Anda di halaman 1dari 38

MAKALAH MANAJEMEN STRATEJIK

Anggota Kelompok Ramlan Pangaribuan Giorda Sultama Ishak Hertika Setya Putri Yunita Putri 0706164385 0806350101 0806350202 0806321915 0806318252

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA Depok, 2011

Statement of Authorship Kami yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas terlampir adalah murni hasil pekerjaan kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang kami gunakan tanpa menyebutkan sumbernya. Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada mata ajaran lain kecuali saya/kami menyatakan dengan jelas bahwa kami menyatakan dengan jelas bahwa saya/kami menyatakan menggunakannya. Kami memahami bahwa tugas yang kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.

Nama NPM

:Ramlan Pangaribuan :0706164385

Nama NPM

: Giorda Sultama : 0806350101

Tandatangan :

Tandatangan :

Nama NPM

: Ishak : 0806350202

Nama NPM

: Hertika Setya Putri : 0806321915

Tandatangan :

Tandatangan :

Nama NPM

: Yunita Putri : 0806318252

Tandatangan :

Mata ajaran

: Manajemen Stratejik

Judul makalah/tugas : Makalah Tugas Akhir Manajemen Stratejik Tanggal Dosen : 28 Desember 2011 : Karto Adiwidjaya S.E., M.M.

I. Profil Perusahaan

Johnson & Johnson adalah perusahaan farmasi internasional Amerika, peralatan medis dan konsumen kemasan barang produsen didirikan pada tahun 1886. Pendiri Johnson & Johnson adalah Robert Wood Johnson, James Wood Johnson, Edward Mead Johnson. Markas korporasi terletak di New Brunswick, New Jersey, Amerika Serikat dengan pembagian konsumen yang terletak di Skillman, New Jersey termasuk sekitar 250 anak perusahaan. Saham biasa adalah komponen dari Dow Jones Industrial Average dan perusahaan terdaftar di antara Fortune 500.

II. Visi dan Misi "The fundamental objective of Johnson & Johnson is to provide scientifically sound, high quality products and services to help heal, cure disease and improve the quality of life." Johnson & Johnson merupakan perusahaan yang tidak memiliki misi, tetapi dalam perusahaannya dikenal dengan adanya Credo, yaitu sebuah kepercayaan atau paham yang dianut oleh perusahaan Johnson & Johnson sebagai nilai yang menjadi pedoman perusahaan dalam menjalankan semua kegiatan bisnisnya. Adapun Credo dari Johnson & Johnson adalah sebagai berikut : We believe our first responsibility is to the doctors, nurses and patients, to mothers and fathers and all others who use our products and services. In meeting their needs everything we do must be of high quality. We must constantly strive to reduce our costs in order to maintain reasonable prices. Customers' orders must be serviced promptly and accurately. Our suppliers and distributors must have an opportunity to make a fair profit. We are responsible to our employees,

the men and women who work with us throughout the world. Everyone must be considered as an individual. We must respect their dignity and recognize their merit. They must have a sense of security in their jobs.

Compensation must be fair and adequate, and working conditions clean, orderly and safe. We must be mindful of ways to help our employees fulfill their family responsibilities. Employees must feel free to make suggestions and complaints. There must be equal opportunity for employment, development and advancement for those qualified. We must provide competent management, and their actions must be just and ethical. We are responsible to the communities in which we live and work and to the world community as well. We must be good citizens support good works and charities and bear our fair share of taxes. We must encourage civic improvements and better health and education. We must maintain in good order the property we are privileged to use, protecting the environment and natural resources. Our final responsibility is to our stockholders. Business must make a sound profit. We must experiment with new ideas. Research must be carried on, innovative programs developed and mistakes paid for. New equipment must be purchased, new facilities provided and new products launched. Reserves must be created to provide for adverse times. When we operate according to these principles, the stockholders should realize a fair return.

III. Analisa Audit Eksternal

Kondisi Ekonomi (US) Dampak subprime mortgage di 2008 masih memiliki beberapa efek ke AS, dan Johnson & Johnson merasakan efeknya juga. Dua divisi dari Johnson & Johnson (farmasi dan alat kesehatan) menghasilkan produk kesehatan primer sehingga subprime mortgage tidak memberikan efek yang signifikan untuk kedua divisi. Namun divisi ketiga, yaitu divisi produk konsumen menerima dampak yang signifikan dari masalah ini, terutama untuk penjualan. Pada tahun 2008, produk konsumen divisi penjualan memiliki nilai tertinggi dengan tingkat pertumbuhan 10,8% karena masalah subprime mortgage, yang mengurangi nilai dolar dan membuat produk AS lebih murah di pasar luar negeri.

Masalah Sosial, Budaya, Demografi, dan Lingkungan Ketika krisis global yang terjadi 2008, negara-negara maju menerima beberapa dampak buruk dalam pendapatan, namun di negara-negara berkembang seperti India, Cina, dan Indonesia, menerima beberapa dampak yang baik dalam pendapatan mereka yang membuat daya beli mereka meningkat dan kehidupan mereka menjadi konsumtif. Produk Johnson & johnson konsumen, yang adalah produk AS, secara tidak langsung menerima dampak yang baik dalam penjualan mereka di negara-negara berkembang karena orang-orang di negara-negara berkembang menjadi lebih konsumtif dalam waktu krisis 2008 global, dan Johnson & Johnson harus memfokuskan penjualan di negara-negara berkembang.

Tekanan Politik, Pemerintah, dan Hukum Industri Farmasi memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat karena salah satu faktor penting dalam kehidupan manusia adalah faktor kesehatan karena itu perlu adanya peraturan-peraturan yang mengatur jalannya bisnis dalam indutri ini. Tiap Negara memiliki peraturan yang berbeda-beda, tergantung dari kebijakan pemerintah masing-masing, di Indonesia sendiri salah satu tekanan politiknya adalah adanya kebijakan yang dikeluarkan

pemerintah Indonesia mengenai pembatasan penjualan obat import yang diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan RI No. 45/M-DAG/PER/9/2009 (Permendag 45) sehingga J&J pun harus memenuhi peraturan tersebut agar dapat menjual produknya di Indonesia. J&J sendiri memiliki kode etik tentang tanggung jawab sosial. Diuraikan dalam kebijakan perusahaan mereka adalah informasi tentang pekerja anak, tenaga kerja global, laboratorium pengujian penelitian hewan, pedoman etika penelitian, dan kebijakan lingkungan di seluruh dunia. Seperti yang ditunjukkan oleh Laporan Keberlanjutan 2005 mereka di bawah, Johnson dan Johnson akan terus mengurangi dampaknya terhadap lingkungan.

Tekanan Teknologi Dari aspek teknologi, obat merupakan sesuatu yang kompleks : Teknologi canggih, requirements yang ketat dan biaya yang makin lama makin tinggi karena tekanan-tekanan kepada kita untuk membuat obat yang benar-benar berkualitas. Produk teknologi dengan pasar terbatas, yang cuma 22trilyun dan murah, tidak akan ditemukan kecuali pada industri

obat. Karena itu untuk masuk dalam industri ini tidaklah mudah karena membutuhkan biaya yang tinggi baik untuk mesin-mesin maupun untuk riset dan pengembangan.

