Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR PEMULIAAN TANAMAN ACARA IV HIBRIDISASI TANAMAN MENYERBUK SILANG

Semester: Ganjil 2012/2013 Oleh Nama NIM Rombongan : Hilman Arifin : A1L011045 : B1

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN LABORATORIUM PEMULIAAN TANAMAN DAN BIOTEKNOLOGI PURWOKERTO 2012

ACARA IV. HIBRIDISASI TANAMAN MENYERBUK SILANG Tanggal praktikum Nama NIM Nama partner : 18 oktober 2012 : Hilman arifin : A1L011045 : Muhammad Arifin Armada Triani Ajeng Damayanti Tesa Kanisa Nina Nurliani Rombongan Asisten : B1 : Isna Echy

I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Salah satu usaha dalam pemuliaan tanaman untuk mendapatkan varietas unggul adalah melalui hibridisasi. Hibridisasi merupakan usaha memperoleh kombinasi genetik yang diinginkan melalui persilangan dua atau lebih tetua yang berbeda genotipnya. Secara teori hibridisasi pada tanaman menyerbuk silang mungkin lebih mudah dari pada hibridisasi pada tanaman menyerbuk sendiri. Hal ini dikarenakan pada tanaman menyerbuk silang bunga jantan dan betina tidak terletak pada satu bunga sehingga tidak ada perlakuan emaskulasi. Salah satu tanaman yang menyerbuk silang adalah jagung, tanaman ini termasuk tanaman monoceous, tetapi letak bunga jantan dan betina terpisah. Walaupun penyerbukan dapat terjadi dari bunga jantan dan betina dalam satu tanaman, tetapi persentase sangat kecil dan 95% tanaman jagung menyerbuk silang. Salah satu upaya yang perlu kita lakukan untuk meningkatkan hasil pertanian adalah dengan penggunaan bibit unggul. Sifat bibit unggul pada tanaman dapat timbul secara alami karena adanya seleksi alam dan dapat juga timbul karena adanya campur tangan manusia melalui kegiatan pemuliaan tanaman. Pemuliaan tanaman pada dasarnya adalah kegiatan memilih atau menyeleksi dari suatu populasi untuk mendapatkan genotipe tanaman yang memiliki sifat-sifat unggul yang selanjutnya akan dikembangkan dan diperbanyak sebagai benih atau bibit unggul. Namun demikian, kegiatan seleksi tersebut seringkali tidak dapat langsung diterapkan, karena sifat-sifat keunggulan yang dimaksud tidak seluruhnya terdapat pada satu genotipe saja, melainkan terpisah pada genotipe yang lainnya. Misalnya, suatu genotipe mempunyai daya hasil yang tinggi tapi rentan terhadap penyakit, sedangkan genotipe lainnya memiliki sifat-sifat lainnya (sebaliknya). Jika seleksi diterapkan secara langsung maka kedua sifat unggul tersebut akan selalu terpisah pada genotipe yang berbeda. Oleh sebab itu untuk mendapatkan

genotipe yang baru yang memiliki kedua sifat unggul tersebut perlu dilakukan penggabungan melalui rekombinasi gen. Persilangan merupakan salah satu cara untuk menghasilkan

rekombinasi gen. Secara teknis, persilangan dilakukan dengan cara memindahklan tepung sari kekepala putik pada tanaman yang diinginkan sebagai tetua, baik pada tanaman yang menyerbuk sendiri (self polination crop) maupun pada tanaman yang menmyerbuk silang (cross polination crop).

B. Tujuan Untuk menghasilkan biji F1 dengan kombinasi sifat tetua dari persilangan jagung, sebagai salah satu tahap dalam upaya perakitan varietas baru untuk tanaman menyerbuk silang.

