Anda di halaman 1dari 9

BUSINESS ETHICS CASE 1 Slavery in the Chocolate Industry

Disusun Oleh: Aditya Dwi Novanto 61A/1261004 Ascasaputra Aditya 61A/1261014 Friztina Anisa 61A/1261034 Indy Setiar Nababan 61A/1261041

MAGISTER MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS GADJAH MADA 2013

I. PENDAHULUAN Etika adalah berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu ethos yg berarti : kebiasaan/adat, akhlak,watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Etika merupakan ilmu yang mendalami standar moral perorangan dan standar moral masyarakat. Ia

mempertanyakan bagaimana standar-standar diaplikasikan dalam kehidupan kita dan apakah standar ini masuk akal atau tidak masuk akal-standar yaitu, apakah didukung dengan penalaran yang bagus atau yang jelek. Etika bukan hanya cara untuk mempelajari moralitas. Ilmu-ilmu sosial semacam antropologi, sosiologi dan psikologi juga memelajari moralitas, namun melakukannya dengan cara yang sangat berbeda dari pendekatan moralitas yang merupakan ciri etika. Meskipun etika merupakan studi normatief mengenai etika, ilmu-ilmu social terlibat dalam studi deskriptif etika. Sebuah studi normatif merupakan penelusuran yang mencoba mencapai kesimpulan-kesimpulan normatif yaitu, kesimpulan tentang hal-hal yang baik dan buruk atau tentang tindakan apa yang benar atau salah. Ringkasnya, studi normatif bertujuan menemukan apa yang seharusnya. Hal ini berbeda dengan studi deskriptif yang mana mencoba menelusuri /menginvestigasi sesuatu dan menjelaskanknya tanpa memberikan suatu kesimpulan. Etika bisnis merupakan studi yang dikhususkan untuk mempelajari mengenai moral yang benar dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan dalam kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis. Institusi yang paling berpengaruh di dalam masyarakat sekarang ini adalah institusi ekonomi. Institusi ini didesain untuk mencapai dua tujuan: (a) produksi barang dan jasa yang diinginkan dan dibutuhkan masyarakat, dan (b) distribusi barang dan jasa ke beragam anggota masyarakat. Perusahaan bisnis merupakan institusi ekonomi yang utama yang digunakan orang dalam masyarakat modern untuk melaksanakan tugas memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa. Perusahaan merupakan struktur fundamental yang di dalamnya anggota masyarakat mengombinasikan sumber daya langkah tanah, tenaga kerja, modal dan teknologimenjadi barang yang bergunadan perusahaan menyediakan saluran-saluran untuk mendistribusikan barang-barang dalam produk consumer, gaji karyawan, pengembalian investor dan pajak pemerintah. Pertambangan dan pemanufakturan, eceran, perbankan, pemasaran, pengiriman, asuransi, konstruksi dan iklan semua merupakan bagian yang berbeda dari proses produktif dan distributive institusi bisnis modern. Moralitas adalah pedoman yang dimiliki individu atau kelompok mengenai apa itu benar dan salah atau baik dan jahat. Seseorang dikatakan bertanggung jawab secara moral jika: 1. Dia membantu atau menyebabkannya 2. Ada proses pembiaran padahal dia tahu itu salah 3. Dia melakukan kegiatan tersebut tanpa paksaan Urutan enam tahapan perkembangan moral disimpulkan sebagai berikut: 1. Level Satu : Tahap Prakonvensional Pada dua tahap pertama, seorang anak dapat merespon peraturan dan ekspektasi sosial dan dapat menerapkan label-label baik, buruk, benar dan salah. Tahap Satu : Orientasi Hukuman dan Ketaatan
1

Penalaran moral mengacu pada proses penalaran dimana perilaku ,institusi, atau kebijakan dinilai atau melanggar standar moral. Penalaran moral selalu melibatkan dua komponen mendasar: a). Pemahaman yang telah dituntut, dilarang, dinilai, atau disalahkan oleh standar moral yang masuk akan dan b). Bukti atau informasi yang

