Anda di halaman 1dari 17

BAB III TANGGAPAN DAN PENYESUAIAN DIRI HEWAN A.

Pengetian Adaptasi Adaptasi adalah kemampuan atau kecenderungan hewan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya untuk dapat tetap hidup dengan baik. B. Jenis-Jenis dan Macam-Macam Adaptasi 1. Adaptasi Morfologi Adaptasi morfologi adalah penyesuaian pada organ tubuh yang disesuaikan dengan kebutuhan organisme hidup. Penyesuaian bentuk tubuh ini bertujuan untuk memperoleh makanan maupun untuk melindungi diri dari musuhnya. Berikut ini contoh beberapa hewan yang menyesuaikan bentuk tubuhnya terhadap lingkungannya. a. Burung Burung memiliki bentuk kaki yang berbeda-beda disesuaikan dengan tempat hidupnya dan jenis mangsa yang dimakannya. Berdasarkan lingkungan dan jenis makanan yang dimakannya, bentuk kaki burung dikelompokkan menjadi lima, seperti pada tabel 3.1 berikut. Tabel 3.1 Berbagai Bentuk Kaki Burung

Bentuk paruh burung juga beraneka ragam. Keanekaragaman bentuk paruh burung sesuai dengan jenis makanannya. Perhatikan keanekaragaman bentuk paruh burung pada tabel 3.2

b. Serangga Untuk memperoleh makanannya, serangga memiliki cara tersendiri. Salah satu bentuk penyesuaian dirinya adalah bentuk mulut yang bebedabeda sesuai dengan jenis makanannya. Bedasarkan jenis makanan yang dimakannya, jenis mulut serangga dibedakan menjadi empat, yaitu mulutpengisap, mulut penusuk, mulut penjilat, dan mulut penyerap. 1) Mulut pengisap Mulut pengisap pada serangga bentuknya seperti belalai yang dapat digulung dan dijulurkan. Contoh serangga yang memiliki mulut pengisap adalah kupu-kupu. Kupu-kupu menggunakan mulut pengisap untuk mengisap madu dari bunga. 2) Mulut penusuk dan penghisap Mulut penusuk dan penghisap pada serangga memiliki ciri bentuk yang tajam dan panjang. Contoh serangga yang memiliki mulut penusuk dan penghisap adalah nyamuk. Nyamuk menggunakan mulutnya untuk menusuk kulit manusia kemudian menghisap darah. Jadi, selain mulutnya berfungsi sebagai penusuk juga berfungsi sebagai pengisap. 3) Mulut penjilat Mulut penjilat pada serangga memiliki ciri terdapatnya lidah yang panjang dan berguna untuk menjilat makanan berupa nektar dari bunga, contoh serangga yang memiliki mulut penjilat adalah lebah. 4) Mulut penyerap Mulut penyerap pada serangga memiliki ciri terdapatnya alat penyerap yang mirip spons (gabus). Alat ini digunakan untuk menyerap makanan terutama yang berbentuk cair. Contoh serangga yang memiliki mulut penyerap adalah lalat.

c. Unta Unta hidup di daerah padang pasir yang kering dan gersang. Oleh karena itu bentuk tubuhnya disesuaikan dengan keadaan lingkungan padang pasir. Bentuk penyesuaian diri unta adalah adanya tempat penyimpanan air di dalam tubuhnya dan memiliki punuk sebagai penyimpan lemak. Hal inilah yang menyebabkan unta dapat bertahan hidup tanpa minum air dalam waktu yang lama.

