Anda di halaman 1dari 24

Penentuan pH Larutan

Written on 10.48 by Analisis Media


Bagaimana kita mengetahui konsentrasi ion H+ dan OH- dalam air? Seorang biokimiawan Denmark
Soren Sorensen (1909) mengajukan cara pengukuran yang lebih praktis yang disebut pH. Ia
mendefinisikan pH suatu larutan sebagai logaritma negatif dari konsentrasi ion hidrogen (dalam mol per
liter) :
Karena pH pada dasarnya hanyalah suatu cara untuk menyatakan konsentrasi ion hidrogen, larutan
asam dan basa pada 25oC dapat identifikasi berdasarkan nilai pH-nya seperti berikut :
Larutan asam : [H+] > 1,0 x 10-7 M, pH < 7
Larutan basa : [H+] < 1,0 x 10-7 M, pH > 7
Larutan netral : [H+] = 1,0 x 10-7 M, pH = 7
Skala pOH yang analog dengan skala pH dapat didefinisikan sebagai :
Lantas, bagaimana hubungan antara pH dan pOH? Coba kaitkan dengan konstanta hasil kali ion untuk
air. Kita ketahui bahwa konstanta hasil kali ion untuk air adalah :
[H+] [OH-] = Kw = 1,0 x 10-14
Dengan menghitung logaritma negatif di kedua sisi, maka diperoleh :
- (log [H+] + log [OH-]) = - log (1,0 x 10-14)
- (log [H+] - log [OH-]) = 14,00
Dari definisi pH dan pOH maka diperoleh :
Asam Kuat dan Asam Lemah
Pada senyawa asam kuat, pH dapat ditentukan dengan mengetahui konsentrasi asam pada larutan :
Seperti penjelasan sebelumnya mengenai asam kuat, maka asam lemah tidak mengalami ionisasi
sempurna dalam air. Jika asam monoprotik lemah kita asumsikan sebagai HA, maka ionisasinya dalam
air adalah :
HA (aq) H+ (aq) + A- (aq)
Konstanta kesetimbangan untuk ionisasi asam ini adalah:
Karena harga derajat ionisasi asam lemah sangat kecil (mendekati nol), konsentrasi asam dalam larutan
dianggap tetap sama. Karena [H+] = [A-], maka :
Sebagai contoh, untuk menentukan pH larutan HCl 0,001 M:
Dalam air, HCl akan terionisasi sempurna menjadi ion H+ dan Cl-.
HCl(aq) H+(aq) + Cl-(aq)
Maka,
Sedangkan untuk menentukan pH larutan CH3COOH 0,001 M (Ka=1x10-5):
Dalam air, CH3COOH terionisasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-.
CH3COOH(aq) H+(aq) + CH3COO-(aq)
Maka,
Basa Kuat dan Basa Lemah
Sama halny dengan asam kuat, maka [OH-] pada basa kuat dapat ditentukan dengan:
Sedangkan basa lemah MOH yang tidak mengalami ionisasi sempurna dalam air memiliki reaksi
kesetimbangan:
MOH(aq) M+(aq) + OH-(aq)
Sehingga memiliki tetapan kesetimbangan:
Sama halnya dengan asam lemah, karena harga derajat ionisasi basa lemah sangat kecil (mendekati nol),
konsentrasi basa dalam larutan dianggap tetap sama. Karena [M+] = [OH-], maka :
Sebagai contoh, untuk menentukan pH larutan NaOH 0,001 M:
Dalam air, NaOH akan terionisasi sempurna menjadi ion Na+ dan OH-.
NaOH(aq) Na+(aq) + OH-(aq)
Maka,
Sedangkan untuk menentukan pH larutan NH4OH 0,001 M (Kb=1x10-5):
Dalam air, NH4OH terionisasi sebagian menjadi ion NH4+ dan OH-.
NH4OH(aq) NH4+(aq) + OH-(aq)
Mak



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kegiatan belajar mengajar di kelas adalah suatu penjelasan yang diberikan guru kepada
anak didik mengenai sesuatu hal (ilmu pengetahuan). Pemberian penjelasan tersebut dapat
dilakukan oleh guru secara sendiri, hal ini dapat juga dilakukan dengan bantuan siswa lainnya.
Penjelasan oleh guru dimaksudkan untuk mengorganisasikan pelajaran secara sistematik agar
dapat dengan mudah dipahami bagi anak didik.1[1]
Dalam hal ini guru mengajar hanya memberikan informasi pengetahuan saja dan siswa
hanya menerimanya tanpa memberikan respon. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar
seperti inilah guru yang berpikir aktif, guru merupakan sumber pengetahuan sedangkan anak
didik merupakan objek pendengar saja, sehingga tidak jarang terlihat anak didik menjadi pasif
dan sulit dalam melaksanakan interaksi dengan lingkungannya baik itu dengan guru maupun
dengan sesama anak didik.
Salah satu usaha dalam rangka pembinaan dan pengembangan sekaligus peningkatan
prestasi belajar siswa adalah melalui disiplin terhadap hak-hak pribadinya sebagai seorang siswa
sekaligus terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan hak dan kewajibannya dalam belajar.
Disiplin sebagai peraturan yang berisi norma untuk mengatur dan menegakkan disiplin sekaligus
memelihara tugas dan kewajiban yang dapat mengarahkan seseorang ke arah yang lebih baik.
Tercapainya keberhasilan dalam suatu pekerjaan seseorang harus mempunyai disiplin sekaligus
mematuhi disiplin tersebut sebagaimana yang telah ditetapkan, apakah itu dalam lingkungan
pekerjaan, sekolah, rumah, masyarakat dan sebagainya. Demikian juga bagi seorang siswa yang
tugas dan kewajibannya adalah belajar, tentunya harus mematuhi peraturan-peraturan atau
disiplin belajar yang telah ditetapkan di sekolah.

1[1] Prayetno, Pengembangan Profesi Guru, PPs-LPTK, Padang , 2004, hlm, 12
Keberhasilan seseorang dalam belajar termasuk memahami pelajaran dan adanya kemampuan
menghafal pelajaran dapat diukur dengan kepatuhan siswa itu sendiri dalam menjalankan
peraturan-peraturan atau yang lebih dikenal dengan disiplinnya seorang siswa dalam mematuhi
aturan yang ada, sebaliknya seorang siswa yang tidak mematuhi disiplin dalam belajar dapat
menurunkan prestasi belajar.
Penerapan disiplin belajar merupakan suatu keharusan yang dapat membantu untuk
memperlancar proses belajar mengajar, tanpa ada disiplin dalam suatu kegiatan belajar maka
proses pembelajaran tidak akan dapat berjalan dengan baik. Bahkan siswa akan mengikuti proses
belajar mengajar tanpa ikatan dan peraturan sehingga hasil belajar yang diharapkan tidak akan
tercapai secara maksimal.
M.Ngalim Purwanto mengatakan bahwa :
Sekolah adalah salah satu dari bentuk lembaga pendidikan yang didirikan masyarakat atau
Negara selain lembaga pendidikan di keluarga dan masyarakat. Sekolah sangat membantu untuk
mempersiapkan manusia yang mempunyai bekal kecakapan dan skill. Pendidikan di sekolah
disebut pendidikan formal karena pendidikan yang mempunyai dasar tujuan, isi, metode, alat-alat
atau sarana dan prasarana yang disusun secara sistematis dan standarisasi.2