Pada tahap ini, konsekuensi fisik sebuah tindakan sepenuhnya ditentukan oleh kebaikan atau keburukan tindakan itu. Tahap Dua : OrientasiInstrumendanRelativitas Padatahapini, tindakan yang benaradalah yang dapat berfungsi sebagai instrument untuk memuaskan kebutuhan anak itu sendiri atau kebutuhan mereka yang dipedulikan anak itu. 2. Level Dua : Tahap Konvensional Orang pada level perkembangan ini tidak hanya berdamai dengan harapan, tetapi menunjukkan loyalitas terhadap kelompok beserta norma-normanya. TahapTiga : Orientasi Kesesuaian Interpersonal Perilaku yang baik pada tahap konvensional awal ini memenuhi ekspektasi mereka dari mana dia merasakan loyalitas, afeksi dan kepercayaan seperti keluarga dan teman. TahapEmpat : Orientasi Hukum dan Keteraturan Benar dan salah pada tahap konvensional yang lebih dewasa kini ditentukan oleh loyalitas terhadap negara atau masyarakat sekitarnya yang lebih besar. Hukum dipatuhi kecuali tidak sesuai dengan kewajiban sosial lain yang sudah jelas. 3. Level Tiga : Tahap Post konvensional, Otonom atau Berprinsip Padatahapini, seseorang tidak lagi secara sederhana menerima nilai dan norma kelompoknya. Dia justru berusaha melihat situasi dari sudut pandang yang secara adil mempertimbangkan kepentingan setiap orang, mempertanyakan hukum dan nilai yang diadopsi oleh masyarakat dan mendefinisikan kembali dalam pengertian prinsip moral yang dipilih sendiri yang dapat dijustifikasikan secara rasional. Tahap Lima : Orientasi Kontrak Sosial Pada tahap post konvensional ini, seseorang menjadi sadar bahwa mempunyai beragam pandangan dan pendapat personal yang bertentangan dan menekankan cara yang adil untuk mencapai consensus dengan kesepahaman, kontrak dan proses yang matang. Tahap Enam : Orientasi Prinsip Etis Universal Pada tahap terakhir ini, tindakan yang benar didefinisikan dalam pengertian prinsip moral yang dipilih karena komprehensivitas, universalitas dan konsistensinya. Alasan seseorang untuk melakukan apa yang benar berdasarkan pada komitmen terhadap prinsip-prinsip moral tersebut dan dia melihatnya sebagai kriteria untuk mengevaluasi semua aturan dan tatanan moral yang lain.

menunjukkan bahwa orang ,kebijakan,institusi, atau perilaku tertentu mempunyai cirriciri standar moral yang menuntut, melarang, menilai atau menyalahkan. Secara skematis, penalaran moral atau etis biasanya mempunyai semacam struktur yang ditunjukkan gambar berikut:

MISALNYA: Sebuahmasyarakat Bersikaptidakadil JikatidakmemperLakukanminoritas setaradengan orang kulitputih.

MISALNYA: MISALNYA: Di masyarakatAmerika, 41% MasyarakatAmerikabersikap Negro ada di bawahgaris tidakadil. kemiskinan, sedangkan orang kulitputihhanya 12%. II.PERMASALAHAN

Latar Belakang Perkembangan industri coklat di Amerika dan di beberapa belahan dunia terbilang cukup pesat. Berdasarkan dari data yang diperoleh 55 % coklat yang dikonsumsi masyarakat tersebut disupply dari daerah pertanian di Ivory Coast, Afrika Barat. Dapat dilihat dari grafik dibawah ini kurang lebih sekitar 25% pendapatan daerahnya berasal dari usaha cocoa beans. Pada tahun 2008-2009 (Oktober sampai September) terdapatada 3,54 juta ton biji kakao (cocoa beans) yang dihasilkan negara Afrika memproduksi 2,45 juta ton (69%) (sumber: International Cocoa Organization-ICCO Press release 30 November 2011)

Dengan kondisi demikan menunjukkan jika mayoritas pendapatan daerah tersebut berasal dari sektor pertanian cocoa beans. Untuk menunjang

