Anda di halaman 1dari 15

LEUKOREA ( FLUOR ALBUS )

RH Rafsanjany
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jl. Arjuna utara no.6 Kebon Jeruk, Jakarta

Latar Belakang Leukorea berasal dari kata Leuco ( benda putih ) dan rrhea ( aliran atau cairan yang mengalir ). Leukorea normal dapat terjadi pada masa menjelang dan sesudah menstruasi, pada sekitar fase sekresi antara hari ke-10-16 menstruasi, juga terjadi melalui rangsangan seksual. Leukorea abnormal dapat terjadi pada semua infeksi alat kelamin (infeksi bibir kemaluan, liang sanggama, mulut rahim, rahim dan jaringan penyangganya, dan pada infeksi penyakit hubungan kelamin). Keputihan apabila tidak segera diobati dapat berakibat lebih parah dan bukan tidak mungkin menjadi penyebab kemandulan. Penyebab keputihan berlebihan terkait dengan cara kita merawat organ reproduksi. Misalnya, mencucinya dengan air kotor, memakai pembilas secara berlebihan, menggunakan celana yang tidak menyerap keringat, jarang mengganti celana dalam, tak sering mengganti pembalut.1

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Telepon : 087884377307, Email : rafsanjanyemo@yahoo.com NIM : 102009116, Kelompok : B2

Anamnesis Keluhan utama : Seorang perempuan usia 24 tahun datang ke klinik dengan keluhan kram pada daerah perut bawah Keluhan tambahan : Keputihan dan demam

Keputihan atau biasa disebut Leukorea adalah nama gejala yang diberikan kepada cairan yang dikeluarkan dari alat-alat genital yang tidak berupa darah, yang merupakan reaksi fisiologi ataupun patologi. Pada anamnesis ditanyakan mengenai usia, metode kontrasepsi yang dipakai oleh akseptor KB kontak seksual, perilaku, jumlah, bau dan warna leukore, masa inkubasi, penyakit yang diderita, penggunaan obat antibiotik atau kortikosteroid dan keluhan-keluhan lain Setelah anamnesis sudah dilakukan, kita melakukan pemeriksaan fisik pada si pasien.

Pemeriksaan Fisik a. Inspeksi kulit perut bagian bawah terutama bagian perineum, anus b. Inspeksi rambut pubis c. Inspeksi dan palpasi genitalia eksterna d. Pemeriksaan spekulum untuk vagina dan serviks e. Pemeriksaan bimanual pelvis f. Palpasi pembesaran kelenjar getah bening inguinal dan femoral.

Pemeriksaan Penunjang Hasil pengukuran pH cairan vagina dapat ditentukan dengan kertas pengukur pH dan pH diatas 4,5 sering disebabkan oleh trichomoniasis tetapi tidak cukup spesifik. Cairan juga dapat diperiksa dengan melarutkan sampel dengan 2 tetes larutan normal saline 0,9% diatas objek glass dan sampel kedua di larutkan dalam KOH 10%. Penutup objek glass ditutup dan diperiksa dibawah mikroskop. Sel ragi atau pseudohyphae dari candida lebih mudah didapatkan pada preparat KOH. Namun kultur T. vaginalis lebih sensitive disbanding pemeriksaan mikroskopik. Secara klinik, untuk menegakkan diagnosis vaginosis bakterial harus ada tiga dari empat kriteria sebagai berikut, yaitu: (1) adanya sel clue pada pemeriksaan mikroskopik sediaan basah, (2) adanya bau amis setelah penetesan KOH 10% pada cairan vagina, (3) cairan yang

homogen, kental, tipis, dan berwarna seperti susu, (4) pH vagina lebih dari 4.5 dengan menggunakan nitrazine paper.2

