Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

PENGUKURAN BERAT BADAN UNTUK PASIEN DENGAN DAN TANPA KONDISI KHUSUS

Oleh:

Alta Dwi Diniengga Brayien 125070307111007

GIZI KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Masalah gizi di Indonesia masih merupakan masalah nasional. Kelompok usia yang rentan masalah gizi antara lain usia balita yaitu bayi (usia kurang 1 tahun), anak usia 1 sampai kurang 2 tahun (baduta), anak pra-sekolah usia 2 sampai kurang 6 tahun. Penilaian status gizi merupakan landasan untuk memberikan asuhan gizi yang optimal kepada pasien. Dengan pemberian zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan pasien secara optimal atau dengan upaya pemenuhan kebutuhan pasien secara optimal atau dengan upaya pemenuhan yang sebaik-baiknya. (Naskah Pelatihan Latihan Nutirisi RS, 1995). Salah satu penilaiannya adalah antropometri. Penggunaan antropometri, khususnya pengukuran berat badan pernah menjadi prinsip dasar pengkajian gizi dalam asuhan medik. Untuk mengkaji status gizi secara akurat, beberapa pengukuran secara spesifik diperlukan dan pengukuran ini mencakup pengukuran berat badan, indeks massa tubuh (IMT). (Andy Hartono, 2000). Indikator ukuran antropometri digunakan sebagai kriteria utama untuk menilai kecukupan asupan gizi. Berat badan merupakan salah satu antropometri yang memberikan gambaran masa tubuh (otot dan lemak). Karena tubuh sangat sensitif terhadap perubahan keadaan yang mendadak, misalnya karena terserang penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan dan menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. Maka BB merupakan antropometri yang sangat labil (Reksodikusumo, dkk, 1989). Berdasarkan latar belakang diatas, saya berusaha menjelaskan mengenai cara mengukur berat badan pada pasien dengan atau tanpa kondisi spesifik yang termasuk dalam anthropometry assessment.

1.2 Rumusan Masalah Apakah pengertian dari Antropometri? Apakah pengertian dari berat badan sebagai salah satu parameter antropometri? Bagaimana prosedur alat untuk mengukur berat badan orang yang memiliki kondisi khusus maupun tidak?

1.2 Tujuan Untuk mengetahui pengertian Antropometri Untuk mengetahui pengertian berat badan sebagai salah satu parameter antropometri Untuk mengetahui prosedur alat untuk mengukur berat badan orang yang memiliki kondisi khusus maupun tidak?

1.3 Manfaat Agar masyarakat dapat mengetahui yang dimaksud Antropometri dan berat badan sebagai salah satu parameter antropometri Agar masyarakat dapat mengetahui cara mengukur berat badan orang yang memiliki kondisi khusus maupun tidak secara benar.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Antropometri Antropometri berasal dari kata anthropos dan metros. Anthoropos artinya tubuh dan metros artinya ukuran. Jadi antropometri adalah ukuran tubuh. Pengertian ini bersifat sangat umum sekali (Supariasa, dkk, 2002). Sedangkan sudut pandang gizi, Jelliffe (1966) mengungkapkan bahwa antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri sangat umum digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai ketidakseimbangan antara asupan protein dan energi. Gangguan ini biasanya terlihat dari pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh, seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh. Keunggulan Antropometri Beberapa syarat yang mendasari penggunaan antropometri adalah: a. Alatnya mudah didapat dan digunakan, seperti dacin, pita lingkar lengan atas, mikrotoa, dan alat pengukur panjang bayi yang dapat dibuat sendiri dirumah.

b. Pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan objektif c. Pengukuran bukan hanya dilakukan dengan tenaga khusus profesional, juga oleh tenaga lain setelah dilatih untuk itu. d. Biaya relatif murah e. Hasilnya mudah disimpulkan karena mempunyai ambang batas. f. Secara alamiah diakui kebenaranya. Kelemahan Antropometri a. Tidak sensitive b. Faktor diluar gizi (penyakit, genetik, dan penurunan penggunaan energi) c. Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempungaruhi presisi, akurasi, dan validitas pengukuran antropometri gizi. Sebagai indikator status gizi, antropometri dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter. Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia. Jenis parameter antropometri seperti umur, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, jaringan lunak.

