Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang
Air susu ibu adalah merupakan makanan yang terbaik bagi bayi dan juga sebagai zat pelindung yang dapat mencegah terjadinya penyakit infeksi pada bayi, karena kandungan ASI sesuai untuk masa pertumbuhan dan perkembangan bayi. ASI mengandung sel darah putih, anti bodi, hormon serta zat yang dapat membunuh bakteri dan virus, sehingga angka kesakitan dan angka kematian bayi berkurang, karena ASI dapat mencegah reaksi alergi dan asma. ASI mempunyai suhu yang sesuai dan ASI lebih mudah disiapkan dan lebih mudah dicerna (Roesli, 2000). Berdasarkan rekomendasi dari WHO dan UNICEF di Geneva pada tahun 1979 menyusui merupakan bagian terpadu dari proses reproduksi yang memberikan makanan bayi secara ideal dan alamiah serta merupakan dasar biologik dan psikologik yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan. Dengan alasan apapun susu formula harus dihindarkan karena susu formula mudah terkontaminasi oleh kuman dan dalam pemberian susu formula harus disesuaikan dengan takaran susu dan umur bayi. Apabila takaran susu tidak sesuai maka mengakibatkan diare (Sarwono, 1999). Bayi yang diberi susu susu formula mengalami kesakitan diare 10 kali lebih banyak yang menyebabkan angka kematian bayi juga 10 kali lebih banyak, infeksi usus karena bakteri dan jamur 4 kali lipat lebih banyak, sariawan mulut karena jamur 6 kali lebih banyak. Penelitian di Jakarta memperlihatkan persentase kegemukan atau obesitas terjadi pada bayi yang mengkonsumsi susu formula sebesar 3,4% dan kerugian lain menurunnya tingkat kekebalan terhadap asma dan alergi (Dwinda, 2006).

Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) (2003), angka kematian bayi di Indonesia sebesar 35/1000 kelahiran hidup. Angka kesakitan dan angka kematian bayi ditimbulkan salah satunya disebabkan dari dampak susu formula tersebut. Tidak semua bayi dapat menikmati ASI secara eksklusif dari ibu, hal ini dikarenakan oleh berbagai keadaan tertentu misalnya, keluarga ibu yang memutuskan untuk tidak menyusui bayi karena adanya suatu penyakit, misalnya: tuberculosis (TBC), atau Acuired Immunodeficiency Syndrom (AIDS). Dengan keadaan tersebut cara lain untuk memenuhi kebutuhan gizi pada bayi adalah dengan memberikan susu formula sebagai Pengganti Air Susu Ibu (PASI) (Roesli, 2000). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Cohen dan kawan-kawan di Amerika pada tahun 1995 diperoleh bahwa 25% ibu-ibu yang memberikan ASI secara eksklusif pada bayi dan 75% ibu-ibu yang memberikan susu formula pada bayi. Bayi yang mendapatkan ASI secara eksklusif lebih jarang terserang penyakit dibandingkan dengan bayi yang memperoleh susu formula, karena susu formula memerlukan alat-alat yang bersih dan perhitungan takaran susu yang tepat sesuai dengan umur bayi. Hal ini membutuhkan pengetahuan ibu yang cukup tentang dampak pemberian susu formula (Roesli, 2000). Angka kejadian dan kematian akibat diare pada anak-anak di negara-negara berkembang masih tinggi, lebih-lebih pada anak yang sedang mendapat susu formula dibandingkan dengan anak yang mendapat ASI. Meningkatnya penggunaan susu formula dapat menimbulkan barbagai masalah, misalnya kekurangan kalori protein tipe marasmus, moniliasis pada mulut, dan diare karena infeksi (Soetjiningsih, 1997).

Di Indonesia masih banyak ibu-ibu yang tidak memberikan ASI secara eksklusif pada bayi, karena kaum ibu lebih suka memberikan susu formula dari pada memberikan ASI. Hal ini disebabkan oleh pekerjaan ibu, penyakit ibu serta ibu-ibu yang beranggapan bahwa apabila ibu menyusui maka payudaranya tidak indah lagi sehingga suami tidak sayang (Soetjiningsih,1997). Presentasi kaum ibu-ibu yang berada di pedesaan yang memberikan ASI pada bayinya sebesar 80-90% sampai bayi berumur lebih dari 1 tahun. Tetapi dengan adanya iklan dan sumber informasi tentang susu formula maka kecendrungan masyarakat untuk meniru gaya hidup modern. Di Jakarta lebih dari 50% bayi yang berumur 2 bulan telah mendapat susu formula karena pada awalnya calon ibu tidak diberikan penjelasan dan penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif (Soetjiningsih, 1997). Berdasarkan profil kesehatan Puskesmas Kecamatan Ciracas tahun 2012 menunjukkan bahwa dari 54 bayi dinyatakan 32 bayi mendapatkan susu formula. Sedangkan 22 bayi lainnya mendapatkan ASI eksklusif. Berdasarkan uraian di atas, maka kami tertarik untuk melakukan penelitian tentang Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Dampak Pemberian Susu Formula pada Bayi 0-6 Bulan di Lingkungan Kelurahan Ciracas kecamatan Ciracas Tahun 2012.

B. PERUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah Bagaimanakah gambaran pengetahuan ibu tentang dampak pemberian susu formula pada Bayi 0-6 Bulan di Lingkungan Kelurahan Ciracas Kecamatan Ciracas Tahun 2012

C. TUJUAN PENELITIAN
C.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang dampak pemberian susu formula pada Bayi 0-6 Bulan di Lingkungan Kelurahan Ciracas Kecamatan Ciracas Tahun 2012. C.2. Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang dampak pemberian susu formula pada Bayi 0- 6 Bulan di Lingkungan Kelurahan Ciracas Kecamatan Ciracas Tahun 2012 berdasarkan umur. 2. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang dampak pemberian susu formula pada Bayi 0-6 Bulan di Lingkungan Kelurahan Ciracas Kecamatan Ciracas Tahun 2012 berdasarkan pendidikan. 3. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang dampak pemberian susu formula pada Bayi 0-6 Bulan di Lingkungan Kelurahan Ciracas Kecamatan Ciracas Tahun 2012 berdasarkan pekerjaan. 4. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang dampak pemberian susu formula pada Bayi 0-6 Bulan di Lingkungan Kelurahan Ciracas Kecamatan Ciracas Tahun 2012 berdasarkan sumber informasi.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi ibu Penelitian ini akan menjadi informasi dan masukan dalam meningkatkan pengetahuan ibu menyusui tentang dampak pemberian susu formula pada bayi 2. Bagi Peneliti Sebagai pengalaman berharga bagi peneliti dalam menerapkan ilmu metode penelitian dan menambah wawasan pengetahuan tentang dampak pemberian susu formula. 3. Bagi institusi pendidikan Penelitian ini dapat menjadi bahan referensi atau sumber informasi untuk penelitian berikutnya dan sebagai bahan bacaan di perpustakaan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengetahuan


A.1. Definisi Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan pada satu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, indra pendengaran, penciuman, penglihatan, rasa, raba dan sebagian besar pengetahuan manusia melalui mata dan telinga (Sunaryo, 2004). Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Rogers (1974), mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru dalam diri orang tersebut sehingga terjadi suatu proses berurutan (akronim AIETA), yaitu : 1. Awarenes, dimana orang tersebut menyadari pengetahuan terlebih dahulu terhadap stimulus (objek). 2. Interest dimana orang mulai tertarik kepada stimulus. 3. Evaluation, merupakan suatu keadaan mempertimbangkan terhadap baik buruknya stimulus tersebut bagi dirinya. 4. Trial, dimana orang telah mulai mencoba perilaku baik. 5. Adaptation, individu telah berprilaku baru sesuai dengan pengetahuan sikap. A.2. Tingkat Pengetahuan Tingkat pengetahuan menurut (Sunaryo, 2004) mempunyai 6 tingkatan yaitu : a. Tahu (know). Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari dari sebelumnya, termasuk didalam pengetahuan ini adalah mengingat kembali

terhadap suatu yang spefisik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. b. Memahami (comprehension) Memahami diartikan suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. c. Aplikasi (Aplication). Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. d. Analisa (Analisa). Suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi atau objek kedalam komponen-komponen tetapi masih didaklam structur organisasai tersebut dan ada kaitannya satu sama lain. e. Sintesisi (Senthesis). Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. f. Evaluasi ( Evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian suatu materi atau objek penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu criteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

B. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan


B.1. Umur Umur adalah lamanya seseorang hidup sejak dilahirkan sampai saat ini. Umur merupakan periode terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan-harapan baru. Semakin bertambahnya umur seseorang maka semakin banyak pula ilmu pengetahuan yang dimiliki (Notoadmojo,2003). B.2. Pendidikan Pendidikan merupakan proses menumbuh kembangkan seluruh kemampuan dan perilaku manusia melalui pengajaran sehingga dalam pendidikan itu perlu dipertimbangkan umur (proses perkembangan seseorang) dan hubungan dengan proses belajar. Tingkat pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang untuk lebih menerima ide-ide dan teknologi baru (Notoadmojo,2003). B.3. Pekerjaan Pekerjaan adalah kegiatan sehari-hari yang dilakuakan ibu untuk memenuhi kebutuhannya, bila kita ingin melihat pekerjaan mayoritas dari ibu karena kemungkinan sebagian ibu bukanlah pekerja yang berpenghasilan cukup sehingga kebanyakan ibu menganggap social ekonomi keluarga akan mengganggu dalam pemenuhan nnutrisi anaknya (Notoadmojo,2003). Factor yang mempengaruhi persepsi seseorang untuk lebih menerima ide-ide dan teknologi baru (Notoadmojo, 2003). B.4. Sumber Informasi Sumber informasi adalah segala sesuatu yang menjadi perantara dalam menyampaikan informasi. Mempengaruhi kemampuan, semakin banyak sumber informasi yang diperoleh maka semakin banyak pula pengetahuan yang dimiliki.

Media informasi untuk komunikasi massa terdiri dari media cetak yaitu surat kabar , majalah, buku. Media elektronik yaitu radio, TV, film, dan sebagainya (Notoadmodjo, 2003).

C. SUSU FORMULA
C.1. Definisi Susu adalah cairan yang dihasilkan oleh kelenjar (mammae) baik binatang maupun seorang ibu. Susu formula adalah cairan yang berisi zat-zat didalamnya tidak mengandung antibody, sel darah putih, zat pembunuh bakteri, enzim, hormone dan factor pertumbuhan (Roesli, 2000). C.2. Jenis-Jenis Susu Formula Susu formula terbuat dari susu sapi, susu kedelai, protein hidrolisa yang susunan gizinya diubah sedemikian rupa sehingga mendekati susunan zat gizi dalam ASI. Di Indonesia telah beredar berbagai macam susu formula dengan berbagai merek dagang, akan tetapi susu formula dapat dibagi menjadi tiga golongan yaitu sebagai berikut: 1. Susu formula adapted Adapted berarti disesuaikan dengan fisiologis bayi, susu formula ini komposisinya sangat mendekati ASI, sehingga cocok untuk digunakan bagi bayi baru lahir sampai umur 4 bulan. Formula adapted yang beredar di Indonesia antara lain: Vitalac, Nutrilion, Bebelac, Dumex dan Enfamil. 2. Susu formula complete starting Susunan zat gizi dalam susu formula ini sudah lengkap sehingga dapat diberikan sebagai susu awal (permulaan). Berbeda dengan susu formula adapted, kadar protein dan mineralnya lebih tinggi dibandingkan susu formula adapted, karena

cara pembuatan susu formula complete starting lebih mudah dibandingkan dengan susu formula adapted maka harga susu formula complete starting lebih murah. Susu formula complete starting yang beredar di Indonesia antara lain: SGM-1, Lactogen-1, dan New Camelpo. 3. Susu formula follow-up Pengertian follow-up dalam susu formula ini adalah lanjutan, yaitu mengganti susu formula yang sedang digunakan dengan dengan susu formula follow-up. Susu formula ini digunakan pada bayi yang berumur 6 bulan ke atas. Pada umumnya susu formula ini mengandung protein dan mineral. Contoh susu formula follow-up yaitu antara lain: Lactogen-2, SGM-2, Chilmil, Promil dan Nutrima (Muchadi, 1996) C.3. Dampak-dampak Pemberian Susu Formula Berbagai dampak negative yang terjadi pada bayi akibat dari pemberian susu formula, antan lain : 1) Pencemaran Susu buatan sering tercemar bakteri, terutama bila ibu menggunakan botol dan tidak merebusnya setiap selesai memberi minum. Bakteri tumbuh sangat cepat pada minuman buatan. 2) Infeksi Susu formula tidak mengandung antibody untuk melindungi tubuh bayi terhadap infeksi. Bayi yang diberi susu formula lebih sering sakit diare dan infeksi saluran nafas. 3) Pemborosan

