Anda di halaman 1dari 30

ANALISIS PERANAN ETIKA BISNIS TERHADAP CORPORATE SOSIAL

RESPONSIBILITY (CSR) PADA PT. FREEPORT INDONESIA

Firman Syah
Program Pendidikan Profesi Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya

ABSTRAKSI
Etika memainkan peranan penting dalam kehidupan organisasi, baik
publik maupun swasta. Etika organisasi biasanya tumbuh dan
berkembang sejalan dengan perkembangan organisasi. Etika diartikan
juga sebagai suatu kode organisasi yang menyampaikan integritas
moral dan nilai-nilai konsisten dalam jabatan kepada orang
banyak/masyarakat. Adanya fenomena neoliberal telah memunculkan
adanya etika bisnis ke dalam suatu aktivitas pertanggungjawaban
sosial yang dikenal sebagai Corporate Sosial Responsibility (CSR).
CSR merupakan komitmen bisnis yang berperan untuk pembangunan
ekonomi, mendukung kerjasama antar karyawan dengan pimpinan,
menciptakan komunikasi sosial terhadap guna meningkatkan kualitas
hidup masyarakat sekitar, dengan cara-cara yang baik bagi kegiatan
dan pengembangan perusahaan. Dalam pelaksanaannya CSR sangat
tergantung dari nilai etika yang dimiliki oleh manajemen persuahaan
sebagai pembuat keputusan strategis. Selain itu pelaksanaan CSR
masih membutuhkan kontrol yang baik dari pemerintah sebagai
stakeholder yang berkuasa membuat regulator. Selain itu masyarakat
juga bisa menjadi kontrol yang baik atas pelaksanaan CSR sesuai
dengan peraturan yang ada.
Keywords: Etika Bisnis, Etika dan Corporate Social Responsibility
(CSR)

PENDAHULUAN
Tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Sosial Responsibility
(CSR) dengan etika bisnis akhir-akhir ini sangat sering terdengar. Banyak
perusahaan dituntut oleh masyarakat sekitarnya karena telah merusak lingkungan
sekitar perusahaan, merebut kekayaan yang seharusnya menjadi hak bagi
kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Akibat dari semua itu adalah masyarakat
sekitar perusahaan yang menjadi menderita. Banyak kasus yang terjadi terkait
dengan Corporate Sosial Responsibility (CSR).
Beberapa tahun terakhir ada beberapa berita yang mempertanyakan apakah
etika dan bisnis berasal dari dua dunia berlainan. Pertama, melubernya lumpur

Firman Syah NIM 2009130292


dan gas panas di Kabupaten Sidoarjo yang disebabkan eksploitasi gas PT Lapindo
Brantas. Kedua, obat antinyamuk HIT yang diketahui memakai bahan pestisida
berbahaya yang dilarang penggunaannya sejak tahun 2004. Dalam kasus Lapindo,
bencana memaksa penduduk harus ke rumah sakit. Perusahaan pun terkesan lebih
mengutamakan penyelamatan aset-asetnya daripada mengatasi soal lingkungan
dan sosial yang ditimbulkan. Pada kasus HIT, meski perusahaan pembuat sudah
meminta maaf dan berjanji akan menarik produknya, ada kesan permintaan maaf
itu klise. Penarikan produk yang kandungannya bisa menyebabkan kanker itu
terkesan tidak sungguh-sungguh dilakukan. Produk berbahaya itu masih beredar
di pasaran. Kondisi lain adalah adanya kondisi masyarakat Irian yang masih
terbelakang, sementara hasil kekayaan yang dimiliki wilayah tersebut diambil
oleh PT. FREEPORT tanpa meningkatkan kesejahterahaan masyarakat sekitarnya.
Atas kasus-kasus itu, perusahaan-perusahaan tersebut terkesan melarikan
diri dari tanggung jawab. Sebelumnya, kita semua dikejutkan dengan pemakaian
formalin pada pembuatan tahu dan pengawetan ikan laut serta pembuatan terasi
dengan bahan yang sudah berbelatung. Dari kasus-kasus yang disebutkan
sebelumnya, bagaimana perusahaan bersedia melakukan apa saja demi laba. Wajar
bila ada kesimpulan, dalam bisnis, satu-satunya etika yang diperlukan hanya sikap
baik dan sopan kepada pemegang saham. Harus diakui, kepentingan utama bisnis
adalah menghasilkan keuntungan maksimal bagi shareholders. Fokus itu
membuat perusahaan yang berpikiran pendek dengan segala cara berupaya
melakukan hal-hal yang bisa meningkatkan keuntungan. Kompetisi semakin ketat
dan konsumen yang kian rewel sering menjadi faktor pemicu perusahaan
mengabaikan etika dalam berbisnis.
Berkaca pada beberapa contoh kasus itu, sudah saatnya kita merenungkan
kembali cara pandang lama yang melihat etika dan bisnis sebagai dua hal berbeda.
Memang beretika dalam bisnis tidak akan memberi keuntungan secara langsung.
Karena itu, para pengusaha dan praktisi bisnis harus belajar untuk berpikir jangka
panjang. Peran masyarakat, terutama melalui pemerintah, badan-badan
pengawasan, LSM, media, dan konsumen yang kritis amat dibutuhkan untuk
membantu meningkatkan etika bisnis berbagai perusahaan di Indonesia.

Firman Syah NIM 2009130292


Etika memainkan peranan penting dalam kehidupan organisasi, baik publik
maupun swasta. Etika organisasi biasanya tumbuh dan berkembang sejalan
dengan perkembangan organisasi. Kode etik atau yang sejenis tumbuh dari misi,
visi, strategi, dan nilai-nilai organisasi. Kode etik organisasi yang dipikirkan
dengan seksama dan efektif berfungsi sebagai pedoman dalam pengambilan
setiap keputusan organisasi yang etis dengan menyeimbangkan semua
kepentingan yang beragam.
Fenomena neoliberal inilah yang diikuti dengan kemunculan secara paralel
tuntutan masyarakat sipil terhadap tanggung jawab sosial perusahaan atau
Corporate Social Responsibility (CSR). Semakin menguatnya dominasi entitas
bisnis dalam rantai perusahaan yang berada pada regional negara-negara Utara
dan Selatan telah menciptakan tuntutan dan konsekuensi logis agar mereka
memperhatikan hak asasi manusia, hak para pekerja, maupun komitmen terhadap
pelestarian lingkungan hidup.
Tidak mengherankan apabila masyarakat (sebagai stakeholders) menuntut
agar perusahaan lebih memperhatikan keadaan stakeholders daripada
shareholdersnya. Masyarakat telah meningkatkan perhatian dan kepekaan mereka
terhadap seluruh proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan yang kelak hasil
produk tersebut akan mereka konsumsi. Peningkatan perhatian dan kepekaan
masyarakat awam tersebut telah turut memacu pihak pelaku modal untuk
meningkatkan aplikasi CSR mereka. Para pelaku perusahaan, yang biasanya
mendapatkan keistimewaan kekebalan hukum dari negara, sudah tidak dapat
mengelak lagi dari perhatian dan kepekaan masyarakat terhadap dampak negatif
sosial lingkungan yang telah mereka hasilkan selama ini. Malah sebaliknya,
pengalaman membuktikan bahwa keberlanjutan usaha produksi banyak
dipengaruhi oleh tingkat pemahaman dan aplikasi CSR perusahaan terhadap para
pemangku kepentingan. Riset yang dilakukan oleh Sophia Malkasian (2004)
menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang terus hidup adalah perusahaan
yang tidak hanya mengejar keuntungan deviden semata. Saat perusahaan dapat
membina hubungan baik dengan para pemangku kepentingan, mereka akan
mendapatkan perlindungan dan keamanan dalam menjalankan usahanya, ataupun
sebaliknya.

Firman Syah NIM 2009130292


Dengan kondisi tersebut menunjukkan adanya hubungan resiprokal (timbal
balik) antara perusahaan dengan masyarakat. Perusahaan dan masyarakat adalah
pasangan hidup yang saling memberi dan membutuhkan. Dua aspek penting harus
diperhatikan agar tercipta kondisi sinergis antara keduanya sehingga keberadaan
perusahaan membawa perubahan ke arah perbaikan dan peningkatan taraf hidup
masyarakat. Dari aspek ekonomi, perusahaan harus berorientasi mendapatkan
keuntungan (profit) dan dari aspek sosial, perusahaan harus memberikan
kontribusi secara langsung kepada masyarakat yaitu meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat dan lingkungannya. Perusahaan tidak hanya dihadapkan
pada tanggung jawab yang berpijak pada perolehan keuntungan/laba perusahaan
semata, tetapi juga harus memperhatikan tanggung jawab sosial dan
lingkungannya. Jika masyarakat (terutama masyarakat sekitar) menganggap
perusahaan tidak memperhatikan aspek sosial dan lingkungannya serta tidak
merasakan kontribusi secara langsung bahkan merasakan dampak negatif dari
beroperasinya sebuah perusahaan maka kondisi itu akan menimbulkan resistensi
masyarakat atau gejolak sosial seperti kasus yang mengenai PT.FREEPORT
Indonesia. Eksplorasi sumberdaya alam yang dilakukan oleh PT.FREEPORT
selama bertahun-tahun dan telah menghasilkan triliunan rupiah ke dalam
perusahaan tersebut tidak diimbangi oleh perhatian khusus kepada masyarakat
sekitar pertambangan yang mana masih hidup dalam garis kemiskinan bahkan di
daerah-daerah tertentu masih ditemui kasus penduduk yang meninggal karena
kelaparan.
Dengan kondisi tersebut maka perusahaan perlu membangun konsep
Corporate Social Responsibility (CSR) dalam aktivitas perusahaan.
Komitmen perusahaan untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa dengan
memperhatikan aspek finansial atau ekonomi, sosial, dan lingkungan itulah yang
menjadi isu utama dari konsep Corporate Social Responsibility (CSR) atau
tanggung jawab sosial perusahaan. Implementasi CSR merupakan perwujudan
komitmen yang dibangun oleh perusahaan untuk memberikan kontribusi pada
peningkatan kualitas kehidupan masyarakat. Adanya CSR di Indonesia diatur
dalam Undangundang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Pasal 74
ayat 1 Undang-undang tersebut menyebutkan bahwa ”Perseroan yang

Firman Syah NIM 2009130292


menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/ atau berkaitan dengan sumber daya
alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan”. Dalam
Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, pasal 15 (b)
menyatakan bahwa ”setiap penanam modal berkewajiban melaksanakan tanggung
jawab sosial perusahaan”.

TINJAUAN TEORI
1. Epistemologi Etika Bisnis
Menurut Kamus Inggris Indonesia Oleh Echols and Shadily (1992: 219),
Moral = moral, akhlak, susila (su=baik, sila=dasar, susila=dasar-dasar kebaikan);
Moralitas = kesusilaan; Sedangkan Etik (Ethics) = etika, tata susila. Sedangkan
secara etika (ethical) diartikan pantas, layak, beradab, susila. Jadi kata moral dan
etika penggunaannya sering dipertukarkan dan disinonimkan, yang sebenarnya
memiliki makna dan arti berbeda. Moral dilandasi oleh etika, sehingga orang yang
memiliki moral pasti dilandasi oleh etika. Demikian pula perusahaan yang
memiliki etika bisnis pasti manajernya dan segenap karyawan memiliki moral
yang baik.
Sim (2003) dalam bukunya Ethics and Corporate Social Responsibility –
Why Giants Fall, menyebutkan:
Ethics is a philosophical term derived from the Greek word “ethos,”
meaning character or custom. This definition is germane to effective
leadership in organizations in that it connotes an organization code
conveying moral integrity and consistent values in service to the public.
(Etika adalah suatu istilah filosofis yang berasal dari Kata Yunani " Etos,"
yang berarti karakter atau kebiasaan. Definisi tersebut berhubungan erat
dengan kepemimpinan yang efektif di dalam suatu organisasi. Hal itu dapat
diartikan juga sebagai suatu kode organisasi yang menyampaikan integritas
moral dan nilai-nilai konsisten dalam jabatan kepada orang
banyak/masyarakat.

Firman Syah NIM 2009130292


Jadi, ada beberapa kata kunci di sini, yaitu:
1. Etika adalah suatu disiplin ilmu yang membedakan apa yang baik dan buruk
berkaitan dengan hutang budi dan kewajiban, dapat juga diartikan sebagai
satuan prinsip moral atau nilai-nilai.
2. Perilaku etis, yaitu suatu yang diterima sebagai moral baik dan kebenaran, dan
lawan dari keburukan atau kesalahan dalam suatu perilaku tertentu.
3. Kesusilaan adalah suatu sistem atau doktrin dari moral yang mengacu pada
prinsip kebenaran dan kesalahan dalam suatu perilaku.
Steade et al. (1984:584) bahwa menunjuk sesuatu secara tepat yang
merupakan perilaku bisnis secara etik bukanlah suatu tugas gampang. Dalam hal
ini, beberapa penduduk menyamakan perilaku secara etik (ethical behavior)
dengan perilaku legal (legal behavior) – yaitu, jika suatu tindakan adalah legal
(syah), mereka harus dapat diterima. Kebanyakan penduduk, termasuk manajer,
mengakui bahwa batas-batas legal pada bisnis harus dipatuhi. Namun, mereka
melihat batas-batas legal ini sebagai suatu titik pemberangkatan untuk perilaku
bisnis dan tindakan manajerial. Secara nyata, perilaku bisnis beretika
merefleksikan hukum ditambah tindakan etika masyarakat, moral (kesusilaan),
dan nilia-nilai seperti digambarkan pada Gambar 1. Pada gilirannya formulasi
hukum mengikuti suatu tindak-tanduk etika masyarakat dan hasilnya secara per
lahan muncul dua, yaitu adanya suatu hubungan ”give-and take” antara apa yang
”legal” dan apa yang ”cara etik”.

SOCIAL BEHAVIOR
ACCEPTABLE GOVERNED BY
OR LEGAL SOCIETAL:
“ETHICAL” = BEHAVIOR + • VALUES
BUSINESS • MORALS
BEHAVIOR • ETHICS
(WHICH ARE
RESUMED ALSO
TO BE LEGAL)

Gambar 1
Elemen-Elemen Perilaku Bisnis Beretika
[Sumber: Steade et al. (1984: 584)]
Etika adalah suatu cabang dari filosofi yang berkaitan dengan ”kebaikan
(rightness)” atau moralitas (kesusilaan) dari kelakuan manusia. Kata etik juga

Firman Syah NIM 2009130292


berhubungan dengan objek kelakuan manusia di wilayah-wilayah tertentu, seperti
etika kedokteran, etika bisnis, etika profesional (advokat, akuntan) dan lain-lain.
Disni ditekankan pada etika sebagai objek perilaku manusia dalam bidang bisnis.
Dalam pengertian ini etika diartikan sebagai aturan-aturan yang tidak dapat
dilanggar dari perilaku yang diterima masyarakat sebagai ”baik (good) atau buruk
(bad)”. Catatan tanda kutip pada kata-kata baik dan buruk, yang berarti
menekankan bahwa penentuan baik dan buruk adalah suatu masalah selalu
berubah. Akhirnya, keputusan bahwa manajer membuat tentang pertanyaan yang
bekaitan dengan etika adalah keputusan secara individual, yang menimbulkan
konskuensi. Keputusan ini merefleksikan banyak faktor, termasuk moral dan nilai-
nilai individu dan masyarakat. Secara sederhana etika bisnis dapat diartikan
sebagai suatu aturan main yang tidak mengikat karena bukan hukum. Tetapi harus
diingat dalam praktek bisnis sehari-hari etika bisnis dapat menjadi batasan bagi
aktivitas bisnis yang dijalankan.
Etika bisnis sangat penting mengingat dunia usaha tidak lepas dari elemen-
elemen lainnya. Keberadaan usaha pada hakikatnya adalah untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat. Bisnis tidak hanya mempunyai hubungan dengan orang-
orang maupun badan hukum sebagai pemasok, pembeli, penyalur, pemakai dan
lain-lain (Dalimunthe, dalam Komenaung (2005)).
Etika dan moral (moralitas) sering digunakan secara bergantian dan
dipertukarkan karena memiliki arti yang mirip. Ini mungkin karena kata Greek
ethos dari mana ”ethics” berasal dan kata latin mores dari mana ”morals”
diturunkan keduanya artinya kebiasaan (habit) atau custom (adat). Namun moral
(morals) berbeda dari etika (ethics), yang mana di dalam moralitas terkandung
suatu elemenelemen normatif yang tidak dapat dielakkan/dihindari (inevitable
normative elements). Dengan demikian, moral berhubungan dengan pembicaraan
tidak hanya apa yang dikerjakan, tapi juga apa masyarakat seharusnya dikerjakan
dan dipercaya. Elemen-elemen normatif ini, atau ”keharusan (oughtness)”, konflik
dengan aspek-aspek perubahan etika bisnis. Nilai-nilai (values) adalah standar
kultural dari perilaku yang diputuskan sebagai petunjuk bagi pelaku bisnis dalam
mencapai dan mengejar tujuan. Dengan demikian, pelaku bisnis menggunakan
nilai-nilai dalam pembuatan keputusan secara etik apakah mereka menyadarinya

Firman Syah NIM 2009130292


atau tidak. Semakin lama, manajer bisnis ditantang meningkatkan sensitivitas
mereka terhadap permasalahan etika. Mereka menekankan pada evaluasi secara
kritis prioritas nilai-nilai mereka untuk melihat bagaimana ini pantas dengan
realitas dan harapan organisasi dan masyarakat.

2. Pentingnya Etika dalam Dunia Bisnis


Perubahan perdagangan dunia menuntut segera dibenahinya etika bisnis
agar tatanan ekonomi dunia semakin membaik. Langkah apa yang harus
ditempuh?. Didalam bisnis tidak jarang berlaku konsep tujuan menghalalkan
segala cara. Bahkan tindakan yang berbau kriminal pun ditempuh demi
pencapaian suatu tujuan. Kalau sudah demikian, pengusaha yang menjadi
pengerak motor perekonomian akan berubah menjadi binatang ekonomi.
Terjadinya perbuatan tercela dalam dunia bisnis tampaknya tidak menampakan
kecenderungan tetapi sebaliknya, makin hari semakin meningkat. Tindakan mark
up, ingkar janji, tidak mengindahkan kepentingan masyarakat, tidak
memperhatikan sumber daya alam maupun tindakan kolusi dan suap merupakan
segelintir contoh pengabaian para pengusaha terhadap etika bisnis.
Sebagai bagian dari masyarakat, tentu bisnis tunduk pada norma-norma
yang ada pada masyarakat. Tata hubungan bisnis dan masyarakat yang tidak bisa
dipisahkan itu membawa serta etika-etika tertentu dalam kegiatan bisnisnya, baik
etika itu antara sesama pelaku bisnis maupun etika bisnis terhadap masyarakat
dalam hubungan langsung maupun tidak langsung.
Dengan memetakan pola hubungan dalam bisnis seperti itu dapat dilihat
bahwa prinsip-prinsip etika bisnis terwujud dalam satu pola hubungan yang
bersifat interaktif. Hubungan ini tidak hanya dalam satu negara, tetapi meliputi
berbagai negara yang terintegrasi dalam hubungan perdagangan dunia yang
nuansanya kini telah berubah. Perubahan nuansa perkembangan dunia itu
menuntut segera dibenahinya etika bisnis. Pasalnya, kondisi hukum yang
melingkupi dunia usaha terlalu jauh tertinggal dari pertumbuhan serta
perkembangan dibidang ekonomi.
Jalinan hubungan usaha dengan pihak-pihak lain yang terkait begitu
kompleks. Akibatnya, ketika dunia usaha melaju pesat, ada pihak-pihak yang

Firman Syah NIM 2009130292


tertinggal dan dirugikan, karena peranti hukum dan aturan main dunia usaha
belum mendapatkan perhatian yang seimbang. Salah satu contoh yang selanjutnya
menjadi masalah bagi pemerintah dan dunia usaha adalah masih adanya
pelanggaran terhadap upah buruh. Hal lni menyebabkan beberapa produk nasional
terkena batasan di pasar internasional. Contoh lain adalah produk-produk hasil
hutan yang mendapat protes keras karena pengusaha Indonesia dinilai tidak
memperhatikan kelangsungan sumber alam yang sangat berharga. Perilaku etik
penting diperlukan untuk mencapai sukses jangka panjang dalam sebuah bisnis.
Pentingnya etika bisnis tersebut berlaku untuk kedua perspektif, baik lingkup
makro maupun mikro, yang akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Perspektif Makro. Pertumbuhan suatu negara tergantung pada market
system yang berperan lebih efektif dan efisien daripada command system dalam
mengalokasikan barang dan jasa. Beberapa kondisi yang diperlukan market
system untuk dapat efektif, yaitu: (a) Hak memiliki dan mengelola properti
swasta; (b) Kebebasan memilih dalam perdagangan barang dan jasa; dan (c)
Ketersediaan informasi yang akurat berkaitan dengan barang dan jasa Jika salah
satu subsistem dalam market system melakukan perilaku yang tidak etis, maka hal
ini akan mempengaruhi keseimbangan sistem dan menghambat pertumbuhan
sistem secara makro.
Pengaruh dari perilaku tidak etik pada perspektif bisnis makro :
1. Penyogokan atau suap. Hal ini akan mengakibatkan berkurangnya kebebasan
memilih dengan cara mempengaruhi pengambil keputusan.
2. Coercive act. Mengurangi kompetisi yang efektif antara pelaku bisnis dengan
ancaman atau memaksa untuk tidak berhubungan dengan pihak lain dalam
bisnis.
3. Deceptive information
4. Pecurian dan penggelapan
5. Unfair discrimination.
2. Perspektif Bisnis Mikro. Dalam Iingkup ini perilaku etik identik dengan
kepercayaan atau trust. Dalam Iingkup mikro terdapat rantai relasi di mana
supplier, perusahaan, konsumen, karyawan saling berhubungan kegiatan bisnis
yang akan berpengaruh pada Iingkup makro. Tiap mata rantai penting dampaknya

Firman Syah NIM 2009130292


untuk selalu menjaga etika, sehingga kepercayaan yang mendasari hubungan
bisnis dapat terjaga dengan baik.
Standar moral merupakan tolok ukur etika bisnis. Dimensi etik merupakan
dasar kajian dalam pengambilan keputusan. Etika bisnis cenderung berfokus pada
etika terapan daripada etika normatif. Dua prinsip yang dapat digunakan sebagai
acuan dimensi etik dalam pengambilan keputusan, yaitu: (1) Prinsip konsekuensi
(Principle of Consequentialist) adalah konsep etika yang berfokus pada
konsekuensi pengambilan keputusan. Artinya keputusan dinilai etik atau tidak
berdasarkan konsekuensi (dampak) keputusan tersebut; (2) Prinsip tidak
konsekuensi (Principle of Nonconsequentialist) adalah terdiri dari rangkaian
peraturan yang digunakan sebagai petunjuk/panduan pengambilan keputusan
etik dan berdasarkan alas an bukan akibat, antara lain: (a) Prinsip Hak, yaitu
menjamin hak asasi manusia yang berhubungan dengan kewajiban untuk tidak
saling melanggar hak orang lain; (b) Prinsip Keadilan, yaitu keadilan yang
biasanya terkait dengan isu hak, kejujuran, dan kesamaan.
Prinsip keadilan dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu: (1) Keadilan
distributive, yaitu keadilan yang sifatnya menyeimbangkan alokasi benefit dan
beban antar anggota kelompok sesuai dengan kontribusi tenaga dan pikirannya
terhadap benefit. Benefit terdiri dari pendapatan, pekerjaan, kesejahteraan,
pendidikan dan waktu luang. Beban terdiri dari tugas kerja, pajak dan kewajiban
social; (2) Keadilan retributive, yaitu keadilan yang terkait dengan retribution
(ganti rugi) dan hukuman atas kesalahan tindakan. Seseorang bertanggungjawab
atas konsekuensi negatif atas tindakan yang dilakukan kecuali tindakan tersebut
dilakukan atas paksaan pihak lain; dan (3) Keadilan kompensatoris, yaitu
keadilan yang terkait dengan kompensasi bagi pihak yang dirugikan. Kompensasi
yang diterima dapat berupa perlakuan medis, pelayanan dan barang penebus
kerugian. Masalah terjadi apabila kompensasi tidak dapat menebus kerugian,
misalnya kehilangan nyawa manusia.
Apabila moral merupakan suatu pendorong orang untuk melakukan
kebaikan, maka etika bertindak sebagai rambu-rambu (sign) yang merupakan
kesepakatan secara rela dari semua anggota suatu kelompok. Dunia bisnis yang
bermoral akan mampu mengembangkan etika (patokan/rambu-rambu) yang

10

Firman Syah NIM 2009130292


menjamin kegiatan bisnis yang seimbang, selaras, dan serasi. Etika sebagai
rambu-rambu dalam suatu kelompok masyarakat akan dapat membimbing dan
mengingatkan anggotanya kepada suatu tindakan yang terpuji (good conduct)
yang harus selalu dipatuhi dan dilaksanakan. Etika di dalam bisnis sudah tentu
harus disepakati oleh orang-orang yang berada dalam kelompok bisnis serta
kelompok yang terkait lainnya. Tentu dalam hal ini, untuk mewujudkan etika
dalam berbisnis perlu pembicaraan yang transparan antara semua pihak, baik
pengusaha, pemerintah, masyarakat maupun bangsa lain agar jangan hanya satu
pihak saja yang menjalankan etika sementara pihak lain berpijak kepada apa yang
mereka inginkan. Artinya kalau ada pihak terkait yang tidak mengetahui dan
menyetujui adanya moral dan etika, jelas apa yang disepakati oleh kalangan bisnis
tadi tidak akan pernah bisa diwujudkan. Jadi, jelas untuk menghasilkan suatu etika
didalam berbisnis yang menjamin adanya kepedulian antara satu pihak dan pihak
lain tidak perlu pembicaraan yang bersifat global yang mengarah kepada suatu
aturan yang tidak merugikan siapapun dalam perekonomian.
Dalam menciptakan etika bisnis, Dalimunthe (2004) menganjurkan untuk
memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
a. Pengendalian Diri
Artinya, pelaku-pelaku bisnis mampu mengendalikan diri mereka
masingmasing untuk tidak memperoleh apapun dari siapapun dan dalam
bentuk apapun. Disamping itu, pelaku bisnis sendiri tidak mendapatkan
keuntungan dengan jalan main curang atau memakan pihak lain dengan
menggunakan keuntungan tersebut. Walau keuntungan yang diperoleh
merupakan hak bagi pelaku bisnis, tetapi penggunaannya juga harus
memperhatikan kondisi masyarakat sekitarnya. Inilah etika bisnis yang "etik".
b. Pengembangan Tanggung Jawab Sosial (Social Responsibility)
Pelaku bisnis disini dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat, bukan
hanya dalam bentuk "uang" dengan jalan memberikan sumbangan, melainkan
lebih kompleks lagi. Artinya sebagai contoh kesempatan yang dimiliki oleh
pelaku bisnis untuk menjual pada tingkat harga yang tinggi sewaktu terjadinya
excess demand harus menjadi perhatian dan kepedulian bagi pelaku bisnis
dengan tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk meraup keuntungan yang

