Anda di halaman 1dari 3

Pertanyaan : 1. Apa perbedaan mendasar pelaksanaan otonomi daerah pada masa orde lama, orde baru, dan reformasi?

2. Perbedaan negara federal dengan otonomi daerah? 3. Masih perlukah ikut campur pemerintah pusat yang mengatur SDA yang menyangkut kepentingan Nasional?

Jawaban 1. Pada masa Orde Lama : Sangat menghargai keberadaan daerah-daerah sebagai satu kesatuan masyarakat yang berbudaya dan memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Kekuasaan kepala daerah diminimalkan yang dikedepankan adalah kekuasaan DPRD. Memiliki nuansa parlementer. Dengan demikian sebenarnya tidak sejalan dengan UUD 1945 yang mengantu asas Presidensil. Walaupun demikian penyimpangan ini mungkin karena masih dalam masa awal kemerdekaan. Pada masa Orde Baru : Dalam kerangka struktur sentralisasi kekuasaan politik dan otoritas administrasi dibentuklah Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah.yang meliputi : Asas Dekonsentrasi Asas Desentralisasi Asas Pembantuan

Dengan pembangunaan tiga asas ini dalam sistem pemerintahan daerah secara sekaligus, maka hal ini mengaburkan makna otonomi daerah dan dalam prakteknya, Pemerintah Pusat lebih bertitik berat pada pelaksanaan asas dekonsentrasi. Hal ini nampak jelas dalam hal: a. Kewenangan menentukan Kepala Daerah Propinsi adalah pada Presiden, dan Kepala Daerah Kabupaten/Kotamadya adalah Menteri Dalam Negeri. Peran DPRD hanya menentukan pilihan calon untuk disarankan diputuskan oleh Pemerintah. b. Tidak mengatur tentang pelaksanaan pemerintahan tigkat desa. Pada masa Reformasi : Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 secara tegas mengganti prinsip otonomi Orde Baru dengan 1) Otonomi luas, nyata , dan bertanggung jawab 2) Penyelenggaraan otonomi memperhatikan aspek demokrasi, partisipasif, adil dan merata dengan memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. 3) Pelaksanaan otonomi daerah yang luas dan utuh diletakkan pada daerah kabupaten dan daerah kota. 4) Otonomi provinsi bersifat terbatas, sekaligus menjalankan fungsi dekonsentrasi

UU No 22 Tahun 1999 merupakan pergeseran pendulum yang cukup drastis dari kondisi sentralistis ke arah desentralisasi yang lebih luas. 2. Perbedaan Negara Federal dengan Otonomi Daerah : Dalam negara federal arah kewenangan dari bawah ke atas (bottom up). Negaranegara bagian adalah pihak yang terlebih dahulu menentukan apa yang akan mereka lakukan dan apa yang tidak bisa mereka lakukan itulah yang diserahkan ke pemerintah federal. Artinya, kewenangan pemerintah federal adalah kewenangan residu dari kewenangan pemerintah negara bagian. Ini berarti pemerintah negara federal pada dasarnya hanya berposisi sebagai organ yang berfungsi untuk merealisasikan kebutuhan negara-negara bagian. Tidak lebih dari itu. Sedangkan dalam sistem otonomi daerah, kewenangan daerah merupakan kewenangan yang diberikan oleh negara. Arah pembagian kewenangan antara pusat dan daerah dalam otonomi daerah merupakan kebalikan dari arah pembagian kewenangan yang ada dalam Negara Federal. Maka dalam sisten otonomi daerah pusat pada hakekatnya merupakan organ yang dibentuk untuk merealisasikan kepentingan-kepentingan pusat. Dalam pelaksanaan realisasi inilah terdapat otonomi. Jadi otonomi yang ada pada daerah tidak dapat ditafsirkan sebagai kedaulatan daerah untuk menentukan apa yang menjadi kewenangannya. Akan tetapi, otonomi yang dimaksud adalah otonomi dalam pengertian kebebasan untuk menerjemahkan kepentingan pusat.

http://ryzafardiansyah.wordpress.com/tag/federal/

Pertanyaan : 1. 2. Coba sebutkan 3 undang-undang yang menyangkut HAM? Bagaimana prosedur penyelesaian kasus HAM termasuk KDRT?

Jawaban 1. Secara garis besar hak-hak asasi manusia tercantum dalam pasal 27 sampai 34 dapat dikelompokkan menjadi : 1) Hak dalam bidang politik (pasal 27 (1) dan 28), 2) Hak dalam bidang ekonomi (pasal 27 (2), 33, 34), 3) Hak dalam bidang sosial budaya (pasal 29, 31, 32), 4) Hak dalam bidang hankam (pasal 27 (3) dan 30). Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia