Anda di halaman 1dari 62

Konstruksi Jalan di Atas Lahan Basah

Posted on 17 Maret 2011 by oerlee syafroe

3 Votes 1. KONSTRUKSI JALAN DI ATAS LAHAN BASAH DENGAN PERKUATAN GEOTEXTILE 2.1.1. Pendahuluan Penggunaan konstruksi perkuatan pada lahan basah pertama kali dilaporkan dengan menggunakan steel mseh di bawah konstruksi timbunan pada daerah pasang surut di Perancis. Perbandingan antara timbunan di atas tanah gambut di Afrika dengan dan tanpa perkuatan dilaporkan. Dinyatakan bahwa selain woven polypropylene fabric, tegangan tarik semua jenis geotextile yang diambil contohnya dari pemasangan setahun sebelumnya berkurang antara 25% sampai 36% dari tegangan tarik awalnya, meskipun tidak berpengaruh banyak pada fungsinya. Pelaksanaan konstruksi jalan di atas lahan basah dengan perkuatan geotextile dapat menghindarkan terjadinya keruntuhan lokal pada tanah lunak karena rendahnya daya dukung tanah. Keuntungan pemasangan geotextile pada pelaksanaan jalan di atas tanah lunak adalah kecepatan dalam pelaksanaan dan biaya yang relatif lebih murah di bandingkan dengan metoda penimbunan konvensional 2.1.2. Metoda Perencanaan Dengan Analisa Limit Equilibrium Timbunan badan jalan di atas tanah lunak akan mengalami penurunan yang besar dan kemungkinan runtuh akibat kurangnya daya dukung tanah terhadap beban timbunan. Suatu cara untuk memperbaiki kondisi tersebut adalah dengan cara penggunaan geotextile yang digelar di atas tanah lunak sebelum pelaksanaan timbunan yang berfungsi sebagai perkuatan (reinforcement). Perkuatan dalam kasus ini hanya bersifat sementara sampai dengan kuat dukung (bearing capacity) tanah lunak meningkat hingga cukup untuk mendukung beban di atasnya. Analisa dengan metoda limit equilibrium akan meninjau tiga modus stabilitas konstruksi timbunan di atas tanah lunak yaitu, stabilitas internal, stabilitas pondasi tanah lunak dan stabilitas keseluruhan konstruksi (overall stability). Untuk keperluan perencanaan, profil kuat geser tanah lunak perlu dimodelkan. Dua model dipergunakan untuk mengidealisasikan kuat geser tanah lunak di bawah timbunan yaitu pada lapisan tanah lunak tebal dan tipis. Pada lapisan tanah lunak tebal, kuat geser tanah lunak diidealisasikan meningkat sebagai fungsi ke dalaman, sedangkan pada lapisan tanah lunak tipis, kuatv geser tanah lunak dianggap tetap. Keseimbangan batas pada stabilitas internal menunjukkan bahwa untuk

menghindarkan kerusakan pada konstruksi timbunan, kuat tarik geotextile harus lebih besar dari gaya lateral yang ditimbulkan oleh timbunan di atas tanah lunak. Pendekatan keseimbangan batas pada stabilitas pondasi seperti yang disampaikan pada modus keruntuhan pondasi pada lapisan tanah lunak yang tebal adalah akibat rotasi ( rotational sliding ). Pada keruntuhan bentuk rotasi dan translasi pada lapisan tanah lunak yang tebal, keseimbangan momen untuk memperoleh kuat tarik geotextile perlu disampaikan. Pemilihan geotextile untuk perkuatan di pengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor internal dan external. Faktor internal geotextile terdiri dari 1. Kuat tarik geotextile 2. Sifat perpanjangan (creep) 3. Struktur geotextile 4. Dan daya tahan terhadap faktor lingkungan Faktor external geotextile terdiri dari jenis bahan timbunan yang berinteraksi dengan geotextile. Struktur geotextile, yaitu jenis anyam (woven) atau niranyam (non-woven) juga mempengaruhi pada pemilihan geotextile untuk perkuatan. Kondisi lingkungan juga memberikan reduksi terhadap kuat tarik geotextile karena reaksi kimia antara geotextile dan lingkungan disekitarnya. Sinar ultraviolet, air laut, kondisi asam atau basa serta mikroorganisme seperti bakteri dapat mengurangi kekuatan geotextile. Waktu pembebanan juga mempengaruhi karena akan terjadi degradasi oleh faktor fatigue dan aging. Untuk menutupi kekurangan tersebut tidak seluruh kuat tarik geotextile yang tersedia dapat dimanfaatkan dalam perencanaan konstruksi perkuatan jalan. 2. KONSTRUKSI JALAN LAHAN BASAH DENGAN PONDASI CAKAR AYAM 2.2.1. Pendahuluan Pondasi cakar ayam terdiri dan plat beton bertulang dengan ketebalan 10-15 cm, tergantung dari jenis konstruksi dan keadaan tanah di bawahnya. Di bawah plat beton dibuat sumuran pipa-pipa dengan jarak sumbu antara 2-3 m. Diameter pipa 1,20 m, tebal 8 cm, dan panjangnya tergantung dari beban di atas plat serta kondisi tanahnya. Untuk pipa dipakai tulangan tunggal, sedangkan untuk plat dipakai tulangan ganda. Sistem pondasi ini bisa diterapkan pada tanah lunak maupun tanah keras. Tapi menurut pengalaman, lebih ekonomis bila diterapkan atas tanah yang berdaya dukung 1,5 sampai 4 ton per meter persegi. 2.2.2. Sejarah Terbentuknya Pondasi Cakar Ayam Dasar pemikiran lahirnya pondasi cakar ayam ialah memanfaatkan tekanan tanah pasif, yang pada sistem pondasi lain tak pernah dihiraukan. Plat beton yang tipis itu akan mengambang di permukaan tanah, sedangkan kekakuan plat ini dipertahankan oleh pipa-pipa yang tetap berdiri akibat tekanan tanah pasif. Dengan demikian maka plat dan konstruksi di atasnya tidak mudah bengkok. Pada sistem pondasi lain, yang menggunakan plat beton dengan balok pengaku, maka kekakuan itu berasal dan konstruksinya sendiri. Sedangkan pada sistem pondasi cakar ayam, kekakuan didapat dari tekanan tanah pasif. ini berarti dengan daya dukung yang sama, volume beton pada cakar ayam akan berkurang, dan konstruksinya bisa lebih ekonomis.

Cakar Ayam adalah sistim pondasi yang digunakan/dipilih. Sosro Bahu (seribu pundak) adalah tehnik pengerjaan tiang penyangga jembatan tol. Ide ini muncul karena ada kesulitan pelaksanaan bila aktifitas jalan yang ada di bawahnya tidak boleh dihentikan (ditutup). mengingat bentuk tiang penyangga itu spt huruf (T) dan sayapnya berada di atas ruas jalan aktif, bisa dibayangkan alangkah kroditnya bila ruas jalan-jalan penting Jakarta (yang akan di fly over) harus ditutup. Ir. Made Tjokorda menyumbangkan gagasannya yang terinspirasi dari peralatan hidrolic intinya! pembuatan tiang penyangga T (sayapnya) dibuat sejajar dengan jalan terlebih dulu, dengan demikian tidak perlu mengganggu/menutup aktifitas jalan, setelah selesai sayapnya diputar menjadi berada ditengah jalan lah! kok bisa diputar, pada pembuatannya lehernya dipasang tabung hidrolik. 2.2.3. Penggunaan Telapak Beton Telapak beton, pada pondasi cakar ayam sangat baik untuk beban yang merata. Sistem pondasi ini mampu mendukung beban 500-600 ton per kolom. Dalam hal ini, di bagian bawah kolom dibuatkan suatu telapak beton, untuk mengurangi tegangan geser pada plat beton. Jika beban itu terpusat, maka tebal plat beton di bawah pusat beban ditentukan oleh besarnya daya geser, bukan oleh besarnya momen, untuk ini dilakukan penambahan pertebalan plat beton dibawah kolom bersangkutan.Sistem pondsi cakar ayam sangat sederhana, hingga cocok sekali diterapkan di daerah dimana peralatan modern dan tenaga ahli sukar didapat. Sampai batas-batas tertentu, sistern ini dapat menggantikan pondasi tiang pancang. Untuk gedung berlantai 3-4 misalnya, sistem cakar ayam biayanya akan sama dengan pondasi tiang pancang 12 meter. Makin panjang tiang pancang yang dipakai, makin besar biayanya. Apalagi jika alat pemancangan dan tenaga ahli harus didatangkan dari tempat lain. Dengan kemampuan yang sama, sistem cakar ayam dapat menghemat biaya sampai 30%. Pelaksanaan sistem ini dapat dilakukan secara simultan, tanpa harus bergiliran. Misalnya sebagai pondasi menara, dapat dikerjakan dalam jumlah banyak secara bersamaan. Seluruh sumuran beton dicetak dengan cetakan biasa di lokasi proyek, sesuai dengan standar. Karena itu sistem ini sangat menghemat waktu. Bagi daerah yang bertanah lembek, pondasi cakar ayam tidak hanya cocok untuk mendirikan gedung, tapi juga untuk membuat jalan dan landasan. Satu keuntungan lagi, sistem ini tidak memerlukan sistem drainasi dan sambungan kembang susut. 3. KONSTRUKSI JALAN LAHAN BASAH DENGAN SISTEM PONDASI CERUCUK 2.3.1. Pendahuluan Daerah rawa-rawa mendominasi kawasan garis pantai di Indonesia, termasuk di dalamnya kawasan garis pantai Jakarta. Tanah rawa memiliki sifat yang sangat lunak Sehingga diperlukan teknologi yang cocok dan handal jika berkehendak untuk membuat bangunan di atasnya. Baik itu konstrusi jalan raya, konstruksi perumahan, khusunya rumah susun, maupun sarana prasarana lainnya, terutama konstruksi dengan beban berat. Umumnya, permasalahan yang timbul pada konstruksi di atas tanah lunak adalah geseran (shearing). Mekanisme hilangnya keseimbangan dapat terjadi pada tanah dengan daya dukung rendah, diakibatkan dari beban berat tanah itu sendiri. Permasalahan lain biasanya berupa tolakan ke

atas (uplift) yang banyak terjadi pada lapisan lempung dan lanau (silt) akibat perbedaan tekanan air. Sering terjadinya penurunan permukaan (settlement) juga permasalahan laten yang sering terjadi. Hal ini pada umumnya disebabkan oleh beratnya beban yang harus ditanggung oleh tanah lunak. Salah satu contoh dari masalah settlement ini dapat dilihat pada konstruksi jalan tol Sudiatmo yang dibangun tahun 1982. Setelah kurang lebih 18 tahun, pada 2000, seiring semakin beratnya beban yang ditanggungnya, pada kilometer 26 hingga 28 mengalami penurunan sebesar 1,2 meter akibatnya permukaannya lebih rendah dari sisi kiri kananya. Khusus untuk konstruksi jalan raya, beragam metode untuk memperkuat mutu tanah lunak telah diterapkan dalam pembangunannya. Sebut saja, pile slab, cakar ayam, deep mixing, vertical drill dan lain-lain. Menurut Ir J.H. Simanjuntak upaya-upaya tersebut belum mampu secara maksimal mengatasi permasalahan yang ada. 2.3.2. Sejarah Terbentuknya Sistem Pondasi Cerucuk Berdasar renungan mendalam atas kondisi yang ada, khususnya dalam bidang konstruksi jalan raya yang dibangun di atas tanah lunak, Ir J.H. Simanjuntak, salah satu pelaku bisnis konstruksi, berpikir bahwa beban seluruh konstruski yang ada di atas tanah harus disalurkan ke dalam tanah secara merata dengan menggunakan beberapa tiang pancang. Sehingga beban dapat didistribusikan secara merata, bukan mengandalkan pada sebuah tiang pancang saja. Pemikiran ini kemudian diikuti dengan eksperimen-eksperimen yang cermat dan berujung pada lahirnya sistem pondasi cerucuk. System ini intinya menyatukan beberapa tiang pancang dalam sebuah kesatuan yang kokoh guna menyangga kostruksi di atasnya. Itu (sistem pondasi cerucuk, red) merupakan hasil sebuah kreasi, perenungan dan eksperimen di lapangan, aku Simanjuntak. Seiring dengan perkembangan teknologi di bidang konstruksi, pondasi cerucuk pun disesuaikan dengan kebutuhan aktualnya. Berbagai inovasi berdasarkan sistem ini banyak bermunculan, dari memadukannya dengan bambu, kayu maupun matras beton. Sudah selayaknya dalam melaksanakan sebuah proyek, faktor ekonomi menjadi dasar dalam pengerjaannya. Keinginan memenuhi faktor murah dan praktis menurut Simanjuntak, telah membuatnya menemukan sebuah konsep yang memadukan pondasi cerucuk dengan kayu. Saya mengkombinasikan pondasi cerucuk dengan kayu, karena itu lebih murah dan praktis, katanya, ketika ditemui dalam sebuah seminar tentang pondasi dalam, di Tangerang. Ingat, yang terpenting adalah murah dan praktis, tegasnya. Menurutnya, kayu, apabila tetap terendam, mampu bertahan hingga ratusan tahun sehingga sangat memungkinkan dipergunakan pada daerah rawa-rawa. Kayu itu kuat kalau dia terendam terus. Asal jangan sampai basah-kering, akan lapuk dia, jelas Simanjuntak. * ANALISA DAN PEMBAHASAN Studi Kasus Konstruksi Jalan Metode Geotextile Sebagai studi kasus , pelaksanaan konstruksi jalan di atas tanah lunak dengan perkuatan geotextile di Pulau Setoko dan Nipah di Kepulauan Riau. Jalan yang dibangun di daerah ini melewati beberapa dataran rendah yang tertutup tanaman bakau dan terpengaruh pasang surut. Penyelidikan tanah yang dilakukan menunjukkan bahwa lapisan tanah lunak sampai

kedalaman 15m di bawah permukaan tanah. Nilai dari hasil pemampatan uji konsolidasi dipergunakan untuk mengontrol penurunan selama pelaksanaan timbunan dengan menggunakan settlement plate yang dipasang dengan interval 50 meter. Pada akhir penimbunan tambahan timbunan sebagai kompensasi terhadap penurunan jangka panjang diberikan untuk menjamin agar permukaan jalan sesuai dengan elevasi rencana. HASIL ANALISA KASUS Daerah Pulau Setoko dan Nipah di Kepulauan Riau merupakan dataran rendah yang jika dilihat dari topografinya berada di bawah garis permukaan laut sehingga keadaan tanah pada daerah ini sangat tergantung pada air pasang laut. Pengaruh air pasang ini menyebabkan kondisi tanah nya yaitu basah atau lunak. Dari hasil pengujian menggunakan pengeboran di dapatkan bahwa pada kedalaman 15 m keadaan tanah masih lunak, sehingga dari hasil analisis yang dilakukan jika diberi pembebanan yang lebih maka tanah akan mengalami kelongsoran. Untuk perencanaan konstruksi jalan pada lahan ini pertama-tama yang harus dilakukan adalah melakukan pengujian terhadap tanah itu sendiri ( kadar air tanah ). Biasanya setelah pengambilan sampel lalu diuji kembali ke laboratorium untuk mengetahui persentase kadar air yang dikandung oleh tanah tersebut. Setelah itu pengkajian ulang apakah perlu di lakukan penimbunan ulang untuk mendapatkan daya dukung tanah yang baik. Setelah itu dilakukan penentuan pondasi yang cocok dengan penambahan kayu atau beton pada pondasi konstruksi tanah. Studi Kasus Konstruksi Jalan Sistem Pondasi Cakar Ayam Peranan pondasi turut menentukan usia dan ke stabilan suatu konstruksi bangunannya. Dalam dekade terakhir ini sistem pondasi telah berkembang dengan bermacam variasi. Tapi hanya sedikit yang menampil kan sistem pondasi untuk mengatasi masalah membangun konstruksi di atas tanah lembek. Sistem pondasi yang konvensional, cenderung hanya di sesuaikan dengan besarnya beban yang harus didukung, tapi kurang mempertimbangkan kondisi tanah lembek. Akibatnya, bangunan itu mengalami penyusutan usia atau ketidakstabilan, seperti penurunan, condong, bahkan roboh. Hal itu tentu merugikan pemilik dan kontraktor bersangkutan. Perlakuan yang seimbang antara beban dan kondisi tanah lembek perlu dipecahkan. Problema ini pernah dihadapi oleh Prof Dr Ir Sedijatmo tahun 1961, ketika sebagai pejabat PLN harus mendirikan 7 menara listrik tegangan tinggi di daerah rawa-rawa Ancol Jakarta. Dengan susah payah, 2 menara berhasil didirikan dengan sistem pondasi konvensional, sedangkan sisa yang 5 lagi masih terbengkelai. Menara ini untuk menyalurkan listrik dan pusat tenaga listrik di Tanjung Priok ke Gelanggang Olah Raga Senayan dimana akan diselenggarakan pesta olah raga Asian Games 1962. Karena waktunya sangat mendesak, sedangkan sistem pondasi konvensional sangat sukar diterapkan di rawa-rawa tersebut, maka dicarilah sistem baru untuk mengatasi masalah itu. Lahirlah ide Ir Sedijatmo untuk mendirikan menara di atas pondasi yang terdiri dari plat beton yang didukung oleh pipa-pipa beton di bawahnya. Pipa dan plat itu melekat secara monolit (bersatu), dan mencengkeram tanah lembek secara meyakinkan.