ADAPTASI STRUCTURAL PADA HEWAN Adaptasi structural merupakan cara makhluk hidup menyesuaikan dirinya terhadap lingkungannya dengan cara mengembangkan struktur tubuh atau alat-alat tubuh ke arah struktur yang lebih sesuai dengan keadaan lingkungan dan keperluan hidupnya. Adaptasi structural ini dapat di dahului oleh terjadinya perubahan gen dan dapat pula tanpa melalui perubahan gen. 1. Adaptasi pada hewan Teresterial

Berdasarkan posisinya,hewan teresterial ada yang arboreal (dipohon),teran (diatas tanah), sub teran (di bawah tanah), dan aeriol (di udara). Berikut disajikan kekhususan adaptasi structural pada masing-masing kelompok tersebut. a. Hewan arboreal Minimal mengembangkan 3 macam keistimewaan struktur yaitu: (1) panjangnya ruas-ruas tulang telapak dan jari-jari pada tangan dan kaki yang ditujukan untuk berpegangan pada saat memanjat dan bertengger di pohon. Hal ini dimiliki oleh hewan-hewan primate dari family pongidae seperti kera,orang utan,babon gorilla ,sympanse. (2.) Berkembangnya ekor sebagai alat untuk membantu keseimbangan ketika ada di pohon.Hal ini dijumpai pada hewan-hewan primate dari family pongidae,Lemuridae pada tarsius,tupai. (3). Adanya kukukuku yang runcing pada setiap jari kakinya yang berguna seagai alat berpegangan pada pohon atau dahan yang posisinya vertical. Ini dijumpai pada tarsius,Lemur dan tupai. b. Hewan Teranian Dalam kaitannya dengan gerakan berjalan dan melompat,hewan teranian dari kelas mamalia dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu : Plantigrade, digitigrades ,unguligrade. Plantigrad (mamalia yang berjalan dengan seluruh permukaan telapak kakinya menyentuh tanah Contohnya manusia. Hewan plantigrade bukanlah pelari yang baik). Digitigrade (Hewan mamalia yang berjalan dengan jari-jari kakinya yang menyentuh tanah. Ini merupakan hewan yang dapat melompat dengan cepat dan gesit) contohnya adalah kucing. Unguligrade (hewan mamalia yang berjalan dengan kukunya yang menyentuh tanah). Kuku yang menyentuh tanah ini adlah kuku yang menutupi hanya satu jari kakinya yaitu jari yang ketiga. Contohnya adalah kuda. Dalam kaitannya dengan gerakan, maka aktak darat (Bufo sp) tidak perlu memiliki selaput renang diantara jari-jari kakinya karena kehidupannya sudah penuh di darat. Ini berbeda dengan katak rawa (Rana sp) yang sebagian hidupnya di air, sehingga selaput ini berkembang dengan baik. Dalam kaitannya dengan gerakan kura-kura yang hidup di darat memiliki bentuk tungkai yang berbeda

disbanding dengan penyu yang hidup di air. Tungkai pada penyu bentuknya memipih seperti dayung sedangkan tungkai pada kura-kura disesuaikan untuk tujuan berjalan dan menggali bukan berenang. Dalam kaitannya dengan jenis makanan adaptasi yang banyak dilakukan adalah pada susunan gigi dan lambung.Susunan gigi herbivore sediit berbeda dengan gigi Karnivora. Pada Herbivora gigi taringnya kurang berkembang sedangkan pada karnivora gigi taringnya sangat berkembang. Dalam hal lambung, Manusia sebagai omnivore memiliki lambung yang sederhana (simplex) sedangakan sapi sebagai herbivore ruminansia memiliki lambung yang komleks yangditujukan untuk pencernaan dan fermentasi selulosa yang cukup rumit. c. Hewan Sub Teranian. Melalukan beberapa bentuk adaptasi yaitu: (1). Absennya tungkai alat gerak pada cacing tanah dan menggantinya dengan otot-otot sirkuler dengan longiuudinal kontraksi otot-otot ini emmudahkan cacing tanah untuk bergerak dan menyelusup. (2). Adanya perlengkapan untuk menggali yaitu berupa tungkai yang kuat dan berkuku atau bercakar.contohnya: (3). Aadanya gigi seri dan rahang yang kuat untuk menggali lubang. Inin dijumpai pada tikus Mole America. d. Hewan Aerial (Volant). Berhubungan dengan dua hal: Kemampuan terbang dan mencegah penguapan air. Dalam hubungannya dengan kemampuan terbang,maka adaptasi diarahkan untuk mengurangi berat dan menambah kemampuan dan kekuatan terbang. Mengurangi berat tubuh dilakuakan oleh burung dengan berbagai adaptasi yaitu tulangnya tipis dan berongga, paruhnya tak bergigi,bulunya ringan, hilangnya beberapa tulang dan menyatunya beberapa tulang menjadi synsachrum, tak adanya vesica urinaria, serta adanya kantung-kantung udara yang disebut sacus pneumaticus. Berbeda dengan burung, serangga mengurangi berat bulunya dengan tidak adanya endoskeleton yang etrbuat dari tulang, dan hanya mengebangkan eksoskleton yang terbuat dari zat kitin yang ringan dan kuat. Menambah kemampuan dan kekuatan terbang dilakukan oleh burung dan kelelawar dengan mengembangkan otot-otot dadanya (otot pectoralis). Untuk memperbesar daya angkat terhadap tubuh melalui kepakan sayap, burung yang