Ibu dari kelompok ekonomi rendah mungkin tidak mampu membeli cukup susu formula untuk bayinya. Mereka mungkin memberi dalam jumlah lebih sedikit dan mungkin menaruh sedikit susu atau bubuk susu kedalam botol, sebagai akibatnya bayi yang diberi susu formula sering kelaparan dan akhirniya dapat menyebabkan kurangnya gizi pada bayi 4) Kekurangan Vitamin Susu formula tidak mengandung vitamin yang cukup untuk bayi. Menurut Richard dan Victor (1992), ASI mengandung lebih banyak vitamin C dan vitamin D. 5) Kekurangan Zat Besi Zat besi dari susu formula tidak diserap sempurna seperti zat besi da ASL Bayi yang diberi minuman buatan seperti susu formula dapat terkena anemia karena kekurangan zat besi. 6) Lemak Yang Tidak Cocok Susu formula yang terbuat ddari susu sapi mengandung banyak asam lemak jenuh dibandingkan ASI. Untuk pertumbuhan bayi yang sehat di perlukan asam lemak esensial dan asam linoleat yang cukup, dan mungkin juga tidak mengandung kolesterol yang cukup bagi pertumbuhan otak dan sebagai penyebab kegemukan (obesitas) pada bayi, dan sebagian susu formula tidak banyak mengandung energi yang dibutuhkan bagi pertumbuhan bayi. 7) Protein Yang Tidak Cocok Susu formula mengandung terlalu banyak kasein, Kasein mengandung campuran asam amino yang tidak cocok dan sulit dikeluarkan atau dicerna oleh ginjal bayi yang belum sempurna. Petugas kesehatan sering

menganjurkan kepada ibu-ibu untuk mengencerkan susu formula dengan air untuk mengurangi protein total. Tetapi susu yang diencerkan tidak mengandung asam amino esensial yang cukup yang diperlukan bagi pertumbuhan otak bayi. 8) Tidak Bisa Dicerna Susu formula Iebih sulit dicema karena tidak mengandung enzim lipase untuk mencema lemak. Karena susu formula lambat dicerna maka Iebih lama untuk mengisi lambung bayi dari pada ASI, akibatnya bayi tidak cepat lapar. Bayi yang diberi susu formula bisa dapat menderita sembelit, yaitu tinja menjadi lebih keras dan tebal (Nelson,2000). 9) Alergi Bayi yang diberi susu formula terlalu dini kemungkinan menderita lebih banyak masalah alergi, misalnya : asma. Penggunaan susu formula yang tidak tepat dapat menimbulkan bahaya. Menurut Nursalam (2005), ada 3 (tiga) macam bahaya yang ditimbulkan akibat pemberian susu formula path bayi : (1) Infeksi : dapat menyebabkan bayi menderita diare. Bayi dengan susu formula 4 kali Iebih banyak terkena diare dibandingkan dengan yang diberi ASI. Infeksi umumnya disebabkan karena bakteri. (2) Oral moniliasis : infeksi yang disebabkan jamur pada susu yang juga menimbulkan diare, pada bayi yang mengkonsumsi susu formula 6 kali lebih banyak terkena moniliasis pada mulut bayi. (3) Marasmus gizi : suatu keadaan gizi buruk yang disebabkan kekurangan kalori dan protein. Pengenceran susu dengan air yang melebihi ketentuan bukan saja

menurunkan kadar kalori tetapi juga kadar protein, sehingga kebutuhan bayi akan kedua zat gizi utama tersebut tidak terpenuhi. C.4. Faktor-faktor yang mempengaruhi ibu memberikan susu formula pada bayi Susu formula merupakan alternatif pemberian susu yang terbaik pada keadaan tertentu. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ibu memberikan susu formula pada bayi karena dalam keadaan-keadaan tertentu. Yang termasuk kedaan tertentu yaitu: keluarga memutuskan untuk tidak menyusui bayi atau ibu tidak mampu menyusui karena suatu penyakit tertentu seperti: TBC, AIDS. Pada ibu yang dengan waktu yang tidak memungkinkan untuk menyusui bayi dikarenakan pekerjaan ibu, susu formula sebagai pengganti ASI dan pelengkap ASI jika produksi susu tidak mencukupi dan seperti bayi yang diadopsi yang harus diberikan susu formula sabagai ganti dari ASI (Jensen, 2004). C.5. Komposisi Susu Formula Susu sapi (susu formula) dan ASI mengandung dua macam protein utama, yaitu whey dan kasein ( casein). Whey adalah protein halus, lembut, dan mudah dicerna. Kasein adalah protein yang bentuknya kasar, bergumpal, dan sukar dicerna oleh usus bayi. Protein susu yang yang utama adalah whey, sedangkan susu sapi yang utama adalah casein, ASI mengandung alfa-laktalbumin, sedangkan susu sapi mengandung lactoglobulin dan bovine serum albumin yang sering menyebabkan alergi. Susu sapi tidak mengandung taurin, taurin adalah protein otak, susunan saraf juga penting untuk pertumbuhan retina, mengandung kalsium, sedikit mengandung zat besi, mengandung natrium, kalium, fosfor dan chlor dan susu formula tidak terdapat sel darah putih, zat pembunuh bakteri anti bodi, mengandung enzim, hormon dan juga tidak mengandung faktor pertumbuhan.

