Anda di halaman 1dari 44

HUBUNGAN STATUS GIZI DAN PARITAS IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN BBLR DI RSUP CUT MEUTIA ACEH UTARA

BY: NURHAYATI 090610011

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Konsep Ibu Hamil Ibu adalah perempuan yang telah melahirkan Seseorang (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2007 : 416). Menuurut Sarwono (2008: 215), ibu hamil adalah seorang wanita yang mengandung dimulai dari konsepsi sampai lahirnya Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, dimana trimester 1 berlangsung dalam 12 minggu, trimester 2 berlangsung 15 minggu dan trimester 3 berlangsung 13 minggu (Sarwono, 2008 : 213).

2.1.1. Diagnosa kehamilan Diagnosa kehamilan normal akan berlangsung selama 30-40 minggu. Jika dihitung dengan ukuran hari, kehamilan akan berakhir sesudah 266 hari, atau 38 minggu pasca ovulasi, atau kira-kira 40 minggu dari akhir hari pertama haid terakhir, atau 9,5 bulan dalam hitungan kalender. (Arisman, 2007 : 4). PHL = HPHT - 3bln + (1 thn 7 hr) Keterangan: PHL = Perkiraan hari Lahir; HPHT = Hari Pertama Haid terakhir. Seorang wanita baru dapat dikatakan hamil jika pemeriksa telah melihat tanda pasti hamil, yaitu: mendengar suara detak jantung, dapat melihat (dengan ultrasonografi/USG) dan meraba bentuk janin. Namun demikian, pemeriksaan fisik harus pula memasukkan tanda anggapan atau kemungkinan hamil. Penentuan kadar HCG ( Human Chorionoc gonadotropin) di dalam urine merupakan penunjuk adanya kehamilan. Uji terhadap urine sangat peka untuk menentukan kadar HCG yang ditemukan 4 minggu sesudah HPHT (hari pertama haid terakhir), atau sekitar 2 minggu setelah pembuahan. (Arisman, 2007 : 4).

2.1.2. Perubahan Fisik Ibu Hamil Menurut Arisman (2007 : 5-7), perubahan fisik yang terjadi diantaranya pada: a. sistem endokrin Sebagai organ endokrin, plasenta menghasilkan berbagai hormon yang digunakan untuk mempertahankan kehamilan. b. saluran pencernaan Selama kehamilan berlangsung, terjadi perubahan mulai dari rongga mulut hingga usus besar, termasuk organ penghasil enzim pencernaan, seperti hati dan empedu.

c. ginjal dan saluran kemih Panjang dan berat ginjal akan bentambah selama hamil antara 1-1,5 cm. Piala ginjal melebar samapi 60cc (jika tidak hamil: 10cc). Ureter diatas pintu atas panggul melebar, memanjang dan berkelok. d. sistem kardiovaskular Uterus menekan pembuluh darah yang melewati rongga panggul dan paha. Jika wanita sehingga Kondisi tidur telentang, uterus yang besar ini juga menekan vena cava. Keadaan yang pertama menyebabkan aliran balik terganggu darah mengumpul pada tungaki bawah

e. kantong empedu Penurunan tonus otot dinding ootot polos menyebabkan fungsi kantong empedu berubah. Waktu pengosongan memendek dan sering tidak lengkap. Cairan empedu mengental dan tidak jarnag pula terjadi stasis yang memudahkan terbentuknya batu empedu. f. Hati Fungsi hati berubah meskipun morfologisnya tidak. Kegiatan alkalin fosfatase dalam serum meningkat dua kali, diduga akibat dari penambahan isoenzim alkalin fosfatase plasenta. Kadar albumin dan globulin plasma menurun, meski penurunan albumin lebih banyak. Dengan demikian, rasio albumin/globulin juga menurun tajam. Namun, penurunan ini ternilang normal karena terjadi pada keadaan hamil.

2.2

Konsep Status Gizi Ibu Hamil Status gizi adalah suatu keadaan keseimbangan dalam tubuh sebagai akibat pemasukan konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi yang digunakan oleh tubuh untuk kelangsungan hidup dalam mempertahankan fungsi-fungsi organ tubuh (Supariasa I, 2001 : 18). Sehingga perlu dipertahankan status gizi yang baik dan seimbang selama hamil, untuk menjaga kesehatan maka ibu harus menciptakan pola makan sehat dimana makanan yang dikonsumsi memiliki jumlah kalori dan zat-zat gizi sesuai dengan kebutuhan (Krisnatuti Diah, 2000 : 30).

