Anda di halaman 1dari 14

Dwitya Aribawa 61A MM UGM I. LATAR BELAKANG A.

A. Bambang Rachmadi dan McDonalds Indonesia Perkembangan bisnis di Indonesia saat pertumbuhan ekonomi ini sangat pesat seiring dengan

di segala bidang terutama bidang perdagangan yang mulai

menawarkan produk investasi seperti franchise (Waralaba), lisensi, dan lain-lain. Diantara sekian banyak produk investasi yang ditawarkan, franchise merupakan salah satu alternatif investasi yang dipilih karena proses pengoperasiannya yang mudah, dan sistem manajerial yang sudah jelas serta sesuai dengan standar operasi yang telah dilaksanakan di perusahaan secara umum. Bambang Rachmadi pertama kali mendirikan restoran cepat saji McDonalds di Sarinah, Jakarta pada tahun 1991 dengan perjanjian waralaba langsung dengan McDonalds, dimana Bambang saat itu merupakan pemegang Master Franchise McDonalds untuk Indonesia. Dalam perkembangannya, bisnis makanan cepat saji ini sangat sukses dikelola oleh Bambang. Bahkan, salah satu gerai McDonalds di Indonesia memiliki pendapatan kotor (Gross Profit) bulanan tertinggi diantara gerai McDonalds seluruh dunia. Fakta ini menarik perhatian Fortune Magazine pada saat itu. McDonald Kabar mengenai kesuksesan McDonalds di Indonesia membuat McDonalds International begitu antusias dan melihat peluang bisnis yang menjanjikan di Indonesia. Pada tahun 1994 McDonalds international meminta Bambang untuk sama-sama mengembangkan McDonalds Indonesia dengan membentuk Joint Venture (JV). Sebuah joint venture dengan kepemilikan saham 50% milik Bambang dan 50% milik McDonalds International didirikan pada tahun 1994, dimana12 restoran yang semula merupakan franchise milik Bambang di-transfer ke bisnis bersama ini. Joint Venture ini kemudian menghasilkan banyak gerai restoran McDonalds yang tersebar ke seluruh Indonesia, sementara Bambang selain tetap memiliki 100% dari 13 Restoran McDonalds, ia juga menjadi CEO Joint Venture. Dalam perkembangannya McDonalds International terus ingin mengembangkan bisnis dengan menyuntikan modal (Capital call/Investment Commitment) yang cukup besar untuk investasi di Indonesia. Hal ini menyebabkan merosotnya (Share Dilution) jumlah presentase kepemilikan Bambang pada Joint Venture ini, dimana jumlah kepemilikan yang semula 50% hanya terus tergerus karena penambahan ekuitas (modal) besar-besaran oleh McDonalds International. Meskipun kekuasaan Bambang saat itu

Business Law Final Test: Dispute Case Bambang Rachmadi vs McDonalds

Dwitya Aribawa 61A MM UGM terhadap perusahaan JV berkurang drastis tetapi ia tetap dipercaya menduduki jabatan tertinggi (Presiden Direktur) pada perusahaan Joint Venture tersebut. Krisis keuangan melanda Asia (1997 1999) dan beberapa restoran McDonalds Indonesia mulai kehilangan keuntungan yang signifikan. Bambang pada beberapa kesempatan menyarankan kepada McDonalds bahwa mereka harus menutup beberapa restoran mereka untuk menghindari beberapa restoran yang memperoleh kerugian menggerogoti keuntungkan gerai yang lain secara terus menerus, namun pihak McDonalds International terkesan tidak menggubris saran Bambang tersebut. McDonald International pusat kemudian memberikan pinjaman kepada Joint Venture pengelola McDonalds di Indonesia dengan tariff bunga yang sangat tinggi untuk kelancaran bisnis di Indonesia. Hal ini terus berlangsung saat krisis. Bambang masih memiliki 13 restoran McDonalds dan JV memiliki 97 restoran. Restoran Bambang secara operasional relative tetap menguntungkan, tetapi di lain pihak JV memiliki sekitar US $ 130 juta kerugian. Selama berlangsungnya kerjasama joint venture McDonald telah mengumpulkan royalti atas pendapatan kotor dari 13 restoran milik Bambang dan 97 restoran yang dikelola JV, ditambah bunga pinjaman yang mereka berikan kepada JV. Dari hutang dan jumlah gerai yang dimiliki pada Joint Venture, McDonalds International memiliki 90% dari total saham JV sedangkan sisa 10% dimiliki oleh Bambang berdasarkan modal yang disetor dari 13 restoran McDonalds. Masalah muncul ketika McDonalds memutuskan untuk menjual seluruh aset JV ke perusahaan lain (Rekso Nasional Food Sosro Group) tanpa persetujuan Bambang. Selain itu McDonald melakukan klaim bahwa Bambang melanggar perjanjian waralaba pada 13 restorannya sendiri, sehingga McDonalds International melakukan penghentian kerjasama dengan Bambang dan ia diharapkan segera menutup semua gerai yang dikelolanya. Bambang dengan segera setelah pemutusan kerjasama tersebut melakukan perubahan besar-besaran pada 13 gerai restoran McDonalds miliknya menjadi merek baru fast food di Indonesia yaitu Toni Jacks.