Karena itu untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan, maka kepatuhan terhaap disiplin
menjadi sangat penting sebagaimana pernyataan di bawah ini :
Dalam penerapan disiplin sekolah peranan guru sangat penting karena guru dapat menjadi
model. Untuk siswa mempunyai disiplin yang tinggi, maka guru harus mampu menjadi contoh
atau panutan bagi siswa-siswanya. Guru juga harus mampu menegakkan disiplin dan tidak
merusaknya sendiri. Di samping itu guru juga harus mampu mengambil keputusan secara
bijaksana dan konsisten untuk memberikan ganjaran dan hukuman kepada para siswa yang
pantas mendapatkannya.3

Disiplin sekolah diterapkan pada seluruh yang ada di lingkungan sekolah seperti kepala
sekolah, pegawai, guru - guru dan siswa - siswa. Salah satunya disiplin yang diterapkan yaitu
disiplin waktu, disiplin belajar, dan disiplin dalam pa kaian seragam. Penegakan disiplin tidak
hanya berlaku secara umum dan di sekolah. dalam Islam sendiri masalah disiplin sangat
diiperlukan terutama dalam ibadah. Sebagaimana yang dijelaskan tentang disiplin waktunya
sebagaimana Iirman Allah SWT dalam surat An - Nisa` ayat 103 .

Artinya:

2 M.Ngalim Poerwanto, Ilmu Pendidikan Remaja, Karya CV, Bandung, 1986, hlm.149.
3 M.Gunarsih, Disiplin Sekolah, Aneka Ilmu,. Surabaya, 1995, hlm.45.
Sesungguhnya sholat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang
beriman. 4
Dari contoh telah jelas terlihat disiplin waktu dalam menjalankan ibadah sesuai dengan
aturan yang telah ditentukan. Tercapainya keberhasilan dalam suatu pendidikan harus mempuyai
disiplin dan mematuhinya sebagaimana yang telah ditetapkan baik itu di lingkungan pendidikan,
sekolah, rumah, masyarakat dan lain sebagainya. Demikian juga bagi seorang siswa yang
mempunyai tugas dan kewajibannya adalah belajar tentu harus mematuhi peraturan-peraturan
atau disiplin sekolah yang telah ditetapkan di sekolah.
Peran disiplin sekolah dapat membantu untuk memperlancar proses belajar mengajar
tanpa ada disiplin proses belajar mengajar tidak akan dapat berjalan dengan baik dan yang
diharapkan tidak akan tercapai secara maksimal. Akan tetapi jika disiplin diterapkan dalam
sekolah besar kemungkinan keberhasilan akan tercapai.
Namun persoalan mendasar yang penulis analisa sementara, khususnya di sekolah Madrasah
Tsanawiyah Sabungan, adalah bagaimana peranan disiplin sekolah terutama dalam
meningkatkan prestasi belajar siswa, maka penulis mencoba mengadakan penelitian dengan
mengangkat sebuah judul yaitu : PERANAN DISIPLIN SEOLAH DAN PENGARUHNYA
TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA DI MADRASAH ALIYAH SINAR HUSNI MEDAN.

B. Identifikasi Masalah
Adapun yang menjadi identifikasi masalah dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai
berikut :
1. Disiplin belajar diterapkan untuk menciptakan berjalannya proses belajar mengajar yang baik.
2. Prestasi belajar siswa dapat meningkat bila disiplin belajar diterapkan dengan baik.

4 Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemah, , PT. Bumi Restu Jakarta 1976 hal. 138.
3. Disiplin belajar perlu mendapat perhatian yang serius dari pihak sekolah agar siswa dapat
belajar dengan baik.

C. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana gambaran masalah disiplin sekolah yang diterapkan di Madrasah Aliyah Swasta
Sinar Husni Medan ?
2. Apa-apa sajakah bentuk disiplin yang diterapkan di Madrasah Aliyah Swasta Sinar Husni
Medan ?
3. Bagaimanakah pengaruh disiplin sekolah terhadap prestasi belajar di Madrasah Aliyah Swasta
Sinar Husni Medan ?

D. Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk pengaruh
disiplin yang terdapat di sekolah. Dengan demikian diharapkan untuk memperoleh data-data
informasi yang jelas dan merupakan fakta yang dari pemecahan permasalahan yang ditemui
secara lebih terperinci. Tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah:
4. Untuk mengetahui gambaran secara rinci tentang masalah disiplin yang dilaksanakan di sekolah
Madrasah Aliyah Swasta Sinar Husni Medan.
5. Untuk mengetahui bentuk-bentuk disiplin apa saja yang diterapkan di Madrasah Aliyah Swasta
Sinar Husni Medan
4. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh disiplin sekolah terhadap prestasi belajar di Madrasah
Aliyah Swasta Sinar Husni Medan

E. Kegunaan Penelitian
Sebagaimana telah dikemukakan dalam tujuan penelitian bahwa penelitian ini bertujuan
untuk menemukan jawaban terhadap permasalahan dalam penelitian. Oleh karena itu hasil
penelitian ini diharapkan dapat berguna:
1. Penelitian ini berguna sebagai bahan perbandingan bagi mahasiswa tentang disiplin di kalangan
sekolah sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa.
2. Sebagai sarana untuk menambah wawasan pengetahuan khususnya bagi penulis yang akan
bertugas di bidang pendidikan.
3. Penelitian ini berguna sebagai gambaran bagaimana bentuk pembinaan disiplin dalam membantu
keberhasilan anak didik.

F. Batasan Istilah
Untuk mempermudah dalam memahami maksud judul penelitian, terlebih dahulu akan
dijelaskan pengertian beberapa istilah yang terdapat judul penelitian yaitu:
1. Peranan adalah suatu tindakan yang dilakukan dalam suatu peristiwa.5 Maksudnya adalah
keikutsertaan dalam menyelesaikan suatu peristiwa.
2. Disiplin (discipline) tata tertib, kepatuhan.6 Maksudnya adalah melatih dan membiasakan diri
dalam mematuhi peraturan yang telah ditentukan.
3. Sekolah adalah lembaga pendidikan untuk terjadinya proses belajar mengajar.
4. Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu/ orang, benda, dan yang ikut
membentuk perbuatan seseorang.7

5 Hasan Alwi, dkk, Kamus Besar Bahasa Indonesia, PN. Balai Pustaka, Jakarta, 2005, hal. 854.
6 S. Wojo Wasito, Kamus Umum Inggris Indonesia, Pengarang, 1982. hal. 362.
5. Prestasi Belajar adalah hasil yang diperoleh setelah belajar8 Dalam penelitian ini maksudnya
adalah prestasi belajar yang diperoleh siswa di sekolah setelah adanya kepatuhan terhadap
disiplin sekolah.

