Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Pendidikan memiliki peranan dalam rangka meningkatkan mutu sumber daya manusia yang berkualitas dan siap menghadapi kemajuan teknologi di masa yang akan datang. Berawal dari kesuksesan di bidang pendidikan suatu bangsa menjadi maju. Melalui pendidikan sumber daya manusia yang berkualitas di cetak untuk menjadi motor penggerak kemajuan dan kemakmuran bangsa. Proses pendidikan sudah dimulai sejak manusia itu dilahirkan dlam lingkungan keluarga dilanjutkan dengan jenjang pendidikan formal, terstruktur dan sistematis dalam lingkungan sekolah. Di sekolah terjadi interaksi secara langsung siswa sebagai peserta didika dan guru sebagai pendidik dalam suatu proses pembelajaran. Salah satu masalah yang dihadapi dalam dunia pendidikan adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menhafal informasi (Sanjaya, 2011: 1). Secara keseluruhan, tahapan dalam kegiatan pembelajaran yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi. Ketiga tahaapan tersebut secara funsional saling berkaitan dan masing-masing mempunyai kedudukan yang sama penting. Bekaitan dengan itu bahwa guru yang baik adalah guru yang memiliki persiapan dalam pengajaran. Pesiapan itu meliputi tiga hal pokok dalam

pemebelajaran yaitu: (1) menentukan dan merumuskan tujuan pengalaman belajar itu sendiri (2) menyusun suatu rencana strategi pengajaran dan (3) melakukan penyusunan rencana untuk menilai efektivitas dari rencana strategi pengajaran (Pasaribu dan Simanjuntak dalam Rini Sundari, 2008) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memliki kekuatan spiritual keagamaan, pengedalian diri, kepribadian, ahklak mulia, seta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyaarakat, bangsa dan Negara. Fisika merupakan mata pelajaran yang memiliki karakteristik sendiri dan memerlukan keterampilan dalam memecahkan masalah-masalah yang berupa teori yang berhubungan dengan komposisi, struktur, sifat dan perubahan energy (Depdikbud, 1999). Fisika juga berkaitan dengan keingintahuan dan memahami alam secara sistematik, sehingga fisika bukan hanya penguasaan kumpulan yang berupa fakta-fakta, konsep, serta prinsip, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Melalui pembelajaran yang berbasis penemuan, siswa belajar sains sekaligus belajar metode sains. Proses penemuan member kesempatan kepada siswa untuk memiliki pengalaman belajar yang nyata dan aktif, siswa dilatih bagaimana memecahkan masalah sekaligus membuat keputusan (Amri & Ahmadi, 2010).

Pembelajaran fisika ditujukan untuk mebangun kompetensi penguasaan konsep dan kompetensi kerja ilmiah. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bahwa hakikat Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebagai proses diwujudkan dengan melaksanakan pembelajaran yang melatih keterampilan proses bagaimana produk sains ditemukan dan keterampilan memahami konsep. Untuk

mengembangkan kompetensi penguasaan konsep dan kerja ilmiah secara simultan dalam pembelajaran fisika maka seyogyanya pembelajaran dilakukan dengan metode penemuan (discovery). Ada tiga macam metode penemuan (discovery) yaitu, penemuan terbimbing (guided discovery), inkuiri bebas (free discovery) dan ekploratori. Metode yang paling ideal untuk mengembangkan kompetensi kerja ilmiah adalah inkuiri bebas (free discovery). Seperti yang diungkapkan Ahmad dan Abudarin (2001:5) bahwa dengan metode inkuiri bebas dapat dikembangkan keterampilan proses paling banyak. Pada umumnya pelaksanaan metode ini akan mengalami kendala yang diakibatkan oleh kesulitan siswa dalam merancang ekperimen, terutama kesulitan dalam menentukan alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan, serta membuat prosedur kerja atau langkah-langkah pengerjaan yang tepat. Pendekatan yang mungkin dapat membantu guru dan siswa dalam mencapai tujuan belajar fisika diantaranya adalah pendekatan dengan motode terbimbing. Pendekatan mengajar metode penemuan terbimbing menyadarkan siswa untuk menemukan sesuatu berdasarkan prinsip dan generalisasi, serta prosedur