2.2.1 Kebutuhan gizi selama hamil Menurut Arisman (2007 : 13), tujuan penataan gizi pada wanita hamil adalah untuk menyiapkan: cukup kalori, protein yang bernilai biologi tinggi, vitamin, mineral, dan cairan untuk memenuhi kebutuhan zat gisi ibu, janin, serta plasenta. Makanan padat kalori dapat membentuk lebih banyak jaringan tubuh bukan lemak. Cukup kalori dan zat gizi untuk memenuhi pertambahan berat baku selama hamil. dll

2.2.2. Faktor yang mempengaruhi status gizi ibu hamil Dalam buku karya Arisman (2007 : 8) dikatakan bahwa, selain faktor genetis berat badan bayi baru lahir ditentukan oleh status gizi janin. Status gizi janin ditentukan antara lain ditentukan oleh status gizi ibu waktu melahirkan dan keadaan ini dipengaruhi pula oleh status gizi ibu pada waktu konsensi (hamil).

2.2.3.Penilaian status gizi ibu hamil a. Penilaian tentang asupan makanan Penilaian tentang asupan makanan dapat diperoleh melalui ingatan 24 jam (24-hour recall) atau metode lainnya. (Arisman, 2007 : 8) b. Penilaian faktor risiko. Menurut Arisman (2007 : 8) , faktor resiko diabagi dalam dua kelompok, yaitu risiko selama hamil dan risiko selama perawatan (antenatal). Faktor resiko yang pertama ialah: Usia di bawah 18 tahun, Keluarga prasejahtera, Food fodism, merupakan kegilaan terhadap makanan tertentu yang terkesan aneh. Perokok berat, Pecandu obat dan alkohol, Berat badan <80% atau >120 % berat baku, Terlalu sering hamil: >8 klai dengan sela waktu <1 tahun, Riwayat obstetrik yang buruk: pernah melahirkan anak mati, dan Tengah menjalani terapi gizi untuk penyakit sitemik

c. Penilaian Biokimia

Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang uji secara laboratorium dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh.( Supariasa I, 2001 : 19-20). d. Penilaian Antropometri Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter. Di bawah ini akan diuraikan beberapa parameter itu (Supariasa, 2001:38) 1) Faktor umur sangat penting dalam penentuan status gizi. Kesalahan penentuan umur akan menyebabkan interprestasi penentuan status gizi menjadi salah. Hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan yang akurat menjadi tidak berarti jika tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat (Supariasa, 2001 : 38).

2) Berat Badan Berat badan ibu hamil harus memadai, bertambah sesuai umur kehamilan. Kenaikan berat badan yang ideal ibu hamil 7 kg (untuk ibu yang gemuk) dan 12,5 kg (untuk ibu yang tidak gemuk). Dalam 3 bulan pertama, berat badan ibu hamil akan naik sampai 2 kg kemudian dinilai normal bila setiap minggu berat badan naik 0,5 kg (Nadesul Handrawan, 1997 : 17). 3) Tinggi Badan Tinggi badan merupakan parameter yang penting bagi keadaan yang telah lalu dan sekarang, jika umur tidak diketahui dengan tepat. Di samping itu, tinggi badan merupakan ukuran kedua yang penting, karena dengan menghubungkan berat badan terhadap tinggi badan (Quac Suck), faktor umur dapat dikesampingkan. (Supariasa, 2001:42).