Oleh Sedijatmo, hasil temuannya itu diberi nama sistem pondasi cakar ayam. Perhitungan yang dipakai saat itu (1961), masih kasar dengan dimensi 2,5 kali lebih besar dibanding dengan sistem pondasi cakar ayam yang diterapkan sekarang. Meski begitu, ternyata biayanya lebih murah dan waktunya lebih cepat daripada menggunakan tiang pancang biasa. Menara tersebut dapat diselesaikan tepat pada waktunya, dan tetap kokoh berdiri di daerah Ancol yang sekarang sudah menjadi ka wasan industri. Banyak bangunan yang telah menggunakan sistem yang di ciptakan oleh Prof Sedijatmo ini, antara lain: ratusan menara PLN tegangan tinggi, hangar pesawat terbang dengan bentangan 64 m di Jakarta dan Surabaya, antara runway dan taxi way serta apron di Bandara SukarnoHatta Jakarta, jalan akses Pluit-Cengkareng, pabrik pupuk di Surabaya, kolam renang dan tribune di Samarinda, dan ratusan bangunan gedung bertingkat di berbagai kota. Sistem pondasi cakar ayam ini telah pula dikenal di banyak negara, bahkan telah mendapat pengakuan paten internasional di 11 negara, yaitu: Indonesia, Jerman Timur, Inggris, Prancis, Italia, Belgia, Kanada, Amerika Serikat, Jerman Barat, Belanda; dan Denmark. [Teknologi, No.6, Th.I, Jan-Feb.1987]. HASIL ANALISA KASUS Pondasi Cakar Ayam merupakan alternatif pilihan yang utama dalam suatu pembangunan di daerah tanah lunak. Banyak bangunan yang telah menggunakan sistem ini, antara lain: ratusan menara PLN tegangan tinggi, hangar pesawat terbang dengan bentangan 64 m di Jakarta dan Surabaya, antara runway dan taxi way serta apron di Bandara Sukarno-Hatta Jakarta, jalan akses Pluit-Cengkareng, pabrik pupuk di Surabaya, kolam renang dan tribune di Samarinda, dan ratusan bangunan gedung bertingkat di berbagai kota. Dalam pembangunan konstruksi jalan di Bandara Soekarno-Hatta misalnya analisis mengenai kondisi tanah juga harus dilakukan. Dan yang paling penting dalam penggunaan sistem pondasi cakar ayam adalah penentuan jumlah tiang pancang ( cakar ) yang akan dipakai serta penentuan dimensi pancang. Biasanya penentuan jumlah tiang dan dimensi tiang harus dapat menampung jumlah beban yang di salurkan oleh konstruksi itu sendiri atau beban dari kendaraan atau beban hidup. Penambahan Telapak beton, pada pondasi cakar ayam sangat baik untuk beban yang merata. Sistem pondasi ini mampu mendukung beban 500-600 ton per kolom. Dalam hal ini, di bagian bawah kolom dibuatkan suatu telapak beton, untuk mengurangi tegangan geser pada plat beton. Jika beban itu terpusat, maka tebal plat beton di bawah pusat beban ditentukan oleh besarnya daya geser, bukan oleh besarnya momen, untuk ini dilakukan penambahan pertebalan plat beton dibawah kolom bersangkutan. Studi Kasus Konstruksi Jalan Sistem Pondasi Cerucuk Sistem Pondasi Cerucuk banyak dipergunakan pada konstruksi jalan raya. Mengkombinasikannya dengan matras beton pracetak seperti yang telah diterapkan pada proyek jalan di Ancol atau Cirebon. Kombinasi ini juga dipergunakan untuk memperbaiki kondisi jalan tol Sudiatmo yang telah mengalami penurunan (settlement) dan proyek double track Cikampek. Selain dipergunakan untuk memperkuat tanah lunak, sistem pondasi cerucuk juga dapat dipergunakan untuk menjaga stabilitas talud (Ciganea) untuk mencegah longsor.

Sistem Pondasi Ceruruk ini terbukti efektif untuk memperkuat daya topang tanah, kata Simanjuntak. HASIL ANALISA KASUS Dari kasus di atas dapat diketahui bahwa penggunaan sistem pondasi cerucuk harus dikombinasikan dengan penambahan matras beton pracetak seperti pada jalan Ancol atau Cirebon. Dari kasus ini dapat di analisi bahwa penambahan matras beton sangat mendukung sekali karena menambah atau melapisi tanah lunak sehingga daya dukung tanah terhadap beban bertambah. Dan pembangunan jalan pada daerah lereng yang kondisi tanahnya basah, sistem ini dapat menghindarkan dari adanya longsor akibat gaya gravitasi. Sumber dari : http://fadlysutrisno.wordpress.com

MANFAAT BAMBU Kehidupan masyarakat desa, bambu sangat dekat dan dibutuhkan untuk berbagai kebutuhan masyarakat desa mulai lahir (untuk memotong pusar bayi dan sunatan) sampai meninggal (kremasi jenazah). Aktifitas kehidupan sehari-haripun tak luput dari pemanfaatan bambu sebagai bahan makanan (rebung), pembungkus makanan (daun), makanan ternak (pucuk muda), sapu lidi, kerajinan untuk kebutuhan rumah tangga, cinderamata dan mebeuler, industri (pulp dan kertas), konstruksi (jembatan, bangunan rumah, tiang, sekat, dinding, atap dan penyanggah), bahan bakar dan untuk upacara adat

Manfaat lain dari bambu yaitu memiliki keunggulan untuk memperbaiki sumber tangkapan air yang sangat baik, sehingga mampu meningkatkan aliran air bawah tanah secara nyata. Selain itu bambu merupakan tanaman yang mudah ditanam, tidak membutuhkan perawatan khusus, dapat tumbuh pada semua jenis tanah (baik lahan basah/kering), tidak membutuhkan investasi besar, pertumbuhannya cepat, setelah tanaman mantap (3 5 tahun) dapat di panen setiap tahun tanpa merusak rumpun dan memiliki toleransi tinggi terhadap gangguan alam dan kebakaran,. Bambu juga memiliki kemampuan peredam suara yang baik dan menghasilkan banyak oksigen sehingga dapat ditanam di pusat pemukiman dan pembatas jalan raya Memperhatikan manfaat bamboo, beberapa Negara asia diantaranya china telah menggunakannya bambu sebagai tanaman utama konservasi alam selain untuk memperbaiki dan meningkat sumber tangkapan air, sehingga mampu meningkatkan aliran air bawah tanah juga pertimbangan budaya dan meningkatkan ekonomi masyarakat melalui aneka kerajinan serta kebutuhan konstruksi. Masyarakat Bali Desa Pakraman Angseri telah sukses menggunakan Bambu sebagai tanaman hutan rakyat seluas 12 ha, ternyata telah membantu menjaga dan memulihkan aliran air bawah tanah dan mata air panas, meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan bamboo untuk usaha kerajinan serta menunjang kehidupan komunitas kera untuk dijadikan sebagai tempat wisata (Sumatera dan Peneng, 2005). Bambu Center Pusat Study Ilmu Teknik UGM melalui program Magister Teknologi Bahan Bangunan dan Perhimpunan pecinta Bambu Indonesia (Perbindo) Yogyakarta, telah melakukan berbagai penelitian untuk memanfaatkan bamboo dalam konstruksi bangunan bagi wilayah-wilayah rawan gempa dan bencana alam. Selain itu telah dilakukan pula pemanfaatan teknologi pengolahan bamboo melalui metoda pengawetan untuk meningkatkan nilai pakai bamboo, membuat balok bambu untuk tiang bangunan dan kuda-kuda, papan laminasi, papan panel dan atap bamboo. Manfaat bamboo dalam teknologi sangat menjanjikan, memiliki peluang industri dengan investasi kecil, penggunaan teknologi pengolahan sederhana dan siklus panen bamboo sangat pendek dan berkesinambungan. KONSERVASI ALAM Konservasi alam sangat idealis dan ngetrend diperbincangkan saat orang berbicara seputar kualitas lingkungan dan polusi. Idealisme inipun sangat gencar disuarakan pencinta alam dan lingkungan hidup. Namun tidak semudah membalikkan telapak tangan karena membutuhkan pertimbangan yang terkadang sangat birokratis dan dilematis. Banyak konsep dan terobosan untuk mengatasi dan memelihara lingkungan telah diketahui, namun kenapa sulit ...?? apa kesulitannya... ?? seolah berada dalam suatu lingkaran yang sulit memperoleh ujung dan pangkalnya untuk keluar dari permasalahan yang dihadapi. Kita sadari, konservasi alam dalam rangka pemulihan hutan dan fungsi-fungsi hutan terhadap lahan-lahan kritis berbasis tanaman kayu sangat mahal dan membutuhkan perawatan dan waktu panjang. Walaupun kita sadari pemerintah telah berupaya membuat berbagai cara untuk memulihkan kembali fungsi hutan pada lahan terbuka, lahan tidur dan lahan kritis untuk kepentingan masyarakat melalui program hutan kemasyarakatan yang berbasis swadaya masyarakat, namun masih memiliki banyak kendala pengelolaannya.

Data CIFOR telah memperkirakan hutan Indonesia sekitar 3,8 juta ha setiap tahun musnah akibat penebangan. Memperhatikan kondisi demikian, berarti pemerintah perlu melakukan kebijakan jangka pendek untuk menyelamatkan sumber daya alam hutan serta menjaga keseimbangan ekosistim, ekologi hutan dan plasma nuftah serta mengatasi kekeringan dan kerusakan habitat sumber daya alam yang ada. Langkah bijaksana yang dapat diambil dalam jangka waktu pendek terutama untuk melindungi DAS adalah dengan menggunakan bamboo sebagai tanaman reboisasi. Pertimbangan menggunakan bamboo sebagai tanaman untuk penghijauan karena memiliki pertumbuhan sangat cepat, investasi kecil, tidak membutuhkan perawatan khusus, dalam usia 3 5 tahun telah memperoleh pertumbuhan mantap dan dapat dipanen setiap tahun. Selain itu dapat dilakukan penanaman campuran secara silang dengan tanaman berkayu (pohon) untuk tujuan pemulihan fungsi hutan kembali dalam jangka pendek. Utthan centre dalam upaya konservasi pada lahan bekas penambangan batu di India melakukan penanaman hutan bamboo seluas 106 ha, ternyata dalam waktu 4 tahun permukaan air bawah tanah meningkat 6,3 meter dan seluruh areal penanaman menghijau serta memberi pekerjaan kepada sekitar 80% penduduk setempat dan menambah pendapatan masyarakat melalui industri kerajinan bamboo. (Tewari, 1980 dalam Garland 2004) Hasil studi Akademi Beijing dan Xu Xiaoging, melakukan inventarisasi dan perencanaan hutan dengan melakukan studi banding hutan pinus dan bamboo pada DAS ternyata bamboo menambah 240% air bawah tanah lebih besar dibandingkan hutan pinus. (Bareis, 1998, dalam Garland 2004)) Bamboo sebagai pilihan utama untuk reboisasi pada daerah aliran sungai terutama lokasi sumber tangkapan air, karena memiliki kemampuan mempengaruhi retensi air dalam lapisan topsoil yang mampu meningkatkan aliran air bawah tanah sangat nyata. China selain pertimbangan nilai konservasi menanam hutan bamboo untuk kepentingan sumber air dan irigasi terdapat perhitungan ekonomis yang memiliki nilai komersial tinggi, didukung nilai adat dan budaya telah melakukan penanaman hutan bambu seluas 4,3 juta ha yang mampu menghasilkan bambu sebanyak 14,2 juta ton/tahun. Kondisi hutan bamboo di China telah mencapai 3 % dari total hutan dan telah berhasil memberi kontribusi sekitar 25% dari total ekspor sebesar US $ 2,8 milyard (SFA, 1999, dalam Garland, 2004).. Suksesnya penanaman bamboo di Negara Asia lainnya, telah memberikan dorongan strategi Indonesia untuk melakukan gebrakan secara nasional untuk menyelamatkan sumber daya alam hutan khususnya daerah aliran sungai dan sumber tangkapan air dalam jangka pendek, sehingga ancaman kekeringan yang diprediksi dengan efek pemanasan global ke depan dapat diatasi dengan menggunakan bamboo sebagai tumbuhan yang perlu mendapat perhatian untuk reboisasi. Bambu dan manfaatnya sudah diperkenalkan di Indonesia sejak tahun 1995, namun pertimbangan eksploitasi kayu lebih mendapat perhatian utama karena memiliki nilai komersial diperhitungkan lebih tinggi dari bamboo. KONSTRUKSI Bambu pada umumnya telah dikenal masyarakat luas dan dalam konstruksi tidak disadari masyarakat lebih memilih bamboo, seperti untuk tiang penyanggah gedung bertingkat apabila dalam pembangunan/pengecatan, karena mudah diperoleh, murah dan ukuran lebih panjang dengan kekuatan yang mampu menjamin kekokohan penyanggah.

Bambu memiliki keawetan yang sangat rendah, mudah diserang microorganisme dan serangga sehingga untuk penggunaan jangka panjang orang tidak memilih bamboo. Memperhatikan manfaat dan kekuatan bamboo, telah diupaya langkah pengawetan untuk meningkatkan nilai pakai bamboo sehingga mampu dipakai untuk waktu lama. Tanpa pengawetan di tempat terbuka bamboo hanya dapat digunakan 1 3 tahun, apabila dibawah naungan/terlindung 4 7 tahun, dan pada kondisi ideal dapat digunakan 10 15 tahun, apabila dengan pengawetan dapat digunakan lebih dari 15 tahun (Liese, 1980 dalam Morisco 2005) Bambu center Pusat Study Ilmu Teknik UGM melalui program Magister Teknologi Bahan Bangunan dan Perhimpunan pecinta Bambu Indonesia (PERBINDO) Yogyakarta, telah melakukan berbagai penelitian tentang pemanfaatan bamboo bagi konstruksi bangunan tahan gempa, serta rancangan perumahan rumah sangat sederhana yang menggunakan bahan bamboo untuk tiang, dinding, kuda-kuda dan atap. Konstruksi bangunan yang menggunakan bamboo telah digunakan turun temurun oleh masyarakat adat Toraja, rumah tongkonan dengan menggunakan bamboo sebagai konstruksi penutup atap dan penyanggah sangat baik untuk sirkulasi udara dan memuiliki nilai arsitektur tinggi serta nilai adat yang khas. Penggunaan bamboo untuk tujuan konstruksi bangunan jangka panjang sebaiknya dilakukan pengawetan lebih awal, agar bamboo yang digunakan memiliki nilai pakai yang dapat menjamin waktu pakai lama. INDUSTRI KERAJINAN Pengembangan wirausaha Indonesia terus digerakan dan telah mendapat perhatian banyak kalangan diluar Maluku dengan fokus pola usaha kerajinan tangan. Salah satu bahan baku yang melimpah ruah, murah dan mudah diperoleh adalah bamboo, sehingga tidak merupakan kendala dan bahkan industri kerajinan tangan diluar Maluku memiliki nilai persaingan yang tinggi. Akibatnya para wirausaha kerajinan berusaha bersaing untuk meningkatkan kualitas, penampilan dan manfaat produk barang yang dihasilkan agar dapat diserap oleh pasar dalam dan luar negeri. Kendala produk kerajinan berbasis bamboo adalah keawetan bamboo yang rendah, sehingga untuk meningkatkan nilai pakai dan kualitas produk, telah dilakukan pengawetan bamboo sebelum dimanfaatkan. Aneka bentuk kerajinan mulai dari kebutuhan rumah tangga, cinderamata, perdagangan dan industri telah banyak diperkenalkan di pasaran. PENUTUP Mengenal bamboo dan manfaatnya melalui uraian singkat diatas diharapkan dapat merupakan wacana dalam kebijakan pemerintah daerah maupun instansi terkait untuk mengambil manfaat sesuai konteks kebijakan dalam rangka melindungi dan merehabilitasi kawasan hutan dalam waktu pendek untuk tujuan konservasi, khususnya pada wilayah DAS yang sangat rawan banjir dan wilayah sumber tangkapan air untuk meningkatkan aliran air bawah tanah berkaitan dengan kebutuhan air bersih masyarakat dan pada hutan terbuka/gundul akibat pola usaha pertanian. KESIMPULAN 1. Bambu merupakan tanaman yang dapat ditanam pada tanah kering/basah, tidak

membutuhkan perawatan khusus, investasi kecil, kemampuan toleransi terhadap lingkungan tinggi memiliki multifungsi sebagai bahan makanan, pembungkus, kerajinan, konstruksi dan industri 2. Tanaman bambu memiliki nilai konservasi tinggi karena mampu memberi perkuatan permukaan tanah, melalui kemampuan mempengaruhi retensi air dalam lapisan topsoil, sehingga mampu meningkatkan aliran air bawah tanah

Daftar Pustaka Sumantera, I. W. dan I. N. Peneng, 2005. Pemberdayaan Hutan bamboo sebagai penunjang sosial ekonomi masyarakat Desa Pakraman Angseri, tabanan, Bali. Prosiding Perkembangan Bambu Indonesia. Jogya Morisco, 2005. Rangkuman penelitian Bambu di Pusat Studi Ilmu Teknik UGM (1994 2004). Prosiding Perkembangan Bambu Indonesia. Jogya Anonimous, 2001. Eksekutif Data Strategis Kehutanan. Badan Planologi Kehutanan Dept. Kehutanan. Jakarta. Garland, L. 2004. Bamboo and Watersheds (a practical, economic solution to conservation and development). EBF Environmental Bamboo Foundation Holland. Bamboo : The Alternative for Tropical Timber. The Environmental Bamboo Foundation Journal No. 1. 1996 Widjaja, E. A. 2001. Identikit Jenis-jenis Bambu di Kepulauan Sunda Kecil. Puslitbang Biologi LIPI. Bogor. Widjaja, E. A. 2001. Identikit Jenis-jenis Bambu di Jawa. Puslitbang Biologi LIPI. Bogor. Widjaja, E. A., N. W. Utami dan Saefudin. 2004. Panduan Membudidayakan Bambu . Puslitbang Biologi LIPI. Bogor.
Evaluasi Lahan Basah Untuk Transportasi A. Pendahuluan Luas lahan basah (wetland) di dunia mencapai 8.558.000 km2 atau lebih dari 6% luas permukaan bumi yang terbagi atas zona polar 200.000 km2; Boreal 2.558.000 km2; sub Boreal km2; sub tropis km2 dan zona tropis 2.638.000 km2 (Maltby and Tuner, 1983). Indonesia termasuk kedalam tujuh negara di Asia Pasifik yang mempunyai lahan basah yang didukung oleh keanekaragaman lahan basah yang luas. Luas lahan basah di Indonesia adalah sekitar 38 juta ha. Lahan basah merupakan salah satu sumberdaya lahan yang sudah, sedang dan akan menjadi sasaran dalam usaha meningkatkan produksi pangan. Lahan basah tersebut mempunyai banyak kelebihan atau keunggulan dibandingkan lahan kering dalam hal untuk keperluan memproduksi pangan dan pemukiman. Lahan basah daerah pesisir (coastal wetland) adalah salah satu tipe lahan basah yang potensial untuk dikembangkan.Namun demikian, dalam pengembangannya harus mempertimbangkan efek global dan lingkungan sekitarnya. Aktivitas manusia dengan cara mendrain lahan basah menimbulkan terjadinya subsiden dan munculnya lapisan tanah yang mengandung pyrit yang bila teroksidasi akan menghasilkan keasaman dan beracun (Manahan,1994). Hal ini juga terjadi di pantai timur Jambi, Sumatera (dendang, lagan dan simbur naik) sebagai akibat over drained (Furukawa, 1994). Di sisi lain pengalihan fungsi lahan basah pesisir untuk tempat pemukiman dan perkotaan (coastal city) dimana sekarang terdapat 24 megahydropolis yang berpenduduk lebih dari 10 juta seperti