kelancaran proses dan panen maka digunakanlah tenaga kasar yang berasal dari anak laki-laki dengan rentan usia antara 12-16 tahun, terkadang menggunakan usia anak yang lebih muda, misalnya usia 9 tahun.Anak-anak tersebut didapatkan dari hasil traffickers agent yang menjualnya kepada pemililik lahan cocoa beans. Anak-anak tersebut dipaksa untuk bekerja dari matahari terbit sampai matahari tenggelam.Tempat tinggal untuk mereka pun tidaklah manusiawi dan terisolir. Akibat hal tersebut, setiap tahun beberapa dari mereka meninggal di area lahan pertanian. Beberapa media internasional berhasil mendapatkan informasi mengenai tindakan tersebut.Misalnya: True Vision, boardcast televisi milik negara Inggris mengambil video anak laki-laki yang sedang bekerja di Ivory Coast. Pada tahun 2001 Dewan HAM Amerika melaporkan data berisikan kasus penjualan anak sekitar 15.000 yang berasal dari Benin, Burkina Faso, Mali, Togo dipekerjakan sebagai tenaga buruh di Pertanian Coklat, Ivory Coast. Kemudian pada tahun yang sama ILO (International Labor Organization) juga melaporkan bahwa kasus slavery tersebar luas di daerah Ivory Coast. The New York Time melaporkan jika child slavery menjadi sebuah permasalahandi Afrika Barat. Hal yang sama dilakukan oleh Fortune Magazine dan BBC documentary. Slavery sebenarnya sudah dianggap ilegal, namunpayung hukum tidak bisa diterapkan secara tegas di Ivery Coast. Permasalahan semakin kompleks dengan rendahnya integritas penegak hukum yang dapat dengan mudah untuk disuap. Selain itu fluktuasi harga cocoa beans di global market yang mengalami tekanan sejak tahun 1996, kemudian mengalami fase naik turun. Pada akhir tahun 2010 harga cocoa beans mulai naik kembali. Berdasarkan informasi tingkat konsumsi coklat di negara Amerika sekitar 3.1 billion pounds/year. Hal tersebut di dukung atas empat perusahaan manufaktur coklat yang besar dan terkenal yang menggunakan produk cocoa beans dari Ivory Coast, yaitu:

Nama Perusahaan Hershey Foods Corp M&M Mars Nestle USA Kraft Foods Archer Daniel Midland Barry Callebeuyt Cargil, Inc

Produk Hersheys Milk,Reeses, Almond Joy M&Ms,Mars, Twix, Dove, Milky Ways Nestle Curnch,Kit Kat, Baby Ruth,Butterfingers Produk Baking & breakfast

Namun tidak semua perusahan manufaktur coklat melakukan hal demikian. Sebagai contoh Clif Bar, Could Nine,Dagoba Organic Chocolate, Denman Island

Chocolate,Gardeners Candies,Green & Blacks, Kailua Candy Company,Koopers Chocolate, L.A Burdick Chocolates, Montezumas Chocolates, Newmans Own Organics, Omanhe ne Cocoa Bean Company, Rapunzel Pure Organics, dan The Endangered Species Chocolate Company. Asosiasi perusahaan industri coklat akhirnya merespon tekanan dari komunitas anti slavery untuk aware terhadap permasalahan yang ada. US Representative Eliot Engel mengusulkan penggunaan label freeslave hal ini menunjukkan konsumen yang membeli coklat,mendukung gerakan anti perbudakan anak.Namun beberapa pihak merasa dengan adanya sistem labeling tersebut akan menurunkan tingkat penjualan, menurunkan harga cocoa. Beberapa perusahaan besar seperti Mars, Hershy, Kraft foods, Archer Daniels Midland melobi pihak yang berwenang agar tidak menyetujui sistem labeling. Pada tahun 2002, Asosiasi Chocolate Manufacture dan World Chocolate Foundation bersama-sama menandatangani perjanjian dengan nama Harkin-Engel Protocol dimana didalam perjanjian tersebut terdapat pernyataan jika cocoa beans yang digunakan untuk membuat coklat tidak berasal dari child slaves, adanya bantuan program pelatihan penanaman & sosialisasi informasi pelarangan penggunaan pekerja dibawah umur (anak-anak) pada petani coklat. Di awal tahun 2008, perusahaan-perusahaan tersebut tidak kunjung merealisasikan certification sistem atau metode lain yang bisa memastikan jika tindakan perbudakan anak tidak terlibat dalam proses produksi cocoa beans. Perusahaan tersbut menjanjikan deadline realisasi certification akan diperpanjang hingga 2010. Berbeda dengan janji yang diberikan oleh pihak perusahaan mengenai certification, pada tahun 2008 Fortune Magazine melaporkan hasil investigasinya menemukan suatu fondation yang bekerja di Ivory Coast dengan jumlah karyawan (staff member) satu orang. Foundation ini berkewajiban untuk memberikan program pelatihan penanaman & sosialisasi informasi pelarangan penggunaan pekerja dibawah umur (anak-anak) pada petani coklat. Selain itu foundation tersebut harus memastikan adanya housing / shelter yang layak, pendidikan. Permasalahan certifiation sistem merupakan pekerjaan rumah yang tidak terselesaikan sampai pada tahun 2011. Pihak representative cocoa companies berargumen mengenai permasalahan tersebut yang disebabkan oleh banyaknya petani cocoa (600.000 jiwa), yang tersebar di daerah pelosok/terisolir. Akhirnya tanpa adanya sistem certification yang efektif, besar kemungkinannya coklat yang kita konsumsi berasal dari Afrika Barat dimana didalamnya masih terkontaminasi dengan tindakan perbudakan anak-anak. III. PEMBAHASAN Kasus perbudakan anak di pertanian cocoa beans, Ivory Coast, Afrika Barat adalah contoh lemahnya nilai integritas personel sebuah negara. Kebutuhan dasar (basic needs) individu pada teori maslow dijadikan menjadi salah satu faktor mengapa terjadi suatu perbudakaan.