4) Indeks Massa Tubuh (IMT) Masalah kelebihan dan kekurangan gizi pada orang dewasa (18 tahun keatas) merupakan masalah penting, karena selain mempunyai risiko penyakit-penyakit tertentu, juga dapat mempengaruhi produktifitas kerja. (Supariasa, 2001 : 59). IMT = Berat Badan (kg) Tinggi Badan2(cm)

2.3 Konsep Dasar Paritas Paritas adalah kelahiran setelah gestasi 20 minggu, tanpa memperhatikan apakah bayi hidup atau mati (Patricia W, 2006 : 78). Paritas atau para pernah melahirkan, paritas ibu merupakan frekuensi ibu pernah melahirkan anak, hidup atau mati, tetapi bukan aborsi (Salmah, 2006 : 133). Paritas adalah status melahirkan anak pada seorang wanita. (Farrer Helen, 1999: 15). Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup yang dipunyai oleh seorang wanita (BKKBN, 2006). Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin yang mampu hidup diluar rahim (28 minggu) (JHPIEGO, 2008). Sedangkan menurut Manuaba (2008), paritas adalah wanita yang pernah melahirkan bayi aterm

2.3.1. Kriteria paritas Menurut Poedji Rochjati (2003 : 60), kriteria paritas (jumlah anak) dibagi menjadi 2, yaitu : a. Paritas rendah (< 4x kelahiran). b. Paritas tinggi ( 4x kelahiran). Menurut Prawirohardjo (2009), paritas dapat dibedakan menjadi: 1. Primipara 2. Multipara 3. Grandemultipara

2.3.2.Faktor yang Mempengaruhi Paritas Menurut Friedman (2005), ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya paritas, yaitu: 1. Pendidikan 2. Pekerjaan 3. Keadaan Ekonomi 4. Latar Belakang Budaya 5. Pengetahuan

2.4. Konsep Dasar Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Bayi berat lahir rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram (samapai dengan 2499 gram)

2.4.1 Faktor-faktor yang dapat menyebabkan BBLR Sering faktor penyebab tidak diketahui ataupun kalau diketahui faktor penyebabnya tidak berdiri sendiri, antara lain adalah: a. Faktor ibu Umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun. Kehamilan dengan jarak yang pendek dengan kehamilan sebelumnya (< 2 tahun). Paritas Paritas merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap hasil konsepsi. Perlu diwaspadai karena ibu pernah hamil atau melahirkan anak 4 kali atau lebih, maka salah satu dampak kesehatan yang mungkin timbul adalah berhubungan dengan kejadian BBLR (Joeharno, 2008). Status gizi Status gizi pada waktu pembuahan dan selama hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Bagi pertumbuhan maupun aktivitas deferensiasi janin memerlukan makanan yang disalurkan melalui plasenta maka dari itu ibu dalam keadaan hamil harus cukup mendapatkan makanan bagi diri sendiri maupun bagi janinnya (eating for two. (FK UI, 2001 : 9).

b. Faktor janin Kehamilan ganda Berat badan janin pada kehamilan ganda lebih ringan dari pada janin pada kehamilan tunggal pada umur kehamilan yang sama. (Sarwono, 2006 : 390). Hidramnion Kehamilan dengan jumlah air ketuban > 2 liter. Hal ini terjadi bila produksi air ketuban bertambah, bila pengaliran air ketuban terganggu atau kedua-duanya (Sarwono, 2006 : 358). c. Keadaan sosial ekonomi yang rendah Keluarga dengan pendapatan terbatas kemungkinan besar akan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya terutama untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dalam tubuhnya (FKM UI, 2007 : 175). Sehingga wanita dengan gizi yang buruk dari golongan ekonomi rendah lebih sering mengalami BBLR (Paath EF, 2004 : 49). d. Kebiasaan/beban kerja fisik yang berat Para ibu yang dalam masa hamil harus membantu suami mereka bekerja di sawah atau kebun berisiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (Sjahmein Moedji, 2003 : 20).

2.4.2. Klasifikasi BBLR Menurut Saifudin, AB, (2002 : 376), bayi berat badan lahir rendah dikelompokkan sebagai berikut : a. Bayi Berat Badan Ekstrim Rendah (BBLER), berat lahir < 1.000 gram. b. Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR), berat lahir < 1.500 gram. c. Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), berat lahir 1.500 - 2.499 gram.