Business Law Final Test: Dispute Case Bambang Rachmadi vs McDonalds

Dwitya Aribawa 61A MM UGM B. Kronologi Kasus Perselisihan Bambang Rachmadi vs McDonalds 23 February 1991 Setelah lobi 1,5 tahun, Bambang Rachmadi berhasil memperoleh hak waralaba utama (master franchise) resto cepat saji McDonalds dari McDonalds International Property Company (MIPCo) yang merupakan wakil McDonalds Corp Negeri Paman Sam. Alhasil, resto McD Indonesia pertama dibuka di Plaza Sarinah, Jakarta Pusat, yang dikelola oleh Bambang sendiri melalui PT Ramaco Gerbang Mas dengan hak lisensi selama 20 tahun. 1994 PT Bina Nusa Rama (BNR) didirikan untuk mengelola lebih banyak resto McDonalds di Indonesia. McDs Corp yang diwakili International Development Services (IDS) dan Bambang diwakili oleh PT Rezeki Murni. Tahun 1999, IDS menguasai 90% saham BNR, dan PT RM hanya menguasai 10% saham BNR. 2007 Rekso Group (Sosro) melobi McDonalds Corp untuk mendapatkan hak franchise di Indonesia, bersaing dengan 10 company lainnya. 12 Mei 2008 Bambang mundur dari jabatan sebagai Presiden Direktur PT BNR, dan bermaksud menjual McD ke Recapital. 13 Oktober 2008 RUPS BNR menjual seluruh aset perusahaan termasuk 97 gerai resto cepat saji ini kepada PT Rekso Nasional Food (RNF), anak perusahaan dari Rekso Groupsenilai US$ 20 juta. Bambang merasa tidak dimintai persetujuan. 10 Maret 2009 Bambang R. mengajukan gugatan perdata terhadap McDonalds Amerika di PN Jakarta Selatan dengan ganti rugi materiil US$ 5,5 juta dan immateriil sebesar US $100juta. 03 Juni 2009 PT BNR menandatangani kesepakatan penjualan dengan PT RNF dan dengan resmi Rekso Group memiliki master franchise McD dari Mcdonald's International Property Company ltd (MIPCo). Rekso berniat membuka 75 gerai McD dalam kurun 5 tahun. 01 Oktober 2009 13 gerai McDonalds di ganti menjadi Toni Jacks, resto cepat saji bernuansa bajak laut, dengan moto Better than that One, yang seakan menyindir McD milik Sosro.