11

Firman Syah NIM 2009130292


berlipat ganda. Jadi, dalam keadaan excess demand pelaku bisnis harus
mampu mengembangkan dan memanifestasikan sikap tanggung jawab
terhadap masyarakat sekitarnya. Tanggung jawab sosial bisa dalam bentuk
kepedulian terhadap masyarakat di sekitarnya, terutama dalam hal pendidikan,
kesehatan, pemberian latihan keterampilan, dll.
c. Mempertahankan Jati Diri
Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh
pesatnya perkembangan informasi dan teknologi adalah salah satu usaha
menciptakan etika bisnis. Namun demikian bukan berarti etika bisnis anti
perkembangan informasi dan teknologi, tetapi informasi dan teknologi itu harus
dimanfaatkan untuk meningkatkan kepedulian bagi golongan yang lemah dan
tidak kehilangan budaya yang dimiliki akibat adanya tranformasi informasi dan
teknologi.
d. Menciptakan Persaingan yang Sehat
Persaingan dalam dunia bisnis perlu untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas,
tetapi persaingan tersebut tidak mematikan yang lemah, dan sebaliknya harus
terdapat jalinan yang erat antara pelaku bisnis besar dan golongan menengah
kebawah, sehingga dengan perkembangannya perusahaan besar mampu
memberikan spread effect terhadap perkembangan sekitarnya. Untuk itu dalam
menciptakan persaingan perlu ada kekuatan-kekuatan yang seimbang dalam
dunia bisnis tersebut.
e. Menerapkan Konsep “Pembangunan Berkelanjutan"
Dunia bisnis seharusnya tidak memikirkan keuntungan hanya pada saat
sekarang, tetapi perlu memikirkan bagaimana dengan keadaan dimasa datang.
Berdasarkan ini jelas pelaku bisnis dituntut tidak meng-"ekspoitasi" lingkungan
dan keadaan saat sekarang semaksimal mungkin tanpa mempertimbangkan
lingkungan dan keadaan dimasa datang walaupun saat sekarang merupakan
kesempatan untuk memperoleh keuntungan besar.
f. Menghindari Sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi dan
Komisi)
Jika pelaku bisnis sudah mampu menghindari sikap seperti ini, kita yakin tidak
akan terjadi lagi apa yang dinamakan dengan korupsi, manipulasi dan segala

12

Firman Syah NIM 2009130292


bentuk permainan curang dalam dunia bisnis ataupun berbagai kasus yang
mencemarkan nama bangsa dan negara.
g. Mampu Menyatakan yang Benar itu Benar
Artinya, kalau pelaku bisnis itu memang tidak wajar untuk menerima kredit
(sebagai contoh) karena persyaratan tidak bisa dipenuhi, jangan menggunakan
"katabelece" dari "koneksi" serta melakukan "kongkalikong" dengan data yang
salah. Juga jangan memaksa diri untuk mengadakan “kolusi" serta memberikan
"komisi" kepada pihak yang terkait.
h. Menumbuhkan Sikap Saling Percaya antar Golongan Pengusaha
Untu menciptakan kondisi bisnis yang "kondusif" harus ada sikap saling
percaya (trust) antara golongan pengusaha kuat dengan golongan pengusaha
lemah, sehingga pengusaha lemah mampu berkembang bersama dengan
pengusaha lainnya yang sudah besar dan mapan. Yang selama ini kepercayaan
itu hanya ada antara pihak golongan kuat, saat sekarang sudah waktunya
memberikan kesempatan kepada pihak menengah untuk berkembang dan
berkiprah dalam dunia bisnis.
i. Konsekuen dan Konsisten dengan Aturan main Bersama
Semua konsep etika bisnis yang telah ditentukan tidak akan dapat terlaksana
apabila setiap orang tidak mau konsekuen dan konsisten dengan etika tersebut.
Mengapa? Seandainya semua ketika bisnis telah disepakati, sementara ada
"oknum", baik pengusaha sendiri maupun pihak yang lain mencoba untuk
melakukan "kecurangan" demi kepentingan pribadi, jelas semua konsep etika
bisnis itu akan "gugur" satu semi satu.
j. Memelihara Kesepakatan
Memelihara kesepakatan atau menumbuhkembangkan Kesadaran dan rasa
Memiliki terhadap apa yang telah disepakati adalah salah satu usaha
menciptakan etika bisnis. Jika etika ini telah dimiliki oleh semua pihak, jelas
semua memberikan suatu ketentraman dan kenyamanan dalam berbisnis.
k. Menuangkan ke dalam Hukum Positif
Perlunya sebagian etika bisnis dituangkan dalam suatu hukum positif yang
menjadi Peraturan Perundang-Undangan dimaksudkan untuk menjamin
kepastian hukum dari etika bisnis tersebut, seperti "proteksi" terhadap

13

Firman Syah NIM 2009130292


pengusaha lemah. Kebutuhan tenaga dunia bisnis yang bermoral dan beretika
saat sekarang ini sudah dirasakan dan sangat diharapkan semua pihak apalagi
dengan semakin pesatnya perkembangan globalisasi dimuka bumi ini. Dengan
adanya moral dan etika dalam dunia bisnis serta kesadaran semua pihak untuk
melaksanakannya, kita yakin jurang itu akan dapat diatasi.

3. Kaitan etika bisnis dengan Corporate Governance


Menurut Komite Cadburry yang dikutip Daniri (2005:6) Corporate
governance adalah: “Prinsip yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan
agar mencapai keseimbangan antara kekuatan serta kewenangan perusahaan
dalam memberikan pertanggungjawabannya kepada para shareholders khususnya,
dan stakeholders pada umumnya”. Dalam hal ini yang dimaksudkan untuk
mengatur kewenangan direktur, manajer, pemegang saham dan pihak lain yang
berhubungan dengan perkembangan perusahaan di lingkungan tertentu.
Pengertian Corporate Governance berdasarkan Keputusan Menteri Badan
Usaha Milik Negara, Nomor : KEP-117/M-MBU/2002 yang dikutip Prasetyono
dan Kompyurini (2007), adalah: Suatu proses dan struktur yang digunakan oleh
organisasi BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas
perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang
dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan
peraturan perudangan dan nilai-nilai etika.
Darmadji dan Fakhruddin (2001:74) menyatakan bahwa prinsip-prinsip
good corporate governance adalah:
1. Fairness bagi pemegang saham minoritas, yaitu dalam rangka melindungi
dari kecurangan, atau praktik-praktik insider yang merugikan.
2. Transparency melalui peningkatan disclosure dengan cara penyampaian
informasi kinerja perusahaan yang akurat dan tepat waktu.
3. Accountability manajemen melalui pengawasan efektif yang mendasarkan
pada keseimbangan kekuasaan antara direksi, pemegang saham, komisaris,
dan auditor.
4. Responsibility (tanggung jawab) perusahaan sebagai bagian dari masyarakat
wajib mematuhi hukum dan undang-undang yang berlaku.

14

Firman Syah NIM 2009130292


Menurut Daniri (2005:9) prinsip-prinsip dasar good corporate governance
meliputi:
1. Transparency (keterbukaan informasi)
Transparansi diartikan sebagai keterbukaan informasi, baik dalam proses
pengambilan keputusan maupun dalam mengungkapkan informasi material
dan relevan mengenai perusahaan. Dalam mewujudkan transparansi
tersebut, perusahaan harus menyediakan informasi yang cukup, akurat, dan
tepat waktu kepada berbagai pihak yang berkepentingan dengan perusahaan
tersebut. Manfaat yang diperoleh dari transparasi tersebut adalah: (1)
Stakeholder dapat mengetahui risiko yang mungkin terjadi dalam
melakukan transaksi dengan perusahaan. (2) Kinerja perusahaan dapat
diperbandingkan, sehingga dapat menimbulkan efisiensi pasar. (3)
Terhindarnya benturan antar berbagai pihak yang berkepentingan.
2. Accountability (Akuntabilitas)
Accountability adalah kejelasan fungsi, struktur, sistem dan
pertanggungjawaban organisasi perusahaan sehingga pengelolaan
perusahaan terlaksana secara efektif. Manfaat yang diperoleh dari penerapan
akuntabilitas adalah adanya kejelasan fungsi, hak, kewajiban, wewenang,
dan tanggung jawab antara pemegang saham, dewan komisaris, serta
direksi. Dengan adanya kejelasan ini, maka perusahaan akan terhindar dari
kondisi agency problem (benturan kepentingan peran).
3. Responsibilitas (Pertanggungjawaban)
Responsibilitas adalah kesesuaian (kepatuhan) di dalam pengelolaan
perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan
perundangan yang berlaku. Peraturan yang berlaku disini termasuk pajak,
hubungan industrial, perlindungan lingkungan hidup. Penerapan prinsip ini
diharapkan membuat perusahaan menyadari dampak eksternalitas bersifat
negatif yang harus ditanggung oleh masyarakat. Dan membantu pemerintah
mengurangi kesenjangan pendapatan dan kesempatan kerja pada
masyarakat.