7 Hasan Alwi, Op- Cit, hal. 849.
8 Ibid, hlm. 323




















. Pengaruh Penerapan Hukuman Terhadap Kemandirian Siswa Dalam Belajar

Pengaruh Penerapan Hukuman Terhadap Kemandirian Siswa Dalam Belajar

I. Pengertian Hukuman, Disiplin dan Mandiri
Hukuman adalah vonis dari pengadilan terhadap seseorang yang terbukti bersalah
(Purwadarminta, kamus umum bahasa Indonesia:1991). Pembentukan disiplin diri merupakan suatu
proses yang harus dimulai sejak masa kanak-kanak. Oleh karena itu pendidikan disiplin pertama-tama
sudah dimulai dari keluarga (orang tua). Dalam kehidupan masyarakat secara umum, metode yang
paling sering digunakan untuk mendisiplinkan warganya adalah dengan pemberian hukuman.
Hal yang sama dilakukan juga oleh sebagian besar orang tua ataupun guru dalam mendidik anak-
anak atau muridnya. Kerugiannya adalah disiplin yang tercipta merupakan disiplin jangka pendek,
artinya anak hanya menurutinya sebagai tuntutan sesaat, sehingga seringkali tidak tercipta disiplin diri
















pada mereka. Hal tersebut disebabkan karena dengan hukuman anak lebih banyak mengingat hal-hal
negatif yang tidak boleh dilakukan, daripada hal-hal positif yang seharusnya dilakukan.
Dampak lain dari penggunaan hukuman adalah perasaan tidak nyaman pada anak karena harus
menanggung hukuman yang diberikan orang tuanya jika ia melanggar batasan yang ditetapkan. Tidak
mengherankan jika banyak anak memiliki persepsi bahwa disiplin itu adalah identik dengan penderitaan.
Persepsi tersebut bukan hanya terjadi pada anak-anak tetapi juga seringkali dialami oleh orang tua
mereka. Akibatnya tidak sedikit orang tua membiarkan anak-anak bahagia tanpa disiplin. Tentu saja
hal ini merupakan suatu kekeliruan besar, karena di masa-masa perkembangan berikutnya maka
individu tersebut akan mengalami berbagai masalah dan kebingungan karena tidak mengenal aturan
bagi dirinya sendiri.
Disiplin adalah proses pelatihan pikiran dan karakter, yang meningkatkan kemampuan untuk
mengendalikan diri sendiri, dan menumbuhkan ketaatan atau kepatuhan terhadap tata tertib atau nilai
tertentu (Andrias Harefa, menjadi manusia pembelajar). Disiplin di sini dimaksudkan cara kita
mengajarkan kepada anak tentang perilaku moral yang dapat diterima kelompok. Tujuan utamanya
adalah memberitahu dan menanamkan pengertian dalam diri anak tentang perilaku mana yang baik dan
mana yang buruk, dan untuk mendorongnya memiliki perilaku yang sesuai dengan standar ini. Dalam
disiplin, ada tiga unsur yang penting, yaitu hukum atau peraturan yang berfungsi sebagai pedoman
penilaian, sanksi atau hukuman bagi pelanggaran peraturan itu, dan hadiah untuk perilaku atau usaha
yang baik (Dr. Martin Leman, disiplin anak:2000).
Mandiri adalah suatu sikap dimana seseorang terbebas dari sifat ketergantungan dari pihak luar.
Berkenaan dengan sikap mandiri ini maka motivasi adalah salah satu cara bagaimana membentuk
seseorang bisa menjadai mandiri. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang
yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.
Motivasi ada dua, yaitu motivasi Intrinsik dan motivasi ektrinsik.
1. Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan
dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri.
2. Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah
karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian
siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.
I. Hal-Hal Yang Melatar Belakangi Adanya Hukuman Dan Ganjaran (Penghargaan)
Untuk anak yang masih dalam usia pra sekolah, yang harus ditekankan adalah aspek pendidikan
dan pengertian dalam disiplin. Seorang anak yang masih usia pra sekolah ini, diberi hukuman hanya
kalau memang terbukti bahwa ia sebenarnya mengerti apa yang diharapkan dan terlebih bila ia memang
sengaja melanggarnya. Sebaliknya bila saat ia berperilaku sosial yang baik, ia diberikan hadiah, biasanya
ini akan meningkatkan keinginannya untuk lebih banyak belajar berperilaku yang baik.
Ada berbagai cara yang umum digunakan oleh orang tua untuk mendisiplinkan anak-anak dan
remaja, antara lain :
1. Disiplin Otoriter
Disiplin Otoriter adalah bentuk disiplin yang tradisional yang berdasar pada ungkapan kuno
menghemat cambukan berarti memanjakan anak. Pada model disiplin ini, orang tua atau
pengasuh memberikan anak peraturan-peraturan dan anak harus mematuhinya. Tidak ada
penjelasan pada anak mengapa ia harus mematuhi, dan anak tidak diberi kesempatan untuk
mengemukakan pendapatnya tentang aturan itu. Anak harus mentaati peraturan itu, jika tidak
mau dihukum. Biasanya hukuman yang diberikan pun agak kejam dan keras, karena dianggap
merupakan cara terbaik agar anak tidak melakukan pelanggaran lagi di kemudian hari. Seringkali
anak dianggap sudah benar-benar mengerti aturannya, dan ia dianggap sengaja melanggarnya,
sehingga anak tidak perlu diberi kesempatan mengemukakan pendapatnya lagi. Jika anak
melakukan sesuatu yang baik, hal ini juga dianggap tidak perlu diberi hadiah lagi, karena sudah
merupakan kewajibannya. Pemberian hadiah malahan dipandang dapat mendorong anak untuk
selalu mengharapkan adanya sogokan agar melakukan sesuatu yang diwajibkan masyarakat.
2. Disiplin yang lemah
Disiplin model ini biasanya timbul dan berkembang sebagai kelanjutan dari disiplin otoriter yang
dialami orang dewasa saat ia anak-anak. Akibat dahulu ia tidak suka diperlakukan dengan model
disiplin yang otoriter, maka ketika ia memiliki anak, di didiknya dengan cara yang sangat
berlawanan. Menurut teknik disiplin ini, anak akan belajar bagaimana berperilaku dari setiap
akibat perbuatannya itu sendiri. Dengan demikian anak tidak perlu diajarkan aturan-aturan, ia
tidak perlu dihukum bila salah, namun juga tidak diberi hadiah bila berperilaku sosial yang baik.
Saat ini bentuk disiplin ini mulai ditinggalkan karena tidak mengandung 3 unsur penting disiplin.
3. Disiplin Demokratis
Disiplin jenis ini, menekankan hak anak untuk mengetahui mengapa aturan-aturan dibuat dan
memperoleh kesempatan mengemukakan pendapatnya sendiri bila ia menganggap bahwa
peraturan itu tidak adil. Walaupun anak masih sangat muda, tetapi daripadanya tidak
diharapkan kepatuhan yang buta. Diupayakan agar anak memang mengerti alasan adanya
aturan-aturan itu, dan mengapa ia diharapkan mematuhinya. Hukuman atas pelanggaran yang
dilakukan, disesuaikan dengan tingkat kesalahan, dan tidak lagi dengan cara hukuman fisik.
Sedangkan perilaku sosial yang baik dan sesuai dengan harapan, dihargai terutama dengan
pemberian pengakuan sosial dan pujian.
Adapun penerapan tipe-tipe disiplin ini memberi dampak yang cukup nyata bedanya. Pengaruh
penerapan disiplin ini pada anak, meliputi beberapa aspek, misalnya :
1. Pengaruh pada perilaku
Anak yang mengalami disiplin yang keras, otoriter, biasanya akan sangat patuh bila dihadapan orang