Tekanan Kompetitif Industri ini memiliki high barriers to entry yang berarti untuk memasuki industri ini tidaklah gampang, karena itu tekanan dari kompetitor J&J tidak terlalu tinggi. Dan J&J masih menjadi pemain unggul dalam industri obat. Detail dari pangsa pasar J&J dan kompetitornya dapat dilihat dari table dibawah :

Dari table diatas dapat kita lihat bahwa J&J memiliki pangsa pasar yang paling besar dibanding kompetitornya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tekanan dari kompetitor tidaklah terlalu besar tapi J&J tetap perlu berhati-hati terhadap pesaing-pesaingnya karena pesaing-pesaing ini dapat mengambil pangsa pasar dari J&J, revenue growth dari pesaing lebih tinggi dibanding J&J hal ini disebabkan J&J termasuk pemain lama di Industri ini sehingga sudah berada dalam kondisi pertumbuhan yang stabil.

Analisis Kompetitif : Porters Five-Forces Model Persaingan diantara perusahaan-perusahaan yang berkompetisi Kami akan coba menjelaskan argumentasi per poin dari setiap industri/lini bisnis, dimana perusahaan ini terlibat. 1. Industri Farmasi/Obat-obatan Kombinasi jumlah nilai dari 5 perusahaan farmasi terbesar di dunia dua kali lipat dibandingkan dengan jumlah GNP dari semua Negara Sub Sahara Afrika dan pengaruh mereka terhadap peraturan dari perdagangan dunia sangat kuat luar biasa karena mereka bisa membawa kesejahteraan untuk berpengaruh secara langsung kepada kekuatan barat. (Guardian, 26/06/2011)

Industri Farmasi adalah industri yang benar-benar berprospek. Insutri ini merupakan salah satu industri yang paling menguntungkan di dunia. Itulah mengapa di dalam industri ini, Johnson & Johnson berhadapan dengan begitu banyak competitor. Sayangnya, dalam industry ini Johnson & Jonhson bukanlah pemain utama (perusahaan dengan pangsa pasar paling dominan). Namun, bila kita melihat dari perspektif perusahaan, lini bisnis ini merupakan sumber pendapatan utama bagi perusahaan. Sangat jelas dilihat dari data bahwa pendapatan dari industry ini memberikan sumbangan terbesar bagi perusahaan baik dalam hal jumlah nilai penjualan atau laba kotor bila dibandingkan dengan kedua sektor lainnya. Perbedaan antara pangsa pasar satu perusahaan dan perusahaan lainnya tidak terlalu signifikan. Berdasarkan data yang dikeluarkan Datamonitor, pangsa pasar industri farmasin secara global pada tahun 2005 dikuasai oleh 4 perusahaan, yakni Pfizer (8,7%), GlaxoSmithKline (6,3%), Sanofi-Aventis (5,5%), dan Novertis (5%).Dan pangsa pasar perusahaan lain sisanya berjumlah 74,4% (Jonhson & Johnson adalah salah satu diantaranya). Berdasarkan angka/nilai penjualan, berikut adalah peringkat dari perusahaan farmasi terbaik ditahun 2008: The top 15 pharmaceutical companies by 2008 sales are:

Rank 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Company Sales ($M) Pfizer 43,363 GlaxoSmithKline 36,506 Novartis 36,506 Sanofi-Aventis 35,642 AstraZeneca 32,516 HoffmannLa Roche 30,336 Johnson & Johnson 29,425 Merck & Co. 26,191 Abbott 19,466 Eli Lilly and Company 19,140 Amgen 15,794 Wyeth 15,682 Teva 15,274 Bayer 15,660 Takeda 13,819

Based/Headquartered in US United Kingdom Switzerland France United Kingdom Switzerland US US US US US US Israel Germany Japan

Tidak ada satu perusahaan yang benar-benar dominan menguasai industri ini. Ada banyak sekali pemain di dalam industri ini. Namun, ini tidak menyebabkan persaingannya menjadi begitu intens. Pemain-pemain dominan jarang berganti. Faktanya adalah competitor kita mungkin saja bisa menjadi lebih setara di dalam ukuran dan kapabilitas. Tetapi, pasien tidak mungkin mengganti permintaan untuk sebuah produk dengan perubahan kecil didalam harga pada saat tidak ada produk pengganti/yang mendekati produk yang bersangkutan. Biaya pembuatan obat sebenarnya relatif rendah. Industri ini juga memiliki elastisitas harga yang kecil. Semakin baik kinerja dari Departemen R&D, semakin baik kualitas produk yang mereka produksi. Semakin baik kualitas dari produk yang dihasilkan, semakin banyak pasien yang akan membeli produk. Terlebih lagi, cukup sulit untuk menemukan barang pengganti karena eksistensi dari hokum paten yang cukup ketat. 2. Peralatan Kesehatan (Medical divices) Industri pembuatan peralatan kesehatan (medical devices) adalah industri terdiversifikasi yang memproduksi produk pada cakupan produk tertentu yang dedesain untuk mendiagnosa dan memperlakukan proses penyembuhan pasien dalam sistem kesehatan di dunia. Peralatan kesehatan (medical devices) berbeda dari obat dalam hal tujuannya yaitu alat kesehatan tidak mencapai tujuan pemakaiannya lewat reaksi kimia dan tidak melalui proses metabolisme di dalam tubuh. Johnson & Johnson menggunakan alat kesehatan

sebagai sektor terbesar kedua sebagai penyumbang pendapatan terhadap perusahaan setelah industri farmasi. Industri peralatan kesehatan secara global memiliki cakupan sangat luas, dengan kompetisi yang sangat intens, dan penuh dengan inovasi dengan catatan total penjualan dunia pada tahun 2009 melebihi $220 juta. Amerika Serikat mencakup sekitar 41% dari pasar ini. Dalam industri ini, Johnson & Johnson merupakan pemain paling dominan di pasar. Perusahaan ini mencatat performa terbaik jika dilihat berdasarkan pendapatan yang diperoleh. Peringkat untuk tahun 2010 adalah sebagai berikut:

Top Medical Device Manufacturers Johnson & Johnson $23.6 B Siemens Healthcare $17.4B GE $16B Medtronic $14.6B Baxter International $12.6B Philips Healthcare $11.2B Abbott Laboratories $8.4B Boston Scientific $8.2B Covidien $7.8B Becton Dickinson $7.2B Stryker $6.7B B. Braun $5.8B St. Jude Medical $4.7B Cardinal Health $4.6B 3M Healthcare $4.3B Zimmer $4.1B Olympus Medical $4B Hospira $3.9B Smith & Nephew $3.8B Toshiba $3.7B

10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20.

