Anda di halaman 1dari 14

Bab Empat Faktor Pemengaruh Menyimak

A. PENGANTAR 1. Faktor Pemengaruh Menyimak Dalam bab ini kita akan perbincangkan secara berturut-turut hal-hal yang menyangkut masalah :
1. Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan menyimak, 2. Kebiasaan-kebiasaan jelek dalam kegiatan menyimak,

Sebelum kita sampai pada pembicaraan setiap faktor yang dapat mempengaruhi proses kegiatan menyimak, ada baiknya kalau kita memantau pendapat beberapa pakar atau ahli mengenai aneka jenis faktor sehubungan dengan topik ini. Ada pakar yang mengatakan bahwa ada lima faktor yang mempengaruhi menyimak, yaitu
1. Sikap 2. Motivasi 3. Pribadi 4. Situasi kehidupan 5. Peranan dalam masyarakat ( Hunt; 1981 : 19-20 ).

Pakar lain mengemukakan hal-hal lain berikut ini yang merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi menyimak, yaitu
1. Pengalaman, 2. Pembawaan,

3. Sikap atau pendirian, 4. Motivasi, daya penggerak, prayojona, dan 5. Perbedaan jenis kelamin atau seks ( Webb, 1975 : 137-9).

Di samping itu, ada pula pakar yang mengemukakan faktor-faktor berikut ini :
1. Faktor lingkungan, yang terdiri atas lingkungan fisik dan lingkungan sosial, 2. Faktor fisik, 3. Faktor psikologis, dan 4. Faktor pengalaman ( logan [et all], 1972:49-50).

Demikianlah hasil pemantauan kita dari tiga sumber mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi menyimak itu. Ketiga sumber mempunyai persamaan dan perbedaan. Setelah kita bandingkan ketiganya, dapatlah kita simpulkan bahwa faktor-faktor pemengaruh menyimak itu adalah sebagai berikut :
1. Fisik, 2. Psikologis, 3. Pengalaman, 4. Sikap, 5. Motivasi, 6. Jenis Kelamin, 7. Lingkungan, 8. Peranan dalam masyarakat.

2. KEBIASAAN JELEK DALAM MENYIMAK

Beberapa telaah bandingan serta wawancara dengan berates-ratus orang, yang pernah dilakukan oleh Dr. Nichols, membuat beliau sampai pada kesimpulan adanya delapan diantara sepuluh kebiasaan jelek yang secara universal mengganggu kegiatan menyimak. Berikut ini akan kita perbincangkan secara singkat setiap kebiasaan jelek itu dan bila mungkin, mengemukakan saran-saran untuk mengatasinya.
2.1.

Menyimak lompat Tiga

Orang berbicara mempergunakan kata-kata dengan kecepatan kira-kira 125 buah kata per menit. Ada untungnya bila kegiatan berpikir pun diukur dalam kata-kata per menit, sebab akan nyata terlihat bahwa kebanyakan orang dapat berpikir dengan mudah dengan kecpatan empat kali dari kecepatan berbicara tadi. Ternyata hal ini amat susah sekali, bahkan menyakitkan hati, dan memperlambat kecepatan berpikir kita. Oleh karena itu kita mempunyai kira-kira 400 kata per menit dalam berpikir untuk menghadapi orang yang berbicara kepada kita. Yang menjadi masalah, apakah yang akan kita perbuat dengan kelebihan waktu berpikir sementara orang berbicara kepada kita? Baiklah, kita mulai menyimak dengan tekiun dan seksama, tetapi secara tidak sadar kita melihat dan merasakan bahwa (masih) ada waktu yang terbuang. Dengan demikian pikiran kita pun beralih kepada sesuatu yang lain sejenak, kemudian menyerbu kembali cepat-cepat kepada pembicara. Penjelajahan atau petualangan singkat sampingan pikiran tersebut akan berlangsung terus sampai pikiran terpaku, tertahan terlalu lama pada beberapa subjek yang menarik, tetapi tidak relevan. Kemudian, tatkala pikiran kita kembali kepada orang yang berbicara, kita mendapati bahwa ia telah jauh meninggalkan kita. Penyimak yang baik akan menghindari petualangan-petualangan mental ini. Dia akan

mempergunakan kecepatan berpikirnya untuk mencari dan mendapatkan keuntungan; dia akan tetap memerankan waktu berpikirnya kepada segala sesuatu yang diucapkan oleh pembicara. Hal-hal tersebut diatas tidaklah mudah dilaksanakan kalau kita tidak mempunyai suatu pola berpikir tertentu yang harus diikuti dan untuk mengembangkan pola berpikir seperti itu kita hendaklah :

a. Mencoba mengetahui terlebih dahulu apa yang harus dikatakan oleh pembicara.