2.2 Berat Badan Berat badan merupakan salah satu antropometri yang memberikan gambaran masa tubuh (otot dan lemak). Karena tubuh sangat sensitif terhadap perubahan keadaan yang mendadak, misalnya karena terserang penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan dan menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. Maka BB merupakan antropometri yang sangat labil (Reksodikusumo, dkk, 1989). Dalam keadaan normal dimana keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara intake dan keutuhan gizi terjamin, berat badan mengikuti perkembangan umur. Sebaiknya dalam keadaan abnormal, terdapat dua kemungkinan perkembangan BB, yaitu dapat berkembang lebih cepat atau lebih lambat dari keadaan normal. Berat badan biasanya diukur dengan 0,1 kg terdekat untuk orang dewasa dan 0,01 kg untuk bayi. Hal-hal yang harus dipertimbangkan kalau kita akan menggunakan berat badan sebagai satu-satunya kriteria untuk menentukan keadaan gizi seseorang : 1. Berat badan harus dimonitor untuk memberikan informasi yang memungkinkan intervensi preventif secara dini (dan intervensi guna mengatasi kecenderungan penurunan/ penambahan berat yang tidak dikehendaki)

2. Berat badan harus dievaluasi dalam konteks riwayat berat, baik gaya hidup maupun status berat terakhir. 3. Berat badan tidak memberikan informasi mengenai komposisi tubuh dan dengan demikian tidak efektif untuk menentukan resiko penyakit yang kronis. Namun IMT (indeks masa tubuh) merupakan sarana untuk mengukur resiko penyakit kronis,. 4. Pasien yang berukuran tubuh besar tapi bukan gemuk dapat memiliki nilai IMT di atas nilai standar, namun tidak ada hubungannya dengan peningkatan resiko untuk menderita gangguan gizi atau penyakit. 5. Pasien-pasien dapat memiliki defisiensi mikronutrien yang bermakna disamping deplesi lean body mass, khususnya selama menderita penyakit yang berat. Semua parameter harus dievaluasi dahulu dan kita tidak bolehkan cepat-cepat berasumsi bahwa kelebihan berat badan sama dengan kelebihan gizi.

2.3 Mengukur berat badan yang tidak memiliki kebutuhan khusus Pada bayi/balita Pada masa bayi-balita berat badan dapat dipergunakan untuk melihat laju pertumbuhan fisik maupun status gizi, kecuali terdapat kelainan klinis (dehidrasi, asites, edema, atau adanya tumor). Dapat digunakan sebagai dasar perhitungan dosis obat dan makanan. Berikut ini merupakan jenis alat timbang yang digunakan untuk mengukur berat badan bayi : a. Dacin Dacin merupakan alat yang dapat memenuhi persyaratan untuk digunakan dalam penimbangan berat badan pada anak balita. Dacin digunakan sebaiknya minimum 20 kg dan maksimum 25 kg. Prosedur :

kesetimbangan dacin harus dicek. Dalam keadaan tanpa beban dacin harus menunjukkan angka 0 (nol). Pada saat akan dipakai, dacin harus digantung dengan ikatan yang kuat agar tidak terlepas pada saat menimbang. Dapat dites dengan menarik kuat-kuat batang dacin yang telah digantung ke bawah dan ikatan tidak boleh terlepas atau putus. Setelah alat timbang lainnya (celana atau sarung timbang) dipasang pada dacin, lakukan peneraan yaitu dengan cara

menambah beban pada ujung tangkai dacin, misalnya plastik berisi pasir. Usahakan letak batang timbangan setinggi mata. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menimbang bayi adalah: Pakaian dibuat seminim mungkin, sepatu, baju/pakaian yang cukup tebal harus ditanggalkan. Bayi ditidurkan dalam kain sarung. Seimbangkan dacin yang sudah dibebani sarung timbang dengan cara memasukkan pasir ke dalam kantong plastik. Geserlah anak timbang sampai tercapai keadaan setimbang, kedua ujung jarum terdapat pada satu titik. Lihatlah angka pada skala batang dacin yang menunjukkan berat badan bayi. Catat berat badan dengan teliti sampai satu angka desimal. Misalnya 7,5 kg. Bila memungkinkan, ulangi penimbangan sekali lagi, bila hasil pengukuran 1 dan 2 berbeda >0,5 kg, lakukan pengukuran yang ke-3, jika perbedaannya <0,5 kg maka dihitung rata-rata dari kedua penimbangan kemudian catat.