orang dewasa, namun sangat agresif terhadap teman sebayanya. Sedangkan anak yang orang tuanya
lemah akan cenderung mementingkan diri sendiri, tidak menghiraukan hak orang lain, agresif dan tidak
sosial. Anak yang dibesarkan dengan disiplin yang demokratis akan lebih mampu belajar mengendalikan
perilaku yang salah dan mempertimbangkan hak-hak orang lain.
2. Pengaruh pada sikap
Baik anak yang dibesarkan dengan cara disiplin otoriter maupun dengan cara yang lemah,
memiliki kecenderungan untuk membenci orang yang berkuasa. Anak yang diperlakukan dengan
cara otoriter merasa mendapat perlakuan yang tidak adil. Sedangkan anak yang orang tuanya
lemah merasa bahwa orang tua seharusnya memberitahu bahwa tidak semua orang dewasa
mau menerima perilakunya. Disiplin yang demokratis akan menyebabkan kemarahan
sementara, tetapi kemarahan ini bukanlah kebencian. Sikap-sikap yang terbentuk sebagai akibat
dari metode pendidikan anak cenderung menetap dan bersifat umum, tertuju kepada semua
orang yang berkuasa.
3. Pengaruh pada kepribadian
Semakin banyak anak diberi hukuman fisik, semakin anak menjadi keras kepala dan negativistik.
Ini memberi dampak penyesuaian pribadi dan sosial yang buruk, yang juga memberi ciri khas
dari anak yang dibesarkan dengan disiplin yang lemah. Bila anak dibesarkan dengan disiplin yang
demokratis, ia akan mampu memiliki penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial yang terbaik.
Persepsi yang sering keliru adalah pengertian istilah pemberian hadiah. Kadang orang tua
beranggapan bahwa memberikan hadiah selalu berupa memberi mainan, permen, coklat, atau
hadiah lain yang berupa benda. Sebenarnya hadiah juga dapat berupa bukan benda, misalnya
berupa pengakuan atau pujian pada anak. Para orang tua yang menggunakan cara disiplin
demokratis, tidak mau banyak memberi hadiah berupa benda. Mereka khawatir hal ini akan
memanjakan anak atau takut cara ini dianggap sebagai bentuk penyuapan yang merupakan
teknik disiplin yang buruk.
Pelanggaran berupa bentuk ringan dari ketidaktaatan pada aturan atau perbuatan yang keliru
sangat sering terjadi pada masa prasekolah. Pelanggaran ini disebabkan oleh tiga hal. Pertama,
ketidaktahuan anak bahwa perilakunya itu tidak baik atau tidak dibenarkan. Anak mungkin saja
sudah diberi tahu berulang kali dan ia pun hafal kata-kata aturannya itu, tetapi ia tidak mengerti
konsep yang dikandung dari aturan itu, dan kapan ia harus menerapkannya. Sebagai contoh,
anak bisa mengerti bahwa mencuri adalah tidak boleh, tetapi ia belum tentu tahu bahwa
mencontek juga termasuk mencuri.
Hal kedua yang sering juga menjadi penyebab anak melanggar adalah anak belajar bahwa
sengaja tidak patuh dalam hal yang kecil-kecil umumnya akan mendapatkan perhatian yang
lebih besar daripada perilaku yang baik. Jadi kadang anak yang merasa diabaikan, demi menarik
perhatian orang tuanya sengaja berbuat salah dengan harapan akan memperoleh perhatian
lebih. Dan ketiga, pelanggaran dapat disebabkan oleh kebosanan. Bila anak tidak memiliki
kegiatan untuk mengisi waktu luang, maka kadangkala anak ingin membuat kehebohan. Atau
kadang bisa juga ia hendak menguji kekuasaan orang dewasa dengan melihat seberapa jauh ia
dapat melakukan sesuatu tanpa dihukum.
4. Anak yang lebih besar
Bagi anak yang lebih besar, yang sudah masuk usia sekolah, disiplin berperan penting dalam
perkembangan moral. Disiplin bagi anak yang lebih besar ini menjadi hal yang lebih serius lagi.
Teknik disiplin yang pada usia pra sekolah tampaknya efektif, tidak bisa dijalankan tetap dengan
cara yang sama terus menerus. Bagi anak yang sudah diusia sekolah ini, disiplin yang diterapkan
juga harus disesuaikan dengan tingkat perkembangannya. Hal yang perlu lebih diperhatikan
antara lain adalah :
Anak yang lebih dewasa, semakin lama semakin membutuhkan penjelasan mengenai mengapa
hal tertentu tidak boleh dilakukan, dan mengapa hal lain baik untuk dilakukan. Anak semakin
mampu memahami konsep tentang perilaku yang baik, dan wawasannya juga semakin meluas.
Sebagai akibatnya, tuntutan atas penjelasan berbagai hal semakin besar pula.
Pemberian ganjaran seperti pujian atau perlakuan khusus bila anak melakukan sesuatu yang baik,
mempunyai nilai yang positif dalam mendorong anak berusaha berbuat lebih baik lagi lain kali. Akan
tetapi pemberian pujian dan perlakuan istimewa pun harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan
anak, jangan dari kecil hingga besar sama saja.
Pemberian hukuman juga harus dilakukan sesuai dengan tingkat perkembangannya. Hukuman
juga harus bersifat lebih mendidik, bukan malah menimbulkan kebencian dan rasa dipermalukan.
Hukuman yang diberikan harus proporsional dengan tingkat pelanggaran, dan anak harus dibuat
mengerti mengapa hal yang dilakukan itu salah.
Konsistensi dalam memberikan hukuman atau ganjaran pun penting. Untuk kesalahan yang sama
berikan hukuman yang sama, dan sebaliknya juga untuk hal yang baik. Apa yang benar dan baik hari ini,
akan tetap benar esok hari. Jangan apa yang hari ini benar dan baik, besoknya menjadi hal yang
dianggap salah dan patut dihukum. ( Majalah Anakku ed.4, thn 2000)
Ada beberapa hal pokok yang dapat diacu sebagai dasar merespon setiap perilaku dalam rangka
pendidikan disiplin, diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Berkelanjutan
Pendidikan merupakan suatu proses berkelanjutan, artinya disiplin tidak hanya diberikan setelah
anak masuk sekolah atau setelah masa remaja, tetapi harus sudah dilatih sejak anak baru dilahirkan ke
dunia ini. Sejak anak membutuhkan kedekatan dengan orang dewasa, membutuhkan kasih sayang orang
dewasa. Orang tua dapat memulai mendidik disiplin dengan menunjukan mana yang boleh dan mana
yang tidak boleh, mana yang baik dan mana yang jelek. Sebagai contoh agar anak dapat disiplin dalam
buang air, maka orang tua harus secara berkelanjutan dan konsisten dalam membersihkan dan
mengganti pakaian sang bayi, ia di kenalkan pada situasi yang menyenangkan dan tahu apa yang harus
dilakukan dengan semestinya sejak dini. Dengan perlakuan orang tua yang demikian akan meringankan
tugas pada masa berikutnya karena anaknya tidak akan mengenal ngompol.
Selain itu pendidikan disiplin tidak hanya ditekankan pada waktu anak membuat perilaku yang
tidak diinginkan atau pada waktu anak gagal mencapai harapan orang tua. Perilaku-perilaku yang
diinginkanpun perlu (meski tidak harus terus-menerus), mendapatkan pengakuan, persetujuan atau
penghargaan. Jika anak sejak bayi telah dilatih untuk berdisiplin maka pada masa remaja ia akan
memiliki disiplin diri yang cukup sehigga akan mampu menahan segala godaan yang datang dari teman
maupun lingkungan sekitarnya.
b. Autoritatif
Pendidikan disiplin sebaiknya tidak dilakukan dengan cara yang terlalu otoriter, tetapi juga tidak