C.5. Masalah gizi pada bayi yang diberi susu formula Susu formula terbuat dari susu sapi ataupun kedelai yang diperuntukkan khusus untuk bayi. Teknologi pembuatan susu formula dikembangkan secara terusmenerus, tetapi walaupun demikian, susu formula tidak dapat menyamai ASI. Komposisi gizi ASI menyediakan kekebalan tambahan terhadap infeksi kecil sekali menyebabkan alergi. Zat-zat utama ASI antara lain : gula (laktosa), protein yang mudah dicerna (air dadi dan kasein), lemak (asam lemak yang mudah dicerna), selain itu ada banyak mineral, vitamin dan enzim yang dapat membantu proses pencernaan. Susu formula hanya dapat mendekati kombinasi ini, dan tidak dapat memberikan enzim, antibody serta zat-zat lain yang sangat berharga seperti pada susu ibu (Shelove, 2005)

BAB III METODE PENELITIAN A. Kerangka Konsep


Yang menjadi kerangka konsep pada penelitian dengan judul Gambaran pengetahuan ibu tentang dampak pemberian susu formula pada Bayi 0-6 Bulan di Lingkungan Kelurahan Ciracas Kecamatan Ciracas Tahun 2011 adalah variabel independent yaitu umur, pendidikan, pekerjaan, sumber informasi, dan variabel dependent adalah dampak pemberian susu formula. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan sebagai berikut. Variabel Independen 1. 2. 3. 4. Umur Pendidikan Pekerjaan Sumber Variabel Dependent Pengetahuan ibu tentang dampak pemberian susu formula

B. Defenisi Operasional
B.1. Pengetahuan Pengetahuan adalah pemahaman responden dalam hal pemberian susu formula dengan kategori: a. Baik : Apabila skor 76 - 100% dan total skor (bila jawaban yang benar adalah 16 - 20 dari 20 pertanyaan yang diberikan). b. Cukup : Apabila skor 60 - 75% dan total skor (bila jawaban yang benar 12 - 15 dari 20 pertanyaan yang diberikan). c. Kurang : Apabila skor < 55% dan total skor (bila jawaban yang benar < 11 dari 20 pertanyaan yang diberikan). Alat ukur Skala ukur : Kuesioner : Ordinal

B.2. Umur Lamanya umur responden dalam hitungan waktu dinyatakan dalam tahun dengan kategori: a. 20 25 tahun b. 26 30 tahun c. 31 35 tahun d. 36 40 tahun Alat ukur Skala ukur : Kuesioner : Interval

B.3. Pendidikan Proses belajar yang pernah di tempuh secara formal didalam lembaga pendidikan terakhir yang diikuti responden dengan kategori: a. Pendidikan Dasar (SD) b. Pendidikan Menengah Pertama (SMP) c. Pendidikan Menengah Atas (SMU) d. Perguruan Tinggi Alat ukur Skala ukur : Kuesioner : Ordinal

B.4. Pekerjaan Aktivitas yang dilakukan responden untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan kategori: a. Wiraswasta b. Pegawai Negeri c. Nelayan d. Pegawai swasta

e. Tidak bekerja Alat ukur Skala ukur : Kuesioner : Nominal

B.5. Sumber Informasi Asal pesan atau beberapa sumber tentang pemberian susu formula yang diperoleh responden sehingga dapat mempengaruhi responden dengan kategori: a. Media cetak b. Media elektronik c. Petugas kesehatan Alat ukur Skala ukur : Kuesioner : Nominal

C. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif yaitu bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang dampak pemberian susu formula pada Bayi 0-6 Bulan di Lingkungan Kelurahan Ciracas Kecamatan Ciracas Tahun 2011.

D. Lokasi dan Waktu Penelitian


D.1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Lingkungan Kelurahan Ciracas Kecamatan Ciracas Tahun 2011. Dengan alasan karena adanya sampel yang memenuhi syarat dijadikan subjek penelitian, lokasi penelitian dekat sehingga mempermudah untuk pengambilan sampel. D.2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada minggu ke-2 sampai minggu ke-3 bulan April, adapun kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut : Pengajuan judul, penyiapan ijin lokasi, penyusunan proposal, , pengumpulan data, analisa data, konsultasi laporan penelitian.

E. Populasi dan Sampel


E.1. Populasi Yang menjadi populasi penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai Bayi 0-6 Bulan di Lingkungan Kelurahan Ciracas Kecamatan Ciracas Tahun 2011 sebanyak 32 orang. E.2. Sampel Adapun yang dijadikan sample dalam penelitian ini adalah total dari populasi dengan jumlah sampel 32 orang dengan cara total populasi.