15

Firman Syah NIM 2009130292


4. Independency (Kemandirian)
Independency merupakan prinsip penting dalam GCG di Indonesia.
Independency merupakan suatu keadaan di mana perusahaan dikelola secara
profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak
manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat. Untuk meningkatkan
independensi dalam pengambilan keputusan bisnis, perusahaan hendaknya
mengembangkan beberapa aturan, pedoman, dan praktik di tingkat
corporate board, terutama di tingkat dewan komisaris dan direksi yang oleh
undang-undang didaulat untuk mengurus perusahaan dengan sebaik-
baiknya.
5. Fairness (Kesetaraan dan Kewajaran)
Fairness merupakan perlakuan yang adil dan setara di dalam memenuhi
hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan
perundangan yang berlaku. Fairness mencakup adanya kejelasan hak-hak
pemodal, sistem hukum dan penegakkan peraturan untuk melindungi hak-
hak investor khususnya pemegang saham minoritas dari berbagai bentuk
kecurangan. Fairness diharapkan membuat seluruh aset perusahaan dikelola
secara baik dan hati-hati (prudent) sehingga muncul perlindungan
pemegang saham secara jujur dan adil, maupun beragam kepentingan dalam
perusahaan. Prinsip Fairness menurut Organization for Economic
Coorperation and Development (OECD) dalam Daniri (2005:13)
diterjemahkan dalam enam aspek berikut ini:
a. Memastikan adanya basis yang efektif untuk kerangka kerja corporate
governance, untuk mendukung terciptanya pasar yang transparan dan efisien
sejalan dengan ketentuan perudangan.
b. Hak-hak pemegang saham dan fungsi kepemilikan. Hak-hak pemegang
saham harus dilindungi dan difasilitasi.
c. Perlakuan setara terhadap seluruh pemegang saham. Seluruh pemegang
saham termasuk pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing
harus diperlakukan setara.

16

Firman Syah NIM 2009130292


d. Peran stakeholders dalam corporate governance. Hak-hak para pemangku
kepentingan (stakeholders) harus diakui sesuai peraturan perundangan yang
berlaku dan kontral kerjasama aktif antara perusahaan dan para stakeholders
harus dikembangkan dalam upaya bersama menciptakan aset, pekerjaan,
dan kelangsungan perusahaan.
e. Disclosure dan transparansi. Merupakan Pengungkapan yang tepat waktu
dan akurat mengenai segala aspek material perusahaan, termasuk situasi
keuangan, kinerja, kepemilikan dan governance perusahaan.
f. Tanggung jawab pengurus perusahaan (Corporate boards). Pengawasan
dewan komisaris terhadap pengelolaan perusahaan oleh direksi harus
berjalan efektif, disertai adanya tuntutan starategik terhadap manajemen,
serta akuntabilitas dan loyalitas direksi dan dewan komisaris terhadap
perusahaan dan pemegang saham.
Dalam menjalankan Good Corporate Governance (GCG) ada tiga pilar yang
yang harus ditegakkan. Ketiga pilar tersebut menurut Binhadi (2007) adalah
negara, dunia usaha, dan masyarakat.
1. Sistem politik yang sehat dapat menghasilkan penyelenggara negara yang
berkualitas dan berintegritas, sehingga negara harus menciptakan sistem
politik yang sehat. Hanya dengan cara demikian, penyusunan dan
pelaksanaan peraturan perundang-undangan dan kebijakan publik serta
penegakan hukum secara konsisten dapat tercipta.
2. Dunia usaha harus bersikap dan berperilaku yang memperlihatkan
kepatuhan dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan. Dengan
melaksanakan etika bisnis dan peraturan perundang-undangan, dunia usaha
juga diharapkan dapat mencegah terjadinya KKN. Tugas lain dari dunia
usaha adalah meningkatkan kualitas struktur pengelolaan dan pila kerja
perusahaan yang didasarkan pada asas GCG secara berkesinambungan.
Perusahaan harus dapat menampung informasi tentang penyimpangan yang
terjadi pada perusahaan dan untuk itu perlu dilaksanakan fungsi
ombudsman.
3. Masyarakat sebagai pilar ketiga mempunyai peranan untuk melakukan
kontrol sosial dengan memberikan perhatian dan kepedulian terhadap

17

Firman Syah NIM 2009130292


kualitas pelayanan masyarakat yang dilakukan penyelenggara negara serta
terhadap kegiatan dan produk atau jasa yang dihasilkan oleh dunia usaha.
Uraian di atas menunjukkan bahwa pelaksanaan corporate governance
dalam suatu perusahaan menuntut diterapkannya etika bisnis sehingga menjamin
adanya keseimbangan dari seluruh kepentingan kelompok para pemegang saham
(share holder), dewan komisaris manajemen maupun kelompok lain yang juga
memiliki kepentingan dengan perusahaan (stakeholder). Etika bisnis akan
memberikan suatu batasan antara yang baik dan yang buruk di setiap aktivitas
perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan, yaitu penciptaan profit. Etika
bisnis juga akan meningkatkan tanggung jawab perusahaan terhadap share holder
dan stakeholder, sehingga eksistensi perusahaan tetap dapat dilaksanakan. Disisi
lain stakeholder berfungsi sebagai kontrol atas pelaksanaan GCG yang
dilaksanakan perusahaan.

4. CSR
Pada sesi sebelumnya telah disebutkan salah satu factor yang harus
diperhatikan dalam menciptakan etika bisnis harus diciptakan tanggung jawab
social, yang mana tanggung jawab social bagi perusahaan dilakukan dengan
program Corporate Sosial Responsibility (CSR). Bank Dunia dalam Endro
Sampurna (2007) mempunyai definisi CSR sebagai berikut:
“CSR is the commitment of business to contribute to sustainable economic
development working with employees andtheir representative, the local
community and society at large to improve quality of life, in ways that are
both good forbusiness and good for development.” (CSR merupakan
komitmen bisnis yang berperan untuk pembangunan ekonomi, mendukung
kerjasana antar karyawan dengan pimpinan, menciptakan komunikasi social
terhadap guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar, dengan cara-
cara yang baik bagi kegiatan dan pengembangan perusahaan).
Menurut Canadian Business for Social Responsibility dalam Roida (2008),
CSR didefinisikan sebagai: “A company’s commitment to operating in an
economically and environmentally sustainable manner; at the same time,
recognize the interests of its stakeholders.” (komitmen perusahaan untuk

18

Firman Syah NIM 2009130292


beroperasi secara ekonomis dan mendukung lingkungan, dan pada waktu yang
sama memperhatikan kepentingan stakeholders).
Berdasarkan definisi tersebut menunjukkan CSR disusun sebagai komitmen
perusahaan untuk menciptakan komunikasi sosial, antara manajemen perusahaan
dengan share holder, dan juga stakeholder sehingga kegiatan perusahaan dapat
berjalan dengan baik. Definisi tersebut mengindikasikan bahwa disusunnya CSR
masih menunjukkan adanya cela yaitu ditujukan untuk terciptanya eksistensi
perusahaan di masa yang akan datang. Untuk itu dijelaskan definisi CSR oleh
Bateman dan Snell (2002) sebagai:
’...set of corporateactions that positively affects an identifiable social
stakeholder’s interest and does not violate the legitimate claims of another
identifiable social stakeholder (in long run)’. (satuan kegiatan perusahaan
yang secara positif mengidentifikasi kebutuhan sosial stakeholder dan tidak
melanggar aturan dari sosial stakeholder dalam jangka panjang)
Sedangkan CSiR didefinisikan sebagai ‘…the set of corporate actions that
negatively affects an identifiable social stakeholder’s legitimate claims (in
long run)’. (satuan tindakan perusahaan yang secara negative mempengaruhi
sosial stakeholder dalam jangka panjang)
Dari definisi tersebut semakin diperjelas bahwa aktivitas CSR yang
dilakukan oleh suatu perusahaan tidak boleh melanggar peraturan/undang-undang
yang berlaku terhadap sosial stakeholder. Dengan demikian pelaksanaan CSR
memerlukan tindakan aktif dari pemerintah untuk sebagai regulator untuk
melindungi pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan, seperti
masyarakat sekitarnya. Sedangkan penilain perusahaan sudah menjalankan CSR
atau CSiR sangat tergantung pada seberapa banyak program yang dijalankan
perusahaan yang dianggap berkontribusi pada pemberdayaan masyarakat.
Pelaksanaan CSR dalam sutau organisasi atau perusahaan masih belum
benar-benar dilakukan didasarkan pada tanggun jawab sosial perusahaan. Carroll
(1981)menyatakan: isu social responsibility dikenali dengan melakukan beberapa
tanggung jawab sosial dan etika bisnis pada aktivitas organisasi, yang selanjutnya
berpengaruh pada pembuatan keputusan manajer. Kebijakan ini bagaimanapun
masih menjadi perdepatan bagi organisasi untuk melanjutkan kegiatan tersebut