terlalu memperbolehkan semuanya (permisif). Cara yang tepat dalam pendidikan disiplin bagi remaja
disebut dengan istilah moderatnya autoritatif : fleksibel, tetapi bila perlu tegas. Dalam menerapkan cara
disiplin yang permisif (dapat dikatakan sebagai mendidik tanpa disiplin) cenderung menghasilkan anak
remaja yang manja, semena-mena, anti sosial dan cenderung agresif. Sebaliknya, disiplin yang keras
yang terutama dilakukan dengan memberikan hukuman fisik, dapat menimbulkan berbagai pengaruh
yang buruk bagi remaja.
Hal ini dapat membuat remaja menjadi seorang penakut, tidak ramah dengan orang lain, dan
membenci orang yang memberi hukuman, kehilangan spontanitas serta inisiatif bahkan ada pula yang
pada akhirnya melampiaskan kemarahannya pada orang lain. Hubungan dengan lingkungan sosial akan
lebih berorientasi kepada kekuasaan dan ketakutan. Siapa yang lebih berkuasa dapat berbuat
sekehendak hatinya. Sedangkan yang tidak berkuasa menjadi tunduk. Ada pula yang menimbulkan
pembelotan, hal ini terjadi terutama bila larangan-larangan yang bersangsi hukuman tidak diimbangi
dengan alternatif (cara) lain untuk memenuhi kebutuhan yang mendasar. Contoh: remaja dilarang untuk
keluar bermain, tetapi di dalam rumah ia tidak melakukan apa-apa dan tidak diperhatikan oleh kedua
orang tuanya karena kesibukan mereka.
c. Beri Batas-Batas Yang Jelas
Batas-batas tentang boleh atau tidak boleh haruslah jelas, misalnya kapan anak boleh bermain,
dimana dan dengan siapa sehingga anak tidak mengganggu orang lain dan menghindarkan anak dari
kecelakaan. Sejak masa kanak-kanak orang tua harus sudah memberikan batasan-batasan tersebut.
Misalnya: anak boleh mengambarkan dengan pensil warna dikertas-kertas, dipapan yang telah
ditentukan, tetapi tidak boleh di buku pelajaran kakaknya, buku ayah atau ibu, dan tidak boleh
menggambar di tembok.
Penting bagi orang tua untuk mengingat bahwa batasan dan fasilitas yang diberikan oleh orang
tua, hendaknya memenuhi kriteria tertentu: diperlukan, masuk akal, diberikan dengan penuh ketulusan
dan kebaikan hati, dan secara konsisten sesuai kematangan anak. Fasilitas dianggap diperlukan bila anak
dapat mencapai kemajuan yang lebih baik jika adanya fasilitas tersebut. Batas dan fasilitas dianggap
masuk akal bila memenuhi pertimbangan kesehatan dan keadilan. Kebaikan hati adalah keinginan dalam
memenuhi kebutuhan anak untuk berkembang seoptimal mungkin tanpa melampaui kemampuan anak
mengontrol diri. Fasilitas yang konsisten dengan kematangan umum anak berarti tergantung pada
perkembangan kecerdasan dan kematangan anak. Makin berkembang kematangan anak akan makin
dapat diperluas batas-batas dan fasilitas. Dengan kata lain pada remaja luasnya batas tersebut sangatlah
ditentukan kematangan yang telah dicapai oleh remaja tersebut.
d. Konsisten dan Fleksibel
Setelah batas-batas ditentukan, maka orang tua harus mengupaya kesepakatan dengan anaknya
untuk saling mematuhi apa yang telah ditentukan. Walau demikian, batas-batas yang ditentukan ini
harus terus direvisi sesuai dengan perkembangan anak dan anak telah mencapai remaja maka
penentuannya harus mengikut sertakan masukan dari remaja. Dengan cara tersebut diharapkan dapat
membantu remaja untuk lebih cepat mengembangkan tanggung jawab atas disiplin diri.
Meski batas-batas telah ditetukan ada kalanya keadaan memaksa dan batas tersebut terpaksa
dilanggar. Dalam kondisi ini orang tua perlu segera memberitahu dan menjelaskan pada remaja bahwa
keadaan tersebut dapat dipahami dan diterima oleh orang tua namun bukan berarti bahwa batasan
yang telah ditentukan tidak berlaku lagi. Sikap dan komunikasi orang tua semacam ini akan dapat
mengurangi rasa berdosa, penyesalan bahkan rasa sakit hati yang tidak diperlukan.
e. Menjelaskan Secara Lengkap
Terkadang seorang anak berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan orang tua dengan
alasan karena ia tidak tahu. Untuk mengatasi hal tersebut maka orang tua sangat perlu untuk
mengupgrade diri sehingga mampu menjelaskan secara lengkap apa yang boleh dilakukan atau tidak
boleh dilakukan, mengapa hal itu boleh/tidak, apa dampaknya jika dilakukan/tidak dilakukan, dan
sebagainya. Janganlah menganggap bahwa anak selalu mempunyai pertimbangan sematang orang tua
(meski harus diakui ada remaja yang jauh lebih matang cara pandang/pikir dari orang tuanya). Kesalahan
yang seringkali dilakukan orang tua adalah terlalu menganggap anaknya sudah mampu untuk
mempertimbangkan segala sesuatu. Apalagi pada masa remaja, sang anak cenderung terlihat sangat
mandiri. Banyak orang tua yang lupa bahwa anak remajanya masih membutuhkan penjelasan dan
bimbingan dari orang tua, meski mereka terlihat enggan untuk mengakuinya. Dalam hal ini, justru orang
tua lah yang seharusnya segera sadar dan mempertimbangkan bahwa anaknya masih belum tahu dan
sesegera mungkin mengajarkan hal-hal tersebut kepada remaja tersebut. Bukankah orang tua yang
seharusnya lebih memahami anak-anaknya secara rinci.
f. Berlatih
Orang tua hendaknya mengarahkan anak untuk mengembangkan pola-pola kebiasaan yang baik.
Kebiasaan-kebiasaan baik tersebut harus sudah dilatih terus-menerus sejak usia dini, misalnya anak
dibiasakan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, mematuhi jadwal belajar dan bermain, tidur
dan bangun pagi secara teratur, dan sebagainya. Hal ini perlu, sebab setiap kebiasaan dan pola perilaku
yang terbentuk pada masa kanak-kanak akan banyak mempengaruhi kebiasaannya kelak ketika dia
dewasa.
g. Hukuman
Hukuman yang mendidik adalah hukuman yang menyadarkan pihak yang bersalah dalam hal ini
remaja, bahwa hal yang baru saja terjadi hendaknya tidak diulangi karena hal tersebut tidak disetujui
orang tua. Hukuman haruslah dipandang sebagai bentuk pertanggungjawaban atas perbuatan yang
melanggar batasan-batasan yang ditetapkan. Hukuman tidak harus selalu menyakitkan, dan jangan
dijadikan sebagai luapan kemarahan atau penyakuran emosi dari si penghukum (orang tua). Jika harus
memberikan hukuman, hukumlah anak sesuai dengan tingkat pemahaman anak tentang hukuman
tersebut. Hukuman yang terlalu berat akan mengakibatkan anak mendendam, dan bila ia tidak dapat
membalaskan dendamnya akan terjadi pengalihan dalam bentuk kekerasan terhadap orang lain
(tawuran) dan vandalism (mis. Coret-coret, merusak properti orang lain). Penting diperhatikan dalam
pemberian hukuman adalah penjelasan mengapa anak terpaksa dihukum, hukuman harus dilakukan
segera setelah perilaku terjadi, dan jangan melakukan hukuman fisik, seperti memukul atau menampar,
dan sebagainya terhadap anak-anak.
h. Komunikasi
Dalam kenyataan sehari-hari, banyak masalah yang berhubungan dengan disiplin sebenarnya
dapat diselesaikan dengan menggunakan komunikasi timbal balik yang efektif antara anak dan orang
