Anda di halaman 1dari 9

Biologi Umum II Masalah Lingkungan Secara Global, Nasional, dan Lokal by Drs.Nusyirwan,M.

Si 196006221988031002 Thursday, 28 October 2010, 09:42 PM Masalah Lingkungan Secara Global, Nasional, dan Lokal Dian Novia Sari, Ivan Lauren, Martha Aditya Dosen Pembimbing : Drs. M.Yusuf Nasution, M.Si Jurusan Pendidikan Biologi B - 09 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Medan Sesungguhnya masalah lingkungan telah ada sejak manusia menghui planet ini.Oleh sebab itu diperlukan adanya kebijakan untuk mengatasi masalah lingkungan tersebut. 1.MASALAH LINGKUNGAN SECARA GLOBAL Adapun masalah lingkungan secacra global adalah masalah lingkungan yang telah mendunia.masalah lingkungan secara global dibagi atas: a.Perubahaniklim dunia. b.Penipisan ozon c.deforestation dan desertification d.Keanekaragaman Biologi e.Laut dan Sumber Daya Air f. Pertumbuhan Penduduk g. Penyalahgunaan Narkotika dan Bahan Adiktif. a. Perubahan iklim dunia Iklim adalah kondisi penting yang menyebabkan perubahan di bumi.Menurut PBB perubahan iklim itu merupakan jenis perbuatan

manusia yang memberikan dampak bagi lingkungan. b.Penipisan ozon Awalnya,jumlah emisi dari industri kimia dapat menyebabkan penipisan lapisan ozon,bahwa lobang ozon yang paling luas ditemukan pada lapisan ozon di atas antartika. Selain itu,penipisan lapisan ozon juga disebabkan oleh penggunaan bahan yang mengandung gas CFC,pengunaan Ac dan alat industri lainnya. Kesimpulanya adalah bahwa penipisan lapisan ozon disebabkan meningkatnya gas rumah kaca seperti CFC,CO2,metan,dll.dalam prosesnya terjadilah dampak rumah kaca. c. Deforestation dan desertification Kehilangan hutan terjadi di seluruh dunia.Hal itu ditandai dengan pengurangan lahan hutan menjadi semacam gurun (penggurunan). d. Keanekaragaman Biologi Huatan belantara dipermasalahkan keberadadanya dari daerah pemukiman dan pengembangan pertanian atau perkebunan. Hutan pertahunya hilang 15% akibat erosi keanekaragaman jenis dan perubahanfungsi lahan. e. Laut dan Sumber daya Air Masalah pencemaran di Laut merupakan masalah global,sebab melampaui batas suatu Negara.Pada daerah laut masalah ditimbbulkan oleh pencemaran bahan kimia berbahaya.Sedangkan air tawar, air mengalami fluktuasi musiman dan tahunan sedangkan kualitas fisiknya berkurang. f. Pertumbuahn penduduk Pertumbuhan penduduk dunia dan keadaan ekonomi di Negara berkembang dan aktivitas merupakan penyebab penting pada perubahan lingkungan. Perusakan lingkungan terjadi akibat pengurasan SDA sebagai sumber energi bagi manusia. g. Penyalahgunaan Narkotika dan Bahan Adiktif Masalah lingkungan lainnya adalah penyalahgunaan Narkotika. Penyalahgunaan bahan itu telah sangat mengkawatirkan di kalangan

remaja. 2. MASALAH LINGKUNGAN SECARA NASIONAL Masalah lingkungan secara nasional dalah kerusakan lingkungan sebagai akibat dari human error dan pertumbuhan penduduk yang begitu pesat dan tidak sesuai dengan daya dukung sumber daya alam. Yang teermasuk human error adalh bencana banjir,perubahan iklim global,penipisan lapisan ozon ,limbah kimiawi dan zat beracun lainnya.Selain itu juga ada bencana alam yang yang belum terjangkau. 3, MASALAH LINGKUNGAN SECARA LOKAL Untuk pencemaran lingkungan masalah lingkungan secara Lokal adalh: a. pembuangan sampah rumah tangga ke sungai b. pembuangan limbah industri ke sungai c. pengaruh buangan air dari daerah pertanian d. hilangnya pelindung daerah berupa penyangga air e. pemantauan debit air sungai f. pendangkalan dan erosi tanah g. pengembangan yang kurang cocok pada sepanjang tebing sungai. Limbah perkotaan merupakan kotoran manusia dan limbah padat yang bersal dari kegiatan rumah tangga dan limbah komersil dari perhotelan dan kantor.Adanay pertumbuhan penduduk yang pesat dengan perubahan gaya gaya hidup membuat pemborosan dan asal main buang menambhan jumlah masalah lingkungan di Negara negar industri. Kajian mengenai pencemaran lingkungan di daerah Sumatera Utara ,khusunya kota medan adalah memperkircakan penyebab pencemaran berasal dari pencemaran udara. Pencemaran udara itu berasal dari : 1. cerobong asap kendaraan bermotor 2. pembakaran sampah rumah tangga 3. asap pembangkit tenaga listrik.