Business Law Final Test: Dispute Case Bambang Rachmadi vs McDonalds

Dwitya Aribawa 61A MM UGM II. RUMUSAN MASALAH Masalah muncul ketika McDonalds memutuskan untuk menjual seluruh aset JV ke perusahaan lain (Rekso Nasional Food Sosro Group) tanpa persetujuan Bambang. Selain itu McDonald melakukan klaim bahwa Bambang melanggar perjanjian waralaba pada 13 restorannya sendiri, sehingga McDonalds International melakukan penghentian kerjasama dengan Bambang dan ia diharapkan segera menutup semua gerai yang dikelolanya. Bambang dengan segera setelah pemutusan kerjasama tersebut melakukan perubahan besar-besaran pada 13 gerai restoran McDonalds miliknya menjadi merek baru fast food di Indonesia yaitu Toni Jacks. Rumusan masalah pada perselisihan antara Bambang Rachmadi dan McDonalds ini adalah: a. Bagaimana proses pengalihan asset dari PT BNR sebagai perusahaan Joint Venture pengelola McDonalds Indonesia kepada PT Rekso Nasional Food? (Sesuai perundang-undangan yurisdiksi Indonesia). b. Bagaimana upaya hukum yang terjadi terkait perselisihan antara Bambang Rachmadi dan McDonalds ? Dari sudut pandang hukum bisnis apakah terdapat salah satu atau kedua belah pihak yang melakukan wanprestasi? c. Bagaimanakah tertib hukum franchise yang seharusnya dijalankan untuk memperoleh bisnis franchise yang sustainable di masa akan datang?

Business Law Final Test: Dispute Case Bambang Rachmadi vs McDonalds

Dwitya Aribawa 61A MM UGM III. LANDASAN HUKUM/TEORI

Karakteristik Yuridis Franchise Menurut Munir Fuady, bahwa franchise mempunyai karakteristik yuridis sebagai berikut : 1. Unsur Dasar Ada 3 (tiga) unsur dasar yang harus selalu dipunyai, yaitu : a. Pihak yang mempunyai bisnis franchise disebut sebagai franchisor. b. Pihak yang mejalankan bisnis franchise yang disebut sebagai franchisee. c. Adanya bisnis franchise itu sendiri. 2. Produk Bisnisnya Unik 3. Konsep Bisnis Total Penekanan pada bidang pemasaran dengan konsep P4 yakni Product, Price, Place serta Promotion 4. Franchise Memakai / Menjual Produk 5. Franchisor Menerima Fee dan Royalty 6. Adanya pelatihan manajemen dan skill khusus 7. Pendaftaran Merek Dagang, Paten atau Hak Cipta 8. Bantuan Pendanaan dari Pihak Franchisor 9. Pembelian Produk Langsung dari Franchisor 10. Bantuan Promosi dan Periklanan dari Franchisor 11. Pelayanan pemilihan Lokasi oleh Franchisor 12. Daerah Pemasaran yang Ekslusif 13. Pengendalian / Penyeragaman Mutu 14. Mengandung Unsur Merek dan Sistem Bisnis

Dasar Hukum Franchise A) Kontrak Khusus (Kontrak Franchise) Dalam franchise, dasar hukum dari penyelenggaraannya adalah kontrak antara kedua belah pihak. Kontrak franchise biasanya menyatakan bahwa franchise adalah kontraktor independent dan bukannya agen atau pegawai franchisor. Namun demikian perusahaan induk dapat membatalkan franchise tersebut, bila franchisee melanggar persyaratan - persyaratan dalam persetujuan itu. Sebagaimana halnya lisensi adalah suatu bentuk perjanjian yang isinya

