Anda di halaman 1dari 21

VITAMIN, MINERAL DAN TERAPI CAIRAN

Oleh: Isnaini

Vitamin dibagi menjadi 2 golongan: Larut lemak : vit A, D, E dan K Larut air : vit B kompleks dan vit C Pemberian vitamin hanya dibutuhkan bila: Pasokan vitamin yang tidak mencukupi Peningkatan kebutuhan vitamin (misalnya selama hamil dan menyusui) Kurangnya absorbsi vitamin

Defisiensi penyakit beri-beri yang gejalanya terutama tampak pada sistem saraf dan kardiovaskuler. Pada sistem saraf :neuritis Pada kardiovaskuler :insufisiensi jantung. Pada saluran cerna :konstipasi dan nafsu makan berkurang. Kebutuhan sehari Kebutuhan minimum 0,3 mg/1000 kcal, sedangkan AKG di Indonesia 0,30,3-0,4 mg/hari untuk bayi; 1,0 mg/hari untuk orang dewasa dan 1,2 mg/hari untuk wanita hamil. Farmakokinetik Pemberian parenteral, absorbsinya cepat dan sempurna. Absorbsi per oral maksimum 88-15 mg/hr dicapai dengan pemberian oral sebanyak 40 mg. Dalam satu hari sebanyak 1 mg tiamin mengalami degradasi di jaringan tubuh.

Efek samping Meskipun jarang, reaksi anafilaktoid terjadi setelah pemberian IV dosis besar. Sediaan Tiamin HCl (vit B1, aneurin HCl) tersedia dalam bentuk tablet 55-500 mg, larutan steril 100100-200 mg (parenteral) dan eliksir 225 mg/ml. 2 dosis 22 5 mg/hari (pencegahan) dan 55-10 mg tiga kali sehari (pengobatan) Indikasi Neuritis alkoholik Wanita hamil yang kurang gizi Penderita emesis gravidarum

Defisiensi Gejala sakit tenggorokan dan radang di sudut mulut (stomatitis angularis), keilosis, glositis, lidah berwarna merah dan licin. Kebutuhan sehari Minimum 0,3 mg/1000 kcal. Farmakokinetik Pemberian secara oral atau parenteral akan diabsorbsi dengan baik dan distribusi merata di seluruh jaringan. Indikasi Untuk pencegahan dan terapi defisiensi vitamin B2 yang sering menyertai pellagra atau defisiensi vitamin BB-kompleks lainnya, sehingga riboflavin diberikan bersama vitamin lainnya. Dosis untuk pengobatan adalah 55-10 mg/hari.

Defisiensi Terjadi pellagra (kelainan pada kulit, saluran cerna, dan SSP) Kebutuhan sehari Kebutuhan minimal asam nikotinat untuk mencegah pellagra ratarata 4,4 mg/1000 kcal, pada dewasa asupan minimal 13 mg. Farmakokinetik Niasin dan niasinamid mudah diabsorbsi. Ekskresinya melalui urin, sebagian kecil dalam bentuk utuh dan sebagian lainnya dalam bentuk berbagai metabolitnya. Sediaan dan posologi Tablet niasin mengandung 25-750 mg. Sediaan untuk injeksi mengandung 50 atau 100 mg niasin/ml. Tablet niasinamid 50-1000 mg, dan larutan untuk injeksi mengandung 100 mg/ml. Untuk pengobatan pellagra pada keadaan akut dianjurkan dosis oral 50 mg diberikan sampai 10 kali sehari, atau 25 mg niasin 2-3 kali sehari secara intravena.

Defisiensi Kelainan kulit berupa dermatitis seboroik dan peradangan pada selaput selaput lendir, mulut dan lidah Kelainan SSP berupa perangsangan sampai timbulnya kejang Gangguan sistem eritropoietik berupa anemia hipokrom mikrositik Kebutuhan sehari KiraKira-kira 2 mg/100 mg protein. Farmakokinetik Piridoksin, piridoksal dan piridoksamin mudah diabsorbsi melalui saluran cerna. Ekskresi melalui urin terutama dalam bentuk 44-asam piridoksat dan piridoksal. Efek samping Dapat menyebabkan neuropati sensorik atau sindrom neuropati dalam dalam dosis antara 50 mgmg-2 g per hari untuk jangka panjang. Sediaan dan indikasi Tablet piridoksin HCl 1010-100 mg dan sebagai larutan steril 100 mg/ml piridoksin HCl untuk injeksi. Untuk mencegah dan mengobati defisiensi vitamin B6 diberikan bersama bersama vitamin B lainnya atau sebagai multivitamin untuk pencegahan dan pengobatan defisiensi vitamin BB-kompleks. Indikasi lain untuk mencegah atau mengobati neuritis perifer oleh obat, misalnya setelah pemberian obat isoniazid.