baisa terbang tinggi dan lama memiliki luas permukaan sayap yang luas untuk emngimbangi beban tubuh. Pada banyak serangga mengembangkan system sayap ganda. Untuk mencegah kehilangan panas, bangsa burung mengembangkan buku plumaenya sedemikian tebal. Bulu yang tebal ini dapat mencegah penguapan cairan tubuh ketika behadapan dengan panas lingkunagn dan angin ketika terbang. Disamping adaptasi structural diatas, unggas juga melakakuan adaptasi alin yaitu dalam hal bentuk paruh dan kakinya. Paruh unggas dapat dikelompokkna menjadi 5 yaitu : paruh pemakan biji, pemakan serangga, penyobek, pelubang, penangkap ikan. Bentuk kaki dan jari kaki pada unggas dapat dikelompokkan menjadi 5 tipe yaitu : kaki pengais (ayam), kaki penggulung (bangau), pencangkram (elang), penghinggap (bururng kepodang), dan kaki perenang (angsa, itik). 2. Adaptasi Struktural Hewan akuatik Pada prinsipnya ditujukan untuk mengatasi 5 masalah yaitu tekanan mekanik oleh turbulensi air, tekanan hidrostatik, keterbatasan cahaya pada suatu kedalaman, adanya pasang surut pada hewan interdinal,adaya predator. a. Tekanan mekanik oleh turbulensi air. (1) Ikan mengembangkan bentuk tubuh stream line ( semakin mengecil kea rah anterior tubuh) untuk mengurangi tekanan dan gesekan air dari arah depan.(2) Ikan mengembangkan sisik yang licin untuk mengurangi gaya gesekan air. (3) Ikan mengembangkan alat gerak yang disebut sirip untuk melawan arus air. (4) Penyu mengembnagkan tungkainya berbrntuk seperti dayung utnuk berenang melawan arus air. (5) Beberapa hewan invertebrate mengembagkan alat pelekat agar tidak terombag ambing oleh turbolensi air. Contonya porifera, hydra, limpet, teritip, kiton dan siput. (6) Kepiting dan udang melindungi dirinya dengan kerangka eksoskleton yang terbuat dari kitin yang tebal dan kuat. b. Bentuk adaptasi untuk mengatasi tekanan hidrostatis (1) Ikan membentuk organ gelembung renang yang mengatur posisi ikan dikolam air, (2) sebagian besar ikan memiliki kecendrungan tubuhnya memipih arah vertical sehingga memperkecil luas permukaan tubuh yang terkena tekanan air dari arah atas. (3). Amoeba yang hidup di dasar laut yang dalam tidak