Berdasarkan apa yang telah dikatakannya itu, tanyalah diri kita sendiri, Apa yang hendak ditemukan oleh pembicara? Maksud apa yang hendak dicapainya?
b. Merangkumkan secara mental apa yang dikatakan oleh pembicara dan tujuan apa yang

telah tercapai oleh pembicara, kalau ada.


c. Mempertimbangkan keterangan pembicara dengan jalan menanyakan secara mental.

Kalau pembicara mengemukakan fakta-fakta serta cerita-cerita ilustratif dan statistic, tanyakanlah pada diri kita sendiri, Apakah fakta-fakta itu tepat? Apakah fakta-fakta itu dating dari sumber yang bebas dari prasangka? Apakah saya memperoleh gambaran yang utuh, ataukah dia hanya menceritakan hal-hal yang yang dapat menunjang pendapatnya?
d. Mendengarkan, menyimak yang tersirat. Segala sesuatu tidak perlu dinyatakan dengan

kata-kata. Perubahan nada suara, gerak-gerik tangan dan mimik mungkin saja mengandung kata tertentu.

2.2.

Menyimak Supersensitive

Seandainya Anda telah megembangkan pendapat atau prasangka yang mendalam, seseorang yang berbicara kepada Allah mungkin tanpa disadari secara lisan menghina Anda dengan kata-kata yang menusuk hati. Kalau memang benar begitu, secara tidak sadar Anda berhenti menyimak kepadanya. Anda mencoba menginterupsi dia, merencanakan suatu pertanyaan pelik yang memalukanya, ataupun Anda menyediakan suatu tangkisan atau bantahan yang benar-benar menusuk hatinya. Inilah berbagai rencana yang akan Anda laksanakan. Sementara itu Anda sibuk dengan renungan yang muluk-muluk dan menyenangkan itu, oarng tersebut terus berbicara, dan Andapun kehilangan ide-ide pokok, gagasan-gagasan penting yang dikemukakannya. Aduh, sayangnya! Pemecahanya: Awasilah diri Anda sendiri dan selalulah simak baik-baik ujaran, ceramah, kuliah, dan pidato orang tersebut. Kalau dia telah selesai berbicara, barulah rencanakan pertanyaan-pertanyaan serta bantahan-bantahan yang akan dilontarkan kepadanya.
4

2.3.

Menghindari penjelasan yang sulit

Cobalah teliti diri Anda. Apakah Anda termasuk orang yang suka menghindari penjelasanpenjelasan yang sulit dimengerti dari suatu pembicaraan? Memang, banyak sekali orang yang berbuat demikian. Hal itu merupakan suatu perbuatan yang jelek karena pada akhirnya Anda akan mendapati diri sendiri tidak luput dari menyimak sesuatu yang sulit maka usaha untuk menghindari hail itu seolah-olah tidak aka nada gunanya dan Anda tidak akan menyimak secara efektif. Pemecahanya: simaklah baik-baik diskusi mengenai subjek yang menuntut supaya untuk memahami dan mengerti maknanya seperti komentar-komentar radio atau diskusi-diskusi panel dalam acara televisi. Perlu diingat dan disadari betul bahwa masalah bukan untuk dihdari, tetapi untuk dipecahkan atau diselesaikan.
2.4.