Kebutuhan sehari Kebutuhan sehari 5-10 mg. Farmakokinetik Pada pemberian oral, absorbsinya baik dan distribusinya ke seluruh tubuh dengan kadar 2-45 mcg/g. Ekskresi dalam bentuk utuh 70% melalui urin dan 30% melalui tinja. Sediaan Dalam bentuk Ca-pantotenat 10 atau 30 mg dan dalam bentuk larutan steril untuk injeksi dengan kadar 50 mg/ml.

BIOTIN

Gejala defisiensi: dermatitis, sakit otot, rasa lemah, anoreksia, anemia ringan. sebagai koenzim pada reaksi karboksilasi. sehari berkisar antara 150-300 g.
INOSITOL Penderita diabetes mengekskresi inositol dalam urine dengan kadar tinggi. Inositol merupakan isomer glukosa dan dalam badan mudah berubah menjadi inositol. Gejala defisiensi pada hewan coba: gangguan pertumbuhan, alopesia dan gangguan laktasi.

Fungsinya: Sebagai prekursor asetilkolin. Dalam metabolisme lemak, kolin berkhasiat lipotropik (dapat menurunkan kadar lemak dalam hati) dalam pengobatan penyakit hati seperti sirosis hepatis, hepatitis. Dalam metabolisme intermedier, sebagai donor metil dalam pembentukan berbagai asam amino esensial. Kebutuhan Kebutuhan tubuh sehari-hari belum dapat ditentukan, tetapi dalam makanan sehari-hari rata-rata terdapat 500-900 mg. Penggunaan per oral cukup aman dengan LD50 200400 g.

Defisiensi Defisiensi dicegah dengan pemberian sayursayur-mayur atau buahbuah-buahan segar. Bekerja sebagai suatu koenzim dan pada keadaan tertentu merupakan merupakan reduktor dan antioksidan. Gejala awal malaise, mudah tersinggung, gangguan emosi, artralgia, artralgia, hiperkeratosis folikel rambut, perdarahan hidung dan petekie. Skorbut terlihat bila kadar vitamin C pada leukosit dan trombosit < 2 mg/dl dan terjadi setelah mendapat diet tanpa vitamin vitamin C selama 33-5 bulan. Orang tua, alkoholisme, penderita penyakit menahun sangat peka terhadap terhadap timbulnya skorbut. Farmakokinetik Mudah diabsorbsi melalui saluran cerna. Ekskresi melalui urine dalam dalam bentuk utuh dan bentuk garam sulfatnya terjadi jika kadar dalam darah melewati ambang rangsang ginjal 1,4 mg%. Kebutuhan sehari AKG vitamin C ialah 35 mg untuk bayi dan meningkat sampai kirakira-kira 60 mg pada dewasa. Kebutuhan akan vitamin C meningkat 300300-500% pada penyakit infeksi, tuberkulosis, tukak peptik, penyakit neoplasma, pasca bedah atau trauma, pada hipertiroid, hipertiroid, kehamilan dan laktasi. Pada masa hamil dan laktasi diperlukan tambahan vitamin C 1010-25 mg/hari. Efek samping Dosis lebih dari 1 g/hari dapat menyebabkan diare dan dapat meningkatkan meningkatkan bahaya terbentuknya batu ginjal, karena sebagian vit C dimetabolisme dan dan diekskresi sebagai oksalat. Sediaan dan indikasi Dalam bentuk tablet & larutan mengandung 5050-1500 mg. Untuk sediaan suntik mengandung vitamin C 100100-500 mg. Vitamin C diindikasikan untuk pencegahan dan pengobatan skorbut.