pembelajaran yang telah diseleksi dan dikontrol oleh guru. Dalam hal ini siswa

dibimbing oleh guru dlam mengumpulkan data, melakukan eksperimen dan dalam menentukan hasil juga telah ditentukan oleh guru. Walaupun demikian proses pembelajaran tetap berorientasi pada siswa. Selain mendorong pemahaman materi secara mendalam dan mengembangkan pemikiran siswa, metode temuan terbimbing bisa efektif untuk meningkatkan motivasi siswa (Eggen & Kauchak, 2012: 201).

1.2 Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalah yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Apakah penggunaan metode penemuan terbimbing pada pokok bahasan hukum Hooke dan elastisitas dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa ? 2. Keterampilan proses sains apa yang diperoleh siswa pada pembelajaran pokok bahasan hukum Hooke dan elastisitas dengan metode temuan terbimbing? 1.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk: 1. Mengetahui peningkatan pemahaman konsep siswa dalam pembelajaran fisika pada pokok bahasan hukum Hooke dan elastisitas setelah menggunakan metode penemuan terbimbing

2. Mengetahui keterampilan prose sains yang diperoleh siswa setelah menggunakan metode penemuan terbimbing. 1.4 Batasan Masalah Batasan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana peningkatan pemahaman konsep dan keterampilan proses sains siswa kelas XI SMAN-4 Palangka Raya pada pokok bahasan hukum Hooke dan elastisitas dengan menggunakan metode temuan terbimbing. 1.5 Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah: 1. Untuk guru, menambah wawasan pembelajarn untuk membangun kompetensi siswa dari segi pemahaman konsep dan keterampilan proses sains sehingga tujuan pembelajaran tercapai secara maksimal. 2. Untuk siswa, dapat menciptakan suasana belajar yang lebih hidupdan mengesankan sehingga siswa dapat terlibat langsung dalam proses pembelajaran, dapat menemukan konsep sendiri, memahami sendiri materi yang diajarkan dan konsep yang telah dipelajari dapat melekat lebih lama. Selain itu siswa juga dapat mengembangkan kompetensi berupa kompetensi penguasaan konsep dan kompetensi proses sains.

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Hakekat Belajar dan Pembelajaran Belajar dan pembelajaran merupakan dua hal yang saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan. Setiap ada aktivitas pembelajaran, pasti akan ada yang melakukan proses belajar. Setiap manusia yang dilahirkan di dunia ini akan mengalami suatu proses yang dianamakan belajar. Belajar merupakan suatu kegiatan yang menemani manusia sejak ia dilahirkan sampai akhirnya tiba saat untuk kembali pada Sang Pencipta, dari kegiatan belajar manusia memenuhi rasa ingin tahunya dan menerapkannya dalam kehidupan. Secara sederhana Anthony Robbins,

mendefenisikan belajar sebagai proses menciptakan hubungan antara sesuatu (pengetahuan) yang sudah dipahami dan sesuatu (pengetahuan) yang baru ( Trianto, 2010: 15). Dari defenisi ini dimensi belajar memuat beberapa unsur, yaitu: ( 1 ) penciptan hubungan, ( 2 ) sesuatu hal (pengetahuan) yang sudah dipahami, dan ( 3 ) sesuatu (pengetahuan) yang baru. Jadi dalam makna belajar, disini bukan berangkat dari sesuatu yang benar-benar belum diketahui (nol), tetapi merupakan keterkaitan dari dua pengetahuan yang sudah ada dengan pengetahuan baru (Trianto, 2010: 15). Amri & Ahmadi (2010) sebagai berikut: 1. Belajar tidak hanya sekedar menghafal, siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri. menjelaskan bahwa belajar mengacu pada proses

2.

Anak belajar dari mengalami, mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru.