Working Diagnosis MORFOLOGI Spesies yang paling penting untuk medik karena banyak menimbulkan penyakit. Chlamydia trachomatis termasuk dalam ordo chlamydiales, family chlamydia ceae, genus chlamydia. Species Chlamydia trachomatis mempunyai 515 serovar, dimana serovar A,B dan C menyebabkan tarchoma, serovar D sampai K menyebabkan infeksi genital, serovar L1 sampai L3 menyebabkan Limfogranuloma Venereum (LGV). Chlamydia trachomatis berbeda dari kebanyakkan bakteri karena berkembang mengikuti suatu siklus pertumbuhan yang unik dalam dua bentuk yang berbeda, yaitu berupa : 1. Badan Inisial 2. Badan Elementer (BE) : ukurannya lebih kecil ( 300 nm) terletak ekstraselular dan merupakan bentuk yang infeksius 3. Badan Retikulat (BR) : lebih besar ( 1 m) terletak intraselular dan tidak infeksius.

Antigen pada permukaan chlamydia dapat diklasifikasikan sebagai : 1. Lipopolisakharida (LPS) 2. Major Outer Membrane Protein (MOMP) : antigen spesifik Chlamydia. 3. Heat Shock Protein (HSP) : terkode secara genetik berhubungan dengan respon imunopatologik.

GEJALA KLINIS

a. Infeksi pada pria

Uretritis Infeksi di uretra merupakan manifestasi primer infeksi chlamydia. Masa inkubasi untuk uretritis yang disebabkan oleh Chlamydia trachomatis bervariasi dari sekitar 1 - 3 minggu. Pasien dengan chlamydia uretritis mengeluh adanya duh tubuh yang jernih dan nyeri pada waktu buang air kecil (dysuria). Infeksi uretra oleh karena chlamydia ini

dapat juga terjadi asimtomatik. Diagnosis uretritis pada pria dapat ditegakkan dengan pemeriksaan pewarnaan Gram atau biru methylene dari sedian apus uretra. Bila jumlah lekosit PMN melebihi 5 pada pembesaran 1000 x merupakan indikasi uretritis. Perlu diketahui bahwa sampai 25% pria yang menderita gonore, diserta infeksi chlamydia. Bila uretritis karena Chlamydia tidak diobati sempurna, infeksi dapat menjalar ke uretra posterio dan menyebabkan epididimitis dan mungkin prostatitis.

Proktitis Chlamydia trachomatis dapat menyebabkan proktitis terutama pada pria homoseks. Keluhan penderita ringan dimana dapat ditemukan cairan mukus dari rektum dan tanda-tanda iritasi, berupa nyeri pada rektum dan perdarahan.

Epididimitis Sering kali disebabkan oleh Chlamydia trachomatis, yang dapat diisolasi dari uretra atau dari aspirasi epididimis. Dari hasil penelitian terakhir mengatakan bahwa Chlamydia trachomatis merupakan penyebab utama epididimitis pada pria kurang dari 35 tahun. Secara klinis, chlamydial epididimitis dijumpai berupa nyeri dan pembengkakan scrotum yang unilateral dan biasanya berhubungan dengan chlamydial uretritis, walaupun uretritisnya asimptomatik.

Prostatitis Setengah dari pria dengan prostatitis, sebelumnya dimulai dengan gonore atau uretritis non gonore. Infeksi Chlamydia trachomatis pada prostat dan epididimis pada umumnya merupakan penyebab infertilitas pada pria.

Sindroma Reiter Suatu sindroma yang terdiri dari tiga gejala yaitu : artritis, uretritis dan konjungtivitis, yang dikaitkan dengan infeksi genital oleh Chlamydia trachomatis. Hal ini disokong dengan ditemukannya Badan Elementer dari Chlamydia trachomatis pada sendi penderita dengan menggunakan teknik Direct Immunofluerescence.

b. Infeksi pada wanita

Sekitar setengah dari wanita dengan infeksi Chlamydia trachomatis di daerah genital ditandai dengan bertambahnya duh tubuh vagina dan atau nyeri pada waktu buang air kecil, sedangkan yang lainnya tidak ada keluhan yang jelas. Pada penyelidikan pada wanita usia reproduktif yang datang ke klinik dengan gejala-gejala infeksi traktus urinarius 10 % ditemukan carier Chlamydia trachomatis.