Sumber berasal dari karoten (provitamin A) terdapat pada mentega, telur, hati dan daging terdapat dalam beberapa bentuk, misalnya retinol (vitamin A1) dan 3-dehidroretinol (vitamin A2). Asam retinoat (tretinoin, isotretinoin) merupakan hasil oksidasi group alkohol dari retinol. Farmakodinamik untuk regenerasi pigmen retina mata dalam proses adaptasi gelap. Retinol (vitamin A1) memegang peranan penting pada kesempurnaan fungsi dan struktur sel epitel, karena retinol berperan dalam diferensiasi sel dan proliferasi epitel. Vitamin A juga diperlukan untuk pertumbuhan tulang, alat reproduksi dan perkembangan embrio. Defisiensi Terjadi bila : 1. kesanggupan tubuh untuk menyimpan vitamin A terganggu (sirosis hati) 2. terdapat defisiensi protein (transport) 3. absorpsi di usus terganggu 4. asupan vitamin A yang kurang. Gejala yang paling dini berupa buta senja. . Defisiensi lebih berat menyebabkan gangguan pada mata yang berupa xeroftalmia, timbulnya bercak Bitot, keratomalasia, dan akhirnya kebutaan.

akibat penggunaan vitamin A lebih dari 700-3000 IU/kg/hari yang lama kerusakan hati pada anak karena penggunaan vitamin A dengan dosis yang sesuai AKG untuk orang dewasa selama beberapa tahun dan dengan dosis 5 kali AKG selama 7-10 tahun pada orang dewasa. Kebutuhan manusia wanita 500 RE dan pria 600 RE. Dosis karoten yang diperlukan kurang lebih 2 kali dosis vitamin A. Farmakokinetik diabsorpsi sempurna melalui saluran cerna dan kadar puncak dalam plasma setelah 4 jam Absorpsi berkurang bila diet kurang mengandung protein, atau pada penyakit infeksi tertentu, dan pada penyakit hati seperti hepatitis, sirosis hati atau obstruksi biliaris. disimpan di dalam hati sebagai palmitat, dalam jumlah kecil ditemukan juga di ginjal, adrenal, paru, lemak intraperitoneal dan retina.

Indikasi
untuk pencegahan dan pengobatan defisiensi vitamin A. tetapi retinol sejumlah 20.000 IU/hari selama 1 atau 2 bulan pada bayi atau anak sehat dengan makanan yang baik dapat menimbulkan gejala keracunan. Gejala defisiensi vitamin A pada anak diberikan secara suntikan sebanyak 100.000 unit untuk satu kali pemberian dan dilanjutkan dengan pemberian oral. Tambahan suntikan 20.000 unit tiap minggu dapat dianjurkan. Pemberian vitamin E bersama dengan vitamin A dapat meningkatkan efektivitas vitamin A dan mencegah atau mengurangi kemungkinan terjadinya hipervitaminosis A. Vitamin A juga digunakan untuk pengobatan penyakit kulit tertentu seperti akne, psoriasis, dan iktiosis.

Posologi tersedia secara oral, suntikan dan topikal. Vitamin A kapsul mengandung 3-15 mg retinol (10.00050.000 IU) per kapsul. Pada defisiensi berat, dosis pemberian IM pada orang dewasa dan anak berusia lebih dari 8 tahun: 50.000-100.000 IU/hari selama 3 hari diikuti dengan 50.000 IU/hari untuk 2 minggu. Pada anak 1-8 tahun diberikan dosis 5.000-15.000 IU/hari untuk 10 hari dan bayi 5.000-10.000 IU/hari untuk 10 hari. Dosis oral pada orang dewasa dan anak lebih dari 8 tahun ialah 100.000 IU/hari selama 3 hari diikuti dengan 50.000 IU/hari selama 2 minggu, dilanjutkan dengan 10.000-20.000 IU/hari untuk 2 bulan.

Berguna untuk mencegah dan mengobati rakitis (dicegah ataupun diobati dengan minyak ikan atau dengan sinar matahari yang cukup). Farmakodinamik Pengatur homeostatik kalsium plasma. Meningkatkan absorpsi kalsium dan fosfat melalui usus halus. Pengaturan kadar kalsium plasma dipengaruhi juga oleh hormon paratiroid (HPT) dan kalsitonin.