Berdasarkan data dari perusahaan, kita bisa melihat bahwa walaupun sumbangan peralatan kesehatan dalam angka penjualan dan laba kotor perusahaan tidak sebesar industri farmasi, namun Johnson & Johnson adalah leader di dalam industri ini. Johnson & Johnson mengklaim bahwa bisnis mereka didalam industri ini sudah membuat mereka menjadi pemain dengan bisnis peralatan kesehatan terbesar didunia. Kita juga

bisa melihat bahwa sekilas, industri peralatan kesehatan mempunyai karakteristik yang hamper sama bila dibandingkan dengan industri farmasi. Persaingan/rivalitas didalam industri ini tidak begitu ketat, Development. 3. Barang Konsumsi Johnson & Johnson juga memproduksi berbagai macam barang konsumsi. Kita semua tahu bahwa rivalitas didalam industri ini sangat ketat. Ada banyak sekali produk substitusi yang tersedia dipasar. Selain itu, perbedaan harga dari produk yang mirip tidak terlalu besar. Barang konsumsi memberikan sumbangan terkecil bagi nilai penjualan dan laba kotor perusahaan. Berdasarkan publikasi dari Deloitte tentang Top 250 Global Power perusahaan dalam industri barang konsumsi, Jonhson and Johnson bahkan tidak masuk daftar sama sekali. Johnson and Johnson tidak dapat bersaing dengan baik di industri ini. Potensi masuknya pemain baru (competitor) Untuk industri farmasi dan peralatan kesehatan, potensi masuknya competitor baru relatif rendah. Ini dikarenakan untuk memasuki industri ini, perusahaan baru tersebut harus menghadapi begitu banyak halangan untuk masuk. Contohnya, perusahaan tersebut membutuhkan modal yang sangat besar. Industri ini membutuhkan modal yang besar untuk melaksanakan penelitian. Selain itu, modal yang besar tersebut nantinya juga dibutuhkan lagi untuk membeli hak paten dari hasil penelitian. Hukum paten yang sangat ketat juga membuat cukup sulit dan rumit untuk bertahan di industri ini. Teknologi dan para peneliti juga akan sangat mahal. Untuk barang konsumsi, potensi masuknya pemain baru cukup tinggi. Biaya untuk masuk kedalam industri ini tidak sebesar dua industri lainnya. Bahan bakunya juga relatif lebih mudah untuk didapatkan. Itulah mengapa, lebih sulit bagi Johnson and Johnson dalam berkompetisi di industri ini. karena hampir sama dengan industri farmasi poin utama/kunci didalam rivalitasnya adalah performa dari program Research and

Potensi perkembangan dari produk substitusi Untuk industri farmasi dan peralatan kesehatan, potensi perkembangan barang substitusi relatif kecil. Setelah berhasil mendapat hak paten yang ketat tadi, perusahaan akan resmi memiliki hak paten untuk obat kunci, dan bisa meningkatkan keuntungan sejak perusahaan tidak menghadapi kompetisi sama sekali. Masalah utama perusahaan adalah apabila perusahaan competitor berhasil mendapatkan/melakukan perkembangan/penemuan baru didalam teknologi yang lebih baik dari teknologi perusahaan. Namun, kondisi ini sulit untuk terjadi, karena perkembangan teknologi didalam industri ini cukup sulit dan jarang untuk terjadi. Ini dikarenakan pengembangan didalam industri ini membutuhkan biaya yang sangat besar. Untuk produk konsumsi, potensi perkembangan produk substitusi cukup tinggi. Perbedaan antara produk substitusi dengan produk Johnson and Johnson tidak terlalu signifikan. Johnson and Johnson harus bereaksi cepat untuk setiap pengembangan potensi dari produk substitusi jika mereka mau mengontrol pasar.

Kekuatan/kuasa penawaran (bargaining power) dari Suppliers Johnson and Johnson memiliki suatu program yang dinamakan Johnson & Johnson Supplier Diversity Program. Johnson & Johnson berkomitmen untuk membentuk suatu sistem dengan beragam supplier. Program ini dirancang untuk memastikan bahwa unit bisnis dari berbagai macam latar belakang dan kepemilikan mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi supplier perusahaan. Johnson & Johnson sangat bangga dengan jalinan hubungan yang kuat dan kolaboratif yang sudah mereka bangun dengan supplier mereka. Banyak dari mereka yang sudah bekerja bersama meraka selama bertahun-tahun. Mereka bergantung kepada ribuan supplier untuk menyediakan material/bahan baku, produk, dan pelayanan yang Johnson & Johnson butuhkan untuk beroperasi. Terlebih lagi, Johnson & Johnson mencoba untuk meminimalisir kekuatan penawaran dari supplier dengan cara melakukan beberapa proses merger dan akuisisi.Mereka mengintensifikasi proses dari konsolidasi (merger dan akuisisi), lebih sering lagi proses aliansi strategis (lebih murah disbanding merger dan akuisisi). Proses ini dibentuk dengan

perusahaan biotek kecil dengan tujuan untuk mendapatkan penawaran/pengembangan bioteknologi untuk memberikan keuntungan ekonomi baru bagi perusahaan. Berdasarkan fakta diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa kekuatan penawaran dari supplier terhadap perusahaan Johnson & Johnson tidak terlalu tinggi.

Kekuatan penawaran dari konsumen Kekuatan penawaran dari konsumen didalam industri barang konsumsi cukup tinggi. Banyak pilihan dan variasi produk membuat konsumen mempunyai kekuatan penawaran yang tinggi. Sayangnya, didalam kedua industri lainnya, kekuatan penawaran dari konsumen cukup rendah. Hukum pengaturan mengenai hak paten yang cukup ketat memberikan posisi tawar yang lebih besar bagi perusahaan besar. Terlebih lagi, jenis produk didalam industri yakni produk kesehatan yang berhubungan dengan kesehatan manusia (salah satu kebutuhan utama manusia) membuat agak sulit bagi konsumen untuk menunda konsumsi terhadap produk tersebut.

External Factor Evaluation Matriks EFE adalah alat strategis manajemen yang sering digunakan untuk penilaian kondisi bisnis saat ini. Matriks EFE adalah alat yang baik untuk memvisualisasikan dan memprioritaskan peluang dan ancaman yang dihadapi bisnis. Faktor eksternal yang dinilai dalam matriks EFE adalah tekanan sosial, ekonomi, politik, kekuatan eksternal hukum, dan lainnya. Langkah-langkah dalam membuat Matriks EFE adalah : Daftar Faktor Mengumpulkan daftar faktor eksternal. Bagi faktor menjadi dua kelompok: peluang dan ancaman.
Menentukan bobot

Menetapkan bobot untuk setiap faktor. Nilai berat masing-masing harus antara 0 dan 1. Nol berarti faktor tidak penting dan satu berarti bahwa faktor adalah yang paling

berpengaruh dan penting. Nilai total dari semua bobot bersama-sama harus sama dengan 1.
Tingkat faktor

Menetapkan Peringkat untuk setiap faktor. Penilaian harus antara 1 dan 4. Peringkat menunjukkan seberapa efektif strategi perusahaan saat ini menanggapi faktor. 1 = respon yang buruk 2 = respon dibawah rata-rata 3 = di atas rata-rata 4 = unggul
Kalikan bobot dengan peringkat

Kalikan setiap bobot faktor dengan rating. Ini akan menghitung skor tertimbang untuk masing-masing faktor.
Jumlahkan semua skor tertimbang

Tambahkan semua nilai tertimbang untuk masing-masing faktor. Ini akan menghitung skor total tertimbang perusahaan.