F. Metode Pengumpulan Data


Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dengan kuesioner sebagai alat bantu, dimana terlebih dahulu memberikan penjelasan singkat tentang kuesioner, dibandingkan dan diisi oleh responden, kemudian dikumpul kembali oleh peneliti dan diperiksa kelengkapannya.

G. Teknik Pengolahan Data dan Analisa


G.1. Pengolah Data

a. Proses Editing Dilakukan pengecekan kelengkapan data pada data yang terkumpul bila terdapat data yang tidak lengkap atau kurang akan dilakukan pendataan ulang. b. Coding Data yang telah di edit dirubah ke dalam bentukan (kode) untuk memenuhi data yang ada. c. Tabulating Data yang sudah diedit dimasukkan dalam bentuk tabel distribusi frekwensi.

H. Teknik Analisa Data


Analisa data dilakukan secara deskriptif dengan melihat persentasi data yang te!ah terkumpul dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan analisa data dilanjutkan dengan membahas hasil penelitian dengan menggunakan teori dan kepustakaan yang ada.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Dari penelitian yang berjudul Gambaran pengetahuan ibu tentang dampak pemberian susu formula pada Bayi 0-6 Bulan di Lingkungan Kelurahan Ciracas Kecamatan Ciracas Tahun 2011 dengan sampel sebanyak 32 orang diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel A.1 : Distribusi pengetahuan Ibu tentang dampak pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan di Lingkungan Kelurahan Ciracas Kecamatan Ciracas Tahun 2011. No. Pengetahuan 1. Baik 2. Cukup 3. Kurang Total Frekuensi 21 9 2 32 Persentase 65,62 28,12 6,25 100

Dari Tabel A1 di atas dapat dilihat bahwa mayoritas ibu memiliki pendidikan baik sebanyak 21 orang (65,62%) dan minoritas ibu yang berpengetahuan kurang hanya 2 orang (6,25%).

Tabel A.2 : Distribusi pengetahuan Ibu tentang dampak pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan berdasarkan umur di Lingkungan Kelurahan Ciracas Kecamatan Ciracas Tahun 2011. Baik No. Umur 1. 20 25 Thn 2. 26 30 Thn 3. 31 35 Thn F 11 9 % 91,66 64,28 Kriteria Cukup F 1 4 1 % 8,33 28,57 50, Kurang F 1 1 % 7,1 50

Total F % 12 14 2 100 100 100

4.

36 40 Thn

50

50

100

Dari Tabel A.2 di atas dapat dilihat bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan baik yaitu pada berumur 20 25 tahun yaitu sebanyak 11 orang (91,66%), dan minoritas responden memiliki tingkat pengetahuan cukup yaitu pada umur 20 25 tahun yaitu 1 orang (8,33%).

Tabel A.3 : Distribusi pengetahuan Ibu tentang dampak pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan berdasarkan pendidikan di Lingkungan Kelurahan Ciracas Kecamatan Ciracas Tahun 2011. Baik No. 1. 2. 3. 4. Pendidikan SD SMP SMA P. Tinggi F 2 18 2 % 66,67 69,33 66,67 F 1 6 1 Kriteria Cukup % 33,33 23,07 33,33 F 2 Kurang % 7,69 -

Total F % 3 26 3 100 100 100

Dari Tabel A.3 di atas dapat dilihat bahwa mayoritas responden yang berpendidikan SMA sebanyak 26 orang (100%) dan 18 orang (69,23%) memiliki pengetahuan baik, sedangkan minoritas ibu yang berpendidikan SMP sebanyak 3 orang (100%) dan memiliki pengetahuan baik sebanyak 2 orang (66,66%).

Tabel A.4 : Distribusi pengetahuan Ibu tentang dampak pemberian susu formula pada bayi 0- 6 bulan berdasarkan pekerjaan di Lingkungan Kelurahan Ciracas Kecamatan Ciracas Tahun 2011. Baik No. 1. 2. 3. 4. 5. Pekerjaan Wiraswasta PNS Peg. Swasta Nelayan Tdk Bekerja F 2 2 1 2 15 % 66,67 66,67 50 100 68,18 F 1 1 1 5 Kriteria Cukup % 33,33 33,33 50 22,72 F 2 Kurang % 9,10

Total F % 3 3 2 2 22 100 100 100 100 100

Dari Tabel A.4 di atas dapat dilihat bahwa mayoritas ibu yang tidak bekerja sebanyak 22 orang (100%) dan 15 orang (68,18%) memiliki pengetahuan baik, sedangkan minoritas ibu dengan pegawai swasta sebanyak 2 orang (100%) dan 1 orang memiliki pengetahuan baik.