Menolak secara Gegabah suatu Subjek sebagai Sesuatu yang Tidak Menarik

Adakalanya, apabila seseorang mulai berbicara, mungkin saja kita merasa bahwa pembicaraanya itu terlalu banyak, menuntut upaya untuk berkonsentrasi, lalu kita berpikir, tidak ada ang menarik dari pembicaraan itu. Kita menutup diri, menjauhkan perhatian dari ujarannya, dan membiarkan pikiran kita berkelana menuju topik-topik yang lebih menyenangkan, lebih memesonakan. Ini jelas merupakan kebiasaan menyimak yang jelek, yang tak pantas ditiru. Untuk memperbaiki kebiasaan menyimak yang jelek ini, kita disarankan untuk mengadakan suatu ancangan atau pendekatan egois, mengingat kepentingan diri sendiri. Memang mungkin saja subjek tersebut tidak menarik perhatian, tetapi jangan dilupakan bahwa orang yang paling membosankan sekalipun biasanya memiliki beberapa ide baik yang hendak disajikannya. Hargailah dan manfaatkanlah buat diri sendiri, ide-ide apa saj yang disumbangkannya. Yang tidak menarik perhatian, tidak selalu tidak berguna, bukan?
2.5.

Mengkritik Cara dan Gaya Fisik Pembicara

Karena suatu hal, adakalanya seseorang berhenti menceritakan sesuatu yang menguntungkan kita. Tentu kita kecewa dan jengkel. Kalau sepetunya jorok, lusuh, dan dia pun teller atau teledor serta gagap berbicara, kita dapat saja seenaknya berpikir, orang yang
5

bersepatu/jorok, lusuh serta teller atau teledor dan gagap berbicara, tidak akan dapat banyak bicara yang banyak dan lancar; buktinya orang ini! kita lupa bahwa orang tersebut mungkin saja member kunci atau jalan menuju keberhasilan hidup; tetapi sayangnya kita tidak menyimak atau pembicaraan selanjutnya. Kalau kita menyadari kalau diri kita termasuk tipe orang yang begini, yaitu orang yang suka mengkritik secara mental pakaian orang, ataupun nada-nada suara yang kurang baik serta mengkritik cara dan gayanya berbicara, tunggulah sampai orang itu selesai berbicara agar kita dapat memahami isi keseluruhan ujarannya itu.

2.6.

Memberi Perhatian Semu

Ada orang yang pernah berkata dengan seenaknya, kalau saja saya terlihat menyimak, segala sesuatu beres! Dia telah membuat dirinya sendiri sebagai pribadi yang menyenangkan, mengarahkan kedua matanya dengan tatapan tanpa kedipan kearah pembicara, tetapi sebenarnya ia tidak mendengar apa-apa, tidak menyimak sesuatu pun. Sesungguhnya orang tersebut telah menipu dirinya sendiri. Dia orang yang munafik. Penyimak akan jarang sekali mengelabui orang yang berbicara karena menyimak menuntut suatu pengeluaran tenaga yang diakui paling sedikit secara tidak sadar olehnya. Lebih jauh lagi, dia menipu diri sendiri, keluar dari satu kesempatan berharga untuk belajar dari apa yang telah dikatakan, keluar dari jalur yang wajar. Oleh karena itu, dia lebih baik berhenti dari kedunia kepura-puraan, dari perhatian semua itu, lalu masuk kedunia nyata, keperhatian yang terarah dan masuk pada hal-hal yang dikemukakan oleh pembicara.
2.7.

Menyerah pada Gangguan

Kita hidup dalam abad yang riuh-rendah; gangguan kebisingan peradaban modern mengelilingi kita. Kita terganggu bukan hanya oleh sesuatu yang kita dengar, tetapi juga oleh sesuatu yang kita lihat. Pendek kata, polusi disegala bidang. Kalau kita penyimak yang jelek,

gangguan-gangguan tersebut akan mnejauhkan perhatian kita dari sesuatu yang dikatakan oleh seseorang. Penyimak yang baik tentu berjuang menantang gangguan-gangguan ini. Kadang-kadang memang memang mudah melakukan gangguan-gangguan itu;dengan menutup pintu; mematikan radio atau televisi, bergerak lebih dekat kepada orang yang berbicar, atau meminta agar dia berbicara lebih keras. Kalau gangguan-gangguan itu tidak dapat diatasi dengan mudah, masalahnya kini adalah

masalah konsentrasi, masalah pemusatan pikiran. Kita harus dapat mengusahakan agar perhatian kita tetap asik dan terarah pada hal-hal, ide, dan gagasan yang dikemukakan oleh penceramah atau pembicara. Pendek kata, penyimak yang baik pantang menyerah pada gangguan; dia harus dapat mengalahkan gangguan.