19

Firman Syah NIM 2009130292


atau tidak, karena hal tersebut memang benar-benar-benar aktivitas social
responsibility atau hanya untuk kepentingan organisasi. Urian tersebut
menunjukkan bahwa perusahaan-dalam menjalankan CSR masih dikaitkan
dengan kepentingan-kepentingan perusahaan, seperti kelangsungan dan
perkembangan perusahaan.

5. Manfaat Corporate Social Responsibility Bagi Perusahaan


A.B Susanto (2007) mengemukakan bahwa dari sisi perusahaan terdapat 6
(enam) manfaat yang dapat diperoleh dari aktivitas CSR.
1. Mengurangi risiko dan tuduhan terhadap perlakuan tidak pantas yang
diterima perusahaan. Perusahaan yang menjalankan CSR secara konsisten
akan mendapat dukungan luas dari komunitas yang merasakan manfaat dari
aktivitas yang dijalankan. CSR akan mengangat citra perusahaan, yang
dalam rentang waktu yang panjang akan meningkatkan reputasi perusahaan.
2. CSR dapat berfungsi sebagai pelindung dan membantu perusahaan
meminimalkan dampak buruk yang diakibatkan suatu krisis. Sebagai contoh
adalah sebuah perusahaan produsen consumer goods yang beberapa waktu
yang lalu dilanda isu adanya kandungan bahan berbahaya dalam produknya.
Namun karen aperusahaan tersebut dianggap konsisten dalam menjalankan
CSR-nya maka masyarakat menyikapinya dengan tenang sehingga relatif
tidak mempengaruhi aktivitas dn kinerjanya.
3. keterlibatan dan kebanggaan karyawan. Karyawan akan merasa bangga
bekerja pada perusahaan yang memiliki reputasi yang baik, yang secara
konsisten melakukan upaya-upaya untuk membantu meningkatkan
kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
Kebanggaaan ini pada akhirnya akan menghasilkan loyalitas sehingga
mereka merasa lebih termotivasi untuk bekerja lebih keras demi kemajuan
perusahaan.
4. CSR yang dilaksanakan secara konsisten akan mampu memperbaiki dan
mempererat hubungan antara perusahaan dengan para stakeholdersnya.
Pelaksanaan CSR secara konsisten menunjukkan bahwa perusahaan

20

Firman Syah NIM 2009130292


memiliki kepedulian terhadap pihak-pihak yang berkontribusi terhadap
lancarnya berbagai aktivitas serta kemajuan yang mereka raih.
5. meningkatnya penjualan. Konsumen akan lebih menyukai produk yang
dihasilkan oleh perusahaan yang secara konsiten menjalankan CSRnya
sehingga memiliki reputasi yang baik.
6. insentif-insentif lainnya seperti insentif pajak dan berbagai perlakuan
khusus lainnya.

6. Implementasi dan Model atau Pola Corporate Social Responsibility


Dalam menjalankan aktivitas CSR tidak ada standar atau praktik-praktik
tertentu yang dianggap terbaik, setiap perusahaan memiliki karakteristik dan
situais yang unik yang berpengaruh terhadap tanggung jawab sosialnya. Model
atau pola CSR yang umum diterapkan di Indonesia menurut Susiloadi (2008)
adalah:
1. CSR bisa dilaksankan secara langsung oleh perusahaan. Perusahaan
menjalankan program CSR secara langsung dengan menyelenggarakan sendiri
kegiatan sosial atau menyerahkan sumbangan ke masyarakat tanpa perantara.
Untuk menjalankan tugas ini, perusahaan bisa menugaskan salah satu pejabat
seniornya, seperti corproate secretary atau public affair manager atau menjadi
bagian dari tugas divisi human resource development atau public relations.
2. CSR bisa pula dilaksanakan oleh yayasan atau organisasi sosial milik
perusahaan atau garoupnya. Perusahaan mendirikan yayasan atau organisasi
sosial sendiri di bawah perusahaan atau groupnya yang dibentuk terpisah dari
organisasi induk perusahaan namun tetap harus bertanggung jawab ke dewan
direkai. Model ini merupakan adopsi yang lazim dilakukan di negara maju.
Disini perusahaan menyediakan dana awal, dana rutin atau dana abadi yang
dapat digunakan untuk operasional yayasan.
3. Sebagian besar perusahaan di Indonesia menjalankan CSR melalui kerjasama
atau bermitra dengan pihak lain. Perusahaan menyelenggarakan CSR melalui
kerjasama dengan instansi pemerintah, perguruan tinggi, LSM, atau lembaga
konsultan baik dalam mengelola dana maupun dalam melaksanakan kegiatan
sosialnya.

21

Firman Syah NIM 2009130292


4. beberapa perusahaan bergabung dalam sebuah konsorsium untuk secara
bersama-sama menjalankan CSR. Perusahaan turut mendirikan, menjadi
anggota atau mendukung suatu lembaga sosial yang didirikan untuk tujuan
sosial tertentu. Pihak konsorsium yang dipercaya oleh perusahaan-perusahaan
yang mendukungnya akan secara proaktif mencari kerjasama dari berbagai
kalangan dan kemudian mengembangkan program yang telah disepakati.

METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Penelitian dengan
pendekatan kualitatif lebih menekankan analisisnya pada proses penyimpulan
deduktif dan induktif serta pada analisis terhadap dinamika hubungan
antarfenomena yang diamati. Dengan menggunakan logika ilmiah. (Azwar, 2007).
Adapun sumber data yang digunakan adalah data sekunder, yaitu data penelitian
yang diperoleh penelitian secara tidak langsung melalui media perantara/diperoleh
dan dicatat atau oleh pihak lain (Silalahi, 2003). Data sekunder yang digunakan
diperoleh dari data-data yang dipublikasikan dan literatur-literatur yang
mendukung penelitian ini. Obyek penelitian ini adalah PT. Freeport Indonesia.
Adapun teknik analisis dilakukan sejak pengumpulan data dengan tahapan
sebagai berikut. Pertama peneliti melakukan reduksi data. Proses ini dilakukan
dengna melakukan penyederhaan dan transformasi data kasar yang muncul dari
catatan tertulis saat pengumpulan data dari literatur atau internet. Kedua peneliti
melakukan analisis domain. Analisis domain merupakan aktivitas untuk
mengkategorikan berbagai ungkapan, sikap dan tindakan informan, serta
fenomena-fenomena yang ditemukan dari data sekunder yang diperoleh. Ketiga
adalah penarikan kesimpulan, verifikasi dan refleksi. Pada proses ini peneliti
melakukan interpretasi terhadap manka dari berbagi bahan empirik yang telah
dikumpulkan dan dikategorisasikan secara tematik sebagaimana disebutkan di
atas.

22

Firman Syah NIM 2009130292


HASIL PENELITIAN
Sekilas Sejarah Perusahaan
PT.FREEPORT Indonesia (PTFI) adalah sebuah perusahaan
pertambangan yang mayoritas sahamnya dimiliki Freeport Mc MoRan Copper &
Gold Inc. PT. Freeport Indonesia merupakan penghasil terbesar konstrat tembaga
dari bijih mineral yang juga mengandung emas dalam jumlah yang berarti.
Awal berdirinya PT.FREEPORT Indonesia (PTFI) bermula saat seorang
manajer eksplorasi Freeport Minerals Company: Forbes Wilson, melakukan
ekspedisi pada tahun 1960 ke Papua setelah membaca sebuah laporan tentang
ditemukannya Ertsberg (Gunung Bijih), sebuah cadangan mineral, oleh seorang
geolog Belanda; Jean Jacques Dozy, pada tahun 1936. setelah ditandanganinya
kontrak karya pertama dengan Pemerintah Indonesia bulan April 1967, Konstruksi
skala besar dimulai bulan Mei 1972. Setelah para geolog menemukan cadangan
kelas duni Grasberg pada tahun 1988, operasi PTFI menjadi salah satu proyek
tambang tembaga/emas terbesar di dunia. Di akhir tahun 1991, Kontrak Karya
kedua ditandangani dan PTFI diberikan hak oleh Pemerintah Indonesia untuk
meneruskan operasinya selama 30 tahun
PTFI merupakan salah salah satu pembayar pajak terbesar bagi Negara
Indonesia. Sejak tahun 1992 sampai 2005, manfaat langsung dari operasi
perusahaan terhadap Indonesia dalam bentuk dividen, royalti dan pajak mencapai
sekitar 3,9 milliar dolar AS. Selain itu PTFI juga telah memberikan manfaat tidak
langsung dalam bentuk upah, gaji dan tunjangan, reinvestasi dalam neger,
pembelian barna gdan jasa, serta pembangunan daerah dan donasi. Dalam tahun
2005 PTFI telah menghasilkan dan menjual konsentrat yang mengandung 1,7
miliar pon tembaga gan 3,4 juta ons emas.
PTFI (PT.FREEPORT) Company memiliki visi untuk menjadi tambang
terbaik di dunia yang berlokasi di ketinggian dan lingkungan bercurah hujan
tinggi. Kepemilikan sahamnya adalah Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc
(AS) sebesar 81,28%, Pemerintah Indonesia sebesar 9,36% dan PT. Indocoppor
Investama sebesar 9,36%.