2.2.3. Gambaran klinis BBLR Menurut Alimul Aziz H (2005 : 189), karakteristik BBLR diantaranya: a. Berat badan lahir kurang dari 2.500 gram. b. Panjang badan kurang dari 45 cm. c. Lingkar dada kurang dari 33 cm. d. Lingkar kepala kurang dari 33 cm, dll

2.4.4. Komplikasi BBLR Menurut Sarwono (2006 : 776), bersangkutan dengan kurang sempurnanya alat-alat dalam tubuhnya baik anatomik maupun fisiologik maka mudah timbul kelainan sebagai berikut: a. Suhu tubuh tidak stabil oleh karena kesulitan mempertahankan suhu tubuh yang disebabkan oleh penguapan yang bertambah akibat kurangnya jaringan lemak di bawah kulit. b. Gangguan pernafasan disebabkan oleh kurangnya surfaktan, pertumbuhan dan perkembangan paru belum sempurna dan otot pernafasan masih lemah. c. Gangguan pencernaan dan problem nutrisi, distensi abdomen, volume lambung berkurang daya untuk mencerna dan mengabsorbsi lemak, vitamin dan beberapa mineral tertentu berkurang, kerja kardio- esofagus belum sempurna. d. Imatur hati memudahkan terjadinya hiperbilirubin dan defisiensi vitamin K. e. Ginjal belum matur baik secara anatomi atau fungsinya. f. Perdarahan mudah terjadi. g. Gangguan imunologi : daya tahan tubuh terhadap infeksi kurang.

2.4.5. Dampak BBLR Menurut Varney Helen (2006 : 544), BBLR mempunyai dampak sebagai berikut : a. Kematian perinatal (lahir mati, kematian neonatus) b. Lingkar kepala kecil. c. Retardasi mental. d. Paralisis serebral. e. Kesulitan atau ketidakmampuan dalam belajar. f. Defek pengelihatan dan pendengaran. g. Defek neurologis.

2.4.6. Prognosis BBLR Prognosis Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) tergantung dari berat ringannya masalah perinatal, misalnya masa gestasi, asfiksia, sindrom gangguan pernafasan, infeksi. Prognosis ini juga tergantung dari keadaan sosial ekonomi, pendidikan orang tua dan perawatan pada saat kehamilan, persalinan dan post natal, resusitasi, mencegah infeksi, mengatasi gangguan pernafasan dan hipoglikemia (Sarwono, 2006 : 783).

2.4.7. Penatalaksanaan BBLR Menurut Alimul Aziz H (2005 : 110), penatalaksanaan bayi BBLR disebabkan oleh: a. Tidak efektifnya termoregulasi b. Intolerans aktivitas c. Resiko tinggi gangguan integritas kulit d. Resiko tinggi infeksi 2.4.8.Cara menjaga kehangatan BBLR Menurut DepKes RI (2006 : 7), cara menjaga kehangatan bayi bearat lahir rendah, sebagai berikut: 1) Jaga bayi selalu kontak kulit dengan kulit ibunya. 2) Tutupi ibu dan bayi keduanya dengan selimut atau kain yang hangat. 3) Tutupi kepala bayi dengan kain atau topi. 4) Jangan memandikan bayi sebelum suhu stabil atau paling tidak 6 jam setelah lahir.

BAB III Kerangka konsep

Kerangka Operasional

3.2 Hipotesis Hipotesa dalam penelitian ini adalah hipotesa alternatif (H1) yaitu ada hubungan antara paritas dengan angka kejadian BBLR di RSUP Cut Meutia Aceh Utara.

BAB IV METODE PENELITIAN


4.1 Desain Penelitian Berdasarkan tujuan penelitian desain yang digunakan adalah analitik korelasi. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan retrospektif.

4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2.1. Lokasi Penelitian Peneliti melakukan penelitian ini di RSUP Cut Meutia, Aceh Utara. 4.2.2. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan selama 6 bulan dan mulai dilaksanakan pada tanggal 1 januari 2011 sampai dengan 31 Mei 2011.

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1. Populasi Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh ibu yang melahirkan pada tanggal 1 Juli 2009 sampai dengan 30 Juni 2010 di RSUP Cut Meutia Aceh Utara, adapun jumlah populasinya adalah 75 orang. 4.3.2. Sampel Sampel pada penelitian ini adalah ibu yang melahirkan bayi pada tanggal 1 Juli 2009 sampai dengan 30 Juni 2010 di RSUP Cut Meutia Aceh Utara yang berjumlah 64 orang sesuai perhitungan rumus besar sampel.