2.8.

Menyimak dengan Kertas dan Pensil di Tangan

Ada orang yang beranggapan bahwa cara belajar yang terbaik dari menimak adalah dengan jalan membuat catatan sebanyak mungkin. Orang yang beranggapan seperti ini, akan terbenam dan terlibat dalam kegiatan fisik menulis. Kerap kali ia mencoba membuat kerangka yang telah diutarakan oleh pembicara, dan menjadi rangkuman yang berupa tandatanda, simbol-simbol, dan angka-angka. Dia sama sekali lupa bahwa dengan berbuat seperti itu sebenarnya dia hanyalah setengah menyimak. Kegiatan yang setengah-setengah tentu tidak akan memberi hasil yang memuaskan. Bagi orang yang telah kejangkitan kebiasaan jelek seperti ini, perlu disarankan agar ia meletakan pensil saja. Dia harus memusatkan daya dan pikiran pada kegiatan menyimak secara serius. Kalau memang dia merasa ada sesuatu yang harus dicatat, simaklah terlebih dahulu baik-baik, baru setelah itu ditulis, dicatat dalam beberapa patah kata saja. Hal-hal penting yang dikemukakan oleh pembicara harus dicatat dengan singkat, padat dan tepat. Pergunakanlah kata-kata kunci dalam catatan. Perlu diingat dan disadari bahwa panjangnya catatan tidak otomatis menjamin mutu catatan. Prinsip yang harus dipegang adalah bahwa catatan harus dibuat sesingkat mungkin, tetapi mudah dimengerti dan mudah dikembangkan.
7

Mencatat sama sekali tidak diidentik dengan merekam; kedua kegiatan ini sanagat berbeda. Mencatat harus dilakukan dengan penuh pengertian dan pemahaman. Mencatat itu bersifat selektif dan kritis, sedangkan merekam bersifat mekanis dan reseptif penuh. ( Salisbury, 1955 : 231 2 ).

Bab Enam : Meningkatkan Daya Simak


A. PENGANTAR Salah satu tujuan pengajaran bahasa ialah agar para siswa terampil berbahasa, terampil menyimak, terampil berbicara, terampil membaca, dan terampil menulis. Oleh karena itu, dari setiap guru bahasa diharapkan timbulnya upaya demi peningkatan keterampilan berbahasa anak didiknya. Dalam bab ini kita akan memperbincangkan beberapa hal yang ada kaitannya dengan peningkatan daya simak, antara lain:
1. Aneka pengalaman audio pemertinggi kemampuan menyimak, 2. Aneka kegiatan peningkat daya simak, 3. Sikap guru yang turut mempertinggi daya simak siswa,

4. Kualifikasi guru dalam bidang menyimak, 5. Upaya menjadi penyimak efektif, dan 6. Cara mengatasi kendala dalam kegiatan menyimak,

1. Aneka Pengalaman Audio Pemertinggi Kemampuan Menyimak,

Tidak dapat disangka lagi bahwa pengalaman-pengalaman audio pun dapat meningkatkan daya simak seseorang. Di antara pengalaman-pengalaman serta kegiatan-kegiatan yang akan turut mempertinggi daya simak para siswa, yaitu :
1.1.

Menyimak pada guru apabila dia:

a. Memperkenalkan bunyi-bunyi, urutan-urutan bunyi, pola-pola intonasi, dan ucapan-

ucapan dengan tekanan-tekanan serta jeda-jeda yang kontrastif;


b. Memberikan petunjuk-petunjuk yang ada hubungannya dengan kegiatan kelas sehari-

hari, misalnya: mencatat kehadiran, memberikan pekerjaan rumah, atau tugas-tugas;


c. Menceritakan suatu kisah, dongeng serta fiksi lainnya. 1.2. Menyimak pada para siswa lainnya, yaitu memberi petunjuk-petunjuk, menceritakan

aneka kejadian atau kejadian.


1.3.