23

Firman Syah NIM 2009130292


Pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR)
PT.FREEPORT memiliki komitmen untuk mengelola dan meminimalisasi
dampak dari kegiatan operasionalnya terhadap lingkungan dan untuk mereklamasi
serta menghijaukan kembali lahan yang terkena dampak. Melalui kebijakan
lingkungan, PT.FREEPORT berkomitmen untuk melaksanakan pengelolaan dan
praktik-prkatik lingkungan yang baik, menyediakan sumber daya yang cukup
layak guna memenuhi tanggung jawab tersebut dan melakukan perbaikan
berkesinambungan terhadap kinerja lingkungan pada setiap lokasi kegiatan.
PT.FREEPORT juga memiliki komitmen kuat untuk mendukung penelitian
ilmilah guna memahami lingkungan di sekitar tempat PT.FREEPORT beroperasi,
serta melakukan pemantauan yang komprehensif untuk menentukan efektivitas
dari praktik-praktik pengelolaan.
Selain itu, PT.FREEPORT juga bekerja dengan instansi pemerintah,
masyarakat setempat, maupun lembaga swadaya masyarakt yang bertanggung
jawab, untuk meningkatkan kinerja lingkungan. Dalam hal ini PT.FREEPORT
menganut prinsip-prinsip kerangka kerja pembangunan berkelanjutan dari dewan
internasional tentang pertambangan dan logam Sustainable Development
Framework of the international Council ini Mining and Metals (ICMM), dimana
PT.FREEPORT termasuk anggotanya:
1. Pelaksanaan Audit Lingkungan
Audit lingkungan yang dilakukan PT.FREEPORT menghasilkan informasi bagi
para manajer tentang kinerja lingkungan saat ini serta membantu
mengindentifikasi peluang-peluanga perbaikan.
2. Program Pengelolaan Trailing
Trailing adalah sisa batu alat yang digiling harus hasil pengolahan bijih
mineral. PT.FREEPORT menggunakan proses pengapungan (flotasi), yang
merupakan pemisahan secara fisik minerjal yang mengandung tembaga dan
emas dari batuan bijih. Dalam proses tersebut tidak digunakan merkuri
maupun sianida. Sebuah daerah aliran sungai mengangkut sediman tersebut
menuju sebuah areal pengendapan yang telah ditentukan di kawasan dataran
rendah dan pantai, yang dimanamakan Modified Deposition Area (Daerah

24

Firman Syah NIM 2009130292


Pengendapan Dimodifikasi), yaitu sebuah sistem yang direkayasa dan dikelola
bagi pengendapan dan pengendalian tailing.
Pengambilan sampel secara luas terhadap mutu air dalam pengelolaan tailing
menunjukkan bahwa air pada sungai yang mengangkut tailing dari pabrik
pengolahan PT.FREEPORT di daerah dataran tinggi menuju daerah
pengendapatnd I dataran rendah telah memenuhi baku mutu air bersih untuk
logam terlarut sesuai peraturan Pemerintah Indonesia maupun USEPA
(Lembaga Perlindungan Lingkungan AS).
3. Reklamasi dan Penhijauan kembali
a. Daerah dataran tinggi
Para ilmuwan internasional dan staff PT.FREEPORT telah mengkaji ekologi
dari ekosistem alpin di wilayah kerja PT.FREEPORT, serta mengembangkan
cara-cara handal untuk menghasilkan bibit jenis tanaman asli. Kajian-kajian
yang pernah dilakukan hingga saat ini mencakup etnobotani,
keanekaragaman hayati pada ekosistem su-alpin dan alpin, pemanfaatan
jenis-jenis asli tanaman lumut dan bakteri untuk strategi reklamasi perintis
dan budi daya jaringan untuk pengembangan jenis tanaman alpin asli.hingga
akhir 2005, lebih dari 10 hektar tanah terganggu pada tambang di daerah
dataran tinggi yang berhasil dihijaujan kembali dalam rangka memenuhi
komitmen PT.FREEPORT kepada pemerintah Indonesia.
b. Dataran rendah
Tujuan dari program reklamasi dan penghijauan kembali PT.FREEPORT di
daerah dataran rendah adalah untuk mengubah endapan tailing pada daerah
pengendapan menjadi lahan pertanian atau dimanfaatkan sebagai lahan
produktif lainnya, atau menumbuhkannya kembali dengan tanaman asli
setelah kegiatan tambang berakhir.
4. Pengelolaan Overburden dan air asam tambang
PT.FREEPORT menangani overburden melalui sebuah rencana pengelolaan
overburden komprehensif yang telah disetujui oleh Pemerintah Indonesia.
PT.FREEPORT melakukan pengelolaan dan pemantauan terhadap air asam
tambang yang dihasilkan oleh kegiatannya. Sesuai rencan pengelolaan
overburden yang telah disetujui oleh pemerintah, PT.FREEPORT

25

Firman Syah NIM 2009130292


menempatkan overburden pada daerah-daerah terkelola di sekitar tambang
terbuka Grasberg.
5. Pengelolaan dan daur ulang limbah
Program-program pengelolaan lingkungan PT.FREEPORT mencakup seluruh
aspek kegiatannya bukan saja yang berhubungan dengan pertambangan.
Program-program minimilasasi limbah yang dilaksanakan mencakup
pengurangan dan penukaran dengan produk-produk ramah lingkungan. Bahan
yang dapat didaur ulang seperti aluminium, besi tua, dan baterai bekas didaur
ulang sesuai ketentuan pemerintah Indonesia. Mutu limbah cair dari seluruh
instalasi pengolahan limbah cair dipantau secara berkala untuk parameter pH
(kadar alkali), BOD (Biological Oxygen Demand), TSS (Total Suspended
Solids/total padatan tersuspensi) serta minyak dan lemak sesuai baku mutu.
6. Dalam program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan oleh
PT.FREEPORT, USAID dan keuskupan Timika maka didapatkan sebuah
model yang akan mengembangkan nelayan kepada kehidupan yang maju.
Kendala nelayan terberat adalah jika tidak ada pabrik es, tempat pelelangan
ikan yang memadai termasuk pelabuhan perikanan, sarana penyediaan bahan
bakar minyak (BBM) dan cold storage. Bersama vibizconsulting dibangun
sebuah model CSR yang belum pernah diterapkan sebelumnya. Nelayan akan
mampu bersaing karena pengembangan sumberdaya manusia menjadi titik
tolak berdirinya masyrakat nelayan yang tangguh. (www.vibislearning.com)

Kontroversi
Berdasarkan aktivitas CSR yang dilakukan perusahaan, sebetulnya sudah
ada usaha perusahaan untuk memperhatikan stakeholdernya namun masih
terdengar beberapa peristiwa yang terkait dengan pertentangan masyarakat dengan
perusahaan. Seperti tanggal 21 Februari 2006 terjadi pengusiran terhadap
penduduk setempat yang melakukan pendulangan emas dari sisa-sisa limbah
produksi PT.FREEPORT di Kali Kabur Wanamon. Pengusiran dilakukan oleh
aparat gabungan kepolisian dan satpam PT.FREEPORT. Akibat pengusiran ini
terjadi bentrokan dan penembakan. Penduduk sekitar yang mengetahui kejadian
itu kemudian menduduki dan menutup jalan utama PT.FREEPORT di Ridge