Selain masalah pencemaran udara,masalah pokok lainnya adalah masalah tata guna tanah.tat guna tanah perlu kesesuaian, pengelolaan yang baik sepeti penyiapan lahan bagi lereng yang berbukit,dampak penggunanaan pupuk dan pengolahan hasil industri pertanian.

LINGKUNGAN HIDUP

Lomba Tulis YPHL : Kerusakan Hutan, Akar Masalah Lingkungan Hidup, oleh : Novitasari.
Oleh : Novitasari | 30-Okt-2008, 15:04:13 WIB Lomba Tulis YPHL Kerusakan Hutan, Akar Masalah Lingkungan Hidup Oleh : NovitasariLingkungan hidup dan sumber-sumber kehidupan Indonesia berada di ambang kehancuran akibat over-eksploitasi selama 32 tahun. Berlakunya otonomi daerah dengan tidak disertai tanggung jawab dari pelaksana negara, rakyat semakin terpinggirkan, sementara perusakan lingkungan dan sumber kehidupan berlangsung di depan mata. Lingkungan hidup merupakan sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan mahluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang menetukan perikehidupan serta kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lainya. Hutan sebagai bagian lingkungan hidup merupakan asset pembangunan yang diperlukan untuk kesejahteraan manusia yang pemanfaatanya perlu lestari dan tidak menimbulkan degradasi lingkungan. Kondisi kerusakan hutan yang amat parah sekarang ini merupakan akar masalah lingkungan hidup, masalah ini merupakan ketimpangan yang terjadi dalam suatu ekosistem yang diakibatkan oleh terputusnya siklus biogeokimia karena ada unsur ekosistem yang hilang. Konversi hutan menjadi lahan non produktif terhadap lingkungan hidup merupakan salah satu penyebab timbulnya masalah seperti banjir, kekeringan, kemiskinan kelaparan merupakan masal rutin berbagai daerah di Indonesia dan menjadi masah global, adanya masalah-masalah ini merupakan cerminan dari pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang tidak memperhatikan prinsip ekosistem, yaitu keanekaragaman yang saling melengkapi, keterkaitan satu sama lain, keteraturan dan keseimbangan, harmonis dan stabil, serta bermanfaat. Masalah ini akan semakin bertambah besar seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, semakin banyak jumlah penduduk semakin meningkat deforestasi, semakin besar rasio penggunaan sumber daya alam tiap orang, serta semakin besar kerusakan yang ditimbulkan dari penggunaan sumber daya alam itu, dalam hal ini adalah hutan. Sebenarnya, akar masalah kerusakan hutan ini adalah perilaku yang tidak peduli dari pihak-pihak yang berkenaan langsung dengan hutan, baik pemerintah, instansi pemegang hak hutan, ataupun masyarakat sekitar yang menganggap hutan sebagai lahan kosong tanpa pemilik, sehingga mereka merasa bebas melakukan apa saja sesuai kehendak mereka. Kasus penebangan pohon dihutan sekedar digunakan sebagai kayu bakar. Padahal begitu pentingnya hutan sehingga kondisi hutan yang gundul akan berdampak sangat serius terhadap kelangsungan hidup semua komponen baik biotik (hidup) maupun abiotik (tidak hidup). Sehingga pentingnya keberadaan hutan hendaknya dipahami oleh setiap orang, sehingga diharapkan dengan adanya pemahaman dari masyarakat, perilaku dari masyarakat yang tidak memperhatikan kelestarian hutan akan berangsur berubah menjadi masyarakat yang berkepedulian terhadap hutan. Kepedulian ini harus ditanamkan sedini mungkin, melalui metode sesuai dengan tahap pemahaman setiap orang. Misalnya sejak dari taman kanak-kanak, anak ditanamkan peduli terhadap lingkungan hidup seperti belajar menanam bibit pohon, sehingga anak berharap saat mereka sudah dewasa, mereka akan melihat pohon itu menjadi pohon yang besar dan kuat, dengan begitu anak menjadi menyayangi tanamannya dan menjaganya dari kerusakan. Pentingnya hutan Sumber-sumber kehidupan adalah segala sumber hidup rakyat, baik sumber hayati maupun non-haya. Hutan merupakan salah satunya, sumber kehidupan ini mengalami ancaman karena tingginya konflik kepentingan untuk mengakses dan mengontrol sumber kehidupan tersebut. Sumber-sumber penghidupan diperlakukan sebagai aset dan komoditi yang bisa dieksploitasi untuk keuntungan sesaat dan kepentingan kelompok tertentu, akses dan kontrol ditentukan oleh siapa yang berkuasa. Salahnya, sumber penghidupan itu hanya dilihat dari nilai ekonominya saja, sumberdaya hutan disempitkan menjadi kayu, Sumber-sumber kehidupan tidak pernah dilihat sebagai sumber penghidupan yang utuh dimana fungsi ekologi, sosial, ekonomi dan budaya melekat padanya. Akibatnya pendekatan yang digunakan dengan kerangka eksploitasi tersebut, maka negara menghegemoni rakyat dalam pengaturan sumber-sumber kehidupan Keadaan ini kian memburuk seiring dengan permasalahan lingkungan dan sumber kehidupan yang tidak menjadi perhatian serius para pengambil kebijakan. Akibatnya, korban akibat konflik dan salah pengelolann kebijakan terus bertambah dan yang lebih menyedihkan sebagian besar adalah kelompok masyarakat kecil. Oleh karena itu pembuat kebijakan harus membuat kebijakan untuk mewujudkan pengelolaan sumber penghidupan yang lebih baik. Kasus-