Turut serta mengambil bagian atau peranan dalam suatu dramatisasi atau dialog

tertentu.
1.4. Menyimak pada para pembicara yang diundang dari luar atau pada personalia sekolah

lain.
1.5.

Menyimak pada rekaman-rekaman bahkan ucapan, struktur, atau kosa kata; pada

imla; latihan-latihan pemahaman, puisi, pidato, nyanyian, atau lakon-lakon berkali-kali, berulang-ulang sehingga mendapat isi keseluruhan, dapat mendahului atau menambah apa kira-kira yang ingin mereka dengarkan.

2. Aneka Kegiatan Peningkat Daya Simak

Para guru yang arif bijaksana yang telah berpengalaman bertahun-tahun di muka kelas dengan mudah dapat menemukan beraneka ragam kegiatan yang akan turut meningkatkan kegiatan menyimak ( yang tajam dan mendalam ) para anak didik mereka. Berikut ini kita kemukakan beberapa bentuk daya menyimak. Beberapa dari situasi tersebut mungkin dapat dimanfaatkan dalam bentuk yang disajikan disini, sedangkan yang lain-lainnya mungkin perlu mengalami variasi-variasi sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. Pembicaraan kita di sini terbatas pada kegiatan-kegiatan peningkatan daya menyimak konversasif, apresiasif, eksplorasif, dan konsentratif saja.
3. Sikap Guru Turut Mempertinggi Daya Simak

Dari pengalaman dapat kita lihat bahwa sikap guru dapat memengaruhi siswa, inklusif terhadap penyimak. Dapat dikatakan bahwa waktu pengajaran yang dibutuhkan dalam menyimak dan bercerita atau berbicara hampir sama banyaknya. Kita menyimak untuk menemukan serta memahamai minat dan kecenderungan pembicara. Guru yang bijaksana menyimak baik-baik untuk membesarkan hati, untuk mendorong ekspresi anak didiknya. Yang menjadi pertanyaan kita kini, sikap guru yang bagaimanakah yang turut meningkatkan daya simak para siswa? R.G. Nichols dan Leonard A. Stevens dalam buku mereka yang berjudul Are you Listening? memberikan saran atau petunjuk-petunjuk berikut ini: 3.1. Sediakan waktu untuk menyimak. Apabila siswa mengalami kesukaran atau ingin

berbicara, berilah dia kesempatan kalau keadaan memungkinkan. Kesempatan seperti itu akan membantu menjelaskan komunikasi dua arah antara guru dan anak didik. 3.2. Berilah perhatian, Apabila seseorang sedang mencurahkan isi hatinya, biarkanlah semburan kata-kata marah yang berlangsung lama itu mengalir keluar tanpa putus-putus, tanpa gangguan apa-apa. Guru yang bijaksana akan mencoba menyatakan bahwa dia mau memahami orang itu, dia mau menyimak curahan isi kalbunya.
10

3.3. Jangan mengorek-ngorek fakta tambahan. Perlu disadari benar bahwa ada perbedaan antara kesudian, kerelaan menyimak dan keingintahuan. Tujuan guru dalam menyimak teraptik ( therapeutic listening ) ini bukan ( dan kalaupun ada jarang sekali! ) untuk memperoleh ( apalagi mengorek-ngorek ) informasi. 3.4. Jangan menilai apa yang telah dikatakan. Guru yang bijaksana akan menghindari pertimbangan-pertimbngan moral dan godaan untuk menasehati. Si pembicara akan menjelaskan masalahnya melalui ujaran, melalui pencurahan isi hati, dan kemudian haruslah membatasi atau menegaskan penyelesaian alternatif. 3.5. Jangan menghilangkan kepercayaan akan kemampuan si pembicara untuk memecahkan serta menyelesaikan masalah-masalahnya sendiri. Guru yang bijaksana sadar bahwa sebenarnya si pembicara membicarakan hal-hal bersama dirinya seperti halnya dia berbicara dengan kita. ( Nichols and Stevens, 1957 via Anderson, 1972 : 72 ). 4. Kualifikasi Guru Menyimak. Berbicara mengenai kualifikasi seorang guru bahasa, khususnya dalam bidang menyimak, Steering Committee of the modern Language Association telah menetapkan bahwa untuk menyimak ada tiga tingkatan, yaitu:
a. Kualifikasi minimal, b. Kualifikasi baik, dan c. Kualifikasi baik sekali. ( Lado, 1976: 230; Finocchiaro and Bonomo, 1973: 28). Berikut

ini kita bicarakan secara singkat.