II. TINJAUAN PUSTAKA Pemuliaan tanaman yang dikembangbiakan secara vegetatif dapat ditempuh melalui hibridisasi. Oleh karena kita perlu membuat variasi, maka dilakukan hibridisasi. Dengan jalan ini akan diperoleh sumber variabilitas atau klon-klon baru yang sangat luas variabilitasnya dan menjadi sumber penyeleksian klon baru. Berbeda dengan tanaman yang menyerbuk sendiri, dalam tanaman yang diperbanyak dengan jalan aseksual karena sifatnya heterozigot maka segregasi terjadi pada F1. Jadi tiap tanaman dalam F1 adalah sumber potensi dari klon baru, menghasilkan F2 jarang dilakukan. Selfing dapat menurunkan vigor (Sunarto, 1997). Di alam penyerbukan silang terjadi secara spontan. Penyerbukan tersebut terjadi dengan bantuan angin, serangga pollination dan binatang lainnya. Pada penyerbukan alami tidak diketahui sifat-sifat dari pohon induk apakah sifat dari pohon induk baik atau buruk sehingga tidak dapat dilakukan pengontrolan akibatnya hasilnya seringkali mengecewakan. Oleh karena itu agar persilangan dapat dikontrol dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan, maka manusia melakukan penyerbukan silang buatan (Wels, 1991). Penyerbukan yang terbanyak terjadi pada waktu tanaman sedang berbunga lebat. Mekarnya kuncup-kuncup bunga merupakan suatu tanda bahwa putiknya telah masak dan siap untuk menerima serbuk sari yang akan melakukan penyerbukan dan pembuahan (Darjanto, 1987). Penyerbukan silang di alam sering terjadi antara tanaman yang sama spesiesnya ataupun yang berbeda varietas tetapi masih dalam satu spesies. Dalam penyerbukan silang dialam bebas itu tidak dapat diketahui dengan pasti apakah kedua tanaman tetua memiliki sifat baik atau buruk. Hal ini sering menyebabkan hasil persilangan di alam tidak menentu dan sering mengecewakan. Maka dari hal itu kemudian manusia menyelengarakan penyerbukan penyerbukan silang buatan antara dua sifat tanaman tertentu yang sifat-sifatnya diketahui dengan pasti terlebih dahulu dan tergolong unggul(Darjanto dan Satifah, 1984).

Reproduksi merupakan kemampuan mahluk hidup untuk memperbanyak diri. Reproduksi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu reproduksi seksual (reproduksi melalui peleburan gamet tetua) dan reproduksi aseksual (reproduksi tanpa peleburan gamet tetua). Penyerbukan adalah jatuhnya serbuk sari kekepala putik. Sedangkan pembuahan adalah bergabungnya gamet jantan dan gamet betina. Kriteria klasifikasi yang dipergunakan hanya berdasarkan tingkat penyerbkan sendiri dan penyerbukan silang. Polonasi sendiri sudah barang tentu hanya merupakan salah satu system perbanyakan tanaman dan hanya sebagai salah satu jalan dimana populasi dapat dikawinkan. Didalam group penyerbukan silang jumlah persilangan dari luar adalah sangat penting karena ia memepengaruhi dalam kontaminasi stok pemuliaan. Ada perbedaan yang besar antara jumlah persilangan dengan luar didalam species dari suatu kelompok. Jumlah persilangan dari varietas yang diberikan juga dipengaruhi oleh keadaan lingkungan yang berubah(Allard, 1992). Penyerbukan silang adalah jatuhnya serbuk sari dari anter ke stigma bunga yang berbeda. Contoh dari persilangan ini adalah ubi kayu, alfalfa, jagung, padi liar, dan lain-lain. Terjadinya penyerbukan silang disebabkan oleh: a. Gangguan mekanis terhadap penyerbukan sendiri. b. Perbedaan periode matang sebuk sari dan kepala putik c. Sterilitas dan inkompatibilitas d. Adanya bunga monocious dan diocious. Jagung adalah tipe monocious, staminate terdapat diujung batang dan pistilate pada batang. Serbuk sari mudah diterbangkan angin sehingga penyerbukan lebih dominan meskipun penyerbukan sendiri bisa terjadi 5% atau lebih. Ada perbedaan besar dalam hal penyerbukan pengontrolan polinasi silang dan juga kemudahan pengontrolan polinasi silang oleh pemulia tanaman. Beberapa species mempunyai sifat tidak serasi dan dapat dikawinkan tanpa adanya kesulitan terhadap sifat yang tidak cocok.

Metode penting yang sesuai dengan penyerbukan silang antara lain: a. Seleksi massal Seleksi ini merupakan cara yang penting dalam pengembanan macammacamvarietas yang disilangkan. Dalam seleksi ini jumlah yang dipilih banyak untuk memperbanyak generasi berikutnya. b. Pemuliaan persilangan kembali Metode ini digunakan dengan species persilangan luar yang nilainya sama baiknya dengan species yang berpolinasi sendiri. c. Hibridisasi dari galur yang dikawinkan Varietas hibrida tergantung dari keunggulan keragamanyang mencirikan hibrid F1 diantara genotipe tertentu.Tipe genotipe yantg disilangkan melahirkan galur-galur, klon, strain, dan varietas. d. Seleksi berulang Seleksi yang diulang, genotip[e yang diinginkan dipilih dari genotipe ini atau turunan sejenisnya disilangkan dengan luar semua kombinasi yang menghasilkan populasi untuk disilangkan. e. Pengembangan varietas buatan(Allard, 1992).