3.

Pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang suatu persoalan (subject matter).

4.

Pengetahuan tidak bisa dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.

5.

Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi yang baru.

6.

Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide mereka.

7.

Proses belajar dapat mengubah struktur otak, perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang. Berdasarkan kutipan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa belajar

merupakan suatu proses perubahan yang secara sengaja dilakukan oleh individu untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik dalam kurun waktu yang relatif lama dan berlangsung secara terus menerus. Perubahan tersebut juga akan bertahan dalam waktu yang relatif lama dan bersifat pemanen. Anak dapat belajar dari proses mengalami dan mencatat sendiri pengetahuan yang baru dengan cara sendiri. Pembelajaran merupakan proses membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang menjadi penentu utama keberhasilan

pendidikan. Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik (Kunandar, 2009: 287). Dimyanti & Mudjiono (2003) berpendapat bahwa pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram untuk membuat siswa belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Selain itu, pembelajaran juga lebih ditekankan pada bagaimana upaya guru untuk mendorong dan memfasilitasi siswa belajar, bukan pada apa yang dipelajari. Sagala (2003) menjelaskan bahwa pembelajaran mempunyai dua karakteristik, yaitu: 1. Dalam proses pembelajaran melibatkan proses mental siswa secara maksimal, bukan hanya menuntut siswa sekedar mendengar, mencatat, akan tetapi menghendaki aktivitas siswa dalam berfikir. 2. Dalam pembelajaran membangun suasana dialogis dan proses tanya jawab terus-menerus yang diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berfikir siswa, yang pada gilirannya kemampuan berfikir itu dapat membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan yang mereka konstruksi sendiri. Berdasarkan penjelasan di atas pembelajaran adalah setiap kegiatan yang dirancang oleh guru untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan atau nilai yang baru dalam suatu proses yang sistematis melalui tahap rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam konteks kegiatan belajar mengajar.

2.2 Pemahaman Konsep Pemahaman konsep berasal dari dua buah kata yaitu, pemahaman dan konsep. Pemahaman (Understanding), yaitu kedalaman pengetahuan yang dimiliki setiap individu (Sanjaya, 2011: 70). Carrol (dalam Trianto, 2010: 158) mendefenisikan konsep sebagai suatu abstraksi dari serangkaian pengalaman yang didefenisikan sebagai suatu kelompok objek atau kejadian. Pemahan konsep dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan kedalaman pengetahuan yang dimiliki oleh individu atas abstraksi serangkaian pengalaman. Pemahaman konsep adalah kemampuan siswa dalam memahami arti/konsep, situasi serta fakta yang diketahui, serta dapat menjelaskan dengan menggunakan kata-kata sendiri sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya dengan tidak mengubah arti. Menurut Sudjana (1991) pemahaman dapat dibedakan kedalam tiga kategori yaitu: 1. Tingkat terendah adalah pemahaman terjemahan, mulai dari terjemahan dalam arti sebenarnya. 2. Tingkat kedua adalah pemahaman penafsiran, yakni menghubungkan bagianbagian terdahulu dengan yang diketahui berikutnya. 3. Tingkat ketiga atau tingkat tertinggi adalah pemahaman ekstrapolasi. Dengan ekstrapolasi diharapkan seseorang mampu melihat dibalik yang tertulis, dapat membuat ramalan tentang konsekuensi atau dapat memperluas persepsi dalam arti waktu, dimensi, kasus ataupun masalahnya. Sagala (2003) memaknai konsep sebagai buah pemikiran seseorang atau sekelompok orang yang dinyatakan dalam defenisi sehingga melahirkan produk