membentuk pseudopodia dengan tujuan agar luas permukaan tubuh yang terkena tekanan menjadi kecil. c. keterbatasan cahaya pada suatu kedalaman Untuk mengatasi keterbatasan cahaya, beberapa jenis ikan dilaut yag dalam mengalami perkembangan organ mata sehingga matanya tampak besar. Hal ini ditujukan untuk memamksimalkan pemasukan cahaya yang terbatas.Contohnya adalah ikan Miyctophum punctatum, Lampanytus elongates, dan ikan Diaphus metopoclampus, dilain pihak, pada kedalam yang benar-benar gelap, dijumpai ikan dengn mata yang sangat kecil atau sama sekali tidak punya mata. Hal ini terjadi emngingat dalam gelap organ mata tidak diperlukan. Contohnya adalah belut laut dari genus Saccopharynnx. Disamping itu, pada laut dalam telah biasa dijumpai ikan dan hewan lain yang memiliki organ organ penghasil cahaya yang disebut fotofor. Organ ini mengakibatkan ikan dan hewan lain yang memilikinya menjadi bercahaya (bioluminescent). d. pasang surut pada hewan interdinal Pasang surut lautan maka bentuk adaptasi structural yang dilakukan oelh hewan intertidal adalah: 1). Hewan intertidal seperti teritip,limpet dan siput menggunakan cangkangnya dalam melindungi tubuhnya yang lunak,sehingga dapat emncegah penguapan cairan tubuh ketika terdedah oleh cahaya dan udara bebeas pada saat periode surut. 2) untuk mengantisipasi panas lingkungan yang tinggi,banggsa siput tertentu memperluas cangkangnyadengan cara memperbanyak ukiran pada cangkangnya.ini ditujukan untuk mememudahkan hilangnya panas ketika siput berhadapan dengan panas lingkungan yang tinggi pada saat surut. Untuk emngurangi penyerapan panas, maka siuput intertidal bagian atas mengalami pencerahan warna cangkang. Dengan cangkang yang cerah, panas lebih sedikit diserap disbanding cangkang yangn gelap. 4) Untuk mengantisipasi benturan ombak yang dahsyat, maka bangsa teritip,limpit, siput dan kiton memilki struktur yang dapat menempel sangat kuat. Denagn demikian, hewan ini tidak terhempas. 5) hewan intertidal pada umumnya mempunyai tonjolan organ pernafasan yang mampu mngikat oksigen dari air, ketika air pasang merendam mereka.

e.

Mengantisipasi predator 1). Melakukan penyamaran morfologis dan pola warna tubuh agar luput

dari pandangan predatornya.2) mengembangkan alat pertahanan diri berupa duri berbisa yang terdapat pada sirip dada atau sirip punggungnya.ini dijumpai pada ikan sembilang (Plotosus canius) dan ikan lepu (Pterois volitan). 3) mengembangkan alat pertahanan diri berupa sel-sel penyengat (nematocyt) seperti yang dijumpai pada hydra, obelia. 4) mengembangkan organ penghasil zat cair yang menyerupai tinta yang disebut kantong tinta. Zat ini berguna untuk mengaburkan pandangan pemangsa. Contohnya adalah cumi (Loligo sp). 2. Adaptasi Fisiologi Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang menyebabkan adanya penyesuaian pada alat-alat tubuh untuk mempertahankan hidup dengan baik. Berikut ini adalah contoh adaptasi fungsional atau fisiologi: 1. Adaptasi fungsional hewan teresterial Hewan teresterial melakukan adapts fungsional berkaitan dengan 3 hal, yaitu suhu lingkungan, kerapatan oksigen pada suatu tempat, dan tekanan udara pada suatu tempat. a. Adaptasi fungsional untuk menghadapi suhu lingkungan yang tinggi. Hewan-hewan invertebrata daratan mengatasi suhu yang tinggi denga 3 cara yaitu menurunkan laju metabolisme, meningkatkan penguapan, dan melakukan estivasi. Pada beberapa jenis arthropoda saerah tropis diketahui bawha laju metabolismenya pada suhu lingkungan 34oC dapat turun 10-15% dibandingkan pada suhu 20oC. dalam kaitannya dengan penguapan, maka dengan meningkatkan penguapan dapat menurunkan suhu tubuh mengingat panas tubuh diambil untuk menguapkan cairan tubuh. Menyinggung estivasi, maka hal ini sering dilakukan oleh invertebrate daerah gurun. Dengan melakukan estivasi (tidur), hewan dapat mengurangi pemasukan panas dari lingkungan dan sekaligus dapat menurunkan laju metabolismenya. Pada vertebrata ektothermal seperti kadal dan penyu laju metabolismenya lebih rendah pada suhu lingkungan 35 oC dibandingkan pada suhu 15oC. Vertebrata endothermal mengatasi suhu lingkungn