Johnson & Johnson : External Factor Evaluation Matrix Critical Success Factors Johnson & Johnson Weighted Opportunities Expanding Global Market for American Medical Devices Products Global expansion Continued smart purchasing of companies with complementary products The recent acquisition of Pfizer Consumer Healthcare by Johnson & Johnson; it will provide the company an opportunity to promote growth for the Johnson & Johnson Weight 0.05 0.07 0.04 Rating 4 3 2 Score 0.2 0.21 0.08

0.06

0.18

Johnson & Johnson is continuously investing in new products and developments in its pharmacy products Financial economic recovery will boost the income of consumers which will ultimately increase the company revenues With the development of WTO rules, to prevent the availability of affordable generic drugs, there is an opportunity to reduce the effect of lost sales and profits to generic introductions as patents expire Increased industry collaboration with the pharmaceutical industry on innovative new products Non-cyclical market; demand for medical devices is constantly growing Development into new functions of medical devices and diagnostics will provide new markets to entry which will result in business growth

0.07

0.28

0.04

0.08

0.05

0.15

0.06 0.04

3 2

0.18 0.08

0.05

0.15 Weighted

Threats Branding damage due to recalls Healthcare regulations Increasing pressure to move to generic drugs Bio-technological expansion will potentially move the established pharmaceutical process out of the market in the future Johnson & Johnson has strong global competitors. These competitors provide alternative and substitute products and lower price Generic drugs growth Weaker consumer environment expected in the US Johnson & Johnson is in the mature market with very low market growth Generally within the main pharmaceutical companies there is a high level of competition for the generics markets where patents finish and it is the first to entry where success will generally be determined. Total EFE Score

Weight 0.04 0.1 0.06 0.04

Rating 3 3 4 2

Score 0.12 0.3 0.24 0.08

0.05 0.05 0.04 0.04

4 3 1 2

0.2 0.15 0.04 0.08

0.05

0.15

2.95

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa total nilai EFE dari Johnson & Johnson adalah lebih dari 2.5 yang berarti Johnson & Johnson telah cukup baik dalam memanfaatkan peluang yang ada dan meminimalisasi ancaman yang mungkin akan diterima. Akan tetapi, karena nilai maksimum adalah 4, maka telah ditunjukkan bahwa sebetulnya masih banyak ruang bagi Johnson & Johnson untuk melakukan perbaikan dalam menentukan respon mereka sehingga kedepannya Johnson & Johnson akan lebih baik dalam merespon faktor eksternal.

Competitive Profile Matrix (CPM) CPM mengidentifikasi pesaing utama perusahaan dan mencakup juga keteranganketerangan mengenai kekuatan dan kelemahan dalam hubungannya sampai ke posisi strategis perusahaan. Bobot dan total bobot dalam CPM dan EFE memiliki arti yang sama, namun critical success factor dalam CPM termasuk mengenai internal dan eksternal perusahaan. Penilaian menunjukan kekuatan dan kelemahan, dimana : 4=kekuatan utama 3=kekuatan minor 2=kelemahan minor 1=kelemahan utama Berdasarkan dari model Porters Five-Forces, Johnson & Johnson memiliki pesaing yang berada di masing-masing product line mereka, yaitu pharmaceutical products, medical device products, dan consumer products. Tetapi dalam persaingan dengan consumer products, Johnson & Johnson hanya mendapatkan profit yang lebih sedikit dibandingkan dengan produk-produk yang lain karena persaingan yang sangat ketat. Untuk membuat CPM, kita akan mengambil pesaing-pesaing Johnson & Johnson untuk pharmaceutical products adalah Hoffmann-La Roche dan Merck & Co. sedangkan untuk medical device products adalah Siemens Healthcare dan GE.

Competitive Profile Matrix Pharmaceutical Products Critical Success Factor market share inventory system financial position product quality consumer loyalty sales distribution global expansion organization structure customer service production capacity Total weight 0.15 0.08 0.1 0.15 0.05 0.1 0.15 0.08 0.1 0.04 1 Johnson & Johnson rating 3 2 3 3 2 2 4 3 3 4 weighted score 0.45 0.16 0.3 0.45 0.1 0.2 0.6 0.24 0.3 0.16 2.96 Hoffmann-La Roche weighted score 0.45 0.16 0.3 0.45 0.15 0.2 0.6 0.24 0.3 0.16 3.01 Merck & Co rating 3 2 2 3 2 2 4 2 2 3 weighted score 0.45 0.16 0.2 0.45 0.1 0.2 0.6 0.16 0.2 0.12 2.64

rating

3 2 3 3 3 2 4 3 3 4

Berdasarkan hasil dari CPM diatas, dalam hal pharmaceutical products perusahaan yang paling kuat adalah Hoffmann-La Roche, sedangkan Johnson & Johnson menempati posisi kedua. Ini menunjukkan bahwa Hoffamann-La Roche memiliki lebih banyak kekuatan baik dari dalam maupun dari luar yang membuat mereka menjadi lebih unggul diantara pesaingpesaing mereka seperti Johnson & Johnson dan Merck & Co.

Medical Device Critical Success Factor market share inventory system financial position product quality consumer loyalty sales distribution global expansion organization structure customer service production capacity Total weight 0.15 0.08 0.1 0.15 0.05 0.1 0.15 0.08 0.1 0.04 1 Johnson & Johnson Siemens Healthcare weighted weighted rating rating score score 3 0.45 3 0.45 2 0.16 2 0.16 3 0.3 3 0.3 4 0.6 2 0.3 3 0.15 3 0.15 2 0.2 2 0.2 4 0.6 4 0.6 3 3 4 0.24 0.3 0.16 3.16 2 3 4 0.16 0.3 0.16 2.78 GE weighted score 0.3 0.16 0.2 0.45 0.1 0.2 0.6 0.16 0.2 0.08 2.45

rating 2 2 2 3 2 2 4 2 2 2

Di sisi lain, untuk medical device products, Johnson & Johnson menduduki posisi yang paling kuat diantara pesaing-pesaingnya seperti Siemens Healthcare dan GE.

IV. Analisa Audit Internal

Strengths

Modal Substansial untuk Melakukan Proses Marketing Johnson & Johnson bisa memanggil suatu jaringan cabang-cabang yang dipersenjatai dengan kecakapan pemasaran dan penjualan yang signifikan, seperti ahli-ahli dalam area tertentu. Perusahaan memiliki suatu dorongan penjualan global yang disedialan untuk menarik kemungkinan joint venture.

Akuisisi Strategis Johnson & Johnson sudah mempertahankan posisi financial yang stabil dengan memanfaatkan cadangan kas untuk membiayai akuisisi perusahaan pada waktu-waktu tertentu. Rating kredit Triple-A merepresentasikan bahwa perusahaan mampu untuk mengambil keuntungan dari kesempatan yang muncul tanpa harus dibatasi oleh tingkat utang yang berat.

Diferensiasi Produk Portofolio farmasi dari Johnson & Johnson, serta divisi Alat Kesehatan dan Barang Konsumsi Johnson & Johnson yang cukup besar dibuat untuk mengurangi ketergantungan terhadap area tertentu. Perusahaan berencana untuk meneruskan perluasan ini dari 2008-2014. Diversifikasi ini memungkinkan suatu pilhan yang lebih luas pada saat mengejar kesempatan-kesempatan dengan prospek pertumbuhan yang lebih besar.

Proyeksi Pertumbuhan Penerimaan yang Positif Potensi dengan jumlah yang cukup besar dari peluncuran produk baru dan janji pencapaian perkiraan penjualan bisa dikatakan beralamat dengan baik bagi Johnson & Johnson, membantu mengatasi penurunan dalam resep farmasi and memproyeksikan turn-aound selama 2010. Sebuah peningkatan sebesar 1,8% CAGR seluruh 2008 dipercaya dapat dicapai.

Weaknesses Ketergantungan terhadap Kesuksesan Peluncuran Produk Baru

Banyak peluncuran produk baru rentan terhadap ketidakpastian dari tinjauan peraturan dan manfaat terakhir pasar bisa bervariasi secara substansial dari perkiraan, untuk itu, suatu kepercayaan terhadap peluncuran produk secara potensial merepresentasikan suatu halangan bagi pandangan Johnson & Johnson.