pengetahuan meliputi prinsip, hukum dan teori. Konsep diperoleh dari fakta, peristiwa, pengalaman, melalui generalisasi dan berfikir abstrak, kegunaan konsep untuk menjelaskan dan meramalkan. Konsep menunjukkan suatu hubungan antar konsep-konsep yang lebih sederhana sebagai dasar perkiraan atau jawaban manusia terhadap pertanyaan- pertanyaan yang bersifat asasi tentang mengapa suatu gejala itu bisa terjadi (Sagala, 2003: 71). Sagala (2003) menyatakan bahwa konsep merupakan abstraksi berdasarkan pengalaman dank arena tidak ada dua orang yang mempunyai pengalaman yang sama persis, sehingga konsep-konsep yang dibentuk sangat mungkin berbeda. Rifani (2013: 10) pemahaman konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili suatu kelas objek, kejadian, kegiatan atau hubungan yang mempunyai atribut yang sama. Indikator dari pemahaman konsep terdiri mencontohkan (exemplifying), dari menafsirkan (interpreting), (classifying), meringkas

mengelompokkan

(summarizing), menyimpulkan (inferring), membandingkan (comparing) dan menjelaskan (explaining) (Rifani, 2013: 10). 2.3 Keterampilan Proses Sains Keterampilan proses sains adalah pendekatan yang didasarkan pada anggapan bahwa sains itu terbentuk dan berkembang melalui suatu roses ilmiah. Proses ilmiah harus dikembangkan pada siswa sebagai sebuah pengalaman yang bermakna. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) selalu mempunyai dampak kepada masyarakat. Fisika merupakan salah mata pelajaran yang termasuk dalam kategori IPA sehingga dalam proses pembelajarannya selalu berkaitan dengan alam sekitar. Paul DeHart Hurd

(dalam Subiyanto, 1988: 105) mengemukakan bahwa masyakat yang mengalami perubahan dengan cepat berkat kemajuan Imu Pengetahuan Alam menghendaki adanya program pendidikan yang dirancang untuk dapat memenuhi tantangan perubahan itu. Pada hakekatnya, kemajuan tidak semata-mata ditentukan oleh tersedianya sumber alat dan bahan, melainkan lebih banyak ditentukan oleh kemampuan manusia serta berkembangnya pengetahuan yang dimilikinya

(Subiyanto, 1988: 105). Subiyanto (1988) berpendapat salah satu kewajiban guru Ilmu Pengetahuan Alam adalah mengajarkan proses inkuari (inquiry), metode penemuan terbimbing merupakan bagian dari pembelajaran inkuari. Kemampuan untuk membentuk konsep Ilmu Pengetahuan Alam tergantung dari latar belakang siswa dan kondisi ketia ia diajar (Subiyanto, 1988: 106). Subiyanto berpendapat (1988) untuk mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam dikenal beberapa pendekatan, salah satu mengajarkannya adalah dengan

menggunakan pendekatan proses, pendekatan proses dalam suatu pembelajaran fisika didasarkan atas pengamatan terhadap apa yang dilakukan oleh seorang ilmuwan, proses tersebut dinamakan ketermapilan proses sains. Subiyanto (1988)

mengelompokkan keterampilan proses sains menjadi dua kelompok keterampilan yaitu: (1) keterampilan dasar, dan (2) keterampilan terintergrasi. Keterampilan dasar terdiri atas: (a) observasi, (b) klasifikasi, (c) komunikasi, (d) pengukuran, (e) prediksi, (f) penarikan kesimpulan. Keterampilan terintergrasi terdiri atas: (a) mengidentifikasi variabel, (b) menyusun table data, (c) menyusun grafik, (d) menggambarkan hubungan diantara variabel-variabel, (e) memperoleh dan memperoses data, (f)