tua. Dalam hal ini cara-cara berkomunikasi akan memegang peranan penting dalam pembentukan
disiplin. Komunikasi dalam bentuk sindiran, hinaan, merendahkan harga diri orang lain hendaknya
digunakan seminimal mungkin, bahkan harus dihindari sama sekali. Anak dan remaja sangatlah peka
terhadap hal ini, dan dapat sakit hati karenanya. Jika cara-cara tersebut yang digunakan untuk
mendisiplinkan anak, cara-cara demikian akan cenderung ditiru dalam hubungan interpersonal dengan
orang-orang lain yang akibatnya dapat merugikan diri sang anak maupun orang lain.
III. Peranan Guru dalam Membentuk Kedisiplinan
1. Pengertian Guru
Guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan
formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru seperti ini harus mempunyai semacam
kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru
dapat juga dianggap seorang guru. Beberapa istilah yang juga menggambarkan peran guru, antara lain:
Dosen, Mentor dan Tutor.
Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Menurut Zakiah Darajat (1992), tidak sembarangan orang dapat melakukan tugas guru, tetapi orang-
orang tertentu yang memenuhi persyaratan berikut ini yang dipandang mampu : bertakwa, berilmu,
sehat jasmani, dan berkelakuan baik.
2. Peranan Guru dalam Pendidikan
WF Connell (1972) membedakan tujuh peran seorang guru yaitu
1. pendidik (nurturer)
2. model
3. pengajar dan pembimbing
4. pelajar (learner)
5. komunikator terhadap masyarakat setempat
6. pekerja administrasi
7. kesetiaan terhadap lembaga.
Peran guru sebagai pendidik (nurturer) merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-
tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan
(supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh
terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Tugas-tugas ini
berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh
pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan
orang dewasa yang lain, moralitas tanggung jawab kemasyarakatan, pengetahuan dan keterampilan
dasar, persiapan.untuk perkawinan dan hidup berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat
personal dan spiritual. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan anak. Guru
sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkah
laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada.
Peran guru sebagai model atau contoh bagi anak. Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat
menjadi contoh atau model baginya. Oleh karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau
tokoh-tokoh masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dan
negara. Karena nilai-nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah Pancasila, maka tingkah laku
pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai Pancasila.
Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam pengalaman belajar. Setiap guru harus
memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain di luar fungsi sekolah seperti persiapan
perkawinan dan kehidupan keluarga, hasil belajar yang berupa tingkah laku pribadi dan spiritual dan
memilih pekerjaan di masyarakat, hasil belajar yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial tingkah
laku sosial anak. Kurikulum harus berisi hal-hal tersebut di atas sehingga anak memiliki pribadi yang
sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dianut oleh bangsa dan negaranya, mempunyai pengetahuan dan
keterampilan dasar untuk hidup dalam masyarakat dan pengetahuan untuk mengembangkan
kemampuannya lebih lanjut.
Peran guru sebagai pelajar (leamer). Seorang guru dituntut untuk selalu menambah pengetahuan
dan keterampilan supaya pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya tidak ketinggalan jaman.
Pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang berkaitan
dengan pengembangan tugas profesional, tetapi juga tugas kemasyarakatan maupun tugas
kemanusiaan.
Peran guru sebagai setiawan dalam lembaga pendidikan. Seorang guru diharapkan dapat
membantu kawannya yang memerlukan bantuan dalam mengembangkan kemampuannya. Bantuan
dapat secara langsung melalui pertemuan-pertemuan resmi maupun pertemuan insidental.
Peranan guru sebagai komunikator pembangunan masyarakat. Seorang guru diharapkan dapat
berperan aktif dalam pembangunan di segala bidang yang sedang dilakukan. Ia dapat mengembangkan
kemampuannya pada bidang-bidang dikuasainya.
Guru sebagai administrator. Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga
sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu seorang guru dituntut
bekerja secara administrasi teratur. Segala pelaksanaan dalam kaitannya proses belajar mengajar perlu
diadministrasikan secara baik. Sebab administrasi yang dikerjakan seperti membuat rencana mengajar,
mencatat hasil belajar dan sebagainya merupakan dokumen yang berharga bahwa ia telah
melaksanakan tugasnya dengan baik.
Efektivitas dan efisien belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada peran guru. Abin
Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengertian pendidikan secara luas, seorang guru yang
ideal seyogyanya dapat berperan sebagai :
Konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber norma kedewasaan;
Inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan;
Transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik;
Transformator (penterjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya
dan perilakunya, dalam proses interaksi dengan sasaran didik;
Organisator (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan,
baik secara formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral
(kepada sasaran didik, serta Tuhan yang menciptakannya).
Sedangkan dalam pengertian pendidikan yang terbatas, Abin Syamsuddin dengan mengutip
pemikiran Gage dan Berliner, mengemukakan peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik,
yang mencakup :
Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam
proses belajar mengajar (pre-teaching problems).;
Guru sebagai pelaksana (organizer), yang harus dapat menciptakan situasi, memimpin,
merangsang, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan
rencana, di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person), konsultan
kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik dan humanistik (manusiawi) selama proses
berlangsung (during teaching problems).
Guru sebagai penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan, menganalisa, menafsirkan dan
akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement), atas tingkat keberhasilan proses
pembelajaran, berdasarkan kriteria yang ditetapkan, baik mengenai aspek keefektifan prosesnya
maupun kualifikasi produknya.
Selanjutnya dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia, Abin Syamsuddin
menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher counsel), di mana guru dituntut untuk