Kami berpendapat jika dalam kasus ini terjadi pelanggaran etika dalam berbisnis. Kami mencoba untuk melihat dari berbagai sudut pandang. Terdapat mata rantai yang sangat panjang untuk melihat kesalahan & merumuskan siapakah yang dianggap melakukan pelanggaran etika dimulai dari Individu-Cocoa FarmersTrafficking AgentGovernment-Agen middleman-Perusahaan ( Manufaktur Chocolate Company) Customer. Question and Answer 1. Apakah isu-isu etis sistemik, perusahaan dan individu yang diangkat dalam kasus ini?

Perbudakan dalam kasus industri coklat memiliki isu-isu etis sistemik, perusahaan dan individu. Pertama, dari sudut masalah etika sistemik, sistem ekonomi harus dipertimbangkan. Antara 1996 dan 2000, harga biji kakao menurun. Penurunan ini didikte oleh kekuatan global dimana petani tidak punya kendali. Dengan harga rendah, petani beralih ke perbudakan untuk mencoba memotong biaya tenaga kerja demi kelangsungan hidup mereka dalam situasi ini. Ada masalah sistemik lain berkaitan dengan aspek hukum perbudakan di industri coklat. Sebenarnya, perbudakan di perkebunan merupakan hal yang ilegal di Pantai Gading tetapi hukum jarang ditegakkan. Membuka perbatasan, kekurangan aparat penegak dan kesediaan para pejabat lokal untuk menerima suap dari anggota perdagangan budak semuanya berkontribusi terhadap masalah. Kedua, masalah etika perusahaan yang diangkat oleh kasus ini. Tengkulak yang menggiling dan memproses biji kakao mereka memperoleh dari Pantai Gading dan menjual produk ke produsen. Jadi perantara menyadari masalah perbudakan tenaga kerja. Setelah perhatian media dan kegiatan kelompok anti perbudakan, Senator AS Tom Harkin dan Perwakilan AS Eliot Engel, para anggota Chocolate Manufacturers Association dan World Kakao Foundation, bersama beberapa kelompok hak asasi manusia dan Pantai Gading menandatangani Nota Kerjasama. Mereka juga sepakat untuk membentuk suatu sistem sertifikasi. Tapi masalahnya adalah mereka tidak bisa mengontrol apapun, karena ada 1 juta perkebunan cokelat, kebanyakan dari mereka adalah perkebunan keluarga yang terletak di daerah pedesaan yang terpencil. Terakhir, ada beberapa masalah etika individu dalam kasus ini. Petani kakao berada di pusat masalah. Karena, merupakan hal ilegal untuk menggunakan tenaga kerja perbudakan anak. Juga perbuatan tidak bermoral dan salah mengambil seseorang dengan paksa. Isu kedua adalah konsumen yang tahu masalah, nama perusahaan dan terus mengkonsumsi produk mereka. Konsumen tidak boleh mengabaikannya, karena dengan setiap cokelat yang mereka beli, mereka berkontribusi kelanjutan dari perbudakan di industri coklat.

2. Di dalam pandangan Anda, apakah jenis perbudakan anak dibahas dalam kasus ini benar-benar salah apapun itu, atau hanya relatif salah, yaitu jika salah satu terjadi pada kehidupan bermasyarakat (seperti kita) yang tidak menyetujui perbudakan?

Menurut kami jawabannya akan bervariasi dari budaya ke budaya. Namun menurut kami, tidak ada cara untuk menerima perbudakan anak. Anak-anak diculik, dijual dan dipaksa panen. Petani menyiksa mereka. Dari sudut pandang tertentu, anak-anak tidak boleh digunakan untuk tenaga kerja. Mereka harus memiliki aturan untuk memilih gaya hidup mereka. Mereka harus memiliki pendidikan dan kemudian berkontribusi pada perekonomian negara dan kesejahteraan. Terlepas dari masyarakat yang mungkin tinggal didalamnya, memperkerjakan anak tentu saja adalah salah. 3. Siapakah yang bertanggung jawab atas terjadinya membagi tanggung jawab moral untuk perbudakan yang terjadi di chocolateindustry ini: petani Afrika? Pemerintah Afrika? perusahaan-perusahaan cokelat Amerika seperti Hershey, Mars, Nestle dan Kraft? Distributor seperti Archer Daniels Midland Co, Barry Callebaut, dan Cargill Inc? Konsumen seperti Anda dan saya yang tahu tentang situasi ini tetapi terus membeli cokelat tercemar?