4.1.

Kualifikasi minimal

Seorang guru bahasa (khususnya guru sekolah menengah) dikatakan mempunyai kualifikasi minimal dalam bidang menyimak apabila dia memiliki:

11

kemampuan untuk menangkap pengertian tentang sesuatu yang dikataka atau diucapkan penutur asli yang terpelajar apabila dia mengucapkannya secara hati-hati dan berbicara secara sederhana mengenai suatu pokok atau subjek yang umum.
4.2.

Kualifikasi baik

Seorang guru bahasa (khususnya guru sekolah menengah) dikatakan mempunyai kualifikasi baik dalam bidang menyimak apabila dia memiliki: kemampuan untuk memahami percakapan, pembicaraan yang mempunyai kecepatan yang sedang pada kuliah dan ceramah, siaran-siaran berita pada radio dan televisi.
4.3.

Kualifikasi Baik Sekali

Seorang guru bahasa (khususnya guru sekolah menengah) dikatakan mempunyai kualifikasi baik sekali dalam bidang menyimak apabila dia memiliki: kemampuan untuk mengikuti dengan cepat dan teliti serta mudah memahami semua ujaran baku, seperti percakapan yang cepat atau percakapan kelompok, sandiwara, dan bioskop.

5. Berupaya Menjadi Penyimak Efektif

Untuk membuat diri kita menjadi penyimak efektif, banyak upaya yang dapat dilakukan, yang dpat kita rangkumkan sebagai berikut:
5.1.

Berupayalah mengembangkan kemauan dan keikhlasan untuk menyimak lebih

lama dan lebih sering sehingga kegiatan menyimak itu membudaya pada diri kita, bukan sebagai suatu beban atau paksaan.
5.2.

Berupayalah menyimak dengan rasa hormat kepada pembicra sambil memancing

umpan balik dirinya agar kita dapat mendapat banyak masukan dari pembicaraannya itu.
5.3.

Berupayalah menyimak seseorang tanpa evaluasi dan keputusan yang terlalu dini,

yang bersifat premature; pendek kata, pergunakanlah ketenangan dan kesabaran untuk dapat menyimak secara mendalam dan tenggang hati.
12

5.4.

Berupayalah menyimak secara analitis dengan perilaku tanpa membela diri

terhadap pembicara; jauhkanlah prasangka-prasangka dan perkecillah stereotip-stereotip yang ada. Tidak baik menaruh prasangka kepada pembicara, birlah nanti fakta yang berbicara.

6. Mengatasi Kendala Menyimak

Tiadannya atau kurangnya perhatian kepada pembicara ataupun terhadap isi pembicaraannya merupakan kendala bagi penyimak efektif. Selain itu terdapat pula sejumlah faktor kendala yang berasal dari dalam diri penyimak sendiri. Kendala-kendala tersebut tidak dapat merajalela terus-menerus, melainkan harus diatasi agar kesuksesan dapat dicapai. Caranya sebagai berikut:
6.1.

Jauhkanlah sifat egosentris dalam kegiatan menyimak karena sifat ini jelas

mengurangi perhatian kepada pembicara.


6.2.

Jangan enggan untuk turut berpartisipasi dan terlibat dengan orang lain dalam

kegiatan diskusi yang melibatkan kita sebagai pembicara ataupun sebagai penyimak.
6.3.

Jangan takut dan khawatir bahwa komunikasi lisan dapat mengubah pendapat

dan pikiran kita.


6.4.

Jangan malu-malu dalam meminta penjelasan dari pembicara atau orang lain

mengenai hal yang belum kita pahami.


6.5.

Jangan membuat pertimbangan-pertimbangan yang gegabah dan ceroboh

terhadap makna sesuatu yang dikemukakan oleh pembicara. ( disarikan dari : Russel & Black, 1981 : 187 ).

13

DAFTAR PUSTAKA Tarigan, Henry Guntur. 2008. Menyimak sebagai suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Penerbit Angkasa.

14