Defisiensi
Terjadi penurunan kadar kalsium plasma, selanjutnya merangsang sekresi HPT yang berakibat meningkatnya reabsorpsi tulang. Pada bayi dan anak mengakibatkan gangguan pertumbuhan tulang (penyakit rakitis). Berkurangnya kalsifikasi menyebabkan deformitas tulang seperti kifosis, skoliosis, tulang tasbeh pada dada, kraniotabes pada anak usia dibawah 1 tahun dan genu varus atau genu valgus pada anak yang sudah dapat berjalan.

Hipervitaminosis D Gejalanya berupa hiperkalsemia, kalsifikasi ektopik pada jaringan lunak (ginjal, pembuluh darah, jantung dan paru), anoreksia, mual, diare, sakit kepala, hipertensi dan hiperkolesterolemia. Kebutuhan sehari 400 unit/hari.

Farmakokinetik Absorpsi melalui saluran cerna cukup baik. Vitamin D3 diabsorpsi lebih cepat dan sempurna. Gangguan fungsi hati, kandung empedu dan saluran cerna seperti steatore akan mengganggu absorpsi vitamin D. Disimpan dalam bentuk inert di dalam tubuh, untuk menjadi bentuk aktif harus dimetabolisme lebih dahulu melalui serangkaian proses hidroksilasi di ginjal dan hati. Ekskresi melalui empedu dan dalam jumlah kecil ditemukan dalam urine.

Sediaan dan indikasi Tersedia dalam beberapa macam bentuk sediaan Selain untuk pencegahan dan pengobatan rakitis, vitamin D antara lain digunakan untuk osteomalasia, hipoparatiroidisme dan tetani infantil, dan untuk keadaan lain dengan alasan penggunaan yang belum atau tidak diketahui misalnya pada psoriasis, artritis, dan hay fever.

Pada rakitis, dosis 1.000 unit/hari akan mengembalikan kadar kalsium dan fosfat plasma menjadi normal setelah 10 hari, sedangkan hasil pemeriksaan radiologik akan menunjukkan penyembuhan dalam waktu 3 minggu. Hipoparatiroidisme diperlukan 50.000-250.000 unit (dosis penunjang). Tambahan vitamin D diperlukan pada masa hamil, laktasi dan pada orang tua agar asupan vitamin D per hari 400 IU. Pada bayi prematur atau bayi yang mendapat ASI dalam jumlah yang tidak cukup diperlukan dosis pencegahan 400 IU/hari. Bayi yang kemungkinan besar mengalami rakitis (sindrom malabsorpsi, lahir dari ibu yang mengalami defisiensi vitamin D) memerlukan sampai 30.000 IU/hari.

Terdapat pada telur, susu, daging, buah-buahan, kacangkacangan dan sayur-sayuran, misalnya selada dan bayam. Farmakodinamik Sebagai antioksidan, mencegah oksidasi bagian sel yang penting atau mencegah terbentuknya hasil oksidasi yang toksik (hasil peroksidasi asam lemak tidak jenuh). Defisiensi biasanya lebih sering disebabkan oleh gangguan absorpsi, misalnya steatore, obstruksi biliaris dan penyakit pankreas. Bayi prematur dengan makanan yang kaya asam lemak tidak jenuh ganda dan kurang vitamin E akan mengalami lesi kulit, anemia hemolitik dan udem.

Kebutuhan sehari Asupan 10-30 mg cukup untuk mempertahankan kadar normal di dalam darah. Farmakokinetik Diabsorpsi baik melalui saluran cerna. Dalam darah terutama terikat dengan beta-lipoprotein dan didistribusi ke semua jaringan. Kebanyakan diekskresi secara lambat ke dalam empedu, sedangkan sisanya diekskresi melalui urine sebagai glukuronida dari asam tokoferonat atau metabolit lain.

Sediaan dan indikasi Terdapat dalam bentuk d atau campuran d dan I isomer dari tokoferol, -tokoferol asetat, -tokoferol suksinat. Sediaan oral (tablet dan kapsul) mengandung 30-1.000 IU. Suntikan (larutan) mengandung 100 atau 200 IU/ml. Indikasi pada keadaan defisiensi yang dapat terlihat dari kadar serum yang rendah dan atau peningkatan fragilitas eritrosit terhadap hidrogen peroksida (pada bayi prematur dengan berat badan yang rendah, pada penderita-penderita dengan sindrom malabsorpsi dan steatore, dan penyakit dengan gangguan absorpsi lemak).