Petani Afrika, pemerintah Afrika, perusahaan cokelat Amerika, distributor, konsumen dan orang-orang yang mengetahui situasi ini, berbagi tanggung jawab moral pada perbudakan yang terjadi di industri coklat. Petani Afrika menggunakan memperbudak anak sebagai tenaga kerja. Pemerintah Afrika tidak mengontrol atas aturan. Tengkulak membeli biji kakao dari petani yang menggunakan tenaga kerja perbudakan. Perusahaan cokelat Amerika tahu petani menggunakan tenaga kerja perbudakan dan mereka terus mempekerjakannya. Jika kita tahu nama perusahaan dan terus membeli cokelat dari mereka, kita juga secara moral bertanggung jawab untuk tenaga kerja perbudakan anak. Akibatnya, semua pemain dalam industri ikut bertanggung jawab. 4. Consider the bill that Representative Engle and Senator Harkin attempted to enact into a law, but which never became a law because of the lobbying efforts of the chocolate companies. What does this incident show about the view that to be ethical it is enough for business people to follow the law ?

4.Mempertimbangkan RUU yang diusulkan oleh Representative Engle &Senator Harkin yang berusaha untuk memberlakukan ke dalam hukum, tetapi yang tidak pernah menjadi hukum karena adanya upaya lobi dari perusahaan coklat. Apakah kejadian ini menunjukkan tentang pandangan bahwa "untuk menjadi etis itu sudah cukup untuk orang-orang bisnis untuk mengikuti hukum"? Perdagangan manusia dan pelecehan anak merupakan masalah besar di sepanjang pantai barat Afrika. Perkebunan kakao sangat terkenal karena penggunaan kerja paksa anak (dan tenaga kerja paksa orang dewasa) . Perwakilan AS Eliot Engel dan Senator Tom Harkin menciptakan sebuah protokol untuk mengakhiri perbudakan anak dan memulai pelabelan pada produk yang diproduksi "bebas perbudakan." Sebuah komite

gabungan dibentuk dan disebut Kakao Initiative Internasional, dengan tujuan untuk memiliki standar sertifikasi untuk bebas perbudakan kakao pada tahun 2005. Produsen utama coklat (termasuk Nestle dan Cargill) menandatangani protokol, secara sukarela untuk mengakhiri penggunaan pekerja anak guna menghindari undang-undang terhadap perkebunan budak di Cote d'Ivoire. Gol tersebut tidak terpenuhi, dan protokol masih belum memiliki efek pada pengurangan perbudakan anak di sepanjang Pantai Gading.

Pada bulan Juli 2005, gugatan itu dilancarkan terhadap Nestle, Cargill, dan Archer Daniels Midland. Terdiri atas nama anak-anak Mali yang dijual sebagai budak, anakanak sesuai dugaan bekerja 12-14 jam per hari tanpa bayaran, mengalami penganiayaan fisik, dan menerima sedikit makanan atau tidur. Pada bulan Agustus 2005, Nestle mengajukan mosi untuk mewajibkan semua budak anak untuk mengungkapkan nama-nama mereka, menghapus perlindungan anonimitas (dan menundukkan anak-anak dengan potensi kekerasan balasan setelah nama mereka yang diajukan dalam keluhan). Para terdakwa dalam kasus ini (Nestle, Cargill, dan Archer Daniels Midland) mengajukan pemberhentian seluruh gugatan. Dalam bantahan 2006, International Labor Rights Fund mengajukan deklarasi oposisi pemecatan. Kasus ini sedang menunggu putusan pengadilan mengenai mosi untuk membatalkan seluruh gugatan. Daftar Pustaka

http://www.antislavery.org/english/campaigns/cocoa_traders/chocolate_and_slavery_ qa.aspx ,diakses 20 April 2013 http://en.wikipedia.org/wiki/Children_in_cocoa_production, diakses 20 April 2013 Velasques, M.G. Business ethics: Concepts and cases, seventh edition. Upper Saddle River, NJ: Pearson Education, Inc