Faktor resiko infeksi C. trachomatis pada wanita adalah : Usia muda, kurang dari 25 tahun Mitra seksual dengan uretritis Multi mitra seksual Swab endoserviks yang menimbulkan perdarahan Adanya sekret endoserviks yang mukopurulen Memakai kontra sepsi non barier atau tanpa kontrasepsi.

Servisitis Chlamydia trachomatis menyerang epitel silindris mukosa serviks. Tidak ada gejala-gejala yang khas membedakan servisitis karena Chlamydia trachomatis dan servisitis karena organisme lain. Pada pemeriksaan dijumpai duh tubuh yang mukopurulen dan serviks yang ektopi. Pada penelitian yang menghubungkan servisitis dengan ektopi serviks,prevalerisi servisitis yang disebabkan Chlamydia trachomatis lebih banyak ditemukan pada penderita yang menunjukkan ektopi serviks dibandingkan yang tidak ektopi. Penggunaan kontrasepsi oral dapat menambah resiko infeksi chlamydia trachomatis pada serviks, oleh karena kontrasepsi oral dapat menyebabkan ektopi serviks.

Endometritis Servisitis oleh karena infeksi Chlamydia trachomatis dapat meluas ke endometrium sehingga terjadi endometritis. Tanda dari endometritis antara lain menorrhagia dan nyeri panggul yang ringan. Pada pemeriksaan laboratorium, chlamydia dapat ditemukan pada aspirat endometrium.

Salfingitis Salfingitis terjadi oleh karena penjalaran infeksi secara ascenden sehingga infeksi sampai ke tuba dan menyebabkan kerusakan pada tuba (terjadi tuba scarring). Hal ini dapat menyebabkan infertilitas dan kehamilan ektopik.

Perihepatitis (Fitz - Hugh - Curtis Syndrome) Infeksi Chlamydia trachomatis dapat meluas dari serviks melalui endometrium ke tuba dan kemudian parakolikal menuju ke diafragma kanan. Beberapa dari penyebaran ini menyerang permukaan anterior liver dan peritoneum yang berdekan sehingga menimbulkan perihepatitis. Parenchym hati tidak diserang sehingga tes fungsi hati biasanya normal.3

Differential Diagnosis Keputihan yang normal biasanya tidak berwarna atau bening, tidak berbau, tidak berlebihan dan tidak menimbulkan keluhan. Sedangkan keputihan yang tidak normal biasanya berwarna kuning atau hijau atau keabu-abuan, berbau amis dan busuk, jika dalam jumlah banyak biasanya menimbulkan keluhan seperti gatal dan merasa terbakar pada daerah intim. Penyebab utama keputihan adalah kuman bakteri, parasit dan jamur yaitu : a. Infeksi Jamur Candida Masalah keputihan yang paling utama biasanya sering terjadi karena jamur candida seperti candida albicans. Cairan yang dikeluarkan adalah pekat berwarna putih. penderita akan mengalami gatal di vagina disamping menghadapi masalah tidak nyaman sewaktu buang air kecil dan saat berhubungan intim. ciri-cirinya adalah : cairan berwarna putih, encer berbintik banyak, bau apek dan disertai penyakit sistemik, ada rasa panas saat buang air kecil. Jamur ini memang secara normal ada dalam vagina wanita tetapi ia tidak menyebabkan masalah apa-apa hal ini disebabkan oleh karena pertumbuhannya disaingi oleh bakteri yang menduduki tempat yang sama sehingga sehingga terjadi keseimbangan.

Obat yang dapat digunakan adalah anti jamur yang dapat diminum (oral) atau obat bentuk ovula yang dimasukkan ke dalam vagina (sppositoria), obat ovula ini dimasukkan kedlam vagina sedalam mungkin dan digunakan sebelum tidur. b. Infeksi Bakteri Seperti Gardnerella sama seperti jamur tetapi discharge biasanya berwarna putih atau kekuningan dan berbau-bau ikan. Penggunaan antibiotik baik secara oral maupun ovoid dapat digunakan. c. Infeksi bakteri Corynebacterium vaginale Mempunyai ciri-ciri : cairan berwarna putih susu, kental dan lengket, cairan sangat banyak, dan bau yang merangsang. d. Infeksi bakteri nonspesifik Mempunyai ciri warna cairan merah muda, banyak dan berbau, biasanya disertai rasa gatal dan vaginanya kering. e. Infeksi Trichomonas Vaginalis Cairan kuning kehijauan, berbusa dan berwarna merah, cairan sangat banyak, disertai gatal dan berbau busuk, disertai nyeri tekan di vulva dan sekitarnya. f. Infeksi Neisseria gonorrhoeae Cairan berwarna kuning kental, sangat banyak, disertai rasa panas dan gatal, merasa sakit pada saat miksi, dan dapat disertai abses atau menjalar sampai endometrium.4