Jakarta, 13,25 juta, Mexico City 25,82 juta, Sao Paulo 23,97 juta dan New York 15,78 juta (Timmerman dan White, 1997). Potensi perkembangan kota pantai di Indonesia cukup besar seperti Semarang, Surabaya, dan beberapa kota di pantai timur Sumatera. Hal ini merupakan ancaman terhadap kelestarian lahan basah. Pengalihan lahan basah terutama lahan basah pesisir untuk tambak khususnya di Asia (Thailand dan Indonesia) yang berkembang pesat, bila tanpa dilakukan restorasi dan pengelolaan yang tepat akan menjadi masalah baiksekarang maupun masa datang. Oleh karena lahan basah merupakan sumber daya yang dimanfaatkan oleh berbagai pengguna maka diperlukan suatu pengelolaan secara benar, terpadu dan berkelanjutan sehingga mempunyai kontribusi positif bagi kesejahteraan manusia kini dan mendatang. B. Pengertian Lahan Basah Wetland mempunyai beberapa ciri yang tampak, dan yang paling jelas adalah adanya air yang tetap, tanah wetland yang unik dan ditumbuhi oleh vegetasi yang mampu beradaptasi atau toleran terhadap tanah yang jenuh air. Wetland tidak mudah untuk didefinisikan, namun secara khusus untuk tujuan yang formal karena memiliki selang kondisi hidrologi yang dapat dipertimbangkan, karena wetland berada pada antara lahan kering dan sistem air dalam, dan karena memiliki variasi yang besar dalam ukuran, luasan, dan pengaruh manusia. Dibawah konvensi Ramsar (Ramsar Convention on Wetlands), lahan basah didefinisikan pada ayat 1.1. dan 2.1 sebagai berikut: Ayat 1.1: lahan basah adalah area dari marsh, fen, peatland atau perairan, baik alami atau buatan, permanen atau temporer, dengan air yang statis atau mengalir, baik air tawar, payau atau laut, meliputi area perairan laut dengan kedalaman tidak lebih dari 6 meter pada waktu air surut terrendah. Ayat 2.1: lahan basah mungkin meliputi riparian dan wilayah pesisir yang berdekatan dengan lahan basah, dan pulau atau badan air laut lebih dalam dari 6 meter pada waktu air surut terendah yang membentang di dataran lahan basah C. Hidrologi Wetland Kondisi hidrologi merupakan faktor yang sangat penting untuk mempertahankan struktur dan fungsi wetland, walaupun hubungan sebab akibat yang sederhana namun sulit untuk dipertahankan. Kondisi hidrologi mempengaruhi beberapa faktor abiotik seperti kondisi tanah yang anaerob, ketersediaan hara, dan salinitas pada coastal wetland. Keadaan hidrologi wetland merupakan hasil keseimbangan inflow dan outflow air (water budget), kontur tanah dan kondisi subsurface. Sebagai inflow utama wetland adalah curah hujan, limpasan sungai, aliran permukaan, air tanah dan pasang pada coastal. Pentingnya hidrologi dalam sistem wetland terutama berhubungan dengan proses ekologi dan kontrol biotik. Perubahan kondisi hidrologi secara langsung memodifikasi atau merubah sifat kimia, fisika sperti ketersediaan hara, salinitas, derajat redok, sifat sedimen dan pH. Kondisi ini akan merubah physiochemichal lingkungan yang berpengaruh terhadap respon biotik (Mitcsh dan Gosselink, 1993). D. Klasifikasi Lahan Basah Department of Natural Resources Environmental Protection Division (2000) mengklasifikasikan lahan basah ke dalam dua kategori utama yaitu lahan basah pesisir (coastal wetland) dan lahan basah pedalaman/daratan (inland wetland)

Luas lahan basah di Indonesia sekitar 38.000.000 ha, terluas di Asia. Adapun jenis-jenis lahan basah tersebut sbb: 1. Rawa 2. Hutan mangrove 3. Terumbu karang 4. Padang Lamun 5. Danau 6. Muara 7. Sungai 8. Sawah 9. Tambak dan kolam garam E. Fungsi Lahan Basah Konflik mungkin juga terjadi diantara penilaian masyarakat dan perseorangan. Sebagai contoh, pemilik tanah mungkin tidak menerima keuntungan finansial dari lahan basah terhadap hak miliknya tetapi mungkin memberikan andil buruk terhadap peningkatan kuantitas dan kualitas air untuk masyarakat disuatu perkotaan. Pada kasus tersebut pihak kota dapat membayar pemilik tanah untuk melindungi suatu lahan basah. Pada kasus yang lebih kompleks yang melibatkan spesies lahan basah yang terancam punah yang terdapat di lahan milik perorangan, pemerintah perlu melengkapi satu nilai terhadap preservasi species dan mengatur pengembangan hak milik perorangan tersebut meskipun pemilik tanah tidak memberikan nilai terhadap organisme dan atau lingkungannya yang berada di lahan miliknya. Lahan basah sangat bervariasi dalam lokasi dan tipe dan tidak mempunyai fungsi yang sama satu dengan lainnya. Menurut MWCP (Minnesota Wetlands Conservation Plan) (1997), lahan basah mempunyai fungsi antara lain: Penyimpanan dan fluk hidrologis (hydrologic flux and storage): meliputi recharge dan discharge air tanah, sungai, cadangan air tanah dan evapotranspirasi Produktivitas Bilogis: meliputi produktivitas primer, sekunder, penyimpanan karbon dan fiksassi karbon. Penyimpanan dan siklus biogeokimia: lahan basah sebagai sumber dan penenggelaman hara, tempat proses oksidasi reduksi, denitrifikasi dan penampungan untuk sedimen dan bahan organik Dekomposisi: membantu pelepasan karbon, mineralisasi, melepaskan senyawa kimia. Habitat komunitas kehidupan liar: menyediakan habitat untuk alga, bakteri, fungi, insekta, invertebrata, tumbuhan lahan basah, ikan, kerang, ampibi, reptil, burung, unggas air, dan kehidupan liar lainnya. Secara umum manfaat lahan basah antara lain : - mencegah banjir - mencegah abrasi pantai - mencegah intrusi air laut - menghasilkan material alam yang bernialai ekonomis, seperti kayu, bahan obat- obatan, dsb. - menyediakan kebutuhan manusia akan air minum, irigasi, mck, dsb. - sebagai sarana transportasi - sebagai lokasi pendidikan dan penelitian F. Pengelolaan Transportasi Pada Lahan Basah Transportasi adalah pemindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan

menggunakan sebuah wahana yang digerakkan oleh manusia atau mesin. Transportasi digunakan untuk memudahkan manusia dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Di negara maju, mereka biasanya menggunakan kereta bawah tanah (subway) dan taksi. Penduduk disana jarang yang mempunyai kendaraan pribadi karena mereka sebagian besar menggunakan angkutan umum sebagai transportasi mereka. Transportasi sendiri dibagi 3 yaitu, transportasi darat, laut, dan udara. Transportasi udara merupakan transportasi yang membutuhkan banyak uang untuk memakainya. Selain karena memiliki teknologi yang lebih canggih, transportasi udara merupakan alat transportasi tercepat dibandingkan dengan alat transportasi lainnya. G. Jenis Tansportasi dan Masalahnya di Lahan Basah : a. Darat Pembangunan jalan dan rel kereta api pada lahan basah memiliki kendala tanahnya labil dan sering banjir, sehingga perlu penimbunan dan atau konstruksi beton yang kuat disertai konstruksi cakar ayam tiang beton (jalan laying). Sarana transportasi di darat antara lain : Angkutan jalan Kereta api Lainnya Angkutan darat selain mobil, bus ataupun sepeda motor yang lazim digunakan oleh masyarakat, umumnya digunakan untuk skala kecil, rekreasi, ataupun sarana sarana di perkampungan baik di kota maupun di desa. sepeda becak bajaj bemo helicak delman Prasarana transportasi di darat antara lain : Jalan dan jembatan Rel Terminal Stasiun kereta api Halte b. Laut Transportasi air adalah transportasi pilihan utama pada lahan basah baik di danau, rawa maupun pessisir, kendala biaya penimbunan dan konstuksi beton, pendakalan oleh sedimentasi dan korosi yang tinggi, serta akses akan air bersih untuk kapal feri membutuhkan investasi system perpiaan yang panjang dari daerah hulu. Sarana transportasi di laut misalnya : Kapal Feri Sampan Prasarana transportasi di laut yaitu : Pelabuhan Galangan kapal c. Udara

Pembangunan udara pada kawasan pesisir seperti bandara ngurah rai, disamping dihadapkan pada persoalan ancaman banjir, tsunami, korosi pesawat dan besarnya arus angina menjadi kendala dalam pembangunan bandara, begitu juga persoalan banjir dan system drainase yang buruk seperti Bandara Soekarno Hatta, serta biaya investasi untuk penimbunan tanahnya. Sarana transportasi di udara misalnya : Pesawat Prasarana transportasi di udara misalnya : Bandar udara H. Transportasi Air Sebagai Pilihan Utama Karena Indonesia merupakan negara kepulauan, transportasi kapal merupakan sarana penting yang menghubungkan banyak tempat di negara ini. Kapal yang banyak digunakan termasuk kapal kontainer besar, berbagai jenis feri, kapal penumpang, kapal layar, dan kapal bermotor kecil. Tujuan utama teknik system transportasi adalah untuk menemukan dan menentukan kombinasi yang optimum dari sarana transportasi dan metode untuk pengopersian pada suatu daerah tertentu. Salah satu pendekatan yang sering digunakan dalam perencanaan system atau proses desain adalah: (1) Defenisi masalah, (2) Kebutuhan atau tujuan yang hendak dicapai dengan perbaikan desain, (3) Spesifikasi alternative penyelesaian masalah, (4) Evaluasi alternatif penyelesaian masalah dan (5) Pemilihan alternative yang terbaik. Pendekatan dengan melibatkan masyarakat setempat atau terkenal dengan istilah pengelolaan yang didasarkan kepada masyarakat (community based management). Dalam hal ini pihak pemerintah berperan sebagai fasilitator dan penentu pengaturan (regulator) sedangkan masyarakat terlibat langsung dan berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan pengelolaan. Dengan demikian, tujuan dan sasaran yang dicapai akan secara langsung dirasakan oleh masyarakat demikian pula sebaliknya kegagalan dalam pengelolaan. Proses pengelolaan lahan basah pesisir paada umumnya diawali dengan pertanyaan bagaimana lahan basah pesisir diperlakukan secara baik dan benar; apa luaran yang akan terjadi; keuntungan yang akan diperoleh dan daya tarik bagi stakeholders (pemanfaat); siapa yang berpartisipasi dalam proses dan bagaimana; apa yang akan terjadi jika proses pengelolaan dilaksanakan dan menjadi daya tarik pemanfaat; bagaimana koordinasi diantara pemanfaat yang meliputi identifikasi yang akan menjadi pelaku dan mekanismenya untuk mencapai target bersama; pengambilan keputusan; isu-isu kelembagaan mengenai bagaimana mengelola lahan basah pesisir seefektif mungkin seperti pengelolaan sumber daya lainnya; dan tindakan pemantauan, pengendalian dan pembinaan (MCS). Pertimbangan Lingkungan Lahan basah pesisir kaya akan jenis flora dan fauna yang memiliki nilai dan fungsi yang penting. Kehidupan organisme tersebut dapat berjalan secara normal jika didukung oleh habitat yang memadai dan sesuai bagi kehidupannya. Pertimbangan Teknis Pengelolaan secara hati-hati berdasarkan penelitian dari berbagai aspek sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan pemanfaatan rawa. Teknologi pengelolaan lahan rawa meliputi : pengelolaan air dan mekanika tanah. Pengelolaan Air (Banjir) Pengelolaan air yang tepat merupakan kunci keberhasilan pengelolaan lahan rawa. Dalam rancangan

infrastruktur hidrologi, pengelolaan air dibedakan menjadi (1) pengelolaan air makro yaitu penguasaan air pada tingkat kawasan rawan banjir (2)pengelolaan air mikro, yaitu pengaturan air drainase pada prasarana transportasi. Pengolahan Mekanika Tanah Biasanya tanah mineral di lahan rawa itu lembek atau sudah melumpur di waktu lahan digenangi. Oleh karena itu konstruksi prasarana transportasi harus diatur sedemikian rupa sehingga kokoh dan kuat. Pertimbangan Sosial dan Ekonomi Pertimbangan sosial ekonomi akan mempengaruhi perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan lahan basah. Aspek-aspek sosial yang perlu diperhatikan meliputi kepadatan penduduk, distribusi, mata pencaharian, struktur lapangan kerja, dan sistem pengelolaan sumber daya tradisional. I. Masalah Utama Transportasi Di Lahan Basah Untuk mengembangkan insfrastruktur tranportasi pada coastal wetland paerlu dilakukan pertimbangan factor-faktor yang menjadi kendala dalam pelaksanaannya. Hal ini penting untuk membuat suatu kebijakan atau keputuasan yang akn diambil. Beberapa kendalanya adalah sebagai berikut : Terdapat cukup luas di Indonesia, namun lokasinya terpencar-pencar akibat Indonesia sebagai Negara kepulauan; Topografi lahan basah relative datar, sehingga pengelolaan drainasenya cukup sulit, sering banjir; Memiliki biodiversity yang khas yang harus dilindungi; Salinitas tinggi, sehingga mempercepat korosi logam; Sering tergenang atau banjir Muka air tanahnya tinggi, sehingga tanahnya labil; Sulit mendapatkan freshwater untuk keeperluan air transportasi; Besarnya investasi infrastruktur di lahan basah, karena tanahnya yang labil dan tergenang; Pada musim kemarau pada lahan gambut juga berpotensi kebakaran; J. Kesimpulan dan Penutup Wetland merupakan lahan yang memiliki prospek ke depan untuk pengembangan tranportasi namun dalam pengembangannya perlu mempertimbangkan kelestarian lingkungan. Dimana wetland memiliki banyak kelemahan antara lain yaitu Salinitas tinggi Tanahnya sebagian mentah (n > 0,7) Adanya potensi sulfat masam Sering tergenang (banjir) Muka air tanah tinggi Sulit mencari fresh water Intrusi air laut Kurangnya teknologi Besarnya investasi pembangunan infrastruktur Beberapa usaha pengelolaan wetland yang telah dilakukan adalah dengan menerapkan teknologi pengelolaan lahan rawa meliputi : (1) pengelolaan air;

(2) pengolahan tanah

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2008. Pengelolaan Lahan Basah Pesisir Secara Terpadu dan Berkelanjutan. http://tumoutou.net/702_04212/kel3_0212.htm. Diakses tangal 26 September 2009. Anonim, 2009. Lahan Gambut. http://www.akuarium-tmii.or.id/wetland.html. Diakses tangal 26 September 2009. Walhi, 2008. Walhi Menyerukan Perhatian yang lebih Besar Terhadap LahanBasah.http://www.walhi.or.id/kampanye/air/lahanbasah/wlh_seru_lahan_basah_131003/. Diakses tanggal 26 September 2009. Anonim, 2009. http://id.wikipedia.org/wiki/Transportasi. Diakses tanggal 26 September 2009. Fathdiraja,2009. http://fathdiraja.blogspot.com/2008/05/perencanaan-tranportasi-di-lahanbasah.html. Diakses tanggal 27 September 2009.

Penggunaan Geotextile untuk Perencanaan Jalan di Daerah Rawa


Posted by herly fajri hermaita AprilApril - 2626 - undefinedundefined

Geotekstil adalah lembaran sintesis yang tipis, fleksibel, permeable yang digunakan untuk stabilisasi dan perbaikan tanah dikaitkan dengan pekerjaan teknik sipil. Pemanfaatan geotekstil merupakan cara moderen dalam usaha untuk perkuatan tanah lunak. Beberapa fungi dari geotekstil yaitu: 1. untuk perkuatan tanah lunak. 2. untuk konstruksi teknik sipil yang mempunyai umur rencana cukup lama dan mendukung beban yang besar seperti jalan rel dan dinding penahan tanah. 3. sebagai lapangan pemisah, penyaring, drainase dan sebagai lapisan pelindung. Geotextile dapat digunakan sebagai perkuatan timbunan tanah pada kasus: 1. Timbunan tanah diatas tanah lunak 2. Timbunan diatas pondasi tiang 3. Timbunan diatas tanah yang rawan subsidence

Penggunaan konstruksi perkuatan pada lahan basah pertama kali dilaporkan dengan menggunakan steel mseh di bawah konstruksi timbunan pada daerah pasang surut di Perancis. Perbandingan antara timbunan di atas tanah gambut di Afrika dengan dan tanpa perkuatan dilaporkan. Dinyatakan bahwa selain woven polypropylene fabric, tegangan tarik semua jenis geotextile yang diambil contohnya dari pemasangan setahun sebelumnya berkurang antara 25% sampai 36% dari tegangan tarik awalnya, meskipun tidak berpengaruh banyak pada fungsinya. Pelaksanaan konstruksi jalan di atas lahan basah dengan perkuatan geotextile dapat menghindarkan terjadinya keruntuhan lokal pada tanah lunak karena rendahnya daya dukung tanah. Keuntungan pemasangan geotextile pada pelaksanaan jalan di atas tanah lunak adalah kecepatan dalam pelaksanaan dan biaya yang relatif lebih murah di bandingkan dengan metoda penimbunan konvensional

Jenis geotextile ada 2 ,yaitu; 1. Woven Geotextile (Anyaman) 2. Non-Woven Geotextile (Nir-Anyam) Penggunan Woven Geotextile akan memberikan hasil yang lebih baik sebab arah gaya dapat disesuaikan dengan arah serat, sehingga deformasi dapat dikontrol dengan baik. Pada non-Woven Geotextile arah serat dalam struktur geotextile tidak terarah, sehingga apabila dibebani, maka akan terjadi deformasi yang sangat besar, dan sulit dikontrol. Dalam penggunaan geotekstil kita harus menetapkan perkuatan sebesar apa yang dibutuhkan, berikut faktor-faktor yang harus diperhatikan; 1. Jenis geotekstil yang akan digunakan

2. Sifat hubungan dan regangan,hal ini diperlukan agar deformasi yang terjadi pada konstruksi perkuatan kecil. 3. Sifat pembebanan, Perkuatan di atas tanah lunak,beban timbunan yang lebih besar akan memerlukan perkuatan dengan tensile strength yang lebih besar pula. 4. Kondisi lingkungan, Perubahan cuaca, air laut, kondisi asam atau basa serta mikro organisme seperti bakteri akan mengurangi kekuatan geotextile. 5. Bahan timbunan yang akan digunakan

Pemasangan Goetextile

Geotekstil pada jalan berfungsi sebagai lapis perkuatan sekaligus sebagai lapis pemisah (separator) antara material timbunan dengan tanah dasar sehingga konstruksi jalan menjadi stabil, tidak bergelombang dan rata pada permukaannya. Beberapa keuntungan menggunakan geotekstil,diantaranya : 1. Mencegah kontaminasi agregat subbase dan base oleh tanah dasar lunak dan mendistribusikan beban lalulintas yang efektif melalui lapisan-lapisan timbunan. 2. Meniadakan kehilangan agregat timbunan ke dalam tanah dasar yang lunak dan memperkecil biaya dan kebutuhan tambahan lapisan agregat terbuang. 3. Mengurangi tebal galian stripping dan meminimalkan pekerjaan persiapan. 4. Meningkatkan ketahanan agregat timbunan terhadap keruntuhan setempat pada lokasi beban dengan memperkuat tanah timbunan. 5. Mengurangi penurunan dan deformasi yang tidak merata serta deformasi dari struktur jadi.