Vitamin K alam: 1. vitamin K1 (filokuinon=fitonadion) Digunakan untuk pengobatan Terdapat pada kloroplas sayuran berwarna hijau dan buah-buahan. 2. vitamin K2 (senyawa menakuinon) Disintesis oleh bakteri usus terutama oleh bakteri gram-positif. Vitamin K sintesis. Vitamin K2

Farmakodinamik Berguna untuk meningkatkan biosintesis beberapa faktor pembekuan darah yaitu protrombin, faktor VII (prokonvertin), farktor IX (faktor Christmas) dan faktor X (faktor Stuart) yang berlangsung di hati. Kebutuhan manusia Sintesis vitamin K oleh bakteri usus sekitar 50% dari kebutuhan vitamin K per hari.

Defisiensi Menyebabkan hipoprotrombinemia dan menurunnya kadar beberapa faktor pembekuan darah Defisiensi vitamin K terjadi karena: 1. Gangguan absorbsi vitamin K 2. Berkurangnya bakteri yang mensintesis 3. Pemakaian antikoagulan Farmakokinetik Absorpsi melalui usus sangat tergantung dari kelarutannya. Absorpsi filokuinon dan menakuinon berlangsung baik bila ada garam-garam empedu, sedangkan menadion dan derivatnya yang larut air dapat diabsorpsi walaupun tidak ada empedu.

Sediaan dan indikasi Tablet fitonadion 5 mg. Emulsi fitonadion mengandung 2 atau 10 mg/ml(parenteral) Tablet menadion 2,5 dan 10 mg. Larutan menadion dalam minyak yang mengandung 2, 10, dan 25 mg/ml (IM) Tablet menadion natrium bisulfit 5 mg. Larutan menadion natrium bisulfit mengandung 5 dan 10 mg/ml (parenteral) Tablet menadiol natrium difosfat 5 mg. Larutan menadiol natrium difosfat yang mengandung 5 dan 10 mg/ml (parenteral)

Berguna untuk mencegah atau mengatasi perdarahan akibat defisiensi vitamin K. Pada bayi baru lahir hiprotrombinemia terjadi karena belum adanya bakteri yang mensintesis vitamin K dan tidak adanya depot vitamin K. Filokuinon merupakan obat terpilih untuk tindakan pencegahan tersebut dan diberikan sejumlah 0,5-1 mg IM atau IV segera setelah bayi dilahirkan. Dilakukan juga pada bayi prematur atau bayi aterm yang dilahirkan dengan bantuan forseps atau ekstraksi vakum, dan diberikan dengan dosis 2,5 mg untuk 3 hari berturut-turut. Untuk pengobatan perdarahan pada bayi dapat diberikan 1 mg IM atau IV dan bila perlu dapat diulangi setelah 8 jam.

Mineral
Besi (Fe) I Komponen pembentukan hemoglobin & kofaktor yang penting yang berperan dalam perpindahan elektron. Kebutuhan besi akan meningkat pada wanita hamil & menyusui serta pada anak dan remaja. Kalsium Kebutuhan kalsium meningkat pada masa pertumbuhan, selama laktasi dan pada wanita pascamenopause. Bayi yang mendapat susu buatan memerlukan tambahan kalsium.

Pemeliharaan konsentrasi kalsium yang normal dalam darah tergantung kepada: - Asupan lewat mulut sedikitnya 500-1.000 mgr/hari - Penyerapan dalam jumlah yang memadai dari saluran pencernaan - Pengeluaran kelebihan kalsium dalam air kemih. Konsentrasi kalsium dalam darah diatur oleh 2 hormon: Hormon paratiroid merangsang saluran pencernaan untuk menyerap dan menyebabkan ginjal mengaktifkan vitamin D. merangsang tulang untuk melepaskan kalsium ke dalam darah dan menyebabkan ginjal membuang lebih sedikit kalsium ke dalam urin. Kalsitonin merangsang perpindahan kalsium ke dalam tulang.