Patofisiologi Meskipun banyak variasi warna, konsistensi, dan jumlah dari sekret vagina bisa dikatakan suatu yang normal, tetapi perubahan itu selalu diinterpretasikan penderita sebagai suatu infeksi, khususnya disebabkan oleh jamur. Beberapa perempuan pun mempunyai sekret vagina yang banyak sekali. Dalam kondisi normal, cairan yang keluar dari vagina mengandung sekret vagina, sel-sel vagina yang terlepas dan mucus serviks, yang akan bervariasi karena umur, siklus menstruasi, kehamilan, penggunaan pil KB. Lingkungan vagina yang normal ditandai adanya suatu hubungan yang dinamis antara Lactobacillus acidophilus dengan flora endogen lain, estrogen, glikogen, pH vagina dan hasil metabolit lain. Lactobacillus acidophilus menghasilkan endogen peroksida yang toksik terhadap bakteri pathogen. Karena aksi dari estrogen pada epitel vagina, produksi glikogen, lactobacillus (Doderlein) dan produksi asam laktat yang menghasilkan pH vagina yang rendah sampai 3,8-4,5 dan pada level ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain. Kandidiasis vaginalis merupakan infeksi vagina yang disebabkan oleh Candida sp. terutama C. albicans. Infeksi Candida terjadi karena perubahan kondisi vagina. Sel ragi akan berkompetisi dengan flora normal sehingga terjadi kandidiasis. Hal-hal yang mempermudah pertumbuhan ragi adalah penggunaan antibiotik yang berspektrum luas, penggunaan kontrasepsi, kadar estrogen yang tinggi, kehamilan, diabetes yang tidak terkontrol, pemakaian pakaian ketat, pasangan seksual baru dan frekuensi seksual yang tinggi. Perubahan lingkungan vagina seperti peningkatan produksi glikogen saat kehamilan atau peningkatan hormon esterogen dan progesterone karena kontrasepsi oral menyebabkan perlekatan Candida albicans pada sel epitel vagina dan merupakan media bagi prtumbuhan jamur. Candida albicans berkembang dengan baik pada lingkungan pH 5-6,5. Perubahan ini bisa asimtomatis atau sampai sampai menimbulkan gejala infeksi. Penggunaan obat

immunosupresan juga menajdi faktor predisposisi kandidiasis vaginalis. Pada penderita dengan Trikomoniasis, perubahan kadar estrogen dan progesterone menyebabkan peningkatan pH vagina dan kadar glikogen sehingga berpotensi bagi pertumbuhan dan virulensi dari Trichomonas vaginalis. Vaginitis sering disebabkan karena flora normal vagina berubah karena pengaruh bakteri patogen atau adanya perubahan dari lingkungan vagina sehingga bakteri patogen itu mengalami proliferasi. Antibiotik kontrasepsi, hubungan seksual, stres dan hormon dapat merubah lingkungan vagina tersebut dan memacu pertumbuhan bakteri patogen. Pada vaginosis bacterial, diyakini bahwa faktor-faktor itu dapat menurunkan jumlah hidrogen

peroksida yang dihasilkan oleh Lactobacillus acidophilus sehingga terjadi perubahan pH dan memacu pertumbuhan Gardnerella vaginalis, Mycoplasma hominis dan Mobiluncus yang normalnya dapat dihambat. Organisme ini menghasilkan produk metabolit misalnya amin, yang menaikkan pH vagina dan menyebabkan pelepasan sel-sel vagina. Amin juga merupakan penyebab timbulnya bau pada flour albus pada vaginosis bacterial. Flour albus mungkin juga didapati pada perempuan yang menderita tuberculosis, anemia, menstruasi, infestasi cacing yang berulang, juga pada perempuan dengan keadaan umum yang jelek , higiene yang buruk dan pada perempuan yang sering menggunakan pembersih vagina, disinfektan yang kuat.