Business Law Final Test: Dispute Case Bambang Rachmadi vs McDonalds

Dwitya Aribawa 61A MM UGM memberikan hak dan kewenangan khusus kepada pihak penerima waralaba. Unsur yang terdapat dalam waralaba tersebut adalah : 1. Merupakan suatu perjanjian. 2. Penjualan produk / jasa dengan merek 3. Dagang pemilik waralaba (franchisor). 4. Pemilik waralaba membantu pemakai waralaba (franchisee) di bidang pemasaran, manajemen dan bantuan tehnik lainnya. 5. Pemakai waralaba membayar fee atau royalty atas penggunaan merek pemilik waralaba. B) Perjanjian sebagai dasar hukum Undang-undang menentukan bahwa perjanjian yang sah berkekuatan sebagai undangundang. Dalam hukum berlaku asas yang disebut Kebebasan Berkontrak. Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Pada pasal 1338 KUH Perdata menyatakan bahwa Perjanjian yang dibuat secara sah mempunyai kekuatan berlaku seperti undang-undang bagi pihak yang terkait. Perjanjian itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan untuk itu. Persetujuan dalam perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik. Karena itu pula suatu perjanjian franchise yang dibuat oleh para pihak yaitu franchisor dan franchisee berlaku sebagai undang-undang pula bagi mereka. Undangundang (KUH Perdata) tidak menempatkan perjanjian franchise sebagai suatu perjanjian bernama secara langsung, seperti jual beli, sewa-menyewa dan sebagainya. Sehingga pada umumnya ketentuan hukum perjanjian yang berlaku dalam suatu kontrak franchise terdapat dalam pasal 1233 sampai dengan pasal 1456 KUH Perdata (misalnya mengenai ketentuan tentang syarat sahnya perjanjian, penafsiran perjanjian dan hapusnya perjanjian). Dalam perjanjian waralaba tidak hanya dilihat dari penandatanganan kontrak semata, tetapi juga harus dilihat perbuatan sebelumnya atau yang mendahuluinya. Adanya tiga tahap dalam perjanjian, yaitu : 1. Tahap pracontractual, yaitu adanya penawaran dan penerimaan 2. Tahap contractual, yaitu adanya persesuaian pernyataan kehendak antara para pihak. 3. Tahap post contractual, yaitu pelaksanaan perjanjian dan setelah perjanjian. Didalam fase prakontrak terjadi kesepakatan tentang hal-hal yang pokok, di dalam perjanjian telah disepakati sejumlah prinsip. Apabila perjanjian pendahuluan ini tidak dilanjutkan, maka di antara kedua belah pihak tidak dipertimbangkan masalah ganti rugi. Apabila di dalam fase prakontrak tercapai kesepakatan secara terperinci mengenai hak dan kewajiban antar kedua

Business Law Final Test: Dispute Case Bambang Rachmadi vs McDonalds

Dwitya Aribawa 61A MM UGM belah pihak. Sifat perjanjian tersebut dinamakan pactum de contrahendo yaitu perjanjian untuk mengadakan perjanjian, maka masalah ganti rugi dapat dipermasalahkan sebagai perjanjian tidak tercapai. Selain KUH Perdata, pasal-pasal KUH Dagang (tentang makelar dan komisioner), ketentuan dari departemen perindustrian dan perdagangan dapat pula dijadikan sebagai pijakan hukum sebuah franchise. Undang-undang merek, paten dan hak cipta juga mempunyai kekuatan hukum tersendiri untuk melindungi pihak-pihak yang terkait dalam franchise. Undang-Undang No.40 Tahun 2007 Dalam kasus ini terjadi penjualan asset, dimana keabsahan penjualan asset ini terkait dengan undang-undang Perseroan Terbatas yang berhubungan dengan hak-hak pemegang saham dalam RUPS. Terdapat beberapa pasal yang mengatur tentang penjualan asset oleh perseroan terbatas, yakni: pasal 102 ayat 1 UU PT no.40 tahun 2007 yang mengatur mengenai sahnya direksi mengalihkan kekayaan perseroan yang merupakan lebih dari 50% jumlah kekayaan perseroan setelah mendapat persetujuan perseroan dan pasal 89 UU PT no.40 tahun 2007 yang mengatur tentang sahnya RUPSLB pada sebuah PT.

Arbitrase sebagai penyelesaian masalah Berdasarkan pasal 3 dan pasal 11 UU no.30 tahun 1999 tentang arbitrase dan alternatif penyelesaian masalah yang telah disepakati kedua belah pihak yang tidak menumkan titik kesepakatan, maka penyelesaian masalah harus menggunakan arbitrase.

