dalam 4 bulan setelah berdirinya telah memiliki 35 cabang. Tahun 1935 mempunyai 67 ribu
14

anggota dari 68 cabang. Menjelang PEMILU 1955 telah memiliki 180 cabang. Menjelang pemilu 1971 anggotanya berjumlah 812 juta. Bubar/Berubah menjadi: Berfungsi dalam PPP (5 Januari 1973) sebagai Par-Pol. 6. PARTAI SYARIAT ISLAM INDONESIA Latarbelakang: Ditahun 1929 serangan-serangan Golongan Nasionalis terhadap Islamisme yang dianut PSI makin genjar. Bersamaan dengan itu cita-cita Persatuan Indonesia yang ditimbulkan Kongres Pemuda 2 telah mempengaruhi Pergerakan Nasional. Dengan demikian cita-cita Indonesia raya merasuk dalam PSI. Berdiri/Pendiri: Januari 1929, dalam Kongres di Jakarta dibangkitkan kembali (22 April 1947) Ketua Umum: Dalam kongres PSII tahun 1930 diputuskan bahwa pimpinan PSII dibagi dua yaitu, Majelis Tahkim/Dewan Partai dan Lujnah Tanfidhyah. Hos Cokroaminoto mengetuai Majelis Tahkim hingga akhir hayatnya (1934). Sedang untuk Lujnah Taufidyah ditetapkan ketua: Sangaji dan ketua muda adalah Dr.Sukiman. Berhubungan perpecahan dan pemecatan-pemecatan termasuk beberapa pimpinannya, dalam kongres tahun 1938 diputuskan bahwa ketua Majelis Tahkim adalah Wondoamiseno, sedangkan ketua Lujnah Taufidhyah adalah Adi Kusno Cokrosujoso. Ketua: Wachdun Wondoamiseno (1952) diganti Abi Kusno Cokrosujoso hingga 1959, Arruji kartawnata mengetuainya hingga tahun 1970, dan setelah itu kemungkinan dipegang Putra-putra Hos Cokroaminoto. Tujuan: Di masa kolonial yaitu , membangun suatu persatuan yang kokoh antar sesama muslim menurut aturan Agama Islam untuk memajukan kesentosaan Negeri dan Rakyat, di masa kemerdekaan yaitu : mencapai RI yang menadi suatu bagian yang makin kuat didalam Persatuan Umat Islam Sedunia dan Keselamatan Perhubungan Umat Islam Sedunia. Tempat kedudukan: SURABAYA Aliran Politik pada Penjajah: Politik Hijrah yaitu Non Koperatif Self-Help (Hingga 1939)
15

Halangan dan Rintangan: a. PSII yang diwakili Dr.Sukiman dan Syahbuddin Latif dalam PPPKI merupakan satu-satunya organisasi Islam, merasa dikesampingkan dan diserang gencar oleh golongan Nasionalis mengenai azas Islam, dan poligami. b. Di masa ini anggota-anggota PSII terdiri dari 3 golongan yaitu : 1. Golongan Moderat-Koperator yaitu, AH.Salim, Dr.Sukiman, Muh Rum dll. 2. Golongan penengah non Koperator yaitu, HOS Cokroaminoto Abikusno dll. 3. Golongan Radikal-Hijrah yang dipimpin SM Kartosuwiryo. Perbedaan pendapat di antara 3 Golongan itu menyebabkan 4 kali perpecahan: 1. Keluarnya Sukiman dan Suryopranoto yang lalu mendirikan Partai Islam Indonesia (Parii) di Yogya bersatu lagi dengan PSII. 2. Keluarnya HA.Salim, Muh Rum, dan Sangaji dan Lalu mendirikan badan penyadar PSII (28 November 1936) yang berhaluan koperatif. 3. Keluar lagi anggota-anggota ex Parii yang lalu mendirikan PII (akhir 1938). 4. Keluarnya SM Kartosuwiryo akibat penolakan PSII untuk menjalankan azas Hijrah dengan extrim. Mendirikan Komite pembela Kebenaran PSII di Garut (Maret 1940) Propaganda-propaganda PSII yang berapi-api menimbulkan kericuhankericuhan. Akibatnya pemerintah Kolonial mengeluarkan Larangan Rapat di daerah tertentu, larangan pidato bagi tokoh tertentu dan larangan bagi pegawai negeri untuk menjadi anggota PSII (1935). Perpecahan di masa kemerdekaan: 1. Antara PSII Arji Kartawinata dengan PSII Abi Kasno dalam seleksi tahun 1960 PSII Abikusno ditolak. 2. Antara PSII Arji Kartawinata dengan Putra-Putra Cokroaminoto dalam seleksi 1971 Aruji Tersingkir.
16