Dalam penimbangan berat badan pada anak balita langkah-langkahnya sama seperti langkah umum yang tertera di atas dan dapat menggunakan celana timbang, kain sarung, atau keranjang. Kesulitan-kesulitan dalam menimbang berat badan anak ialah anak terlalu aktif, sehingga sulit melihat skala. Dan selain itu, anak biasanya menangis.

b. Timbangan bayi OneMed Timbangan bayi OneMed digunakan untuk mengukur berat badan bayi dari sejak baru lahir sampai berat badan maksimal 20kg. berikut adalah langkahlangkah dalam menggunakannya :

Penyiapan alat ukur :

1. Letakkan alat timbang di bagian yang rata/datar dan keras 2. Pastikan alat timbang menunjukkan indeks pada posisi 0 sebelum melakukan penimbangan dengan memutar knob pada timbangan. 3. Pastikan bahwa anak tidak menggunakan pakaian tebal, pampers, popok, selimut, dll, agar mendapatkan berat badan anak seakurat mungkin 4. Letakkan anak pada timbangan dengan posisi tidur telentang. 5. Catat catat hasil penimbangan tersebut.

c. Timbangan injak digital (digital bathroom scales) Timbangan berat badan digital sangat sederhana penggunaannya. Alat ini digunakan baik untuk mengukur berat badan orang dewasa, anak yang sudah bisa berdiri maupun bayi, hanya cara pengukurannya saja yang berbeda. Berikut ini adalah langkah-langkah dalam menggunakan

timbangan digital : Penyiapan alat ukur :

1. Letakkan alat timbang di bagian yang rata/datar dan keras 2. Jika berada di atas rumput yang tebal atau karpet tebal atau permadani, maka pasang kaki tambahan pada alat timbangan untuk bisa mengatasi daya pegas dari alas yang tebal 3. Pastikan alat timbang menunjukkan angka 00.00 sebelum melakukan penimbangan dengan menekan alat timbang tersebut. 4. Pastikan bahwa anak tidak menggunakan pakaian tebal, pampers, popok, selimut, dll, agar mendapatkan berat badan anak seakurat mungkin atau subjek yang akan ditimbang diminta membuka alas kaki dan jaket serta mengeluarkan isi kantong yang berat seperti kunci, dan lainnya. Cara pengukuran berat badan :

I.

Anak bisa berdiri 1. Ketika alat timbang sudah menunjukkan angka 00.00 mintalah anak tersebut untuk berdiri di tengah-tengah alat timbang. 2. Pastikan posisi badan anak dalam keadaan berdiri tegak, mata/kepala lurus ke arah depan, kaki tidak menekuk. 3. Setelah anak berdiri dengan benar, secara otomatis alat timbang akan menunjukkan hasil penimbangan digital dan catat hasil penimbangan tersebut.

II.

Anak belum bisa berdiri 1. Jika anak belum bisa berdiri, maka minta ibu/pengasuh untuk menggendong tanpa selendang. Ketika alat timbang sudah menunjukkan angka 00.00 mintalah ibu dengan menggendong sang anak untuk berdiri di tengah-tengah alat timbang. 2. Pastikan posisi ibu, badan tegak, mata lurus ke depan, kaki tidak menekuk dan kepala tidak menunduk ke bawah. Sebisa mungkin bayi/anak dalam keadaan tenang ketika ditimbang. 3. Setelah ibu berdiri dengan benar, secara otomatis alat timbang akan menunjukkan hasil penimbangan digital. Mintalah ibu tersebut untuk turun dulu dari timbangan dan pewawancara harus catat hasil penimbangan tersebut 4. Ulangi proses pengukuran, kali ini hanya ibu saja tanpa menggendong anak

Keuntungan penggunaan timbangan berat badan digital :

Dapat mengukur berat badan dengan mudah, cepat dan akurat, sebab ketelitian timbangan 50 gram. Mengurangi risiko penularan infeksi kulit dan cedera pada balita. Mengurangi rasa takut pada anak-anak yang tidak senang dengan timbangan gantung.