III. METODE PRAKTIKUM A. Bahan 1. Tongkol tetua betina 2. Malai tetua jantan B. Alat 1 2 3 4 5 Kantong kertas besar Kantong kertas sedang Klip(stapler) Label Alat tulis

C. Prosedur kerja 1. Dicari tongkol (bunga Betina) yang belum keluar styles (tangkai putik berupa rambut) dan disungkup dengan kantong kertas ukuran sedang untuk menghindari kontaminasi. 2. Tanaman yang akan digunakan sebagai pejantan tetap dibiarkan bunga jantannya keluar dan berkembang. Menjelang bunga mekar sungkup bunga dengan kantong kertas berukuran besar untuk menghindari hilangnya serbuk sari yang akan digunakan untuk menyerbuki bunga betina. 3. Pengumpulan serbuk sari dilakukan dengan cara menggoyangkan malai dalam kantong penutupnya sehingga serbuk sari terkumpul. 4. Kantong berisi serbuk sari dilepaskan dari malai secara hati-hati, agar serbuk sari tidak keluar dari kantong. 5. Dekatkan kantong berisi serbuk sari kedalam bunga betina, sungkup bunga betina (tongkol) dibuka dan dilakukan penaburan serbuk sari dangan cepat untuk menghindari terjadinya kontaminasi. 6. Setelah penyerbukan selesai, tongkol ditutup kembali dengan kantong malai dan dikuatkan pada batang menggunakan stapler. 7. Pada kantong ditulis tanggal dan persilangan. 8. Pelihara dan amati perkembangan bakal biji pada tongkol setelah 2 minggu.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pengamatan jumlah biji yang dihasilkan dari persilangan tetua jantan(Jagung manis) dan tetua betina(Jagung manis) pada tanggal

penyerbukan, 15 Oktober 2012, menghasilkan 560 biji. B. Pembahasan Tahapan dalam penyerbukan silang a. Penyiapan tetua betina Bunga yang sebagai tetua betina, dipastikan tetua betina yang sehat dan belum terserbuki. Untuk mencegah terjadinya penyerbukan yang tidak dikehendaki, dilakukan penutupan tongkol dengan kantong kertas, kantong kertas diharapkan tahan air dan kuat unutk mengikuti bertambah besarnya ukuran tongkol. Penutupan dilaukan sebelum rambut tongkol keluar. b. Penyiapan tetua jantan Dipilih malai yang sehat, dan belum pecah kotak sarinya. Dilakukan penutupan. Tutup malai diikat sedemikina rupa, sehingga serbuk sari tidak keluar dari kantong penutup. Bagian bawah dijepit dengan penjepit unutk mencegah terbangnya penutup malai. Praktikum kali ini hibridisasi dilakukan dengan teknik yang sama dengan literature, yaitu melakukan pemilihan tetua jantan dan tetua betina, kemudian melakukan emaskulasi tetua betina, kemudian mengisolasi tetua betina, kemudian melakukan kastrasi tetua jantan, kemudian melakukan persilangan kedua tetua tersebut, dan melakukan isolasi dari kedua tetua tersebut Penyerbukan silang terjadi apabila tanaman dalam melakukan penyerbukan benang sari tidak berasal dari bunga yang sama. Hibridisasi adalah suatu persilangan dari 2 atau lebih tetua yang berbeda genotip dengan tujuan untuk menggabungkan sifat-sifat baik dari induknya sehingga memperoleh kombinasi genetik yang diinginkan pada keturunannya. Hal-hal

yang perlu diperhatikan dalam melakukan hibridisasi tanaman menyerbuk silang diantaranya adalah: 1. Mengetahui sifat bunga dan morfologi bunga 2. Mengetahui masaknya sel kelamin baik jantan maupun betina serta waktu variabelnya 3. Apabila tanaman yang dihibidisasi merupakan tanaman monoceous maka harus dilakukan penghilangan bunga jantan dan jangan sampai terjadi kontaminasi. 4. Pemotongan bunga jantan yang tidak digunakan sebagai tetua sebaiknya sebelum bunga mekar (serbuk sari masak) sehingga dapat mengurangi tingkat kontaminasi. 5. Pembungkusan harus sempurna, sehingga serbuk sari yang membuahi bunga betina murni berasal dari serbuk sari yang kita inginkan. Pada tanaman menyerbuk silang, hibridisasi biasanya dimaksudkan untuk mendapatkan galur inbrida. Selain itu juga dimaksudkan untuk menguji potensi satu atau beberapa tetua. Sedangkan pada tanaman menyerbuk sendiri, hibridisasi merupakan langkah awal dalam setiap program pemuliaan. Hal ini di sebabkan karena pada spesies tanaman menyerbuk sendiri selalu dimulai dengan menyilangkan dua tetua homozygot yang berbeda genotipenya (Nasir, 2001). Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam penyerbukan silang, antara lain: a. Akibat dari persilangan, artinya akibat adanya persilangan maka tongkol tidak dapat menghasilkan biji dengan sempurna. Hal ini terjadi karena pada saat penyerbukan belum semua rambut jagung (stigma) keluar sehingga sewaktu penyerbukan ada stigma yang tidak kena tepung sari. b. Pengaruh organisme hidup, hal ini bisa terjadi karena pada saat penyerbukan banyak sekali semut yang bersarang pada tongkol dan anter yang dibngkus oleh penutup.