Selain itu, geotekstil juga mempunyai kelemahan, yaitu SINAR ULTRAVIOLET, karena bahan geosintetik akan mengalami degradasi yang cepat dibawah terik sinar matahari.

Metode/cara Pemasangan Geotekstil; 1. Geotextile harus digelar di atas tanah dalam keadaan terhampar tanpa gelombang atau kerutan. 2. Sambungan geotekstil tiap lembarannya dipasang overlapping terhadap lembaran berikutnya. 3. Pada daerah pemasangan yang berbentuk kurva (misalnya tikungan jalan), geotekstil dipasang mengikuti arah kurva. 4. Jangan membuat overlapping atau jahitan pada daerah yang searah dengan beban roda (beban lalu-lintas). 5. Jika Geotextile dipasang untuk terkena langsung sinar matahari maka digunakan geotekstil yang berwarna hitam.

One Response so far.

1. Desain , Rancang Bangun Villa Indonesia says: 24 Oktober 2011 21:53

Pengeras tanah basah bentuk cristal bubuk, aplikasi mudah, cukup disiramkan ke tanah yang becek, maka tanah mengeras spt batu, cocok untuk tanah landasan, jalan yang dilewati kendaraan berat di daerah rawa yang becek, cocok di pertambangan shingga kendaraan berat bisa meliwati jalan becek, pemesanan hubungi ferdy 085649842128

GEOSYNTHETICS INDONESIA (KNOWLEDGE CENTER)


This is a personal library about geosynthetics and geotextiles for application in Indonesia and made for learning only and not for commercial purpose. Some contents are be copied from some initial litetarures and manufacturers.

Wednesday, August 24, 2011


Vertical Drain Para ahli teknik sering dihadapkan pada kondisi untuk mendirikan bangunan pada lahan dengan tanah berbutir halus dan jenuh air yang mempunyai properti drainase yang jelek. Apabila tidak dilakukan perkuatan terhadap tanah pada saat permulaan , maka tambahan beban dari struktur baru akan menyebabkan air terperas keluar dari waktu ke waktu. Lapisan tanah akan terpadatkan atau mengalami penurunan bersamaan dengan waktu air dikeluarkan. Selama keseluruhan proses konsolidasi ini, pergerakan atau pergeseran pondasi dari struktur akan berlanjut hingga penurunan tanah selesai. Pada saat tersebut maka akan terjadi kerusakan struktur yang tidak bisa diperbaiki. Hal yang kritis adalah seluruh tekanan air yang berlebih harus dipindahkan dari dalam tanah sebelum pekerjaan konstruksi dimulai. Sehingga akan meningkatkan daya dukung tanah untuk mampu mendukung beban dari bangunan baru atau struktur lain di atasnya. Namun demikian, tanah berbutir halus dan dapat terkompresi mempunyai permeabilitas yang rendah sehingga memerlukan waktu konsolidasi yang lama. Masalah ini dapat diatasi dengan memasang vertikal drain yang menyediakan jalur drainase yang lebih pendek dan lebih mudah supaya air bisa keluar dengan cepat. Pada akhirnya derajat konsolidasi yang sama akan tercapai baik dengan vertikal drain ataupun tidak. Vertikal drain berguna untuk mempercepat waktu penurunan yang diperlukan dalam menyelesaikan proses konsolidasi. Makin pendek jarak antar vertikal drain yang dipasang, maka akan makin cepat laju penurunannya. Timbunan ditempatkan di atas lahan berfungsi untuk memicu terjadinya pergerakan air. Peningkatan tekanan air pori yang disebabkan oleh gaya dari berat timbunan (gradient) akan memindahkan air ke jalur drainase terdekat dan kemudian naik menuju lapis drainase yang terdapat pada permukaan

tanah di bawah timbunan. Bilamana target konsolidasi sudah tercapai maka pekerjaan konstruksi dapat dilanjutkan. Lahan dapat dipersiapkan dalam waktu hanya beberapa bulan dibandingkan dengan bertahun - tahun atau bahkan puluhan tahun apabila tidak menggunakan vertikal drain. Konsep awal vertikal drain dikembangkan pada tahun 1920-an, dengan membuat kolom pasir di dalam tanah. Kolom pasir bertindak sebagai jalur drainase karena pasir memiliki permeabilitas yang lebih baik daripada lempung atau lanau disekitarnya. Pada tahun 1940-an, Walter Kjellman mengembangkan prefabrikasi vertikal drain yang pertama (sumbu) yang terdiri dari beberapa saluran yang dilekatkan pada inti berupa karton yang kaku. Konsep tersebut kemudian dikembangkan pada awal tahun 1970-an, dengan penggunaan inti drainase berbahan sintetik dengan saluran-saluran arah memanjang ataupun yang berupa celah-celah, yang kemudian dibungkus dengan kertas atau filter non woven. Performa Vertikal Drain Selama proses konsolidasi, vertikal drain akan terkena gaya tarik dan juga gaya tekan akibat proses pergeseran dan penurunan tanah. Hal tersebut akan menimbulkan pengaruh yang berat atas kemampuan fungsi drainase sebagai berikut:

Perpindahan tanah ke arah lateral dapat menyebabkan beberapa vertikal drain tertentu akan mengalami pemuluran yang dapat melebihi batas titik runtuhnya. Kompresi tanah secara vertikal (penurunan) menyebabkan beberapa vertikal drain terjepit , beberapa kejadian mengakibatkan bagian inti vertikal drain menjadi terlipat dan tertekuk.

Performa vertikal drain pada kedua kondisi tersebut di atas harus dipertimbangkan dalam memilih vertikal drain. Kegagalan fungsi vertikal drain secara serius akan merugikan jadwal konstruksi proyek dan juga kestabilan struktur. Prefabricated Vertical Drain Secara khas, inti vertikal drain dirancang secara khusus untuk memastikan kecukupan dari kapasitas pengaliran yang akan terjaga sepanjang waktu, bahkan pada kondisi yang paling berat. Vertikal drain tersedia dalam beberapa tipe geotekstil filter dan beberapa tipe inti vertikal drain untuk menyesuaikan berbagai kondisi tanah dan pekerjaan teknis. Create by GEOSYNTHETICS INDONESIA (KNOWLEDGE CENTER) on 5:44 PM 0 Comments

Geotube

GEOTUBE Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia yang diapit oleh dua samudra luas, abrasi terhadap garis pantai merupakan salah satu hal serius yang dihadapi oleh Indonesia. Ditambah lagi dengan banyaknya fasilitas publik di sekitar pantai, sehingga memerlukan penanganan yang tepat guna dan ekonomis. Berbagai cara dapat diterapkan untuk mengendalikan abrasi misalnya dengan membuat bangunan pantai seperti : pemecah gelombang, krib, dan dinding laut, atau dengan cara menanam tanaman pencegah abrasi seperti pohon bakau. Sejalan dengan perkembangan teknologi, salah satu cara lain yang relatif ramah lingkungan dan murah karena dapat memanfaatkan material setempat adalah konstruksi geotube dan geobag. Geotextile Containment adalah material yang dibuat dari bahan geotekstil dengan kuat tarik yang cukup tinggi dan sudah difabrikasi dalam keadaan sudah jadi sehingga hanya memerlukan proses pengisian dan penempatan di lokasi proyek. Disain material tersebut sudah mempertimbangkan faktor gaya yang bekerja secara internal maupun eksternal sehingga mampu bertahan baik selama proses pemasangan maupun setelah pemasangan terhadap gaya gelombang yang mengenainya. Fungsi utama Geotextile containment adalah sebagai pengganti inti bangunan pantai yang biasanya menggunakan batu, sehingga material ini bisa dikategorikan sebagai material yang ramah lingkungan dan memudahkan dalam konstruksi bangunan. Berdasarkan ukuran dan cara pelaksanaan di lapangan, geotextile containment dibedakan menjadi 3 jenis yaitu geobag, geotube dan geocontainer.

Wisata Sambil Kerja Powered by Telkomsel BlackBerry Create by GEOSYNTHETICS INDONESIA (KNOWLEDGE CENTER) on 5:37 PM 0 Comments

Wednesday, January 13, 2010


About IGS

Scope The International Geosynthetics Society (IGS) was founded in Paris, on 10 November 1983, by a group of geotechnical engineers and textile specialists (Council History). The Society brings together individual and corporate members from all parts of the world, who are involved in the design, manufacture, sale, use or testing of geotextiles, geomembranes, related products and associated technologies, or who teach or conduct research about such products. Objectives The aims of the IGS are:

to collect and disseminate knowledge on all matters relevant to geotextiles, geomembranes and related products, e.g. by promoting seminars, conferences etc. to promote advancement of the state of the art of geotextiles, geomembranes and related products and of their applications, e.g. by encouraging, through its members, the harmonization of test methods, equipment and criteria to improve communication and understanding regarding such products, e.g. between designers, manufacturers and users and especially between the textile and civil engineering communities

Organization The IGS is registered in the USA as a non-profit organization. It is managed by five Officers and a Council made up of 10 to 16 elected members and a maximum of 5 additional co-opted members. These Officers and Council members are responsible to the General Assembly of members which elects them and decides on the main orientations of the Society. Various IGS activities are being dealt within open committees:

Asian Activities African Activities Communication Corporate Education European Activities North American Activities South American Activities Strategy/Membership Technical

There are also five closed committees:

Awards Committee (membership is selected by the IGS Council)

Bylaws Committee (committee is formed as necessary) International Liaison (membership is selected by the IGS Council) Financial Committee (membership is selected by the IGS Council) Investment Advisory Committee (membership is selected by the IGS Council)

Where it befits the objectives of the Society, local chapters can be established. 31 chapters are already in existence and others are in the formative stage.
NTRODUCTION The International Geosynthetics Society is a professional society composed of many types of members: producers, suppliers, contractors, consultants, academicians, students and others. This variety presents many different points of view and interests. Our geosynthetics discipline and industry, however, requires that all members support a common code of conduct when dealing with other members of the society, other members of our industry, and the general public who expect the IGS to be a leader in promoting the common good of the geosynthetics discipline. In 1994 the Corporate Members Committee requested that the IGS Council develop a Code of Ethics in order to increase the credibility and image of the IGS and to remind our members of our professional responsibilities. This request was approved and the IGS Council in February 1995 tasked this writer to prepare a draft Code of Ethics. The draft was published in the July 1995 edition of the IGS News and on the IGS Web site. Comments were invited from all interested persons. Based on received comments, two Past Presidents of the IGS, Dr. J.P. Giroud and Prof. R. K. Rowe, and President of the IGS, Prof. C.J.F.P. Jones, revised the draft document. The final version of the Code of Ethics was presented to the IGS Council during the 10 March 1997 meeting in Long Beach, California. It was unanimously approved by the Council. This Code of Ethics is clearly a voluntary code, but reflects our wish that members of the IGS execute the mission of our society within a framework of the highest professional conduct. http://www.geosyntheticssociety.org

Create by GEOSYNTHETICS INDONESIA (KNOWLEDGE CENTER) on 1:11 AM 1 Comments

Tuesday, January 12, 2010


Laboratory Accreditation Progrem for Geosynthetics Tests performed by the geosynthetics laboratory include both standard and specialized procedures for determination of physical and engineering properties of geosynthetics. All laboratory staff receive test performance training based on American Standards for Testing Materials (ASTM), Geosynthetic Accreditation Institute (GAI). Geosynthetics laboratory must have an accredited through the Geosynthetic Accreditation Institute-Laboratory Accreditation Program (GAI-LAP). Geotextiles:

ASTM D 5199 Thickness ASTM D 5261 Mass per Unit Area ASTM D 4751 Apparent Opening Size ASTM D 4491 Permitivity ASTM D 4632 Grab Strength ASTM D 4533 Trapezoidal Tear Strength ASTM D 4595 Wide Width Tensile Strength ASTM D 4833 Puncture Strength ASTM D 4884 Sewn Seam Strength Geosynthetic Clay Liners: GRI GCL1 Permeability ASTM D 4643 Bentonite Moisture Content USP-NF-XVII Bentonite Swell Index ASTM D 5261 Mass per Unit Area

Geogrids: ASTM D 4595 Wide Width Tensile GRI GG1 Rib Tensile GRI GG2 Junction Tensile Geomembranes: ASTM D 5199 Thickness ASTM D 792 Density ASTM D 638 Tensile Properties ASTM D 882 "ASTM D 751 "ASTM D 4595 Wide Width Tensile Strength ASTM D 1004 Tear Resistance ASTM D 4833 Puncture Resistance ASTM D 5321 Direct Shear ASTM D 413 Seam Peel/Shear ASTM D 751 "ASTM D 3083 "ASTM D 4437 "ASTM D 6392 " Create by GEOSYNTHETICS INDONESIA (KNOWLEDGE CENTER) on 4:00 PM 0 Comments

Friday, January 16, 2009


GEOSYNTHETICS FOR DEWATERING

Geotube Dewatering Technology The Low Cost, High Volume Dewatering Solution Geotube dewatering technology has become the dewatering method of choice for organizations around the world. Geotube dewatering technology is used for projects large and small, and there is good reason -- simplicity and low cost. There are no belts, gears, or complicated mechanics. Geotube containers are constructed of highstrength, permeable, specially engineered textiles designed for containment and dewatering of high moisture content sludge and sediment. They are available in a variety of sizes, depending on your volume and space requirements. Geotube systems can even be mounted in mobile roll-off containers that can be transported around your property as necessary. It's one of the most versatile dewatering technologies available. And one of the most effective. Volume reduction can be as much as 90%, with high solid levels that make removal and disposal easy. Our dewatering technology also allows for profitable recovery of valuable solids. Highlights Custom fabricated with seaming techniques that withstand pressure during pumping operations. High flow rate allows residual materials to dewater, while containing solids. TenCate pioneered the dewatering technology. We have spent years perfecting the technology and hold several patents. With our vertically integrated manufacturing approach, TenCate controls all aspects of product quality. All of our facilities are ISO-9001-2000 Certified. Our testing laboratories are the only A2LA and GRI-LAP certified labs within the geotextile industry, and they are re-certified yearly. Geotube systems have been in place since 1962. Over 2,000 dewatering projects have used Geotube units. TenCate has partnered with federal agencies to develop and advance the technology. Dewatering Overview Millions of gallons of sludge have been pumped into Geotube containers for containment and

dewatering of industrial waste, municipal sludge, and hazardous contaminated sediments. Paper mills, chemical companies, industrial plants, and nuclear power plants are just a few of the clients that have benefited from Geotube dewatering technology. Geotube dewatering technology is the low cost, high volume dewatering solution. The dewatering process is simple and effective. Key Benefits of Geotube Dewatering Technology Effective high volume containment Efficient dewatering and volume reduction Cost effective No special equipment required Project Implementation Steps Testing and Evaluation Software Analysis Pilot-Scale Project How It Works Geotube dewatering technology is the low cost, high volume dewatering solution. The dewatering process is simple and effective. The pumping process is repeated until the tube is full. Eventually, the solids can be handled as dry material, increasing options for transportation and disposal. How Geotube Dewatering Technology Works Dewatering with Geotube technology is a three-step process: Step 1: Filling -- Sludge (dredged material) is pumped into the Geotube container. Environmentallysafe polymers are added to the sludge, which makes the solids bind together and water separate. The Geotubecontainer's unique fabric confines the fine grains of the material. Step 2: Dewatering -- Clear effluent water simply drains from the Geotube container through the small pores in the specially engineered textile. This results in effective dewatering and efficient volume reduction of the contained materials. And this volume reduction allows for the repeated filling of the Geotube container. Over 99% of solids are captured, and clear filtrate can be collected and recirculated through the system. The decanted water is often of a quality that can be reused/returned for processing or returned to native waterways without additional treatment. Step 3: Consolidation -- After the final cycle of filling and dewatering, the solids remain in the bag and continue to densify due to desiccation as residual water vapor escapes through the fabric. Volume reduction can be as high as 90 percent. When full, the Geotube container and contents can be deposited at a landfill, remain on-site, or the solids can be removed and land-applied when appropriate. Installation of Geotube Containers Here a brief summary of our step-by-step installation of Geotube containers. Step 1: Grade the site to remove any debris or sharp objects. (It is important to avoid puncturing the impermeable membrane or the Geotube unit.) Be sure to level site from side to side, with no more than a 0.5% grade from end to end. Step 2: Construct a containment berm 1/3 to 2/3 the height of the Geotube unit around the perimeter. Step 3: Dig trench inside containment berm, sloped for positive drainage to lower end of cell.