Ketergantungan pada Small Molecule Drugs Dibandignkan dengan biologi, molekul kecil terutama lebih dipengaruhi oleh kompetisi generic. Walaupun Johnson & Johnson terlibat di dalam memproduksi produk-produk molekul kecil yang baru, pada saat berbicara mengenai paten, penurunan masih mungkin diperkirakan. Ini terjadi khususnya pada kasus di Amerika Serikat, dimana tingkat erosi generic paling agresif terjadi. Penjualan small molecule drugs Johnson & Johnson menurun pada 2008 dan diperkirakan akan terus menurun sampai 2012. Tesis banyak membahas mengenai kekhawatiran terhadap perkembangan dari industri farmasi-kebutuhan untuk menemukan pengganti untuk produk bernilai miliaran dollar pada saat kedewasaan mereka merepresentasikan tugas yang menakutkan.

Quality-Control yang lemah-Malapetaka penarikan obat Permasalahan Johnson & Johnson dengan kualitas telah berlangsung sampai dengan 2011. Pada tanggal 18 Januari 2011, perusahaan mengumumkan penarikan obat untuk kesekian kalinya. Sekitar 43 juta unit produk OTC (Benadryl, Tylenol and Sudafed) and 4 juta unit Rolaids ditarik kembali untuk melakukan perbaikan pada prosedur pembersihan perlengkapan yang tiak memadai (seperti yang terjadi pada Washington Plants sebelum ditutup) dan kelalaian dalam pelabelan masing-masing. Perusahaan mencoba untuk mempertahankan bahwa produk yang ditarik kembali tidak mempunyai masalah dengan kualitas dan tidak bermaksud untuk menyakiti konsumen.

IFE MATRIX

Strategic Planning for Competitive Advantage Rencana strategis Johnson & Johnson adalah berusaha untuk tetap bertahan sebagai perusahaan yang mampu memenuhi semua ekspektasi dari konsumen human-care secara sempurna dan untuk para penjualnya, baik dari industri farmasi, peralatan kesehatan, dan pasar-pasar diagnostic. Apa yang membuat Johnson & Johnson menonjol dibandingkan dengan kompetitorkompetitornya? Jawabannya ada pada komitmen mereka untuk mencapai apa yang mereka butuhkan, bertahan untuk secara total loyal pada konsumennya. Johnson & Johnson menghadapi banyak pesaing, tapi mereka mempunyai satu produk yang paling menonjol diantara semua produk human-care medication yang pernah sukses, yaitu Remicade (suatu resep obat yang dibuat sebagai perlakuan terhadap kondisi inflamasi tertentu yang melanda sendi, kulit, dan sistem pencernaan) Advertising and Public Relations Johnson and Johnson sudah menghabiskan lebih dari 2.810 miliar untuk biaya periklanan kombinasi tahun 2006 dan 2007. Mereka mengeksekusi fundamental yang benar mengenai jenis-jenis strategi periklanan. Mereka sudah menggunakan semua jenis perencanaan media

dan mengenai semua aspek dari bagaimana mendapatkan perhatian dari konsumen yang sudah loyal dan konsumen yang belum berhasil mereka rebut perhatiannya. Dengan cara yang cukup simple, yaitu menampilkan gambar dari bayi yang sangat lucu, menarik, dan menggemaskan. Sekarang, tidak hanya bayi yang digunakan sebagai alat untuk mengiklankan produk mereka, tapi produk lain juga diperkenalkan, dengan kata lain, product advertising. Produk seperti Listerine, Tylenol, Aveeno, dan Neutrogena adalah produk-produk yang merupakan satu dari beberapa banyak produk Johnson & Johnson yang sukses menghasilkan uang. Faktanya, Johnson & Johnson sudah ahli didalam mempraktekkan advertising response function.

RATIO ANALYSIS

Johnson & Johnson secara konsisten menduduki peringkat teratas dari Harris Interactive's National Corporate Reputation Survey, berperingkat sebagai perusahaan yang paling disegani di dunia versi Barron's Magazine, dan sebagai perusahaan pertama yang diberi penghargaan the Benjamin Franklin Award for Public Diplomacy oleh U.S. State Department karena pembiayaannya terhadap program edukasi internasional. Namun sebuah dakwaan diajukan oleh the United States Department of Justice pada 2010, bahwa perusahaan dari tahun 1999 sampai 2004 secara illegal memasarkan obat kepada Omnicare, sebuah farmasi yang mengeluarkan obat untuk perawatan rumah. Kantor pusat perusahaan terletak di New Brunswick, New Jersey, United States. Divisi konsumennya terletak di Skillman, New Jersey. Perusahaan mencakup sekitar 250 kantor cabang dengan tempat total tempat beroperasi sekitar 57 negara. Produknya dijual dilebih dari 175 negara. J&J memiliki total nilai penjualan farmasi sebesar $24,6 miliar untuk tahun 2008 secara keseluruhan. Johnson & Johnson (NYSE:JNJ) adalah perusahaan terbesar kedua didunia dan perusahaan manufaktur dengan pangsa pasar yang luas dengan nilai penjualan sebesar $61,6 miliar, penurunan sebesar 0,5% dari tahun 2009. Perusahaan ini memegang pangsa pasar yang signifikan dari industri konsumsi dan farmasi, dan merupakan pengembangan dan manufaktur terbesar dari industri medical treatment dan diagnostic devices.

Konsumen dari pasar produk kesehatan senantiasa meningkat sejalan dengan konsumen yang memiliki tanggung jawab dan kepentingan semakin besar terhadap kesehatan mereka masingmasing. Johnson & Johnson memiliki brand-brand yang sangat sukses seperti Tylenol, BandAid, dan Neutrogena. Akuisisi dari Pfizer's Consumer Healthcare division pada 2006 dan penambahan dari brand-brand baru seperti Listerine, Lubriderm, Visine, and Neosporin meningkatkan lebih jauh dominasi dari Johnson & Johnson dalam konsumsi produk kesehatan. Sayangnya, dalam beberapa waktu terakhir, perusahaan sering diwabahi dengan deretan problem mengenai kualitas produk, terkhusus McNeil Consumer Healthcare unit, yang memproduksi obat over the counter. Perusahaan pernah menarik kembali Tylenol, Motrin, Benadryl dan produk-produk lainnya untuk berbagai macam masalah mulai dari baubau, sampai kelebihan konsentrasi dari bahan aktif yang bisa membahayakan konsumen. Masalah ini cukup memusingkan perusahaan. Pada 2010, perusahaan mengalami penurunan keuntungan sebesar 7,7% pada segmen ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Segmen farmasi dari perusahaan menghadapi banyak tantangan yang dihadapi oleh perusahaan farmasi lainya, termasuk isu mengenai waktu habisnya hak paten dan penerimaan dari suatu negara terhadap foreign direct investment.