Tabel A.5 : Distribusi pengetahuan Ibu tentang dampak pemberian susu formula pada bayi baru lahir sampai 6 bulan berdasarkan sumber informasi di Lingkungan Kelurahan Ciracas Kecamatan Ciracas Tahun 2012. Baik Sumber No. Informasi 1. Media Cetak 2. M. Elektronik 3. Petugas Kes F 8 7 6 % 80 77,77 46,15 F 1 2 6 Kriteria Cukup % 10 22,22 46,15 F 1 1 Kurang % 10 7,70

Total F % 10 9 13 100 100 100

Dari Tabel A.5 di atas dapat dilihat bahwa mayoritas ibu yang mendapat sumber informasi berjumlah 13 orang (100%) dan 7 orang (77,77%) memiliki pengetahuan baik, sedangkan minoritas ibu yang memperoleh informasi 9 orang (100%).

B. Pembahasan

1. Tingkat Pengetahuan Responden Tentang Dampak Pemberian Susu Formula Pada Bayi 0-6 Bulan. Dan hasil analisis data pada tabel 1 diatas diperoleh pengetahuan responden tentang tentang dampak pemberian susu formula pada bayi 0 -6 bulan mayoritas ibu memiliki pendidikan baik sebanyak 21 orang (65,62%) dan minoritas ibu yang berpengetahuan kurang hanya 2 orang (6,25%). Notoadmojo (2003) juga mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan basil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu dan pengetahuan merupakan hal yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan ibu yang lebih baik cenderung memberikan dampak yang lebih baik dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan anak. Pemahaman inii penting dalam upaya memperbaiki kwalitas sumber daya manusia karena terbukti bahwa pemberian susu formula sebagai salah satu bentuk PASI (Pengganti Air Susu Ibu) memperbesar peluang terjadinya penyakit seperti halnya diare, maka pemberian ASI eksklusif sampai bayi berumur 6 bulan akan membuat asupan gizi yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Menurut kami, bahwa pengetahuan ibu tentang dampak susu formula pada bayi 0-6 bulan dengan hasil baik. Karena ibu sudah mencapai hasil yang memuaskan. Hal ini mungkin dikarenakan tingkat pengetahuan ibu diperoleh dari keuletan untuk mencari informasi dari petugas kesehatan dan media lainnya, sehingga pengetahuan dan pengalaman ibu bertambah luas.

2. Tingkat Pengetahuan Responden berdasarkan kelompok umur

Dari analisa data padah table 2 diatas diperoleh pengetahuan responden tentang dampak pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan berdasarkan kelompok umur mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan baik yaitu pada berumur 20 25 tahun yaitu sebanyak 11 orang (91,66%), dan minoritas responden memiliki tingkat pengetahuan cukup yaitu pada umur 20 25 tahun yaitu 1 orang (8,33%). Notoatmodjo (2000), mengatakan bahwa umur merupakan variabel yang selalu diperhatikan dalam suatu penelitian. Penelitian epidemiologi yang merupakan salah satu hal yang mempengaruhi pengetahuan seseorang. Berdasarkan hasil penelitian tidak terdapat perbedaan antara teori dan hasil yang dicapai, dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang berumur 26-30 tahun lebih banyak berpengetahuan baik dari pada umur 20 25 tahun yang dapat dilihat pada tabel 2 yaitu umur 20 25 tahun berjumlah 11 orang (01,66%) dan 10 orang (71,42%) mempunyai pengetahuan baik. Maka dapat disimpulkan bahwa umur dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang, apabila umur seseorang semakin tua, maka pengetahuan seseorang akan bertambah dan semakin luas wawasannya.

3. Pengetahuan ibu tentang dampak pemberian susu formula pada bayi 0- 6 bulan berdasarkan Pendidikan Berdasarkan penelitian dapat dilihat bahwa tingkat pengetahuan ibu tentang dampak pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan mayoritas berpendidikan SMA sebanyak 26 orang (100%) dan 18 orang (69,23%) memiliki pengetahuan baik, sedangkan minoritas ibu yang berpendidikan SMP sebanyak 3 orang (100%) dan 2 orang (66,66%) yang memiliki pengetahuan baik.