yang tinggi dengan jalan melepaskan panas tubuhnya melalui proses rambatan panas dan berkeringat, serta melalui nafas yang terengah-engah. b. Adaptasi fungsional dalam menghadapi suhu lingkungan yang rendah, hewan invertebrate mungkin dapat menempuh salah satu dari 3 strategi ,yaitu 1) melakukan perubahan yang meningkatkan toleransi toleransi terhadap dingin; 2) melakukan perubahan metabolisme yang memungkinkan penurunan laju metabolisme yang memungkinkan kegiatan pada suhu yang rendah; 3)melakukan perubahan yang yang memungkinkan penurunan laju metabolisme ke tingkat yang lebih rendah. Pada vertebrata ekthotermal seperti reptile, juga melakukan perubahan yang dapat meningkatkan toleransi terhadap suhu yang rendah. Hal ini terjadi pada 29 spesies kadal Australia dan 4 jenis ular. Bagi vertebrata endothermal sperti bangsa burung dan mamalia memiliki kemmpuan yang cukup baik dalam mengatur keseimbangan suhu tubuh melalui pengaturan produksi dan pelepasan panas. Burung kecil dari jenis Nectarinia sp. Yang hidup diketinggian lebih dari 4500 meter menurunkan laju metabolismenya selama periode istirahat. c. Adaptasi fungsional dalam menghadapi kerenggangan oksigen dan turunnya tekanan udara pada suatu ketinggian tempat. Untuk mengatasi keregangan oksigen pada manusia diketahui terjadi peningkatan sekresi hormon eritroprotein yang dapat memacu produksi sel darah merah dan peningkatan mioglobin. Sehingga secara keseluruhan berpengaruh meningkatkan kapasitas pengikatan oksigen dan mempermudah pergerakan oksigen di dalam jaringan. Untuk meningkatkan reaksi oksidatif maka diketahui pula bahwa pada ketinggian tempat terjadi peningkatan jumlah mitokondria dan enzim sitokrom oksidase. Dalam kaitannya dengan tekanan, maka kerenggangan oksigen dalm udara. Dengan demikian agar oksigen di luar tubuh dapat masuk ke dalam tubuh maka hewan melakukan penyesuaian dengan melakukan penyesuaian dengan menurunkan tekanan parsial oksigen di alveolus, kapiler maupun jaringan sehingga menjadi lebih rendah dibandingkan tekanan potensial oksigen diluar. 2. Adaptasi pada hewan aquatic