V. Formulasi Strategi

BCG Matrix Medical Devices

Consumer Goods

Pharmaceutical

IE Matrix

IFE Value
4 3 2 1

2 1

I IV VII
lue

II V VIII

III VI IX

Grand Strategy

E Va

Pertumbuhan pasar yang cepat

J& J

Pertumbuhan pasar yang lambat

Po si si ko m p et iti f ya n g ku at

Po si si ko m p et iti f ya n g le m a h

VI. Implementasi Strategi Dalam proses implementasi strategi Johnson & Johnson, semuanya tidak selalu berjalan mulus. Pada kenyataannya, banyak terjadi hal-hal yang sempat membuat perusahaan harus cepat bertindak agar masalah yang muncul tidak sampai menghancurkan perusahaan. Berikut adalah beberapa diantaranya yang berhasil kami kumpulkan dari berbagai sumber: Conflict of Interest Tujuan perusahaan sesuai dengan isi dari Annual Report tahun 2008, yaitu: A primary objective of the Company is to achieve superior levels of capital efficient profitable growth. With more than 250 operating companies located in 57 countries, the Company views its principle of decentralized management as an asset and fundamental to the success of a broadly based business. It also fosters an entrepreneurial spirit, combining the extensive Businesses are managed for the long-term in order to sustain leadership positions and achieve growth that provides an enduring source of value to our shareholders. Unifying the management team and the Companys dedicated employees in achieving these objectives is Our Credo. Our Credo provides a common set of values and serves as a constant reminder of the Companys responsibilities to its customers, employees, communities and shareholders. The Company believes that these basic principles, along with its overall mission of improving the quality of life for people everywhere, will enable Johnson & Johnson to continue to be among the leaders in the health care industry.

Mary Sue Coleman, seorang doctor di bidang biokimia, sudah memimpin Universitas Michigan sejak 2002, dan dia sudah pernah memimpin Universitas Iowa sebelumnya. Dia bergabung dengan J&J Board pada 2003 dan duduk untuk memangku jabatan sebagai board dari Meredith Corporation, suatu perusahaan Media dan Periklanan, yang membayar dia sekitar $137.167 rata-rata tiap tahun. Menurut data dari Forbes, penghasilan yang diperoleh oleh Mary dari posisinya di J&J sekitar $229.000. Sedangkan dari posisi akademisnya, beliau dibayar sekitar $553.500 tiap tahun akademiknya. Keterlibatan Coleman dengan J&J sudah menjadi topic diskusi yang hangat pada saat universitas mengeluarkan kebijakan menolak setiap pendanaan untuk melanjutkan pendidikan medis dari perusahaan farmasi dan pembuat alat kesehatan. Kontroversi bukan Cuma berakhir disitu, Coleman juga semakin membuat kontroversi dengan membuat kebijakan larangan merokok di wilayah kampus. Kebijakan ini patut dipertanyakan, mengingat pada saat yang bersamaan J&J menghasilkan produk yang berfungsi untuk membantu para perokok untuk menghentikan kebiasaan mereka (seperti Nicorette dan Nicoderm). Produk yang tentu saja akan menjadi laku di kalangan mahasiswa universitasnya karena mereka mau tidak mau harus mengonsumsi obat itu pada saat kebijakan larangan merokok tersebut diberlakukan pada Juli 2011 (bahkan didaerah kampus, J&J memberlakukan diskon. Johnson & Johnson juga mempunyai kelompok non profit berafiliasi, the Robert Wood Johnson Foundation yang berkerja untuk melakukan lobi agar terjadi adopsi dari kebijakan tertentu yang berkaitan dengan kesehatan lewat penelitian dan uang dalam jumlah besar. RWJF secara gamblang mengakui bahwa mereka anti rokok. Organisasi/grup agresif seperti ini seharusnya pembiayaannya tidak dikaitkan dengan presiden/pimpinan dari sebuah universitas. Mahasiswa, Fakultas, dan staf harus bisa memercayai bahwa presiden/pimpinan mereka bekerja dengan kepentingan/tujuan sematamata untuk komunitas di Universitas, bukan untuk perusahaan yang bermotif keuntungan.

Thomas Donaldson, ahli corporate governance dan professor etika bisnis dari Wharton School of the University of Pennsylvania, mengatakan banyak presiden universitas merangkap jabatan sebagai direksi perusahaan, namun menjadi direksi perusahaan biomedis adalah sesuatu yang berbeda karena kemungkinan memanfaatkan penelitian universitas dan sekolah medis. Di menambahkan, Because of the role of research and also the entrepreneurial interest that lies behind a lot of modern advances in medicine, this is a very difficult issue. Weve been aware for decades really that this potential for conflict of interest exists, but we havent as a moral community or even inside universities gotten our arms around it yet. Keberadaan Mary Sue Coleman ini sempat menjadi isu yang hangat dan mencoreng image dari J&J. Beliau dianggap telah memanfaatkan posisinya untuk menguntungkan perusahaan yang menurut banyak pihak telah pihak melanggar etika berbisnis. Apabila kita mengutip tujuan perusahaan yang sudah kami paparkan sebelumnya: Our Credo provides a common set of values and serves as a constant reminder of the Companys responsibilities to its customers, employees, communities and shareholders. mereka hal tersebut sepertinya perlu dipertanyakan lebih lanjut karena ternyata apa yang sudah mereka lakukan (strategi yang sudah mereka lakukan) tidak mencerminkan sama sekali apa yang mereka paparkan. Reengineering dan Restructuring Johnson & Johnson dalam perjalanannya beberapa kali juga melakukan proses reengineering dan restructuring. Reengineering Pada awal tahun 1990-an, J&J melakukan proses reengineering dengan tujuan untuk mereengineer accounts payable dan sistem pembelian dari semua cabang perusahaan untuk mengharmonisasikan semua sistem yang saling terpisah dari perusahaan menjadi satu sistem yang mampu diakses dan melayani kebutuhan seluruh perangkat perusahaan. Mereka mengimplementasikannya dengan konsep self-managing work team (SWMT). Restructuring

J&J mengumumkan inisiatif untuk melakukan restructuring secara global yang didesain untuk memperkuat posisi perusahaan sebagai pemimpin dari indutri health care global (2009). Perusahaan mengambil beberapa langkah untuk memprioritaskan usaha-usaha untuk berinovasi diantara banyak kesempatan pertumbuhan didalam industri health care dan untuk mengeksekusi secara agresif untuk membawa produk baru kedalam pasar. Kebijakan ini berhasil meningkatkan efisiensi operasional dan diperkirakan akan menghasilkan pre-tax cost saving sebesar $1,4-$1,7 miliar pada saat diimplementasi secara penuh pada 2011, dengan $800-$900 juta diekspektasi untuk tercapai pada tahun2010. Hal-hal utama yang dilakukan antara lain mengurangi layers of management, meningkatkan spans of control individual, dan mensimplifikasi struktur dan proses bisnis seluruh perusahaan yang beroperasi secara global. Diestimasi akan terjadi pengurangan angkatan kerja secara total sebanyak 6-7%, sebagai akibat dari prosedur konsultasi rencana tersebut yang berbeda-beda untuk tiap negara. Jumlahnya sekitar 118.700 pekerja, dengan biaya restructuring sampai dengan $1,3 miliar pretax dikuarter keempat. Program restructuring ini juga memakan korban beberapa unit yang dianggap merugikan dan tidak profitable bagi perusahaan. Semua ini dilakukan agar perusahaan dapat mencapai level superior dalam hal pertumbuhan modal yang efisien dan profitable. Pada intinya, perusahaan berpartisipasi pada pertumbuhan dari pasar human health care dan berkomitmen untuk mencapai posisi pemimpin didalam pertumbuhan ini lewat pengembangan dari inovasi produk dan services. Komitmen manajemen adalah pentingnya pengembangan berkelanjutan dari produk & layanan yang baru dan terdiferensiasi untuk mencapai pertumbuhan jangka panjang.