Step 4: Place impermeable membrane over the entire dewatering cell including the interior trench and the perimeter berm. Step 5: Place drainage media (such as free-draining granular material or drainage net) over the entire site, except for the interior trench and containment berm. Step 6: Unroll Geotube unit over the drainage media on the upper end of the dewatering cell. Align unit using the handling straps. Step 7: Install an inline mixing manifold system which includes an injection port, 90-degree elbows for mixing, and a sample port. Pump sludge through the return line as a final floc check before pumping into the Geotube unit. Step 8: Connect a flexible line to the filling port. Pinch valves are the preferred method to control the waste stream. Step 9: The circumference of the Geotube unit determines the design pump height. DO NOT exceed the design fill height. Step 10: The Geotube unit can be filled multiple times during the dewatering process. [Note: In colder climates, the freeze-thaw cycle improves dewatering efficiency.] Step 11: Simply cut open the container and remove the solid material. Use of Chemicals to Optimize the Dewatering Process Chemical use is encouraged to enhance the dewatering process in most applications. Chemicals include: (1) coagulants and (2) flocculants. The right chemistry is critical. This should be the first step of the process. Professional counsel is strongly recommended to enhance performance. The right chemical conditioning improves the following: The rate of dewatering Retention of suspended solids and contaminants Clarity of effluent in NTUs (Nephelometric Turbidity Units) Percentage of dry solids Overall utility of Geotube unit The proper dosing and use of chemicals should be a priority in the preliminary planning of a dewatering project. Please see our Chemical Conditioning section for further details. Chemical Conditioning Chemical Conditioning refers to the addition of coagulants and/or flocculants to optimize the sludge dewatering. The following is a layman's description for chemical conditioning to provide a general understanding of the steps involved in setting up a system to make the chemicals down into solution and them mix the solution into the sludge or slurry prior to it going into the Geotube unit for dewatering. We recommend that you consult with a professional polymer supplier to conduct the bench tests to determine the optimum products and dosages. Likewise, if you are not familiar with setting up the polymer mixing and injection system, consult with your polymer supplier for assistance. A simple polymer make down system used to mix chemicals into a dewatering project. For all kinds of dewatering equipment, be sure to check all of these parameters: Sludge flow Sludge concentration Flocculant flow Flocculant concentration

Post-dilution water flow Injection point(s) TenCate Geotube has developed two tests to assist the operator or chemical supplier in evaluating candidate chemical regimens: (1) RDT (Rapid Dewatering Test) and (2) GDT (Geotube Dewatering Test). These tests allow the operator to do the following: Visualize the dewatering process Evaluate the efficiency of the selected polymer Analyze the clarity of the effluent Predict achievable percent solids after dewatering in Geotube units Estimate the time of the dewatering cycle. Flow Diagram for Polymer Make Down System This diagram illustrates a simple polymer make down system used to mix chemicals into a dewatering project. This shall serve as a general illustration. TenCate recommends you consult with your polymer supplier for assistance in setting up your polymer mixing and injection system.

Pilot-Scale Test Another option to consider is a Pilot-Scale Test. Smaller Geotube units can simulate operational conditions when space, time, and/or budget considerations apply. Larger scale pilot tests can also be used (if space and budget allow) to provide very detailed information. Large or small, pilot testing provides information, education, and measurable results in a very cost effective manner. Software Analysis TenCate provides design and technical assistance to owners, engineers, contractors, and customers to insure that each and every Geotube project is successful for the customer. TenCate offers support for all Geotube projects with four proprietary software programs: Geotube Simulator, Geotube Estimator, Geotube Illustrator, and Geotube Stacking Analyzer. These programs provide preliminary output data to insure proper groundwork for dewatering (and shoreline protection) projects. All of the Geotube software programs have both Metric and English input and output capabilities. Sample outputs are shown at the right. Geotube Simulator software provides the dimensions, stresses, and fill volumes for specific circumferences and heights of Geotube units. This program creates a scale dimensional cross section image for any given Geotube circumference and height. Geotube Estimator software calculates the length of the Geotube units required for any dewatering project where the volume or known flow are provided. Dewatered volumes, number of pumping days, and dry tons are also part of the output data. Geotube Illustrator software looks at the defined footprint of a project and combines it with the volume of material to be dewatered. Then it calculates the number of Geotube units needed, number of stacked layers, and amount of filtration fabric required to complete the project. Geotube Stacking Analyzer software identifies the maximum stresses on the Geotube units at the critical locations for a variety of the stacking alternatives. Safety in Selection & Operations Introduction Always follow the safety rules of the project or site owner, contractors, and regulatory agencies such

as: OSHA and EPA. This safety section addreses safety recommendations for working with Geotube containers. Safety Considerations There are many safety considerations involved in the selection and operation of a Geotube unit. These include: fabric strength, capacity, seaming issues, and port design. Additional Safety Information Check out the other web pages in this Safety section and read more about these additional safety issues: General Safety Issues 1. Follow all site preparation recommendations as provided by your TenCate Market Manager. 2. The surface that the Geotube container is placed on must be clear of any sharp objects that could pierce the units when filled and under pressure. 3. The Geotube container area should have limited access with all individuals being briefed on the recommended safety instructions. 4. Geotube containers and surrounding areas may be slippery due to (1) filtrate coming through fabric, and (2) possible surface deposits due to filtration. 5. Many installations contain contaminated material. Check with site personnel for proper safety requirements when around Geotube containers, filtrate, and sludge. Geotube Container Handling 1. Unload Geotube containers using rigging slings rated for proper Geotube weights. DO NOT use forks. 2. Store Geotube containers on-site in a secure location out of traffic flow areas. 3. Position Geotube unit on flat, level surface within the dewatering cell using the unrolling straps contained in the Geotube package Filling and Working Around Units 1. DO NOT fill Geotube units over the manufacturer's maximum fill height stenciled on all Geotube units (next to the fill ports.) 2. Always wear safety equipment specified by OSHA, property owner, and contractor. 3. DO NOT wear footwear that has cleats, spikes, or sharp objects on the soles. Access and Working on Top of Geotube Container 1. Geotube containers that are filled, or are dewatering, may be wet and slippery. Caution is advised. 2. There are several safe ways to get on top of Geotube containers. 3. Geoport cover plates should remain in place when ports are not being filled. 4. Extra precaution is needed near ends and sides of units that are sloped. 5. Proper care should be taken when working on top of units or moving from one unit to the next. Unplanned Release of Solids This involves releases such as when a puncture, hole, or rupture occurs. 1. Ensure all personnel are present and accounted for. 2. If solids are on any personnel, follow site cleaning requirements based on the type of solids. 3. Contain escaped solids. If large volume is present, place absorbent material (such as hay bails) around and over the released solids. 4. Notify appropriate personnel as required by site and regulator personnel. 5. Repair if needed.

Removal of Solids 1. In area where removal equipment is operating, ensure that it is appropriately marked. 2. Depending on the type of solids being removed, special precautions may be required. Geotube Dewatering Applications Geotube dewatering technology delivers solutions that offer high strength geotextiles with very unique filtration and retention properties. From our complete product line for the Dewatering Market, we offer materials that provide solutions for the following applications: Mining & Mineral Processing Flexible Enough for Available Space Geotube industrial fabrics deliver solutions for mining and mineral processing. From our complete product line for the dewatering market, we offer materials that are ideal for handling dewatering and containment in one operation. Mine tailings, coal sludge, and other materials can be managed and handled cost-effectively with Geotube dewatering technology. Because Geotube containers can be custom-sized to the application, they can be placed in available space between other structures, and removed once dewatering is complete. Geotube dewatering technology is a costeffective alternative to mechanical processes. It reduces disposal cost by consolidating higher solids with very little maintenance. Effluent can be pumped directly from the process; or if a clarifier/thickener is used, effluent from the underflow can be diverted through the Geotube container, eliminating the requirement for an expensive mechanical dewatering device. Geotube units can be used to capture fines, silts, and clays from the tailings effluent prior to discharge into the ponds or directly into streams. Geotube units will separate and dewater the fines and allow disposal without expensive dredging and transporting operations. In some cases, conditioners or polymers are used to promote flocculation to improve solids retention and filtrate quality. These solids can be safely stored onsite between uses or can be disposed of in a landfill. Because contaminates are contained, Geotube dewatering technology eliminates concerns associated with airborne pollutants. Geotube containers can also be used to utilize the fines to build dikes and containment berms. Source : http://www.tencate.com/ Create by GEOSYNTHETICS INDONESIA (KNOWLEDGE CENTER) on 12:02 AM 1 Comments

Wednesday, December 24, 2008


Doyo Lujeng Dwiarso, Geogrid in Flexible Pavement

Geogrid technology has developed steadily since the products werefirst introduced in the early 1980s. The initial geogrid products rapidlygained popularity within the civil engineering industry, principallydue to their ability to provide simple, cost-effective solutions in variousroadway and grade separation applications.They have gained widespread acceptance over the last 25 yearsas a solution to problems associated with roads constructed on softor problematic subgrades, but their use with roads on competentsubgrades has been less common. Clear, well-established, design methodology from the AmericanAssociation of State Highway and Transportation Officials (AASHTO)is now available that allows the design engineer to quantify the benefitsof using geogrids to extend pavement design life. This approach canbe applied for the design of major highways or light duty pavementsassociated with local housing or retail store developments.

Geogrid Composition

A geogrid is a regular grid structure of polymeric material used toreinforce soil or other geotechnical engineering related materials.Products are generally classified as either Uniaxial Geogrids orBiaxial Geogrids, depending on whether their strength is predomi-nantly in one or two directions. Uniaxial Geogrids are principally used in grade separation appli-cations for retaining walls and steep slopes. Biaxial Geogrids areused mainly in roadway applications to either stabilize a soft subgrade, or to provide reinforcement to the unbound base coursematerials (referred to as base reinforcement). Benefits of usingBiaxial Geogrids for base reinforcement are typically a reduction ofrequired base course material thickness and/or a significant extension in service life of the pavement structure. In base reinforcement applications, the existing subgrade is of afirm nature or has been rendered such through the use of a subgradeimprovement technique. One of the principal failure mechanisms ofa pavement under these firm subsoil conditions is ruttingresultingfrom progressive lateral movement of the aggregate base courseduring traffic loading. The amount of lateral movement can be reduced greatly byincluding a Biaxial Geogrid within or at the bottom of the basecourse layer. Partial

penetration of coarse aggregate particlesthrough the geogrid apertures and subsequent compaction, resultsin mechanical interlock or confinement of the aggregate particles.

Application Benefits

The principal benefit of using a geogrid within the unbound aggregatecomponent of a flexible pavement is less rutting at the surface. Thisis due to reduced lateral spreading of the unbound aggregate. However, an additional feature of the reinforcement is that thegeogrid confined aggregate results in a much stiffer base courselayer and a lower dynamic deflection of the pavement structureduring traffic loading. Fatigue cracking of the asphalt is thereforealso reduced due to the presence of the geogrid reinforcement.In order for geogrids to work successfully in base reinforcementapplications, they must have the capacity to facilitate efficient loadtransfer between the aggregate and the geogrid. Webster (1992) reported a large-scale research program undertakenby the U.S. Army Corps of Engineers to investigate and determinethe key physical properties of a geogrid required to create optimalinteraction and load transfer. A summary of the key material propertiesdetermined in the study are presented in the table below.Key geogrid properties as determined by the U.S. Army Corps of Engineers.

Expanded Use

As the population of our towns and cities continues to expand rapidly,new or recently constructed housing in the form of sub-division devel-opments are becoming increasingly commonplace. One of the morefrequent problems associated with the roads in these developmentsis adirect result of their method of construction.Phased construction has become an extremely common practice,particularly in residential developments. In order to build a roadwayto gain site access, contractors will initially placethe aggregate component of the pavement and,usually, a thin asphalt layer on top. This techniqueis particularlyuseful when local trenches arerequired for installation of utilitypipes and cables. Pavement distress in the form of asphalt crackingat the surface is common on phased roads withinsub-divisions. In many cases, these alligatorcracks start to appear within a very short periodof time following construction perhaps as little asone or two years. The simple solution to this problem is a layer ofBiaxial Geogrid installed at the bottom or withinthe base course during initial construction. Forrelatively little additional expense at the start of construction, thelifetime of their road is extended enormously, while expensive anddisruptive rehabilitation or reconstruction activities are avoided.Another use of geogrid technology can be found in the developmentof pavements around retail stores. Typically, thicker heavy-duty pavements are adopted in the loading areas around suchstores, while thinner lighter duty pavements are used for the carparking areas.One of the main problems associated with this approach is thepotential for a bath tub effect this is where the subgrade is at alower level in the areas of the heavy duty pavements. These areas areprone to water ingress and build up resulting in a reduction in thelong-term strength of the pavement. In colder regions, these areas are also more susceptible to theeffects of freeze-thaw activity. Both of these situations result in areduction in the design life of the pavement but there are additionalpractical problems for the contractor associated with this more complicated method of

construction.In addition to offering protection against the bath tub problemsdescribed above, the reinforced sections offer significant material cost savings. Additional benefits result from increased speed of construction fewer stake out procedures, less undercut/disposal offill, simpler construction, etc.

A Glimpse Into The FutureCurrently, AASHTO provides guidelines for the design of flexible pavements in their current design guide (AASHTO,1993) and in InterimStandard PP46-01 (AASHTO, 2001). New pavement design approaches,based on advanced mechanistic-empirical (M-E) principles, are beingdeveloped and refined by AASHTO and other entities. A few DOTs have already made the leap to improved M-E designmethods, but most are still awaiting official publication of AASHTOsnew design guide which will advocate adoption of this approach topavement design. Official publication of the new AASHTO designguide may still be several years out, but the availability of a M-E baseddesign method incorporatinggeogrids within the pavement structureis currently being finalized by The University of Illinois atChampaign-Urbana.

Source :

R.D. Holtz, Ph.D., P.E., Geosynthetics Soil Reinforcement, Department of Civil & Environmental Engineering, University of Washington Create by GEOSYNTHETICS INDONESIA (KNOWLEDGE CENTER) on 1:30 AM 0 Comments

Tuesday, December 23, 2008


Doyo Lujeng Dwiarso, Perihal Geosintetik atau Geotekstil

Geosintetik adalah material yang saat ini populer dalam proyek konstruksi di Indonesia terutama dalam pembangunan jalan di atas tanah lunak seperti di pulau Sumatera dan Kalimantan yang banyak terdapat tanah gambut. Selain itugeosintetik juga diaplikasikan sebagai filter pada konstruksi penahan gelombang baik di tepian pantai maupun lepas pantai . Istilah geosintetik mengacu pada material sintetik yang digunakan dalam permasalahan geoteknik. Material sintetik merupakan hasil polimerisasi dari industri-industri kimia atau minyak bumi. . Penggunaan bahan sintetik ini berkaitan dengan sifat ketahanan (durabilitity) material sintetik terhadap senyawa-senyawa kimia, pelapukan,

keausan, sinar ultra violet dan mikroorganisme. Polimer utama yang digunakan untuk pembuatan geosintetik adalah Polyester (PET), Polyamide (PM), Polypropylene (PP), dan Polyethylene (PE).Geosintetik yang ada terdiri dari berbagai jenis dan diklasifikasikan dalam beberapa bentuk sebagai berikut : 1. Geotekstil, bahan lulus air dari anyaman (woven) atau tanpa anyaman (non woven) dari benangbenang atau serat- serat sintetik yang digunakan dalampekerjaan tanah. 2. Geogrid, produk geotekstil yang berupa lubang-lubang berbentuk segi empat (geotextile grid) atau lubang berbentuk jaring (geotextile net) , biasanya terbuat dari bahan Polyester (PET) atau High Density Polyethylene (HDPE) 3. Geofabric, semua produk geosintetik yang berbentuk lembaran 4. Geocoposite, kombinasi dua atau lebih tipe geosintetik 5. Geomembrane, geosintetik yang bersifat impermeable atau tidak tembus air, biasanya dibuat dari bahan high density polyethylene (HDPE). 6. Geocell, berbentuk sel-sel sebagai bahan penahan erosi atau perkuatan , terbuat dari bahan High Density Polyethylene (HDPE)7. Geotube, berbentuk tabung memanjang yang digunakan di daerah pantai 8. Geobag, berbentuk karung sebagai perkuatan di aliran sungai atau pantai . 9. Geocontainer, sebagai bahan pembuat pulau atau konstruksi ditengah laut dan diturunkan dari kapal . 10. Vertical drain, sebagai bahan pemercepat aliran disipasi air pori sehingga mempercepat proses settlement. 11. Concrete matras, berbentuk matras atau kasur yang diisi dengan beton untuk penahan dinding sungai pencegah erosi 12. Geojute, terbuat dari jaring-jaring atau bahan serat alami seperti dari serat kelapa sawit untuk penahan erosi .Produk ini mempunyai aplikasi yang sangat luas di bidang geoteknik & teknik sipil dari mulai konstruksi jalan raya, embankmen, perkuatan tanah lunak, jalan kereta api, jembatan, perkuatan lereng dan dinding, waduk, reklamasi pantai dan lainnya. Geotekstil Meliputi woven (tenun) dan non woven (tanpa tenun). Tenun dihasilkan dari 'interlaying' antara benang-benang melalui proses tenun, sedangkan non woven dihasilkan dari beberapa proses seperti : heat bonded (dengan panas), needle punched (dengan jarum), dan chemical bonded (enggunakan bahan kimia). Baik woven maupun non woven dihasilkan dari benang dan serat polimer terutama : polypropelene, poliester, polyethilene dan polyamide.Sebenarnya geotekstil pada awalnya dibuat dari berbagai bahan seperti serat-asli (kertas, filter, papan kayu, bambu) , misalnya penggunaan jute untuk percepatan konsolidasi sebagi pengganti pasir sebagai bahan drainase (vertical drain) yang banyak dilakukan di India atau dilakukan di Belanda dengan menggunakan serat filter. Perkuatan tanah lunak juga menggunakan papan-papan kayu atau anyaman bambu yang ditempatkan di atas di atas tanah lunak (jaman Romawi kuno dan juga di Kalimantan Indonesia). Hanya bahan organik tersebut mudah lapuk sehingga umur konstruksi tidak dapat lama kecuali bahan dari bambu atau kayu yang apabila berada dalam air secara terus menerus akan bersifat permanen. Penanganan Longsoran Salah satu aplikasi geotekstil adalah untuk penanganan longsoran, beberapa penelitian menunjukkan bahwa penanggulangan longsoran dengan bahan geosintetik atau geotekstil pada ruas jalan sebagai perkuatan timbunan jalan mempunyai fungsi sebagai berikut : 1. Geosintetik atau geotekstil sebagai separator, yaitu mencegah bercampurnya agregat pilihan

dengan lapisan asli tanah lunak . 2. Geosintetik atau geotekstil sebagai perkuatan tanah dasar, yang mana material geosintetik atau geotekstil memiliki properties kekuatan tarik yang melawan pergerakan tanah dasar baik mengembang ataupun menyusut. 3. Geosintetik atau geotekstil sebagai perkuatan lereng jalan sementara atau permanen 4. Geomembrane sebagai perkuatan pada bahu jalan, yang berfungsi untuk mencegah perubahan kadar air pada tanah dasar karena geomembran mempunyai sifat kedap air, tahan pelapukan terhadap zat kimia tanah, dan organisme pembusukan dalam tanah, selain itu mempunyai tahanan terhadap kekuatan tarik terhadap longsoran , daya tahan terhadap sobek, dan daya tahan coblos yang tinggi. 5. Geotekstil non woven atau tanpa tenunan yang terbuat dari serat polyprophylene melalui proses needle punched adalah cocok untuk apliaksi pada tanah dasar yang banyak mengandung sisa-sisa tanaman karena mempunayi daya tahan coblos yang lebih tinggi dibandingkan dengan bahan lainnya. Disamping itu geotekstil non woven memiliki sifat hidrolik propertis yang lebih bagus shingga bisa sekaligus berfunsi sebagai filter yang hanya melarutkan air tanpa membawa agregat tanah . Langkah-langkah perhitungan adalah : 1. Penentuan beban yang bekerja di ruas jalan 2. Analisa stabilitas internal dengan menghitung : tebal lapis perkuatan tanah, panjang geotekstil di depan dan di belakang bidang longsor, panjang total geotekstil bidang longsor, panjang overlap bahan perkuatan, panjang overlap bahan perkuatan, analisis stabilitas lereng, stabilitas terhadap kuat dukung tanah. Diposkan oleh GEOSYNTHETICS INDONESIA (KNOWLEDGE CENTER) di Create by GEOSYNTHETICS INDONESIA (KNOWLEDGE CENTER) on 12:33 PM 1 Comments Older Posts Home Subscribe to: Posts (Atom)

Blogger templates Blogger news Blogroll Web Link

Wisata Sambil Kerja

Link

Wisata Kerja Panduan Geteknik 3 Badan Pengatur Jalan Tol Indonesia Departemen Pekerjaan Umum PT. Jasa Marga Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia

Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia PT. Tetrasa Geosinindo Tencate Geosynthetics Asia Sdn Bhd

Doyo Lujeng Dwiarso

GEOSYNTHETICS INDONESIA (KNOWLEDGE CENTER) View my complete profile

Popular Posts

Doyo Lujeng Dwiarso, Perihal Geosintetik atau Geotekstil Geosintetik adalah material yang saat ini populer dalam proyek konstruksi di Indonesia terutama dalam pembangunan jalan di atas tanah luna...