menganalisis investigasi, (g) menyusun hipotesis, (h) merumuskan variabel-variabel secara operasional, (i) merancang investigasi, (j) melakukan eksperimen. Berdasarkan pengelompokkan yang dilakukan oleh Subiyanto, dalam penelitian ini penulis hanya mengkaji jenis keterampilan proses sains dasar. Adapun penjelasan bagian-bagian dari keterampilan proses dasar sebagai berikut: a. Observasi, siswa melakukan observasi terhadap obyek dan fenomena alam dengan mempergunakan indera. Kemampuan melakukan observasi merupakan keterampilan yang paling mendasar dalam Ilmu Pengetahuan Alam dan penting untuk mengembangkan keterampilan proses yang lain. b. Klasifikasi, kalasifikasi merupakan keterampilan proses yang merupakan inti untuk pembentukan suatu konsep. Berdasarkan atas tujuan klasifikasi, obyek dapat digolong-golongkan berdasarkan ukuran, bentuk, warna, atau berbagai sifat yang lain. c. Komunikasi, kemampuan berkomunikasi dengan orang lain merupakan dasar bagi segala hal yang kita kerjakan. Grafik, peta, sibol, diagram persaamaan matematiak, demonstrasi visual, maupun perkataan lisan atau tertulis merupakan sutau metode komunikasi yang sering digunakan dalam pembelajaran fisika. d. Pengukuran, keterampilan melakukan pengukuran diperlukan untuk dapat melakukan observasi kuantitatif, mengklasifikasikan dan membanddingkan benda-benda di sekitar, dan berkomunikasi secara jelas dengan orang-orang lain. e. Prediksi, merupakan ramalan tentang observasi masa depan. Prediksi berhubungan erat dengan observasi, menarik kesimpulan dan klasifikasi. Prediksi

didasarkan atas observasi yang seksama dan penarikan kesimpulan yang sahih mengenai hubungan antar peristiwa-peristiwa yang diobservasi. f. Penarikan kesimpulan, merupakan penjelasan atau interpretasi suatu observasi, hal ini didasari oleh observasi yang merupakan pengalaman yang diperoleh siswa oleh indera. (Subiyanto, 1988) Sagala (2003) menjelaskan bahwa pendekatan proses adalah suatu pendekatan pengajaran member kesempatan pada siswa untuk ikut menghayati proses penemuan atau penyusunan suatu konsep sebagai suatu ketesrampilan proses, dalam pendekatan proses ini, siswa tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga dari sesame temannya, dari manusia-manusia sumber di luar sekoalah. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan oleh siswa dalam pembelajaran yang menggunakan pendekatan proses adalah: (1) mengamati gejala yang timbul, (2) mengkalsifikasikan sifat-sifat yang sama, (3) mengukur besaran-besaran yang bersangkutan, (4) mencari hubungan antar konsepkonseo yang ada, (5) mengenal adanya suatu masalah, (6) memperkirakan penyebab suatu gejala, (7) meramalakan gejala yang mungkin akan terjadi, (8) berlatih menggunakan alat-alat ukur. (9) melakukan percobaan, (10) mengumpulkan, menganalisis dan menafsirkan data, (11) berkomunikasi, dan (12) mengenal adanya variabel. Pendekatan keterampilan proses juga mempunyai keunggulan dan kelemahan. Keunggulan pendekatan proses adalah: (1) member bekal cara memperoleh pengetahuan, hal yang sangat penting untuk pengembangan pengetahuan masa depan;

dan (2) pendahuluan proses bersifat kreatif, siswa aktif, dapat meningkatkan keterampilan berfikir dan cara memperoleh pengetahuan. Sedangkan kelemahannya adalah: memerlukan banyak waktu sehingga sulit untuk dapat menyelesaikan bahan pengajaran yang ditetapkan dalam kurikulum; (2) memerlukan fasilitas yang cukup baik dan lengkap sehingga tidak semua sekoah dapat meyediakannya; dan (3) merumuskan masalah, menyusun hipotesis, merancang suatu percobaan untuk memperoleh datayang relevan adalah pekerjaan sulit, tidak semua siswa dapat melaksanakannya. ( Sagala, 2003: 74) 2.4 Pembelajaran Sains (fisika) Sejak peradaban manusia, orang telah berusaha untuk mendapat sesuatu dari alam sekitarnya. Dorongan ingin tahu yang telah ada sejak kodratnya dan penemuan adanya sifat keteraturan di alam mempercepat bertambahnya pengetahuan, dan dar sinilah perkembangan sains dimulai (Trianto, 2010: 135). Dapat disimpulan dari pernyataan tersebut bahwa sains bermula timbul dari rasa ingin tahu manusia, dari rasa keingin tahuan tersebut membuat manusia mengamati terhadap gejala-gejala alam yang ada dan mencoba memahaminya. Ilmu Pengetahuan Alam dalam hal ini fisika merupakan bagian dari ilmu pengetahuan atau Sains yang semula berasal dari baha Inggris science, kata science sendniri berasal dari kata dalam bahasa Latin scientia yang berarti saya tahu, dalam perkembangannya science diterjemahkan sebagai sains yang berarti Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) (Trianto, 2010).