a. Besar sampel Besar sampel adalah anggota yang akan dijadikan sampel (Nursalam, 2003 : 154). Besar sampel yang di peroleh dihitung berdasarkan rumus: n = N : {1 + N (d2)} Keterangan : n : jumlah sampel. N : jumlah populasi. d : level signifikan (alpha), jika CL= 95 %, maka alpha=0,05. Perhitungannya adalah sebagai berikut: n = 75 : {1 + 75 (0.05)2} n = 75 : {1 + 75 (0, 0025)} n = 75 : { 1 + 0,1875} n = 75 : 1,1875 n = 63, 16. n = 64

b. Teknik Pengambilan sampel ( sampling ) Pada penelitian ini menggunakan probability sampling dengan cara simple random sampling yaitu responden yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dalam penelitian kemudian setiap responden diseleksi secara acak (Nursalam, 2003 : 97). Dengan cara semua nama populasi ditulis disecarik kertas, diletakkan di sebuah kotak, setelah semuanya terkumpul diaduk dan diambil secara acak sejumlah sampel yang ditentukan yaitu sebanyak 64 responden.

c. Kriteria Sampel Kriteria sampel pada penelitian ini adalah ibu yang melahirkan pada tanggal 1 Juli 2009 sampai dengan 30 Juni 2010 di RSUP Cut Meutia Aceh Utara.
4.4Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitain ini menggunakan data sekunder, yaitu pengumpulan data dari rumah sakit dengan membuka kembali catatan medik yang ada di rumah sakit tersebut.

4.5. Defenisi Operasional


4.5.1.Variabel Independen a. Status gizi ibu hamil Defenisi Operasional Status gizi ibuhamildidapatkan daripengukuran berdasarkanIndeks Masa Tubuh (IMT). Parameter Ibu hamil dengan kategori ambang batas Indeks Masa Tubuh (IMT ), klasifikasi : - Gemuk: a.tingkat ringan dengan IMT= >25,o-27,0 b.tingkat berat dengan IMT= >27,0. - Normal: Dengan IMT=18,5-25,0. -Kurus: a.tingkat berat dengan IMT= <17,0. b.tingkat berat dengan IMT=17,0-18,5.

Alat Ukur Observasi dari catatan medik yaitu kartu ibu hamil dan buku KIA . Skala Ordinal Kode -gemuk = 1. -normal = 2. - Kurus = 3.

b. Paritas Defenisi Operasional Keadaan wanita yang berkaitan dengan jumlah anak yang dilahirkan. Parameter - Paritas rendah: < 4 x kelahiran. - Paritas tinggi: 4 x kelahiran. Alat Ukur Observasi dari catatan medik yaitu buku KIA dan Register kohort(retrospektif) ibu. Skala Ordinal Kode - Paritas rendah : 1 - Paritas tinggi : 2

4.5.2. Variabel Dependen a. BBLR Defenisi Operasional Berat badan lahir rendah yang didapatkan dari catatan medik kelahiran di tempat pelayanan pertolongan persalinan. Parameter - Bayi berat lahirrendah (BBLR) berat lahir < 2500 gram - Tidak berat badan lahir rendah(BBLR), beratlahir 2500 gram. Alat Ukur Observasi dari catatan medik yaitu buku KIA dan Register kohort(retrospektif) ibu. Skala Nominal Kode Tidak BBLR : 1 BBLR : 2

4.6. Teknik Pengelolahan dan Analisa Data a. Pengolahan data dalam mengidentifikasi kejadian BBLR dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Proses Editing Dilakukan pengecekan terhadap kelengkapan data yang telah terkumpul, bila terdapat kesalahan atau kekurangan dalam pengumpulan data maka diperbaiki dan dilakukan pendataan ulang. 2) Coding Melakukan pemberian kode dalam pengolahan data yang telah dikumpulkan. 3) Tabulating Setelah di edit, data dimasukkan ke dalam bentun tabel distribusi frekuensi. b. Pengolahan data dalam mengidentifikasi status gizi ibu hamil dengan langkahlangkah sebagai berikut: 1) Proses Editing Dilakukan pengecekan terhadap kelengkapan data yang telah terkumpul, bila terdapat kesalahan atau kekurangan dalam pengumpulan data maka diperbaiki dan dilakukan pendataan ulang. 2) Coding Melakukan pemberian kode dalam pengolahan data yang telah dikumpulkan. 3) Tabulating Setelah di edit, data dimasukkan ke dalam bentun tabel distribusi frekuensi.