kasus Berikut adalah kasus-kasus pengrusakan hutan yang terjadi baru-baru ini, kasus dipaparkan agar masyarakat mengetahui informasi yang sebenarnya serta mengetahui bagaimana parahnya eksploitasi hutan kita, sehingga inilah saatnya kita bersama-sama menghentikan eksploitasi itu demi kelangsungan hidup bersama. Di Indonesia, proses pengrusakan hutan alam, praktek pembakaran hutan dan lahan menempati urutan pertama di dunia. Hal ini membawa Indonesia menjadi negara dalam urutan ketiga pelepas emisi karbon terbesar di dunia setelah Amerika dan China. Kebakaran hutan/lahan yang terjadi pada tahun 1997-1998 telah mengakibatkan 10 juta hektar hutan Indonesia mengalami kerusakan dengan jumlah kerugian mencapai 3 milliar dolar Amerika dan telah melepas gas rumah kaca sebesar 0,81-2,57 Gg karbon. (fire bulletin, WWF) Dalam konteks lokal, Riau yang memiliki hutan seluas 6,4 juta hektar merupakan wilayah yang juga memiliki kerusakan hutan tertinggi di dunia yakni 5,6 % pertahun. Hanya dalam kurun waktu 17 tahun, Riau telah kehilangan hutan alam seluas 2,8 juta ha, dimana sebagaian besarnya merupakan kawasan hutan rawa gambut. Kawasan hutan rawa gambut merupakan ekosistem yang khas dan memiliki potensi yang sangat luar biasa, baik bagi masyarakat disekitar kawasan maupun bagi masyarakat global. Bagi masyarakat setempat, hutan rawa gambut memiliki fungsi sebagai tempat penyimpanan air (aquifer), sebagai penyangga ekologi, lahan pertanian, tempat berkembangbiaknya flora dan fauna, dan sebagai tempat pemenuhan kebutuhan papan. (WALHI) Penyusutan luas kawasan hutan produksi, terutama di bioregion Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi diikuti oleh perubahan penutupan lahan yang mengindikasikan adanya penurunan penutupan hutan yang cukup signifikan. Berdasarkan Statistik Kehutanan 1993, selama delapan tahun hingga tahun 2001 luas hutan telah mengalami penyusutan sebesar 32.2 juta hektar. Data resmi terakhir menyatakan bahwa kawasan hutan yang rusak di seluruh Indonesia mencapai 43 juta hektar, dengan laju deforestasi rata-rata 1,6-2.4 juta hektar/tahun. (WALHI) Luas hutan bakau berkurang dari 5.2 juta hektar pada tahun 1982 menjadi 3.2 juta hektar pada 1987 dan berkurang lagi menjadi 2.4 juta hektar pada 1993 akibat maraknya konversi bagi kegiatan budidaya. Ekosistem pesisir dan lautan yang meliputi sekitar 2/3 dari total wilayah teritorial Indonesia dengan kekayaan alam yang sangat besar, kegiatan ekonominya hanya menyumbangkan sekitar 12% dari total GDP nasional. (WALHI) Pemerintah saat ini sedang melakukan soft landing dengan memberikan jatah tebang tahunan sebesar 5,7 juta meter kubik dalam tahun 2004. Dan ironisnya, hingga saat ini Pemerintah belum memiliki sebuah mekanisme pengawasan dan penegakan hukum yang transparan dan akuntabel terhadap aktivitas perusahaan agar tidak melakukan penyimpangan dalam pelaksanaannya. Sementara itu, saat ini Pemerintah telah menyatakan akan melakukan pemberantasan penebangan liar dengan akan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Penebangan, Peredaran Dan Hasil Hutan Ilegal (Illegal Logging). Selain itu, pemerintah juga telah melaksanakan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan yang bertujuan untuk mengurangi lahan kritis di Indonesia. Kondisi ini sangat kontradiktif, dimana di satu sisi upaya perbaikan hutan, sementara di sisi lain pemerintah membiarkan terjadinya pengrusakan hutan. Pemerintah hanya mementingkan kepentingan industri saja, sedangkan kepentingan masyarakat yang sangat tergantung pada hutan baik secara langsung maupun tidak langsung selalu diabaikan. Seharusnya bagi Indonesia, hutan harus tetap dipandang sebagai sebuah kesatuan yang tak bisa dilepaskan dari kehidupan berbangsa dan bernegara, karena hutan memiliki fungsi ekologis, sosial, ekonomi, budaya dan politik bukan sekedar kemampuannya dalam menyerap karbon. Keberagaman fungsi hutan tersebut sangat memungkinkan Indonesia untuk bisa duduk setara dan menjadi pelopor bagi Negara-negara berkembang lainnya, dalam hal mendesak Negara-negara maju agar segera menurunkan emisi. Hutan Indonesia tidak akan pernah menjadi baik, apabila orientasi Pemerintah hanyalah mengejar pendapatan negara dan demi kepentingan pemodal. Langkah penyelamatan hutan, termasuk pemberantasan pembalakan haram dan merusak (illegal and destructive logging) hanya mungkin tercapai apabila ada kebijakan koheren antar sektor antar Departemen Kehutanan, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, aparat penegak hukum dengan pelibatan sejati seluruh pihak terutama komunitas-komunitas masyarakat yang tinggal di lingkungan hutan. Demikian diantaranya, akan berapa banyak lagi berita di Koran yang dicetak yang isinya tentang pengrusakan hutan, sadarilah bahwa hutan ini bukan untuk dieksploitasi demi kepentingan pribadi atau kelompok, hutan adalah sumber kehidupan seluruh manusia di dunia, setiap orang wajib menjaga dan melestarikannya, jadi bila ada seseorang yang telah melakukan pengrusakan hutan, itu artinya dia telah merugikan semua orang dunia, merampas oksigen yang seharusnya bisa dirasakan untuk hidup. Dampak kerusakan hutan Selain itu kerusakan hutan yang terjadi tidak berhenti begitu saja, masalah ini akan menimbulkan masalah global selanjutnya, diantaranya: 1. Global Warming Pemanasan global dapat dipahami sebagai kejadian meningkatnya temperatur/suhu ratarata atmosfer, laut dan daratan bumi, sebagai akibat dari efek rumah kaca (green house effect). Dimana radiasi dari sinar matahari masuk dan terjebak di dalam atmosfer akibat gas rumah kaca, sehingga menaikkan suhu permukaan bumi. Data menyebutkan bahwa temperatur rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 0.18 oC (1.33 0.32 F) selama seratus tahun terakhir. (Wikipedia). Pemanasan global merupakan topik yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan masyarakat, dari mulai anak sekolah dasar sampai para petinggi negara, namun tidak dipandang sebagai sebuah ancaman serius bagi keberlanjutan kehidupan yang harus segera ditangani. Bangsa ini selalu salah dalam mengartikan, memahami, dan menyikapi sebuah persoalan serius. Hal ini dikarenakan tidak tersedianya informasi yang benar dan jelas dalam format yang mudah dipahami dan terjangkau untuk diakses masyarakat. Maka, hendaknya masyarakat difasilitasi untuk dapat mengakses informasi itu. 2. Perubahan Iklim Perubahan iklim sudah mulai