Business Law Final Test: Dispute Case Bambang Rachmadi vs McDonalds

Dwitya Aribawa 61A MM UGM IV. PEMBAHASAN

a. Proses pengalihan asset dari PT BNR sebagai perusahaan Joint Venture pengelola McDonalds Indonesia kepada PT Rekso Nasional Food Penjualan aset ini dilakukan karena direksi dan kreditur anak perusahaan McDonald's, International Development Services Inc selaku pemegang saham 90 persen merasa PT BNR (Jount Venture McDonalds Indonesia) sudah tidak sanggup lagi melunasi hutang-hutangnya yang bernilai sekitar AS$150 juta. Sehingga, sesuai dengan ketentuan Pasal 102 ayat (1) UU No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT) dan Pasal 15 ayat (5) Anggaran Dasar BNR, diselenggarakanlah RUPSLB. Yang mana menghasilkan keputusan menjual seluruh aset atau harta kekayaan BNR.

Namun, keputusan RUPSLB tertanggal 13 Oktober 2008 ini tidak disepakati PT. RM. Perusahaan yang memiliki 10 persen saham di BNR ini merasa pihaknya telah dirugikan. Dikutip dari seorang kuasa hukum PT. RM yang menyatakan bahwa sangat tidak adil seorang pemegang saham pendiri (Bambang-red), kehilangan hasil karyanya selama 18 tahun. Hanya karena dia cuma punya 10 persen, terus orang yang punya 90 persen bilang saya mau jual, apa iya begitu?

Sementara, pihak BNR berdalih bahwa penjualan aset yang dilakukannya semata-mata demi kepentingan perseroan. Tentu ini dilakukan untuk kepentingan perseroan. Bagaimana pihak Bambang yang memiliki saham 10 persen bisa merasa lebih rugi dari pihak yang mempunyai saham lebih banyak? Modalnya kan minimum, artinya kalau bicara kerugian perseroan, mana yang lebih rugi, pemohon atau pemegang saham 90 persen? papar kuasa hukum BNR, Ricardo Simanjuntak.

Keputusan dalam RUPSLB ini didapat secara quorum. Sebagaimana ketentuan Pasal 120 ayat (1) UU PT dan Pasal 15 ayat (5) Anggaran Dasar BNR, RUPSLB dihadiri oleh pemegang saham dan keputusan disetujui oleh peserta rapat.

Tapi, keabsahan penyelenggaraan RUPSLB ini diragukan kuasa hukum PT RM. Pengacara dari SS and R Legal Consultant ini mempertanyakan apa benar keputusan penjualan aset ini dilakukan untuk kepentingan perseroan? Dan bukan untuk kepentingan McDonald's beserta afiliasi-afiliasinya. Masalahnya, apabila kita

Business Law Final Test: Dispute Case Bambang Rachmadi vs McDonalds

Dwitya Aribawa 61A MM UGM bandingkan dengan perusahaan lain, Bakrie and Brothers saja mati-matian mempertahankan Bumi Resources. Ini direksi yang benar. Masa ini, disuruh jual, terus ya jual aja deh. Sekalipun Bambang Rachmadi menyetujui penjualan aset itu, tapi tidak dengan tujuan untuk kepentingan perseroan, maka keputusan itu tidak dapat dilakukan.

Kemudian, hal lain yang patut dipertanyakan adalah tidak diundangnya PT RM dalam RUPSLB. Bahwa sesuai ketentuan Pasal 82 ayat (1) UU PT dan Pasal 10 ayat (2) Anggaran Dasar BNR, pemanggilan untuk RUPS harus dikirimkan kepada seluruh pemegang saham, selambat-lambatnya 14 hari sebelum RUPS diadakan. Namun, tudingan ini dibantah pihak BNR. Ricardo mengatakan para pemegang saham telah dikirimi undangan melalui pos, termasuk PT RM. Faktanya, Bambang selaku Direktur PT RM hadir dalam RUPSLB, walau tidak sampai selesai.

Lisensi McDonald's Indonesia akhirnya dialihkan ke Grup Sosro pada pertengahan tahun 2009. Penjualan aset McDonald's Indonesia milik PT Bina Nusa Rama sudah dirampungkan.Hal itu terungkap dari pernyataan Dewan Komisaris PT Bina Nusa Rama dan PT Rekso Nasional Food pada 3/6/2009.