GEOSYNTHETICS FOR DEWATERING Geotube Dewatering Technology The Low Cost, High Volume Dewatering Solution Geotube dewatering technology has become the dewatering met...

Doyo Lujeng Dwiarso, Istilah Geosintetik Geosintetik adalah material yang saat ini populer dalam proyek konstruksi di Indonesia terutama dalam pembangunan jalan di atas tanah lunak...

Doyo Lujeng Dwiarso, Reinforced Retaining Wall

Concept Retaining walls are required where a soil slope is uneconomical or not technicallyfeasible. When compared with conventional retain...

Doyo Lujeng Dwiarso, Polyslope - S Polyslope S adalah geosintetik vegetasi perkuat lereng tanah dan dinding Kosntruksi lereng dengan perkuatan vegetasi dengan menggunakan p...

Doyo Lujeng Dwiarso, Geogrid in Flexible Pavement Geogrid technology has developed steadily since the products werefirst introduced in the early 1980s. The initial geogrid products rapidly...

Doyo Lujeng Dwiarso, Mekanika Tanah dalam Geotekstil Mekanika tanah adalah bagian dari geoteknik yang merupakan salah satu cabang dari ilmu teknik sipil , dalam bahasa Inggris mekanika tanah ...

Vertical Drain Para ahli teknik sering dihadapkan pada kondisi untuk mendirikan bangunan pada lahan dengan tanah berbutir halus dan jenuh air yang mempun...

Geotube GEOTUBE Sebagai ne gara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia yang diapit oleh dua samudra luas, abrasi terhadap gari...

Doyo Lujeng Dwiarso, Right Application of Geosynthetics Base reinforcement In base reinforceme nt applications geosynthetics (geotextile) are used as tensile element at the bottom of a (sub)base o...

Archives

2011 (2) o August (2) Vertical Drain Geotube 2010 (2) 2009 (1) 2008 (11)

About Pages

Home Picture Window

yang luas untuk konstruksi jalan, biasanya dengan cara memperbaiki areal tersebut. Dengan cara dikupas atau digali, kemudian galian tersebut diisi dengan lapisan tanah atau pasir yang lebih baik. Dimana tanah yang telah diganti tersebut dipampatkan dengan diberi beban diatasnya berupa tumpukan pasir atau tanah selama jangka waktu
Areal gambut

tertentu.
Untuk mempercepat pemampatan lapisan tanah, ada beberapa cara yang dilakukan yaitu ada yang menggunakan tiang pasir(vertical sand drain) yang dipasang pada setiap jarak tertentu. Ada juga yang menggunakan sejenis bahan sintetis yang dipasang vertical juga yang jaraknya tergantung kebutuhan yang dikenal dengan

vertical wick drain. Penggunaanvertical wick drain ada yang ditambah dengan bantuan pompa vakum untuk mempercepat proses pemampatan tanah. Semua hal ini dilakukan untuk mengeluarkan air dan

udara yang mengisi pori-pori pada lapisan tanah. Prosespemampatan tanah ini ada juga yang menggunakan sistem yang disebut dynamicconsolidation yaitu dengan cara menjatuhkan beban yang berat kelapisan tanahyang akan dipampatkan. Untuk areal yang tidak luas, pondasi untuk equipment ada yang langsung membangun pondasinya seperti pondasi cakar ayam. Setelah pondasi terpasang baru kemudian diberi beban diatasnya berupa tumpukan pasir atau tanah supaya terjadi pemampatan sampai yang diinginkan. Kemudian dibangun konstruksi jalan yang ingin dipasang diatasnya. Cara yang murah adalah dengan memakai dolken atau bambu berukuran diameter sekitar 8 cm dan panjang antara 4 6 meter yang dipancang dengan jarak tergantung kebutuhan biasanya sekitar 30 40cm. Sistem Pondasi untuk tanah lunak menggunakan metoda Pondasi Rakit (raftfoundation) yaitu Pondasi Sarang Laba-Laba. Pondasi sarang laba-laba bertujuan untuk memperlakukan sistem pondasi itu sendiri dalam berinteraksi dengan tanahpendukungnya. Semakin fleksibel suatu pondasi maka semakin tidak merata tegangan tanah yang timbul, sehingga terjadi konsentrasi tegangan di daerah beban terpusat. Sebaliknya semakin kaku pondasi maka akan semakin terdistribusi merata tegangan tanah yang terjadi yang dengan sendirinya effective contact area pondasi tersebut akan semakin besar dan tegangannya akan semakin kecil. Pondasi sarang laba-laba ini memiliki kedalaman antara 1 1.5 meter. Terdiri dari pelat rib vertical yang berbentuk segitiga satu sama lainnya. Di antara ruang segitiga tersebut diisi material tanah pasir/sirtu yang dipadatkan. Kemudian di atas pelat tersebut di cor pelat beton dengan tebal 150 200 mm. Konstruksinya cukup sederhana dan cepat dilaksanakan serta ekonomis. Cara lain yang selama ini dipakai pada pembuatan jalan adalah pemakaian kanoppel atau galar kayu sebagai perkuatan tanah dasar pada pembuatan jalan diatas tanah gambut cukup besar. Banyaknya pembangunan jalan yang selama ini dikerjakan dengan memakai kanoppel tidak lepas dari pertimbangan ekonomis mengingat fungsi jalan raya selalu berkaitan dengan dimensi panjang yang melibatkan bahan perkerasan dengan jumlah yang cukup banyak. Alternatif lain untuk meningkatkan perkuatan tanah dasar yaitu dengan pemakaiangeotextile dapat memberikan pertimbangan lain secara ekonomis dan struktur.Geotextile merupakan suatu bahan geosintetik yang berupa lembaran serat sintetis tenunan dan tambahan bahan anti ultraviolet. Geotextile ini mempunyai berat sendiri yang relatif ringan. Akan tetapi mempunyai kekuatan tarik yang cukup besar untuk menerima beban diatasnya. Keunikan utama geotextile adalah konsistensi kualitas sebagai produk industri permanen dan sangat kompetitif dalam harganya. Namun relatif mudah dan murah penerapannnya untuk perkuatan tanah dasar, serta hasil akhir yang memiliki kelebihan antara lain:

Menjaga penurunan tanah dasar yang lebih seragam. Meningkatkan kekuatan tanah dasar dan memperpanjang umur sistem. Mengurangi ketebalan agregat yang dibutuhkan untuk menstabilkan tanahdasar. Pemakaian kanoppel dan geotextile ini diharapkan akan memberikan keuntungan antara lain :

Memberikan lantai kerja bagi kendaraan konstruksi untuk pelaksanaan penimbunan selanjutnya. Mencegah kontaminasi dan kehilangan material timbunan. Mengurangi volume material timbunan dan biaya. Dari beberapa pengamatan yang menyimpulkan secara kasar bahwa biaya awalgeotextile lebih tinggi dibandingkan dengan pemakain kanoppel atau galar kayu.

sumber:http://aryapersada.com

Konstruksi Jalan di Atas Lahan Basah


Filed under: Sipilian 2 Comments July 16, 2010

5 Votes

1. KONSTRUKSI JALAN DI ATAS LAHAN BASAH DENGAN PERKUATAN GEOTEXTILE 2.1.1. Pendahuluan Penggunaan konstruksi perkuatan pada lahan basah pertama kali dilaporkan dengan menggunakan steel mseh di bawah konstruksi timbunan pada daerah pasang surut di Perancis. Perbandingan antara timbunan di atas tanah gambut di Afrika dengan dan tanpa perkuatan dilaporkan. Dinyatakan bahwa selain woven polypropylene fabric, tegangan tarik semua jenis geotextile yang diambil contohnya dari pemasangan setahun sebelumnya berkurang antara 25% sampai 36% dari tegangan tarik awalnya, meskipun tidak berpengaruh banyak pada fungsinya. Pelaksanaan konstruksi jalan di atas lahan basah dengan perkuatan geotextile dapat menghindarkan terjadinya keruntuhan lokal pada tanah lunak karena rendahnya daya dukung tanah. Keuntungan pemasangan geotextile pada pelaksanaan jalan di atas tanah lunak adalah kecepatan dalam pelaksanaan dan biaya yang relatif lebih murah di bandingkan dengan metoda penimbunan konvensional 2.1.2. Metoda Perencanaan Dengan Analisa Limit Equilibrium Timbunan badan jalan di atas tanah lunak akan mengalami penurunan yang besar dan kemungkinan runtuh akibat kurangnya daya dukung tanah terhadap beban timbunan. Suatu cara untuk memperbaiki kondisi tersebut adalah dengan cara penggunaan geotextile yang digelar di atas tanah lunak sebelum pelaksanaan timbunan yang berfungsi sebagai perkuatan (reinforcement). Perkuatan dalam kasus ini hanya bersifat sementara sampai dengan kuat dukung (bearing capacity) tanah lunak meningkat hingga cukup untuk mendukung beban di atasnya. Analisa dengan metoda limit equilibrium akan meninjau tiga modus stabilitas konstruksi timbunan di atas tanah lunak yaitu, stabilitas internal, stabilitas pondasi tanah lunak dan stabilitas keseluruhan konstruksi (overall stability). Untuk keperluan perencanaan, profil kuat geser tanah lunak perlu dimodelkan. Dua model dipergunakan untuk mengidealisasikan kuat geser tanah lunak di bawah timbunan yaitu pada lapisan tanah lunak tebal dan tipis. Pada lapisan tanah lunak tebal, kuat geser tanah lunak diidealisasikan meningkat sebagai fungsi ke dalaman, sedangkan pada lapisan tanah lunak tipis, kuatv geser tanah lunak dianggap tetap. Keseimbangan batas pada stabilitas internal menunjukkan bahwa untuk

menghindarkan kerusakan pada konstruksi timbunan, kuat tarik geotextile harus lebih besar dari gaya lateral yang ditimbulkan oleh timbunan di atas tanah lunak. Pendekatan keseimbangan batas pada stabilitas pondasi seperti yang disampaikan pada modus keruntuhan pondasi pada lapisan tanah lunak yang tebal adalah akibat rotasi ( rotational sliding ). Pada keruntuhan bentuk rotasi dan translasi pada lapisan tanah lunak yang tebal, keseimbangan momen untuk memperoleh kuat tarik geotextile perlu disampaikan. Pemilihan geotextile untuk perkuatan di pengaruhi oleh 2 faktor yaitu faktor internal dan external. Faktor internal geotextile terdiri dari
1. 2. 3. 4. Kuat tarik geotextile Sifat perpanjangan (creep) Struktur geotextile Dan daya tahan terhadap faktor lingkungan

Faktor external geotextile terdiri dari jenis bahan timbunan yang berinteraksi dengan geotextile. Struktur geotextile, yaitu jenis anyam (woven) atau niranyam (non-woven) juga mempengaruhi pada pemilihan geotextile untuk perkuatan. Kondisi lingkungan juga memberikan reduksi terhadap kuat tarik geotextile karena reaksi kimia antara geotextile dan lingkungan disekitarnya. Sinar ultraviolet, air laut, kondisi asam atau basa serta mikroorganisme seperti bakteri dapat mengurangi kekuatan geotextile. Waktu pembebanan juga mempengaruhi karena akan terjadi degradasi oleh faktor fatigue dan aging. Untuk menutupi kekurangan tersebut tidak seluruh kuat tarik geotextile yang tersedia dapat dimanfaatkan dalam perencanaan konstruksi perkuatan jalan. 2. KONSTRUKSI JALAN LAHAN BASAH DENGAN PONDASI CAKAR AYAM 2.2.1. Pendahuluan Pondasi cakar ayam terdiri dan plat beton bertulang dengan ketebalan 10-15 cm, tergantung dari jenis konstruksi dan keadaan tanah di bawahnya. Di bawah plat beton dibuat sumuran pipa-pipa dengan jarak sumbu antara 2-3 m. Diameter pipa 1,20 m, tebal 8 cm, dan panjangnya tergantung dari beban di atas plat serta kondisi tanahnya. Untuk pipa dipakai tulangan tunggal, sedangkan untuk plat dipakai tulangan ganda. Sistem pondasi ini bisa diterapkan pada tanah lunak maupun tanah keras. Tapi menurut pengalaman, lebih ekonomis bila diterapkan atas tanah yang berdaya dukung 1,5 sampai 4 ton per meter persegi. 2.2.2. Sejarah Terbentuknya Pondasi Cakar Ayam Dasar pemikiran lahirnya pondasi cakar ayam ialah memanfaatkan tekanan tanah pasif, yang pada sistem pondasi lain tak pernah dihiraukan. Plat beton yang tipis itu akan mengambang di permukaan tanah, sedangkan kekakuan plat ini dipertahankan oleh pipa-pipa yang tetap berdiri akibat tekanan tanah pasif. Dengan demikian maka plat dan konstruksi di atasnya tidak mudah bengkok. Pada sistem pondasi lain, yang menggunakan plat beton dengan balok pengaku, maka kekakuan itu berasal dan konstruksinya sendiri. Sedangkan pada sistem pondasi cakar ayam, kekakuan didapat dari tekanan tanah pasif. ini berarti dengan daya dukung yang sama, volume beton pada cakar ayam akan berkurang, dan konstruksinya bisa lebih ekonomis.