Cabang dan Anggota: Berkat aksi-aksinya, jika ditahun 1930 PSII hanya beranggota 19 Ribu orang maka tahun 1931 adalah 23 Ribu anggota dan setahun kemudian 30 ribu anggota. Tahun 1935 meningkat menjadi 45 ribu anggota, tapi kemudian karena perpecahan yang beruntun PSII kembali mundur. Menjelang pemilu 1971 anggotanya 1,5 Juta Bubar/Berubah menjadi: Berfungsi dalam PPP (5 Januari 1973) 7. PERSATUAN MUSLIMIN INDONESIA (PERMI) Latarbelakang: Penerbitan pengurus pusat Muhammadiyah terhadap cabangnya di Minangkabau yang aktif berpolitik untuk mengembalikan lagi kebentuk asalnya Berdiri/Pendiri: Tanggal 27 Mei 1930 di Benteng Fort de Kooh Bukit Tinggi oleh Haji Jalaluddin Thaib, Haji Muchtar Lutfhi, Ali Imron dan Ilyas Yakub. Bentuk dan Lapangan Kegiatan: Organisasi Sosial pada tahun 1931 berkembang menjadi Partai Politik Ketua Umum: Haji Muchtar Lutfhi, Jalaluddin Thaib dan Ilyas Yakub Tujuan: Mencapai kemerdekaan Indonesia Tempat Kedudukan: Bukit Tinggi Aliran Politik pada Penjajah: Non Koperatif yang dilakukan dengan Radikal Halangan dan Rintangan: Karena aksi-aksinya menentang Pemerintah Belanda dengan sengit, maka pihak pemerintah membalas dengan mengadakan penangkapan dan pembuangan propaganisnya, mula-mula propaganis wanita: Rasuna Said ditangkap (Desember 1932), lalu Muchtar Lutfhi (11 Juli 1933) dan terakhir kali ditangkap Jalaluddin Thaib dan Ilyas Yacub (September 1933). Ketiga pemimpin itu tahun berikutnya dibuang ke Boven Digul , tambahan lagi pada tanggal 4 Agustus 1933 PERMI dikenakan larangan berapat, sehingga organisasi ini benar-benar tak dapat bergerak lagi. Cabang dan Anggota: PERMI mendapat banyak pengikut terutama di Minangkabau, Tapanuli, Bengkulu dan Palembang
17

Bubar/Berubah menjadi: Berhubung penangkapan dan larangan diatas, sisa pengurus dengan resmi membubarkan PERMI (18 Oktober 1937) 8. PARTAI ISLAM INDONESIA (PII) Latarbelakang: Golongan Moderat-Koperator PSII yang dipimpin Dr. Sukirman memajukan tuntutan pada PB PSII yaitu : a. PSII harus melepas azas Hijrah b. PSII semata-mata hanya beraksi politik bukan keagamaan dan Soisal c. PSII harus melepaskan disiplin partai terhadap Muhammadiyah. d. Tuntutan-tuntutan itu ditolak PB PSSI Berdiri/Pendiri: 6 Desember 1938 di Solo oleh pemimpin-pemimpin golongan moderat koperator PSII, pimpinan Muhammadiyah dan Jong Islamieten Bond. Bentuk dan Lapangan Kegitan: Partai Politik Ketua Umum: Ketua pertama adalah RM .Wiwoho Purbohadiwijayo (Ketua JIB) yang lalu diganti Dr.Sukiman dengan penasihat KH. Mas Mansyur (Ketua Muhammadiyah). Tujuan: Mempersiapkan Agam Islam dan penganut-penganutnya untuk menerima kedudukan sempurna di Indonesia. Tempat kedudukan: YOGYAKARTA Aliran Politik pada Penjajah: Koperatif, dalam hal ini PII memiliki seorang anggota Volksraad yaitu Wiwoho yang turut aktif dalam GAPI dan aksi Indonesia berparlemennya. Halangan dan Rintangan: Cabang dan Anggota: Karena sedikit banyak PII mirip dengan Federasi organisasi-organisai Islam terkemuka, maka PII maju dengan pesat. Pada kongresnya yang pertama saja tahun 1940 telah memiliki 115 cabang yang tersebar di Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Bubar/Berubah menjadi: Menjelang kedudukan Jepang membekukan kegiatannya (20 Mei 1943)
18