Selain itu, PT Rekso Nasional Food telah menandatangani Master Franchise Agreement dengan McDonalds International Property Company (MIPCO) yang memberikan izin untuk mengoperasikan semua restoran yang sebelumnya dioperasikan oleh PT Bina Nusa Rama dan membuka restoran baru di seluruh Indonesia.

PT Rekso Nasional Food yang merupakan anak usaha Grup Sosro yang sangat antusias dan memiliki komitmen kuat untuk mengembangkan brand McDonald's di Indonesia dan yakin bahwa seiring dengan usahanya mengembangkan brand McDonald's di masa depan akan ikut menumbuhkembangkan peluang bisnis bagi para pemasok serta pihakpihak lain yang terkait.

Selain itu, PT Rekso Nasional Food juga yakin bahwa akan tercipta lebih banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat luas. Restoran makanan cepat saji ini juga

Business Law Final Test: Dispute Case Bambang Rachmadi vs McDonalds

Dwitya Aribawa 61A MM UGM percaya bahwa pengembangan serta pertumbuhan McDonald's di masa mendatang akan memberi kontribusi serta peran positif bagi perekonomian Indonesia.

Transaksi ini tidak mempengaruhi kepemilikan Bambang Rachmadi, sebagai pemilik saham PT Bina Nusa Rama atau terhadap 13 restoran McDonalds yang dioperasikan Bambang sebagai pemegang hak waralaba McDonalds.

Kuasa hukum PT Bina Nusa Rama menganggap tidak ada hukum yang dilanggar karena sudah disetujui RUPS Luar Biasa.

b. Upaya hukum yang terjadi terkait perselisihan antara Bambang Rachmadi dan McDonalds serta wanprestasi yang terjadi pada kasus ini. Bambang Rachmadi menilai pengaturan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dalam Pasal 102 UU Perseroan Terbatas merugikan pemegang saham minoritas. Ia berharap Mahkamah Konstitusi tidak cuma meluluskan permohonannya untuk menguji materi Undang-undang Perseroan Terbatas, tapi juga membatalkan perjanjian penjualan aset usaha miliknya. "Saya ingin (McDonald's) dikembalikan seperti semula," katanya seusai sidang Senin (15/2/2010) siang tadi dengan agenda pemeriksaan perbaikan permohonan.

Bersama McDonald's Corp, Bambang mendirikan PT Bina Nusa Rama pada 1994. Saat itu saham mereka berimbang, masing-masing 50 persen. Sejak krisis ekonomi 1998 Bambang hanya memegang 10 persen saham setelah melepas sebagian besar sahamnya kepada McDonald's.

Dalam rapat umum pemegang saham luar biasa yang tak transparan pada Oktober 2008, PT. Bina Nusa Rama memutuskan menjual seluruh asetnya mulai dari 97 restoran hingga alat tulis kantor kepada PT Rekso Nasional Food alias Grup Sosro. Bambang lantas mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sekaligus uji materi ke Mahkamah Konstitusi karena haknya sebagai pemegang saham minoritas tidak terlindungi. Uji materiil yang diajukan terkait konstitusionalitas Pasal 102 ayat (1), Pasal 102 ayat (2), Pasal 102 ayat (3), Pasal 102 ayat (4), dan Pasal 102 ayat (5) UU PT yang mengakibatkan hak konstitusionalnya

10

Business Law Final Test: Dispute Case Bambang Rachmadi vs McDonalds

Dwitya Aribawa 61A MM UGM selaku pemegang saham mayoritas yang dilindungi ketentuan Pasal 28A, Pasal 28G ayat (1), Pasal 28H ayat (4) UUD 1945 telah dilanggar oleh ketentuan UU a quo.

Kuasa hukum Bambang, Rachman Bakary, yakin Mahkamah berwenang membatalkan jual beli yang tak melibatkan kliennya itu. "Ada miskonsepsi judicial review (uji yudisial) di Indonesia, seolah MK hanya bisa mengadili Undang-undang tapi tidak bisa mengadili perkara," ucapnya.