Keterbatasan penggunaan timbangan berat badan digital : Kurang dapat digunakan pada tempat dengan pencahayaan kurang. Penyimpanan harus dengan benar dengan menggunakan karton fiksasi untuk menjaga agar tidak terguncang. Oleh sebab itu harus disimpan dan diperlakukan dengan hati-hati. Memerlukan tempat dengan permukaan lantai harus datar dan rata.

d. Timbangan injak pegas (bathroom scales) Prinsip pada timbangan injak pegas sama dengan timbangan injak digital, hanya saja tingkat keakurasiannya lebih tinggi pada timbangan digital.

2.4 Pasien dengan kondisi khusus Bagi pasien yang berkursi roda dan tidak dapat berdiri, terkena penyakit oedema ataupun asitosis, maka ada cara lain untuk mengetahui berapa berat badannya yaitu dengan cara menimbang beserta kursi rodanya dan menimbangnya dengan pegangan untuk sandaran berdiri pasien.
a. wheelchair scale

Cara menimbang responden bersama kursi roda tahap-tahapnya adalah: Mengaktifkan timbangannya dan memastikan bahwa timbangan

menunjukkan angka nol. Mempersiapkan kursi roda yang sudah diketahui beratnya dengan menggunakan alat yang sama.

Meminta responden pindah ke kursi roda yang telah dipersiapkan sebelumnya. Memindah responden beserta kursi roda ke alat timbangan tepat di tengah timbangan.

Mengunci roda pada kursi roda agar tidak bergeser. Meminta responden agar tetap tenang. Mencatat angka yang keluar dan pastikan angka itu dalam keadaan statis. Menghitung berat badan responden dengan rumus : Berat Badan Responden = Berat Orang dan Kursi Roda Berat Kursi Roda

3 Pasien yang tidak bisa duduk maupun berdiri Cara menimbang responden yang tidak dapat duduk ataupun berdiri adalah dengan menggunakan timbangan khusus yaitu pod scale, flush-mounted floor scale ,dan sling scale.
a. Pod scale

Pod Scale adalah timbangan berat badan yang menggunakan sebuah alas yang berkakikan sepatu roda yang sudah diganjal dan digunakan sebagai penyangga

tempat tidur. Alat ini mampu menahan beban hingga 600 kg Pada alat ini tempat tidur tidak akan bergeser sekalipun sehingga nilai yang keluar adalah nilai statis.

b. Flush-mounted floor scale

Flush-mounted floor scale adalah timbangan yang dapat digunakan untuk responden yang menggunakan kursi roda yaitu dengan cara berdiri karena ada pegangannya ataupun duduk di kursi roda maupun terbaring di tempat tidur yang memiliki roda. Prinsip penggunaanyapun sama yaitu dengan menimbang responden langsung apabila mampu berdiri dengan pegangan, dan menimbang responden beserta kursi roda ataupun tempat tidur dengan kaki roda yang telah diketahui beratnya dengan alat yang sama. Karena alat ini digunakan untuk kursi roda dan tempat tidur yang memilik roda maka hanya mampu menahan beban hingga 375 kg sehingga harus menggunakan tempat tidur yang tidak terlalu berat. . Pada umumnya alat ini masih jarang digunakan di rumah sakit di Indonesia karena selain mahal pencarian spare part dan tidak terlalu diperhatikan oleh pemerintah.

c. Sling scale

Sling scale adalah timbangan dengan cara menimbang responden di sebuah kain. Jadi responden harus dipindah ke sling scale dengan manual. Cara ini tergolong sulit karena responden harus dipindah dengan manual dan membutuhkan tenaga lain dan tidak dapat dilakukan penimbangan pada pasien yang mengalami luka pada bagian punggung karena akan menambah rasa sakit jika tidak dipindah secara baik dan benar.

d.