Etiologi Fluor albus fisiologik pada perempuan normalnya hanya ditemukan pada daerah porsio vagina. Sekret patologik biasanya terdapat pada dinding lateral dan anterior vagina. Fluor albus fisiologik ditemukan pada : a. Bayi baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari: disini sebabnya ialah pengaruh estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina janin. b. Waktu disekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen. Leukore disini hilang sendiri akan tetapi dapat menimbulkan keresahan pada orang tuanya. c. Wanita dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pada waktu koitus, disebabkan oleh pengeluaran transudasi dari dinding vagina. d. Waktu disekitar ovulasi, dengan sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri menjadi lebih encer. e. Pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri juga bertambah pada wanita dengan penyakit menahun, dengan neurosis, dan pada wanita dengan ektropion porsionis uteri. Sedangkan fluor albus abnormal (patologik) disebabkan oleh :

1. Infeksi : a. Bakteri : Gardanerrella vaginalis, Chlamidia trachomatis, Neisseria gonorhoae, dan Gonococcus b. Jamur : Candida albicans c. Protozoa : Trichomonas vaginalis d. Virus : Virus Herpes dan human papilloma virus

2. Iritasi : a. Sperma, pelicin, kondom b. Sabun cuci dan pelembut pakaian c. Deodorant dan sabun d. Cairan antiseptic untuk mandi e. Pembersih vagina f. Celana yang ketat dan tidak menyerap keringat g. Kertas tisu toilet yang berwarna.

3. Tumor atau jaringan abnormal lain 4. Fistula 5. Benda asing 6. Radiasi 7. Penyebab lain : a. Psikologi : Volvovaginitis psikosomatik b. Tidak dikatehui : Desquamative inflammatory vaginitis

Epidemiologi

Sekret vagina sering tampak sebagai suatu gejala genital. Proporsi perempuan yang mengalami flour albus bervariasi antara 1 -15% dan hampir seluruhnya memiliki aktifitas seksual yang aktif, tetapi jika merupakan suatu gejala penyakit dapat terjadi pada semua umur. Seringkali fluor albus merupakan indikasi suatu vaginitis, lebih jarang merupakan indikasi dari servisitis tetapi kadang kedua-duanya muncul bersamaan. Infeksi yang sering menyebabkan vaginitis adalah Trikomoniasis, Vaginosis bacterial, dan Kandidiasis. Sering penyebab noninfeksi dari vaginitis meliputi atrofi vagina, alergi atau iritasi bahan kimia. Servisitis sendiri disebabkan oleh Gonore dan Klamidia. Prevalensi dan penyebab vaginitis masih belum pasti karena sering didiagnosis dan diobati sendiri. Selain itu vaginitis seringkali asimptomatis dan dapat disebabkan lebih dari satu penyebab.

Penatalaksanaan Untuk menghindari komplikasi yang serius dari keputihan (fluor albus), sebaiknya penatalaksanaan dilakukan sedini mungkin sekaligus untuk menyingkirkan kemungkinan adanya penyebab lain seperti kanker leher rahim yang juga memberikan gejala keputihan berupa sekret encer, berwarna merah muda, coklat mengandung darah atau hitam serta berbau busuk. Penatalaksanan keputihan tergantung dari penyebab infeksi seperti jamur, bakteri atau parasit. Umumnya diberikan obat-obatan untuk mengatasi keluhan dan menghentikan proses infeksi sesuai dengan penyebabnya. Obat-obatan yang digunakan dalam mengatasi keputihan biasanya berasal dari golongan flukonazol untuk mengatasi infeksi candida dan golongan metronidazol untuk mengatasi infeksi bakteri dan parasit. Sediaan obat dapat berupa sediaan oral (tablet, kapsul), topikal seperti krem yang dioleskan dan uvula yang dimasukkan langsung ke dalam liang vagina. Untuk keputihan yang ditularkan melalui hubungan seksual, terapi juga diberikan kepada pasangan seksual dan dianjurkan untuk tidak berhubungan seksual selama masih dalam pengobatan. Selain itu, dianjurkan untuk selalu menjaga kebersihan daerah intim sebagai tindakan pencegahan sekaligus mencegah berulangnya keputihan.5