Menurut SDKI (1997), pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang karena dapat membuat seseorang untuk lebih mudah menerima ide-ide dan teknologi baru. Sehingga semakin tinggi tingkat pendidikan atau pengetahuan individu atau ibu, maka akan semakin peka panca indera individu tersebut dalam mencapai keinginannya. Dari hasil penelitian yang diperoleh bahwa tidak terdapat perbedaan antara teori dan hasil penelitian yang diperoleh oleh si peneliti. Karena dalam penelitian ini telah ditemukan bahwa responden yang berlatar belakang pendidikan yang paling banyak mempunyai pengetahuan baik adalah pendidikan SMA, sedangkan pendidikan SMP lebih sedikit berpengetahuan baik. Dalam hal ini dapat kita simpulkan bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang. Karena apabila pendidikan seseorang lebih tinggi, maka semakin banyak pengetahuan yang diperolehnya.

4. Pengetahuan ibu tentang dampak pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan berdasarkan Pekerjaan Berdasarkan hasil yang diteliti dapat dilihat bahwa mayoritas ibu yang bekerja sebagai IRT sebanyak 22 orang (100%) dan 15 orang (68,18%) berpengetahuan baik, sedangkan minoritas ibu yang bekerja sebagai pegawai swasta sebanyak 2 orang (100%) dan 1 orang (100%) yang berpendidikan baik. Menurut Hurlock (1998), mengatakan bahwa pekerjaan merupakan suatu kegiatan formula yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kebahagiaan merupakan kesuksesan besar dan luasnya cakupan bakat dan minat dengan jenis pekerjaan, maka semakin tinggi pula kesuksesan yang diperolehnya.

Menurut asumsi penulis, pekerjaan merupakan suatu usaha untuk mencapai atau memperoleh kebutuhan yang harus dipenuhi dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga apabila pekerjaan itu dilakukan dengan baik, maka akan memperoleh hasil yang memuaskan. Dari hasil penelitian ini tidak terdapat perbedaan anatara teori dan hasil penelitian. 5. Pengetahuan ibu tentang dampak pemberian susu formula pada bayi 0- 6 bulan berdasarkan sumber informasi. Dari hasil di atas dapat dilihat bahwa mayoritas ibu yang mendapatkan informasi dari petugas kesehatan sebanyak 13 orang (100%) dan 7 orang (53,84%), sedangkan minoritas ibu yang memperoleh informasi dari media elektronik sebanyak 9 orang (100%) dan 7 orang (77,77%) yang memiliki pengetahuan baik. Hal di atas sesuai dengan Notoadmodjo (2003), bahwa semakin sering seseorang mendengar atau membaca, maka pengetahuannya akan lebih baik daripada hanya mendengar atau melihat saja. Menurut kami, pengetahuan seseorang yang mendapat informasi dari petugas kesehatan yang berhubungan dengan dampak pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan dengan adanya penyuluhan yang diberikan oleh petugas kesehatan atau dari sumber informasi lainnya, maka pengetahuan ibu akan bertambah dan semakin luasnya wawasan yang diperoleh. Dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat antara teori dan hasil penelitian yang dilakukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan


Dari hasil yang diperoleh pada penelitian yang berjudul Gambaran pengetahuan ibu tentang dampak pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan di Lingkungan III Kelurahan Pancuran Dewa Kecamatan Sibolga Sambas Tahun 2008. Dalam hal ini kita dapat menarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Dari keseluruhan responden yang berjumlah 32 orang responden didapatkan mayoritas ibu memiliki pendidikan baik sebanyak 21 orang (65,62). 2. Dilihat dari umur responden tentang dampak pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan baik yaitu pada berumur 20 25 tahun yaitu sebanyak 11 orang (91,66%). 3. Dilihat dari pendidikan responden, maka pendidikan yang terbanyak adalah SMA dengan jumlah responden 26 orang (69,23%). 4. Dari 32 responden dapat kita lihat bahwa mayoritas responden

mendapatkan sumber informasi tentang dampak susu formula pada bayi 0-6 bulan berasal dari media cetak dengan berpengetahuan baik yakni sebanyak 8 responden (80%).

B. SARAN
1. Bagi ibu Diharapkan kepada ibu dapat mempertahankan pengetahuan dan menambah wasan tentang dampak pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan dan seharusnya ibu harus memberikan ASI eksklusif pada bayi. 2. Bagi Peneliti Diharapkan kepada para peneliti selanjutnya untuk dapat melakukan penelitian yang lebih mendalam misalnya tentang dampak pemberian susu formula pada bayi 0-6 bulan dan dikembangkan dengan menggunakan sampel yang lebih luas sehingga diperoleh lebih baik terhadap pengetahuan ibu tentang dampak susu formula pada bayi 0-6 bulan. 3. Bagi Institusi pendidikan Diharapkan dalam penelitian ini dapat menambah wawasan dan

pengetahuannya dalam bidang kesehatan dan menjadi bahan referensi atau sumber informasi untuk penelitian berikutnya.