PRODUCT FAILURE DAN PRODUCT RECALL Kasus Klasik Kasus yang cukup terkenal yang pernah dialami oleh J&J yaitu kasus mengenai racun yang terdapat pada produk mereka yakni Tylenol. Pada 1982, 35 % pasar over-the-counter analgesic Amerika Serikat (15 % of the company's profits) dikuasai oleh J&J (Tylenol). Namun masalah kemudian muncul ketika ada yang mencampurkan obat dengan sianida sehingga menyebabkan tujuh orang meninggal. Nilai pasar perusahaan sempat anjlok senilai $1 miliar akibat kejadian ini.

Pada 1986, perusahaan sudah belajar dari pengalaman. Pada saat kejadian yang sama terjadi, mereka langsung bereaksi cepat dengan memberikan perintah agar Tylenol segera ditarik kembali dari outlet sampai mereka bisa memberikan proteksi produk yang lebih baik (solusinya adalah tamperproof packaging). Biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan penarikan kembali tersebut cukup besar. Setelah 5 bulan mengalami bencana tersebut, perusahaan sudah memperoleh kembali 70% dari pangsa pasarnya untuk obat tersebut, mempertahankan nilai jangka panjang dari brand tersebut. (pada kasus lain yang sejenis, Perrier membutuhkan waktu 5 tahun untuk recover dari masalah yang sama). Empat langkah yang mereka ambil untuk mengatasi masalah tersebut antara lain: 1. Tylenol diperkenalkan ulang dengan kandungan triple-seal tamper resistant packaging. 2. Menawarkan $2.50 off coupon untuk setiap pembelian produk mereka. Kuponkupon tersebut tersedia di Koran seperti dengan cara memanggil a toll-free number. (Mitchell 1989) 3. Program sistem penetapan harga yang memberikan konsumen sampai dengan 25% off pembelian produk. (Mitchell 1989) 4. Sekitar 2.250 sales people yang melakukan presentasi untuk komunitas-komunitas medis yang tersebar

Recall-recall terakhir yang terjadi pada J&J: AUG 2008: Consultants to J&J buy defective Motrin from stores. The FDA says it wasnt notified of this phantom recall. NOV 2009: McNeil pulls about 6.3 million bottles of tainted Tylenol Arthritis Pain caplets made in Puerto Rico. JAN 2010: McNeil expands withdrawal to include Benadryl Allergy, Tylenol, Childrens Tylenol Meltaway, and Rolaids. APR 2010: J&J recalls 135 million bottles of meds made in Fort Washington, Pa., and closes the plant. MAY 2010: The FDAs Joshua Sharfstein says the U.S. may pursue criminal charges against J&J.

JAN 2011: J&J announces 2010 earnings, puts lost sales from recalls and plant slowdowns at $900 million JUNE 2010: McNeil expands the recall from its Puerto Rico plant to include five more lots of Benadryl and Tylenol. JULY 2010: Yet more recalls; company submits remediation plan for McNeil plants to FDA. AUG 2010: Company appoints Ajit Shetty as quality-control czar, announces corporation-wide standards. AUG 2010: J&J pulls 100,000 boxes of 1-Day Acuvue TruEye contact lenses; days later, DePuy recalls ASR hips. DEC 2010: 13 million packages of Rolaids softchews are recalled after customers find wood and metal particles in them. JAN 2011: J&J withdraws 43 million bottles of Rolaids, Tylenol, Benadryl, and Sinutab. FEB 2011: J&J units announce recalls of 70,000 potentially cracked syringes preloaded with the antipsychotic Invega. MAR 2011: J&J withdraws 585,000 surgical sutures due to concerns about compromised sterile packaging. MAR 2011: David Floyd, president of DePuy Orthopaedics, announces his resignation. MAR 2011: J&Js Animas unit announces recall of 384,000 insulin-pump cartridges that may leak. MAR 2011: FDA and McNeil announce consent decree that will give agency expanded oversight of three plants.

Kasus Perkins dan DePuv

Perkin, salah seorang anggota militer mengalami cedera sehingga dikakinya perlu dipasang hip. DePuy Orthopaedics, salah satu unit dari Johnson & Johnson memproduksi so-called metal-on-metal prosthetic hip. Beberapa tahun setelah menggunakan produk tersebut, Perkin merasakan sakit di kakinya. Perkin merupakan salah satu dari banyak keluhan yang muncul setelah menggunakan hip yang diproduksi oelh J&J tersebut. DePuy akhirnya mengumumkan penarikan kembali produk untuk 2 tipe dari ASR Hip, termasuk tipe yang dipasang pada kaki Perkin, tapi itu terjadi setelah 93.000 sudah ditanamkan pada pasien diseluruh dunia, termasuk 37.000 di Amerika Serikat. J&J beralasan bahwa penarikan dilakukan untuk alasan keamanan, bukan karena produk tersebut tergolong cacat/gagal. Tylenol and St. Joseph Aspirin ditarik kembali karena baunya yang menyebabkan orang menjadi sakit. Benadryl and Zyrtec ditarik kembali karena jumlah komposisi bahan yang kacau. Rolaids ditarik kembali karena mengandung bahan kayu dan logam. Akibat dari banyak kegagalan ini, J&J bahkan sempat menutup salah satu pabriknya di Fort Washington karena masalah kualitas yang buruk. Setelah lebih dari 50 penarikan kembali produk dalam 15 bulan ini, termasuk artificial hips dan Tylenol, perasahaan bernilai 60 miliar dollar ini berjuang keras untuk mengembalikan nama baiknya. J&J juga sempat bermasalh dengan etika dan dipertanyakan akuntabilitas dari kualitas produk mereka pada saat mereka memutuskan untuk memecat salah satu pegawainya yang bergelar PH. D. Mereka memecatnya karena walaupun dia sudah berhasil mengumpulkan jutaan dollar bagi J&J karena dia mengeluarkan pernyataan bahwa dia takut aka nada satu masalah dalam salah satu produk alat kesehatan yang mereka hasilkan karena bisa menyebabkan nyawa melayang. Bahkan, ada ahli yang mengatakan bahwa budaya Johnson & Johnson adalah masih mengenai keuntungan/profit bukan mengenai akuntabilitas.

Desentralisasi CEO Johnson & Johnson, Bill Weldon mengakui bahwa pilihan J&J untuk menganut sistem desentralisasi merupakan suatu pilihan yang memunculkan beberapa kelemahan dari sisi manajemen internal perusahaan. Sistem desentralisasi memungkinkan setiap negara

(contohnya Jepang), untuk membentuk manajemen local yang akan menjalankan perusahaan. Merekalah orang-orang yang mengerti konsumen, mereka mengerti orang-orang yang mereka hadapi, dan mereka mengerti pemerintahan dengan sistemnya serta kebutuhan dari pasar tempat mereka beroperasi. Namun, masalah yang kemudian mengemuka adalah bagaimana untuk melakukan kontrol terhadap sistem yang berjalan tersebut. Weldon menambahkan bahwa sistem yang dianut memang memunculkan peluang yang sangat besar untuk mengembangkan orang-orang didalam didalam perusahaan, untuk bekerja didalam area-area yang berbeda, untuk bekerja didalam perusahaan yang lebih kecil, untuk membuat kesalahan dan secara tiba-tiba berpindah ke cabang perusahaan yang lebih besar (kalau performanya menjanjikan). Dia juga menambahkan keuntungan lainnya yaitu mengenai bagaimana keuntungan cultural yang didapat karena orang-orang lokal yang menjalankan bisnis perusahaan. J&J mempunyai lebih dari 200 perusahaan-perusahaan/cabang yang beroperasi, dan mereka membutuhkan 200 pemimpin yang hebat. Untuk itu, masalah lain yang kemudian juga muncul adalah bagaimana menciptakan koordinasi yang baik agar semua pemimpin bekerja sesuai dengan apa yang diinginkan CEO perusahaan.