Hewan aquatic melakukan adaptasi fungsional pada prinsipnya ditunjukan untuk mengatasi 4 masalah yaitu salinitas, suhu air, kadar oksigen, dan tekanan hidrostatis air. a. Adaptasi untuk mengatasi masalah salinitas pada ikan air tawar memiliki caran tubuh yang hipertonik dibandingkan dengan air di sekelilingnya menghadapi suatu masalah yaitu masuknya banyak air ke dalam tubuh dan adanya pengeluaran ion-ion melalui insangnya, untuk menyeimbangkannya maka ikan terus menerus mengeluarkan air melalui peningkatan produksi urine oleh ginjalnya. Untuk mengatasi hilangnya ion, maka ion-ion dapat digantikan melalui nutrisi. Pada ikan air laut yang cairan tubuhnya hipotonik terhadap air di sekelilingnya. Pengeluaran ion melalui insangnya. Unuk mengganti cairan ini maka ikan banyak meminum air kemudian garam yang terlarut dikirim ke darah gengan cara transportasi aktif yang dilakukan oleh sel sel sekresi yang ada di dalam saluran pencernaannya. Garam ini kemudian dikeluarkan melalui insang oleh sel-sel pensekresi garam yang terdapat pada insangnya. b. Adaptasi untuk mengatasi suhu air. Perubahan air secara alami tidak begitu drastic, mungkin hanya beberapa derajat saja. Dengan adanya tubulensi air yang dapat mengaduk air secara vertical dan horizontal, maka perubahan suhu air di kolam tidak begitu menjolok. Sedangkan pada derah air di lautan tidak begitu di ketahui karena adaptasi fisiologis untuk menghadapi perubahan suhu pada air. Pada jenis ikan dan ivertebrata -1,80C. c. Adaptasi fungsional untuk mengatasi keadaan miskin oksigen. Kadar oksigen terlarut sangatlah dipengaruhi oleh suhu air, semakin tinggi suhu air maka kadar oksigen semakin kecil. 1) Pada ikan terjadi peningkatan jumlah sel darah merah untuk meningkatkan daya tamping terhadap oksigen, 2) terjadinya penurunan laju denyut jantung pada ikan untuk menyesuaikan denagn keadaan miskin oksigen, 3) adanya peningkatan volume ventilasi sehingga jumlah laut terdapat mekanisme antibeku didalam tubuhnya untk mengantisipasi suhu air yang sangat rendah, hewan ini dapat hidup pada suhu

oksigen yang dibawa oleh darah lebih banyak. 4) pada ikan belut, keadaan miskin oksigen berakibat terhadap peningkatan asam laktat. d. Adaptasi fungsional dalam menghadapi tekanan hidrostatis. Untuk kedalaman 10 meter tekanan hidrostatis bertambah 1 atmosfer. Tekanan hidrostatis kaitannya dalam adaptasi fisiologis berpengaruh dalam enzim yang dapat mengubah kemampuan dan kecepatan enzim dalam mengikat synstrat. Diamping itu juga berpengaruh terhadap fisiologi kerja otot. 3. Adaptasi Tingkah Laku Adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian mahkluk hidup pada tingkah laku/perilaku terhadap lingkungannya. Cara ini selain untuk mendapatkan makanan juga untuk melindungi diri dari musuh atau pemangsa. Berikut ini beberapa contoh hewan yang menyesuaikan diri dengan tingkah laku: a. Bunglon Bunglon dapat merubah warna kulitnya sesuai dengan warna tempat ia berada. Ketika berada di pohon yang berwarna coklat maka tubuh bunglon akan berrwarna coklat. Begitu juga ketika ia berada di pohon yang berwarna hijau maka tubuhnya akan berwarna hijau. Perubahan warna tubuh pada bunglon merupakan bentuk penyesuaian diri agar ia terlindung dari musuhnya. Teknik perubahan warna tersebut dinaamakan mimikri. Mimikri adalah teknik manipulasi warna kulit pada binatang seperti misalnya bunglon yang dapat berubah-ubah sesuai warna benda di sekitarnya agar dapat mengelabuhi binatang predator/pemangsa sehingga sulit mendeteksi keberadaan bunglon untuk dimangsa.

b. Kalajengking

Kalajengking melindungi dirinya dari musuh dengan menggunakan sengatnya. Sengatnya ini mengandung racun yang dapat membunuh musuhnya. Selain kelajengking, hewan lain yang menggunakan zat racun untuk melindungi dirinya dari serangan musuh adalah, kelabang, lebah, dan ular. c. Cumi-Cumi Cumi-cumi melindungi diri dari musuhnya dengan cara menyemburkan cairan, seperti tinta ke dalam air. Hal ini menyebabkan musuh yang menyerangnya tidak dapat melihatnya dan ia dapat berenang dengan cepat untuk menghindari musuhnya tersebut.