Memperkirakan Berat Badan Berdasarkan Panjang Badan

Bangun Tubuh

Laki-laki

Wanita

Sedang

48 kg untuk 152 cm yang pertama selanjutnya tambahkan 2,7 kg untuk setiap 2,5 cm tambahan

45,5 kg untuk 152 cm yang pertama selanjutnya tambahkan 2,3 kg untuk setiap 2,5 cm tambahan

Kecil

Kurangi 10%

Kurangi 10%

Besar

Tambahkan 10%

Tambahkan 10%

Sumber: Andy Hartono, 2000

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Antropometri berasal dari kata anthropos dan metros. Anthoropos artinya tubuh dan metros artinya ukuran. Jadi antropometri adalah ukuran tubuh. Jelliffe (1966) mengungkapkan bahwa antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Berat badan merupakan salah satu antropometri yang memberikan gambaran masa tubuh (otot dan lemak). Karena tubuh sangat sensitif terhadap perubahan keadaan yang mendadak, misalnya karena terserang penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan dan menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. Mengukur berat badan bayi dengan menggunakan alat dacin, timbangan injak digital (digital bathroom scales), timbangan injak pegas (bathroom scales), OneMed. Mengukur berat badan bagi pasien yang duduk di kursi roda atau pasien yang tidak dapat duduk maupun berdiri adalah dengan menggunakan wheelchair scale, Pod scale, Flush-mounted floor scale, Sling scale maupun memperkirakan berat badan dari tinggi badan.

3.2 Saran Penggunaan antropometri, khususnya pengukuran berat badan pernah menjadi prinsip dasar pengkajian gizi. Pengukuran berat badan dengan beraneka macam jenis alat untuk pasien yang berkebutuhan khusus maupun tidak belum tentu akurat dan sama antara hasil dari satu alat dengan alat yang lainnya, oleh sebab itu sebaiknya pengukuran dilaksanakan dengan satu alat saja dan dengan waktu yang sama setiap pengukurannya trutama pagi sebelum makan dan minum.

DAFTAR PUSTAKA

Caballero, Benjamin, Lindsay Allen, Andrew Prentice.2002. Encyclopedia of Human Nutrition vol 2 suyatno.2009. Antropometri sebagai indicator status gizi . Fkm undip http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/11/jtptunimus-gdl-s1-2008-irwanrusta-539-3babii.pdf diakses tanggal 13 Februari 2013

2011.Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Jakarta : Kementrian Kesehatan RI (http://gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2012/11/buku-sk-antropometri-2010.pdf diakses tanggal 13 Februari 2013) http://microdata.worldbank.org/index.php/catalog/1049/download/21036 diakses tanggal 14 Februari 2013 http://indonesia.digitaljournals.org/index.php/mejidn/article/download/1014/1014 diakses tanggal 14 Februari 2013 http://staff.ui.ac.id/internal/140102741/material/PENILAIANSTATUSGIZIBALITAA NTROPOMETRI.pdf diakses tanggal 15 Februari 2013 susilowati.2008.Pengukuran status gizi dengan antropometri. STIK Jendral Ahmad Yani (http://www.scribd.com/doc/52164442/antropometri-gizi-3 diakses tanggal 16 Februari 2013) http://www.scribd.com/doc/92584322/Learning-Issues diakses tanggal 16 Februari 2013 http://suaraterbaru.com/pengukuran-anthropometrik diakses tanggal 19 Februari 2013 2002.SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional).Jakarta : BPS (http://www.rand.org/content/dam/rand/www/external/labor/bps/manualpdf/susenas/ind o_susenas02manualVI.pdf diakses tanggal 19 Februari 2013) http://www.republika.co.id/berita/trendtek/elektronika/09/08/20/70430-kursi-timbanguntuk-pasien-sulit-berdiri diakses tanggal 19 Februari 2013
Atman, Gaylene Bouskan.2002.Fundamental and Advanced Nursing Skills third edition Applications of clinical nutrition oleh Frances J. Zeman dan Denise M. Ney tahun 1988.