26

Firman Syah NIM 2009130292


Camp, di Mile 72-74, selama beberapa hari, yang merupakan jalan utama (akses
satu-satunya) ke lokasi pengolahan dan penambangan Grasberg. Setelah itu
banyak demo-demo dilakukan oleh masyarakat Papua untuk menutup Freeport.
Pada 17 Maret 2006, tiga warga Abepura, Papua, terluka akibat terkena
peluru pantulan setelah beberapa anggota brimob menembakkan senjatan ke udara
di depan Kodim Abupura, beberapa wartawan televisi yang meliput dianiaya dan
dirusak alat kerjanya oleh brimob. Tanggal 22 Maret 2006, lereng gunung di
kawasan pertambangan terbuka PT.FREEPORT Indonesia di Grasberg, longsor
dan menimbun sejumlah pekerja 3 orang meninggal dan puluhan lainnya cedera.
Pada 23 Maret 2006 Kementrian Lingkungan Hidup mempublikasikan temuan
pemantauan dan penataan kualitas lingkungan di wilayah penambangan
PT.FREEPORT Indonesia. Hasilnya Freeport dinilai tak memenuhi batas air
limbah dan telah mencemarkan air laut dan biota laut. Tanggal 18 April 2007
sekitar 9.000 karyawan Freeport mogok kerja untuk menuntut perbaikan
kesejahteraan. Perundingan akhirnya diselesaikan paa 21 April setelah tercapai
kesepakatan yang termasuk mengenai keniaikan gaji terendah. (www.Wikipedia)
Dari uraian di atas menunjukkan bahwa aktivitas CSR yang dilakukan oleh
perusahaan belum sepenuhnya mengena pada sasaran. Artinya perusahaan belum
benar-benar memperhatikan kepentingan stakeholder seperti masyarakat Papua,
belum memperhatikan keseimbangan lingkungan sekitarnya, dan terkesan hanya
menjadikan pelaksanaan CSR untuk kepentingan kegiatan perusahaan, terutama
dalam menarik simpati pemerintah dan PBB. Dan dari uraian tersebut dapat
diindikasikan bahwa perusahaan hanya menyenangkan shareholder dengan
meningkatkan laba perusahaan dari tahun ke tahun.
Disisi lain pemerintah kurang menjalankan pengawasan terhadap
PT.FREEPORT dengan baik, sehingga fungsi kontrol dari pemerintahan menjadi
kurang berfungsi. Salah satu penyebabnya adalah masih adanya kolosi yang
dilakukan dengan pejabat dan instansi keamanan. Disamping itu kepemilikan
saham oleh pemerintah Indonesia yang sangat kecil yaitu sebesar 9,36%
menjadikan pemerintah tidak memegang kendali dalam pembuatan keputusan
perusahaan.

27

Firman Syah NIM 2009130292


Akibat dari tidak adanya kendali dari pemerintah menjadikan masyarakat
sekitarnya tidak dapat menikmati kekayaan alam yang seharusnya dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarat diwilayah tersebut. Selain itu perusahaan
juga terkesan tidak benar-benar memperbaiki lingkungan tambang untuk ditanami
sesuai dengan kemauan pemerintah.
Menghadapi hal tersebut, maka penggunaan regulator bagi pelaksanaan
CSR disuatu perusahaan harus ditingkatkan, sebagai upaya menjaga
keseimbangan kepentingan antara sharholder dengan stakeholder. Walaupun
pemerintah telah mengupayakan beberapa undang-undang untuk pelaksanaan
pertambangan dan lingkungan hidup, seperti:
1. Undang-Undang Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan No. 11
Tahun 1967 Tanggal 2 Desember 1967.
2. Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
(UU-PLH)
3. Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang perseroan terbatas
4. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 23 tahun 2008 tentang
Pedoman teknis pencegahan dan atau kerusakan lingkungan hidup akibat
pertambangan emas masyarakat.

SIMPULAN IMPLIKASI DAN KETERBATASAN


Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa pelaksanaan Corporate
Sosial Responsibility (CSR) diperusahaan khususnya PT.FREEPORT Indonesia,
masih ditemui sejumlah kelemahan. Kelemahan yang muncul tersebut pada
dasarnya dipengaruhi oleh adanya kepentingan antara shareholder dengan
stakeholder. Dimana shareholder akan selalu berupaya untuk menghasilkan
keuntungan semaksimal mungkin dan cenderung kurang memperhatikan
kepentingan stakeholder sebagai pihak minoritas perusahaan. Selain itu pihak
stakehoder terutama pemerintah kurang memainkan perannya dalam melakukan
kontrol kepada perusahaan, sehingga dapat saja dikelabui oleh perusahaan dengan
memberikan sejumlah kegiatan yang terkait dengan Corporate Sosial
Responsibility (CSR) untuk sementara, dan selanjutnya tidak dijalankan.
Kurangnya kontrol dari pemerintah tersebut juga masih lemahnya undang-undang

28

Firman Syah NIM 2009130292


yang berlaku terutama untuk mengatur kesejahteraaan masyarakat sekitarnya
sebagai pihak yang juga berwenang atas kekayaan alam wilayah tersebut.
Dari pembahasan ini juga dapat diketahui bahwa Corporate Sosial
Responsibility (CSR) pada dasarnya harus timbul dari kesadaran individu masing-
masing manajemen perusahaan, karena dengan etika yang baik, akan
mempengaruhi sejumlah keputusan yang dibuat oleh manajemen perusahaan.
Disamping adanya regulator yang pasti untuk menjamin terlaksananya CSR
dengan sebaik-baiknya.
Penelitian ini masih memiliki keterbatasan, yaitu data yang diambil hanya
dari data sekunder, dari internet, yang kebenarannya masih harus ditinjau lagi.
Pengambilan data sekunder dikarenakan adanya keterbatasan waktu dalam
penyusunan artikel ini.

DAFTAR ACUAN
A.B Susanto, (2007), Corporate Social Responsibility, The Jakarta Consulting
Group, Jakarta.
Azwar, Saifuddin, (2007), Metode Penelitian, Edisi I, Cetakan I, Penerbit Pustaka
Pelajar, Yogyakarta.
Bateman, T.S., and Snell, S.A., (2002), Management: Competing in The New
Era (5th edition), McGraw Hill/Irwin NY.
Binhadi, (2007), Tiga pilar yang menegakkan GCG, Edisi Minggu Bisnis
Indonesia, 30 Desember.
Carroll, A. B, (1981), Business and Society (Little, Brown and Company, Boston)
Dalimunthe, Ritha F, (2004), Etika Bisnis, Universitas Sumatra Utara, Jurusan
Manajemen, Fakultas Ekonomi
Daniri, Mas Achmad, (2005), Good Corporate Governance, Konsep dan
Penerapannya Dalam Konteks Indonesia, PT. Ray Indonesia, Jakarta.
Darmadji, Tjiptono dan Hendy M. Fachruddin, (2001), Pasar Modal di
Indonesia, Pendekatan Tanya Jawab, Edisi Pertama, Salemba Empat,
Jakarta.
Echols, John M and Shadily, Hasan. 1992. Kamus Inggris Indonesia. Penerbit PT
Gramedia, Jakarta.

29

Firman Syah NIM 2009130292


Endro Sampurna, Muhammad, (2007), Lingkar Studi CSR: Si Seksi CSR: 95%
Retorik, 5% Aksi Nyata?, Jakarta, 4 Mei
Komenaung, Anderson Guntur, (2005), Etika Dalam Bisnis Anderson Guntur
Komenaung, Fakultas Ekonomi dan Magister Ekonomi Pembangunan
Universitas Sam Ratulangi, Manado Email: komeguntur@yahoo.com (2005)
Prasetyono dan Kompyurini, (2007), Analisis Kinerja Rumah Sakit Daerah
Dengan Pendekatan Balanced scorecard Berdasarkan Komitmen
Organisasi, Pengendalian Intern dan Penerapan Prinsip-Prinsip Good
Corporate Governance (ECG), (Survei Pada Rumah Sakit Daerah di
Jawa Timur) Simposium Nasional Akuntansi X, 26-28 Juli.
Roida, Herlina Yoka, Relevansi Program Corporate Sosial Responsibility Bagi
Wacara Publik: Menjadi baik pada saat sudah menjadi buruk, Jurnal The
2nd National Conference UKWMS, Faculty of Economics – Widya Mandala
Catholic University Surabaya, Indonesia, Surabaya, 6 September 2008
Silalahi, Gabriel Amin, (2003), Metodologi Penelitian dan Studi Kasus, Cetakan
Pertama, CV. Citramedia, Sidoarjo.
Sims, R. 2003. Ethics and Corporate Social Responsibility - Why Giants Fall.
C.T. Greenwood Press.
Susiloadi, Priyanto, (2008), Implementasi Corporate Social Responsibility
Untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan, Jurnal Jurusan
Administrasi Negara FISIP Universitas Sebelas maret Surakarta, ISSN,
1907-0489, Volumen 4 Nomor 2, Oktober 2008, Halaman 123-130
Vibislearning.com (2008), Corporate Social Resposibilty (CSR) PT.FREEPORT
Indonesia Mengembangkan Potensi Nelayan di Desa Kokonao Timika,
www.vibislearning.com. Diakses 27 April 2009
Wikipedia.org, (2008), Freeport Indonesia, www.wikipedia.org. Diakses 27 April
2009

30

Firman Syah NIM 2009130292