dibicarakan pada pertengahan dekade 1980-an, berdasarkan laporan Intergovernmental Panel On Climate Change (IPCC), yang menyatakan bahwa telah terjadi perubahan iklim yang menunjukkan adanya dampak negatif terhadap semua aspek kehidupan manusia. Kemudian PBB menyikapinya dalam sebuah pertemuan umum pada tahun 1990 yang menghasilkan Kerangka Kerja Konvensi Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention On Climate Change, UNFCCC) dan membentuk Komite Negosiasi Antar Negara (Intergovermental Negotiating Committee, INC) 3. Menghancurkan habitat dan spesies langka. Kehidupan bumi dan laut sedang dirusak dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tingkat pemusnahan spesies tanaman dan binatang saat ini sekitar 1.000 kali lebih cepat dibandingkan pada zaman pra-manusia, dan diperkirakan akan menjadi 10.000 kali lebih cepat pada tahun 2050. 4. Terganggunya Kestabilan ekosistem Terjadinya konversi di hutan rawa gambut akan mempengaruhi sistem hidrologi pada hutan tersebut. Ketika pohon ditebang akan terjadi subsidensi sehinga tanah gambut yang sifatnya hidropobik tidak akan dapat lagi menyerap air. Subsidensi pada hutan rawa gambut menyebabkan bakteri pembusuk akan hidup ditanah gambut. Bakteri akan mendekomposisi tanah gambut yang didominasi oleh dahan, ranting dan pohon, CO2 yang terkandung didalam pohon tersebut akan teremisi keudara dan menutupi lapisan ozon yang akan menciptakan efek rumah kaca yang mengakibatkan terjadinya pemanasan global. Emisi karbon dioksida yang diakibatkan oleh terdekomposisinya tanah gambut yang diakibatkan berubahnya ekosistem hutan rawa gambut yag sudah mengalami subsidensi kuantitasnya akan melebihi emisi yang diakibatkan oleh bakteri bahan bakar fosil. (Canadel, 2006) Selain dampak diatas, masih ada dampak yang sudah menjadi masalah rutin di Indonesia yakni banjir, polusi udara, menipisnya persediaan air tanah dll. Stategi Jitu Menanggulangi Masalah Kerusakan Hutan Indonesia harus segera menghentikan praktek penebangan dihutan alam guna menghindari terjadinya kebangkrutan massal, mengurangi intensitas bencana ekologis yang terjadi dan keluar dari keterpurukan ekonomi. Melalui langkah sebagai berikut: 1. Perbaikan karakter manusia sebagai pelaku utama kerusakan hutan, melalui pendidikan sedini mungkin untuk menanamkan jiwa peduli terhadap hutan, pembentukan karakter yang berkualitas tidak hanya headstart namun juga heartstart yaitu menyeimbangkan antara pengetahuan dengan akhlak atau perilaku sehingga terbentuklah karakter manusia Indonesia yang tidak hanya cerdas tapi juga berbudi pekerti luhur yang memperhatikan kelestarian hutan, 2. Penyediaan akses informasi untuk masyarakat oleh pihak terkait, agar masyarkat dapat memahami kondisi global yang terjadi akibat pengrusakan hutan. Seperti kunjungan ke masyarakat sektar hutan dan berdiskusi bersama membahas isu global yang berkaitan dengan kelestarian hutan. 