d. Siput Siput memiliki pelindung tubuh yang keras dan kuat yang disebut cangkang. Hewan jenis ini melindungi diri dari musuhnya dengan cara memasukkan tubuhnya kedalam cangkang. Selain siput, kura-kura, dan penyu juga memiliki cangkang yang digunakan untuk melindungi diri dari musuhnya.

e. Cecak

Autotomi adalah teknik bertahan hidup dengan cara mengorbankan salah satu bagian tubuh. Contoh autotomi yaitu pada cicak / cecak yang biasa hidup di dinding rumah, pohon, dll. Cicak jika merasa terancam ia akan tega memutuskan ekornya sendiri untuk kabur dari sergapan musuh. Ekor yang putus akan melakukan gerakan-gerakan yang cukup menarik perhatian sehingga perhatian pemangsa akan fokus ke ekor yang putus, sehingga cicak pun bisa kabur dengan lebih leluasa. f. Ikan paus Paus adalah mamalia yang hidup di air. Seperti hewan mamalia yang lain, walaupun hidup di air paus bernapas menggunakan paru-paru. Padahal paru-paru tidak dapat mengambil oksigen dari air. Paus dan semua mamalia yang hidup di air, kurang lebih tiap tiga puluh menit muncul ke permukaan air untuk menghirup oksigen. Ketika muncul ke permukaan air laut, paus mengeluarkan sisa pernapasan berupa karbondioksida dan uap air yang sudah jenuh dengan air sehingga terlihat seperti air mancur. Setelah itu paus menghirup udara sebanyakbanyaknya sehingga paru-parunya penuh dengan udara.

g. Hibernasi Hibernasi adalah teknik bertahan hidup pada lingkungan yang keras dengan cara tidur menonaktifkan dirinya (dorman). Hibernasi bisa berlangsung lama secara berbulan-bulan seperti beruang pada musim dingin. Hibernasi biasanya membutuhkan energi yang sedikit, karena selama masa itu biantang yang berhibernasi akan memiliki suhu tubuh yang rendah, detak jantung yang lambat, pernapasan yang lambat, dan lain-lain. Binatang tersebut akan kembali aktif atau

bangun setelah masa sulit terlewati. Contoh hewan yang berhibernasi yaitu seperti ular, ikan, beruang, kura-kura, bengkarung, dan lain-lain. h. Estivasi Estivasi adalah menonaktifkan diri (dorman) pada saat kondisi lingkungan tidak bersahabat. Bedanya dengan hibernasi adalah di mana pada estivasi dilakukan pada musim panas dengan suhu udara yang panas dan kering. Hewanhewan seperti kelelawar, belut, siput air, lemur kerdil, dll akan mengestivasi diri di tempat yang aman dan terlindung. i. Simbiosis Rayap dan Flagellata=adaptasi mutual Rayap membutuhkan bantuan makhluk hidup lainnya yaitu flagelata untuk mencerna kayu yang ada di dalam usus rayap. Tanpa flagellata rayap tidak akan mampu mencerna kayu yang masuk ke dalam tubuhnya. Rayap-rayap kecil yang baru menetas mendapatkan flagellata dengan jalan menjilat dubur rayap dewasa. Rayap secara periodik melakukan aktivitas ganti kulit dan meninggalkan bagian usus lama, sehingga rayap akan memakan kulit yang mengelupas untuk memasukkan kembali flagellata ke dalam usus pencernaannya.

DAFTAR PUSTAKA Odum, E.P. 1983. Basic Ekology, W.B. Sauders Book Co. Philadelphia Rosyidi, A. 1995. Ekologi Hewan. Surakarta: UNS Press Soetjipta. 1990. Dasar-dasar Ekologi Hewan. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada

EKOLOGI HEWAN TANGGAPAN DAN PENYESUAIAN DIRI HEWAN

Oleh : ICHA KURNIA WATI P. BIOLOGI B

K4309037

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012