c. Pengolahan data dalam mengidentifikasi paritas ibu hamil dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Proses Editing Dilakukan pengecekan terhadap kelengkapan data yang telah terkumpul, bila terdapat kesalahan atau kekurangan dalam pengumpulan data maka diperbaiki dan dilakukan pendataan ulang. 2) Coding Melakukan pemberian kode dalam pengolahan data yang telah dikumpulkan. 3) Tabulating Setelah di edit, data dimasukkan ke dalam bentun tabel distribusi frekuensi.

d. Teknik pengolahan data dan analisa data mengenai hubungan status gizi dan paritas ibu hamil dengan kejadian BBLR dilakukan dengan langkahlangkah sebagai berikut: 1) Proses Editing Dilakukan pengecekan terhadap kelengkapan data yang telah terkumpul, bila terdapat kesalahan atau kekurangan dalam pengumpulan data maka diperbaiki dan dilakukan pendataan ulang. 2) Coding Melakukan pemberian kode dalam pengolahan data yang telah dikumpulkan. 3) Tabulating Setelah di edit, data dimasukkan ke dalam bentun tabel distribusi frekuensi. 4) Analisa Data Analisa data dilakukan dengan menggunakan program korelasi pada SPSS, karena program korelasi dapat digunakan untuk mengetahui apakah ada hubungan status gizi dan paritas ibu hamil dengan angka kejadian BBLR atau tidak.

DAFTAR PUSTAKA Arisman. 2007. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC Budiarto, Eko, 2001. Biostatistika Untuk Kedokteran Dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC. Buku Acuan Nasional. 2001. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo Departemen Kesehatan RI. 2009. Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta : Depkes RI. Departemen Gizi dan Kesehatan FKM UI. 2007. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Departemen Kesehatan RI.2006. Manajemen BBLR. Jakarta : Depkes RI. Deutsch-Indonesische Gesellschaft for medizin(DIGM). 2005. DIGM Medical Journal vol II No. 1, hlm 50-51 Elizawarda. 2004. Studi kasusu Kelola Faktor Resiko Untuk Pencegahan Berat Badan Lahir Rendah di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Kota Medan Tahun 2003. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6906/1/tesiselizawarda.pdf

Friedman, 2004. Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC Hatmoko J, Budi. 2008. Hubungan Antenatal Care dengan Angka Kejadian BBLR di RSUD Sragen Tahun 2006-2007. http://www.docstoc.com/docs/20437644/HUBUNGANANTENATAL-CARE-DENGAN-ANGKA-KEJADIAN-BBLR-DI-RSUD Hellen, Varney. 2006. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta : EGC. Krisnatuti, Diah. 2000. Menu Sehat Untuk Ibu Hamil Dan Menyusui. Jakarta : Puspa Swara. KTI. 2009. Status Gizi Paritas Ibu Hamil dengan BBLR. http://www.scribd.com/doc/30471936/KTI-UNUN-Status-GiziParitas-Ibu-Hamil-Dg-BBLR KTI. 2010. Hubungan Pendidikan dan Paritas Ibu Bersalin dengan Kejadian BBLR. http://www.scribd.com/doc/33687306/KTIHubungan-Pendidikan-Dan-Paritas-Ibu-Bersalin-Dengan-KejadianBBLR Manuaba. 2008. Ilmu Kebidanan, Kandungan dan KB. Jakarta : EGC.

Moehji, Sjahmien. 2003. Ilmu Gizi Dan Penanggulangan Gizi Buruk. Jakarta : Papas Utama. Nadesul, Hendrawan. 1999. Makanan Sehat Untuk Ibu Hamil. Jakarta : Puspa Swara. Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Nursalam. 2003. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Dan Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba. Pranoto. 2007. Ilmu Kebidanan. Yogyakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo Prawiroharjo, Sarwono. 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka. Roehjati, Poedji. 2003. Skrining Antenatal Pada Ibu Hamil. Surabaya : Airlangga University Press. Supariasa I Dewa Nyoman, dkk. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta : EGC. Rustam. 2005. Sinopsis Obstetri Jilid I. Jakarta : EGC

Thx Q... ^_^,

Anda mungkin juga menyukai