3. Adanya kerja sama dari semua pihak tekait pengelolaan hutan, karena kerusakan hutan tidak bisa diperbaiki secara pihak-sepihak, dan tidak bisa menyalahkan satu pihak saja, semuanya saling terkait. Antar komponen pengelola harus bahu-membahu menyusun strategi tiju perbaikan kerusakan hutan yang ada dan melestarikan hutan yang masih utuh. Diantaranya adalah: Penguatan perangkat hukum (legal framework) melalui pemenuhan hak atas lingkungan yang baik dan hak atas penghidupan yang layak sebagai wujud hak dasar warganegara, meratifikasi hak ekonomi, sosial dan budaya dalam Deklarasi Umum HAM, inisiatif Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Sumberdaya Alam dan melakukan kajian menyeluruh dan penundaan inisiatif peraturan sektoral yang terkait dengan sumberdaya alam, Penguatan kelembagaan (Institutional framework) . Intensitas pengurasan sumber daya alam dan perusakan lingkungan hidup dimungkinkan karena penataan kelembagaan di tingkat pemerintah tidak mendukung upaya-upaya perlindungan daya dukung ekosistem sumber daya alam dan fungsi lingkungan hidup. Seperti fungsi Kementerian Negara Lingkungan Hidup dan Bapedal sebagai lembaga yang memiliki kewenangan terbatas hanya pada policy formulation and policy implementation coordination, Hapuskan Soft Landing Pemberlakuan kebijakan yang bersifat mendesak (urgent action) melalui moratorium peraturan perundang-undangan sektoral, moratorium perizinan pemanfaatan sumber daya alam, pembentukan kelembagaan khusus yang bersifat independen untuk menyelesaikan kasus-kasus sengketa sumber daya alam dan melakukan evaluasi menyeluruh atas proses otonomi daerah dalam pengelolaan sumberdaya alam. Seperti bila pihak yang yang diberi wewenang HPH ternyata malah merusak keberlangsungan hutan, maka tanpa menunggu hak penguasaannya habis, segeralah cabut izin HPH, meminta pihak tersebut bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan hidup yang dilakukannya melalui rehabilitasi hutan dan daerah aliran sungai, mendesak dinas kehutanan setempat untuk sesegera mungkin melakukan langkah antisipasi terhadap pihak terkait yang telah melakukan penebangan liar (illegal logging) dengan tidak mengeluarkan surat SKSHH dan menyita hasil tebangannya. Sedangkan strategi perbaikan bagi lahan hutan yang sudah terlanjur rusak diantaranya dengan penghijauan kembali lahan gundul, namun laju penghijauan harus lebih cepat dibandingkan dengan laju penebangan hutan, karena proses penumbuhan sebuah pohon memerlukan waktu bertahun-tahun, sedangkan penebangan sebuah pohon dapat dilakukan hanya dalam waktu kurang dari lima menit dengan mesin pemotong. Selain itu pemanfaatan lahan konversi hutan hendaknya lebih dimanfaatkan untuk kelangsungan hidup manusia seperti untuk lahan pertanian, sehingga masih dapat menyerap air ketika hujan dibandingakn bila lahan tersebut dikonversi menjadi tempat bangunan permukiman. Maka sayangilah negeri yang kaya hutan ini, jangan tambah lagi kerusakan di hutan kita ini. Novitasari