---

9. MAJELIS ISLAM ALA INDONESIA (MIAI = MAJELIS ISLAM TINGGI) Atau dasar mempertahankan Agama Islam dari serangan-serangan terhadapnya. Pemrakarsa adalah KH.Akhmad Dahlan, KH.Mas Mansyur (Muhammadiyah) dan KH Wahab Hasbullah (NU). Disepakati antar kongres, antar tokoh-tokoh Islam di Surabaya antara tanggal 18-21 September 1937. Diresmikan 1 Maret 1938. Merupakan wadah Federasi Organisasi-organisasi Islam di Indonesia. Yang bergabung dalam MIAI adalah Muhammadiyah, NU, PSII, Al Irsyad, Persatuan Islam PII, PUSA, PSII pengedar, Al Washiliyah, Persatuan Ulama Indonesia, dan Warmusi. Tujuannya adalah mengeratkan hubungan antara perhimpunan-perhimpunan umat Islam Indonesia dan mempersatukan suara-suara untuk membela keluhuran Agama Islam. Susunan pengurus untuk pertama kalinya adalah : 1. 2. 3. 4. 5. Ketua Wakil Ketua I Wakil Ketua II Bendahara Sekretaris : KH. Wahid Hasyim (NU) : KH. Mas Mansyur (Muhammadiyah) : Wondoamiseno (PSII) : Dr. Sukiman (PII) : Sastrodwiryo (Persatuan Islam).

Karena tak bercorak Politik tak dibubarkan Jepang. Dalam pertemuan yang diadakan pada 4 September 1942, tokoh-tokoh Islam mempertahankan MIAI, dengan menolak gagasan Federasi baru Persatuan Umat Islam (PUI) dipimpin Abikusno Cokrosujoso . Tahun 1942 susunan pengurus berubah menjadi : 1. 2. 3. Ketua Sekretaris Bendahara : Wondoamiseno (PSII) , : Harsono Cokroaminoto (PSII) : RH. Junaidi (Wartawan)

14 Mei 1943, membentuk Majelis Putra dipimpin Wondoamiseno dan Majelis Keputrian dipimpin Siti Nurjanah. Tujuan MIAI di masa Jepang : a. b. Memperkokoh Tempat yang layak bagi umat Islam dan Rakyat Indonesia Mengharmoniskan antara Islam dan tuntutan kemajuan Zaman. Jepang Cemas akan pengaruh MIAI yang makin besar pada rakyat Indonesia maka MIAI dibubarkan 24 Oktober 1943.
19

10. MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI) Didirikan Pemerintah dalam rangka pembentukan Majelis-majelis Agama yang mengurus masalah-masalah intern. Didirikan di Jakarta pada tanggal 26 Juli 1975. Bertujuan: Menterjemahkan dan menyampaikan pikiran-pikiran aspirasi dan suara hati umat Islam pada pemerintah. Fungsi: MUI berfungsi mempersatukan ulama-ulama Indonesia dan mengeluarkan Fatwafatwa tentang masalah-masalah yang dihadapi umat Islam Indonesia. Untuk kepengurusan pertama, terpilih Prof.Dr.Hamka dari Muhammadiyah dan Drs.Kafrawi MA dari Golkar sebagai sekretaris Jenderal Pertama. Jabatan ketua dipegang Hamka sejak 27 Juli 1975 hingga Pengunduran dirinya pada tanggal 18 Mei 1981. Ketua selanjutnya adalah KH. Syukri Gozali (1981-1983). DAFTAR PUSTAKA Buku Al-Islam Kemuhammadiyahan II,IV, dan VI http://aisasholikha.wordpress.com/organisasi-islam-di-indonesia/ diakses pada tanggal 16 April 2012 pukul 21.30 WIB http://id.wikipedia.org/wiki/Haji_Abdul_Malik_Karim_Amrullah diakses pada tanggal 16 April 2012 pukul 20.55 WIB http://id.wikipedia.org/wiki/Ibrahim_Musa diakses pada tanggal 16 April 2012 pukul 20.35 WIB http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Jamil_Jambek diakses pada tanggal 16 April 2012 pukul 20.35 WIB http://id.wikipedia.org/wiki/Syeikh_Tahir_Jalaluddin_Al-Azhari diakses pada tanggal 16 April 2012 pukul 20.45 WIB http://id.wikipedia.org/wiki/syeikh-ahmad-khatib-al-minangkabawi diakses pada tanggal 16 April 2012 pukul 20.45 WIB http://immfkikumy.wordpress.com/2011/11/10/gerakan-pembaharuan-islam-diindonesia/ diakses pada tanggal 16 April 2012 pukul 20.25 WIB dan kegiatan-kegiatan pembangunan Masyumi pada masyarakat Islam dan sebaliknya menyalurkan

20

http://www.sinergisejarah.com/component/content/article/49-sejarah-islam-diindonesia/142-sejarah-islam-di-indonesia--lampiran-ii--organisasi-organisasiislam-indonesia.html diakses pada tanggal 16 April 2012 pukul 20.25 WIB

21