Tujuan pengobatan : a. Menghilangkan gejala b. Memberantas penyebabrnya c. Mencegah terjadinya infeksi ulang d. Pasangan diikutkan dalam pengobatan

Fisiologis : tidak ada pengobatan khusus, penderita diberi penerangan untuk menghilangkan kecemasannya. Patologi : Tergantung penyebabnya

Berikut ini adalah pengobatan dari penyebab paling sering :

1.

Candida albicans Topikal : a. Nistatin tablet vagina 2 x sehari selama 2 minggu b. Klotrimazol 1% vaginal krim 1 x sehari selama 7 hari

c. Mikonazol nitrat 2% 1 x ssehari selama 7 14 hari Sistemik : a. Nistatin tablet 4 x 1 tablet selama 14 hari b. Ketokonazol oral 2 x 200 mg selama 7 hari c. Nimorazol 2 gram dosis tunggal d. Ornidazol 1,5 gram dosis tunggal

Pasangan seksual dibawa dalam pengobatan.

2.

Chlamidia trachomatis a. Metronidazole 600 mg/hari 4-7 hari (Illustrated of textbook gynecology) b. Tetrasiklin 4 x 500mg selama 10-14 hari oral c. Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 10-14 hari bila d. Minosiklin dosis 1200mg di lanjutkan 2 x 100 mg/hari selama 14hari e. Doksisiklin 2 x 200 mg/hari selama 14 hari f. Kotrimoksazole sama dengan dosis minosiklin 2 x 2 tablet/hari selama 10 hari

3.

Gardnerella vaginalis a. Metronidazole 2 x 500 mg b. Metronidazole 2 gram dosis tunggal c. Ampisillin 4 x 500 mg oral sehari selama 7 hari d. Pasangan seksual diikutkan dalam pengobatan

4.

Neisseria gonorhoeae a. Penicillin prokain 4,8 juta unit im atau b. Amoksisiklin 3 gr im c. Ampisiillin 3,5 gram im atau

ditambah : a. Doksisiklin 2 x 100mg oral selama 7 hari atau b. Tetrasiklin 4 x 500 mg oral selama 7 hari c. Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 7 hari d. Tiamfenikol 3,5 gram oral e. Kanamisin 2 gram im

f. Ofloksasin 400 mg/oral

Untuk Neisseria gonorhoeae penghasil Penisilinase a. Seftriaxon 250 mg im atau b. Spektinomisin 2 mg im atau c. Ciprofloksasin 500 mg oral Ditambah a. Doksisiklin 2 x 100 mg selama 7 hari atau b. Tetrasiklin 4 x 500 mg oral selama 7 hari c. Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 7 hari

5.

Virus herpeks simpleks

Belum ada obat yang dapat memberikan kesembuhan secara tuntas. a. Asiklovir krim dioleskan 4 x sehari b. Asiklovir 5 x 200 mg oral selama 5 hari c. Povidone iododine bisa digunakan untuk mencegah timbulnya infeksi sekunder

6.

Penyebab lain :

Vulvovaginitis psikosomatik dengan pendekatan psikologi. Desquamative inflammatory vaginitis diberikan antibiotik, kortikosteroid dan estrogen.