Aspek-Aspek di dalam Perusahaan

Operasi Untuk aspek operasi, perusahaan bisa memaksimalkan kinerja mereka kalau mereka konsisten melakukan akuisisi dan merger yang bisa menguntungkan perusahaan. Selain itu, mereka juga harus mempertahankan program Supplier Diversity Program agar mengurangi ketergantungan terhadap supplier. Aspek yang menjadi perhatian mereka adalah bagaimana memecahkan masalah mengenai kontrol kualitas produk yang buruk sehingga meningkatkan tingkat penarikan produk dari pasar.

Marketing

Pemasaran yang mereka lakukan harus tepat sasaran kerena konsumen yang menjadi sasaran dari produk alat kesehatan dan farmasi merupakan kelompok konsumen yang segmented. Nilai plus yang mereka peroleh yaitu pengelolaan website yang luar biasa, brand image yang sudah cukup kuat, serta paket CSR perusahaan yang sangat rapi dan mengena di masyarakt.

Finance/Accounting Industri yang mereka masuki merupakan industri yang membutuhkan aspek Research and Development bekerja maksimal. Untuk itu, mereka membutuhkan pembiayaan yang cukup besar agar R&D dapat bekerja maksimal. Secara umum, laba bersih perusahaan selalu mengalami penignkatan tiap tahunnya, walaupun hanya sektor alat kesehatan yang secara konsisten memberikan performa terbaik di industrinya. Mereka juga bisa konsisten melakukan Merger & acquisition yang tepat sasaran demin untuk meningkatkan harga saham

Research and Development and Management Information System Penelitian dan Pengembangan produk berperan besar untuk pertumbuhan jangka panjang perusahaan. Untuk itu, aspek ini perlu mendapat perhatian khusus. Pekerjaan rumah bagi J&J adalah bagaimana menurunkan menurunkan failure rate (2 kali lipat dari Pfizer, leader dalam industri farmasi). Proses merger dan akuisisi serta aliansi strategis terhadap unit-unit yang dapat menghasilkan penelitian dan pengembangan produk maksimal bagi perusahaan juga harus terus dilakukan.

Desentralisasi yang bermasalah didalam koordinasi dan kontrol membuktikan bahwa perusahaan belum memiliki sistem manajemen informasi yang belum maksimal.

VII. Solusi

Menurut kami, masalah paling krusial yang dihadapi Johnson & Johnson adalah mengenai bagaimana menciptakan suatu sistem yang baik sehingga bisa mengurangi tingkat kegagalan produk dan penarikan kembali produk. Masalah ini sudah terjadi bertahun-tahun dan bahkan semakin mendekati tahun 2012, tingkat product recall semakin meninggi. Industri dimana Johnson & Johnson bermain (industri peralatan kesehatan dan farmasi) memang merupakan industri yang sangat ketat didalam persaingan untuk menciptakan inovasi produk baru. Inovasi produk yang dihasilkan berkaitan dengan performa dari divisi penelitian dan pengembangan dari perusahaan. Untuk industri ini, pengembangan yang mungkin terjadi relatif lebih sulit dan ini menyebabkan setiap percobaan yang ada rawan terhadap kegagalan. Namun, apabila dibandingkan dengan kompetitor dalam industri sejenis, performa J&J akhirakhir ini patut dipertanyakan. (failure rate 2 kali lipat Pfizer, leader di industri farmasi) Failure rate ini bisa dikategorikan kedalam dua hal. Yang pertama yaitu berkaitan dengan kegagalan dari divisi R&D untuk menciptakan obat yang berkualitas. Penyebab kedua yakni mungkin saja ini disebabkan oleh konsumen yang salah dalam mengonsumsi produk buatan J&J. (tidak memperhatikan prosedur yang disarankan oleh perusahaan) Sebagai perusahaan yang sudah lama berkecimpung di industri tersebut, kelompok kami meyakini kalau Johnson & Johnson pasti sudah menciptakan suatu sistem product quality control yang baik. Namun sepertinya sistem desentralisasi yang menyebabkan implementasi sistem yang sudah dibuat tersebut tidak maksimal pada semua tempat. Johnson & Johnson (seperti apa yang diakui oleh CEO mereka sendiri) kesulitan untuk mengatur koordinasi dan kontrol terhadap setiap cabang-cabangnya. Banyaknya unit-unit yang diakuisisi juga membuat mereka kesulitan untuk mengontrol setiap unit yang dipunyai sehingga potensi salah satu unit/cabang melakukan kesalahan dan menciptakan produk yang tidak maksimal menjadi cukup besar. Untungnya, Johnson & Johnson terlihat cukup lihai untuk menutupi dampak dari setiap product recall yang terjadi. Mereka juga sangat reaktif dengan cara melakukan product recall secepat mungkin dan segera melakukan tindakan-tindakan berikutnya untuk tetap menjaga brand image mereka yang sudah cukup kuat.

Solusi yang menurut kami mungkin untuk dilakukan adalah mencoba untuk memaksimalkan koordinasi didalam perusahaan. Desentralisasi memang suatu pilihan yang tepat apabila kita memperhatikan dunia yang sudah memasuki zaman globalisasi seperti saat ini dimana persaingan sangat ketat dan tidak ada jarak antara satu daerah dengan daerah yang lain. Namun sepertinya aspek yang terlupakan oleh Johnson & Johnson yaitu bagaimana menciptakan komunikasi yang baik sehingga mereka tetap bisa menjaga kontrol dan koordinasi yang baik dalam beroperasinya perusahaan. Komunikasi yang baik seharusnya dapat meminimalisir failure rate dari perusahaan. Dan apabila memang dibutuhkan, perbaikan terhadap sistem kontrol kualitas dari perusahaan juga tidak ada salahnya untuk dicoba. Obat yang hendak dipasarkan juga sebaiknya melalui uji klinis dan lulus tes dari LembagaLembaga ditiap negara yang berwenang untuk menyeleksi obat yang akan dipasarkan di negara tersebut. Jadi, kalaupun apabila sudah melalui proses tersebut produk J&J tetap dinyatakan gagal, J&J akan mempunyai legitimasi untuk melakukan pembelaan. Seperti yang kami sudah jelaskan dibagian sebelumnya, pemilihan keputusan yang tepat mengenai kapan dan dengan siapa saja J&J harus melakukan proses akuisisi, merger, dan aliansi strategis juga merupakan suatu hal yang harus diperhatikan. Proses ini akan berkaitan dengan banyak aspek dari performa perusahaan. Penciptaan Sistem Informasi Manajemen yang kuat dan cepat bisa membantu mengurangi kesalahan dalam pengambilan keputusan. Ini sepertinya juga belum mendapat perhatian dari J&J. Sistem Informasi Manajemen yang maksimal juga bisa mengatasi masalah koordinasi dan kontrol yang selama ini sering dikeluhkan oleh CEO daro Johnson & Johnson. Johnson & Johnson juga harus bisa menghindari keputusan-keputusan yang bisa membahayakan Johnson & Johnson sendiri seperti keputusan mereka untuk memasukkan Mary Sue Coleman ke dalam Direksi Perusahaan. Hal-hal seperti ini malah bisa menjadi bumerang tersendiri bagi perusahaan.