Cakar Ayam adalah sistim pondasi yang digunakan/dipilih. Sosro Bahu (seribu pundak) adalah tehnik pengerjaan tiang penyangga jembatan tol. Ide ini muncul karena ada kesulitan pelaksanaan bila aktifitas jalan yang ada di bawahnya tidak boleh dihentikan (ditutup). mengingat bentuk tiang penyangga itu spt huruf (T) dan sayapnya berada di atas ruas jalan aktif, bisa dibayangkan alangkah kroditnya bila ruas jalan-jalan penting Jakarta (yang akan di fly over) harus ditutup. Ir. Made Tjokorda menyumbangkan gagasannya yang terinspirasi dari peralatan hidrolic intinya! pembuatan tiang penyangga T (sayapnya) dibuat sejajar dengan jalan terlebih dulu, dengan demikian tidak perlu mengganggu/menutup aktifitas jalan, setelah selesai sayapnya diputar menjadi berada ditengah jalan lah! kok bisa diputar, pada pembuatannya lehernya dipasang tabung hidrolik. 2.2.3. Penggunaan Telapak Beton Telapak beton, pada pondasi cakar ayam sangat baik untuk beban yang merata. Sistem pondasi ini mampu mendukung beban 500-600 ton per kolom. Dalam hal ini, di bagian bawah kolom dibuatkan suatu telapak beton, untuk mengurangi tegangan geser pada plat beton. Jika beban itu terpusat, maka tebal plat beton di bawah pusat beban ditentukan oleh besarnya daya geser, bukan oleh besarnya momen, untuk ini dilakukan penambahan pertebalan plat beton dibawah kolom bersangkutan.Sistem pondsi cakar ayam sangat sederhana, hingga cocok sekali diterapkan di daerah dimana peralatan modern dan tenaga ahli sukar didapat. Sampai batas-batas tertentu, sistern ini dapat menggantikan pondasi tiang pancang. Untuk gedung berlantai 3-4 misalnya, sistem cakar ayam biayanya akan sama dengan pondasi tiang pancang 12 meter. Makin panjang tiang pancang yang dipakai, makin besar biayanya. Apalagi jika alat pemancangan dan tenaga ahli harus didatangkan dari tempat lain. Dengan kemampuan yang sama, sistem cakar ayam dapat menghemat biaya sampai 30%. Pelaksanaan sistem ini dapat dilakukan secara simultan, tanpa harus bergiliran. Misalnya sebagai pondasi menara, dapat dikerjakan dalam jumlah banyak secara bersamaan. Seluruh sumuran beton dicetak dengan cetakan biasa di lokasi proyek, sesuai dengan standar. Karena itu sistem ini sangat menghemat waktu. Bagi daerah yang bertanah lembek, pondasi cakar ayam tidak hanya cocok untuk mendirikan gedung, tapi juga untuk membuat jalan dan landasan. Satu keuntungan lagi, sistem ini tidak memerlukan sistem drainasi dan sambungan kembang susut. 3. KONSTRUKSI JALAN LAHAN BASAH DENGAN SISTEM PONDASI CERUCUK 2.3.1. Pendahuluan Daerah rawa-rawa mendominasi kawasan garis pantai di Indonesia, termasuk di dalamnya kawasan garis pantai Jakarta. Tanah rawa memiliki sifat yang sangat lunak Sehingga diperlukan teknologi yang cocok dan handal jika berkehendak untuk membuat bangunan di atasnya. Baik itu konstrusi jalan raya, konstruksi perumahan, khusunya rumah susun, maupun sarana prasarana lainnya, terutama konstruksi dengan beban berat. Umumnya, permasalahan yang timbul pada konstruksi di atas tanah lunak adalah geseran (shearing). Mekanisme hilangnya keseimbangan dapat terjadi pada tanah dengan daya dukung rendah, diakibatkan dari beban berat tanah itu sendiri. Permasalahan lain biasanya berupa tolakan ke

atas (uplift) yang banyak terjadi pada lapisan lempung dan lanau (silt) akibat perbedaan tekanan air. Sering terjadinya penurunan permukaan (settlement) juga permasalahan laten yang sering terjadi. Hal ini pada umumnya disebabkan oleh beratnya beban yang harus ditanggung oleh tanah lunak. Salah satu contoh dari masalah settlement ini dapat dilihat pada konstruksi jalan tol Sudiatmo yang dibangun tahun 1982. Setelah kurang lebih 18 tahun, pada 2000, seiring semakin beratnya beban yang ditanggungnya, pada kilometer 26 hingga 28 mengalami penurunan sebesar 1,2 meter akibatnya permukaannya lebih rendah dari sisi kiri kananya. Khusus untuk konstruksi jalan raya, beragam metode untuk memperkuat mutu tanah lunak telah diterapkan dalam pembangunannya. Sebut saja, pile slab, cakar ayam, deep mixing, vertical drill dan lain-lain. Menurut Ir J.H. Simanjuntak upaya-upaya tersebut belum mampu secara maksimal mengatasi permasalahan yang ada. 2.3.2. Sejarah Terbentuknya Sistem Pondasi Cerucuk Berdasar renungan mendalam atas kondisi yang ada, khususnya dalam bidang konstruksi jalan raya yang dibangun di atas tanah lunak, Ir J.H. Simanjuntak, salah satu pelaku bisnis konstruksi, berpikir bahwa beban seluruh konstruski yang ada di atas tanah harus disalurkan ke dalam tanah secara merata dengan menggunakan beberapa tiang pancang. Sehingga beban dapat didistribusikan secara merata, bukan mengandalkan pada sebuah tiang pancang saja. Pemikiran ini kemudian diikuti dengan eksperimen-eksperimen yang cermat dan berujung pada lahirnya sistem pondasi cerucuk. System ini intinya menyatukan beberapa tiang pancang dalam sebuah kesatuan yang kokoh guna menyangga kostruksi di atasnya. Itu (sistem pondasi cerucuk, red) merupakan hasil sebuah kreasi, perenungan dan eksperimen di lapangan, aku Simanjuntak. Seiring dengan perkembangan teknologi di bidang konstruksi, pondasi cerucuk pun disesuaikan dengan kebutuhan aktualnya. Berbagai inovasi berdasarkan sistem ini banyak bermunculan, dari memadukannya dengan bambu, kayu maupun matras beton. Sudah selayaknya dalam melaksanakan sebuah proyek, faktor ekonomi menjadi dasar dalam pengerjaannya. Keinginan memenuhi faktor murah dan praktis menurut Simanjuntak, telah membuatnya menemukan sebuah konsep yang memadukan pondasi cerucuk dengan kayu. Saya mengkombinasikan pondasi cerucuk dengan kayu, karena itu lebih murah dan praktis, katanya, ketika ditemui dalam sebuah seminar tentang pondasi dalam, di Tangerang. Ingat, yang terpenting adalah murah dan praktis, tegasnya. Menurutnya, kayu, apabila tetap terendam, mampu bertahan hingga ratusan tahun sehingga sangat memungkinkan dipergunakan pada daerah rawa-rawa. Kayu itu kuat kalau dia terendam terus. Asal jangan sampai basah-kering, akan lapuk dia, jelas Simanjuntak.

ANALISA DAN PEMBAHASAN

Studi Kasus Konstruksi Jalan Metode Geotextile Sebagai studi kasus , pelaksanaan konstruksi jalan di atas tanah lunak dengan perkuatan geotextile di Pulau Setoko dan Nipah di Kepulauan Riau. Jalan yang dibangun di daerah ini melewati beberapa dataran rendah yang tertutup tanaman bakau dan terpengaruh pasang surut. Penyelidikan tanah yang dilakukan menunjukkan bahwa lapisan tanah lunak sampai

kedalaman 15m di bawah permukaan tanah. Nilai dari hasil pemampatan uji konsolidasi dipergunakan untuk mengontrol penurunan selama pelaksanaan timbunan dengan menggunakan settlement plate yang dipasang dengan interval 50 meter. Pada akhir penimbunan tambahan timbunan sebagai kompensasi terhadap penurunan jangka panjang diberikan untuk menjamin agar permukaan jalan sesuai dengan elevasi rencana. HASIL ANALISA KASUS Daerah Pulau Setoko dan Nipah di Kepulauan Riau merupakan dataran rendah yang jika dilihat dari topografinya berada di bawah garis permukaan laut sehingga keadaan tanah pada daerah ini sangat tergantung pada air pasang laut. Pengaruh air pasang ini menyebabkan kondisi tanah nya yaitu basah atau lunak. Dari hasil pengujian menggunakan pengeboran di dapatkan bahwa pada kedalaman 15 m keadaan tanah masih lunak, sehingga dari hasil analisis yang dilakukan jika diberi pembebanan yang lebih maka tanah akan mengalami kelongsoran. Untuk perencanaan konstruksi jalan pada lahan ini pertama-tama yang harus dilakukan adalah melakukan pengujian terhadap tanah itu sendiri ( kadar air tanah ). Biasanya setelah pengambilan sampel lalu diuji kembali ke laboratorium untuk mengetahui persentase kadar air yang dikandung oleh tanah tersebut. Setelah itu pengkajian ulang apakah perlu di lakukan penimbunan ulang untuk mendapatkan daya dukung tanah yang baik. Setelah itu dilakukan penentuan pondasi yang cocok dengan penambahan kayu atau beton pada pondasi konstruksi tanah. Studi Kasus Konstruksi Jalan Sistem Pondasi Cakar Ayam Peranan pondasi turut menentukan usia dan ke stabilan suatu konstruksi bangunannya. Dalam dekade terakhir ini sistem pondasi telah berkembang dengan bermacam variasi. Tapi hanya sedikit yang menampil kan sistem pondasi untuk mengatasi masalah membangun konstruksi di atas tanah lembek. Sistem pondasi yang konvensional, cenderung hanya di sesuaikan dengan besarnya beban yang harus didukung, tapi kurang mempertimbangkan kondisi tanah lembek. Akibatnya, bangunan itu mengalami penyusutan usia atau ketidakstabilan, seperti penurunan, condong, bahkan roboh. Hal itu tentu merugikan pemilik dan kontraktor bersangkutan. Perlakuan yang seimbang antara beban dan kondisi tanah lembek perlu dipecahkan. Problema ini pernah dihadapi oleh Prof Dr Ir Sedijatmo tahun 1961, ketika sebagai pejabat PLN harus mendirikan 7 menara listrik tegangan tinggi di daerah rawa-rawa Ancol Jakarta. Dengan susah payah, 2 menara berhasil didirikan dengan sistem pondasi konvensional, sedangkan sisa yang 5 lagi masih terbengkelai. Menara ini untuk menyalurkan listrik dan pusat tenaga listrik di Tanjung Priok ke Gelanggang Olah Raga Senayan dimana akan diselenggarakan pesta olah raga Asian Games 1962. Karena waktunya sangat mendesak, sedangkan sistem pondasi konvensional sangat sukar diterapkan di rawa-rawa tersebut, maka dicarilah sistem baru untuk mengatasi masalah itu. Lahirlah ide Ir Sedijatmo untuk mendirikan menara di atas pondasi yang terdiri dari plat beton yang didukung oleh pipa-pipa beton di bawahnya. Pipa dan plat itu melekat secara monolit (bersatu), dan mencengkeram tanah lembek secara meyakinkan.

Oleh Sedijatmo, hasil temuannya itu diberi nama sistem pondasi cakar ayam. Perhitungan yang dipakai saat itu (1961), masih kasar dengan dimensi 2,5 kali lebih besar dibanding dengan sistem pondasi cakar ayam yang diterapkan sekarang. Meski begitu, ternyata biayanya lebih murah dan waktunya lebih cepat daripada menggunakan tiang pancang biasa. Menara tersebut dapat diselesaikan tepat pada waktunya, dan tetap kokoh berdiri di daerah Ancol yang sekarang sudah menjadi ka wasan industri. Banyak bangunan yang telah menggunakan sistem yang di ciptakan oleh Prof Sedijatmo ini, antara lain: ratusan menara PLN tegangan tinggi, hangar pesawat terbang dengan bentangan 64 m di Jakarta dan Surabaya, antara runway dan taxi way serta apron di Bandara SukarnoHatta Jakarta, jalan akses Pluit-Cengkareng, pabrik pupuk di Surabaya, kolam renang dan tribune di Samarinda, dan ratusan bangunan gedung bertingkat di berbagai kota. Sistem pondasi cakar ayam ini telah pula dikenal di banyak negara, bahkan telah mendapat pengakuan paten internasional di 11 negara, yaitu: Indonesia, Jerman Timur, Inggris, Prancis, Italia, Belgia, Kanada, Amerika Serikat, Jerman Barat, Belanda; dan Denmark. [Teknologi, No.6, Th.I, Jan-Feb.1987]. HASIL ANALISA KASUS Pondasi Cakar Ayam merupakan alternatif pilihan yang utama dalam suatu pembangunan di daerah tanah lunak. Banyak bangunan yang telah menggunakan sistem ini, antara lain: ratusan menara PLN tegangan tinggi, hangar pesawat terbang dengan bentangan 64 m di Jakarta dan Surabaya, antara runway dan taxi way serta apron di Bandara Sukarno-Hatta Jakarta, jalan akses Pluit-Cengkareng, pabrik pupuk di Surabaya, kolam renang dan tribune di Samarinda, dan ratusan bangunan gedung bertingkat di berbagai kota. Dalam pembangunan konstruksi jalan di Bandara Soekarno-Hatta misalnya analisis mengenai kondisi tanah juga harus dilakukan. Dan yang paling penting dalam penggunaan sistem pondasi cakar ayam adalah penentuan jumlah tiang pancang ( cakar ) yang akan dipakai serta penentuan dimensi pancang. Biasanya penentuan jumlah tiang dan dimensi tiang harus dapat menampung jumlah beban yang di salurkan oleh konstruksi itu sendiri atau beban dari kendaraan atau beban hidup. Penambahan Telapak beton, pada pondasi cakar ayam sangat baik untuk beban yang merata. Sistem pondasi ini mampu mendukung beban 500-600 ton per kolom. Dalam hal ini, di bagian bawah kolom dibuatkan suatu telapak beton, untuk mengurangi tegangan geser pada plat beton. Jika beban itu terpusat, maka tebal plat beton di bawah pusat beban ditentukan oleh besarnya daya geser, bukan oleh besarnya momen, untuk ini dilakukan penambahan pertebalan plat beton dibawah kolom bersangkutan. Studi Kasus Konstruksi Jalan Sistem Pondasi Cerucuk Sistem Pondasi Cerucuk banyak dipergunakan pada konstruksi jalan raya. Mengkombinasikannya dengan matras beton pracetak seperti yang telah diterapkan pada proyek jalan di Ancol atau Cirebon. Kombinasi ini juga dipergunakan untuk memperbaiki kondisi jalan tol Sudiatmo yang telah mengalami penurunan (settlement) dan proyek double track Cikampek. Selain dipergunakan untuk memperkuat tanah lunak, sistem pondasi cerucuk juga dapat dipergunakan untuk menjaga stabilitas talud (Ciganea) untuk mencegah longsor.

Sistem Pondasi Ceruruk ini terbukti efektif untuk memperkuat daya topang tanah, kata Simanjuntak. HASIL ANALISA KASUS Dari kasus di atas dapat diketahui bahwa penggunaan sistem pondasi cerucuk harus dikombinasikan dengan penambahan matras beton pracetak seperti pada jalan Ancol atau Cirebon. Dari kasus ini dapat di analisi bahwa penambahan matras beton sangat mendukung sekali karena menambah atau melapisi tanah lunak sehingga daya dukung tanah terhadap beban bertambah. Dan pembangunan jalan pada daerah lereng yang kondisi tanahnya basah, sistem ini dapat menghindarkan dari adanya longsor akibat gaya gravitasi.
Share this:

StumbleUpon Digg Reddit Facebook Twitter

Like this: Like Be the first to like this post.

Kamis, 08 Januari 2009


PENGEMBANGAN KONSTRUKSI JALAN DI LAHAN GAMBUT

A. Latar Belakang Permasalahan Daerah gambut di Indonesia sangat luas dan tersebar di pulau besar maupun kecil. Pada mulanya daerah tanah gambut kurang diperhatikan dan tidak menarik secara ekonomi, tetapi karena pertumbuhan penduduk dan perkembangan teknologi memaksa orang membangun di atas tanah gambut. Hal ini sejalan dengan program pemerintah untuk membuka daerah terisolir dengan pembangunan ruas jalan baru karena banyak ditemuinya potensi alam di bawah lahan tanah gambut. Penggunaan lahan gambut sebagai areal pembangunan baik pertanian, hunian, maupun infrastruktur, termasuk jalan, akhir-akhir ini terlihat semakin menggejala. Sementara selama ini orang membuat jalan di atas gambut dengan menggunakan alas rangkaian kayu gelondongan, untuk memperbaiki daya dukung gambut dan menyeragamkan penurunan, sehingga memerlukan pembabatan hutan. Sebagian dari aktivitas itu berada di atas lahan tanah gambut dengan ketebalan yang bervariasi dan memiliki daya dukung yang sangat rendah (extremely low bearing capacity). Akibatnya banyak menimbulkan masalah bagi konstruksi yang harus dibangun di atas lapisan tanah gambut. Umumnya diakibatkan oleh rendahnya daya dukung, sifat permeabilitas yang tinggi dan sifat pemampatan (konsolidasi) yang sangat tinggi, terutama kompresi sekunder yang memakan

waktu lama. Tidak sedikit kerusakan jalan yang terjadi dalam waktu yang relatif lebih cepat dari umur rencana dan seringkali memerlukan biaya yang cukup besar dalam rangka pembinaan jalan pada lokasi tersebut. B. Studi Pustaka Gambut adalah tanah lunak, organik dan sangat sulit dipindahkan, serta mempunyai daya dukung yang sangat rendah. Secara teknis tanah gambut tidak baik sebagai landasan karena memiliki kompresibilitasnya tinggi. Gambut mengandung bahan organik lebih dari 30 %, sedangkan lahan gambut adalah lahan yang ketebalan gambutnya lebih dari 50 cm. Lahan yang ketebalan gambutnya kurang daripada 50 cm disebut lahan bergambut. Gambut terbentuk dari hasil dekomposisi bahan2 organik seperti dedaunan, ranting serta semak belukar yang berlangsung dalam kecepatan yang lambat dan dalam keadaan anaerob. Berdasarkan ketebalannya, gambut dibedakan menjadi empat tipe : 1. Gambut Dangkal, dengan ketebalan 0.5 - 1.0 m 2. Gambut Sedang, memiliki ketebalan 1.0 - 2.0 m 3. Gambut Dalam, dengan ketebalan 2.0 - 3.0 m 4. Gambut Sangat Dalam, yang memiliki ketebalan melebihi 3.0 m Selanjutnya berdasarkan kematangannya, gambut dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu : 1. Fibrik, digolongkan demikian apabila bahan vegetatif aslinya masih dapat diidentifikasikan atau telah sedikit mengalami dekomposisi. 2. Hemik, disebut demikian apabila tingkat dekomposisinya sedang. 3. Saprik, merupakan penggolongan terakhir yang apabila telah mengalami tingkat dekomposisi lanjut. Tanah Gambut secara umumnya memiliki kadar pH yang rendah, memiliki kapasitas tukar kation yang tinggi, kejenuhan basa rendah, memiliki kandungan unsur K, Ca, Mg, P yang rendah dan juga memiliki kandungan unsur mikro (seperti Cu, Zn, Mn serta B) yang rendah pula. Pembangunan di daerah gambut, untuk mendapatkan stabilitas tanah yang baik membutuhkan waktu yang relative lama (cara konvensional), yaitu dengan pre-loading. Salah satu alternatifnya dengan membuat aliran vertical atau horizontal drainase pada tanah gambut itu sendiri selama proses pre-loading berlangsung. Pre-loading dengan drainase ini dimaksudkan atau ditujukan air yang termampatkan selama proses konsolidasi lebih cepat teralirkan sebagai akibatnya tanah akan mengalami penurunan (settlement). Penurunan akibat preloading ini diharapkan dapat mengurangi penurunan bangunan nantinya. Besarnya pre-loading ini tergantung pada pembebanan bangunan yang akan diterima tanah nantinya serta penurunan bangunan yang diizinkan tentunya. Proses drainase dapat dibantu dengan pembuatan sumuran-sumuran yang berisi material sangat permeable (kerikil, pasir kasar, kerakal) atau dengan bahan sintetis yang telah banyak digunakan. Diharapkan dengan proses drainase seperti ini maka tanah akan cepat lebih stabil dan settlement yang akan datang tidak melebihi batas-batas yang telah ditentukan. Untuk konstruksi jalan diperlukan penelitian terhadap sifat-sifat teknik gambut yang mencangkup daya dukung, besar dan waktu penurunan, ketebalan serta jenis tanah yang berada dibawahnya. Indonesia memiliki lahan gambut seluas 27.000.000 ha terpusat di Pulaupulau : Kalimantan, Sumatera dan Irian Jaya. C. Analisa dan Pembahasan Masalah utama di areal gambut (peat) yang utama adalah sifatnya yang sangat compressible dimana lapisannya akan memiliki potensi settlement (penurunan) yang sangat besar ketika dibebani di atasnya. Semakin tebal lapisan gambutnya, semakin besar settlement yang dapat terjadi.