Gejala keracunan vitamin D (hiperkalsemia): Awal : lemas, sakit kepala, mengantuk, mual, muntah, mulut kering, konstipasi, nyeri otot, sakit tulang dan metalic taste Lanjut : poliuria, polidipsi, anorexia, penurunan berat badan, nokturia, konjuntivitis (klasifikasi), pankreatitis, fotofobia, rinore, pruritus, hipertermia, libido berkurang, kenaikan BUN, albuminuria, hiperkolesterolemia, kenaikan SGOT dan SGPT, kalsifikasi ektopik, nefrokalsinosis, hipertensi, aritmia jantung.

Kadar Kalsium dlm darah: Normal : 9,4 mg/dl 6 mg/dl >>>>>> kejang 4 mg/dl >>>>>> kematian 12 mg/dl >>>>> refleks pada sistem saraf menjadi lamban, memendekkan interval denyut jantung, konstipasi dan menurunkan nafsu makan. 15 mg/dl >>>>> Efek penekanan lebih nyata 17 mg/dl >>>>> kristal kalsium fosfat cenderung mengendap di seluruh tubuh.

Magnesium mengaktivasi banyak sistem enzim dan kofaktor pada fosforilasi oksidatif, pengaturan suhu tubuh, kontraktilitas otot dan kepekaan saraf. Dosis 280 350 mg perhari (dewasa) & 40 60 mg per hari (bayi) Hipomagnesemia meningkatkan kepekaan saraf dan transmisi neuromuskuler. defisiensi berat mengakibatkan tetani dan konvulsi. Sebagian magnesium dibuang dalam air kemih, sebagian lainnya dibuang dalam tinja. Iodium menghambat organifikasi dan rilis hormon serta menurunkan ukuran dan vaskularisasi kelenjar yang hiperplastik. Pada individu yang rentan, iodium dapat menginduksi terjadinya hipertiroidisme (jodbasedow) atau memicu hipertiroidism. Dosis 6 mg per hari. Bisa digubakan untuk praoperatif sebelum dilakukan pembedahan.

Zinc penstabil RNA, DNA dan ribosom serta untuk terbentuknya ikatan antara hormon dengan reseptor serta pada polimerisasi tubulin. Berperan pada bau dan rasa serta penting pada penglihatan malam hari. 5 mg (bayi), 10 mg (anak-anak) dan 10 15 mg (dewasa). etanol akan menyebabkan Zinc dibuang kedalam urin. Pada beberapa pasien DM suplement Zinc bisa memperbaiki toleransi glukosa. Kekurangan Zinc berpengaruh terhadap pertumbuhan serta kegagalan pada kematangan seksual, kelainan pada janin, menurunnya aktivitas sistem imun, corneal opacities, kehilangan atau kerusakan dari indera pembau dan perasa serta terjadi kerusakan pada toleransi glukosa. Defisiensi Zinc yang berat dapat menyebabkan akrodermatitis enteropatik, dengan luka pada kulit dan mukosa saluran cerna. Kekurangan vitamin A dapat menyebabkan kebutaan pada malam hari yang dapat disembuhkan dengan pemberian suplemen Zinc.

Natrium membantu mempertahankan volume dan keseimbangan cairan tubuh. Konsumsi natrium sehari disarankan dibawah 100mmol karena bila 300 400 mmol dapat menyebabkan hipertensi. Pada orang yang sensitif dibatasi konsumsi garam sekitar 40 mmol atau kurang. Hiponatremia menyebabkan volume darah menurun. Jika volume darah menurun, tekanan darah akan turun, denyut jantung akan meningkat, pusing dan kadang-kadang terjadi syok. Sebaliknya, volume darah meningkat jika hipernatremia. Cairan yang berlebihan akan terkumpul dalam ruang di sekeliling sel dan menyebabkan edema. jika volume darah menurun Kelenjar adrenal mengeluarkan hormon aldosteron sehingga ginjal menahan natrium. Kelenjar hipofisa mengeluarkan hormon antidiuretik sehingga ginjal menahan air. Fosfor Fosfor terdapat pada semua jaringan tubuh, dan di dalam tulang dan gigi didapatkan dalam jumlah yang hampir sama dengan kalsium. Fosfor sangat penting sebagai buffer cairan tubuh. Perbandingan kandungan kalsium dan fosfor dalam makanan dianjurkan 1 : 1. Fosfat dibuang dalam air kemih dan tinja.

