Anda di halaman 1dari 2

Keluhan dan Gejala pada Skenario

Keluar lendir dan flek dari vagina Keluarnya lendir dan flek dari vagina dapat merupakan salah satu tanda in partu disamping penipisan dan pembukaan serviks serta adanya kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan serviks. Tanda in partu berupa keluarnya lendir dan flek dari vagina biasanya disebut dengan show. Tentunya munculnya gejala ini harus disertai dengan informasi-informasi yang mendukung seperti usia kehamilan yang mendekati usia persalinan, HPHT, taksiran persalinan yang cocok, serta gejala dan tanda lainnya yang mendukung. Lendir pada show berasal dari kanalis servikalis karena serviks mulai membuka dan mendatar. Sedangkan darah pada show berasal dari pembuluh-pembuluh kapiler yang berada di sekitar kanalis servikalis. Pembuluh-pembuluh kapiler ini pecah karena adanya pergeseran pada saat serviks membuka. Keluarnya show mengindikasikan terjadinya kontraksi uterus pada ibu hamil. Kemungkinan lain yang dapat menjadi pertimbangan adalah terjadinya abortus. Dapat dikonfirmasi dengan inspekulo untuk melihat asal perdarahan. Namun sangat kecil kemungkinan terjadinya hal ini karena tidak didukung oleh informasi yang lainnya. Perut terasa kenceng-kenceng Perut yang terasa kenceng-kenceng dapat merupakan manifestasi dari kontraksi yang terjadi pada uterus. Pada saat mendekati persalinan, kontraksi uterus semakin sering terjadi, frekuensi dan lama kontraksi yang terjadi juga semakin lama semakin meningkat. Terjadinya kontraksi uterus ini disebabkan oleh berbagai faktor, namun penyebab pastinya masih belum diketahui. Diperkirakan terjadi peningkatan pada faktor-faktor yang menjaga berlangsungnya kehamilan yang menyebabkan kontraksi pada uterus ini baik secara hormonal maupn secara mekanik (penjelasan lebih lanjut pada bagian Perubahan Fisiologi Persalinan berikut ini).

Perubahan Fisiologi Persalinan


Pada manusia periode gestasional berlangsung selama 280 hari 14 hari, dan persalinan cukup bulan (term) terjadi pada minggu ke 37-40 kehamilan (ada juga yang menyebutkan pada minggu ke 37-42 kehamilan). Waktu terjadinya persalinan diperkirakan muncul karena adanya suatu stimulus, namun stimulus ini masih belum diketahui dengan pasti. Salah satu kemungkinan stimulus adalah meningkatnya faktor-faktor yang menjaga berlangsungnya mekanisme kehamilan. Aktivasi proses persalinan terjadi dengan aktivasi membran, pematangan serviks, dan peningkatan responsivitas myometrium terhadap sinyal-sinyal endogen maupun eksogen. Semakin tua usia kehamilan semakin tinggi jumlah resptor oksitosin di myometrium dan semakin banyak gap junction yang berkembang di antara sel-sel myometrium serta terjadi peningkatan respon terhadap agen-agen yang dapat menyebabkan kontraksi uterus. Kemudian persalinan berlanjut dengan terjadinya kontraksi-kontraksi uterus yang sufisien

untuk menyebabkan dilatasi serviks yang progresif sehingga dapat terjadi ekspulsi fetus. Penyabab terjadinya peningkatan uterus yang sudah diketahui antara lain adalah: Perubahan Hormonal Terjadi peningkatan rasio estrogen dengan progesteron, namun peningkatan rasio ini tidak berlalu signifikan seperti pada mamalia lainnya. Kadar progesteron diperkirakan menurun atau menetap karena adanya ACTH fetal. Kondisi ini meningkatkan pembentukan gap junction myometrium, meningkatkan pembentukan prostaglandin, dan meningkatkan responsifitas uterus terhadap agen-agen yang menyebabkan kontraksi. Sedangkan kadar estrogen meningkat di akhir kehamilan yang menyebabkan pertumbuhan uterus, dan menstimulasi produksi dan pelepasan oksitosin. Efek oksitosin, baik dari ibu maupun fetus, meningkatkan responsifitas dan aktivitas kontraksi uterus. Disebabkan oleh meningkatnya jumlah reseptor oksitosin menjelang akhir kehamilan yang menyebabkan uterus menjadi semakin sensitif terhadap oksitosin. Pada saat oksitosin berikatan dengan reseptornya, oksitosin menginduksi pelepasan prostaglandin, terutama PGE2. Selain itu oksitosin meningkatkan pasase ion kalsium ke dalam sel-sel myometrium yang nantinya memicu keluarnya kalsium intrasel dari retikulum sarkoplasma. Ion-ion kalsium ini kemudian mengaktifkan aktin dan miosin untuk menghasilkan kontraksi fibril. Efek hormon fetus: Oksitosin, dari hipofisis posterior fetus, menginduksi kontraksi uterus. Kortisol dari kelenjar adrenal fetus, merupakan stimultan uterus. Progesteron dari membran fetus, meningkatkan intensitas kontraksi uterus. Perubahan Mekanis Peregangan otot uterus meningkatkan kontraktilitasnya. Peregangan atau iritasi saraf di serviks menimbulkan refleks pada corpus uteri. Daftar Pustaka: Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2008, Pelatihan Klinik Asuhan Persalinan Normal, Edisi 2008, Revisi 5 , Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Gibbs, Ronald S., Karlan, Beth Y., Haney, Arthur F., Nygaard, Ingrid E. 2008, Danforth's Obstetrics and Gynecology, 10th Edition , Lippincott Williams & Wilkins Publishers, New York. Jones, Derek Llewellyn 2002, Dasar-Dasar Obstetri dan Ginekologi, Edisi 6, Hipokrates, Jakarta. Saifuddin, Abdul Bari., Rachimhadhi, Trijatmo., Wiknjosastro, Gulardi Hanifa. 2008, Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo, Edisi 4. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.