Menurut H.W Fowler (dalam Trianto, 2010: 136), IPA adalah pengetahuan yang sistematis dan dirumuskan, yang berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan dan didasarkan terutama atas pengamatan dan deduksi. IPA mempelajari alam semesta, benda-benda yang ada di permukaan bumi, di dalam perut bumi dan di luar angkasa, baik yang dapat diamati indera maupun yang tidak dapat diamati indera. Oleh kerana itu, dalam menjelaskan hakekat fisika, pengertian IPA dipahami terlebih dahulu. Wahyana (dalam Trianto, 2010: 136) mengatakan bahwa IPA adalah suatu kumpulan pengetahuan tersusun secara sistematik, dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam. Pada hakikatnya IPA dibangun atas dasar produk ilmiah, proses ilmiah, dan sikap ilmiah. Selain itu, IPA dipandang pula sebagai proses, sebagai produk, dan sebagai prosedur. Sebagai proses diartikan semua kegiatan ilmiah untuk menyempurnakan pengetahuan tentang alam maupun untuk menemukan pengetahuan baru (Trianto, 2010: 137). Secara umum IPA meliputi tiga bidang ilmu dasar, yaitu biologi, fisika, dan kimia. Fisika merupakan salah satu cabang IPA, dan merupakan ilmu yang lahir dan berkembang lewat langkah-langkah observasi, perumusan masalah, penyusunan hipotesis, pengujian hipotesis melalui eksperimen, penarikan kesimpulan, serta pertemuan teori dan konsep (Trianto, 2010: 137). Dapat dikatakan bahwa hakikat fisika adalah ilm pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala melalui serangkaian proses yang dikenal dengan proses ilmiah yang dibangun atas dasar sikap ilmiah dan hasilnya terwujud sebagai produk ilmiah yang tersusun atas tida komponen yang

terpenting berupa konsep, prinsip dan teori yang berlaku secara universal (Trianto, 2010: 138). Secara khusus fungsi dan tujuan IPA berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi menurut Depdiknas (dalam Trianto, 2010) adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. Menanamkan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Mengembangkan keterampilan, sikap dan nilai ilmiah. Mempersiapkan siswa menjadi warga negara melek sains dan teknologi. Menguasai konsep sains untuk bekal hidup di masyarakat dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. 2.5 Metode Penemuan Terbimbing James B. Conant (dalam Subiyanto, 1988: 3) membuat suatu perkiraan bahwa ilmu pengetahuan muncul dari lain-lain aktivitas progresif manusia sedemikian hingga muncul konsep-konsep baru dari berbagai eksperimen dan observasi, dan konsep-konsep baru ini kemudian akan mendorong kepada dilakukannya eksperimeneksperimen dan observasi-observasi lebih lanjut. 2.5.1 2.5.2 2.5.3 Pembelajaran Menggunakan Metode Penemuan Terbimbing Tahapan-tahpan Metode Penemuan Terbimbing dalam Pembelajaran Keunggulan dan Kelemahan Metode Penemuan Terbimbing

2.6 Materi Hukum Hook dan Elastisitas 2.7 Pertanyaan Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian 3.2 Lokasi Penelitian 3.3 Tahap-tahap Penelitian 3.4 Sumber Data 3.5 Prosedur Pengambilan Data