Jika keinginan itu terkabul artinya McDonald's harus meminta persetujuan Bambang dulu sebelum menjual aset ke Sosro. Atau, perusahaan makanan cepat saji asal Amerika Serikat itu wajib membeli saham Bina Nusa Rama milik Bambang terlebih dahulu. "Walaupun sebenarnya saya sanggup membuat McD untung lagi" ujar Bambang.

Tanggapan MK terhadap pengajuan Judicial Review Hakim Konstitusi Achmad Sodiki meminta agar pemohon memperjelas permohonan tersebut. Jangan asal comot, tolong uraikan masing-masing ayat itu, tambahnya. Ia juga mengingatkan bahwa pengalihan aset telah terjadi. Biarpun seandainya pasal ini dibatalkan, maka tidak otomatis pengalihan aset itu akan batal. Penarikan kembali Judicial Review Sayangnya pada 28 Desember 2010 pihak Bambang menarik kembali judicial review yang diajukan dengan alasan tidak bertentangan dengan Undang-Undang. Wanprestasi yang terjadi Pihak McDonald Corporation melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan mengenai pelindungan terhadap pemegang hak pewaralaba (Master Franchise). Dalam hal ini Bambang Rachmadi yang semula menjadi Master Franchise di Indonesia selama 20 tahun terhitung 1991 hingga 2011 kemudian dialihkan kepada PT Rekso National Food (Sosro Group) pada tahun 2009. Berdasarkan definisi, Master Franchise merupakan hak seorang pemegang untuk melakukan kegiatan operasional di wilayah territory tertentu, jumlah master franchise McDonalds di satu Negara di luar Amerika Serikat adalah perorangan atau satu perusahaan di tiap negara. Hal ini memunculkan dampak panjang, dari berubahnya sejumlah gerai McDonalds yang dikelola Bambang menjadi Toni Jacks hingga perselisihan antara Bambang dan McDonalds Corporation ke meja hijau.

11

Business Law Final Test: Dispute Case Bambang Rachmadi vs McDonalds

Dwitya Aribawa 61A MM UGM

c. Bagaimanakah tertib hukum franchise yang seharusnya dijalankan untuk memperoleh bisnis franchise yang sustainable di masa akan datang? Agar terciptanya letertiban secara hukum bagi pelaksana suatu franchise, diperlukan tindakan-tindakan ketertiban sebagai berikut: 1. Suatu franchise harus didaftarkan secara sah dan jelas di mata hukum. 2. Suatu franchise haruslah memegang teguh pada prinsip keterbukaan informasi. 3. Diperlukan suatu asosiasi franchise yang tangguh. 4. Perlu dibentuknya suatu kode etik terhadap franchise. 5. Perlu guidelines oleh pemerintah terhadap klausula-klausila yang baku terhadap kontrak franchise.