mampu mengidentifikasi peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar, melakukan
diagnosa, prognosa, dan kalau masih dalam batas kewenangannya, harus membantu pemecahannya
(remedial teaching).
Di lain pihak, Moh. Surya (1997) mengemukakan tentang peranan guru di sekolah, keluarga dan
masyarakat. Di sekolah, guru berperan sebagai perancang pembelajaran, pengelola pembelajaran,
penilai hasil pembelajaran peserta didik, pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik.
Sedangkan dalam keluarga, guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator).
Sementara itu di masyarakat, guru berperan sebagai pembina masyarakat (social developer), penemu
masyarakat (social inovator), dan agen masyarakat (social agent).
Lebih jauh, dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivitas
pengajaran dan administrasi pendidikan, diri pribadi (self oriented), dan dari sudut pandang psikologis.
Dalam hubungannya dengan aktivitas pembelajaran dan administrasi pendidikan, guru berperan
sebagai :
Pengambil inisiatif, pengarah, dan penilai pendidikan;
Wakil masyarakat di sekolah, artinya guru berperan sebagai pembawa suara dan kepentingan
masyarakat dalam pendidikan;
Seorang pakar dalam bidangnya, yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya;
Penegak disiplin, yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin;
Pelaksana administrasi pendidikan, yaitu guru bertanggung jawab agar pendidikan dapat
berlangsung dengan baik;
Pemimpin generasi muda, artinya guru bertanggung jawab untuk mengarahkan perkembangan
peserta didik sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan; dan
Penterjemah kepada masyarakat, yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat.
Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented), seorang guru berperan sebagai :
Pekerja sosial (social worker), yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada
masyarakat;
Pelajar dan ilmuwan, yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk
mengembangkan penguasaan keilmuannya;
Orang tua, artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah;
model keteladanan, artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh para peserta
didik; dan
Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. Peserta didik diharapkan akan merasa aman
berada dalam didikan gurunya.
Dari sudut pandang secara psikologis, guru berperan sebagai :
Pakar psikologi pendidikan, artinya guru merupakan seorang yang memahami psikologi
pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik;
Seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations), artinya guru adalah orang
yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manusia, khususnya dengan
para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan;
Pembentuk kelompok (group builder), yaitu mampu mambentuk menciptakan kelompok dan
aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan;
Catalyc agent atau inovator, yaitu guru merupakan orang yang mampu menciptakan suatu
pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik; dan
Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker), artinya guru bertanggung jawab bagi
terciptanya kesehatan mental para peserta didik.
Sementara itu, Doyle sebagaimana dikutip oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukan dua peran
utama guru dalam pembelajaran yaitu menciptakan keteraturan (establishing order) dan memfasilitasi
proses belajar (facilitating learning). Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait
langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran, seperti : tata letak tempat duduk, disiplin
peserta didik di kelas, interaksi peserta didik dengan sesamanya, interaksi peserta didik dengan guru,
jam masuk dan keluar untuk setiap sesi mata pelajaran, pengelolaan sumber belajar, pengelolaan bahan
belajar, prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran, lingkungan belajar, dan lain-lain.
Sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa
mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai
peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif
dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi
satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang
sedang tumbuh, berkembang, berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Di masa depan, guru bukan
satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya.
Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat, ia
akan terpuruk secara profesional. Kalau hal ini terjadi, ia akan kehilangan kepercayaan baik dari peserta
didik, orang tua maupun masyarakat. Untuk menghadapi tantangan profesionalitas tersebut, guru perlu
berfikir secara antisipatif dan proaktif. Artinya, guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan
yang dimilikinya secara terus menerus. Disamping itu, guru masa depan harus paham penelitian guna
mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya, sehingga dengan dukungan hasil
penelitian guru tidak terjebak pada praktek pengajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif,
namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para peserta didiknya. Begitu juga, dengan
dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang
bervariasi dari tahun ke tahun, disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang sedang berlangsung.
3. Fungsi Guru dalam Membentuk Kedisiplinan Siswa
Daoed Yoesoef (1980) menyatakan bahwa seorang guru mempunyai tiga tugas pokok yaitu tugas
profesional, tugas manusiawi, dan tugas kemasyarakatan (sivic mission). Jika dikaitkan pembahasan
tentang kebudayaan, maka tugas pertama berkaitan dengar logika dan estetika, tugas kedua dan ketiga
berkaitan dengan etika.
Tugas-tugas profesional dari seorang guru yaitu meneruskan atau transmisi ilmu pengetahuan,
keterampilan dan nilai-nilai lain yang sejenis yang belum diketahui anak dan seharusnya diketahui oleh
anak.
Tugas manusiawi adalah tugas-tugas membantu anak didik agar dapat memenuhi tugas-tugas
utama dan manusia kelak dengan sebaik-baiknya. Tugas-tugas manusiawi itu adalah transformasi diri,
identifikasi diri sendiri dan pengertian tentang diri sendiri.
Usaha membantu kearah ini seharusnya diberikan dalam rangka pengertian bahwa manusia
hidup dalam satu unit organik dalam keseluruhan integralitasnya seperti yang telah digambarkan di atas.
Hal ini berarti bahwa tugas pertama dan kedua harus dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu.
Guru seharusnya dengan melalui pendidikan mampu membantu anak didik untuk mengembangkan daya
berpikir atau penalaran sedemikian rupa sehingga mampu untuk turut serta secara kreatif dalam proses
transformasi kebudayaan ke arah keadaban demi perbaikan hidupnya sendiri dan kehidupan seluruh
masyarakat di mana dia hidup.