Kalium Perbedaan kadar kalium dan natrium mengatur kepekaan sel, konduksi impuls saraf dan keseimbangan dan volume cairan tubuh. Kalium memiliki peranan penting dalam metabolisme sel serta dalam fungsi sel saraf dan otot. Dosis harian disarankan 1mmol perKgBB. Penyebab hipokalemia yang paling sering adalah terapi diuretik, terutama tiazid. Penyebab lain adalah diare yang berkepanjangan, hiperaldosteronisme, terapi cairan parenteral yang tidak tepat atau tidak mencukupi, penggunaan kortikosteroid atau laksan jangka lama. Adapun gejala hipokalemia: lemah otot, aritmia, ileus paralitik. Hiperkalemia disebabkan gangguan ekskresi kalium oleh ginjal yang dapat terjadi pada pasien dengan insufisiensi korteks adrenal, gagal ginjal akut, gagal ginjal kronik terminal, suplementasi vitamin K yang tidak sesuai dosis atau indikasinya , atau penggunaan antagonis aldosteron. Tidak ada gejala yang jelas, tetapi akan mengeluh palpitasi jantung atau jantung berdebar-debar. Dalam keadaan normal, ginjal menyesuaikan pembuangan kalium agar seimbang dengan asupan kalium melalui makanan. Beberapa obat dan keadaan tertentu menyebabkan kalium berpindah ke dalam atau keluar sel;

TERAPI CAIRAN
Kandungan air pada bayi lahir sekitar 75 % berat badan, usia 1 bulan 65 %, dewasa pria 60 %, dan wanita 50 %. Terapi cairan parenteral dibutuhkan pada pasien koma, anoreksia berat, perdarahan banyak, syok hipovolemik, mual muntah yang hebat, atau pada pasien harus puasa lama karena pembedahan. Terapi cairan digunakan sebagai tambahan untuk memasukkan obat dan zat makanan secara rutin atau untuk menjaga keseimbangan asam-basa. Tujuan dari pada pemberian cairan adalah : 1. Memperbaiki dinamika sirkulasi ( bila ada syok ). 2. Mengganti defisit yang terjadi. 3. Rumatan ( maintenance ) untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit yang sedang berlangsung ( ongoing losses ).

Jenis Cairan Infus


Cairan hipotonik: Berguna menurunkan osmolaritas serum. Digunakan pada dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik, juga pada pasien hiperglikemia dengan ketoasidosis diabetik. Komplikasi: perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak). Contohnya NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%. Cairan Isotonik: Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi. risiko terjadinya overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya cairan Ringer-Laktat (RL), dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%). Cairan hipertonik: menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan mengurangi edema (bengkak). Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah, dan albumin.

Penilaian Derajat Dehidrasi


Tanpa Dehidrasi: Diare berlangsung, produksi urin normal, makan/minum & menyusui diteruskan. Dehidrasi Ringan (< 5% kehilangan cairan) Kotoran cair (watery diarrhea), produksi urin berkurang, senantiasa merasa haus, permukaan lapisan lendir (bibir, lidah) agak kering Dehidrasi Sedang (5-10%) Turgor (kekenyalan) kulit berkurang, mata cekung, permukaan lapisan lendir sangat kering, ubun-ubun depan mencekung Dehidrasi Berat (>10%) Tanda-tanda dehidrasi sedang ditambah: denyut nadi cepat dan isinya kurang (hipotensi/tekanan darah menurun), ekstremitas (lengan dan tungkai) teraba dingin, oligo-anuria, sampai koma

Pengawasan (Monitoring)
Semua anak yang mendapatkan cairan infus sebaiknya diukur berat badannya, 6 8 jam setelah pemberian cairan, dan kemudian sekali sehari. Semua anak yang mendapatkan cairan infus sebaiknya diukur kadar elektrolit dan glukosa serum sebelum pemasangan infus, dan 24 jam setelahnya. Bagi anak yang tampak sakit, periksa kadar elektrolit dan glukosa 4 6 jam setelah pemasangan, dan sekali sehari sesudahnya.

Penghitungan cairan infus


Mikrodrips (tetes mikro) : 60 tetes/ml (infuset mikro) Makrodrips (tetes makro) : 10 tetes/ml, 15 tetes/ml, 20 tetes/ml (infuset regular/makro)