Komplikasi Pada kasus yang tidak diobati, infeksi vagina sederhana dapat menyebar ke traktusreproduksi bagian atas dan menybabkan penyakit lain yang lebih serius, dan dalamwaktu yang lama dapat terjadi infertilitas. Seperti halnya apabila benda asing bertahan di dalam tubuh dapat terjadi toxic shock syndrome. Polip servikalis umumnya tidak membahayakan walaupun dapat menyebabkan infertilitas pada waktu berkembang sangat besar Adanya komplikasi yang spesifik berhubungan dengan leukorea pada kehamilan, seperti kelahiran prematur, ruptur membrane yang prematur, berat badan bayi lahir rendah, dan endometritis paska kelahiran.

Pencegahan

1.

Pola hidup sehat yaitu diet yang seimbang, olah raga rutin, istirahat cukup, hindari rokok dan alkohol serta hindari stres berkepanjangan.

2.

Setia kepada pasangan. Hindari promiskuitas atau gunakan kondom untuk mencegah penularan penyakit menular seksual.

3.

Selalu menjaga kebersihan daerah pribadi dengan menjaganya agar tetap kering dan tidak lembab misalnya dengan menggunakan celana dengan bahan yang menyerap keringat, hindari pemakaian celana terlalu ketat. Biasakan untuk mengganti pembalut, pantyliner pada waktunya untuk mencegah bakteri berkembang biak.

4.

Biasakan membasuh dengan cara yang benar tiap kali buang air yaitu dari arah depan ke belakang.

5.

Penggunaan cairan pembersih vagina sebaiknya tidak berlebihan karena dapat mematikan flora normal vagina. Jika perlu, lakukan konsultasi medis dahulu sebelum menggunakan cairan pembersih vagina.

6.

Hindari penggunaan bedak talkum, tissue atau sabun dengan pewangi pada daerah vagina karena dapat menyebabkan iritasi.

7.

Hindari pemakaian barang-barang yang memudahkan penularan seperti meminjam perlengkapan mandi dsb. Sedapat mungkin tidak duduk di atas kloset di WC umum atau biasakan mengelap dudukan kloset sebelum menggunakannya.6

Prognosis Biasanya kondisi-kondisi yang menyebabkan fluor albus memberikan respon terhadap pengobatan dalam beberapa hari. Kadang-kadang infeksi akan berulang. Dengan perawatan kesehatan akan menentukan pengobatan yang lebih efektif, sehingga prognosis menjadi lebih baik.

Kesimpulan Leukorea merupakan salah satu masalah yang banyak dikeluhkan wanita mulai dari usia muda sampai usia tua. Leukorea (fluor albus/white discharge/keputihan/vaginal discharge/duh tubuh vagina) adalah pengeluaran cairan dari alat genitalia yang tidak berupa darah. Kebanyakan duh tubuh vagina adalah normal. Akan tetapi, jika duh tubuh yang keluar tidak seperti biasanya baik warna, bau ataupun penampakannya, atau keluhannya disertai dengan nyeri, kemugkinan itu merupakan tanda adanya sesuatu yang salah. Duh tubuh vagina

merupakan kombinasi dari cairan dan sel yang secara berkelanjutan melewati vagina. Fungsi dari duh tubuh vagina adalah untuk membersihkan dan melindungi vagina.

Daftar Pustaka
1.

Wiknjosastro, H, Saifuddin, B, Rachimhadi, Trijatmo. Radang dan Beberapa penyakit lain pada alat genital wanita in Ilmu Kandungan. 2003. Edisi kedua , Cetakan Ketiga. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirodihardjo : Jakarta

2.

Anindita, Wiki. Santi Martini. 2006. Faktor Resiko Kejadian Kandidiasis vaginalis pada akseptor KB. Fakultas Kesehatan Masyarakat. UNAIR. Surabaya.

3.

Adhi D,Mochtar H,Siti A et al.Infeksi genital non spesifik. Ilmu penyakit kulit dan kelamim. 2008;edisi 5:366-68

4.

Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Ika W, Setiowulan W. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius, 2008, hal 376-78.

5.

Mardjono M. Farmakologi dan terapi.Edisi kelima. Gunawan SG,et all,editor.Jakarta: Fakultas kedokteran universitas Indonesia; 2008.

6.

Sutarno. Deteksi dini dan pencegahan keputihan pada wanita. (makalah).Semarang: FKM Undip; 2003.