Tugas kemasyarakatan merupakan konsekuensi guru sebagai warga negara yang baik, turut
mengemban dan melaksanakan apa-apa yang telah digariskan oleh bangsa dan negara lewat UUD 1945
dan GBHN.
Ketiga tugas guru itu harus dilaksanakan secara bersama-sama dalam kesatuan organis harmonis
dan dinamis. Seorang guru tidak hanya mengajar di dalam kelas saja tetapi seorang guru harus mampu
menjadi katalisator, motivator dan dinamisator pembangunan tempat di mana ia bertempat tinggal.
Ketiga tugas ini jika dipandang dari segi anak didik maka guru harus memberikan nilai-nilai yang berisi
pengetahuan masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang, pilihan nilai hidup dan praktek-
praktek komunikasi. Pengetahuan yang kita berikan kepada anak didik harus mampu membuat anak
didik itu pada akhimya mampu memilih nilai-nilai hidup yang semakin komplek dan harus mampu
membuat anak didik berkomunikasi dengan sesamanya di dalam masyarakat, oleh karena anak didik ini
tidak akan hidup mengasingkan diri. Kita mengetahui cara manusia berkomunikasi dengan orang lain
tidak hanya melalui bahasa tetapi dapat juga melalui gerak, berupa tari-tarian, melalui suara (lagu,
nyanyian), dapat melalui warna dan garis-garis (lukisan-lukisan), melalui bentuk berupa ukiran, atau
melalui simbul-simbul dan tanda-tanda yang biasanya disebut rumus-rumus.
Jadi nilai-nilai yang diteruskan oleh guru atau tenaga kependidikan dalam rangka melaksanakan
tugasnya, tugas profesional, tugas manusiawi, dan tugas kemasyarakatan, apabila diutarakan sekaligus
merupakan pengetahuan, pilihan hidup dan praktek komunikasi. Jadi walaupun pengutaraannya
berbeda namanya, oleh karena dipandang dari sudut guru dan dan sudut siswa, namun yang diberikan
itu adalah nilai yang sama, maka pendidikan tenaga kependidikan pada umumnya dan guru pada
khususnya sebagai pembinaan prajabatan, bertitik berat sekaligus dan sama beratnya pada tiga hal,
yaitu melatih mahasiswa, calon guru atau calon tenaga kependidikan untuk mampu menjadi guru atau
tenaga kependidikan yang baik, khususnya dalam hal ini untuk mampu bagi yang bersangkutan untuk
melaksanakan tugas professional.
IV. Beberapa Bentuk Pola Sikap Siswa dalam Belajar
Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam
pembentukan pribadi dan perilaku individu. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa
sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar. Lantas, apa
sesungguhnya belajar itu ?
Sebelum membahas tentang pola sikap siswa dalam belajar alangkah lebih baik kita mengenal
dulu apa itu belajar. Di bawah ini disampaikan tentang pengertian belajar dari para ahli :
1. Moh. Surya (1997) : belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu
untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman
individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
2. Witherington (1952) : belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan
sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan
dan kecakapan.
3. Crow & Crow : belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap
baru.
4. Hilgard (1962) : belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau
berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi
5. Di Vesta dan Thompson (1970) : belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap
sebagai hasil dari pengalaman.
6. Gage & Berliner : belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul karena
pengalaman
Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas, kata kunci dari belajar adalah perubahan
perilaku. Dalam hal ini, Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku, yaitu :
a. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional).
Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan.
Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah
terjadi perubahan, misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin
meningkat, dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. Misalnya, seorang mahasiswa
sedang belajar tentang psikologi pendidikan. Dia menyadari bahwa dia sedang berusaha mempelajari
tentang Psikologi Pendidikan. Begitu juga, setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa
dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku, dengan memperoleh sejumlah pengetahuan, sikap dan
keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan.
b. Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu).
Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari
pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu juga, pengetahuan, sikap dan
keterampilan yang telah diperoleh itu, akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan
keterampilan berikutnya. Misalnya, seorang mahasiswa telah belajar Psikologi Pendidikan tentang
Hakekat Belajar. Ketika dia mengikuti perkuliahan Strategi Belajar Mengajar, maka pengetahuan,
sikap dan keterampilannya tentang Hakekat Belajar akan dilanjutkan dan dapat dimanfaatkan dalam
mengikuti perkuliahan Strategi Belajar Mengajar.
c. Perubahan yang fungsional.
Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang
bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. Contoh : seorang
mahasiswa belajar tentang psikologi pendidikan, maka pengetahuan dan keterampilannya dalam
psikologi pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari dan mengembangkan perilaku dirinya
sendiri maupun mempelajari dan mengembangkan perilaku para peserta didiknya kelak ketika dia
menjadi guru.
d. Perubahan yang bersifat positif.
Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan. Misalnya, seorang
mahasiswa sebelum belajar tentang Psikologi Pendidikan menganggap bahwa dalam dalam Prose
Belajar Mengajar tidak perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual atau perkembangan
perilaku dan pribadi peserta didiknya, namun setelah mengikuti pembelajaran Psikologi Pendidikan, dia
memahami dan berkeinginan untuk menerapkan prinsip prinsip perbedaan individual maupun prinsip-
prinsip perkembangan individu jika dia kelak menjadi guru.
e. Perubahan yang bersifat aktif.
Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan.
Misalnya, mahasiswa ingin memperoleh pengetahuan baru tentang psikologi pendidikan, maka
mahasiswa tersebut aktif melakukan kegiatan membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan,
berdiskusi dengan teman tentang psikologi pendidikan dan sebagainya.
f. Perubahan yang bersifat permanen.
Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang
melekat dalam dirinya. Misalnya, mahasiswa belajar mengoperasikan komputer, maka penguasaan
keterampilan mengoperasikan komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa
tersebut.
g. Perubahan yang bertujuan dan terarah.
Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek,
jangka menengah maupun jangka panjang. Misalnya, seorang mahasiswa belajar psikologi pendidikan,
tujuan yang ingin dicapai dalam panjang pendek mungkin dia ingin memperoleh pengetahuan, sikap dan
keterampilan tentang psikologi pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan
memperoleh nilai A. Sedangkan tujuan jangka panjangnya dia ingin menjadi guru yang efektif dengan
memiliki kompetensi yang memadai tentang Psikologi Pendidikan. Berbagai aktivitas dilakukan dan
diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
Perubahan perilaku secara keseluruhan.
Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi
termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. Misalnya, mahasiswa belajar
tentang Teori-Teori Belajar, disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang Teori-Teori
Belajar, dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai Teori-Teori Belajar.
Begitu juga, dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan Teori-Teori Belajar.
Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun, 2003), perubahan perilaku yang merupakan hasil
belajar dapat berbentuk :
Informasi verbal; yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal, baik secara tertulis maupun
tulisan, misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda, definisi, dan sebagainya.
Kecakapan intelektual; yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan
lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol, misalnya: penggunaan simbol matematika.
Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan
(discrimination), memahami konsep konkrit, konsep abstrak, aturan dan hukum. Ketrampilan ini
sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah.
Strategi kognitif; kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan
keseluruhan aktivitasnya. Dalam konteks proses pembelajaran, strategi kognitif yaitu
kemampuan mengendalikan ingatan dan cara cara berfikir agar terjadi aktivitas yang efektif.
Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran, sedangkan strategi kognitif
lebih menekankan pada pada proses pemikiran.
Sikap; yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan
yang akan dilakukan. Dengan kata lain. Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan
memberikan kecenderungan bertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa,
didalamnya terdapat unsur pemikiran, perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk
bertindak.
Kecakapan motorik; ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh
otot dan fisik.
Sementara itu, Moh. Surya (1997) mengemukakan bahwa hasil belajar akan tampak dalam :
1. Kebiasaan; seperti : peserta didik belajar bahasa berkali-kali menghindari kecenderungan
penggunaan kata atau struktur yang keliru, sehingga akhirnya ia terbiasa dengan penggunaan
bahasa secara baik dan benar.
2. Keterampilan; seperti : menulis dan berolah raga yang meskipun sifatnya motorik, keterampilan-
keterampilan itu memerlukan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran yang tinggi.
3. Pengamatan; yakni proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti rangsangan yang masuk
melalui indera-indera secara obyektif sehingga peserta didik mampu mencapai pengertian yang
benar.
4. Berfikir asosiatif; yakni berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya dengan
menggunakan daya ingat.
5. Berfikir rasional dan kritis yakni menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam
menjawab pertanyaan kritis seperti bagaimana (how) dan mengapa (why).
6. Sikap yakni kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk
terhadap orang atau barang tertentu sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan.
7. Inhibisi (menghindari hal yang mubazir).
8. Apresiasi (menghargai karya-karya bermutu).
9. Perilaku afektif yakni perilaku yang bersangkutan dengan perasaan takut, marah, sedih,
gembira, kecewa, senang, benci, was-was dan sebagainya.
Sedangkan menurut Bloom, perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi :
1. perubahan dalam kawasan (domain) kognitif,
2. afektif dan psikomotor,
3. beserta tingkatan aspek-aspeknya.