12

Business Law Final Test: Dispute Case Bambang Rachmadi vs McDonalds

Dwitya Aribawa 61A MM UGM KESIMPULAN PT BNR sebagai perusahaan Joint Venture antara Bambang dan McDonalds yang mengoperasikan seluruh gerai franchise McDonalds di Indonesia selayaknya melakukan tindakan terbaik untuk seluruh stakeholder yang ada di dalam perusahaan. Pemegang saham minoritas dalam hal ini Bambang Rachmadi telah terlebih dahulu di-kebiri haknya oleh pihak McDonalds saat PT BNR memutuskan melakukan pinjaman dengan bunga tinggi pada pihak McDonalds pusat daripada mengikuti saran Bambang untuk menutup beberapa gerai yang merugi, sehingga kepemilikan saham Bambang pada PT BNR hanya tersisa 10% dari semula 50%. Dalam logika bisnis pihak McDonalds yang memperoleh keuntungan materiil dari operasional PT BNR di Indonesia selayaknya memberikan suntikan modal seperti pada awal pembentukan PT BNR. Dengan pemberian hutang, bahkan dengan bunga tinggi, hal ini terkesan McDonalds sendiri yang menghancurkan kesehatan neraca keuangan perusahaan Joint Venture bentukannya sendiri, sehingga kedepannya bisa duganakan sebagai alasan untuk mengeruk uang dari investor lokal, dimana pada kasus ini PT Rekso Nasional Food membeli seluruh asset milik PT BNR yang mencakup ratusan gerai McDonalds di Indonesia seharga hanya $20 juta. Dimana hutang PT BNR sendiri mencapai nilai fantastis $150 juta, yang mayoritas hutangnya berasal dari McDonalds corporation. Nilai total asset yang tidak sampai 15% dari total hutang adalah indikasi terjadi penggelembungan jumlah hutang oleh pihak McDonalds corporation. Bambang Rachmadi yang semula menjadi Master Franchise di Indonesia selama 20 tahun terhitung 1991 hingga 2011 kemudian dialihkan kepada PT Rekso National Food (Sosro Group) pada tahun 2009. Berdasarkan definisi, Master Franchise merupakan hak seorang pemegang untuk melakukan kegiatan operasional di wilayah territory tertentu, jumlah master franchise McDonalds di satu Negara di luar Amerika Serikat adalah perorangan atau satu perusahaan di tiap negara. Hal ini memunculkan dampak panjang, dari transformasi sejumlah gerai McDonalds yang dikelola Bambang menjadi Toni Jacks hingga perselisihan antara Bambang dan McDonalds Corporation ke meja hijau.

13

Business Law Final Test: Dispute Case Bambang Rachmadi vs McDonalds

Dwitya Aribawa 61A MM UGM DAFTAR PUSTAKA Buku Fuady, M. Pengantar Hukum Bisnis Modern di Era Global. 2008. Bandung: PT Citra Aditya Bakti. Perundangan/peraturan/ketetapan/kontrak Undang-Undang Perseroan Terbatas (PT) No.40 Tahun 2007. Hukum Perjanjian dalam pasal 1233 sampai dengan pasal 1456 KUH Perdata. Kontrak antara kedua belah pihak Franchisee dan Franchisor. KUH Dagang tentang makelar dan komisioner. Ketentuan dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Undang-undang Merek, Paten dan Hak Cipta No. 12 Tahun l997, No.13 Tahun 1997 dan No.14 Tahun l997. Website http://nasional.kontan.co.id/news/bambang-tuding-mcdonald-lakukan-rekayasa-finansial-1 (Akses pada 17/05/2013) http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4b710a7cb4c62/pengalihan-aset (Akses pada 19/05/2013) http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol22327/ishareholderi-perusahaan-patungan-mcdminta-pengadilan-periksa-rupslb (Akses pada 19/05/2013) http://babyphut.wordpress.com/2009/10/09/dispute-case-bambang-rachmadi-versusmcdonalds-corp/ (Akses pada 19/05/2013) http://finance.detik.com/read/2009/06/16/212433/1149017/4/mcdonald-s-bambang-rachmadihadir-dalam-rupslb (Akses pada 24/05/2013) http://m.news.viva.co.id/news/read/63334-sosro_resmi_miliki_97_restoran_mcdonald_s (Akses pada 24/05/2013) http://www.reksointernational.com/home/index.php (Akses pada 24/05/2013) http://log.viva.co.id/news/read/64986-97_gerai_mcdonald_s_cuma_dijual_rp_200_miliar (Akses pada 24/05/2013) http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/index.php?page=web.Berita&id=3604 (Akses pada 26/05/2013) http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/Sinopsis/sinopsis_KETETAPAN%202-PUU-VIII2010%20_Perseroan%20Terbatas_.pdf (Akses pada 26/05/2013) http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4b5734144d21d/mantan-bos-mcdonalds-judicialreview-uu-perseroan-terbatas (Akses pada 03/06/2013) http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol22327/ishareholderi-perusahaan-patungan-mcdminta-pengadilan-periksa-rupslb (Akses pada 03/06/2013)

14

Business Law Final Test: Dispute Case Bambang Rachmadi vs McDonalds