Gambut di Indonesia (contoh Kalimantan) merupakan salah satu daerah yang memiliki lapisan gambut yang besar di dunia (s.d 15-20m). Metode aplikatif yang dapat diterapkan berkaitan dengan konstruksi suatu struktur di atasnya akan sangat bergantung pada beberapa aspek, misalnya tebal gambut, daya dukung lapisan tanah di bawah gambut, sifat konstruksi di atasnya, dan tentu saja properties dari gambut (peat) itu sendiri. Jika lapisan gambutnya cukup tipis, 0-2m, cara yang paling gampang adalah dengan membuang atau mengupas lapisan gambut tersebut dan menggantinya dengan material yang lebih baik. Jika kedalamannya tidak terlalu dalam (3-4m), konstruksi dengan menggunakan cerucuk kayu (dolken atau curdoray) dapat pula menjadi pilihan. Sedangkan jika lapisan gambutnya sangat dalam atau tebal, maka konstruksi dengan tiang pancang maupun dengan menggunakan material alternatif yang ringan seperti EPS (expanded polyesthyrine) dapat menjadi pilihan. Namun tentu kita harus pula memperhitungkan segi biayanya pula. Settlement pada gambut dapat pula di percepat dengan melakukan preloading ataupun dengan menggunakan system vertical drain (PVD, sand drain, etc.). Metode aplikatif dapat dipilih jika masalahnya sesuai dan telah melakukan analisis mendalam berdasarkan soil investigation yang baik serta dengan menggunakan pendekatan yang tepat. Saat ini telah banyak software yang dikembangkan untuk dapat memperhitungkan besarnya dan lamanya settelemnt yang akan terjadi berdasarkan karakteristik lapisan gambut setempat Untuk areal gambut luas yang akan dijadikan konstruksi jalan, biasanya dengan cara memperbaiki areal tersebut dengan cara dikupas atau digali kemudian galian tersebut diisi dengan lapisan tanah atau pasir yang lebih baik, dimana tanah yang telah diganti tersebut dipampatkan dengan diberi beban diatasnya berupa tumpukan pasir atau tanah selama jangka waktu tertentu. Untuk mempercepat pemampatan lapisan tanah, ada beberapa cara yang dilakukan yaitu ada yang menggunakan tiang pasir (vertical sand drain, contohnya pada proyek EXOR I di Balongan) yang dipasang pada setiap jarak tertentu dan ada juga yang menggunakan sejenis bahan sintetis yang dipasang vertical juga yang jaraknya tergantung kebutuhan (biasanya sekitar 1 ) yang dikenal dengan nama vertical wick drain. Penggunaan vertical wick drain ada juga yang ditambah dengan bantuan pompa vakum untuk mempercepat proses pemampatan tanah. Semua hal ini dilakukan untuk mengeluarkan air dan udara yang mengisi pori-pori pada lapisan tanah. Proses pemampatan tanah ini ada juga yang menggunakan sistem yang disebut dynamic consolidation yaitu dengan cara menjatuhkan beban yang berat kelapisan tanah yang akan dipampatkan (system ini contohnya dipakai pada proyek Kansai airport di Jepang dan Nice airport di Perancis yang mana arealnya berupa areal reklamasi). Untuk areal yang tidak luas, pondasi untuk equipment, ada yang langsung membangun pondasinya (contohnya pondasi cakar ayam), yang mana setelah pondasinya terpasang baru kemudian diberi beban diatasnya berupa tumpukan pasir atau tanah supaya terjadi pemampatan sampai yang diinginkan baru kemudian dibangun konstruksi jalan yang ingin dipasang diatasnya. Cara yang murah adalah dengan memakai dolken atau bambu berukuran diameter sekitar 8 cm dan panjang antara 4 s.d 6 meter yang dipancang dengan jarak tergantung kebutuhan (biasanya sekitar 30-40cm). Sistem Pondasi untuk tanah lunak menggunakan metoda raft foundation (Pondasi Rakit) yaitu Pondasi Sarang Laba-Laba. Pondasi sarang laba-laba ini pada dasarnya bertujuan untuk memperlakukan sistem pondasi itu sendiri dalam berinteraksi dengan tanah pendukungnya. Semakin fleksibel suatu pondasi (Pondasi Dangkal), maka semakin tidak merata stress tanah yang timbul, sehingga terjadi konsentrasi tegangan di daerah beban terpusat. Sebaliknya semakin kaku pondasi tersebut, maka akan semakin terdistribusi merata tegangan tanah yang terjadi yang dengan sendirinya effective contact area pondasi tersebut akan semakin besar dan tegangannya akan semakin kecil.

Pondasi sarang laba-laba ini memiliki kedalaman antara 1 s/d 1.5 meter, dan terdiri dari pelat rib vertical yang berbentuk segitiga satu sama lainnya. Di antara ruang segitiga tersebut akan diisi material tanah pasir yang dipadatkan (bisa sirtu). Selanjutnya di atas pelat tersebut akan di cor pelat beton dengan tebal 150 s atau d 200 mm. Konstruksinya cukup sederhana dan cepat dilaksanakan serta ekonomis. Cara lain yang selama ini dipakai pada pembuatan jalan adalah pemakaian kanoppel atau galar kayu sebagai perkuatan tanah dasar pada pembuatan jalan diatas tanah gambut cukup besar. Banyaknya pembangunan jalan yang selama ini dikerjakan dengan memakai kanoppel tidak lepas dari pertimbangan ekonomis mengingat fungsi jalan raya selalu berkaitan dengan dimensi panjang yang melibatkan bahan perkerasan dengan jumlah yang cukup banyak. Adanya alternatif lain untuk meningkatkan perkuatan tanah dasar yaitu dengan pemakaian geotextile dapat memberikan pertimbangan lain secara ekonomis dan struktur. Geotextile merupakan suatu bahan geosintetik yang berupa lembaran serat sintetis tenunan dan tambahan bahan anti ultraviolet. Geotextile ini mempunyai berat sendiri yang relatif ringan dan dapat diabaikan, akan tetapi mempunyai kekuatan tarik yang cukup besar untuk menerima beban diatasnya. Keunikan utama geotextile adalah konsistensi kualitas sebagai produk industri permanen dan sangat kompetitif dalam harganya, namun relatif mudah dan murah penerapannnya untuk perkuatan tanah dasar, serta hasil akhir yang memiliki kelebihan antara lain: Menjaga penurunan tanah dasar yang lebih seragam. Meningkatkan kekuatan tanah dasar dan memperpanjang umur sistem. Mengurangi ketebalan agregat yang dibutuhkan untuk menstabilkan tanah dasar. Pemakaian kanoppel dan geotextile ini diharapkan akan memberikan keuntungan antara lain : Memberikan lantai kerja bagi kendaraan konstruksi untuk pelaksanaan penimbunan selanjutnya. Mencegah kontaminasi dan kehilangan material timbunan. Mengurangi volume material timbunan dan biaya. Dari beberapa pengamatan yang menyimpulkan secara kasar bahwa biaya awal geotextile lebih tinggi dibandingkan dengan pemakain kanoppel atau galar kayu. D. Kesimpulan Kondisi jalan di lahan gambut umumnya masih belum memuaskan, termasuk Jalan Nasional yang masih banyak dalam kondisi rusak atau rusak berat. Hal ini antara lain disebabkan karena : 1) Masih banyak jalan di lahan gambut yang masih berupa jalan tanah, sehingga sangat sensitif terhadap pengaruh air, baik air hujan yang jatuh dipermukaan jalan, air yang melimpas permukaan jalan karena drainase yang kurang baik, maupun pengaruh dari air tanah, yaitu air yang muncul dari bawah permukaan jalan. 2) Tanah dasar yang kurang baik, misalnya tanah lunak pada gambut yang daya dukungnya sangat rendah, tanah yang banyak mengandung lempung sehingga mudah menjadi cair atau bubur apabila kena air. 3) Jenis-jenis penanganan yang dapat diterapkan pada pembangunan untuk konstruksi jalan di atas tanah gambut secara umum adalah sebagai berikut: - Perbaikan sifat tanah - Timbunan ringan - Pemasangan matras - Tiang pancang
Diposkan oleh Precious Blog of Arie Kusnady di Kamis, Januari 08, 2009

Label: Review, Teknik Sipil

Penggunaan Geotextile untuk Perencanaan Jalan di Daerah Rawa


Posted by herly fajri hermaita AprilApril - 2626 - undefinedundefined

Geotekstil adalah lembaran sintesis yang tipis, fleksibel, permeable yang digunakan untuk stabilisasi dan perbaikan tanah dikaitkan dengan pekerjaan teknik sipil. Pemanfaatan geotekstil merupakan cara moderen dalam usaha untuk perkuatan tanah lunak. Beberapa fungi dari geotekstil yaitu: 1. untuk perkuatan tanah lunak. 2. untuk konstruksi teknik sipil yang mempunyai umur rencana cukup lama dan mendukung beban yang besar seperti jalan rel dan dinding penahan tanah. 3. sebagai lapangan pemisah, penyaring, drainase dan sebagai lapisan pelindung. Geotextile dapat digunakan sebagai perkuatan timbunan tanah pada kasus: 1. Timbunan tanah diatas tanah lunak 2. Timbunan diatas pondasi tiang 3. Timbunan diatas tanah yang rawan subsidence

Penggunaan konstruksi perkuatan pada lahan basah pertama kali dilaporkan dengan menggunakan steel mseh di bawah konstruksi timbunan pada daerah pasang surut di Perancis. Perbandingan antara timbunan di atas tanah gambut di Afrika dengan dan tanpa perkuatan dilaporkan. Dinyatakan bahwa selain woven polypropylene fabric, tegangan tarik semua jenis geotextile yang diambil contohnya dari pemasangan setahun sebelumnya berkurang antara 25% sampai 36% dari tegangan tarik awalnya, meskipun tidak berpengaruh banyak pada fungsinya. Pelaksanaan konstruksi jalan di atas lahan basah dengan perkuatan geotextile dapat menghindarkan terjadinya keruntuhan lokal pada tanah lunak karena rendahnya daya dukung tanah. Keuntungan pemasangan geotextile pada pelaksanaan jalan di atas tanah lunak adalah kecepatan dalam pelaksanaan dan biaya yang relatif lebih murah di bandingkan dengan metoda penimbunan konvensional Jenis geotextile ada 2 ,yaitu; 1. Woven Geotextile (Anyaman) 2. Non-Woven Geotextile (Nir-Anyam) Penggunan Woven Geotextile akan memberikan hasil yang lebih baik sebab arah gaya dapat disesuaikan dengan arah serat, sehingga deformasi dapat dikontrol dengan baik.

Pada non-Woven Geotextile arah serat dalam struktur geotextile tidak terarah, sehingga apabila dibebani, maka akan terjadi deformasi yang sangat besar, dan sulit dikontrol. Dalam penggunaan geotekstil kita harus menetapkan perkuatan sebesar apa yang dibutuhkan, berikut faktor-faktor yang harus diperhatikan; 1. Jenis geotekstil yang akan digunakan 2. Sifat hubungan dan regangan,hal ini diperlukan agar deformasi yang terjadi pada konstruksi perkuatan kecil. 3. Sifat pembebanan, Perkuatan di atas tanah lunak,beban timbunan yang lebih besar akan memerlukan perkuatan dengan tensile strength yang lebih besar pula. 4. Kondisi lingkungan, Perubahan cuaca, air laut, kondisi asam atau basa serta mikro organisme seperti bakteri akan mengurangi kekuatan geotextile. 5. Bahan timbunan yang akan digunakan

Pemasangan Goetextile Geotekstil pada jalan berfungsi sebagai lapis perkuatan sekaligus sebagai lapis pemisah (separator) antara material timbunan dengan tanah dasar sehingga konstruksi jalan menjadi stabil, tidak bergelombang dan rata pada permukaannya. Beberapa keuntungan menggunakan geotekstil,diantaranya : 1. Mencegah kontaminasi agregat subbase dan base oleh tanah dasar lunak dan mendistribusikan beban lalulintas yang efektif melalui lapisan-lapisan timbunan. 2. Meniadakan kehilangan agregat timbunan ke dalam tanah dasar yang lunak dan memperkecil biaya dan kebutuhan tambahan lapisan agregat terbuang. 3. Mengurangi tebal galian stripping dan meminimalkan pekerjaan persiapan. 4. Meningkatkan ketahanan agregat timbunan terhadap keruntuhan setempat pada lokasi beban dengan memperkuat tanah timbunan. 5. Mengurangi penurunan dan deformasi yang tidak merata serta deformasi dari struktur jadi. Selain itu, geotekstil juga mempunyai kelemahan, yaitu SINAR ULTRAVIOLET, karena bahan geosintetik akan mengalami degradasi yang cepat dibawah terik sinar matahari. Metode/cara Pemasangan Geotekstil;

1. Geotextile harus digelar di atas tanah dalam keadaan terhampar tanpa gelombang atau kerutan. 2. Sambungan geotekstil tiap lembarannya dipasang overlapping terhadap lembaran berikutnya. 3. Pada daerah pemasangan yang berbentuk kurva (misalnya tikungan jalan), geotekstil dipasang mengikuti arah kurva. 4. Jangan membuat overlapping atau jahitan pada daerah yang searah dengan beban roda (beban lalu-lintas). 5. Jika Geotextile dipasang untuk terkena langsung sinar matahari maka digunakan geotekstil yang berwarna hitam.

Konstruksi Jalan di Tanah Gambut


Posted by admin 0 Comment

Indonesia memiliki lahan gambut seluas 27.000.000 Ha terpusat di Pulau-pulau Kalimantan, Sumatera dan Irian Jaya. Beberapa daerah Indonesia memiliki lapisan gambut yang sangat dalam. Areal gambut kurang diperhatikan karena tidak menarik secara ekonomi. Namun pertumbuhan penduduk dan perkembangan teknologi memaksa orang membangun di atas tanah gambut. Penggunaan lahan gambut sebagai areal pertanian, permukiman maupun infrastruktur seperti jalan. Pada awalnya jalan di tanah gambut dengan menggunakan alas rangkaian kayu gelondongan, untuk memperbaiki daya dukung gambut dan menyeragamkan penurunan.

Di daerah gambut untuk mendapatkan stabilitas tanah yang baik membutuhkan waktu yang relatif lama yaitu cara konvensional dengan pre-loading. Salah satu alternatif dengan membuat aliran vertikal atau horisontal drainase pada tanah gambut itu sendiri selama proses pre-loading berlangsung. Pre-loading dengan drainase ini dimaksudkan agar air yang termampatkan selama proses konsolidasi lebih cepat mengalir akibat tanah akan mengalami penurunan (settlement). Penurunan akibat pre-loading ini diharapkan dapat mengurangi penurunan bangunan nantinya. Besarnya pre-loading ini tergantung pada pembebanan bangunan yang akan diterima oleh tanah serta penurunan bangunan yang diizinkan tentunya. Proses drainase dapat dibantu dengan pembuatan sumuran-sumuran yang berisi material sangat permeable seperti kerikil, pasir kasar, kerakal. Bisa juga dengan bahan sintetis yang telah banyak digunakan. Diharapkan dengan proses drainase ini tanah akan cepat lebih stabil dan settlement tidak melebihi batas-batas yang telah ditentukan. Untuk konstruksi jalan diperlukan penelitian terhadap sifat-sifat teknik gambut yang mencakup daya dukung, besar dan waktu penurunan, ketebalan serta jenis tanah yang berada dibawahnya. Metode terapan untuk konstruksi suatu struktur akan sangat bergantung pada beberapa aspek misalnya tebal gambut, daya dukung lapisan tanah di bawah gambut, sifat konstruksi di atasnya serta sifat dan komposisi dari gambut (peat) itu sendiri. Untuk lapisan gambut dengan kedalaman 0 2m cara yang paling mudah adalah dengan membuang/mengupas lapisan gambut tersebut dan menggantinya dengan material yang lebih baik. Jika kedalamannya 3 4m, konstruksi dengan menggunakan cerucuk kayu (dolken). Sedangkan lapisan gambutnya sangat dalam maka konstruksi menggunakan tiang pancang atau dengan menggunakan material alternatif yang ringan seperti EPS (expanded polyesthyrine) dapat menjadi pilihan. Namun tentu kita harus memperhitungkan segi biayanya pula. Settlement pada gambut dapat pula dipercepat dengan melakukan preloading dengan menggunakan system vertical drain (PVD), sand drain dan lain-lain. Metode ini dapat dipilih jika sesuai dan telah melakukan analisis mendalam berdasarkan soil investigation yang baik serta dengan menggunakan pendekatan yang tepat. Saat ini banyak software yang telah dikembangkan untuk dapat membantu memperhitungkan besarnya dan lamanya settelemnt yang akan terjadi berdasarkan karakteristik lapisan gambut setempat.
Berikut beberapa artikel lain yang anda bisa baca, selain artikel dengan judul :

Konstruksi Jalan di Tanah Gambut

Metode Prapembebanan Untuk Konstruksi Jalan Di Atas Gambut

Prapembebanan (preloading) adalah suatu metode konstruksi perbaikan tanah berupa pemempatan timbunan pada lokasi yang akan distabilisasi dengan berat sekurangkurangnya sama dengan berat struktur di masa ...

Konstruksi Jalan di Tanah Gambut (2)

Areal gambut yang luas untuk konstruksi jalan, biasanya dengan cara memperbaiki areal tersebut. Dengan cara dikupas atau digali, kemudian galian tersebut diisi dengan lapisan tanah ...

Stabilisasi Dangkal Tanah Lunak Untuk Konstruksi Timbunan Jalan (Dengan Semen dan Cerucuk)

Stabilisasi tanah dengan menggunakan semen pertama kali dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 1935 dan sejak itu penggunaannya berkembang cukup pesat. Pondasi bangunan untuk rumah ...

Gambut (extremely low bearing capacity)

Gambut (peat,moor,mire,fen) adalah tanah lunak organik yang mempunyai daya dukung yang sangat rendah. Gambut mengandung bahan organik lebih dari 30%. Sebagai campuran dari fragmen dan ...

Timbunan Jalan Pendekat Jembatan (Oprit)

Timbunan jalan pendekat jembatan yaitu segmen yang menghubungkan konstruksi perkerasan dengan kepala jembatan. Adalah merupakan segmen sepanjang jalan yang dibatasi oleh lebar, tinggi tertentu sesuai ...

Anda mungkin juga menyukai