PENGARUH MASALAH LINGKUNGAN GLOBAL TERHADAP MANUSIA (2)


(MASALAH LINGKUNGAN AIR)

RINGKASAN
Kebanyakan masalah lingkungan sekarang ini disebabkan oleh kegiatan sosial ekonomi manusia dan memburuknya lingkungan akibat kegiatan itu berpengaruh terhadap bumi secara keseluruhan baik pada masa sekarang maupun pada masa yang akan datang. Peningkatan emisi CO2 yang menyertai konsumsi bahan bakar fosil dan pemanasan global berakibat pada memburuknya kualitas air, meningkatnya limbah akibat perubahan gaya hidup, dan lain-lain. Hal itu merupakan contoh permasalahan lingkungan pada saat ini. Sekarang ini, pemanasan global adalah masalah yang paling berat di antara masalah lingkungan yang menyebabkan peningkatan suhu, perubahan iklim, meningkatnya permukaan air laut, perubahan ekologi yang memberikan pengaruh besar kepada dasar eksistensi manusia. Selain itu, masalah kerusakan lapisan ozon, hujan asam, oksidan fotokimia, dan lain-lain memberikan pengaruh kepada kesehatan dan lingkungan, bukan hanya masalah lingkungan udara, tetapi juga masalah lingkungan air dan tanah yang berada dalam kondisi yang tidak dapat diabaikan. Salah satu masalah lingkungan adalah limbah yang dihasilkan dari kegiatan sosial ekonomi saat ini, berupa produksi skala besar, konsumsi skala besar, limbah skala besar. Dari limbah kemudian timbul masalah pada bumi berupa perpindahan limbah beracun dari negara maju ke negara berkembang. Masalah lingkungan dapat berakibat pada rusaknya lingkungan alam yang berharga seperti hutan, sungai, pantai dan lain-lain, selain dapat merusak keragaman hayati yang sangat penting untuk manusia. Karena itu perlu upaya secara internasional untuk menghadapi masalah ini.

URAIAN
1. Masalah lingkungan air Air memberikan berbagai manfaat kepada manusia baik untuk minum, kehidupan seharihari, industri dan lain-lain. Dalam proses siklus alami air menguap menjadi hujan lalu turun ke bumi, tersimpan di hutan, dalam tanah, turun ke sungai dan terus mengalir ke laut, mengalami penguapan lalu menjadi hujan lagi. Dalam proses tersebut materi polutan dibersihkan. Selain itu, air di antara waktu dari udara ke sungai lalu ke laut berkali-kali dimanfaatkan dalam berbagai bentuk sebagai sumberdaya air, setelah itu dikembalikan lagi kepada siklus air. Proses ini memberikan pengaruh yang besar kepada air, dan karenanya memberikan pengaruh kepada tanah dan makhluk hidup. Apabila siklus yang sempurna tidak bisa terjadi, maka akan muncul berbagai kerusakan seperti ketidakstabilan debit air sungai (munculnya kerusakan kota akibat air,

berkurangnya debit air dari biasanya, dan lain-lain), berhentinya sumber air, memburuknya kualitas air, dan lain-lain. Polusi air akan memberikan pengaruh yang luas pada aliran sungai dan laut, ada juga yang terdeposit di dasar air dalam bentuk materi berbahaya dan memiliki pengaruh jangka panjang karena setelah beberapa tahun materi ini dapat menimbulkan gangguan pada kesehatan manusia. Melalui lautan polusi bisa menyebar ke seluruh dunia dan memiliki kemungkinan pengaruh kepada ekologi khususnya binatang air. 2. Masalah tanah Tanah merupakan faktor pembentuk lingkungan yang penting, menjadi dasar keberadaan makhluk hidup termasuk manusia, memiliki peran yang penting untuk siklus materi ataupun ekologi. Tanah memiliki fungsi untuk menghasilkan bahan makanan, kayu, membersihkan air dan menampung air tanah, menopang ekologi, dan lain-lain. Kerusakan tanah akan memberikan pengaruh kepada eksistensi manusia dan makhluk hidup lain dan juga ekologi. Dibandingkan dengan air atau udara, penyusun tanah sangat beragam dan respon terhadap materi berbahaya juga beragam. Pengaruh yang diberikan kepada manusia biasanya secara tidak langsung yaitu sebagai medium biologi atau melalui bahan pangan. Pengaruhnya biasanya bersifat lokal dan berbeda dari satu tempat ke tempat lain. Terdapat juga masalah berubahnya tanah/wilayah kering menjadi padang pasir. Menurut laporan UNEP tahun 1991 di dunia terdapat lebih dari 6,1 milyar hektar tanah kering, di antaranya 900 juta hektar merupakan wilayah yang sangat kering yaitu gurun pasir. Hal ini akan menjadi masalah yang besar karena sekitar 70% dari keseluruhan wilayah kering (3,6 milyar ha) atau sekitar luas permukaan bumi akan berubah menjadi gurun pasir. (Gambar 1,Gambar 2) 3. Masalah limbah Aktivitas sosial ekonomi saat ini menjadi produksi skala besar, konsumsi skala besar dan produksi limbah skala besar. Bersamaan dengan meningkatnya taraf hidup terjadi peningkatan volume limbah, beragamnya jenis sampah, dan berkurangnya kapasitas tempat pembuangan sampah. Hal ini meningkatkan beban lingkungan pada tiap tahap dari sumber sampai menjadi limbah. Dalam hal limbah berbahaya, banyak terlihat peningkatan kasus berupa berpindahnya lokasi pengolahan limbah. Karena beragamnya kualitas limbah dan meningkatnya volume limbah, tempat pengolahan limbah berpindah dari negara dengan biaya pengolahan tinggi ke negara dengan biaya pengolahan rendah, atau berpindah dari negara yang memiliki peraturan pengolahan limbah yang ketat ke negara yang peraturannya longgar. Ada kekhawatiran apabila negara penerima limbah tidak melakukan pengolahan dengan baik, maka negara tersebut akan menerima pengaruh pada lingkungan hidup atau ekologinya. Perpindahan limbah berbahaya ini menjadi masalah juga. Karena mulai terlihat adanya rencana untuk memindahkan limbah dari negara maju ke negara berkembang, maka dilakukan suatu diskusi secara internasional yang berpusat di UNEP, dan pada tahun 1989 di Basel, Swiss dibuatlah suatu konvensi yaitu Basel Convention on Control of Transboundary Movements of Hazardous Wastes and Their Disposal. 4. Masalah lingkungan alam