c. Pengaruh iklim , sebab pada saat penyerbukan, kondisi cuaca tidak baik (ada hujan dan angin) sehingga ada kemungkinan tepung sari jatuh dan tidak sampai ke ovule karena tebawa air atau angin. d. Kurangnya unsur hara, hal ini terjadi sebab kondisi yang kurang baik, mungkin tanaman ini kekurangan unsur Phosfor untuk pengisian biji jagung. Tanda keberhasilan hibridisasi a. Adanya pembengkakan pada pangkal buah, kelopak bunga layu bakal buah tetap segar.Keberhasilan suatu persilangan buatan dapat dilihat kirakira satu minggu setelah dilakukan penyerbukan . Jika pental mengering ,namun bakal buah tetap segar kemudian bakal buah membesar atau memanjang kemungkinan telah terjadi pembuahan. Sebaliknya, jika bunga yang gagal mengadakan fertilisasi biasanya gugur atau kepala putik nya terlihat layu dan bakal buah rontok. b. Keberhasilan penyerbukan buatan yang kemudian diikuti oleh pembuahan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah kompatibilitas tetua, ketepatan waktu reseptif betina dan antesis jantan, kesuburantanaman serta faktor lingkungan. Kompatibilitas tetua terkait dengan gen-gen yang terkandung pada tetua jantan dan betina. Waktu reseptif betina dan antesis jantan dapat dilihat ciri morfologi bunga. Bunga yang terbaik adalah bunga yang akan mekar pada hari tersebut. Sementara itu, faktor lingkungan yang berpengaruh pada keberhasilan persilangan buatan adalah curah hujan, cahaya mahatari, kelembaban dan suhu. Curah hujan dan suhu tinggi akan menyebabkan rendahnya keberhasilan persiangan buatan( Syukur, 2009 ).

Kondisi di lapangan saat melakukan hibridisasi pada pagi hari jam 08:00, pada cuaca yang cerah dan hibridisasi dilakukan pada tanaman jagung manis, sebelum dilakukan hibrdisasi dilakukan pemilihan tanaman yang belum terbuahi dan dipilih pada tepi kebun agar mudah dalam pengamatan, kendala yang kami dapatkan adalah saat setelah 5 hari terjadi hujan, sehingga

dilakukan

penggantian

kantong

kertas

karena

akan

mengakibatkan

penyerbukan yang tidak dikehendaki, dan pada saat pengamatan pada tongkol jagung terdapat semut, sehingga kesulitan dalam perhitungan hasil penyerbukan dan jumlah biji.

V.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum kali ini diketahui bahwa, Tanaman jagung merupakan tanaman yang 95 % penyerbukannya merupakan penyerbukan silang meskipun jagung termasuk tanaman monoceous. Hibridisasi merupakan suatu upaya untuk mendapatkan kombinasi genetik yang diinginkan melalui persilangan dua atau lebih tetua yang berbeda komposisi genetiknya.

DAFTAR PUSTAKA Allard, R. W. 1989. Pemuliaan Tanaman. Bina Aksara. Jakarta. Darjanto dan Siti, S. 1984. Pengetahuan Dasar Biologi Bunga dan Teknik Penyerbukan Silang Buatan. Gramedia. Jakarta. Nasir, M. 2001. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Direktorat Jenderal Soedirman Pendidikan Tinggi. Jakarta. Marufah.2011.http://marufah.blog.uns.ac.id/2010/06/25/teknik persilangan-tanaman-buah-naga/ Syamsuri, Istamar, 2000. Biologi 2000. Erlangga. Jakarta. Tjitrosoepomo, Gembong, 1999. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta Welsh, James R. 1991. Dasar-dasar Genetika dan Pemuliaan Tanaman. Erlangga. Jakarta