Luas hutan di bumi adalah sekitar luas daratan bumi, pada tahun 1995 luasnya sekitar 3,454 milyar ha. Menurut laporan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), hutan di bumi khususnya hutan tropis, di seluruh dunia berkurang sebesar 56,3 juta ha dari tahun 1990 hingga 1995. Rata-rata setiap tahun sekitar 11,3 juta ha hutan musnah, dan ini sekitar 30% dari luas wilayah Jepang. Luas hutan, sejak tahun 1990 hingga 1995 di negara maju (kecuali Rusia) bertambah 8,78 juta ha, tetapi di negara berkembang berkurang lebih dari 7 kali dari angka pertambahan hutan di negara maju atau sebesar 65,15 juta ha (rata-rata per tahun 11,03 juta ha), dan kecepatan musnahnya hutan semakin tinggi (Gambar 3, Gambar 4). Di antara negara berkembang, berkurangnya hutan tropis adalah yang paling cepat. Untuk wilayah hutan non tropis di negara berkembang, dari tahun 1990 hingga 1995 rata-rata setiap tahun luas hutan berkurang 430 ribu ha, sedangkan hutan tropis berkurang 12,59 juta ha. Penyebab berkurangnya hutan tropis di negara berkembang adalah masalah sosial ekonomi seperti kemiskinan, pertambahan penduduk, peraturan pertanahan, dan lain-lain. Karena tanaman mengubah CO2 di udara menjadi materi organik melalui fotomorfosis, hutan tropis memainkan peranan sebagai sumber penyerapan CO2. Berkurangnya hutan akan mempercepat laju pemanasan global. Selain itu disebutkan bahwa 50 80% dari makhluk hidup yang ada di bumi tinggal di hutan tropis, hutan tropis juga memiliki peran penting dalam mempertahankan keragaman hayati. Berkurangnya hutan tropis akan membuat punahnya binatang dan tumbuhan, serta mengakibatkan berkurangnya tempat penyemaian bibit. 5. Masalah keragaman tanaman dan satwa lain Menurut UNEP diperkirakan ada 3 11,1 juta jenis tanaman di bumi termasuk jenis yang belum dikenal. Saat ini yang sudah dikonfirmasi ada sekitar 1,75 juta jenis. Keragaman jenis seperti ini beserta keragaman pada level gen, keragaman ekologi, semuanya disebut sebagai keragaman hayati. Tetapi keragaman hayati ini musnah dengan cepat apabila kerusakan hutan terus berlanjut, diperkirakan sekitar 4 8% jenis flora yang hidup di hutan tropis akan punah. Saat ini laju musnahnya flora dan fauna sudah mulai melambat. Musnahnya jenis flora itu bukan karena proses alam, tetapi terutama karena aktivitas sosial ekonomi manusia. Untuk menjaga kelestarian tanaman dan satwa liar dibuatlah suatu konvensi yaitu Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora.

http://www.batan.go.id/ensiklopedi/01/01/02/03/01-01-02-03.html